Teknik Marketing Pada Komet Minor

Wait, what? Kok judulnya gitu amat? Ini kan petualangan terakhir Raib, Seli, dan Ali, kenapa judulnya menjadi “Teknik Marketing”? Mabuk makan Kintan nih penulisnya!

Hehehe, enggak kok. Penulis menulis dengan penuh kesadaran dan bertanggungjawab. Akan penulis jelaskan mengapa penulis memilih kata tersebut sebagai judul. SPOILER ALERT!

Apa Isi Buku Ini?

Penulis tahu buku Komet Minor ini rilis pada Maret kemarin ketika diberitahu oleh Ayu. Kami berdua memang sama-sama mengikuti serial Bumi karena dia sering pinjam buku penulis.

Penulis yang sebenarnya sedang menunggu buku terbaru Andrea Hirata Orang-Orang Biasa tentu kaget, sehingga langsung memutuskan untuk membeli kedua buku melalui mizanstore.com. Lumayan, ada potongan harga.

Seperti buku-buku Tere Liye lainnya, buku yang satu ini juga penulis habiskan dengan lumayan cepat. Lantas, seperti apa isi buku yang satu ini?

Pada akhir buku Komet, ternyata musuh utama si Tanpa Mahkota menyamar menjadi Max dan berhasil mengelabuhi Raib dan kawan-kawan.

Buku ini langsung melanjutkan adegan tersebut. Ternyata, portal menuju klan Komet Minor adalah melalui mulut seekor ikan raksasa yang melahap pulau di mana mereka berada.

Dalam kondisi terjepit, bagaimana mereka berhasil lolos dari cengkeraman si Tanpa Mahkota? Ternyata Ali membawa potongan kaca yang tersambung dengan Batozar (pembaca harus membaca novel Ceros dan Batozar).

Keajaiban datang (seperti biasa). Hebatnya, Batozar mampu mengimbangi kekuatan si Tanpa Mahkota, bahkan membuatnya lumpuh. Padahal, si Tanpa Mahkota adalah musuh terkuat yang telah hidup ribuan tahun lamanya.

Batozar membawa Raib, Seli, dan Ali pergi sebelum si Tanpa Mahkota kembali sadar. Mereka ingin mendahului si Tanpa Mahkota menemukan senjata terkuat yang akan membuatnya menjadi makhluk paling kuat.

Selama perjalanan, Batozar melatih trio tersebut agar menjadi lebih tangguh. Tentu mereka juga mengumpulkan informasi tentang senjata tersebut.

Ternyata, senjata tersebut dibagi menjadi tiga bagian dan dipegang oleh tiga penduduk klan Komet Minor. Mereka pun harus mencari ketiga orang tersebut di berbagai penjuru klan.

Pada akhirnya mereka berhasil menemukan potongan pertama, tapi berhasil direbut oleh si Tanpa Mahkota. Begitu pula potongan kedua. Tentu saja potongan terakhir juga.

Akan tetapi, tentu saja kejahatan tidak akan pernah menang, setidaknya di novel buatan Tere Liye. Potongan yang diambil oleh si Tanpa Mahkota ternyata palsu. Yang asli berhasil disembunyikan oleh Ali dan ia pun berhasil mengalahkan si Tanpa Mahkota.

Alih-alih membunuh si Tanpa Mahkota, mereka memutuskan untuk mengurungnya di tempat si Ceros, Nggalanggeran dan Nggalanggeran, berada, yakni di Bor-O-Bdur. Selesai? Tidak semudah itu, Ferguso!

Teknik Marketing yang Berlebihan

Kalau boleh jujur, banyak hal yang membuat penulis kesal dengan novel ini. Pertama, tidak ada satu pun tokoh yang mati pada petualangan ini. Padahal, penulis mengira setidaknya Seli akan tewas (hampir sih).

Kedua, walaupun akhirnya lumayan mengejutkan dan masuk akal (jika dibandingkan dengan novel Pergi), tetap banyak “keajaiban datang di saat terakhir”, sesuatu yang sudah sangat biasa.

Dari semua itu, yang paling menyebalkan adalah bagian terakhir dari novel ini. Masih ada 3 novel yang akan rilis setelah novel Komet Minor.

Lah, bagus dong kalau begitu? Iya, masalahnya, Tere Liye berusaha menyisipkan cerita-cerita novel baru tersebut di novel ini untuk membuat pembacanya penasaran dan membeli novel barunya.

Contohnya tentang klan Proxima Centauri yang muncul sebentar, yang seandainya tidak dituliskan di sini pun tidak mempengaruhi jalan cerita (jika mempengaruhi jalan cerita, penulis bisa memakluminya).

Lantas, Ali sempat berbicara bahwa kucing milik Raib, si Putih, ternyata bukan kucing biasa. Kucing tersebut juga akan memiliki novelnya sendiri!

Terakhir, akan ada novel tentang orangtua Raib yang berjudul Nebula. Kalau yang satu ini, masih oke lah. Tentu banyak pembaca yang penasaran dengan sosok orangtua kandung Nebula.

Belum lagi munculnya Batozar dan Ceros yang membuat pembaca harus membaca novel sebelumnya agar benar-benar memahami cerita novel ini secara utuh.

Penulis belum pernah menemukan teknik marketing seperti novel ini. Menyisipkan cerita-cerita novel terbaru memang membuat pembaca penasaran, akan tetapi jika sampai berjumlah empat buku rasanya juga berlebihan.

Sebagai buku (yang seharusnya) menjadi pamungkas, sebenarnya penulis berharap lebih. Pertarungan yang seru, pengorbanan yang tak terelakkan, dilema yang harus dihadapi, seharusnya terjadi pada buku ini.

Akan tetapi, mungkin memang buku ini ditujukan untuk usia pembaca remaja yang belum bisa mencerna bacaan berat. Jika memang seperti itu, penulis memaklumi.

Kesimpulan

Sebenarnya, serial Bumi adalah novel yang akan mengajarkan makna persahabatan dengan demikian indah. Hubungan antara Raib, Seli, dan Ali sangatlah erat meskipun Raib dan Ali sangat sering bertengkar.

Buku Komet Minor ini hanya penulis rekomendasikan bagi pembaca yang sudah mengikuti serial Bumi sejak awal. Petualangan antar klan yang disajikan memang seru, hanya saja terasa monoton.

Menurut penulis, Tere Liye lebih cocok menuliskan novel-novel bertemakan kehidupan seperti novel Rindu ataupun serial Anak-Anak Mamak. Penulis sangat menyukai novel-novel Tere Liye yang seperti itu dibandingkan novel fantasinya.

Nilainya: 3.5/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 3 April 2019, terinspirasi setelah menamatkan novel Komet Minor