Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda

Beberapa hari yang lalu, heboh berita tentang seorang artis cantik, Maudy Ayunda. Bukan karena ia membuat skandal, melainkan karena ia sedang dilanda dilema.

Hal yang membuatnya dilema pun sangat berkelas: Ia bingung karena disuruh memilih kampus mana yang akan menjadi destinasi studinya, antara Harvard University atau Stanford University.

Netizen yang kreatif pun beramai-ramai membuat bahan candaan di media sosial. Mereka membandingkan dilema remeh yang mereka hadapi dengan dilema yang dihadapi oleh Maudy.

Menyederhanakan Pilihan

Dilema Berkelas (Sidomi)

Penulis sendiri menikmati jokes tersebut, di mana beberapa dilema yang ada di media sosial tersebut ada yang pernah penulis alami sendiri. Akan tetapi, penulis menjadi terpikirkan sesuatu.

Apakah dilema yang dialami Maudy Ayunda hanya akan berakhir sebagai bahan candaan semata?

Penulis jadi merenung, kenapa tidak menjadikan kisah hebat Maudy untuk dijadikan motivasi hidup?

Bukan tentang bagaimana ia bisa diterima oleh salah satu kampus terbaik dunia, jelas itu terlalu muluk. Yang perlu kita renungkan adalah menentukan hal apa aja yang patut kita dilemakan.

Penulis adalah tipe orang yang sulit membuat keputusan. Penulis merasa terlalu mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan sesuatu. Tentu ini membuat penulis sering terlihat ragu.

Bahkan, hal yang remeh temeh membutuhkan waktu untuk bisa menentukan pilihan. Tentu hal ini tidak baik, sehingga harus ada solusi untuk mengatasinya.

Menyederhanakan Hal yang Patut Didilemakan (Ramsay Health Care)

Dari beberapa buku yang telah penulis baca, salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan mengurangi hal-hal yang membutuhkan pilihan. Misal, pilihan makan dan pakaian yang akan dikenakan.

Kalau perlu, tentukan ingin makan apa dan ingin menggunakan pakaian mana untuk satu minggu ke depan. Dengan mengurangi hal-hal yang membutuhkan pertimbangan panjang, kita bisa melihat mana yang menjadi prioritas terpenting kita.

Mungkin para pembaca sekalian sudah pernah membaca atau mendengar alasan mengapa pakaian yang dikenakan Steve Jobs selalu sama. Jawabannya sama, agar ia tak perlu pusing-pusing memilih pakaian mana yang harus ia kenakan.

Singkatnya, kita harus menyederhanakan hidup kita dari pilihan-pilihan yang kurang penting. Fokuskan diri terhadap hal-hal yang memang layak untuk diberi perhatian lebih.

Penutup

Apalah kita jika dibandingkan Maudy Ayunda. Tentu hampir terdengar mustahil jika ingin menyamai prestasinya, terutama karena kita telah kalah start yang di mana Maudy, penulis yakini, sudah berbuat banyak hal agar bisa di posisinya sekarang.

Yang bisa kita petik dari seorang Maudy Ayunda adalah prioritas masalah yang layak untuk didilemakan. Kalaupun tidak bisa berkuliah di kampus terbaik dunia, minimal buatlah dilema yang kita alami menjadi lebih berkelas.

 

 

Kebayoran Lama, 17 Maret 2019, terinspirasi dari dilema yang dirasakan oleh Maudy Ayunda

Foto: Wanita Indonesia