<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>trauma Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/trauma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/trauma/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Mar 2021 03:23:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>trauma Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/trauma/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hidup untuk Hari Ini</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2020 13:10:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kini]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[saat ini]]></category>
		<category><![CDATA[trauma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4134</guid>

					<description><![CDATA[<p>Terkadang dalam hidup ini, kita terlalu fokus pada dua hal: Masa lalu Masa depan Tak jarang masa lalu membebani kita di masa kini. Kejadian yang sudah berlalu ternyata bisa memengaruhi aktivitas kita sehari-hari. Beberapa contohnya antara lain: &#8220;Duh, aku dulu sering di-bully sama teman-teman sekolah, makanya sekarang jadi takut mau kenalan sama orang baru.&#8221; &#8220;Duh, aku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/">Hidup untuk Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Terkadang dalam hidup ini, kita terlalu fokus pada dua hal:</p>
<ol>
<li>Masa lalu</li>
<li>Masa depan</li>
</ol>
<p>Tak jarang masa lalu membebani kita di masa kini. Kejadian yang sudah berlalu ternyata bisa memengaruhi aktivitas kita sehari-hari. Beberapa contohnya antara lain:</p>
<ul>
<li>&#8220;Duh, aku dulu sering di-<em>bully </em>sama teman-teman sekolah, makanya sekarang jadi takut mau kenalan sama orang baru.&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, aku dulu sering dipukul sama orangtua, makanya takut mau nikah karena takut anakku mengalami hal yang sama.&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, aku trauma karena dulu pernah diperkosa sama paman sendiri, makanya aku takut sama laki-laki.&#8221;</li>
</ul>
<p>Sebaliknya, masa depan kerap membuat kita merasa cemas. Seringkali, secara berlebihan. Kita taku akan sesuatu yang belum tentu akan terjadi di masa mendatang. Contohnya:</p>
<ul>
<li>&#8220;Duh, kalo aku sakit terus mati gimana, ya?&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, negara kok gini-gini amat ya, gimana caranya hidup ya?&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, kalo besok hasil tesku jelek gimana, ya?&#8221;</li>
</ul>
<p>Memikirkan dua hal ini sangat manusiawi. Penulis sampai detik ini juga masih sering melakukannya. Hanya saja, kalau terlalu berlebihan efeknya bisa berbahaya.</p>
<p><strong>Kita jadi lupa untuk menjalani hidup saat ini.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Beban-beban di masa lalu (kerap bersifat traumatis) memang susah untuk diobati. Bahkan, seringkali membutuhkan uluran tangan profesional.</p>
<p>Hanya saja, sebisa mungkin jangan sampai kejadian-kejadian di masa lalu <strong>menghambat langkah kita untuk maju</strong>.</p>
<p>Jangan karena pernah diselingkuhi berkali-kali, kita jadi takut untuk jatuh cinta karena tidak mau tersakiti lagi.</p>
<p>Di sisi lain, mencemaskan masa depan sebenarnya bagus sebagai peringatan di sendiri agar diri kita lebih siap menghadapi situasi terburuk.</p>
<p>Hanya saja, <strong>kecemasan itu akan menjadi percuma</strong> kita kitanya malah rebahan sepanjang hari di saat sekarang.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Untuk itu, cobalah untuk <strong>menikmati hari ini</strong>, saat ini, detik ini. Rasakan bergulirnya waktu secara konsisten, menyadari bahwa kehadiran kita adalah sesuatu yang nyata.</p>
<p>Coba lupakan sejenak beban masa lalu dan kecemasan yang kerap menggantung di pikiran. Coba renungkan, apa yang bisa kita lakukan sekaran agar hari ini menjadi bermakna.</p>
<p>Coba tingkatkan kesadaran diri (<em>self-awareness</em>), selami batin demi lebih mengenal diri sendiri. Coba syukuri apapun yang selama ini terlewat dan terabaikan.</p>
<p>Coba lakukan itu semua, karena beban masa lalu dan kecemasan masa depan akan menjadi percuma, <strong>jika kita tidak hadir untuk saat ini.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kita semua berbeda. Ada yang hidupnya gitu-gitu aja, ada yang naik turun sekali, ada yang kerap mengalami kejadian luar biasa, ada yang sering merasa jenuh, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kemampuan kita untuk menghadapi masalah pun berbeda-beda. Ada yang tangguh bagaikan karang di pantai, ada juga yang kurang bisa menghadapi masalah.</p>
<p>Yang manapun kita, tidak ada salahnya untuk menikmati hari ini, sepahit apapun. Pasti ada sisi positif dari suatu kejadian yang pernah, sedang, atau akan menimpa kita.</p>
<p>Berat? Pasti. Tapi bisa kok. Yuk, jalani hidup hari ini dengan semangat dan <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">jangan lupa bahagia</a>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang,  17 November 2020, terinspirasi setelah membaca Bab 4 buku filsafat ringan yang judulnya panjang sekali itu.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@seteph">Allef Vinicius</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/">Hidup untuk Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Takut Ikan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-takut-ikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Nov 2019 14:55:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[seafood]]></category>
		<category><![CDATA[Sengkaling]]></category>
		<category><![CDATA[tenggelam]]></category>
		<category><![CDATA[trauma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3130</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ada orang yang baru mengenal penulis, pasti merasa heran ketika mengetahui fakta kalau penulis sama sekali tidak doyan memakan apapun yang berasal dari laut alias seafood. Seumur hidup, rasanya penulis memang belum pernah memakan makanan laut karena sadar. Kalau karena kecelakaan, pernah. Dan, rasa amisnya langsung terasa di lidah sehingga secara refleks akan langsung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-takut-ikan/">Kenapa Takut Ikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ada orang yang baru mengenal penulis, pasti merasa heran ketika mengetahui fakta kalau penulis sama sekali tidak doyan memakan apapun yang berasal dari laut alias <em>seafood</em>.</p>
<p>Seumur hidup, rasanya penulis memang belum pernah memakan makanan laut karena sadar. Kalau karena kecelakaan, pernah. Dan, rasa amisnya langsung terasa di lidah sehingga secara refleks akan langsung dimuntahkan.</p>
<p>Banyak yang merasa kasihan dengan penulis karena tidak bisa menikmati lezatnya ikan, udang, cumi, dan lain sejenisnya. Penulis pun dalam hati sebenarnya ingin sekali bisa memakan segala makanan.</p>
<p>Apa sebenarnya yang menyebabkan penulis begitu tidak menyukai makanan laut?</p>
<h3>Trauma di Sengkaling</h3>
<div id="attachment_3136" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3136" class="size-large wp-image-3136" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/kenapa-takut-ikan-1-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/kenapa-takut-ikan-1-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/kenapa-takut-ikan-1-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/kenapa-takut-ikan-1-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/kenapa-takut-ikan-1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3136" class="wp-caption-text">Taman Sengkaling (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.youtube.com/watch?v=Rq55DnNUae0" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwisjdydjYPmAhUV5o8KHSTTAqkQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">YouTube</span></a>)</p></div>
<p>Salah satu alasan kenapa penulis tidak suka ikan adalah trauma. Penulis pernah tenggelam dan dikerumuni ikan dengan jumlah yang banyak.</p>
<p>Ceritanya ketika penulis masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, penulis diajak keluarga untuk rekreasi ke sebuah tempat wisata di Malang bernama Sengkaling.</p>
<p>Tempat tersebut merupakan taman wisata air yang cukup terkenal di Malang, bahkan memiliki danau buatan yang cukup luas. Banyak kapal-kapal kecil yang digunakan untuk mengelilingi danau tersebut.</p>
<p>Penulis sedang memberi makan ikan dari pinggir danau. Penulis masih ingat, ketika itu makanan yang diberikan adalah tahu. Apakah ikan makan tahu? Entahlah, bisa jadi iya, bisa jadi penulis yang salah mengingat.</p>
<p>Ketika sedang memberikan makan, penulis melihat sebuah kapal yang tertambat di pinggir dermaga. Tiba-tiba, terlintas pikiran untuk memberikan makan dari atas kapal tersebut.</p>
<p>Sebelum pergi ke sana, penulis meminta izin ke ayah. Karena dirasa berbahaya, tentu saja penulis tidak mendapatkan izin. Tapi penulis tetap bersikukuh dan memutuskan untuk tetap melakukannya.</p>
<p>Saat baru mendaratkan satu kaki di kapal tersebut, tiba-tiba kapal tersebut oleng dan membuat penulis tercebur ke danau. Butuh beberapa detik hingga ayah sadar dan segera menolong penulis yang sudah tenggelam.</p>
<p>Nah, kejadian tenggelam itulah yang membuat penulis jadi takut dengan ikan. Entah kenapa mata ikan yang berada di dalam air waktu itu masih sering membayang di kepala penulis, sehingga untuk sekadar melihat ikan pun penulis merasa ngeri.</p>
<p>Selain itu, penulis juga jadi takut berenang dan mudah panik jika berada di dalam air. Hikmah dari kejadian tersebut adalah penulis jadi tidak berani membantah perkataan ayah, bahkan hingga dewasa seperti sekarang.</p>
<h3>Aroma yang Menyengat</h3>
<p>Selain karena trauma, penulis juga tidak suka <em>seafood </em>karena aromanya yang menyengat. Penulis diberi anugerah berupa penciuman yang cukup tajam, sehingga aroma amis sangat mengganggu hidung,</p>
<p>Karena alasan ini, penulis hampir tidak pernah masuk ke dalam pasar tradisional. Sebisa mungkin, penulis akan menghindari tempat tersebut. Jika sedang mengantar ibu, penulis memilih kepanasan di tempat parkir.</p>
<p>Alasan yang sama juga berlaku untuk semua makanan laut. Penulis rasa, semua makanan laut memiliki aroma yang serupa sehingga rasanya penulis tidak akan pernah mencobanya.</p>
<p>Makanan laut paling dekat yang pernah penulis makan adalah kerupuk udang dan terasi. Tapi, kalau masih terasa amisnya juga tidak akan penulis makan.</p>
<p>Omong-omong soal udang, penulis juga geli melihat udang. Bagian yang membuat geli adalah bagian kakinya. Bahkan ketika menulis bagian ini, tubuh penulis langsung merinding hanya dengan membayangkannya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis sering membayangkan pada akhirnya penulis akan makan <em>seafood </em>jika keadaan memaksa. Misal, mendapatkan pekerjaan di Jepang yang notebene surganya <em>seafood</em>. Mau tidak mau, penulis harus doyan makan <em>seafood </em>untuk bertahan hidup.</p>
<p>Tapi untuk sekarang, penulis akan tetap hidup seperti ini. Biarlah Bu Susi akan menenggelamkan penulis, toh penulis memang tidak bisa berenang sehingga pasti tenggelam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 November 2019, enggak terinspirasi apa-apa, lagi pengen aja nulis ini</p>
<p>Foto: <a href="https://www.microsoft.com/en-gb/p/finding-nemo/8d6kgwzl61w8">Microsoft</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-takut-ikan/">Kenapa Takut Ikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
