<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/berita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/berita/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 26 Oct 2021 12:38:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Berita Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/berita/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Stop Membaca Berita</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2021 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5324</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang judulnya membuat penasaran: Stop Membaca Berita. Alasannya, apakah mungkin di era keterbukaan informasi seperti sekarang bisa dilalui tanpa membaca berita? Ditulis oleh Rolf Dobelli yang merupakan praktisi media, buku ini mengatakan kalau berhenti membaca berita adalah, &#8220;Manifesto untuk hidup yang lebih bahagia, tenang dan bijaksana&#8221;. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/">Setelah Membaca Stop Membaca Berita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang judulnya membuat penasaran: <em><strong>Stop Membaca Berita</strong></em>. Alasannya, apakah mungkin di era keterbukaan informasi seperti sekarang bisa dilalui tanpa membaca berita?</p>



<p>Ditulis oleh Rolf Dobelli yang merupakan praktisi media, buku ini mengatakan kalau berhenti membaca berita adalah, &#8220;Manifesto untuk hidup yang lebih bahagia, tenang dan bijaksana&#8221;. Di belakang, buku ini tertulis sebagai genre Pengembangan Diri.</p>



<p>Lantas, apakah buku ini mampu meyakinkan kita untuk berhenti membaca berita? Simak dulu ulasan Penulis berikut ini!</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Buku ini berisikan 35 alasan mengapa kita harus berhenti membaca berita yang ditulis dalam bentuk esai singkat. Setiap babnya hanya terdiri dari sekitar tiga sampai halaman saja sehingga tidak ada yang terasa terlalu bertele-tele.</p>



<p>Rolf kerap menggunakan metafora untuk memudahkan kita membayangkan betapa berbahayanya berita. Contohnya, ia menyamakan berita sebagai gula untuk tubuh, di mana konsumsi gula yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit.</p>



<p>Ia juga menekankan kalau berita-berita yang kita baca sebenarnya kerap tidak relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Ada peristiwa penembakan di sekolah di Amerika Serikat atau bencana alam di suatu daerah yang jauh sama sekali tidak memengaruhi kehidupan kita.</p>



<p>Rolf juga membeberkan secara panjang lebar apa saja dampak negatif yang diakibatkan oleh berita, hingga seolah-olah berita sama sekali tidak memiliki dampak positif bagi pembacanya.</p>



<p>Beberapa hal negatif yang menurut Rolf diakibatkan oleh berita adalah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Berita menghambat pemikiran</li><li>Berita merombak otak kita</li><li>Berita menghasilkan ketenaran palsu</li><li>Berita membuat kita pasif</li><li>Berita bersifat manipulatif</li><li>Berita mematikan kretivitas</li><li>Berita mendukung terorisme</li><li>Dan masih banyak lagi lainnya</li></ul>



<p>Berita yang dimaksudkan Rolf di buku ini adalah berita secara fisik maupun daring. Berita daring lebih bahaya, karena akan menampilkan rekomendasi berita yang sesuai dengan kesukaan kita secara terus-menerus. </p>



<p>Sebagai ganti berita, Rolf mengajak pembaca bukunya untuk lebih memilih media buku saja. Rolf adalah mantan pecandu berita, sehingga mungkin ia ingin orang lain tidak sampai mengalami apa yang pernah ia alami. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Stop Membaca Berita</em></h2>



<p>Buku <em>Stop Membaca Berita </em>termasuk tipis, tidak sampai 150 halaman. Selain itu, isi tiap babnya juga relatif pendek sehingga cocok untuk dibaca di saat ketika kita sedang menunggu sesuatu ataupun bacaan singkat sebelum tidur.</p>



<p>Bisa dibilang, buku ini terasa ekstrem seolah-olah kita bisa hidup tanpa membaca berita sama sekali. Argumen-argumen yang tergantung di dalamnya terasa subyektit, walau hal tersebut dapat dimaklumi mengingat penulis buku ini memang praktisi di bidang media.</p>



<p>Entah mengapa Penulis merasa buku ini sedikit sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Susah untuk membayangkan kita hidup di era keterbukaan tanpa mengetahui apa yang tengah terjadi.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis sependapat dengan beberapa pendapat yang diutarakan di buku ini. Contohnya adalah banyak kejadian yang kita lihat sama sekali tidak berpengaruh terhadap kehidupan kita.</p>



<p>Selain itu, kita juga kerap berdebat kusir tentang isu-isu yang ada tanpa pernah menemukan solusi sesungguhnya. Entah berapa lama waktu yang terbuang untuk menyikapi sebuah permasalahan yang tak ada hubungannya dengan kita.</p>



<p>Sayangnya, buku ini seolah mengajak kita untuk hidup apatis tanpa memedulikan apa yang tengah terjadi di sekitar kita. Meskipun Penulis berusaha menerapkan hidup minimalis, rasanya metode berhenti membaca berita secara total tidak sesuai dengan Penulis.</p>



<p>Mungkin ini hanya perasaan Penulis saja, tapi rasanya tulisan Rolf di buku ini kerap terasa berapi-api dengan nada marah. Hal tersebut, sayangnya, membuat Penulis merasa sedikit terintimidasi ketika membaca dan membuat tidak nyaman.</p>



<p>Sebagai orang yang bekerja di bidang media, Penulis menganggap berita memiliki berbagai manfaat. Selain sebagai penyampai informasi kepada orang yang membutuhkan, berita juga menjadi sarana hiburan yang cukup efektif.</p>



<p>Berita memang memiliki sisi negatif. Membacanya secara berlebihan akan memberikan dampak buruk kepada kita. Hanya saja, mengesampingkan sisi positifnya juga rasanya kurang bijaksana.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 16 Oktober 2021, terinspirasi setelah membaca buku <em>Stop Membaca Berita</em></p>



<p>Foto: <a href="https://ebooks.gramedia.com/id/buku/stop-membaca-berita">Gramedia Digital</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/">Setelah Membaca Stop Membaca Berita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-stop-membaca-berita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2021 03:57:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[daring]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[kode etik]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4250</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelumnya Penulis ingin mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya terhadap korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ-182. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran atas musibah yang tengah melanda mereka. Setiap ada berita pesawat jatuh, suasana duka pasti langsung menyelimuti negeri ini. Tak terbayangkan betapa ngerinya suasana kabin pesawat sesaat sebelum jatuh. Membayangkan berada di posisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/">Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya Penulis ingin mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya terhadap korban jatuhnya pesawat <strong>Sriwijaya Air</strong> dengan kode penerbangan <strong>SJ-182</strong>. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran atas musibah yang tengah melanda mereka.</p>
<p>Setiap ada berita pesawat jatuh, suasana duka pasti langsung menyelimuti negeri ini. Tak terbayangkan betapa ngerinya suasana kabin pesawat sesaat sebelum jatuh.</p>
<p>Membayangkan berada di posisi keluarga korban, terasa begitu pedih rasanya kehilangan orang-orang tersayang secara tragis. Al Fatihah untuk para korban.</p>
<p>Sayangnya, ada saja hal-hal yang membuat kita mengelus dada. Salah satunya adalah judul-judul berita <em>click-bait </em>yang tidak berempati dan melanggar privasi.</p>
<h3>Memudarnya Etika Jurnalistik</h3>
<p><div id="attachment_4252" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4252" class="size-large wp-image-4252" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4252" class="wp-caption-text">Memudarnya Etik Jurnalistik (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@climatereality">The Climate Reality Project</a>)</p></div></p>
<p>Penulis tidak hafal dengan yang namanya <strong>kode etik jurnalistik</strong>. Penulis hanya pernah membaca rangkuman singkatnya.</p>
<p>Walaupun begitu, tanpa mengetahui pasal per pasal yang ada di dalam kode etik jurnalistik, Penulis bisa berpendapat kalau media-media sekarang kerap melakukan hal yang tidak etis dalam memberitakan suatu kejadian, termasuk tragedi sekali pun.</p>
<p>Penulis ambil contoh dari peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ini. Sangat wajar dan memang dibutuhkan informasi terkait pesawat tersebut, terutama di mana lokasi pesawat jatuh dan bagaimana kondisi korban.</p>
<p>Yang membuat banyak geram, ada saja media yang membuat judul seperti:</p>
<p><em>&#8220;Ini firasat keluarga korban sebelum jatuhnya pesawat&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini gaji pilot pesawat yang menerbangkan pesawat&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini ramalan yang menyatakan tahun 2021 akan ada pesawat jatuh&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ini tanggapan keluarga korban atas jatuhnya pesawat&#8221;</em></p>
<p>Belum lagi ada yang berusaha mencari <em>instastory </em>dari korban, seolah-olah itu adalah pesan terakhir dari mereka. Ada juga yang mengaitkan dengan peristiwa lain yang sebenarnya tidak ada kaitannya.</p>
<p>Cerita tentang bagaimana para pencari berita mewawancarai keluarga korban yang tengah bercucuran air mata, jelas bukan merupakan hal yang etis.</p>
<h3>Masyarakat yang Doyan Berita <em>Click-Bait</em></h3>
<p><div id="attachment_4253" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4253" class="size-large wp-image-4253" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4253" class="wp-caption-text">Masyarakat Doyan Click-Bait (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@danicanibano">Daniel Cañibano</a>)</p></div></p>
<p>Sebagai orang yang bekerja di media, Penulis paham kenapa media daring sekarang begitu sering membuat berita <em>click-bait </em>walaupun dihujat dari kanan dan kiri.</p>
<p><strong>Demi klik, demi jumlah <em>views</em>, demi meningkatnya <em>traffic</em>, dan ujung-ujungnya demi uang.</strong></p>
<p>Kenapa berita dengan judul <em>click-bait </em>bisa mendapatkan <em>traffic </em>yang tinggi? Karena ada pasarnya, karena ada pembacanya, <strong>karena masyarakat menyukai berita-berita semacam itu</strong>.</p>
<p>Artinya, sebenarnya kita punya kuasa untuk menghentikan judul-judul berita seperti contoh di atas <strong>dengan tidak membaca beritanya</strong>.</p>
<p>Jika tidak ada yang membaca berita seperti itu, lama kelamaan media juga akan menghentikan produksi artikel yang kurang berfaedah seperti itu.</p>
<p>Selama masyarakat masih gemar menyumbang <em>traffic </em>untuk berita-berita seperti itu, media pun tidak akan pernah menghentikannya.</p>
<p><strong><em>Lha mong </em></strong><strong>cuannya mengalir terus, ngapain berhenti.</strong></p>
<p>Belum lagi kebiasaan buruk masyarakat kita yang gemar menyebarkan foto ataupun video terkait tragedi yang terjadi. <em>Ngapain </em>sih mereka melakukan itu? Demi mendapatkan perhatian dan<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/"> jadi viral?</a></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis bukannya mau sok suci, toh Penulis juga berkecimpung di dunia tersebut meskipun beda lingkup wilayah. Hanya saja, hati nurani Penulis mengatakan kalau hal tersebut sangat tidak etis.</p>
<p>Kita butuh banyak informasi terkait kecelakaan pesawat yang terjadi, tapi kita tidak butuh tahu bagaimana perasaan korban yang ditinggalkan atau firasat yang dirasakan mereka.</p>
<p><b>Tanpa diberitakan pun, kita sudah tahu bagaimana perasaan keluarga korban. Mau firasat mau ramalan, kita tidak butuh bumbu-bumbu yang tidak penting.</b></p>
<p>Semoga saja iklim pemberitaan di Indonesia ke depannya bisa menjadi lebih baik. Tidak hanya mengutamakan cuan, tapi juga mengedepankan etika-etika yang berlaku di masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 10 Desember 2020, terinspirasi karena geramnya Penulis dengan beberapa judul berita terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@markuswinkler">Markus Winkler</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/">Memudarnya Etika Jurnalistik Dalam Tragedi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/memudarnya-etika-jurnalistik-dalam-tragedi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2020 15:28:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[hoax]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hoax mudah diproduksi pada era serba cepat seperti sekarang. Hanya bermodalkan imajinasi dan data-data kurang akurat, kita bisa mengirimkan berita bohong melalui grup-grup WhatsApp dan dalam sekejap tersebar ke segala penjuru mata angin. Apalagi jika ada momentum seperti pilpres ataupun kasus virus Corona seperti sekarang, jumlah hoaks bisa bertambah berkali-kali lipat. Biasanya, hoaks-hoaks seperti itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hoax</strong> mudah diproduksi pada era serba cepat seperti sekarang. Hanya bermodalkan imajinasi dan data-data kurang akurat, kita bisa mengirimkan berita bohong melalui grup-grup WhatsApp dan dalam sekejap tersebar ke segala penjuru mata angin.</p>
<p>Apalagi jika ada momentum seperti pilpres ataupun kasus virus Corona seperti sekarang, jumlah hoaks bisa bertambah berkali-kali lipat.</p>
<p>Biasanya, hoaks-hoaks seperti itu akan disebarkan oleh generasi <em>boomer</em>. Di sisi lain, generasi milenial akan berusaha membantah dengan memberikan data dan fakta yang sebenarnya. Terjadi sebaliknya pun harusnya ada.</p>
<p>Permasalahannya, mengapa ada orang suka membuat hoax alias berita palsu?</p>
<h3>Alasan Membuat Hoax</h3>
<p>Penulis mencoba membayangkan menjadi seorang pembuat hoax. Apa kira-kira yang menjadi motivasi terbesar Penulis untuk membuat sebuah hoax?</p>
<p><div id="attachment_3604" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3604" class="size-large wp-image-3604" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3604" class="wp-caption-text">Hoax untuk Adu Domba (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.reddit.com/r/NatureIsFuckingLit/comments/a1k7zf/two_badass_sheep_about_to_break_into_a_brawl_on_a/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIDTrdDSg-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Kunjungi Reddit"><span class="pM4Snf">Reddit</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika musim Pemilu alasannya jelas, <strong>untuk menjatuhkan dan menjelek-jelekkan lawan politik</strong>. Taktik kotor seperti ini sangat mudah ditemui. Fitnah dan adu domba saling diperlihatkan dengan kejamnya.</p>
<p>Mereka juga bisa membuat hoax karena <strong>memang dibayar untuk membuatnya</strong><em>. </em>Entah berapa tarifnya, tapi rasanya memang ada orang-orang yang hidup dari pekerjaan seperti itu.</p>
<p><em>Tapi bagaimana dengan kasus lain seperti hoax seputar virus Corona?</em></p>
<p>Bisa jadi karena ingin <strong>menimbulkan kepanikan di masyarakat</strong>. Kita mudah merasa panik hanya dengan membaca sekilas sebuah judul berita, sehingga ada orang-orang yang ingin memanfaatkan hal tersebut.</p>
<p>Untuk apa membuat orang lain panik? Ada alasan karena <strong>faktor ekonomi</strong>. Seperti yang kita ketahui, bagaimana meroketnya harga masker dan alat kebersihan lainnya. Ada pihak yang diuntungkan di sini.</p>
<p>Kenaikan harganya benar-benar kelewat batas dan ada orang-orang tak bermoral yang justru memanfaatkan situasi ini. Barang sembako habis diborong orang-orang kaya hingga berisiko menyusahkan yang lebih membutuhkan.</p>
<p>Membuat orang lain panik juga bisa jadi hanya <strong>menjadi sebuah kesenangan</strong> bagi seseorang. Sama seperti kata Alfred dalam film <em>The Dark Knight:</em></p>
<p>[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=efHCdKb5UWc[/embedyt]</p>
<p><em>Some man just want to watch the world burn</em>. Ada orang-orang yang memang hanya ingin terjadi kekacauan di muka bumi ini. Mungkin terlihat terlalu didramatisir, tapi Penulis meyakini hal tersebut benar adanya.</p>
<p>Ada beberapa alasan lain, seperti <strong>mencari sensasi dan perhatian</strong>,<strong> kurang kerjaan</strong>, <strong>bentuk propaganda</strong>, dan lain sebagainya. Intinya, ada banyak alasan untuk membuat hoax.</p>
<h3>Alasan Menyebar Hoax</h3>
<p>Pembuat hoax mungkin tipe orang yang berada di dalam sunyi dan membiarkan karyanya tersebar dengan sendirinya. Nah, kita yang ikut menyebar juga memiliki andil terhadap suburnya hoax.</p>
<p><div id="attachment_3603" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3603" class="size-large wp-image-3603" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3603" class="wp-caption-text">Sarang Hoax? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.indoindians.com/join-the-indoindians-whatsapp-group/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiJ642R0oPoAhXTxjgGHVRLBAAQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Indoindians.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Tingkat literasi kita sangat rendah. Artinya, kita terlalu malas untuk sekadar membaca dan <strong>memastikan apa yang kita baca benar atau salah</strong>.</p>
<p>Hal ini diperparah jika kita termasuk orang yang mudah percaya sebuah informasi begitu saja. Sekali terlihat ilmiah dan meyakinkan, kita langsung meyakini kalau hal tersebut benar.</p>
<p>Para penyebar hoax ini terkadang <strong>merasa bangga</strong> karena merasa sebagai orang pertama yang menyebarkan berita penting. Apalagi, kalau berita tersebut tidak tayang di media <em>mainstream </em>dengan alasan sengaja ditutup-tutupi.</p>
<p><strong>Sensasi yang didapatkan ketika menyebarkan berita menghebohkan</strong> juga menjadi alasan kuat lainnya. Secara tidak langsung kita akan terlihat sebagai orang penting dan mendapatkan perhatian berlebih.</p>
<p>Belum lagi jika hoax tersebut diawali dengan kalimat-kalimat positif dan merujuk ke sebuah kelompok tertentu. Misalnya seperti <em>seorang muslim wajib tahu </em>atau <em>sebarkan kalau kamu peduli dengan bangsa ini.</em></p>
<p>Hal ini disebut sebagai <em><strong>Efek Barnum</strong></em>, di mana suatu pesan terasa ditujukan kepada kita padahal bersifat umum. Karena kita merasa sebagai orang yang disebut dalam hoax tersebut, kita pun merasa bertanggung jawab untuk menyebarkannya kepada orang lain.</p>
<p>Tak heran hoax bisa berantai-rantai seperti sekarang.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Seandainya setiap mendapatkan berita kita akan melakukan verifikasi terlebih dahulu, hoax akan kesulitan untuk tumbuh. Perlahan, ia akan rontok dengan sendirinya.</p>
<p>Sayangnya, hal tersebut nampaknya masih belum akan terealiasi dalam waktu dekat. Jika kesadaran masyarakat terhadap hoax masih rendah seperti sekarang, hoax masih akan tersebar di grup-grup WhatsApp dan media-media lain dengan masifnya.</p>
<p>Bisakah kita menghentikan aksi para pembuat hoax? Bisa, dengan cara tidak mempercayainya dan selalu melakukan pengecekan fakta. Kita juga harus saling mengingatkan jika ada orang lain yang menyebarkan hoax.</p>
<p>Mungkin memang tidak bisa memberantas habis para pelaku hoax. Setidaknya, kita sudah berbuat sesuatu untuk melawan para pembohong tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya berita hoax seputar virus Corona</p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://famous.brilio.net/video/discover/inilah-alasan-orang-gemar-menyebar-hoax-170706u.html">Brilio</a>, <a href="https://tirto.id/mengapa-kita-suka-hoax-bFhl">Tirto</a>, <a href="https://id.quora.com/Mengapa-orang-membuat-berita-hoax">Quora</a>, <a href="https://www.kompasiana.com/atsalis/5b1e3150bde5754a3e7da6a2/inilah-mengapa-masyarakat-indonesia-masih-sering-menyebarkan-hoax">Kompasiana</a>,</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perang Diksi Tanpa Makna</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Nov 2018 13:12:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[diksi]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[perang diksi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1682</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengamati perkembangan politik akhir-akhir ini membuat penulis merasa kecewa. Kedua kubu pengusung calon presiden saling melempar isu tentang diksi-diksi kurang penting yang tidak memiliki subtansi sama sekali. Kata-kata apapun, jika bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan, akan mereka goreng sedemikian rupa agar terekspos oleh media. Memotong sepenggal kalimat dari sebuah pidato bukan hal yang mengejutkan sekarang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/">Perang Diksi Tanpa Makna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mengamati perkembangan politik akhir-akhir ini membuat penulis merasa kecewa. Kedua kubu pengusung calon presiden saling melempar isu tentang diksi-diksi kurang penting yang tidak memiliki subtansi sama sekali.</p>
<p>Kata-kata apapun, jika bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan, akan mereka goreng sedemikian rupa agar terekspos oleh media. Memotong sepenggal kalimat dari sebuah pidato bukan hal yang mengejutkan sekarang ini.</p>
<p>Jarang sekali penulis menemukan sebuah perang konsep yang berusaha untuk menawarkan program-program yang ditawarkan apabila mereka terpilih. Jika pun ada, masyarakat yang terlihat di media sosial juga terlihat enggan menggubris.</p>
<p>Mungkin keengganan tersebut yang dilihat media sebagai pasar, sehingga yang mereka <em>expose </em>adalah hal-hal berbau bombastis yang digemari mayoritas masyarakat.</p>
<p>Mungkin keengganan tersebut yang membuat kedua kubu memilih untuk berperang diksi yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mereka melakukan serangan apabila kubu lawan membuat pernyataan yang mempunyai celah untuk dicela.</p>
<p>Artinya, jika ditarik secara garis besar, kitalah yang berperan untuk menentukan mana yang akan disorot. Kita, sebagai rakyat, yang memiliki kuasa untuk mengubah hal ini.</p>
<p><div id="attachment_1683" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1683" class="wp-image-1683 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-1024x770.jpg" alt="" width="1024" height="770" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-1024x770.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-300x226.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-768x578.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-339x255.jpg 339w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1683" class="wp-caption-text">Photo by rawpixel on Unsplash</p></div></p>
<p>Caranya? Ya jangan gubris berita-berita minim konten yang tidak mendidik masyarakat untuk berpolitik secara sehat. Sebaliknya, kita sebarkan berita-berita tentang program-program yang ditawarkan oleh mereka, sehingga fokus mereka pun (mungkin) akan berubah,</p>
<p>Bukankah itu hal yang susah? Benar, bahkan hampir bisa dibilang mustahil. Mental masyarakat kita (atau bahkan masyarakat dunia?) sudah terpatri untuk menikmati <em>bad news</em> dibandingkan <em>good news</em>.</p>
<p>Akan tetapi, bukan berarti kita harus berdiam diri saja menyaksikan ini semua terjadi. Minimal, dimulai dari diri kita sendiri dan pengaruhi lingkungan sekitar kita. Ajak mereka untuk tidak mudah terpengaruh oleh berita media.</p>
<p>Anggap saja mereka yang masih berbuat hal-hal seperti itu sebagai bayangan di dinding. Ada gerakannya, tapi kita tidak bisa mendengar apa yang diucapkan karena mereka hanyalah sebuah bayangan.</p>
<p>Bayangan tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi suara. Tentu kita tidak ingin membuang waktu untuk berusaha mendengar bayangan bukan? Hal yang sama juga berlaku di dunia nyata, jangan buang waktu kita yang berharga untuk mendengar kalimat kosong.</p>
<p>Jika para elit politik benar-benar peduli terhadap rakyatnya, sudah seharusnya perang diksi tanpa makna ini diakhiri. Sudah saatnya masyarakat mendapatkan edukasi politik yang lebih mendidik daripada serangan kata-kata yang tak bermanfaat.</p>
<p>Sudah seharusnya kedua kubu menjabarkan program kerja mereka lima tahun ke depan apabila nanti terpilih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 November 2018, terinspirasi dari pengamatan politik melalui Twitter akhir-akhir ini</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/E0rsKheWqmk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Jonathan Sharp</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/debate?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/">Perang Diksi Tanpa Makna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Mana Ada Peristiwa, Di Situ Ada Hoax</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 May 2018 06:59:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[broadcast]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[hoax]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[teror]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[whatsapp]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=762</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita yang menjadi isu nasional memang sangat menggoda bagi para pembuat berita palsu (hoax). Bersamaan dengan adanya banjir informasi mengenai kejadian yang sama, mereka bisa menyelipkan hoax yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Media yang paling rawan untuk penyebaran hoax tentu melalui grup-grup chatting seperti Whatsapp maupun Line. Cukup beberapa kali mengirim, tersebarlah informasi yang telah mereka karang. Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/">Di Mana Ada Peristiwa, Di Situ Ada Hoax</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berita yang menjadi isu nasional memang sangat menggoda bagi para pembuat berita palsu (hoax). Bersamaan dengan adanya banjir informasi mengenai kejadian yang sama, mereka bisa menyelipkan hoax yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Media yang paling rawan untuk penyebaran hoax tentu melalui grup-grup <em>chatting </em>seperti Whatsapp maupun Line. Cukup beberapa kali mengirim, tersebarlah informasi yang telah mereka karang.</p>
<p>Penulis yakin semua masyarakat yang berpikiran matang menyadari bahwa penyebaran hoax berbahaya dan harus dihentikan. Ringkus siapapun yang menyebarkan hoax, sudah ada payung hukumnya.</p>
<p>Akan tetapi, kita pun bisa melakukan pencegahan masuknya informasi yang masuk begitu saja. Caranya, tentu mengecek validitas berita tersebut. Manfaatkan Google semaksimal mungkin.</p>
<p><div id="attachment_764" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-764" class="size-large wp-image-764" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/1lFIdNGcHq-1024x411.jpg" alt="" width="1024" height="411" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/1lFIdNGcHq-1024x411.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/1lFIdNGcHq-300x120.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/1lFIdNGcHq-768x308.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/1lFIdNGcHq-356x143.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/1lFIdNGcHq.jpg 1088w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-764" class="wp-caption-text">Mencari Informasi (http://elearning.britishgasenergytrust.org.uk/business-work/receptionist-admin-pa-secretarial/easytype-typing-tutor)</p></div></p>
<p>Sebagai contoh, peristiwa teror bom di Surabaya kemarin. Dalam waktu beberapa jam, sudah tersebar beberapa <em>broadcast </em>di Whatsapp, seperti satu orang telah ditangkap di Malang karena kedapatan membawa bom.</p>
<p>Karena beritanya sedang panas-panasnya, tentu banyak orang yang memercayai begitu saja. Apalagi, Malang dekat dengan Surabaya sehingga potensi untuk itu sangat mungkin terjadi.</p>
<p>Seberapapun terlihat meyakinkan, kita tetap harus mengecek kebenaran informasi tersebut. Caranya ketik <em>keyword </em>di Google. Contoh: pelaku teror tertangkap di Malang. Kita lihat hasil yang ditampilkan oleh Google, ada atau tidak berita seperti yang disebarkan melalui <em>broadcast </em>Whatsapp. Jika tidak ada, berarti hoax.</p>
<p>Cara lain adalah, bagi yang memiliki kenalan di kepolisian, adalah menanyakan langsung informasi tersebut, seperti yang dilakukan oleh salah satu netizen ini:</p>
<p><div id="attachment_763" style="width: 585px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-763" class="size-large wp-image-763" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdDovAyVMAANvgX-1-575x1024.jpg" alt="" width="575" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdDovAyVMAANvgX-1.jpg 575w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdDovAyVMAANvgX-1-168x300.jpg 168w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdDovAyVMAANvgX-1-143x255.jpg 143w" sizes="(max-width: 575px) 100vw, 575px" /><p id="caption-attachment-763" class="wp-caption-text">Contoh Klarifikasi (www.twitter.com)</p></div></p>
<p>Selain itu, tegurlah teman-teman atau keluarga yang turut menyebarkan informasi-informasi tersebut. Beritahu langkah-langkah mengantisipasi hoax dan apa akibat dari penyebaran hoax. Jika kita bersikap kritis terhadap informasi yang masuk, hoax tidak akan menyebar seperti wabah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 16 Mei 2018, setelah betebaran hoax terkait teror bom di Surabaya</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.jagoanhosting.com/blog/bersiap-sambut-aplikasi-whatsapp-untuk-bisnis-online/">https://www.jagoanhosting.com/blog/bersiap-sambut-aplikasi-whatsapp-untuk-bisnis-online/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/">Di Mana Ada Peristiwa, Di Situ Ada Hoax</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beropini Setelah Reformasi</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2018 08:27:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Media Masa]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Publik]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi. Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi.</p>
<p>Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan mereka. Siapa yang tidak mau menjadi corong, harus siap-siap dicabut izin penerbitannya oleh Kementerian Penerangan.</p>
<p>Semenjak reformasi, keran berpendapat mulai terbuka kembali. Media-media yang dulunya dibredel dipersilahkan untuk beroperasi kembali. Undang-undang mengenai kebebasan pers disahkan, kalau tidak salah di jaman presiden Habibie. Media pun bisa membuat berita tanpa harus menunggu petunjuk bapak presiden,</p>
<p>Kita, termasuk media, harus berterima kasih kepada mahasiswa dan para aktivis, yang dengan berbagai upaya, berhasil menggoyahkan kursi presiden Soeharto, hingga mencapai puncaknya pada tanggal 21 Mei 1998 ketika beliau mengumumkan pengunduran dirinya.</p>
<p><strong>Media Sebagai Pengkritik Presiden</strong></p>
<p>Karena kebebasan pers dilakukan, maka banyak hal yang bisa dilakukan oleh media, termasuk mengkritik kebijakan presiden. Mungkin yang paling terasa adalah ketika lengsernya Gus Dur sebagai presiden. Media tidak akan segan mem-<em>blow up</em> berita-berita yang menyudutkan Gus Dur. Ini tidak akan mungkin terjadi ketika Orde Baru masih kuat-kuatnya berkuasa.</p>
<p>Begitu pula presiden-presiden selanjutnya, tidak akan lepas dari pemberitaan negatif dari media. Sebagai pilar demokrasi keempat, memang sudah seharusnya media menjadi penyalur informasi antara pemerintah dengan rakyatnya, baik dan buruknya.</p>
<p>Oleh karena itu, akan menjadi pertanyaan besar apabila media hanya memberitakan kebaikan pemerintah saja, seolah mengulang dosa di masa Orde Baru, tanpa memberitakan kekurangan pemerintah yang sejatinya bisa dijadikan pondasi untuk menjadi lebih baik.</p>
<p><strong>Menjadi Viral Agar Di Dengar</strong></p>
<p>Sudah 20 tahun semenjak reformasi, tentu banyak hal yang berubah, termasuk media sebagai lahan untuk beropini. Di era teknologi seperti sekarang, mengeluarkan pendapat lebih sering dituangkan dalam media sosial ketimbang melalui media cetak. Menulis <em>tweet </em>tentu lebih cepat dan praktis jika dibandingkan mengirimkannya ke media cetak agar termuat di koran.</p>
<p>Menjadi viral di media sosial juga bisa sarana yang efektif untuk beropini agar di dengar oleh pemerintah. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa presiden BEM UI memberikan kartu kuning kepada presiden Jokowi. Agar menjadi perhatian, baik pemerintah maupun rakyat, ia melakukan aksi yang tidak biasa.</p>
<p>Hal itu terbukti efektif. Beberapa <em>headline </em>memberitakan aksi tersebut dan menautkannya dengan berbagai topik yang terkait. Mungkin saja saya yang kurang membaca referensi, namun berita yang saya baca lebih banyak menyinggung sisi negatifnya, seperti ucapannya ketika di acara Mata Najwa tentang siapa yang memanfaatkan jalan tol, ataupun etikanya yang dianggap mencoreng muka Universitas Indonesia.</p>
<p>Hampir tidak saya temukan berita dengan <em>headline </em>seperti &#8220;kebangkitan mahasiswa dalam beropini&#8221; atau sebagainya. Saya sering mendengar opini bahwa mahasiswa jaman sekarang kurang bersuara laiknya mahasiswa di penghujung 90an. Bukankah ini seharusnya bisa dijadikan momentum untuk mengembalikan peran mahasiswa sebagai <em>agent of change</em>?</p>
<p><strong>Kembali ke Masa Orba?</strong></p>
<p>Dengan adanya kebebasan berpendapat, sesuatu yang kita dapatkan setelah banyak darah tumpah demi menuntut rezim turun, tentu membuat ruang untuk diskusi terbuka lebar. Kita tidak perlu takut lagi diculik agar suara kita dibungkam.</p>
<p>Atau itukah yang sedang terjadi sekarang? Beberapa orang secara misterius terluka bahkan tewas di tangan orang-orang yang, bagi sebagian orang, hanya rekayasa kelompok tertentu. Mulai dari Novel Baswedan, ahli IT Hermansyah, hingga ustad yang dipukuli oleh &#8220;orang gila&#8221;.</p>
<p>Benarkah beropini di era sekarang lebih bebas dibandingkan dengan jaman Orde Baru? Atau secara terselubung, kebebasan kita mulai dibatasi kembali? Bahkan dalam penerbitan penelitian saja, berdasarkan kata Rocky Gerung, harus membutuhkan ijin dari Kementerian Dalam Negeri. Menurut saya, ini seperti peran Kementerian Penerangan di jaman Orba yang lama dipegang oleh Harmoko.</p>
<p>Akankah kita kembali ke era Orde Baru? Ataukah itu hanya kekhawatiran yang berlebihan?</p>
<p><strong>Menentukan Sikap Sebagai Seorang Rakyat</strong></p>
<p>Sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, kita sebagai rakyat seharusnya bisa melihat kinerja pemerintah secara obyektif, seperti pada tulisan saya yang berjudul <a href="http://whathefan.com/2018/01/19/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/"><em>Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif</em></a>. Beri apresiasi ketika meraih prestasi, kritik jika masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki.</p>
<p>Hanya karena kita menjadi pendukung tokoh tersebut, bukan berarti kita harus menutup mata atas segala kesalahannya. Memberi kritik yang membangun merupakan bentuk dukungan yang sejati. Apa yang dilakukan oleh kawan-kawan mahasiswa kita, merupakan bentuk penyampaian opini yang <em>extraordinary</em> agar mereka di dengar.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan memberikan kritik, selama diutarakan secara santun dan beretika. Begitu pula yang dikritik, alangkah lebih baik jika kritik tersebut dijadikan bahan sebagai interopeksi diri dan membuka diri untuk perbaikan. Bukannya marah karena merasa dihina.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Secara tidak sengaja, tulisan ini bersamaan dengan Hari Pers Nasional. Jadi, selamat Hari Pers Nasional!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 9 Februari 2018, setelah mendesain ulang website kodingdong.com</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion">https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
