<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bajakan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bajakan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bajakan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Nov 2022 14:29:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bajakan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bajakan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kadang Mental Gratisan Kita Itu Terlalu Parah</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2022 14:02:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi]]></category>
		<category><![CDATA[bajakan]]></category>
		<category><![CDATA[developer]]></category>
		<category><![CDATA[Elevate]]></category>
		<category><![CDATA[gratis]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rating]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6134</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap pagi, Penulis (berusaha) membangun satu rutinitas: Mengasah otak menggunakan aplikasi Elevate. Aplikasi ini memiliki fitur yang sangat menarik dan sangat membantu dalam melatih kemampuan bahasa Inggris, matematika, hingga memori kita. Penulis sudah cukup lama menggunakan aplikasi, bahkan selama dua tahun terakhir sudah berlangganan layanan premiumnya. Alasannya, karena versi gratisnya tidak membuka semua jenis latihannya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/">Kadang Mental Gratisan Kita Itu Terlalu Parah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setiap pagi, Penulis (berusaha) <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">membangun satu rutinitas</a>: Mengasah otak menggunakan aplikasi <strong>Elevate</strong>. Aplikasi ini memiliki fitur yang sangat menarik dan sangat membantu dalam melatih kemampuan bahasa Inggris, matematika, hingga memori kita.</p>



<p>Penulis sudah cukup lama menggunakan aplikasi, bahkan selama dua tahun terakhir sudah berlangganan layanan premiumnya. Alasannya, karena versi gratisnya tidak membuka semua jenis latihannya. Selain itu, Penulis juga merasa sangat puas dengan aplikasi ini.</p>



<p>Tadi pagi, setelah merekomendasikan aplikasi ini ke seorang kawan, Penulis iseng mengecek kolom komentar di ulasannya. Rating aplikasi ini cukup tinggi, 4,6 dari sekitar 460 ribu pengguna (di App Store bahkan mencapai 4,8 dari sekitar 340 ribu pengguna).</p>





<p>Nah, menariknya ada beberapa (kalau bukan banyak) <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">ulasan bintang satu</a> untuk aplikasi ini, dengan alasan yang menurut Penulis cukup konyol. Salah satunya adalah &#8220;tolong ditambahkan bahasa Indonesia&#8221;. Penulis hanya mengangkat satu alisnya ketika membaca ini.</p>



<p>Namun, ada satu lagi yang membuat Penulis merasa gemas dan mengelus dada: <strong>Mereka memberikan bintang satu karena protes aplikasi ini harus langganan jika ingin membuka semua fiturnya.</strong> Mereka ingin menikmati semua fiturnya secara gratis.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Empati Kita ke Developer Itu Sepertinya Kurang</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Elevate - App Preview" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/djjyk8DVioo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sejatinya, aplikasi Elevate bisa digunakan secara gratis, walaupun memang ada limitasinya. Istilahnya, <em>freemium</em>. Namun, dari pengalaman Penulis pribadi, yang gratis saja sebenarnya sudah cukup, apalagi aplikasi ini tidak memiliki iklan yang menganggu.</p>



<p>Dalam membuat suatu aplikasi atau gim, tentu developer (terlepas dari <em>passion </em>dan sejenisnya) berharap bisa mendapatkan untung. Dengan begitu, mereka bisa terus mengembangkan apa yang telah mereka kerjakan.</p>



<p>Sayangnya, melalui contoh yang Penulis temukan pagi ini, sepertinya kesadaran kita akan hal ini masih kurang. Tampaknya <strong>mental gratisan yang kita miliki terlalu parah</strong>, hingga berharap banyak hal yang kita nikmati sudah seharusnya gratis.</p>



<p>Mungkin karena memiliki latar belakang sebagai lulusan IT, Penulis <strong>merasa berempati dengan para developer</strong> di balik sebuah aplikasi maupun gim, terutama akhir-akhir ini. Penulis paham rumitnya <em>coding</em>, terlebih jika aplikasinya cukup <em>complicated </em>seperti Elevate.</p>



<p>Untuk itu, jika merasa puas Penulis biasanya tidak ragu mengeluarkan uang (yang jumlahnya tidak seberapa) untuk memberi <em>support </em>kepada para developer dari aplikasi atau gim yang Penulis gunakan, terutama jika mereka masih kecil atau <em>indie</em>. </p>



<p>Kembali lagi ke Elevate. Bagi yang enggan mengeluarkan biaya langganan tahunan untuk bisa menikmati semua fitur yang dimiliki Elevate, mungkin mencari <em>mod </em>adalah jalan keluarnya. Namun, sekali lagi, itu menunjukkan kalau empati kita ke developer masih sangat kurang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bajakan, Nikmat tapi Menimbulkan Perasaan Bersalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6139" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sebenarnya Pakai Sesuatu yang Bajakan Itu Mengambil Hak Orang Lain (<a href="https://www.rws.com/blog/how-video-game-piracy-influences-localization/">RWS</a>)</figcaption></figure>



<p>Tidak hanya aplikasi atau gim bajakan banyak beredar, media lain seperti film dan lagu pun banyak sekali yang bajakan. Bahkan, kalau tidak mau menggunakan yang bajakan, malah kadang akan dilihat aneh. Kalau ada gratis, ngapain yang berbayar?</p>



<p>Penulis belakangan ini menyadari dan sedang belajar tentang menghargai orang lain, bahkan ke orang-orang yang tidak kita kenal sekalipun. Para developer di balik aplikasi atau sineas di balik sebuah film adalah beberapa di antaranya.</p>



<p>Untuk itu, Penulis benar-benar berusaha untuk <strong>tidak lagi menikmati sesuatu yang bersifat bajakan</strong>. Memang nikmat karena yang berbau bajakan selalu gratis dan kita tidak perlu mengeluarkan uang, tapi Penulis merasakan perasaan bersalah ketika menggunakannya.</p>



<p>Mungkin ada Pembaca yang menganggap Penulis munafik, karena pasti ada saja sesuatu yang berbau bajakan yang pernah digunakannya. Jujur, Penulis pun masih pelan-pelan menyingkirkan semua yang berbau bajakan dari hidupnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="505" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-1024x505.jpg" alt="" class="wp-image-6138" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-1024x505.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-300x148.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-768x379.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-1536x757.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-2048x1010.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Nonton Anime Legal dan Gratis di Bilibili</figcaption></figure>



<p>Dulu Penulis merasa kesulitan untuk menemukan layanan legal untuk menonton anime dan membaca manga. Lalu, Penulis menemukan situs <strong>Bilibili (Bstation)</strong> dan <strong>MangaPlus</strong> yang legal, sehingga sekarang bisa meninggalkan yang bajakan .</p>



<p>Untuk film, Penulis setidaknya berusaha untuk tidak mencari <em>link </em>ilegal. Kalau tidak ada di Disney+ yang memang Penulis berlangganan, lebih baik tidak usah menonton sekalian, bahkan jika filmnya benar-benar ingin Penulis tonton sekalipun.</p>



<p>Penulis dulu banyak mendengarkan lagu bajakan dan menaruhnya dengan rapi di iTunes. Sekarang, semuanya telah hilang dan Penulis beralih menggunakan <strong>YouTube Music</strong>. Gim <em>FIFA 18 </em>yang bajakan telah diganti dengan <strong><em>FIFA 22 </em></strong>yang Penulis beli di Steam dengan harga diskon.</p>



<p>Untungnya sekarang kalau beli laptop sudah <em>include </em>Windows dan Office gratis, sehingga tidak perlu lagi menggunakan bajakannya. Kalaupun ada aplikasi bajakan yang masih digunakan, mungkin Adobe Photoshop. Itupun jarang karena Penulis lebih sering menggunakan Canva.</p>



<p>Memang Penulis belum bisa sepenuhnya meninggalkan segala sesuatu yang berbau bajakan. Namun, Penulis akan benar-benar berusaha untuk segera meninggalkannya. Jujur, <strong>Penulis merasa bersalah dan berdosa karena sudah mengambil hak orang lain</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Walau terkadang masih bolong-bolong bahkan berhenti selama berminggu-minggu, Penulis sama sekali tidak merasa rugi telah berlangganan Elevate selama dua tahun. Dengan biaya sekitar Rp20 ribu per bulan, bagi Penulis rasanya sangat <em>worth it.</em></p>



<p>Mungkin mental gratis yang kita miliki terkadang agak keterlaluan, hingga kita melupakan tentang orang-orang yang ada di balik suatu aplikasi maupun gim. Ide, tenaga, waktu mereka yang sudah dikeluarkan untuk memberikan layanan terbaik sudah seharusnya diapresiasi.</p>



<p>Penulis memang tidak bisa mengendalikan orang lain untuk bisa lebih menghargai para developer. Namun, setidaknya Penulis bisa saling mengingatkan untuk lebih menghargai developer melalui tulisan ini. Semoga saja bisa diterima oleh para Pembaca sekalian.</p>



<p>Bagi Pembaca yang tertarik untuk mengunduh aplikasi Elevate, silakan klik tautan di bawah ini:</p>



<div class="wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button is-style-fill"><a class="wp-block-button__link" href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wonder&amp;hl=en&amp;gl=US">DOwnload Elevate di Play Store</a></div>



<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link" href="https://apps.apple.com/us/app/elevate-brain-training/id875063456">Download Elevate di App Store</a></div>
</div>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 5 November 2022, terinspirasi setelah membaca kolom ulasan aplikasi Elevate</p>



<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.tapsmart.com%2Fapps%2Freview-elevate-award-winning-brain-training-app%2F&amp;psig=AOvVaw1mK18kPowlbWvqLnocmEUF&amp;ust=1667744890496000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CA4QjhxqFwoTCKiwwoCgl_sCFQAAAAAdAAAAABAD">Tapsmart</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/">Kadang Mental Gratisan Kita Itu Terlalu Parah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Selamat Tinggal</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2021 10:49:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bajakan]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[novel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[Sutan Pane]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4255</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis berkali-kali mengungkapkan kekecewaan terhadap karya-karya terbaru Tere Liye, seperti novel Si Anak Badai, Si Anak Cahaya, Komet Minor, hingga Pergi. Harusnya jika berkali-kali dikecewakan, Penulis berhenti membeli novel-novelnya. Ternyata, Penulis tetap membeli novel-novel karyanya. Yang terbaru adalah Selamat Tinggal yang satu ini. Salah satu alasannya adalah buku ini merupakan novel yang berdiri sendiri, bukan serial. Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Setelah Membaca Selamat Tinggal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis berkali-kali mengungkapkan kekecewaan terhadap karya-karya terbaru <strong>Tere Liye</strong>, seperti novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/anak-anak-muara-pada-si-anak-badai/">Si Anak Badai</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-si-anak-cahaya/">Si Anak Cahaya</a>, <a href="https://whathefan.com/buku/teknik-marketing-pada-komet-minor/">Komet Minor</a>,</em> hingga <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/"><em>Pergi</em></a>.</p>
<p>Harusnya jika berkali-kali dikecewakan, Penulis berhenti membeli novel-novelnya. Ternyata, Penulis tetap membeli novel-novel karyanya.</p>
<p>Yang terbaru adalah <em><strong>Selamat Tinggal</strong> </em>yang satu ini. Salah satu alasannya adalah buku ini merupakan novel yang berdiri sendiri, bukan serial.</p>
<p>Penulis memilki pengalaman bagus dengan novel Tere Liye yang berdiri sendiri, seperti <em>Tentang Kamu, Rindu, Ayahku (Bukan) Pembohong, </em>dan lainnya.</p>
<p>Setelah menamatkan novel ini, Penulis merasakan amarah yang menggebu-gebu dari Tere Liye terkait pembajakan buku!</p>
<p><strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Menggunakan sudut pandang orang ketiga, tokoh utama dari buku ini adalah <strong>Sintong</strong>, seorang mahasiswa yang tak lulus-lulus sekaligus penjaga toko buku bajakan di dekat kampus negeri.</p>
<p>Sintong berasal dari Sumatera. Ia merantau jauh untuk kuliah di Jawa dan menumpang di rumah saudaranya. Karena kuliahnya dibiayai,</p>
<p>Terlihat berantakan dan tidak punya masa depan, sebenarnya Sintong merupakan salah satu penulis berbakat. Karyanya sudah banyak masuk ke media nasional.</p>
<p>Hidup Sintong mulai berubah sejak ia bertemu dengan <strong>Jess</strong>, salah satu adik tingkatnya yang berparas menarik. Kehadiran gadis tersebut membuat ia merasa semangat lagi.</p>
<p>Tidak hanya itu, Sintong juga menemukan sebuah <em>draft </em>berisikan tulisan <strong>Sutan Pane</strong>, seorang penulis besar yang keberadaannya tidak banyak yang tahu.</p>
<p>Sintong berniat untuk membuat skripsi yang membahas Sutan Pane, terutama mencari alasan mengapa Sutan Pane tiba-tiba berhenti menulis pada tahun 1965.</p>
<p>Inilah perjalanan Sintong menelusuri kehidupan penulis hebat di masa lalu, sembari memerangi dirinya sendiri yang sudah muak menjual buku bajakan.</p>
<h3>Sindiran untuk Barang Bajakan</h3>
<p>Begitu membaca novel ini, Penulis sadar kalau Tere Liye terinspirasi dari maraknya <strong>penyebaran file PDF buku-buku secara ilegal</strong> melalui WhatsApp dan media lainnya.</p>
<p>Sebagai salah satu penulis terpopuler di Indonesia, karya-karya Tere Liye tentu menjadi mangsa empuk bagi pembajak.</p>
<p>Penulis merasakan sedikit dampaknya karena artikel tentang novel <em>Pulang</em> dan <em>Pergi</em> mendapatkan lonjakan <em>traffic</em>. Padahal, padahal Penulis tidak mendapatkan <em>link </em>file PDF-nya.</p>
<p>Secara sarkas, Tere Liye mengatakan bahwa yang salah adalah penulis yang tidak ikhlas dalam menulis. Harusnya mereka senang-senang saja karya mereka dibagikan secara gratis dan dinikmati oleh banyak orang.</p>
<p><strong>Sindiran yang sangat keras, bahkan Penulis yang hanya sekali membeli buku bajakan karena tidak tahu merasa tertampol.</strong></p>
<p>Tidak hanya meluapkan emosinya tentang buku bajakan, semua hal yang sifatnya bajakan disenggol sama Tere Liye.</p>
<p>Mulai film, lagu, <em>streaming </em>sepakbola, aplikasi, semua kena. Siapapun yang membaca novel ini pasti akan merasa tersindir seandainya pernah membeli atau menggunakan barang bajakan.</p>
<p>Bahkan, <em>marketplace online </em>yang juga kerap menjadi tempat beredarnya buku bajakan kena semprot. Sebuah kekesalan bisa menjadi ide cerita, Tere Liye memang sesuatu.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Selamat Tinggal</em></h3>
<p>Jika Tere Liye ingin <strong>menyampaikan kekesalannya terhadap pembajakan buku</strong> sekaligus <strong>edukasi kepada masyarakat</strong>, novel ini bisa dibilang berhasil melakukan tugasnya.</p>
<p>Dengan nada sarkas yang hampir muncul di setiap bab, kita akan dibuat berpikir ulang jika ingin membeli atau menggunakan barang-barang bajakan.</p>
<p>Ada banyak penulis buku yang sangat dirugikan dengan pembajakan. Bukan tidak mungkin, di masa depan jumlah penulis akan berkurang karena merasa jerih payahnya tidak dihargai.</p>
<p>Tere Liye sendiri mengakui bahwa segala upaya sudah dilakukan untuk meminimalisir pembajakan, namun hasilnya nihil. Buku bajakan tetap beredar luas, bahkan lebih masif karena bisa dijual daring.</p>
<p>Tokoh Sintong sendiri dibuat <strong>memiliki konflik internal di dalam dirinya sendiri</strong>. Ia menentang buku bajakan karena tahu itu tidak menghargai upaya penulis, tapi secara munafik ia malah berjualan buku bajakan demi menyelesaikan pendidikannya.</p>
<p>Menurut Penulis, konflik internal seperti ini sangat cocok untuk tema yang diangkat karena akan membuat pembacanya mengalami dilema yang sama.</p>
<p>Alur ceritanya memang mengangkat perjalanan &#8220;detektif&#8221; Sintong menyelesaikan skripsinya dengan mencari tahu lebih dalam tentang tokoh Sutan Pane, tapi Penulis justru merasa itu <em>side-story</em>-nya. Alur utamanya ya tentang buku bajakan.</p>
<p>Bumbu-bumbu cerita lain seperti perjalanan cinta Sintong hanya muncul sebagai pemanis. Di novel ini juga tidak terlalu banyak bab tidak penting yang tidak berpengaruh pada keseluruhan alur.</p>
<p>Bahasanya juga mudah dicerna sebagaimana karya-karya Tere Liye pada umumnya. Ringan, tapi ada nilai-nilai yang bisa dipetik. Ada saja dialog yang mengundang tawa ringan.</p>
<p>Hanya saja, Penulis merasa novel ini <strong>terasa datar</strong>. Hampir tidak ada konflik yang membuat Penulis merasa berdebar ataupun dibuat penasaran dengan kelanjutan halamannya.</p>
<p>Tidak ada pertarungan yang berdarah-darah, hanya ada konflik antar tokohnya. Antara Sintong dan dirinya sendiri, antara Sintong dan Jess, antara Sintong dan saudaranya, antara Sintong dan teman masa lalunya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Lantas, mengapa novel ini diberi judul <em>Selamat Tinggal</em>? Karena mengandung <em>major spoiler</em>, Penulis tidak akan menjelaskannya di sini. Silakan baca novel yang satu ini, direkomendasikan untuk semua kalangan.</p>
<p><strong>Tapi ingat, beli yang asli, jangan yang bajakan, kasian penulisnya!</strong></p>
<p>Nilai: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 11 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan novel <strong><em>Selamat Tinggal </em></strong>karya <strong>Tere Liye</strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Setelah Membaca Selamat Tinggal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
