<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>toko buku Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/toko-buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/toko-buku/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Dec 2025 13:53:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>toko buku Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/toko-buku/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2025 15:38:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hwang Bo-reum]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[slice-of-life]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8431</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang &#8220;toko buku&#8221; (atau kadang hanya &#8220;buku&#8221; saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada <em><strong>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</strong></em> karya <strong>Hwang Bo-reum</strong>. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.</p>



<p>Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, &#8220;oh, ternyata jadinya begini jika genre <em>slice of life </em>menjadi sebuah cerita.&#8221; Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>[SPOILER ALERT!!!]</strong></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini-banner.jpg 1280w " alt="Kalau Srimulat Masih Tayang Hari Ini" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kalau-srimulat-masih-tayang-hari-ini/">Kalau Srimulat Masih Tayang Hari Ini</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> <em>(Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)</em></li>



<li>Penulis: Hwang Bo-reum</li>



<li>Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia</li>



<li>Cetakan: Ke-5</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 408 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020530444</li>



<li>Harga: Rp119.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p><em>&#8220;Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”</em></p>



<p><em>Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan.</em> <em>Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p>Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah <strong>Yeong-ju</strong>, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.</p>



<p>Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada <strong>Min-joon</strong>, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada <strong>Jimmy </strong>(ini karakter cewek!) yang menjadi <em>supplier </em>biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.</p>



<p>Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama <strong>Min-Cheol </strong>beserta <strong>ibunya</strong> (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku),<strong> Jung-seo </strong>yang hobi merajut, <strong>Seong-cheol</strong>, dan lain sebagainya. </p>



<p>Meskipun berkesan &#8220;santai&#8221;, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami <em>burnout </em>karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.</p>



<p>Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam &#8220;oasis&#8221; bagi mereka dan pengunjung.</p>



<p>Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti <strong>Seung-woo </strong>yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.</p>



<p>Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</h2>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah <em>slice-of-life</em>. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.</p>



<p>Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, <em>Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</em> adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan. </p>



<p>Apalagi,<strong> gaya bahasanya juga terasa lembut dan <em>cozy</em></strong>, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti <em>lullaby </em>pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan <strong>menimbulkan kesan membosankan</strong>.</p>



<p>Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan. </p>



<p>Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan <em>dragging</em>. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.</p>



<p>Cerita antarbabnya tidak <em>nyambung</em>, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.</p>



<p>Oleh karena itu, bisa dibilang <strong>novel ini tidak memiliki konflik utama</strong>. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.</p>



<p>Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke <strong>pergulatan batin</strong> dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.</p>



<p>Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.</p>



<p>Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui <strong>bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya</strong>. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik</p>



<p>Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa <em>related </em>dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.</p>



<p>Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></strong></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/">[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-welcome-to-the-hyunam-dong-bookshop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Benarkah Era Toko Buku akan Segera Berakhir?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jun 2023 14:29:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[literasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6621</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, toko buku Gunung Agung yang legendaris resmi tutup. Penulis sendiri hanya pernah sekali berkunjung ke toko yang ada di daerah Kwitang. Tampaknya, memang toko buku yang satu ini harus mengakui kekalahannya melawan zaman. Merasa penasaran dengan kasus ini, Penulis pun menonton video dari Dr. Indrawan Nugroho yang berjudul &#8220;Kiamat Toko Buku&#8221;. Secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">Benarkah Era Toko Buku akan Segera Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu lalu, toko buku Gunung Agung yang legendaris resmi tutup. Penulis sendiri hanya pernah sekali berkunjung ke toko yang ada di daerah Kwitang. Tampaknya, memang toko buku yang satu ini harus mengakui kekalahannya melawan zaman.</p>



<p>Merasa penasaran dengan kasus ini, Penulis pun menonton video dari Dr. Indrawan Nugroho yang berjudul &#8220;Kiamat Toko Buku&#8221;. Secara logika, tentu hal ini masuk akal mengingat kita memang tengah berada di era digital, sehingga keberadaan buku fisik terasa tak relevan lagi.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai toko buku dan bagaimana zaman makin mendorongnya ke pinggir dari perspektif pribadi, mengingat Penulis adalah orang yang cukup rajin untuk mampir ke toko buku.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/20221021_193856_0000-300x169.png" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/20221021_193856_0000-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/20221021_193856_0000-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/20221021_193856_0000-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/20221021_193856_0000.png 1280w " alt="Azab Apa yang Cocok untuk Tukang Spoiler?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler/">Azab Apa yang Cocok untuk Tukang Spoiler?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Pada Dasarnya, Tingkat Literasi Kita Sudah Rendah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6623" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Apakah Pembaca Suka Membaca? (<a href="https://www.pexels.com/@gabby-k/">Monstera</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin para pembaca sudah tahu kalau negara kita tercinta memiliki tingkat literasi yang rendah. Berdasarkan data dari Program for International Student Assessment (PISA) di tahun 2019, Indonesia hanya <strong>menempati peringkat 62 dari 70 negara</strong>.</p>



<p>Data lain dari UNESCO menunjukan bahwa persentase orang Indonesia yang suka membaca adalah<strong> 0,0001% atau 1:1000</strong>. Jadi, dari 273 juta penduduk Indonesia, yang gemar membaca sekitar 273 ribu orang saja. </p>



<p>Kalau mau menggunakan logika kasar, dengan rendahnya tingkat literasi, maka tingkat daya beli masyarakat terhadap buku tentu akan ikut rendah. Setidaknya, masih ada sarana yang menyediakan buku gratis seperti perpustakaan.</p>



<p>Jika melihat sekitar, Penulis juga jarang menemukan teman atau kenalan yang juga memiliki hobi membaca, dan lebih jarang lagi yang membeli buku. Maka dari itu, tak heran jika banyak teman yang meminjam ke Penulis jika sedang ingin membaca sesuatu.</p>



<p>Apalagi, kita sudah dibuat tergantung sedemikian besar dengan gawai, sehingga keberadaan buku semakin terasa tidak diperlukan. Ketika buku terasa tidak dibutuhkan, toko buku pun perlahan akan terus ditinggalkan, hingga akhirnya harus menyerah dan tutup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Toko Buku Sudah Kehilangan Relevansinya?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6625" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tutup karena Sudah Tidak Relevan? (<a href="https://megapolitan.kompas.com/read/2023/05/23/05000011/nostalgia-di-toko-gunung-agung-kwitang-bukan-sekadar-toko-buku-?page=all">Kompas</a>)</figcaption></figure>



<p>Dulu ketika masih kuliah, dalam satu bulan setidaknya Penulis bisa ke toko buku hingga dua kali. Kadang beli, kadang cuma lihat-lihat. Bagi Penulis, toko buku seolah memiliki suasana magis yang membuat kita merasa berada di alam yang berbeda.</p>



<p>Belakangan ini, Penulis semakin jarang ke toko buku karena beberapa alasan. Selain karena merasa bukunya sudah terlalu banyak, Penulis juga sudah tidak membaca sebanyak dulu. Sekarang, paling hanya 15-30 menit per hari, bahkan sering tidak membaca sama sekali.</p>



<p>Apakah ini menjadi semacam pembenaran kalau toko buku memang sudah kehilangan relevansinya? Tentu tidak, karena ini hanya contoh dari satu individu. Penulis yakin<strong> toko buku akan tetap ada</strong>, terutama yang mampu menyesuaikan diri dengan zaman.</p>



<p>Memang, sekarang kita dimudahkan dengan adanya <em>marketplace </em>atau toko buku <em>online</em>. Namun, bagi Penulis pribadi, keberadaan toko buku fisik rasanya tidak akan tergantikan begitu saja. Mungkin akan ada yang tutup, tapi pasti ada yang berhasil bertahan.</p>



<p>&#8220;Kenikmatan&#8221; ketika mata memperhatikan buku demi buku, rak demi rak, tak bisa digantikan dengan <em>scroll </em>di <em>marketplace</em>. Apalagi, di toko buku kita bisa membaca sekilas apa isi buku tersebut, sehingga bisa menambah keyakinan untuk membeli suatu buku.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Harus Dilakukan oleh Toko Buku agar Bertahan?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6624" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Akankah Segera Menyusul Gunung Agung, atau Justru Berhasil Bertahan? (<a href="https://indonesiaemasgroup.com/buku-terbitan-ieg-kini-tersedia-di-gramedia/?v=7c1f12124b9e">Indonesia Emas Group</a>)</figcaption></figure>



<p>Berdasarkan video yang dibuat oleh Dr. Indrawan Nugraha, ada banyak cara yang bisa dilakukan toko buku agar bisa bertahan. Salah satunya adalah menjadikan toko buku bukan sekadar jualan buku, tapi menjadi <strong>tempat berkumpulnya komunitas</strong>.</p>



<p>Jika selama ini toko buku terkesan individual karena orang-orang hanya membeli buku yang diinginkan, maka di masa depan toko buku justru harus terbuka dan menyediakan tempat nongkrong atau berdiskusi. Beberapa toko buku di Indonesia sudah menerapkan hal tersebut.</p>



<p>Bahkan, tak jarang toko buku sekarang<strong> menggandeng <em>brand </em>F&amp;B atau bahkan membuka <em>brand </em>mereka sendiri</strong>. Jadi, setelah berbelanja buku, pengunjung dapat bersantai menikmati kopi sembari membaca buku yang baru saja dibeli.</p>



<p>Selain itu, sekarang rasanya <strong>jarang toko buku hanya menjual buku</strong>. Gramedia misalnya, terkenal karena juga menjual alat tulis, alat olahraga, pernak-pernik, dekorasi, mainan, dan lain sebagainya. Ini bisa menarik pengunjung yang tidak suka buku.</p>



<p>Tentu masih ada cara lain yang telah atau akan dilakukan oleh toko buku. Dengan jatuhnya Gunung Agung bukan berarti toko buku yang lain akan mengikuti jejaknya. Pada akhirnya, semua dituntut untuk sekreatif mungkin agar bisa bertahan di era modern ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 Juni 2023, terinspirasi setelah menonton <a href="https://www.youtube.com/watch?v=f62II5G49KY&amp;t=434s">video Dr. Indrawan Nurgroh</a>o yang membahas mengenai kiamat toko buku</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@abby-chung-371167/">Abby Chung</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.whiteboardjournal.com/ideas/human-interest/literasi-indonesia-peringkat-62-dari-70-apakah-peningkatan-kualitas-perpustakaan-daerah-bisa-membantu/">Literasi Indonesia Peringkat 62 dari 70, Apakah Peningkatan Kualitas Perpustakaan Daerah Bisa Membantu? &#8211; Whiteboard Journal</a></li>



<li><a href="https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media">Kementerian Komunikasi dan Informatika (kominfo.go.id)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">Benarkah Era Toko Buku akan Segera Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Minggu di Bandung (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2018 08:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<category><![CDATA[traveling]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1472</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selepas tugas sebagai volunteer di Asian Games, penulis memutuskan untuk berlibur. Penulis hanya punya satu tujuan: Bandung. Alasannya, penulis baru sekali ke kota tersebut. Itupun terjadi pada tahun 2015 ketika magang. Padahal, banyak tempat di Bandung yang menarik untuk dijelajahi. 5 September 2018: Jejak Langkah Pertama Untunglah penulis memiliki teman yang sedang melanjutkan studi di Bandung, sehingga penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/">Satu Minggu di Bandung (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selepas tugas sebagai <em>volunteer </em>di Asian Games, penulis memutuskan untuk berlibur. Penulis hanya punya satu tujuan: Bandung. Alasannya, penulis baru sekali ke kota tersebut. Itupun terjadi pada tahun 2015 ketika magang. Padahal, banyak tempat di Bandung yang menarik untuk dijelajahi.</p>
<p><strong>5 September 2018: Jejak Langkah Pertama</strong></p>
<p>Untunglah penulis memiliki teman yang sedang melanjutkan studi di Bandung, sehingga penulis bisa menumpang di kosnya. Namanya Bayu, kami kenal di Pare dan sempat satu kamar kos. Maka, pada tanggal 5 September 2018, penulis berangkat dari Stasiun Gambir menuju Bandung.</p>
<p>Penulis tiba di Bandung pukul enam petang. Bayu meminta bertemu di masjid Salman ITB. Sempat tersasar karena masuk ke area yang salah, akhirnya penulis menemukan masjid yang dimaksud dan bertemu dengan Bayu.</p>
<p><div id="attachment_1473" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1473" class="size-large wp-image-1473" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-31.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1473" class="wp-caption-text">Penulis dan Bayu</p></div></p>
<p>Setelah menaruh barang di kos (malam itu juga merupakan malam pertama Bayu tinggal di kos barunya), kami berdua mencari makan malam. Pilihan kamu jatuh pada Steak Ranjang yang terletak dekat dengan kos. Entah apa alasan pemilik usaha memilih istilah ranjang.</p>
<p>Keesokan harinya, penulis memulai petualangannya di Bandung. Destinasi pertama, apalagi kalau bukan toko buku. Yang lebih membuat penulis semangat, ada Togamas di Bandung. Dua toko pula.</p>
<p><strong>6 September 2018: Berburu Buku di Bandung</strong></p>
<p>Menggunakan ojek online, penulis menuju Togamas Supratman dan membeli tiga buku:</p>
<ul>
<li>Jazz, Perfume, &amp; Insiden (Seno Gumira Ajidarma)</li>
<li>The Castle in the Pyrenee (Jostein Gaarder)</li>
<li>Seni Hidup Minimalis (Francine Jay)</li>
</ul>
<p>Setelah itu, penulis menuju toko buku lainnya, Bandung Book Center (BBC) yang terletak di daerah Palasari. Toko bukunya cukup besar dan terdapat beberapa buku yang tidak terdapat di toko buku yang pernah penulis kunjungi. Tidak ada buku yang penulis beli pada toko ini.</p>
<p>Di seberang toko buku ini, terdapat pusat buku bekas yang mirip dengan kawasan Wilis, Malang. Penulis pun menelusuri tempat tersebut sembari berharap menemukan komik Donal Bebek bekas edisi jadul. Sayang, tidak ada yang menjualnya.</p>
<p>Ketika masuk lebih dalam, penulis menemukan BBC lagi. Ternyata di kawasan tersebut terdapat dua toko yang sama, hanya saja toko kedua ini nampaknya lebih berfokus pada buku-buku bekas. Walaupun tempatnya menarik dan <em>photoable</em>, tidak ada buku yang penulis beli.</p>
<p><div id="attachment_1474" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1474" class="size-large wp-image-1474" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-27.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1474" class="wp-caption-text">Bandung Book Center</p></div></p>
<p>Penulis melanjutkan perjalanan ke Togamas Parahyangan dengan berjalan kaki setelah makan siang di salah satu warung yang terletak di pinggir jalan. Di sinilah terjadi kekhilafan yang luar biasa karena Togamas tersebut sedang mengobral buku-bukunya. Parahnya, banyak buku bagus yang membuat penulis membeli delapan buku sekaligus:</p>
<ul>
<li>The Fault in Our Stars (20.000)</li>
<li>Menjadi Guru Inspiratif (15.000)</li>
<li>&#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku (15.000)</li>
<li>God, Please Help Me (20.000)</li>
<li>Anies (25.000)</li>
<li>Meraih Derajat Ahli Ibadah (15.000)</li>
<li>Menyikap Hakikat Pernikahan (15.000)</li>
<li>Jejak Mata Pyongyang (15.000)</li>
</ul>
<p>Daftar ini masih bertambah karena sewaktu memasuki bangunan utama, penulis kembali membeli lagi dua buku:</p>
<ul>
<li>Wahid Hasyim (Tempo)</li>
<li>Hit Refresh (Satya Nadella)</li>
</ul>
<p>Artinya, pada hari itu penulis telah membeli 13 buku. Penulis cukup kesulitan membawa buku-buku tersebut dalam perjalanan kembali ke kos Bayu.</p>
<p><div id="attachment_1475" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1475" class="size-large wp-image-1475" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/photo_2018-10-12_14-19-24.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1475" class="wp-caption-text">Togamas Parahyangan</p></div></p>
<p>Malamnya, setelah makan di Sambal Lalap yang terletak di seberang Steak Ranjang, kami bersiap menuju Jatinangor. Seperti yang penulis bilang, Bayu yang merupakan lulusan Universitas Padjajaran baru pindah dari Jatinangor ke Bandung, sehingga barang-barangnya masih banyak yang di kos lamanya.</p>
<p>Penulis menawakan bantuan untuk membantunya pindahan, hitung-hitung sebagai tanda terima kasih karena telah memberikan tempat bermalam selama beberapa hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 12 Oktober 2018, terinspirasi setelah liburan ke Bandung</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/">Satu Minggu di Bandung (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/satu-minggu-di-bandung-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
