<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sutan Pane Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sutan-pane/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sutan-pane/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:02:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Sutan Pane Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sutan-pane/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Selamat Tinggal</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2021 10:49:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bajakan]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[Sutan Pane]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4255</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis berkali-kali mengungkapkan kekecewaan terhadap karya-karya terbaru Tere Liye, seperti novel Si Anak Badai, Si Anak Cahaya, Komet Minor, hingga Pergi. Harusnya jika berkali-kali dikecewakan, Penulis berhenti membeli novel-novelnya. Ternyata, Penulis tetap membeli novel-novel karyanya. Yang terbaru adalah Selamat Tinggal yang satu ini. Salah satu alasannya adalah buku ini merupakan novel yang berdiri sendiri, bukan serial. Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Setelah Membaca Selamat Tinggal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis berkali-kali mengungkapkan kekecewaan terhadap karya-karya terbaru <strong>Tere Liye</strong>, seperti novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/">Si Anak Badai</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-anak-cahaya/">Si Anak Cahaya</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/teknik-marketing-pada-komet-minor/">Komet Minor</a>,</em> hingga <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/"><em>Pergi</em></a>.</p>
<p>Harusnya jika berkali-kali dikecewakan, Penulis berhenti membeli novel-novelnya. Ternyata, Penulis tetap membeli novel-novel karyanya.</p>
<p>Yang terbaru adalah <em><strong>Selamat Tinggal</strong> </em>yang satu ini. Salah satu alasannya adalah buku ini merupakan novel yang berdiri sendiri, bukan serial.</p>
<p>Penulis memilki pengalaman bagus dengan novel Tere Liye yang berdiri sendiri, seperti <em>Tentang Kamu, Rindu, Ayahku (Bukan) Pembohong, </em>dan lainnya.</p>
<p>Setelah menamatkan novel ini, Penulis merasakan amarah yang menggebu-gebu dari Tere Liye terkait pembajakan buku!</p>
<p><strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Menggunakan sudut pandang orang ketiga, tokoh utama dari buku ini adalah <strong>Sintong</strong>, seorang mahasiswa yang tak lulus-lulus sekaligus penjaga toko buku bajakan di dekat kampus negeri.</p>
<p>Sintong berasal dari Sumatera. Ia merantau jauh untuk kuliah di Jawa dan menumpang di rumah saudaranya. Karena kuliahnya dibiayai,</p>
<p>Terlihat berantakan dan tidak punya masa depan, sebenarnya Sintong merupakan salah satu penulis berbakat. Karyanya sudah banyak masuk ke media nasional.</p>
<p>Hidup Sintong mulai berubah sejak ia bertemu dengan <strong>Jess</strong>, salah satu adik tingkatnya yang berparas menarik. Kehadiran gadis tersebut membuat ia merasa semangat lagi.</p>
<p>Tidak hanya itu, Sintong juga menemukan sebuah <em>draft </em>berisikan tulisan <strong>Sutan Pane</strong>, seorang penulis besar yang keberadaannya tidak banyak yang tahu.</p>
<p>Sintong berniat untuk membuat skripsi yang membahas Sutan Pane, terutama mencari alasan mengapa Sutan Pane tiba-tiba berhenti menulis pada tahun 1965.</p>
<p>Inilah perjalanan Sintong menelusuri kehidupan penulis hebat di masa lalu, sembari memerangi dirinya sendiri yang sudah muak menjual buku bajakan.</p>
<h3>Sindiran untuk Barang Bajakan</h3>
<p>Begitu membaca novel ini, Penulis sadar kalau Tere Liye terinspirasi dari maraknya <strong>penyebaran file PDF buku-buku secara ilegal</strong> melalui WhatsApp dan media lainnya.</p>
<p>Sebagai salah satu penulis terpopuler di Indonesia, karya-karya Tere Liye tentu menjadi mangsa empuk bagi pembajak.</p>
<p>Penulis merasakan sedikit dampaknya karena artikel tentang novel <em>Pulang</em> dan <em>Pergi</em> mendapatkan lonjakan <em>traffic</em>. Padahal, padahal Penulis tidak mendapatkan <em>link </em>file PDF-nya.</p>
<p>Secara sarkas, Tere Liye mengatakan bahwa yang salah adalah penulis yang tidak ikhlas dalam menulis. Harusnya mereka senang-senang saja karya mereka dibagikan secara gratis dan dinikmati oleh banyak orang.</p>
<p><strong>Sindiran yang sangat keras, bahkan Penulis yang hanya sekali membeli buku bajakan karena tidak tahu merasa tertampol.</strong></p>
<p>Tidak hanya meluapkan emosinya tentang buku bajakan, semua hal yang sifatnya bajakan disenggol sama Tere Liye.</p>
<p>Mulai film, lagu, <em>streaming </em>sepakbola, aplikasi, semua kena. Siapapun yang membaca novel ini pasti akan merasa tersindir seandainya pernah membeli atau menggunakan barang bajakan.</p>
<p>Bahkan, <em>marketplace online </em>yang juga kerap menjadi tempat beredarnya buku bajakan kena semprot. Sebuah kekesalan bisa menjadi ide cerita, Tere Liye memang sesuatu.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Selamat Tinggal</em></h3>
<p>Jika Tere Liye ingin <strong>menyampaikan kekesalannya terhadap pembajakan buku</strong> sekaligus <strong>edukasi kepada masyarakat</strong>, novel ini bisa dibilang berhasil melakukan tugasnya.</p>
<p>Dengan nada sarkas yang hampir muncul di setiap bab, kita akan dibuat berpikir ulang jika ingin membeli atau menggunakan barang-barang bajakan.</p>
<p>Ada banyak penulis buku yang sangat dirugikan dengan pembajakan. Bukan tidak mungkin, di masa depan jumlah penulis akan berkurang karena merasa jerih payahnya tidak dihargai.</p>
<p>Tere Liye sendiri mengakui bahwa segala upaya sudah dilakukan untuk meminimalisir pembajakan, namun hasilnya nihil. Buku bajakan tetap beredar luas, bahkan lebih masif karena bisa dijual daring.</p>
<p>Tokoh Sintong sendiri dibuat <strong>memiliki konflik internal di dalam dirinya sendiri</strong>. Ia menentang buku bajakan karena tahu itu tidak menghargai upaya penulis, tapi secara munafik ia malah berjualan buku bajakan demi menyelesaikan pendidikannya.</p>
<p>Menurut Penulis, konflik internal seperti ini sangat cocok untuk tema yang diangkat karena akan membuat pembacanya mengalami dilema yang sama.</p>
<p>Alur ceritanya memang mengangkat perjalanan &#8220;detektif&#8221; Sintong menyelesaikan skripsinya dengan mencari tahu lebih dalam tentang tokoh Sutan Pane, tapi Penulis justru merasa itu <em>side-story</em>-nya. Alur utamanya ya tentang buku bajakan.</p>
<p>Bumbu-bumbu cerita lain seperti perjalanan cinta Sintong hanya muncul sebagai pemanis. Di novel ini juga tidak terlalu banyak bab tidak penting yang tidak berpengaruh pada keseluruhan alur.</p>
<p>Bahasanya juga mudah dicerna sebagaimana karya-karya Tere Liye pada umumnya. Ringan, tapi ada nilai-nilai yang bisa dipetik. Ada saja dialog yang mengundang tawa ringan.</p>
<p>Hanya saja, Penulis merasa novel ini <strong>terasa datar</strong>. Hampir tidak ada konflik yang membuat Penulis merasa berdebar ataupun dibuat penasaran dengan kelanjutan halamannya.</p>
<p>Tidak ada pertarungan yang berdarah-darah, hanya ada konflik antar tokohnya. Antara Sintong dan dirinya sendiri, antara Sintong dan Jess, antara Sintong dan saudaranya, antara Sintong dan teman masa lalunya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Lantas, mengapa novel ini diberi judul <em>Selamat Tinggal</em>? Karena mengandung <em>major spoiler</em>, Penulis tidak akan menjelaskannya di sini. Silakan baca novel yang satu ini, direkomendasikan untuk semua kalangan.</p>
<p><strong>Tapi ingat, beli yang asli, jangan yang bajakan, kasian penulisnya!</strong></p>
<p>Nilai: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 11 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan novel <strong><em>Selamat Tinggal </em></strong>karya <strong>Tere Liye</strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Setelah Membaca Selamat Tinggal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
