Polarisasi Masyarakat

Makin ke sini, entah mengapa kita semakin terpisah menjadi dua kubu yang seolah-olah tidak bisa bersatu. Jika kamu dukung A, maka kamu bukan kawanku, kawanku hanya pendukung B. Tentu menyedihkan melihat realita seperti ini.

Memilih adalah bagian dari hidup. Kita seharusnya memiliki hak sepenuhnya untuk memilih berbagai macam aspek kehidupan, termasuk memilih pemimpin.

Mengapa berbeda pilihan harus membuat kita berpisah? Mengapa berbeda pilihan harus membuat kita berubah dari kawan menjadi lawan?

Alangkah indahnya dengan perbedaan justru semakin mempererat persaudaan kita. Bukankah Bhinneka Tunggal Ika artinya walau berbeda-beda tetapi tetap satu? Lantas mengapa karena hanya berbeda pilihan di antara dua orang lantas memisahkan kita?

Pengaruh media, terutama media sosial, memang menjadi salah satu faktor yang patut bertanggungjawab atas terjadinya fenomena ini. Cepatnya tersebar informasi, baik yang fakta maupun hoax, memiliki andil yang besar terhadap perpecahan yang tengah terjadi.

Pemilahan informasi secara obyektif seharusnya dilakukan oleh semua orang. Jangan hanya membaca berita yang baik-baik tentang calon yang kita dukung, atau baca berita yang menceritakan keburukan lawan calon pilihan kita saja.

Bacalah semua berita, baik maupun buruk tentang orang yang kita dukung maupun lawannnya. Seandainya kita dapat berpikir terbuka seperti itu, fanatisme yang membabi buta bisa ditekan sekecil mungkin (baca juga: Akar Fanatisme Membabi Buta).

Itu faktor eksternal, bagaimana dengan faktor dari dalam diri? Pertama, adanya fanatisme yang berlebihan seperti yang disebutkan pada paragraf sebelumnya. Sikap seperti itu membuat kita cenderung menutup mata terhadap kekurangan calon pilihan kita, dan membesar-besarkan kesalahan lawan calon pilihan kita.

Selain itu kurang menghargai orang lain, termasuk pilihannya, menjadi pemicunya. Seandainya kita bisa menghargai orang lain, termasuk calon yang dipilih oleh orang tersebut, rasanya polarisasi masyarakat tidak akan terjadi, atau setidaknya bisa diminimalisir.

Oleh karena itu, yuk berpolitik dengan sehat. Kita jangan mau dibagi menjadi dua kubu yang tak bisa bersatu bagaikan air dan minyak. Kita tunjukkan bersama bahwa bangsa ini sudah siap menerima perbedaan, karena kita selalu Bhinneka Tunggal Ika.

 

 

Jelambar, 18 September 2018, terinspirasi setelah mengamati timeline Twitter dan Instagram yang berbau politik

Photo by Rishabh Butola on Unsplash

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.