<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>baca Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/baca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/baca/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Jun 2024 11:44:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>baca Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/baca/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[detox]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7513</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat. Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.</p>



<p>Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik. </p>



<p>Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah <strong>Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial</strong>. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah &#8220;menjebak&#8221; Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7516" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033262.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-man-in-white-dress-shirt-holding-phone-near-window-859265">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk</a></em>, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah <strong>membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti</strong>.</p>



<p>Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma. </p>



<p>Adanya unsur &#8220;kejutan&#8221; membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada <em>mindset </em>untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.</p>



<p>Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan <em>scrolling-scrolling </em>di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.</p>



<p>Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, <strong>kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap</strong>. </p>



<p>Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan &#8220;dedikasi&#8221; kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.</p>



<p>Konten panjang <strong>memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai</strong>. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.</p>



<p>Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.</p>



<p>Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7517" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/1000033264.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-a-book-5634667/">Monstera Production</a>)</figcaption></figure>



<p>Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan <em>detox</em> untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.</p>



<p>Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai <strong>aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial</strong>. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan. </p>



<p>Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah <em>limit</em>, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus <em>limit </em>yang sudah dibuat.</p>



<p>Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau <strong>Penulis pribadi memilih media buku</strong>, &#8220;kawan lama&#8221; yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.</p>



<p>Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk <strong>membaca buku yang benar-benar menarik minatnya</strong>, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya.</a></em></p>



<p>Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Penulis suka sejarah</a>, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah <em>Sejarah Prancis </em>dan <em>Memahami Jepang.</em></p>



<p>Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik <em>Dragon Ball Super </em>dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.</p>



<p>Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung <em>mood</em>-nya.</p>



<p>Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: <strong>Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca</strong>. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma mereka</a>.</p>



<p>Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat. </p>



<p>Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial <em>How I Met Your Mother</em>. Bahkan, <em>final season</em>-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial. </p>



<p>Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.</p>



<p>Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.</p>



<p>Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh &#8220;lari&#8221; dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-reading-book-5331072/">Monstera Production</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Benarkah Era Toko Buku akan Segera Berakhir?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jun 2023 14:29:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[literasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[toko buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6621</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, toko buku Gunung Agung yang legendaris resmi tutup. Penulis sendiri hanya pernah sekali berkunjung ke toko yang ada di daerah Kwitang. Tampaknya, memang toko buku yang satu ini harus mengakui kekalahannya melawan zaman. Merasa penasaran dengan kasus ini, Penulis pun menonton video dari Dr. Indrawan Nugroho yang berjudul &#8220;Kiamat Toko Buku&#8221;. Secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">Benarkah Era Toko Buku akan Segera Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu lalu, toko buku Gunung Agung yang legendaris resmi tutup. Penulis sendiri hanya pernah sekali berkunjung ke toko yang ada di daerah Kwitang. Tampaknya, memang toko buku yang satu ini harus mengakui kekalahannya melawan zaman.</p>



<p>Merasa penasaran dengan kasus ini, Penulis pun menonton video dari Dr. Indrawan Nugroho yang berjudul &#8220;Kiamat Toko Buku&#8221;. Secara logika, tentu hal ini masuk akal mengingat kita memang tengah berada di era digital, sehingga keberadaan buku fisik terasa tak relevan lagi.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai toko buku dan bagaimana zaman makin mendorongnya ke pinggir dari perspektif pribadi, mengingat Penulis adalah orang yang cukup rajin untuk mampir ke toko buku.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner.jpg 1280w " alt="Siapa yang Akhirnya Menang?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/siapa-yang-akhirnya-menang/">Siapa yang Akhirnya Menang?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Pada Dasarnya, Tingkat Literasi Kita Sudah Rendah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6623" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Apakah Pembaca Suka Membaca? (<a href="https://www.pexels.com/@gabby-k/">Monstera</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin para pembaca sudah tahu kalau negara kita tercinta memiliki tingkat literasi yang rendah. Berdasarkan data dari Program for International Student Assessment (PISA) di tahun 2019, Indonesia hanya <strong>menempati peringkat 62 dari 70 negara</strong>.</p>



<p>Data lain dari UNESCO menunjukan bahwa persentase orang Indonesia yang suka membaca adalah<strong> 0,0001% atau 1:1000</strong>. Jadi, dari 273 juta penduduk Indonesia, yang gemar membaca sekitar 273 ribu orang saja. </p>



<p>Kalau mau menggunakan logika kasar, dengan rendahnya tingkat literasi, maka tingkat daya beli masyarakat terhadap buku tentu akan ikut rendah. Setidaknya, masih ada sarana yang menyediakan buku gratis seperti perpustakaan.</p>



<p>Jika melihat sekitar, Penulis juga jarang menemukan teman atau kenalan yang juga memiliki hobi membaca, dan lebih jarang lagi yang membeli buku. Maka dari itu, tak heran jika banyak teman yang meminjam ke Penulis jika sedang ingin membaca sesuatu.</p>



<p>Apalagi, kita sudah dibuat tergantung sedemikian besar dengan gawai, sehingga keberadaan buku semakin terasa tidak diperlukan. Ketika buku terasa tidak dibutuhkan, toko buku pun perlahan akan terus ditinggalkan, hingga akhirnya harus menyerah dan tutup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Toko Buku Sudah Kehilangan Relevansinya?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6625" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tutup karena Sudah Tidak Relevan? (<a href="https://megapolitan.kompas.com/read/2023/05/23/05000011/nostalgia-di-toko-gunung-agung-kwitang-bukan-sekadar-toko-buku-?page=all">Kompas</a>)</figcaption></figure>



<p>Dulu ketika masih kuliah, dalam satu bulan setidaknya Penulis bisa ke toko buku hingga dua kali. Kadang beli, kadang cuma lihat-lihat. Bagi Penulis, toko buku seolah memiliki suasana magis yang membuat kita merasa berada di alam yang berbeda.</p>



<p>Belakangan ini, Penulis semakin jarang ke toko buku karena beberapa alasan. Selain karena merasa bukunya sudah terlalu banyak, Penulis juga sudah tidak membaca sebanyak dulu. Sekarang, paling hanya 15-30 menit per hari, bahkan sering tidak membaca sama sekali.</p>



<p>Apakah ini menjadi semacam pembenaran kalau toko buku memang sudah kehilangan relevansinya? Tentu tidak, karena ini hanya contoh dari satu individu. Penulis yakin<strong> toko buku akan tetap ada</strong>, terutama yang mampu menyesuaikan diri dengan zaman.</p>



<p>Memang, sekarang kita dimudahkan dengan adanya <em>marketplace </em>atau toko buku <em>online</em>. Namun, bagi Penulis pribadi, keberadaan toko buku fisik rasanya tidak akan tergantikan begitu saja. Mungkin akan ada yang tutup, tapi pasti ada yang berhasil bertahan.</p>



<p>&#8220;Kenikmatan&#8221; ketika mata memperhatikan buku demi buku, rak demi rak, tak bisa digantikan dengan <em>scroll </em>di <em>marketplace</em>. Apalagi, di toko buku kita bisa membaca sekilas apa isi buku tersebut, sehingga bisa menambah keyakinan untuk membeli suatu buku.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Harus Dilakukan oleh Toko Buku agar Bertahan?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6624" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/Benarkah-Era-Toko-Buku-akan-Segera-Berakhir-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Akankah Segera Menyusul Gunung Agung, atau Justru Berhasil Bertahan? (<a href="https://indonesiaemasgroup.com/buku-terbitan-ieg-kini-tersedia-di-gramedia/?v=7c1f12124b9e">Indonesia Emas Group</a>)</figcaption></figure>



<p>Berdasarkan video yang dibuat oleh Dr. Indrawan Nugraha, ada banyak cara yang bisa dilakukan toko buku agar bisa bertahan. Salah satunya adalah menjadikan toko buku bukan sekadar jualan buku, tapi menjadi <strong>tempat berkumpulnya komunitas</strong>.</p>



<p>Jika selama ini toko buku terkesan individual karena orang-orang hanya membeli buku yang diinginkan, maka di masa depan toko buku justru harus terbuka dan menyediakan tempat nongkrong atau berdiskusi. Beberapa toko buku di Indonesia sudah menerapkan hal tersebut.</p>



<p>Bahkan, tak jarang toko buku sekarang<strong> menggandeng <em>brand </em>F&amp;B atau bahkan membuka <em>brand </em>mereka sendiri</strong>. Jadi, setelah berbelanja buku, pengunjung dapat bersantai menikmati kopi sembari membaca buku yang baru saja dibeli.</p>



<p>Selain itu, sekarang rasanya <strong>jarang toko buku hanya menjual buku</strong>. Gramedia misalnya, terkenal karena juga menjual alat tulis, alat olahraga, pernak-pernik, dekorasi, mainan, dan lain sebagainya. Ini bisa menarik pengunjung yang tidak suka buku.</p>



<p>Tentu masih ada cara lain yang telah atau akan dilakukan oleh toko buku. Dengan jatuhnya Gunung Agung bukan berarti toko buku yang lain akan mengikuti jejaknya. Pada akhirnya, semua dituntut untuk sekreatif mungkin agar bisa bertahan di era modern ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 26 Juni 2023, terinspirasi setelah menonton <a href="https://www.youtube.com/watch?v=f62II5G49KY&amp;t=434s">video Dr. Indrawan Nurgroh</a>o yang membahas mengenai kiamat toko buku</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@abby-chung-371167/">Abby Chung</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.whiteboardjournal.com/ideas/human-interest/literasi-indonesia-peringkat-62-dari-70-apakah-peningkatan-kualitas-perpustakaan-daerah-bisa-membantu/">Literasi Indonesia Peringkat 62 dari 70, Apakah Peningkatan Kualitas Perpustakaan Daerah Bisa Membantu? &#8211; Whiteboard Journal</a></li>



<li><a href="https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media">Kementerian Komunikasi dan Informatika (kominfo.go.id)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/">Benarkah Era Toko Buku akan Segera Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/benarkah-era-toko-buku-akan-segera-berakhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
