Connect with us

Tokoh & Sejarah

Kalau Srimulat Masih Tayang Hari Ini

Published

on

Penulis tidak tahu apakah dirinya termasuk penggemar Srimulat atau bukan. Yang jelas, waktu kecil Penulis suka menonton acara Aneka Ria Srimulat di Indosiar. Penulis juga menonton Ketoprak Humor yang banyak diisi oleh orang-orang Srimulat.

Penulis sering menirukan gimmick yang menjadi ciri khas mereka, seperti telunjuk yang tak sengaja masuk ke mata atau pura-pura kehilangan kaki ketika duduk.

Hanya saja, Penulis tidak bisa ingat apa yang membuat Srimulat menjadi begitu lucu selain itu. Oleh karena itu, Penulis mencoba untuk menonton beberapa tayangannya di YouTube.

Setelah menonton, Penulis jadi berpikir seandainya Srimulat masih tayang hari ini, pasti akan sering sekali mendapatkan teguran dari KPAI.

Asal Mula Srimulat

Srimulat memiliki sejarah yang cukup panjang. Penulis mengetahui sedikit faktanya setelah membaca buku Srimulatism yang ditulis oleh Thrio Haryanto.

Secara singkat, Srimulat berawal dari kelompok musik yang dibuat oleh Teguh Slamet Rahardjo. Nama Srimulat sendiri diambil dari nama istri Teguh.

Di dalam perjalanannya, Srimulat sering menyisipkan lawakan ketika sedang pentas. Komposisinya berubah menjadi setengah musik setengah lawak, hingga pada akhinya menjadi acara lawak yang diselingi musik.

Karena berasal dari Jawa, maka lawakan Srimulat pun sering menggunakan bahasa Jawa ketika sedang di atas panggung. Meskipun pada akhirnya masuk ke Jakarta, dialog-dialog dengan Bahasa Jawa masih sering dipertahankan.

Srimulat sendiri sebenarnya bubar pada tahun 1989 setelah popularitasnya memudar karena adanya televisi. Inisiatif para personilnya untuk melakukan reuni membuat mereka mendapatkan acara televisi mereka sendiri dan tayang dalam waktu yang cukup lama.

Gaya Bercanda Srimulat

Apa yang paling menempel dari lawakan Srimulat adalah ciri khas yang dimiliki oleh para anggotanya. Misalnya, gaya banci Tessy, gaya melipat tangannya almarhum Gogon, hil yang mustahal-nya almarhum Asmuni, dan masih banyak lainnya.

Selain itu, Srimulat juga terkenal karena selalu menggunakan pembantu yang menjadi sumber kelucuan. Mereka dianggap sebagai representasi masyarakat kalangan bawah.

Hanya saja, ada banyak gaya lawakan Srimulat yang dulu dianggap lucu, kini akan mendapatkan banyak kritikan dari penontonnya.

Srimulat sering menggunakan formula slapstick yang juga sering kita jumpai di acara yang lebih modern seperti Opera Van Java-nya Sule. Aktivitas mendorong ataupun menampar lawan main akan mengundang tawa.

Ucapan-ucapan mereka pun sesekali terdengar kasar dan mengandung konten dewasa. Biasanya, kata-kata tersebut diucapkan dalam Bahasa Jawa yang spontan.

Di antara semua jenis lawakan, yang akan mendapatkan sorotan lebih adalah bagaimana para pemain Srimulat berusaha mencari kesempatan kepada pemeran atau bintang tamu wanitanya.

Perlu diketahui di dalam Srimulat, bintang tamu wanita sering kali hanya dijadikan sebagai pemanis dan tidak boleh ikut melawak. Bahkan, personil wanitanya sendiri tidak boleh terlalu banyak melucu.

Nah, karena pentas lebih sering dibawa oleh pelawak laki-lakinya, ada saja saja tingkah “nakal” yang mereka lakukan kepada pemeran wanita, terutama bintang tamu.

Penutup

Srimulat mungkin lucu di masa lampau, tapi kurang relevan jika ditampilkan hari ini. Para SJW akan memberikan kritikan tajam terhadap gaya bercanda mereka.

Bagi Penulis sendiri, biarlah mereka menjadi legenda bahkan menjadi isme sendiri. Apalagi, para personil aslinya telah banyak yang wafat. Yang masih hidup bisa dihitung dengan menggunakan jari.

Terlepas dari itu semua, kita patut berterima kasih kepada Srimulat karena telah menghadirkan tawa dalam jangka waktu yang panjang dan menjadi inspirasi bagi banyak komedian di Indonesia.

 

 

Kebayoran Lama, 29 Februari 2020, terinspirasi setelah menonton Srimulat di YouTube

Foto: Dzargon

Tokoh & Sejarah

Privilege Ala Kartini

Published

on

By

Tanggal 21 April selalu identik dengan satu hal: hari Kartini. Tokoh emansipasi wanita tersebut lahir di Jepara pada tanggal tersebut di tahun 1879. Perannya sudah tidak perlu diragukan lagi, ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita di Indonesia.

Sudah banyak yang bercerita tentang kehidupan beliau. Penulis tertarik untuk mengulik sisi lain dari seorang Raden Adjeng Kartini. Menurut Penulis, Kartini bisa menjadi sedemikian ikonik berkat privilege yang ia miliki sejak lahir. Kok bisa?

Privilege Sejak Lahir

Privilege telah dimiliki oleh Kartini sejak lahir karena ia terlahir dari kalangan priyayi alias bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang setelah putrinya lahir diangkat mejnadi bupati Jepara.

Jejak darah biru bisa ditelusuri hingga Hamengkubuwana VI. Keluarga ibunya sendiri bukan keluarga bangsawan, sehingga ayahnya harus menikah lagi dengan wanita bangsawan sebagai salah satu syarat untuk bisa menjadi seorang bupati.

Sebagai anak seorang bangsawan, Kartini memiliki kesempatan untuk bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) walau hanya boleh sampai berusia 12 tahun. Setidaknya, ia lebih beruntung dibandingkan kebanyakan wanita pribumi saat itu.

Berhenti dari sekolah tidak membuat Kartini berhenti belajar. Secara otodidak ia belajar sendiri di rumah dan kerap menulis surat untuk teman-temannya yang berasal dari Belanda. Ia juga bisa mendapatkan buku-buku, koran, dan majalah Eropa (another big privilege).

Nah, dari sanalah Kartini mendapatkan pandangan betapa majunya cara berpikir wanita Eropa jika dibandingkan dengan wanita pribumi yang kerapdipandang rendah. Muncullah keinginan Kartini untuk memajukan harkat wanita pribumi.

Wawasannya yang luas membuatnya mulai menulis dan dimuat dalam berbagai macam surat kabar seperti De Hollandsche Lelie. Kartini sering menulis seputar permasalahan emansipasi wanita, walau terkadang ia membahasi isu sosial lainnya.

Bahkan setelah menikah, ia tetap melakukan perjuangannya. Sang suami yang seorang bupati Rembang memberikan kebebasan dan mendukung Kartini yang ingin mendirikan sekolah wanita di dekat kantor bupati.

Sayangnya, Kartini tidak berumur panjang. Hanya beberapa hari setelah melahirkan anaknya yang pertama, ia harus menghembuskan napas terakhir ketika berusia relatif muda, 25 tahun.

Meskipun begitu, peninggalannya meninggalkan jejak yang luar biasa. Ide-ide yang tertuang di suratnya begitu revolusioner dan dianggap melampaui zamannya.

Surat-surat Kartini diterbitkan di Belanda, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Memanfaatkan Privilege dengan Benar

Memang benar jika Kartini bisa berpikiran seperti ini karena memilki privilege. Hanya saja, Kartini bisa menggunakan privilege yang dimiliki dengan benar dan tepat. Ia tidak memanfaatkan privilege untuk dirinya semata, melainkan untuk kesejahteraan semua wanita pribumi di Indonesia.

Di era ketika Kartini hidup, ada berapa banyak wanita yang lahir dari keluarga bangsawan? Penulis tidak tahu berapa jumlah pastinya, tapi Penulis yakin jika jumlahnya cukup banyak. Apalagi, para bangsawan kerap memiliki istri lebih dari satu (Kartini sendiri merupakan istri ketiga).

Dari banyaknya wanita yang memiliki privilege tersebut, mengapa hanya Kartini yang terlihat berusaha memperjuangkan untuk mengangkat harkat martabat wanita pribumi? Mungkin ada, tapi tidak sebesar Kartini atau memang tidak terdokumentasi dalam sejarah.

Kartini sendiri bukan satu-satunya wanita hebat di masa perjuangan kemerdekaan. Ada nama seperti Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Ada beberapa pihak yang protes, kenapa hanya Kartini saja yang diistimewakan.

Hanya saja, Kartini memang populer atas pemikiran-pemikirannya tentang emansipasi wanita yang kerap diabaikan pada masa itu. Tidak banyak wanita dapat memanfaatkan privilege yang dimiliki seperti yang dilakukan oleh Kartini.

Lawang, 21 April 2021, terinspirasi karena hari ini hari Kartini

Foto: Tribun Jatim – Tribunnews.com

Sumber Artikel: Kartini – Wikipedia bahasa Indonesia, Tidak Banyak Orang yang Mampu Memanfaatkan Hak Istimewanya Sehebat Kartini (voi.id)

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Revolusi karena Pajak

Published

on

By

Jika mendengar kata pajak, apa yang akan terbesit pertama kali di pikiran kita? Jawabannya bisa yang standar seperti kewajiban hingga yang anti mainstream seperti dikorupsi.

Sebagai orang awam, kita diberi tahu kalau pajak merupakan salah satu pemasukan negara agar memiliki anggaran.

Pajak juga banyak sekali macamnya, setidaknya di negara kita. Pajak penghasilan, pajak makan, pajak mendirikan bangunan, dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini, pemerintah kerap disorot karena terlihat memungut pajak hampir di segala sektor yang dulunya tidak tersentuh pajak.

Pemerintah pasti punya pertimbangannya sendiri. Hanya saja, jika dilakukan berlebihan juga akan membuat masyarakat merasa gerah.

Di dalam sejarah, setidaknya ada dua revolusi yang dimulai akibat adanya pajak yang menyengsarakan rakyat.

Revolusi Prancis, 1789-1799

Revolusi Prancis (Time Magazine)

Selama berabad-abad, Prancis telah dipimpin oleh Monarki absolut. Sesuatu yang berlangsung secara absolut biasanya akan runtuh, apalagi jika pemimpinnya tidak bisa mengatasi krisis yang sedang melanda negerinya.

Itulah yang terjadi pada Prancis ketika Louis XVI naik takhta. Dari komik biografi Napoleon Bonaparte yang pernah Penulis baca, ia adalah raja yang gemar menggelar pesta dan hidup bermewah-mewahan.

Istrinya, Ratu Marie Antoinette yang terkenal karena kecantikannya, juga merupakan tipe orang yang pemboros dan sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.

Perang melawan Inggris dan upaya membantu Amerika Serikat meraih kemerderkaan sangat merugikan Prancis dari sisi finansial. Apalagi, gaya hidup istana sangat berbanding terbalik dengan kehidupan rakyatnya yang begitu sengsara.

Solusi apa yang ditawarkan? Menaikkan pajak masyarakat kelas bawah.

Padahal, penerapan pajak di Prancis sudah begitu timpang di mana tekanan terbesar justru diberikan kepada masyarakat miskin. Kaum bangsawan justru mendapatkan banyak keringanan.

Revolusi pun akhirnya dimulai, ditandai dengan penyerbuan penjara Bastille. Rakyat yang sudah muak dengan monarki yang memimpin mereka mulai bertindak, termasuk memenggal kepala orang-orang istana. Louis XVI dan istrinya yang cantik pun berakhir di guillotine.

Tentu ada banyak penyebab lain yang membuat revolusi ini terjadi, tapi penerapan pajak ke masyarakat kelas bawah menjadi salah satu yang paling utama.

Revolusi Kemerdekaan Amerika Serikat, 1775-1783

Revolusi Amerika Serikat (History)

Tanah Amerika terlihat begitu menjanjikan semenjak Christopher Colombus mendaratkan kakinya di benua ini. Upaya untuk menemukan jalan ke Asia lewat Barat justru membuat bangsa Eropa menemukan dunia baru.

Sayangnya, dampaknya begitu destruktif terhadap penduduk asli Amerika. Perlahan tapi pasti, mereka mulai tergusur oleh bangsa kulit putih yang membawa persenjataan lengkap dan pasukan yang terlatih.

Benua Amerika yang begitu luas menjadi rebutan negara-negara kuat seperti Inggris, Prancis, hingga Spanyol. Mereka mengklaim berbagai wilayah sebagai milik mereka, merebut dari pemilik aslinya dengan berbagai macam cara.

Inggris adalah salah satu negara yang menguasai benua Amerika bagian utara. Mereka kerap berebutan dengan Prancis. Biaya ekspedisi dan perang membuat Inggris mengeluarkan banyak uang dan otomatis membuat mereka mengalami krisis keuangan.

Solusi apa yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris? Menarik pajak rakyat mereka sendiri yang hidup di daerah koloni. Orang Inggris yang berada di Amerika pun tidak menyukai keputusan ini dan mengganggapnya inkonstitusional.

Perlawanan dimulai dari peristiwa Boston Tea Party yang terjadi pada tahun 1773. Peristiwa ini dipicu adanya pajak terhadap teh Britania dan membuat orang-orang koloni membuang semua muatan teh pada kapal Inggris.

Ketegangan semakin berlanjut hingga akhirnya muncul deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat yang terjadi pada tanggal 4 Juli 1776. Setelah itu, perang pun ters berkecamuk hingga akhirnya Inggris mengakui kedaulatan Amerika Serikat.

Penutup

Penulis jelas tidak berharap kalau di Indonesia akan muncul semacam revolusi karena pemerintah menerapkan kebijakan pajak yang berlebihan. Sampai sekarang semua regulasi masih terlihat masuk akal dan dapat diterima.

Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan kita semua kalau kebijakan pajak yang kurang bijak bisa memicu pergolakan di masyarakat. Mungkin tidak seekstrem Revolusi Prancis dan Amerika Serikat, tapi bisa saja terjadi dalam skala yang lebih kecil.

Sejauh kita merdeka, upaya rakyat terbesar untuk menumbangkan rezim otoriter terjadi pada tahun 1998. Setelah itu, kita memasuki era demokrasi yang cenderung lebih aman dan tidak dipimpin oleh pemerintah yang sewenang-wenang.

Atau, benarkah seperti itu?

 

 

Lawang, 10 Maret 2021, terinspirasi dari berita-berita seputar pajak

Foto: Culture Trip

Sumber Artikel:

Revolusi Prancis – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Revolusi Amerika Serikat – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Pencuri Bernama Jobs dan Gates

Published

on

By

Kalo ditanya tentang siapa tokoh teknologi yang paling berpengaruh di abad 21, pasti akan banyak yang menjawab Steve Jobs dan Bill Gates

Jobs terkenal karena berhasil membawa Apple menjadi perusahaan paling bernilai di dunia, sedangkan Gates kerap menjadi orang terkaya dunia berkat kesuksesan Microsoft.

Di balik kesuksesan kedua tokoh ini, ada sebuah peristiwa yang bisa dibilang kurang beretika pada tahun 70 hingga 80-an. Keduanya kerap dianggap sebagai seorang pencuri ide dan sukses dari curian tersebut. Bagaimana kisahnya?

Lahirnya Graphic User Interface (GUI)

Penulis hobi membaca buku yang berkaitan dengan sejarah komputer, mulai era Charles Babbage dan Ada Lovelace hingga era Sergey Brin dan Larry Page.

Oleh karena itu Penulis bisa mengerti kalau di awal komputer tercipta, hanya orang-orang tertentu yang bisa menggunakannya. Orang awam akan kesulitan untuk mengoperasikan komputer untuk perhitungan sederhana.

Xerox PARC (TechSpot)

Tampilan antarmuka seperti Windows maupun MacOS yang kita gunakan sekarang baru lahir pada tahun 70-an. Coba tebak, perusahaan apa yang menemukannya? Jawabannya adalah XEROX!

Mungkin kita hanya mengenal perusahaan ini sebagai penghasil mesin fotokopi, mungkin yang terbaik di dunia. Namun pada era tersebut, mereka memiliki departemen Palo Alto Research Center (PARC) yang sangat inovatif.

Komputer Revolusioner (IEEE Spectrum)

Mereka membuat sebuah komputer yang memiliki Graphic User Interface (GUI) dan bisa digerakkan dengan sebuah perangkat bernama mouse (tetikus).

Penemuan tersebut sangat revolusioner, namun manajemen Xerox tidak terlalu memedulikannya. Justru seorang pria berusia 20-an lah yang melihat potensi dari inovasi yang ditemukan oleh tim PARC ini.

Pencuri Bernama Jobs dan Gates

Pada saat yang bersamaan, Jobs sedang disibukkan dengan proyek Lisa dan Macintosh. Beberapa pegawainya berusaha meyakinkan Jobs untuk berkunjung ke departemen PARC yang dimiliki oleh Xerox.

Jobs dan Gates Muda (Pinterest)

Sempat enggan berkali-kali, akhirnya Jobs memutuskan untuk menengok apa yang dimiliki oleh mereka pada tahun 1979. Di sanalah ia melihat bagaimana komputer bisa dioperasikan oleh manusia dengan mudah menggunakan GUI.

Jobs pun berambisi untuk bisa menerapkan GUI tersebut ke komputernya sendiri. Ia menawarkan 10.000 saham Apple ke Xerox agar dirinya bisa melihat GUI lebih dalam dan detail.

Omong-omong, bukan hanya Jobs yang menyadari kehadiran GUI milik Xerox. Bill Gates juga melihat betapa GUI akan menjadi masa depan komputer.

Bahkan, Gates lebih dulu meluncurkan sistem operasinya yang bernama Windows pada tahun 1983, setahun sebelum Macintosh rilis ke pasaran.

Kemiripan sistem GUI yang dimiliki keduanya membuat Jobs murka dan berusaha menuntut Gates. Dari sini, keluarlah kalimat terkenal dari Gates:

I think it’s more like we both had this rich neighbor named Xerox and I broke into his house to steal the TV set and found out that you had already stolen it

Aku pikir itu lebih seperti kita berdua memiliki tetangga kaya bernama Xerox ini dan saya masuk ke rumahnya untuk mencuri TV dan mengetahui bahwa Anda telah mencurinya

Ketika dibawa ke pengadilan pun, hakim tidak bisa menemukan apa kesalahan yang dilakukan oleh pihak Gates dan Microsoft. Jobs harus menerima kenyataan kalau GUI bukan hanya miliki dirinya semata.

Penutup

Ada sebuah quote yang terkenal dari mendiang Steve Jobs:

It’s more fun to be a pirate than to join the navy.

Lebih menyenangkan menjadi bajak laut daripada bergabung dengan angkatan laut.

Jiwa pemberontak yang ada di dalam diri Jobs memang membuatnya lebih memilih untuk menjadi bajak laut daripada angkatan laut yang serba kaku. Bisa saja, quote tersebut digunakan sebagai pembenaran ketika ia mencuri ide GUI dari Xerox PARC.

Memang, Xerox PARC mendemonstrasikan inovasinya tersebut secara terbuka. Hanya saja, Jobs memiliki kebiasaan untuk mengklaim inovasi orang lain sebagai inovasinya sendiri. Ada banyak sekali contohnya.

Apakah mereka berdua bisa dianggap sebagai seorang pencuri ide? Tidak sepenuhnya seperti itu. GUI yang dimiliki oleh Xerox PARC masih memiliki banyak kekurangan. Jobs dan Gates melakukan banyak perbaikan di sana-sini.

Tapi setidaknya kita harus mengetahui bahwa kemudahan kita menggunakan laptop seperti sekarang berawal dari sebuah perusahaan yang terkenal karena mesin fotokopinya.

 

 

Lawang, 19 September 2020, terinspirasi setelah teringat kisah legendaris GUI

Foto: YouTube

Sumber Artikel: Medium, buku Steve Jobs karya Walter Isaacson

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan