Kenapa Takut Ikan?

Jika ada orang yang baru mengenal penulis, pasti merasa heran ketika mengetahui fakta kalau penulis sama sekali tidak doyan memakan apapun yang berasal dari laut alias seafood.

Seumur hidup, rasanya penulis memang belum pernah memakan makanan laut karena sadar. Kalau karena kecelakaan, pernah. Dan, rasa amisnya langsung terasa di lidah sehingga secara refleks akan langsung dimuntahkan.

Banyak yang merasa kasihan dengan penulis karena tidak bisa menikmati lezatnya ikan, udang, cumi, dan lain sejenisnya. Penulis pun dalam hati sebenarnya ingin sekali bisa memakan segala makanan.

Apa sebenarnya yang menyebabkan penulis begitu tidak menyukai makanan laut?

Trauma di Sengkaling

Taman Sengkaling (YouTube)

Salah satu alasan kenapa penulis tidak suka ikan adalah trauma. Penulis pernah tenggelam dan dikerumuni ikan dengan jumlah yang banyak.

Ceritanya ketika penulis masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, penulis diajak keluarga untuk rekreasi ke sebuah tempat wisata di Malang bernama Sengkaling.

Tempat tersebut merupakan taman wisata air yang cukup terkenal di Malang, bahkan memiliki danau buatan yang cukup luas. Banyak kapal-kapal kecil yang digunakan untuk mengelilingi danau tersebut.

Penulis sedang memberi makan ikan dari pinggir danau. Penulis masih ingat, ketika itu makanan yang diberikan adalah tahu. Apakah ikan makan tahu? Entahlah, bisa jadi iya, bisa jadi penulis yang salah mengingat.

Ketika sedang memberikan makan, penulis melihat sebuah kapal yang tertambat di pinggir dermaga. Tiba-tiba, terlintas pikiran untuk memberikan makan dari atas kapal tersebut.

Sebelum pergi ke sana, penulis meminta izin ke ayah. Karena dirasa berbahaya, tentu saja penulis tidak mendapatkan izin. Tapi penulis tetap bersikukuh dan memutuskan untuk tetap melakukannya.

Saat baru mendaratkan satu kaki di kapal tersebut, tiba-tiba kapal tersebut oleng dan membuat penulis tercebur ke danau. Butuh beberapa detik hingga ayah sadar dan segera menolong penulis yang sudah tenggelam.

Nah, kejadian tenggelam itulah yang membuat penulis jadi takut dengan ikan. Entah kenapa mata ikan yang berada di dalam air waktu itu masih sering membayang di kepala penulis, sehingga untuk sekadar melihat ikan pun penulis merasa ngeri.

Selain itu, penulis juga jadi takut berenang dan mudah panik jika berada di dalam air. Hikmah dari kejadian tersebut adalah penulis jadi tidak berani membantah perkataan ayah, bahkan hingga dewasa seperti sekarang.

Aroma yang Menyengat

Selain karena trauma, penulis juga tidak suka seafood karena aromanya yang menyengat. Penulis diberi anugerah berupa penciuman yang cukup tajam, sehingga aroma amis sangat mengganggu hidung,

Karena alasan ini, penulis hampir tidak pernah masuk ke dalam pasar tradisional. Sebisa mungkin, penulis akan menghindari tempat tersebut. Jika sedang mengantar ibu, penulis memilih kepanasan di tempat parkir.

Alasan yang sama juga berlaku untuk semua makanan laut. Penulis rasa, semua makanan laut memiliki aroma yang serupa sehingga rasanya penulis tidak akan pernah mencobanya.

Makanan laut paling dekat yang pernah penulis makan adalah kerupuk udang dan terasi. Tapi, kalau masih terasa amisnya juga tidak akan penulis makan.

Omong-omong soal udang, penulis juga geli melihat udang. Bagian yang membuat geli adalah bagian kakinya. Bahkan ketika menulis bagian ini, tubuh penulis langsung merinding hanya dengan membayangkannya.

Penutup

Penulis sering membayangkan pada akhirnya penulis akan makan seafood jika keadaan memaksa. Misal, mendapatkan pekerjaan di Jepang yang notebene surganya seafood. Mau tidak mau, penulis harus doyan makan seafood untuk bertahan hidup.

Tapi untuk sekarang, penulis akan tetap hidup seperti ini. Biarlah Bu Susi akan menenggelamkan penulis, toh penulis memang tidak bisa berenang sehingga pasti tenggelam.

 

 

Kebayoran Lama, 24 November 2019, enggak terinspirasi apa-apa, lagi pengen aja nulis ini

Foto: Microsoft