Satu Minggu di Bandung (Bagian 1)

Selepas tugas sebagai volunteer di Asian Games, penulis memutuskan untuk berlibur. Penulis hanya punya satu tujuan: Bandung. Alasannya, penulis baru sekali ke kota tersebut. Itupun terjadi pada tahun 2015 ketika magang. Padahal, banyak tempat di Bandung yang menarik untuk dijelajahi.

5 September 2018: Jejak Langkah Pertama

Untunglah penulis memiliki teman yang sedang melanjutkan studi di Bandung, sehingga penulis bisa menumpang di kosnya. Namanya Bayu, kami kenal di Pare dan sempat satu kamar kos. Maka, pada tanggal 5 September 2018, penulis berangkat dari Stasiun Gambir menuju Bandung.

Penulis tiba di Bandung pukul enam petang. Bayu meminta bertemu di masjid Salman ITB. Sempat tersasar karena masuk ke area yang salah, akhirnya penulis menemukan masjid yang dimaksud dan bertemu dengan Bayu.

Penulis dan Bayu

Setelah menaruh barang di kos (malam itu juga merupakan malam pertama Bayu tinggal di kos barunya), kami berdua mencari makan malam. Pilihan kamu jatuh pada Steak Ranjang yang terletak dekat dengan kos. Entah apa alasan pemilik usaha memilih istilah ranjang.

Keesokan harinya, penulis memulai petualangannya di Bandung. Destinasi pertama, apalagi kalau bukan toko buku. Yang lebih membuat penulis semangat, ada Togamas di Bandung. Dua toko pula.

6 September 2018: Berburu Buku di Bandung

Menggunakan ojek online, penulis menuju Togamas Supratman dan membeli tiga buku:

  • Jazz, Perfume, & Insiden (Seno Gumira Ajidarma)
  • The Castle in the Pyrenee (Jostein Gaarder)
  • Seni Hidup Minimalis (Francine Jay)

Setelah itu, penulis menuju toko buku lainnya, Bandung Book Center (BBC) yang terletak di daerah Palasari. Toko bukunya cukup besar dan terdapat beberapa buku yang tidak terdapat di toko buku yang pernah penulis kunjungi. Tidak ada buku yang penulis beli pada toko ini.

Di seberang toko buku ini, terdapat pusat buku bekas yang mirip dengan kawasan Wilis, Malang. Penulis pun menelusuri tempat tersebut sembari berharap menemukan komik Donal Bebek bekas edisi jadul. Sayang, tidak ada yang menjualnya.

Ketika masuk lebih dalam, penulis menemukan BBC lagi. Ternyata di kawasan tersebut terdapat dua toko yang sama, hanya saja toko kedua ini nampaknya lebih berfokus pada buku-buku bekas. Walaupun tempatnya menarik dan photoable, tidak ada buku yang penulis beli.

Bandung Book Center

Penulis melanjutkan perjalanan ke Togamas Parahyangan dengan berjalan kaki setelah makan siang di salah satu warung yang terletak di pinggir jalan. Di sinilah terjadi kekhilafan yang luar biasa karena Togamas tersebut sedang mengobral buku-bukunya. Parahnya, banyak buku bagus yang membuat penulis membeli delapan buku sekaligus:

  • The Fault in Our Stars (20.000)
  • Menjadi Guru Inspiratif (15.000)
  • ‘Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku (15.000)
  • God, Please Help Me (20.000)
  • Anies (25.000)
  • Meraih Derajat Ahli Ibadah (15.000)
  • Menyikap Hakikat Pernikahan (15.000)
  • Jejak Mata Pyongyang (15.000)

Daftar ini masih bertambah karena sewaktu memasuki bangunan utama, penulis kembali membeli lagi dua buku:

  • Wahid Hasyim (Tempo)
  • Hit Refresh (Satya Nadella)

Artinya, pada hari itu penulis telah membeli 13 buku. Penulis cukup kesulitan membawa buku-buku tersebut dalam perjalanan kembali ke kos Bayu.

Togamas Parahyangan

Malamnya, setelah makan di Sambal Lalap yang terletak di seberang Steak Ranjang, kami bersiap menuju Jatinangor. Seperti yang penulis bilang, Bayu yang merupakan lulusan Universitas Padjajaran baru pindah dari Jatinangor ke Bandung, sehingga barang-barangnya masih banyak yang di kos lamanya.

Penulis menawakan bantuan untuk membantunya pindahan, hitung-hitung sebagai tanda terima kasih karena telah memberikan tempat bermalam selama beberapa hari.

 

 

Jelambar, 12 Oktober 2018, terinspirasi setelah liburan ke Bandung

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.