<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>benar Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/benar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/benar/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2021 00:11:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>benar Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/benar/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 May 2021 01:27:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[benar]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4995</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial The Falcon and the Winter Soldier yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah: &#8220;Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?&#8221; Sam Wilson Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/">Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-the-falcon-and-the-winter-soldier-bagian-1/">The Falcon and the Winter Soldier</a></em> yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?&#8221;</p><cite>Sam Wilson</cite></blockquote>



<p>Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky kembali mempertanyakan keputusan Sam menyerahkan perisai warisan Steve Rogers kepada pemerintah. Sam merasa ia hanya melakukan apa yang ia pikir benar.</p>



<p>Kita semua mungkin pernah merasa seperti itu. Kita berbuat sesuatu, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain, karena merasa bahwa itulah yang terbaik. Sayangnya, terkadang hal tersebut berubah menjadi sebuah <strong>kesalahan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Belum Tentu Baik Juga untuk Orang Lain</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4998" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sam dan Bucky (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://screenrant.com/falcon-winter-soldier-sam-bucky-ship-sebastian-stan-response/">Screen Rant</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa yang kita pikir benar, ternyata<strong> belum tentu benar bagi orang lain</strong>. Bahkan, bisa saja hal tersebut justru menyusahkan atau mengganggu orang lain. Perbedaan persepsi dalam memandang suatu hal sering menjadi pemicu utamanya.</p>



<p>Jika orang dekat kita memiliki sebuah permasalahan, biasanya kita akan melakukan sesuatu untuk membantunya dengan cara kita. Sayangnya, ternyata cara yang kita anggap benar tersebut tidak cocok untuk orang tersebut.</p>



<p>Misal, ada teman kita yang sedang patah hati karena memergoki kekasihnya seleweng. Kita berusaha untuk menghiburnya dengan berbagai cara dan ia justru marah. Ternyata, yang ia butuhkan sekarang adalah waktu untuk sendiri dan merenung, bukan hiburan.</p>



<p>Contoh lain ketika kita punya seorang adik yang sedang kewalahan dengan tugasnya. Kita merasa ingin membantunya mengerjakan tugas tersebut. Ia justru marah karena ia ingin berhasil dengan kerja kerasnya sendiri, bukan dengan bantuan orang lain.</p>



<p>Kita hanya melakukan apa yang kita pikir benar dan ternyata salah bagi orang lain. Oleh karena itu, terkadang <strong>tidak berbuat apa-apa </strong>justru menjadi solusi dari sebuah permasalahan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tidak Berbuat Apa-Apa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4997" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tidak Berbuat Apa-Apa (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.goodvibeblog.com/before-you-do-nothing/">Good Vibe Blog</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis mengetahui teori <strong>&#8220;tidak berbuat apa-apa&#8221;</strong> ini ketika membaca buku berjudul <strong><em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-four-seconds/">Four Seconds</a></em> </strong>karya Peter Bregman. Intinya, terkadang dalam penyelesaian masalah, berbuat sesuatu justru akan memperparah keadaan. Tidak berbuat apa-apa justru menjadi kunci penyelesaiannya.</p>



<p>Penulis ambil dua contoh di atas, kawan yang sedang patah hati dan adik yang kewalahan dengan tugasnya. </p>



<p>Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si kawan pada akhirnya berhasil <em>move on </em>setelah menemukan teman kencan dengan bantuan aplikasi Tinder. Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si adik berhasil mempelajari sesuatu yang baru dari tugas-tugasnya.</p>



<p>Di dalam buku <em>Four Seconds</em>, ada kalimat seperti berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Terkadang, tidak mencoba memperbaiki sesuatu merupakan hal yang justru dibutuhkan untuk memperbaikinya.&#8221;</p><cite>Buku <em>four seconds </em>halaman 36</cite></blockquote>



<p>Hanya saja, teori ini tidak bisa diterapkan dalam semua kondisi. Jika ada pekerjaan kantor yang menumpuk dan kita memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal dipecat sama atasan. Jika ada tugas sekolah menumpuk kita tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal mendapat nilai buruk.</p>



<p>Intinya, teori tidak berbuat apa-apa ini hanya bisa dilakukan dalam situasi dan kondisi tertentu. Bagaimana cara mengetahui kapan kita harus tidak berbuat apa-apa? Harus berdasarkan pengalaman dan data pada masa lalu. Tidak ada teori pasti yang bisa digunakan.</p>



<p>Selain itu, jangan sampai teori ini membuat kita menjadi orang yang cuek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Itu juga salah. Tetaplah berusaha untuk menjadi orang baik dan tak segan mengulurkan tangan ketika orang lain butuh pertolongan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika Sam tidak berbuat apa-apa dan menyimpan perisai Captain America di rumahnya, mungkin tidak akan ada Captain America baru yang menjadi pemicu konflik di serialnya.</p>



<p>Walau ada kemungkinan pemerintah akan meminta Sam menyerahkan perisai tersebut, setidaknya bukan ia yang memberikan secara sukarela. Ia tidak akan bertanggung jawab atas terpilihnya John Walker sebagai Captain America baru dan tidak perlu berdebat dengan Bucky.</p>



<p>Sam hanya melakukan apa yang ia pikir benar. Menyerahkan perisai tersebut ia lakukan atas dasar karena ia merasa belum pantas menjadi pengganti Captain America. </p>



<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja, terkadang apa yang kita pikir benar belum tentu benar bagi orang lain. Permasalahan yang hendak kita selesaikan justru menjadi semakin rumit.</p>



<p>Jika sudah demikian, mungkin memang saatnya kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk menyelesaikan suatu permasalahan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 24 Mei 2021, terinspirasi setelah teringat kalimat favorit yang diucapkan oleh Sam Wilson pada serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-the-falcon-and-the-winter-soldier-bagian-2/">The Falcon and the Winter Soldier</a></em></p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://cahobnemodo.ga/">cahobnemodo.ga</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/">Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyelesaikan-masalah-dengan-tidak-berbuat-apa-apa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Relativitas Kebenaran</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2020 12:23:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[benar]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[relatif]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4084</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era disinformasi seperti sekarang, susah untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah. Semuanya tampak bias karena informasi yang kita terima terlalu banyak. Ditambah dengan makin terasanya polarisasi masyarakat karena media sosial, masing-masing pihak merasa kalau kelompoknya yang paling benar. Hal ini pun membuat Penulis bertanya-tanya, apakah kebenaran itu? Milik siapa kebenaran itu? Apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">Relativitas Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di era disinformasi seperti sekarang, susah untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah. Semuanya tampak bias karena informasi yang kita terima terlalu banyak.</p>
<p>Ditambah dengan makin terasanya <a href="https://whathefan.com/politik/polarisasi-masyarakat/">polarisasi masyarakat</a> karena media sosial, masing-masing pihak merasa kalau kelompoknya yang paling benar.</p>
<p>Hal ini pun membuat Penulis bertanya-tanya, apakah kebenaran itu? Milik siapa kebenaran itu? Apa yang menentukan sesuatu benar atau tidak?</p>
<h3>Saling Merasa Benar</h3>
<p><div id="attachment_4102" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4102" class="size-large wp-image-4102" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4102" class="wp-caption-text">Apa Itu Kebenaran? (<a href="https://unsplash.com/@michaelcarruth">Michael Carruth</a>)</p></div></p>
<p>Di dalam KBBI, kata <strong>kebenaran</strong> memiliki beberapa makna, di antaranya:</p>
<ul>
<li><em>keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya</em></li>
<li><em>sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada</em></li>
</ul>
<p>Berdasarkan definisi tersebut, seharusnya <strong>kebenaran bersifat obyektif dan berimbang</strong>. Tidak memihak subyeknya. Kenyataannya? Kebenaran bisa menjadi sangat subyektif.</p>
<p>Contoh mudahnya adalah pemilihan presiden kemarin. Masing-masing pendukung merasa calon yang didukung adalah calon yang paling benar sehingga layak untuk dipilih.</p>
<p>Padahal, Penulis yakin masing-masing calon ada benarnya ada salahnya. Tidak mungkin mutlak benar 100%. Memangnya mereka Tuhan?</p>
<p>Contoh lain adalah masalah Covid. Lagi-lagi masyarakat terbelah menjadi dua kubu, antara yang percaya Corona berbahaya dan Corona hanya konspirasi semata.</p>
<p>Masing-masing merasa paling benar dan menertawakan kubu lainnya. Adu argumen dan data sering terlihat di media sosial hingga membuat mayoritas masyarakat bingung.</p>
<h3>Relativitas Kebenaran</h3>
<p><div id="attachment_4104" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4104" class="size-large wp-image-4104" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4104" class="wp-caption-text">Jangan Memaksakan Kebenaran Versi Kita (<a href="https://illimitablemen.com/2014/03/09/how-women-argue/">Illimitable Men</a>)</p></div></p>
<p>Penulis merasa kalau <strong>kebenaran itu bersifat relatif</strong>. Apa yang Penulis yakini benar, belum tentu juga diyakini benar oleh orang lain.</p>
<p>Analoginya seperti ini. Penulis meyakini kalau tempe adalah makanan yang paling lezat di dunia. Orang lain mungkin akan memilih daging <em>steak </em>sebagai makanan terbaik.</p>
<p>Tempe sebagai makanan terlezat adalah kebenaran yang Penulis yakini, tapi orang lain memiliki pendapat yang berbeda. Bahkan, mungkin ada orang yang akan menganggap Penulis aneh.</p>
<p>Oke mungkin itu bukan analogi yang baik, tapi Penulis yakin para Pembaca menangkap apa maksudnya. <strong>Kebenaran tergantung subyek yang melihatnya</strong>.</p>
<p>Apa yang menjamin kalau sejarah yang kita ketahui selama ini adalah kenyataan sejarah yang paling benar? Bukankah ada pepatah yang mengatakan <em>History Is Written by the Victors</em>?</p>
<p>Apa yang menjamin kalau pendapat kita adalah yang paling benar? Apakah data-data yang kita miliki 100% valid? Apa tidak mungkin justru kebenaran yang diyakini orang lain yang benar?</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis merasa bahwa kita tidak bisa <strong>memaksakan kebenaran</strong> yang kita yakini kepada orang lain. Saling beradu argumen silakan, tapi jangan ada paksaan.</p>
<h3>Kebenaran Milik Siapa?</h3>
<p>Di dalam hidup ini, yang Maha Benar hanyalah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Kita yang hanya berperan sebagai makhluk <strong>sangat rentan untuk berbuat salah</strong>.</p>
<p>Penafsiran kitab suci saja ada perbedaan pendapat di kalangan ahli, masa iya kita mau satu suara untuk topik sehari-hari? Harusnya kita meniru para ahli kitab yang saling menghargai.</p>
<p>Jadi, pada dasarnya <strong>kebenaran bukan milik siapa-siapa</strong>. Kita tidak bisa memonopoli kebenaran karena kita penuh dengan keterbatasan. Hanya Tuhan yang selalu benar.</p>
<p>Memang susah, apalagi di era yang masyarakatnya semakin mudah terpolarisasi seperti sekarang. Setidaknya, semua bisa dimulai dari diri sendiri dan berusaha saling mengingatkan satu sama lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 30 September 2020, terinspirasi dari semakin tingginya polarisasi di tengah-tengah masyarakat</p>
<p>Foto: <a href="https://nepaliad.com/2020/08/06/information-that-angry-people-must-read-what-is-anger-what-are-the-disadvantages-of-being-angry-take-a-quick-look/">Nepali Ad</a> &amp; <a href="https://newsroom.ucla.edu/releases/einstein-general-relativity-theory-questioned-ghez">Newsroom | UCLA</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">Relativitas Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
