<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>berlebihan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/berlebihan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/berlebihan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:54:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>berlebihan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/berlebihan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Terlalu Suka Mengendalikan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2020 15:22:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berlebihan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol]]></category>
		<category><![CDATA[mengenalikan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4198</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu sifat Steve Jobs yang paling terkenal adalah gila kontrolnya yang kerap membuat stres kolega dan bawahannya. Mulai konsep sampai hal sepele yang kerap diabaikan orang ia perhatikan. Ia berusaha mengendalikan segala hal. Penulis merasa dirinya juga seperti itu. Apalagi, ayah Penulis mengatakan bahwa orang Wage (Penulis lahir pada hari Rabu Wage) adalah tipe [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/">Terlalu Suka Mengendalikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu sifat Steve Jobs yang paling terkenal adalah <strong>gila kontrolnya</strong> yang kerap membuat stres kolega dan bawahannya. Mulai konsep sampai hal sepele yang kerap diabaikan orang ia perhatikan. Ia berusaha mengendalikan segala hal.</p>



<p>Penulis merasa dirinya juga seperti itu. Apalagi, ayah Penulis mengatakan bahwa orang <strong>Wage</strong> (Penulis lahir pada hari Rabu Wage) adalah tipe orang pengendali.</p>



<p>Menurut Pembaca, apakah sifat ini termasuk baik? Atau sebaliknya merupakan sifat buruk yang bisa merugikan orang lain?</p>



<h3>Mengendalikan Permainan</h3>



<p>Ketika bermain game bersama teman-teman, Penulis lebih suka menjadi orang yang mengendalikan permainan daripada ikut dalam permainan itu sendiri.</p>



<p>Contoh mudahnya adalah <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">permainan <strong>Werewolf</strong></a>. Hampir di mana pun bermain game ini, Penulis sangat sering menjadi moderatornya. Meskipun harus repot mencatat dan bergerak ke sana kemari, Penulis menikmati tugas ini karena dirinya bisa mengendalikan permainan.</p>



<p>Penulis bisa memilih peran apa saja yang bisa dipilih oleh pemain, bisa menambahkan peran baru yang bahkan tidak ada di versi resminya, dan lain sebagainya.</p>
<div id="attachment_4204" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4204" class="size-large wp-image-4204" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4204" class="wp-caption-text">Menjadi Bank (<a href="https://www.thesprucecrafts.com/monopoly-how-much-rent-do-i-collect-411910">The Spruce Crafts</a>)</p></div>



<p>Begitu pun ketika bermain <strong>Monopoly</strong>. Penulis lebih senang berperan menjadi bank daripada harus ikut berebut lahan dengan pemain lain. Penulis bisa menambahkan aturan sesuka hati, termasuk memberikan bonus kepada pemain.</p>



<p>Ketika sedang berada di kepantiaan, Penulis lebih senang berada di <strong>Sie Acara</strong> yang pekerjaannya mengatur acara. Intinya, Penulis menyukai hal-hal yang bersifat mengendalikan.</p>



<p>Permasalahannya, terkadang sifat ini melampaui batas hingga membuat susah orang lain.</p>
<h3>Agar Sesuai Ekspetasi</h3>
<p>Sifat ingin mengendalikan ini, parahnya, bisa sampai masuk ke wilayah privasi orang lain. Ada rasa ingin mengendalikan orang-orang yang ada di sekitar kita agar <strong>bertindak seperti keinginan kita</strong>.</p>
<p>Contohnya adalah ketika ada kawan dekat yang <a href="https://whathefan.com/karakter/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">tiba-tiba berubah</a>. Karena merasa di luar kendali, kita pun menjadi panik dan berusaha untuk mencari tahu dengan paksa kenapa dia berubah.</p>
<p>Selain itu, kita bisa saja <strong>terlalu ikut campur</strong> terhadap permasalahan orang lain. Misal ada si A pacaran dengan si B. Karena kita tidak setuju, kita berusaha untuk memisahkan mereka.</p>
<p>Tanpa disadari, kita ingin mengendalikan orang agar sesuai dengan <strong>ekspetasi kita</strong>. Kita tidak ingin orang lain bersikap di luar ekspetasi tersebut. Di sini lah sikap ingin mengendalikan jadi melampaui batas.</p>
<p>Sikap terlalu ingin mengendalikan seperti ini ujung-ujungnya hanya akan berbuah kekecewaan. Kenapa? Karena kita akan menyadari bahwa <strong>tidak semua hal bisa kita kendalikan</strong>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Hidup ini <strong>bukan sebuah video game</strong> yang karakter dan dunianya bisa kita kendalikan seenak kita sendiri. Bahkan di dalam game, ada batasan-batasan tentang apa yang bisa kita kendalikan.</p>
<p>Bahkan dalam permainan <em>open world </em>seperti GTA V, pergerakan kita sebatas yang diberikan oleh pihak pengembang game. Kita tidak benar-bener mengontrol seluruh permainan.</p>
<p>Begitu pun dalam hidup. Ada banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan di dunia ini. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan sepenuhnya adalah <strong>diri sendiri</strong>.</p>
<p>Menyadari fakta ini membuat kita, terutama Penulis, bisa mengurangi sikap ingin mengendalikan yang terlalu berlebihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 26 Desember 2020, terinspirasi setelah melakukan perenungan diri </p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@diegosmarines">Diego Marín</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/">Terlalu Suka Mengendalikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Jadi Bucin</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-bucin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Nov 2019 13:09:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berlebihan]]></category>
		<category><![CDATA[bucin]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3086</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jatuh cinta merupakan hak dari setiap individu. Kita bisa mencintai siapa saja yang berhasil memikat hati kita, selama tidak melanggar norma sosial dan agama. Yang tidak boleh adalah mencintai secara berlebihan. Istilahnya yang populer adalah budak cinta atau sering disingkat sebagai bucin. Berdasarkan pengalaman penulis pribadi, menjadi bucin lebih banyak membawa keburukan kepada kita. Bahkan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-bucin/">Jangan Jadi Bucin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jatuh cinta merupakan hak dari setiap individu. Kita bisa mencintai siapa saja yang berhasil memikat hati kita, selama tidak melanggar norma sosial dan agama.</p>
<p>Yang tidak boleh adalah mencintai secara berlebihan. Istilahnya yang populer adalah <em>budak cinta </em>atau sering disingkat sebagai <strong>bucin</strong>.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman penulis pribadi, menjadi bucin lebih banyak membawa keburukan kepada kita. Bahkan, rasanya tidak ada sisi positif satupun dengan menjadi seorang bucin.</p>
<h3>Apa Itu Bucin?</h3>
<p>Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, bucin merujuk kepada suatu keadaan di mana <strong>kita mencintai seseorang secara berlebihan</strong>.</p>
<p>Ciri-ciri dari seorang bucin antara lain rela melakukan apapun demi orang yang dicintainya, memiliki hasrat untuk selalu bersamanya, memberikan perhatian secara berlebihan, hingga selalu mengiyakan apa kata sang kekasih.</p>
<p>Kita seolah rela melakukan apapun demi membahagiakan dirinya, meskipun artinya kita harus <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">mengorbankan kebahahagiaan diri kita sendiri</a>.</p>
<p>Karena sikapnya tersebut, ada beberapa efek samping yang akan muncul. Contohnya, jadi melupakan teman-teman, terlihat seperti &#8220;babu&#8221; yang patuh terhadap majikannya, di kepalanya hanya ada orang yang menjadi sumber bucinnya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Bucin tidak hanya berlaku kepada sepasang kekasih, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/">tapi juga bisa ke <em>idol</em></a>. Akan tetapi, di sini penulis hanya akan berfokus pada bucin yang sedang dimabuk asmara.</p>
<h3>Kenapa Bucin?</h3>
<p>Ada banyak alasan mengapa seseorang menjadi bucin dan memutuskan untuk menjadi bucin. Alasan paling umum adalah karena perasaan takut mereka akan hancur jika sampai tidak bersama dengan yang terkasih.</p>
<p>Perasaan tidak akan menemukan orang lain sebaik dia juga menjadi salah satu bahan bakar paling ampuh untuk menjadi seorang bucin. Kita akan dibutakan oleh yang namanya cinta, walau penulis sendiri tidak yakin itu benar-benar cinta.</p>
<p>Bisa jadi, kita menjadi bucin karena sedang merasakan perasaan yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Terdorong oleh rasa penasaran, terkadang kita akan cenderung nekat untuk mengekspresikan perasaan secara berlebihan.</p>
<p>Akibatnya, kita akan terlihat <em>goblok </em>dan mungkin akan jadi bahan tertawaan orang lain. Kalau kita punya teman-teman yang benar, mungkin mereka akan mengingatkan kita untuk tidak berlebihan.</p>
<p>Sayangnya, kita lebih memilih untuk tutup telinga dan menuruti kebucinan kita. Memang terkadang kita tidak sadar kebucinan kita ketika sedang menjadi bucin.</p>
<h3>Jangan Jadi Bucin</h3>
<p>Mungkin ada orang yang pernah menjadi bucin, ada yang sedang menjadi bucin, ada yang tidak pernah menjadi bucin. Penulis sendiri sudah pernah mengalami bagaimana rasanya jatuh cinta secara berlebihan dan merasa kapok.</p>
<p>Penulis banyak menyesali betapa bodohnya penulis di kala itu. Namun yang namanya hidup pasti berproses, menjadi bucin adalah salah satu proses tersebut.</p>
<p>Sebagai mantan bucin (atau sampai sekarang?), penulis mengingatkan kepada kita semua untuk tidak menjadi bucin. Hidup kita terlalu berharga untuk itu.</p>
<p>Mencintai seseorang merupakan hak kita sebagai manusia yang diciptakan untuk saling berpasangan. Hanya saja, jangan sampai cinta ke manusia lebih besar dari cinta kita ke Tuhan.</p>
<p>Bisa jadi wanita atau pria yang sedang kita puja-puja bukan yang terbaik untuk kita. Yakinlah bahwa Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik untuk kita.</p>
<p>Sedih, galau, putus asa ketika putus cinta itu biasa dan sangat manusiawi. Tapi jangan sampai berpikiran bahwa hidup kita telah berakhir. Kita masih punya kehidupan yang harus dijalani tanpanya.</p>
<p>Kalau kita sampai menganggap tidak bisa hidup tanpanya, artinya kita telah menyekutukan Tuhan bukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 November 2019, terinspirasi dari apa hayo?</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@pabloheimplatz">Pablo Heimplatz</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/jangan-jadi-bucin/">Jangan Jadi Bucin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Sep 2019 18:43:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berlebihan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2764</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah merasa khawatir akan sesuatu yang bisa terjadi hingga tidak bisa tidur? Sama, penulis juga pernah. Sering malah. Beberapa kali malah sangat berlebihan hingga membuat penulis stres sendiri. Masalahnya, hal yang dikhawatirkan tersebut sering kali tidak terbukti. Meskipun sudah mengalami hal ini berkali-kali, penulis masih saja sering melakukannya. 85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi Menurut Don [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah merasa khawatir akan sesuatu yang bisa terjadi hingga tidak bisa tidur? Sama, penulis juga pernah. Sering malah. Beberapa kali malah sangat berlebihan hingga membuat penulis stres sendiri.</p>
<p>Masalahnya, hal yang dikhawatirkan tersebut sering kali tidak terbukti. Meskipun sudah mengalami hal ini berkali-kali, penulis masih saja sering melakukannya.</p>
<h3 style="text-align: left;">85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi</h3>
<p><div id="attachment_2768" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2768" class="size-large wp-image-2768" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2768" class="wp-caption-text">Merasa Khawatir (<a href="https://www.netdoctor.co.uk/healthy-living/mental-health/a27974/how-to-stop-worrying/">Netdoctor</a>)</p></div></p>
<p>Menurut Don Joseph Goewey, penulis buku <em>The End of Stress </em>(penulis belum pernah membaca buku ini), <strong>85% kekhawatiran tidak pernah menjadi kenyataan</strong>.</p>
<p>Fakta menarik lainnya, dari 15% kekhawatiran yang terjadi, sebanyak <strong>72% bisa diatasi melebihi ekspetasi </strong>dan membuat kita mendapatkan pelajaran yang berharga.</p>
<p>Ketika membaca fakta ini, penulis pun merasa tercenung karena merasa ada benarnya. Sepanjang pengalaman penulis, mayoritas kekhawatiran yang penulis pikirkan tak pernah menjadi realita.</p>
<p>Sebagai orang yang mudah <em>overthinking</em>, penulis kerap membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk jika telah terjadi sesuatu.</p>
<p>Karena terpikirkan kemungkinan buruk ini, penulis menjadi khawatir. Bisa jadi, penulis akan memikirkannya berhari-hari, memikirkan sesuatu yang sebenarnya hanya ada di kepala kita.</p>
<p>Padahal, banyak hal merugikan yang dipicu dari khawatir berlebihan, mulai dari kehilangan konsentrasi, insomnia, <em>bad mood</em>, asam lambung naik, merasa <em>insecure</em>, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Bagaimana Cara Menghilangkan Khawatir Berlebih?</h3>
<p><div id="attachment_2769" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2769" class="size-large wp-image-2769" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2769" class="wp-caption-text">Melatih Pola Pikir (<a href="https://www.mindful.org/style-meditation-best/">Mindful</a>)</p></div></p>
<p>Karena menyadari kekurangan diri ini, penulis tentu berusaha untuk menemukan penyelesaian agar tidak mengulangnya di masa depan.</p>
<p>Biasanya, penulis akan mencari teman cerita jika sedang merasa khawatir. Kenapa? Karena terkadang ketika bercerita kepada orang lain, kita akan sadar bahwa penyebab kekhawatiran tersebut ternyata sepele.</p>
<p>Jika bukan kita yang sadar, mungkin teman cerita kita yang akan memberitahukannya kepada kita. Kalau ia benar-benar dekat dengan kita, ia akan secara terus terang memberi tahu seberapa sederhana sebenarnya yang kita khawatirkan.</p>
<p>Kita juga harus menyibukkan diri dengan melakukan kegiatan-kegiatan lain yang bisa mengalihkan pikiran kita. Kekhawatiran sering muncul ketika kita tidak memiliki aktivitas alias sedang <em>nganggur</em>.</p>
<p>Penulis paling sering merasa khawatir ketika menjelang tidur. Mungkin, itu menjadi salah satu alasan kenapa penulis sering mengalami insomnia.</p>
<p>Hal lain yang biasanya penulis lakukan adalah memberikan sugesti diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kita harus bisa meyakinkan diri, semua kekhawatiran yang ada di dalam benak tidak akan pernah terjadi.</p>
<p><strong><em>Tapi kan ada 15% kemungkinan kekhwatiran akan terjadi?</em></strong></p>
<p>Benar, penulis pun terkadang mengalaminya. Namun, terus memikirkannya pun tidak akan mengubah apapun. Ada kekhawatiran yang bisa diselesaikan, ada yang tidak.</p>
<p>Jika bisa diselesaikan, kita harus segera mencari penyelesaiannya. Kalau perlu, tulis daftar semua kemungkinan solusi yang bisa kita lakukan.</p>
<p>Jika tidak bisa diselesaikan, belajarlah untuk menerimanya. Memikirkannya secara terus menerus tidak akan mengubah apapun.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Rasa khawatir sebenarnya memiliki beberapa manfaat, seperti menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan terburuk. Khawatir itu sangat manusiawi dan normal.</p>
<p><em>Akan tetapi jika dilakukan secara berlebihan, rasa khawatir akan merugikan kita.</em></p>
<p>Seharusnya, kita harus <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">berfokus dengan apa yang bisa kita lakukan</a>. Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang berada di luar kendali kita.</p>
<p>Sering merasa terlalu khawatir juga tidak baik untuk kesehatan mental kita. Bagi penulis, mudah khawatir juga berpengaruh ke kesehatan karena merusak siklus tidur.</p>
<p>Semoga dengan menulis tulisan ini, penulis bisa mengurangi sifat mudah khawatirnya di masa depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Modernland, Tangerang, 29 September 2019, terinspirasi dari diri sendiri yang sangat sering khawatir berlebihan.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.netdoctor.co.uk/healthy-living/mental-health/a27974/how-to-stop-worrying/">NetDoctor</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menolong Orang Secara Berlebihan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Sep 2019 23:43:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berlebihan]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2667</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang gemar menolong orang lain. Sebisa mungkin, penulis selalu berusaha ada untuk orang-orang yang membutuhkan penulis. Penulis merasa lebih pandai menyelesaikan masalah orang lain dibandingkan menyelesaikan permasalahan sendiri. Nampaknya, banyak orang yang mengalami problematika seperti ini. Hanya saja, terdapat sebuah masalah yang penulis hadapi ketika menolong orang lain, terutama untuk orang-orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">Menolong Orang Secara Berlebihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang gemar menolong orang lain. Sebisa mungkin, penulis selalu berusaha ada untuk orang-orang yang membutuhkan penulis.</p>
<p>Penulis merasa lebih pandai menyelesaikan masalah orang lain dibandingkan menyelesaikan permasalahan sendiri. Nampaknya, banyak orang yang mengalami problematika seperti ini.</p>
<p>Hanya saja, terdapat sebuah masalah yang penulis hadapi ketika menolong orang lain, terutama untuk orang-orang yang penulis sayangi.</p>
<h3>Menolong Secara Berlebihan</h3>
<p>Terkadang, keinginan penulis untuk menolong orang lain itu terlihat berlebihan, melebihi yang dibutuhkan orang tersebut. Akibatnya, orang tersebut justru merasa risih dengan bantuan yang telah diberikan.</p>
<p>Beberapa hari terakhir ini, penulis merenungi hal ini dalam-dalam. Ternyata, berlebihan dalam membantu pun bisa berdampak kurang baik. Memang benar, <strong>tidak ada yang baik dengan yang namanya berlebihan</strong>.</p>
<p>Termasuk jika kita ingin memotivasi atau menyemangati orang lain. Jika terlalu berlebihan, bisa-bisa orang tersebut justru akan merasa <em>down </em>alih-alih menjadi semangat.</p>
<p>Mendorong orang lain terlalu keras bisa membuatnya terjungkal, bukan membuatnya maju beberapa langkah ke depan. Karena membuatnya terjatuh, wajar jika mereka justru balik marah ke kita.</p>
<p>Selain itu, keinginan baik kita tidak selalu bisa dimengerti oleh orang lain. Salah satu alasannya adalah sifat kita yang berlebihan tadi, sehingga mereka salah menangkap maksud baik kita.</p>
<p>Biasanya, kita akan memberi pertolongan secara berlebihan ini untuk orang yang kita sangat sayangi. Kita tentu tidak ingin orang tersebut merasa kesusahan ataupun bersedih hati, sehingga kita seolah ingin berbuat apapun untuk menolongnya.</p>
<p>Padahal, mungkin mereka butuh ruang untuk sendiri dan sedang tidak membutuhkan pertolongan kita. Parahnya, jika sedang melihat mereka seperti ini, kita justru semakin gencar memberikan bantuan yang justru membuatnya semakin jengkel.</p>
<p>Hasrat untuk menolong secara berlebihan yang penulis miliki ini bisa jadi karena <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">rasa takut merasa sendiri</a> yang penulis derita. Harapannya dengan menolong orang lain, kita akan bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain.</p>
<p>Tapi penulis telah menyadari, bahwa justru menolong secara berlebihan ini bisa merusak hubungan dengan orang lain. Rasanya tidak ada orang yang ingin didorong terlalu keras, kecuali karena keinginan diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis akan tetap berusaha mendedikasikan hidupnya untuk bisa membantu orang lain. Sebagai makhluk sosial, penulis memahami kita harus selalu saling tolong menolong.</p>
<p>Akan tetapi, penulis juga harus berusaha tidak memberikan bantuan melebihi yang diinginkan dan dibutuhkan oleh orang tersebut yang berdampak buruk bagi satu sama lain.</p>
<p>Bagi pembaca sekalian, mari tolong menolong secara wajar tanpa harus membuat orang lain merasa didorong terlalu keras. Kita ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang kita sayang, maka bantulah sesuai yang mereka butuhkan dan inginkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 September 2019, terinspirasi setelah merasa telah mendorong orang lain terlalu keras</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@lanophotography">lalesh aldarwish</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">Menolong Orang Secara Berlebihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
