Connect with us

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Published

on

Sejak terpukau dengan seri Funiculi Funicula, Penulis jadi makin tertarik untuk membaca novel-novel buatan penulis Jepang. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli salah satu novel karya Keigo Higashino, yang namanya sering Penulis temukan di toko buku.

Untuk pilihan pertama Penulis jatuhkan kepada novel berjudul Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Entah mengapa waktu itu Penulis merasa terdorong untuk memilih judul ini sebagai “perkenalan” dengan karya-karya Keigo. Mungkin karena sinopsisnya yang membuat penasaran.

Untungnya, ternyata pilihan Penulis benar-benar tepat sasaran. Tanpa perlu diragukan, novel ini menjadi salah satu favoritnya. Ada banyak alasan mengapa Penulis menganggap kalau Keajaiban Toko Kelontong Namiya adalah salah satu novel terbaik yang pernah dibaca.

[SPOILER ALERT!!!]

Detail Buku

  • Judul: Keajaiban Toko Kelontong Namiya
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Keenambelas
  • Tanggal Terbit: Maret 2023
  • Tebal: 400 halaman
  • ISBN: 9786020648293
  • Harga: Rp130.000

Sinopsis Buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Ketika tiga pemuda berandal bersembunyi di toko kelontong tak berpenghuni setelah melakukan pencurian, sepucuk surat misterius mendadak diselipkan ke dalam toko melalui lubang surat.

Surat yang berisi permintaan saran. Sungguh aneh.

Namun, surat aneh itu ternyata membawa mereka dalam petualangan melintasi waktu, menggantikan peran kakek pemilik toko kelontong yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya memberikan nasihat tulus kepada orang-orang yang meminta bantuan.

Hanya untuk satu malam.

Dan saat fajar menjelang, hidup ketiga sahabat itu tidak akan pernah sama lagi..

Isi Buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Sesuai dengan sinopsis yang tertera pada bagian belakang buku, novel ini awalnya mengambil sudut pandang dari tiga pemuda yang baru saja melakukan pencurian. Mereka adalah Atsuya, Shota, dan Kohei. Mereka bersembunyi di sebuah toko kelontong yang sudah tak berpenghuni.

Lantas, tiba-tiba datang sepucuk surat yang masuk ke dalam toko tersebut tanpa ada orang di sekitar. Lebih menegangkannya lagi, toko tersebut ditulis oleh seseorang yang berasal dari masa lalu! Karena penasaran, mereka pun mencoba menulis balasannya.

Atsuya yang tegas dan blak-blakan memiliki gaya menulis surat yang galak seolah sedang memarahi, sedangkan kedua temannya yang lain lebih lembut dan berempati. Ajaibnya, setiap mereka selesai mengirimkan surat balasan, maka balasan selanjutnya akan segera datang.

Kurang lebih seperti itulah ringkasan plot cerita dari bagian pertama yang berjudul “Jawaban Ada di Kotak Susu.” Novel ini masih memiliki empat bagian lagi, yang masing-masing memiliki kisahnya sendiri, walau pada akhirnya akan ada benang merah di bagian akhir.

Tentu saja masing-masing bagian selalu memiliki kaitan dengan toko kelontong Namiya, entah itu sebagai orang yang meminta saran atau sang pemilik toko itu sendiri ketika masih hidup. Keempat bagian yang lain memiliki judul:

2. Alunan Harmonika di Malam Hari

Berpusat pada seorang pemuda yang dilema mengenai kariernya sebagai musisi. Lantas, ia pun berkonsultasi dengan toko kelontong Namiya yang dekat dengan rumahnya. Menariknya, semua surat yang ia kirimkan dibalas oleh ketiga pemuda yang telah disebutkan sebelumnya.

3. Semalam di Civic

Setelah mendapat gambaran bagaimana ketiga pemuda tersebut mengalami “perjalanan waktu” sejak masuk toko kelontong tersebut, kita akan dibawa ke sudut pandang pemilik toko tersebut, yakni Yuji Namiya, dan anaknya, Takayuki.

Pada bagian ini, kita jadi bisa memahami mengapa Yuji di penghujung hidupnya membuka layanan konsultasi gratis. Meskipun banyak yang iseng, Yuji selalu berusaha membalas semuanya dengan serius dan bijak.

4. Mengheningkan Cipta Bersama The Beatles

Pada bagian empat, kita akan dibawa ke cerita baru yang berpusat pada mantan penggemar band The Beatles. Namun, di satu titik ia menjadi membenci band tersebut dan memutuskan untuk menjual semua koleksinya.

Hal tersebut terjadi menjelang kaburnya ia bersama orang tuanya, yang sedang terlilit masalah dan hutang. Bahkan, ia pada akhirnya memutuskan untuk kabur dan meninggalkan orang tuanya karena suatu alasan.

5. Doa dari Langit

Penutup dari novel ini berpusat pada seorang wanita muda yang berkarier sebagai seorang hostess. Karena dilema, ia pun meminta nasehat dari Toko Kelontong Namiya (di mana yang membalasnya adalah ketiga pemuda yang telah disebutkan di atas).

Meskipun terkadang merasa tidak cocok dengan gaya bahasa balasan surat tersebut, ia memutuskan untuk menuruti semua nasehatnya dan akhirnya berhasil menjadi seorang wanita yang sukses.

Yang menarik dari bab ini adalah kita menjadi mendapatkan penjelasan mengenai keajaiban yang terjadi di Toko Kelontong Namiya. Selain itu, seluruh cerita dari bab pertama hingga terakhir pun jadi jelas benang merahnya.

Setelah Membaca Buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Dari ratusan novel yang pernah dibaca oleh Penulis, rasanya baru kali ini ada yang berhasil membuat Penulis merasa merinding tak karuan. Tidak hanya karena nuansa supranaturalnya, tapi juga karena plot ceritanya yang kadang terasa getir.

Banyak Kesamaan dengan Funiculi Funicula

Meskipun ditulis oleh orang yang berbeda, entah mengapa Keajaiban Toko Kelontong Namiya memiliki kesan yang mirip dengan seri Funiculi Funicula. Selain ada unsur supranatural, cerita-cerita yang dihadirkan pun cukup heartwarming walau tidak sampai bikin mewek.

Selain itu, ada juga unsur time travel di novel ini, walau yang pergi ke masa lalu hanya surat-surat, bukannya orangnya seperti yang terjadi di kafe Funiculi Funicula. Itu pun sudah cukup karena surat tersebut menjadi salah satu kekuatan utama dari novel ini.

Penokohannya pun juga sama-sama PR karena Penulis kesulitan mengingat nama dalam bahasa Jepang. Apalagi, novel ini juga memiliki banyak karakter. Bayangkan, setiap cerita selalu menghadirkan karakter baru.

Benang Merah dari Kisah-Kisah yang Seolah Tak Berhubungan

Formula yang dimiliki oleh novel ini mengandung salah satu unsur yang Penulis sukai, yakni bagaimana beberapa kisah yang seolah tidak memiliki keterkaitan ternyata memiliki benang merah yang tak terduga. Padahal, cerita yang dimiliki seolah bisa berdiri sendiri-sendiri.

Begitu menyelesaikan novel ini, rasanya cerita yang terjalin berhasil menjadi full circle, di mana cerita berakhir di mana ia bermula. Novel ini juga memiliki alur waktu yang tidak linier, mirip dengan film-film buatan Christopher Nolan.

Walaupun begitu, alurnya bisa dibilang mengalir dengan mulus tanpa ada plot hole. Cerita dengan latar waktu yang rumit bisa dibuat mudah dipahami. Apalagi, tidak ada adegan yang terasa percuma. Semua memiliki alasan mengapa harus diceritakan.

Mungkin bagi yang mendalami konsep time travel akan mempertanyakan beberapa paradoks yang terjadi karena semua kejadian yang ada berada dalam satu lingkaran yang sama. Ini terutama akan sangat terasa di bab terakhir.

Karakter Favorit: Yuji Namiya

Tanpa memberikan spoiler, karakter favorit Penulis di sini tentu saja adalah Yuji Namiya sang pemilik toko kelontong yang memberikan layanan konsultasi gratis. Di penghujung hidupnya, ia mengabdikan dirinya untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Luar biasa.

Meskipun adegannya lebih banyak flashback karena ia diceritakan telah meninggal di masa kini, kita bisa merasakan kehadirannya sepanjang cerita, terutama setelah membaca bab ketiga.

Salah satu hal yang paling membuat Penulis merasa terharu adalah bagaimana ia bahkan menyempatkan diri untuk membalas sebuah kertas kosong tanpa isi. Balasannya pun tidak main-main, benar-benar membuat merinding!

***

Penulis tidak ingin membocorkan banyak cerita atau plot dari novel ini, karena berharap Pembaca akan menemukan keseruannya sendiri ketika membaca novel ini. Tak berlebihan rasanya jika Penulis menyebut ini adalah salah satu novel terbaik yang pernah dibaca.

Yang jelas, rasanya tidak ada pertanyaan yang menggantung setelah menamatkannya, semua tuntas terjawab, termasuk mengapa bisa surat yang dikirimkan puluhan tahun lalu bisa baru sampai hari ini. Sangat direkomendasikan untuk semua kalangan!

Skor: 11/10


Lawang, 31 Maret 2024, terinspirasi setelah membaca buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca The Tokyo Zodiac Murders

Published

on

By

Sejauh ini, Penulis sudah mencoba membaca novel misteri Jepang dari dua novelis, yakni Keigo Higashino dan Uketsu. Penulis menyukai beberapa karya mereka, tapi ada juga yang sayangnya terasa kurang.

Nah, Penulis pun memutuskan untuk melakukan eksplorasi dengan mencari penulis Jepang lain yang juga terkenal di genre misteri. Pilihan Penulis pun jatuh kepada Soji Shimada, dengan novelnya yang berjudul The Tokyo Zodiac Murders.

Salah satu alasan mengapa Penulis memilih novel ini adalah karena sinopsisnya yang menarik sekaligus mengerikan. Lantas, apakah cerita yang disajikan benar-benar semenarik apa yang tertulis di belakang buku?

Detail Buku The Tokyo Zodiac Murders

  • Judul: The Tokyo Zodiac Murders
  • Penulis: Soji Shimada
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-23
  • Tanggal Terbit: Agustus 2025
  • Tebal: 360 halaman
  • ISBN: 9789792285918
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku The Tokyo Zodiac Murders

Cerita The Tokyo Zodiac Murders sebenarnya terbagi menjadi dua waktu, yakni di tahun 1936 dan 1979. Kasus pembunuhan terjadi di tahun 1936, lantas ada detektif amatir yang berusaha memecahkan kasus tersebut pada tahun 1976.

Di tahun 1936, ada seorang seniman bernama Heikichi Umezawa yang ditemukan tewas di balik pintu studionya. Namun, pihak kepolisian menemukan surat wasiat aneh di mana ia berencana untuk menciptakan Azoth, alias “sang wanita sempurna”.

Nah, sosok Azoth tersebut ia rencanakan menggunakan potongan-potongan tubuh keluarganya sendiri, termasuk anak dan keponakannya sendiri. Surat wasiat ini memakan halaman yang cukup tebal, dari halaman 11 hingga 41, dengan gaya font mesin ketik jadul.

Setelah kematian Heikichi, putri tertuanya juga terbunuh. Setelah itu, anak dan keponakannya yang lain juga menghilang, yang kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi secara mengerikan. Semua dikubur sesuai yang tertulis di wasiat Azoth milik Heikichi.

Misteri tersebut selama hampir 40 tahun sama sekali tidak terungkap kebenarannya, hingga di tahun 1976, ada seorang detektif, peramal nasib, dan astrolog yang tertarik dengan kasus ini. Namanya adalah Kiyoshi Mitarai, sosok yang dikenal berwatak eksentrik.

Didampingi oleh Kazumi Ishioka, yang terkesan sebagai “Dr. Watson-nya” cerita ini, Kiyoshi pun mencoba untuk membongkar kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo yang telah menjadi misteri selama puluhan tahun.

Setelah Membaca Buku The Tokyo Zodiac Murders

Saat membaca bagian prolognya, yang merupakan surat wasiat sekaligus obsesi Heikichi terhadap Azoth, jujur ada perasaan bergidik sekaligus jijik. Banyak bagian diceritakan secara eksplisit, sehingga mampu menghadirkan sensasi disturbing yang lumayan.

Walau begitu, Penulis berusaha untuk menguatkan diri untuk terus membaca hingga akhirnya mencapai bagian Kiyoshi dan Kazumi, yang pada satu titik sedang mendiskusikan kasus yang telah terjadi puluhan tahun lalu.

Menurut Penulis, bagian tersebut memang sangat ditonjolkan sejak awal cerita dengan berbagai detailnya untuk membuat kita fokus ke Azoth. Semua kasus pembunuhan yang terjadi adalah demi terciptanya Azoth, entah oleh Heikichi maupun orang lain.

Dari sini, mungkin Pembaca sudah bisa menebak kalau akan ada sebuah plot twist di akhir cerita. Namun, Penulis tidak akan menceritakannya secara detail karena salah satu keunggulan utama novel ini memang dari plot twist-nya.

Nah, Soji Shimada sebagai penulis novel ini juga beberapa kali seperti menantang pembacanya untuk membongkar kasus yang ada di sini. Ajakan tersebut dikemas dalam bentuk semacam surat terbuka, yang belum pernah Penulis temukan di novel mana pun sebelumnya.

Mungkin, saat sang pelaku akhirnya terungkap, Pembaca akan merasa bingung dengan berbagai plot holes yang ada. Untungnya, di bagian akhir, ada bagian yang akan menjelaskan semuanya, termasuk motif dan metode pelaku.

Salah satu bagian yang mencuri perhatian Penulis dari novel ini adalah adegan di mana Kiyoshi mengolok-olok Sherlock Holmes, detektif favorit Kazumi. Ia sempat menyebut beberapa kasus dan membongkar apa saja kejanggalan yang terjadi pada cerita tersebut.

Omong-omong soal dinamika mereka berdua, bisa dibilang mereka benar-benar terasa sebagai Sherlock dan Holmes versi Jepang. Kazumi kerap heran dengan metode Kiyoshi, serta beberapa kali sampai ke kesimpulan yang salah.

Secara alur cerita, novel ini cukup seru dan pace-nya juga lumayan cepat. Tidak adanya kehadiran pihak kepolisian membuat proses investigasinya tidak terasa bertele-tele. Apalagi, interaksi antara Kiyoshi dan Kazumi juga terasa seru, love-hate relationship gitu.

Bagian lain yang cukup membantu adalah adanya daftar nama beserta perannya di bagian awal buku. Mengingat jumlah karakter di novel ini cukup banyak, tentu akan sulit untuk menghafal semuanya sekaligus.

Hanya saja, Penulis tidak bisa memahami apa perlunya background Kiyoshi sebagai peramal nasib dan astrologi. Memang, Azoth dibuat berdasarkan astrologi, tapi sepanjang cerita background tersebut tidak terlalu terasa berguna.

Justru, apa yang kerap menjadi inspirasi atau petunjuk bagi Kiyoshi datang dari hal-hal yang sepele dan tidak terduga, seperti yang sering kita temukan dalam cerita Detective Conan. Tidak pernah terjadi astrologi membantunya memecahkan misteri.

Kekurangan lainnya adalah penggunaan font mesin ketik yang walau penggunaannya masuk akal, bagi mata Penulis cukup terasa melelahkan. Nantinya di bagian akhir novel, akan ada juga bagian cerita yang ditulis menggunakan font tersebut.

Secara overall, Penulis cukup menikmati novel ini dan membuat impresi pertama terhadap Soji Shimada menjadi positif. Penulis pun memutuskan untuk membeli novel lainnya yang berjudul The Crooked House, yang juga merupakan salah satu judul novel Agatha Christie.

SKOR: 8/10


Lawang, 14 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca buku The Tokyo Zodiac Murders karya Soji Shimada

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Published

on

By

Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan “Edisi Spesial Cetakan ke-100”.

Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.

Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang related bagi Penulis:

“Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.“

Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

  • Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)
  • Penulis: Brian Khrisna
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Cetakan: Ke-100
  • Tanggal Terbit: April 2026 
  • Tebal: 216 halaman
  • ISBN: 9786020531328
  • Harga: Rp93.000

Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati berpusat pada karakter bernama Ale, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.

Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.

Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!

Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.

Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.

Nah, di edisi spesial ini, ada satu “perjalanan tambahan” yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.

Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Karena belakangan ini suka membaca novel-novel dari penulis Jepang, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk “berkenalan” dengan karya-karya Brian Khrisna.

Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan related dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini terkadang membuat kita merasa buntu dan tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut.

Alhasil, “kematian” pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen. Ini bukan kata Penulis, tapi kata Dr. Jiemi Ardian lewat bukunya yang berjudul Merawat Luka Batin.

Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai “pelukan hangat” dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.

Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, kita memiliki peran masing-masing. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan.

Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa quote kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:

“Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.”

Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti textbook yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.

Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya cringe. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung ngatain, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.

Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah punya pekerja sampingan sebagai motivator. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.

“Petualangan Ale” dalam buku ini juga terasa terlalu mulus. Seperti kritik pada film Project Hail Mary, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.

Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale “lolos” setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu happy ending.

Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki “kelemahan” berupa keluarga yang ia sayangi.

Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya universal dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini.

Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.

Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.

Skor: 6/10


Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh

Published

on

By

Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru Uketsu. Kali ini, judulnya adalah Teka-Teki Gambar Aneh.

Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan ruang untuk merasa kecewa.

Untungnya, setelah menamatkan novel ini dalam durasi yang relatif singkat, Penulis bisa mengatakan kalau Teka-Teki Gambar Aneh memang lebih gila dari Teka-Teki Rumah Aneh! Penulis akan jelaskan alasannya pada tulisan kali ini.

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Gambar Aneh

  • Judul: Teka-Teki Gambar Aneh
  • Penulis: Uketsu
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-2
  • Tanggal Terbit: Februari 2026
  • Tebal: 312 halaman
  • ISBN: 9786020687209
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Teka-Teki Gambar Aneh?

Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan disuguhi banyak gambar aneh yang jika dilihat sekilas tidak memiliki makna yang berarti. Memang, denah rumah bisa disebut sebagai “gambar” juga, tapi ini literally gambar berbagai macam hal.

Melansir dari sinopsis resminya, ada gambar yang dibuat seorang wanita hamil di internet, gambar yang dibuat seorang anak kecil sebagai hadiah Hari Ibu, dan gambar yang dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya.

Cerita dibagi menjadi ke dalam empat bab, yang pada awalnya tidak terlihat seperti terhubung satu sama lain. Alurnya sendiri maju mundur, karena satu bab ke bab lainnya tidak linear dalam satu lini masa. Berikut adalah judul dari keempat bab di novel ini:

  1. Gambar Wanita Berdiri Diterpa Angin
  2. Gambar Kabut yang Menutupi Unit Mansion
  3. Gambar Terakhir Guru Seni Rupa
  4. Gambar Pohon Pelindung Burung Gelatik

Jadi, setidaknya akan ada empat gambar berbeda yang akan menjadi pusat dari masing-masing cerita, karena masih ada gambar-gambar lainnya juga. Yang menggambar pun juga berbeda-beda, tapi tidak akan Penulis jelaskan di sini karena berpotensi spoiler.

Penulis telah sering mengatakan kalau format seperti ini adalah salah satu favoritnya, apalagi kalau keterhubungannya benar-benar tak terpikirkan. Nah, novel ini pun begitu, di mana tiap-tiap cerita memiliki karakter yang berbeda.

Di cerita pertama misalnya, ceritanya berpusat pada karakter Sasaki dan Kurihara (orang yang sama di novel pertama), yang sama-sama merupakan anggota dari kelompok occult. Mereka berdua mendiskusikan sebuah blog yang terasa janggal bernama “Catatan Hati Nanashino Ren”.

Di blog tersebutlah mereka menemukan sekumpulan gambar aneh yang berusaha mereka pecahkan, apalagi jika membaca tulisan-tulisan pemilik blog. Total ada lima gambar yang terlihat tidak memiliki hubungan sama sekali di cerita pertama ini.

Fun Fact: Blog tersebut benar-benar ada! Pembaca bisa mengaksesnya di https://nanashinoren.blog.jp/

Lalu di cerita kedua, angle-nya bergeser ke seorang anak bernama Yuta yang baru akan menginjak usia enam tahun. Di cerita ketiga, bergeser lagi ke kematian seorang guru seni rupa bernama Miura. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana cerita-cerita di buku ini seolah berdiri sendiri?

Yang bisa Penulis katakan adalah, gambar-gambar aneh di novel ini bukanlah sekadar gambar biasa. Gambar-gambar di sini adalah sebuah petunjuk, baik untuk mengetahui watak seseorang, pesan kematian, hingga petunjuk tentang adanya kasus pembunuhan.

Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh

Penulis cukup terperangah setelah menamatkan novel ini. Plot twist yang dimiliki benar-benar mengejutkan dan sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, Penulis bisa bilang kalau setiap bab memiliki twist-nya sendiri.

Keterhubungan antara empat bab di novel ini sebenarnya berpusat pada satu karakter, yang tidak akan Penulis ungkap di sini. Namun, kita tidak akan menyadarinya hingga akhir bab kedua, atau bahkan ketika akhir bab tiga.

Begitu semuanya terungkap, kita baru menyadari betapa besarnya skema kriminal yang terjadi sepanjang novel ini. Tulisan dan gambar-gambar aneh di blog yang ditemukan Sasaki dan Kurihara ternyata hanya tip of the iceberg.

Selain itu, motif tiap pembunuhan yang terjadi di novel ini pun bukan karena dendam, harta, atau hal-hal yang kerap kita jumpai pada cerita-cerita detektif pada umumnya. Ketika motifnya terkuak di bab empat, kita akan sulit memercayainya.

Bahkan, keberadaan pihak polisi baru muncul menjelang akhir cerita. Artinya, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku berhasil ia sembunyikan dengan baik selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar semuanya.

Pace cerita di sini pun cukup cepat, apalagi jika mengingat ada empat cerita yang berbeda. Itulah yang membuat Penulis hanya membutuhkan waktu singkat untuk menamatkannya, karena selalu ada hal yang menimbulkan rasa penasaran. Mungkin juga karena terjemahan buku ini mudah untuk dicerna.

Penulis bersyukur bahwa konklusi dari novel ini tidak memiliki keterkaitan dengan dunia okultisme, seperti yang Penulis temukan di Teka-Teki Rumah Aneh. Penulis merasa cukup puas dengan penjelasan akhirnya yang lebih ke sisi psikologis yang mindblowing.

Jika disuruh membicarakan kekurangannya, jujur Penulis kesulitan menemukannya. Penulis tidak menemukan plot hole atau hal ganjil yang membuat Penulis tidak puas dengan novel ini. Penulisannya rapi dan tertata, sehingga semua hal telah mendapatkan penjelasan yang cukup.

Mungkin, justru motif pelaku di novel ini menjadi tanda tanya besar bagi Penulis. Benarkah ada orang yang tega melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan motif seperti itu? Apakah itu karena sang pelaku seorang psikopat yang sadis sekaligus overprotective?

Kesimpulannya, Penulis menikmati novel ini dan merekomendasikannya kepada Pembaca yang menyukai kisah detektif yang di permukaan terlihat sederhana, tapi memiliki kerumitan di dalamnya.

Skor: 9/10


Lawang, 6 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018