<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>usaha Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/usaha/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/usaha/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 11:48:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>usaha Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/usaha/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yang Salah dari Privilege</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 13:27:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[nasib]]></category>
		<category><![CDATA[privilege]]></category>
		<category><![CDATA[Putri Tanjung]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3176</guid>

					<description><![CDATA[<p>Permasalahan mengenai privilege yang sedang ramai beberapa waktu lalu benar-benar mengusik rasa ingin tahu penulis. Saking besarnya rasa penasaran tersebut, penulis sampai ingin menuliskan sekuel dari tulisan Apa yang Salah dari Privilege? Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengulas beberapa hal yang belum sempat diulas pada tulisan sebelumnya. Penulis ingin menekankan apa yang salah dengan privilege yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">Yang Salah dari Privilege</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Permasalahan mengenai <em>privilege</em> yang sedang ramai beberapa waktu lalu benar-benar mengusik rasa ingin tahu penulis. Saking besarnya rasa penasaran tersebut, penulis sampai ingin menuliskan sekuel dari tulisan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/"><em>Apa yang Salah dari Privilege?</em></a></p>
<p>Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengulas beberapa hal yang belum sempat diulas pada tulisan sebelumnya. Penulis ingin menekankan apa yang salah dengan <em>privilege </em>yang dimiliki oleh seseorang dan mengapa <em>privilege </em>bukan satu-satunya faktor penentu.</p>
<h3>Yang Salah dengan <em>Privilege</em></h3>
<div id="attachment_3179" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3179" class="size-large wp-image-3179" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3179" class="wp-caption-text">Putri Tanjung dan Ayahnya (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://asianet.id/digaet-jadi-staf-khusus-presiden-yuk-intip-profil-putri-tanjung/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwidgd7TkKbmAhV66nMBHXjND2gQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Asianet.id</span></a>)</p></div>
<p>Semua orang memiliki taraf <em>privilege </em>yang berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memandang kehidupan mereka sendiri. Yang sering disorot adalah <em>privilege </em>kekayaan dan jabatan.</p>
<p>Contoh yang cukup menghebohkan adalah ketika <strong>Putri Tanjung</strong> diangkat sebagai Staf Khusus Presiden. Banyak yang menuding bahwa ia bisa meraih jabatan tersebut karena ayahnya merupakan pebisnis terkenal, Chairil Tanjung.</p>
<p>Banyak yang mengkritik perempuan tersebut karena <strong>ia terlihat seolah mengingkari </strong><em><strong>privilege</strong> </em>yang dimiliki. Mengingkari <em>privilege </em>yang dimiliki adalah hal yang salah menurut penulis.</p>
<p>Jika mau terlihat sarkas, sikap tersebut seolah ingin menertawakan usaha orang-orang yang tidak memiliki <em>privilege</em>. Coba bayangkan mereka berkata seperti ini di media sosial:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kalau aku bisa, kamu pasti bisa.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalau kata-kata seperti itu keluar, dijamin <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">SJW di Twitter</a> akan langsung muncul dan memberi hujatan kepadanya. Tak jarang ada yang akan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan sang pemilik <em>privilege</em>.</p>
<p>Menurut teman kantor penulis, orang-orang yang memiliki <em>privilege </em>lebih seharusnya lebih memikirkan kesejahteraan bersama. Contohnya adalah Cinta Laura yang memanfaatkan kekayaan yang dimiliki dengan membangun sekolah,</p>
<p>Penulis sangat sepakat di sini. Sudah sewajarnya orang-orang dengan <em>privilege </em>membantu orang-orang yang tidak seberuntung mereka.</p>
<p>Lanjutnya<em>, </em>peran pemerintah dibutuhkan di sini untuk memangkas jarak antara yang memiliki <em>privilege </em>dengan yang tidak. Masalah sehari-hari seperti akses sekolah saja sudah sangat membantu.</p>
<p>Akan tetapi, mungkin kita melupakan sesuatu di sini.</p>
<h3>Orang dengan <em>Privilege </em>Juga Butuh Kerja Keras</h3>
<div id="attachment_3180" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3180" class="size-large wp-image-3180" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3180" class="wp-caption-text">Kenapa Angela Bisa Jadi Wamen? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.finroll.com/mengenal-sosok-angela-tanoesoedibjo-sang-calon-wamen-jokowi-termuda/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi8lsvIkabmAhWQXSsKHZf2CY8QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Finroll.com</span></a>)</p></div>
<p>Penulis sepakat bahwa <em>privilege </em>memberikan keuntungan yang sangat besar. Sebuah jurnal berjudul <strong><em>Effect of Growing up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence from Indonesia </em></strong>menunjukkan hal tersebut.</p>
<p>Singkat kata, penelitian tersebut telah melakukan penelitian  kepada <strong>22 ribu orang</strong> yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia (83% populasi).</p>
<p>Hasilnya, mereka yang berasal dari keluarga miskin <strong>memiliki pendapatan 87% lebih rendah</strong> dibandingkan dengan mereka yang lahir dari keluarga berkecukupan.</p>
<p>Walaupun begitu, penulis percaya<strong> orang-orang dengan <em>privilege </em>juga berusaha keras</strong> demi bisa mencapai sesuatu. Lebih mudah, sudah pasti. Tapi tetap ada usaha yang mereka keluarkan dan ini yang seringkali diabaikan.</p>
<p>Putri Tanjung mungkin bisa bikin usaha yang membuatnya dilirik presiden karena minta modal dan bantuan koneksi ke bapaknya. Tapi kalau ia tidak mampu mengaturnya dengan baik, hasilnya pasti jelek.</p>
<p>Maudy Ayunda sudah menempuh pendidikan di sekolah internasional sejak kecil. Tapi kalau ia tidak rajin belajar, pasti tidak akan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">dilema memilih universitas dunia</a>.</p>
<p>Kalau anaknya Hary Tanoe yang jadi wakil menteri, penulis juga kurang tahu dia ngapain sampai bisa masuk ke dalam kabinet. Kalau ada yang tahu, mungkin bisa kasih tahu penulis.</p>
<p>Kita hanya melihat sisi yang terlihat dari mereka. Padahal, penulis yakin banyak sekali sisi-sisi yang tidak terlihat dan luput dari pengamatan kita.</p>
<p>Anak-anak pengusaha sukses misalnya. Mereka pasti menanggung beban nama besar orangtuanya. Sedikit-sedikit pasti dibandingkan, seolah tidak bisa lepas dan menjadi individu yang mandiri.</p>
<p>Banyak contoh anak-anak orang kaya dan terkenal, gagal memaksimalkan <em>privilege </em>yang dimiliki. Mereka hanya sekadar memanfaatkan <em>privilege </em>yang dimiliki untuk kepentingannya sendiri dan berfoya-foya. Inilah yang salah.</p>
<p>Yang penulis khawatirkan, orang-orang akan menjadi rendah diri dan merasa dirinya tidak akan sukses karena merasa tidak miliki <em>privilege</em>.</p>
<h3>Bisakah Sukses Tanpa <em>Privilege</em>?</h3>
<div id="attachment_3182" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3182" class="size-large wp-image-3182" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3182" class="wp-caption-text">Raeni, Sekolah Sampai S3 di Inggris (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/raeni-dari-bangku-becak-ke-kursi-s3-di-inggris" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiFnKOGk6bmAhXBfH0KHUWoCMQQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Beritagar</span></a>)</p></div>
<p>Masalahnya, manusia cenderung menyukai <em>bad news </em>dibandingkan dengan <em>good news.</em> Sukses karena <em>privilege </em>termasuk <em>bad news</em>, sedangkan sukses tanpa <em>privilege </em>termasuk <em>good news</em>.</p>
<p>Banyak kisah sukses orang-orang tanpa <em>privilege </em>(walaupun kebanyakan dari kita punya <em>privilege </em>dalam bentuk yang berbeda) yang hanya muncul sebentar, lantas dilupakan oleh orang.</p>
<p>Penulis mencoba mencari berita tentang <strong>Raeni</strong>, anak tukang becak yang berhasil mendapatkan gelar sarjana. Ternyata, ia sedang melanjutkan studi di Inggris. Sedihnya, berita ini kurang terekspos ke publik.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu, ibu penulis mengirimkan sebuah video melalui Instagram. Video tersebut benar-benar menampar penulis.</p>
<p>Bagaimana tidak, ada seorang pemain biola yang tidak memiliki tangan. Walaupun begitu, ia masih bisa mengalunkan musik dengan indahnya.</p>
<p>Lihat, memiliki anggota tubuh yang lengkap pun bisa menjadi sebuah <em>privilege </em>bagi kita. Oleh karena itu, <strong>jangan sampai menggunakan <em>privilege </em>orang lain sebagai kambing hitam atas ketidaksuksesan kita</strong>.</p>
<p>Kalau mau jujur, kita pun sekarang bekerja keras agar keturunan kita bisa mendapatkan <em>privilege </em>yang lebih baik dari kita. Kecuali, kalau kita tidak memiliki keinginan untuk menikah dan memiliki anak.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p><em>Privilege </em>penulis akui memberikan keuntungan yang sangat besar. Ibarat lomba lari, ia sudah berada 1 kilometer di depan orang yang tidak memiliki <em>privilege</em>. Tapi penulis percaya ada variabel-variabel lain yang akan memengaruhi hasil pertandingan.</p>
<p>Bisa saja, yang mendapatkan <em>privilege </em>mendapatkan cedera sehingga bisa disalip. Atau mungkin yang punya <em>privilege </em>terlalu sombong hingga memutuskan untuk tidur dulu, sehingga ia pada akhirnya kalah.</p>
<p>Kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan <em>privilege </em>atau tidak ketika lahir. Akan tetapi, kita bisa memilih untuk menggunakan <em>privilege </em>tersebut secara bijak.</p>
<p>Bagaimana dengan yang tidak memiliki <em>privilege</em>? Karena &#8220;jaraknya&#8221; dengan yang punya <em>privilege </em>cukup jauh, usaha yang dikerahkan pun harus lebih besar.</p>
<p>Berarti tidak adil? Kalau melihat dengan kacamata manusia mungkin iya. Tapi penulis yakin Tuhan punya takaran keadilan-Nya sendiri yang kadang tidak bisa dipahami manusia.</p>
<p>Toh, semua yang terjadi di dunia ini karena kehendak-Nya. Memang terdengar klise, tapi penulis benar-benar meyakini hal tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi dengan segala topik terkait <em>privilege</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjxkNj7jqbmAhUQA3IKHRf0AksQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fmommiesdaily.com%2F2019%2F07%2F22%2Fputri-tanjung-jadi-pengusaha-harus-menghargai-proses-menikmati-masa-masa-jatuh-bangun%2F&amp;psig=AOvVaw3sXTDM5KuOKq9aUmwZuMNT&amp;ust=1575896737667929">Mommies Daily</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/24/160000065/putri-tanjung-dan-sukses-usia-muda-karena-privilege-benarkah-terjadi-?page=all">Kompas</a>, <a href="https://dnk.id/artikel/shellya-anindhita/privilege-punya-atau-enggak-di-mata-netizen-semua-salah">DNK</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">Yang Salah dari Privilege</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar: Proses Tiada Akhir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2018 02:50:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1874</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas. Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas.</p>
<p>Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang lebar pada tulisan <a href="http://whathefan.com/karakter/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a>.</p>
<h3>Definisi Belajar</h3>
<p>Sebenarnya, definisi belajar tidak sesempit itu. Ia memiliki makna yang lebih luas dari sekadar mengerjakan tugas. Bahkan di dalam KBBI, kata belajar setidaknya memiliki 3 definisi yang berbeda.</p>
<blockquote><p><b>1</b> berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu</p>
<p><b>2 </b>berlatih</p>
<p><b>3</b> berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman</p></blockquote>
<p>Proses belajar tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah maupun tempat les. <strong>Proses belajar bisa terjadi di mana saja</strong>. Penulis ambil contoh kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna</a> (Katar) di tempat tinggal penulis.</p>
<p>Program kerja yang dijalani Katar memberikan pelajaran hidup kepada anggota-anggotanya. Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">barang bekas</a> melatih anggota untuk memanfaatkan barang bekas yang telah tak terpakai.</p>
<p>Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> melatih anggota untuk bekerja dalam tim dalam memenangkan suatu kompetisi secara sehat. Bahkan kegiatan bermain <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">Werewolf</a> pun melatih kemampuan analisa anggota.</p>
<h3>Proses Tiada Akhir</h3>
<p>Bagaimana ketika kita berada di dunia kerja? Lebih banyak lagi pelajarannya, mungkin lebih banyak ketika kita berada di bangku kuliah. Yang jelas terlihat adalah kita belajar untuk mengerjakan tugas kita dengan baik.</p>
<p>Selanjutnya kita belajar beradaptasi di lingkungan yang baru, apalagi jika merantau ke kota orang seperti penulis. Dengan bekerja bersama orang-orang, kita juga belajar bagaimana berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang yang beragam.</p>
<p>Selain itu, kita juga harus aktif dalam mencari ilmu guna <strong>meningkatkan kemampuan yang dimiliki</strong>. Kita bisa bertanya kepada orang yang lebih ahli atau mencari materi di internet.</p>
<p>Jangan pernah bilang bahwa kita tidak tahu apa yang harus dipelajari. Jika muncul pemikiran seperti itu, kemungkinan kita merasa sudah cukup belajar sehingga tidak perlu menambah ilmu baru. Dan itu, menurut penulis, salah.</p>
<div id="attachment_1875" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1875" class="wp-image-1875 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644.jpg 1050w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1875" class="wp-caption-text">Proses Tiada Akhir (Foto oleh Priscilla Du Preez)</p></div>
<p>Belajar adalah <strong>proses tiada akhir</strong>. Setiap aktivitas dan interaksi yang kita lakukan adalah proses belajar, terlepas sadar maupun tidak. Manusia tidak boleh berhenti belajar dan merasa sudah paling pandai.</p>
<p>Tanya saja pak Habibie, yang penulis yakin masih belajar di usianya yang sudah <em>sepuh</em>. Tanya siapa saja orang-orang sukses yang kalian kenal, setidaknya mereka akan mengisi waktu mereka dengan membaca buku yang bermanfaat atau mengikuti seminar.</p>
<p>Memiliki rasa haus ilmu seperti <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/kekepoan-yang-hakiki-ala-thomas-alva-edison/">Edison</a> bisa menjadi modal yang bagus. Ilmu apapun (selama bermanfaat) tidak ada ruginya untuk dipelajari, entah ilmu negosiasi, komunikasi, marketing, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Dengan terus menerus tidak puas</strong> dengan pengetahuan yang dimiliki, kita tidak akan merasa bosan untuk belajar. Kita akan selalu merasa kurang dan hal tersebut menjadi motivasi agar kita tidak malas belajar.</p>
<p>Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kita harus memiliki nilai tambah agar bisa bersaing dengan orang lain. Nilai tambah itu bisa kita dapatkan dengan belajar, apapun bentuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Desember 2018, terinspirasi setelah sering mendapatkan &#8220;kelas tambahan&#8221; di kantor</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@craftedbygc">Green Chameleon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2018 13:43:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[mencoba]]></category>
		<category><![CDATA[menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tidak bisa]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1075</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah kita berkata tidak bisa sebelum mencobanya? Seandainya pernah, tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang penting, setelah membaca tulisan ini kita tidak akan berkata tidak bisa sebelum mencobanya. Dalam beberapa pengalaman penulis, seringkali penulis memutuskan untuk berhenti karena merasa tidak bisa. Contohnya, sewaktu lulus kuliah, penulis tidak melamar beasiswa karena merasa &#8220;tidak akan bisa tembus, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/">Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kita berkata tidak bisa sebelum mencobanya? Seandainya pernah, tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang penting, setelah membaca tulisan ini kita tidak akan berkata tidak bisa sebelum mencobanya.</p>
<p>Dalam beberapa pengalaman penulis, seringkali penulis memutuskan untuk berhenti karena merasa tidak bisa. Contohnya, sewaktu lulus kuliah, penulis tidak melamar beasiswa karena merasa &#8220;tidak akan bisa tembus, saingannya banyak&#8221;.</p>
<p>Untunglah, pola pikir tersebut sudah berubah, sehingga penulis mencoba untuk mengajukan beasiswa ke berbagai negara. Hasilnya? Ya, memang belum ada yang tembus, tapi semangat untuk mendapatkan beasiswa belumlah luntur.</p>
<p>Contoh kecil lainnya, ketika penulis kerja bakti memasang umbul-umbul, terdapat remaja yang berkali-kali mengatakan tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan. Pertama, menyimpul benang umbul-umbul agar cukup panjang diikat. Kedua, naik ke atas tangga untuk mengikat umbul-umbul di tempat yang tinggi.</p>
<p>Salah seorang teman penulis sampai kesal dibuatnya hingga berkata &#8220;terus isomu opo? (terus bisamu apa?)&#8221;. Dia pun hanya tersenyum kecut diberi pertanyaan seperti itu.</p>
<p>Kata <strong>tidak bisa</strong> tidak boleh diucapkan sebelum ada <strong>usaha</strong> yang menyertai. Yang penting coba dulu, bisa atau tidak urusan belakang. Jangan pernah kalah sebelum berperang, menyerah sebelum mencoba.</p>
<p>Pada salah satu episode Yakitate! Japan, anime yang menceritakan seputar dunia perotian, diceritakan terdapat satu orang yang berkeyakinan seperti ini:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Jika kali ini gagal, maka selanjutnya pasti berhasil, jika 1000 kali gagal, maka yang ke 1001 pasti berhasil.&#8221;</em></p>
<p>Kekuatan keyakinan yang luar biasa bukan? Pola pikir seperti itulah yang dimiliki oleh rata-rata orang sukses. Mereka mencoba berbagai cara untuk mengubah <strong>tidak bisa </strong>menjadi <strong>bisa</strong>.</p>
<p>Terkadang memang ada hal yang tidak bisa kita lakukan, contoh kecilnya penulis tidak bisa bersiul hingga sekarang karena faktor genetik. Tidak apa, yang menjadi masalah bukan tidak bisanya, tapi tidak adanya kemauan untuk mencoba.</p>
<p>Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin, jangan sampai kata tidak bisa ke luar sebelum ada usaha untuk mencobanya terlebih dahulu. Semangat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 Agustus 2018, terinpirasi ketika memasang umbul-umbul dalam rangka menyambut dirgahayu Republik Indonesia yang ke 73</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/ug5t9ibJBbc">https://unsplash.com/photos/ug5t9ibJBbc</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/">Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peremehan Tuhan Paling Fatal</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2018 15:00:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[peremehan]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=569</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau. Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau.</p>
<p>Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang untuk membantu hambanya yang sedang kesusahan, itu sama artinya dengan meremehkan Tuhan.</p>
<p>Dengan catatan, diiringi oleh usaha dan doa. Tidak mungkin kita memiliki keyakinan tersebut, lantas hanya bermalas-malasan menunggu bantuan-Nya datang sendiri. Tidak! Jangan memahami kalimat tersebut mentah-mentah.</p>
<p>Keyakinan bahwa Tuhan akan menolong kita harus diiringi usaha dan doa yang seimbang. Logikanya, Tuhan itu Maha Baik, apa mungkin membiarkan umat-Nya yang telah berpeluh keringat dan selalu menyebut nama-Nya di setiap doa dibiarkan begitu saja? Tidak mungkin.</p>
<p>Apabila yang kita minta tidak dikabulkan, jangan langsung berburuk sangka kepada-Nya. Bisa saja, Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkan keinginan kita, atau bahkan mungkin memberi yang sebenarnya lebih kita butuhkan.</p>
<p>Ingat, Tuhan memberikan apa yang terbaik untuk kita, bukan apa yang kita inginkan. Manusia dengan kemampuannya yang terbatas sangat mungkin salah dalam mengira apa yang dibutuhkan olehnya. Tuhan lah yang mengetahui kebutuhan kita.</p>
<p>Oleh karena itu, janganlah pernah meremehkan Tuhan dengan takut kebutuhan kita tidak akan terpenuhi setelah kita berusaha dan berdoa kepada-Nya. Kita ini hanya manusia yang hina, jangan berani meremehkan Tuhan yang telah menciptakan kita di dunia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Maret 2018, setelah mengajar di SWI Mengajar</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.islamicsom.org/?p=1545">http://www.islamicsom.org/?p=1545</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
