<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>debat Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/debat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/debat/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:29:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>debat Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/debat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pentingkah Keperawanan?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/pentingkah-keperawanan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Feb 2020 03:48:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[open-minded]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3531</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertanyaan yang digunakan pada judul memang bisa dianggap kontroversial dan cukup sensitif. Pentingnya keperawanan adalah urusan masing-masing pribadi, tidak bisa digeneralisir. Di sini, Penulis sebenarnya hanya ingin sharing tentang kegiatan diskusi terbuka yang sering dilaksanakan oleh Karang Taruna. Kebetulan, tema terakhir yang dibahas itu. Catatan: Keperawanan di sini merujuk kepada kedua jenis gender (laki-laki dan perempuan) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pentingkah-keperawanan/">Pentingkah Keperawanan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan yang digunakan pada judul memang bisa dianggap kontroversial dan cukup sensitif. Pentingnya keperawanan adalah urusan masing-masing pribadi, tidak bisa digeneralisir.</p>
<p>Di sini, Penulis sebenarnya hanya ingin <em>sharing </em>tentang kegiatan diskusi terbuka yang sering dilaksanakan oleh Karang Taruna. Kebetulan, tema terakhir yang dibahas itu.</p>
<p><em><strong>Catatan</strong>: Keperawanan di sini merujuk kepada kedua jenis gender (laki-laki dan perempuan)</em></p>
<h3>Pentingkah Keperawanan?</h3>
<p>Ketika pulang ke Malang pada akhir tahun 2019 kemarin, Penulis menggelar diskusi santai dengan ditemani kopi susu hangat. Tema yang diangkat adalah <strong>Pentingkah Keperawanan</strong>.</p>
<p>Mengapa tema itu yang diambil? Alasannya sederhana. Ketika sedang <em>chat </em>di grup seperti biasa, ide atau topik tersebut terlontar begitu saja.</p>
<p>Setelah itu, Penulis dengan beberapa anggota aktif yang sudah berusia 17 tahun ke atas berjanji untuk mendiskusikannya lebih lanjut ketika Penulis pulang. Ternyata, anggota yang berusia lebih muda pun tertarik untuk ikut terlibat dalam diskusi.</p>
<div id="attachment_3533" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3533" class="size-large wp-image-3533" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3533" class="wp-caption-text">Suasana Diskusi</p></div>
<p>Lantas, bagaimana pendapat para pengurus Karang Taruna aktif yang rata-rata masih berusia belasan tahun? Jawabannya kurang lebih seragam,<strong> keperawanan itu penting dan sudah seharusnya dijaga dengan baik</strong> hingga pernikahan.</p>
<p>Masalahnya, sebagaimana dulu Penulis ketika masih seusia mereka, beberapa anggota menyampaikan pendapat <strong>betapa buruknya orang-orang yang gagal menjaga keperawanannya</strong>.</p>
<p>Jawaban tersebut sesuai dengan perkiraan Penulis. Teman Penulis yang seumuran menangkap maksud Penulis mengangkat topik ini, sehingga ia mulai memberikan sudut pandang baru kepada mereka semua.</p>
<p>Intinya, walaupun kita menganggap keperawanan itu penting, jangan sampai kita memandang rendah orang lain yang sudah tidak memilikinya.</p>
<p>Kita tidak pernah tahu apa alasan dibalik hilangnya keperawanan tersebut, sehingga <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">kita tidak boleh </a><em><a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">judgemental</a> </em>seenaknya sendiri. <a href="https://whathefan.com/renungan/dosa-terbesar-seorang-penjahat/">Merasa suci dengan melihat kesalahan orang lain</a> adalah hal yang kurang bijak.</p>
<p>Jadi, kalau kita menganggapnya penting ya dijaga dengan baik tanpa perlu menghakimi orang lain yang menganggapnya tidak terlalu penting.</p>
<h3>Diskusi Karang Taruna</h3>
<p>Di Karang Taruna tempat tinggal Penulis, ada sedikit jarak yang cukup lebar antara angkatan Penulis dengan angkatan di bawahnya. Selisihnya antara lima hingga sepuluh tahun.</p>
<p>Lebarnya jarak tersebut tidak membuat kami berkumpul dengan yang seumurannya saja. Semua bisa berbaur tanpa melupakan etika untuk menghormati yang lebih tua.</p>
<p>Nah, yang seangkatan dengan Penulis merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi. Tidak hanya akademik, tapi hal-hal yang bersentuhan dengan permasalahan sosial. Diskusi terbuka menjadi salah satu caranya.</p>
<p>Beberapa manfaat yang didapatkan dengan diskusi seperti ini antara lain mengasah <strong>daya kritis dan pemikiran logis</strong>, <strong>mengetahui permasalahan sosial yang sering terabaikan</strong>, <strong>meningkatkan keberanian untuk bersuara</strong>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Alasan lain yang tak kalah penting, seperti contoh yang sudah Penulis sebutkan di atas, mereka <strong>mendapatkan sudut pandang baru</strong> dari sebuah permasalahan yang mungkin sebelumnya belum terpikirkan.</p>
<p>Kita mendapatkan banyak sudut pandang dengan bertemu banyak orang dari beragam latar belakang. Penulis mendapatkannya ketika ke Kampung Inggris, jadi <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/"><em>volunteer </em>Asian Games</a>, hingga <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">bekerja di Jakarta</a>.</p>
<p>Ketika berada di lingkungan keluarga, sekolah, bahkan kampus, pergaulan Penulis kurang luas sehingga temannya ya itu-itu aja. Hal tersebut membuat sudut pandang Penulis kurang luas.</p>
<p>Agar para generasi muda di Karang Taruna tidak mengalami hal yang sama, kami pun berusaha memberikan beragam sudut pandang baru kepada mereka sedini mungkin. Harapannya, mereka akan menjadi generasi yang <em>open-minded </em>dan mampu menerima perbedaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 23 Februari 2020, terinspirasi dari diskusi Karang Taruna terakhir yang mengangkat tema Pentingkah Keperawanan</p>
<p>Foto: <a href="https://medium.com/@Shesreallyfat/dont-ask-me-when-i-lost-my-virginity-659d85f107cd">Medium</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pentingkah-keperawanan/">Pentingkah Keperawanan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton Debat Capres Pertama</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/setelah-menonton-debat-capres-pertama/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/setelah-menonton-debat-capres-pertama/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2019 03:01:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[capres]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[pilpres]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2063</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang sudah penulis duga, debat capres pertama terasa begitu membosankan. Penulis serasa mengalami dejavu, karena jawaban yang dilontarkan para capres sama seperti debat 5 tahun yang lalu. Jawaban 01 seringkali dijawab dengan &#8220;saya akan&#8221;. Padahal, sebagai seorang petahana, harusnya beliau bisa dengan tegas mengatakan &#8220;saya telah&#8221;. Ini tentu menjadi kerugian sendiri bagi pihak 01. Pun dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/setelah-menonton-debat-capres-pertama/">Setelah Menonton Debat Capres Pertama</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang sudah penulis duga, debat capres pertama terasa begitu membosankan. Penulis serasa mengalami <em>dejavu, </em>karena jawaban yang dilontarkan para capres sama seperti debat 5 tahun yang lalu.</p>
<p>Jawaban 01 seringkali dijawab dengan &#8220;saya akan&#8221;. Padahal, sebagai seorang petahana, harusnya beliau bisa dengan tegas mengatakan &#8220;saya telah&#8221;. Ini tentu menjadi kerugian sendiri bagi pihak 01.</p>
<p>Pun dengan capres 02. Cara penanganan korupsi dari beliau juga sama persis dengan apa yang disampaikan dulu, yakni meningkatkan gaji para aparat negara. Dari dulu, penulis tidak setuju dengan cara ini karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tamak.</p>
<h3>Hilangnya Esensi Debat</h3>
<p>Selain itu, penulis tidak melihat esensi debat pada acara ini karena kedua belah pihak sama-sama sering membaca teks. Parahnya, pendukung mereka saling menuding tanpa melihat dirinya sendiri.</p>
<div id="attachment_2065" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2065" class="size-large wp-image-2065" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/debat-capres-1024x509.jpg" alt="" width="800" height="398" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/debat-capres-1024x509.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/debat-capres-300x149.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/debat-capres-768x382.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/debat-capres.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2065" class="wp-caption-text">Hilang Esensi? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.sumedang.online/2019/01/pengantar-debat-perdana-capres/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjc15CXrPvfAhWJqY8KHYi0Da4QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">SUMEDANG ONLINE</span></a>)</p></div>
<p>Kekhawatiran publik terkait diberikannya kisi-kisi oleh KPU terbukti. Ucapan moderator tentang &#8220;pertanyaan masih disegel&#8221; hanya retorika belaka yang tak bermakna. Pertanyaan tersegel kok jawabannya ada di kedua calon.</p>
<p>Bahkan untuk tingkat <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/tim-transisi-gen-x-swi/">Karang Taruna</a>, penulis berusaha untuk benar-benar menjaga kerahasiaan pertanyaan debat demi menguji kapabilitas para calon ketua. Untuk sekadar kisi-kisi pun tidak ada.</p>
<p>Sedangkan ini debat calon presiden yang akan memimpin kita untuk lima tahun ke depan lo. Bagi penulis, mungkin juga orang lain, justru ingin melihat siapa yang terlihat memalukan ketika debat.</p>
<p>Kita ingin melihat kemampuan para calon dalam menjawab pertanyaan dan mengomentari jawaban lawannya. Jika ada yang tidak bisa menjawab, ya bagus. Kita jadi tahu siapa yang mampu dan siapa yang tidak mampu.</p>
<h3>Yang Disorot dari Paslon 01</h3>
<p>Penulis juga gemas melihat kubu 01 yang seringkali melontarkan serangan yang tidak ada hubungannya dengan topik debat. Melakukan sindiran terkait <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/dia-dan-kebohongannya/">dia yang telah berbohong</a> tentu tidak diperlukan dalam berdebat.</p>
<div id="attachment_2066" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2066" class="size-large wp-image-2066" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/spiritriau_Apa-Kata-Media-Internasional-tentang-Debat-Capres-dan-Cawapres--1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/spiritriau_Apa-Kata-Media-Internasional-tentang-Debat-Capres-dan-Cawapres--1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/spiritriau_Apa-Kata-Media-Internasional-tentang-Debat-Capres-dan-Cawapres--300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/spiritriau_Apa-Kata-Media-Internasional-tentang-Debat-Capres-dan-Cawapres--768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/spiritriau_Apa-Kata-Media-Internasional-tentang-Debat-Capres-dan-Cawapres-.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2066" class="wp-caption-text">Paslon 01 (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://spiritriau.com/view/Internasional/124042/Apa-Kata-Media-Internasional-tentang-Debat-Capres-dan-Cawapres-.html" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjw0NeLrPvfAhUEMY8KHXcoCO8QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Spiritriau.com</span></a>)</p></div>
<p>Kubu 02 terlihat tidak terlalu sering melontarkan serangan yang bersifat personal alias cenderung defensif. Bahkan tidak terselesaikannya kasus Novel Baswedan pun tidak digunakan sebagai amunisi untuk menyerang. Padahal topik yang sedang dibahas adalah HAM.</p>
<p>Cawapres dari kubu 01 juga membuat penulis heran dengan berkali-kali mengatakan cukup. Memang, dalam debat capres peran presiden harus lebih dominan, akan tetapi terlalu pasif juga kurang baik.</p>
<p>Selain itu, banyak pertanyaan dari capres 02 tentang penyelesaian hukum dijawab oleh capres 01 dengan jawaban &#8220;kalau ada bukti, laporkan&#8221;. Kita semua tahu ada berapa kasus yang tak terselesaikan meskipun ada bukti-bukti yang cukup kuat.</p>
<p>Kok kubu 01 mulu yang dikritik? Oh tenang, penulis juga memiliki kritik untuk kubu 02, terutama jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh capresnya terkait penanganan korupsi.</p>
<h3>Yang Disorot dari Paslon 02</h3>
<p>Capres 01 menanyakan keputusan capres 02 yang mengijinkan kadernya yang mantan napi korupsi untuk kembali mencalonkan diri (walaupun capres 01 sendiri yang mengijinkan mantan napi korupsi untuk kembali mencalonkan diri).</p>
<div id="attachment_2064" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2064" class="size-large wp-image-2064" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/026405700_1547733258-20190117-Debat-Capres-2-1024x642.jpg" alt="" width="800" height="502" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/026405700_1547733258-20190117-Debat-Capres-2-1024x642.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/026405700_1547733258-20190117-Debat-Capres-2-300x188.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/026405700_1547733258-20190117-Debat-Capres-2-768x481.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/026405700_1547733258-20190117-Debat-Capres-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2064" class="wp-caption-text">Paslon 02 (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.acehbisnis.com/2019/01/17/ditanya-jokowi-soal-banyaknya-caleg-eks-koruptor-prabowo-joget-dan-dipijat-sandi/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwir5sO4rPvfAhWKPY8KHcOvChwQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">aceh bisnis</span></a>)</p></div>
<p>Capres 02 menjawab kurang lebih seperti &#8220;mungkin korupsinya sedikit, tidak seberapa, tapi masih diinginkan rakyat&#8221;. Jawaban yang meremehkan nominal korupsi ini penulis anggap sebagai blunder.</p>
<p>Mau berapapun yang <em>dientit</em>, korupsi tetaplah korupsi. Ia adalah salah satu pelanggaran hak asasi terbesar yang ada di kehidupan kita. Hukuman seberat-beratnya sudah sangat pantas diberikan kepada para koruptor.</p>
<p>Untuk cawapresnya sendiri, bagi penulis bisa memosisikan diri dengan baik. Tidak terlalu dominan, tapi juga tidak terlalu pasif.</p>
<p>Penulis tidak mempermasalahkan pernyataan capres 02 yang mengatakan &#8220;Jawa Tengah lebih besar dari Malaysia&#8221;. Bukan itu poin yang ingin disampaikan, melainkan besarnya tanggung jawab pemimpin daerah tidak sebanding dengan gaji yang didapatkan.</p>
<p>Akan tetapi, pendukung 01 ramai-ramai menyudutkan pernyataan ini, meskipun telah diklarifikasi yang dimaksud besar adalah jumlah penduduk (ya, penulis tahu betapa sering kubu 02 melakukan klarifikasi).</p>
<p>Bahkan gubernur Jawa Tengah sendiri menyatakan sudah <em>clear</em>, sehingga masalah &#8220;besar&#8221; ini tidak perlu lagi diperdebatkan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Pendukung kedua kubu sama-sama mengklaim kemenangan. Mereka merasa bahwa calon mereka menampilkan performa yang lebih bagus. Seperti biasa, mereka hanya menyebutkan kelebihan paslon yang didukung dan kekurangan lawannya. Tidak ada yang berimbang.</p>
<p>Semoga KPU mau mendengar masukan dari masyarakat yang menghendaki debat yang lebih bermutu, sehingga kita mendapatkan edukasi politik yang lebih baik lagi.</p>
<p>Bagi penulis sendiri, tidak ada pemenang dalam debat tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 20 Januari 2019, terinspirasi setelah menonton debat capres pertama</p>
<p>Foto:  <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://finroll.com/kpu-tidak-akan-berikan-lagi-kisi-kisi-untuk-debat-capres-selanjutnya/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjUrdGLrPvfAhXEQo8KHUISBAAQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Finroll.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/setelah-menonton-debat-capres-pertama/">Setelah Menonton Debat Capres Pertama</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/setelah-menonton-debat-capres-pertama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ada Apa dengan KPU?</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/ada-apa-dengan-kpu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/ada-apa-dengan-kpu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2019 11:51:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[KPU]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[pilpres]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[visi misi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2004</guid>

					<description><![CDATA[<p>Komisi&#160;Pemilihan&#160;Umum (KPU) tengah disorot oleh banyak mata karena keputusan yang dibuat akhir-akhir ini. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan media sosial menjadi riuh: pembatalan penyampaian visi misi dan pemberian soal pertanyaan sebelum debat capres dimulai. Penyampaian Visi Misi Yang pertama adalah penyampaian visi misi. Sebenarnya, kedua pasang capres-cawapres telah merilisnya dan siapapun bisa melihatnya. Mungkin, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/ada-apa-dengan-kpu/">Ada Apa dengan KPU?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Komisi&nbsp;Pemilihan&nbsp;Umum</strong> (KPU) tengah disorot oleh banyak mata karena keputusan yang dibuat akhir-akhir ini. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan media sosial menjadi riuh: pembatalan penyampaian visi misi dan pemberian soal pertanyaan sebelum debat capres dimulai.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Penyampaian Visi Misi</h3>



<p>Yang pertama adalah penyampaian visi misi. Sebenarnya, kedua pasang capres-cawapres telah merilisnya dan siapapun bisa melihatnya. Mungkin, pemaparan secara langsung akan menjabarkan poin-poin visi misi tersebut.</p>



<p>Kubu 01 menginginkan cukup tim sukses saja yang menyampaikan, sedangkan kubu 02 ingin langsung capres-cawapres yang memaparkan. Tidak ketemunya kata sepakat membuat KPU memutuskan untuk membatalkan acara penyampain visi misi tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="720" height="347" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/banner-nsb-vision-mission.jpg" alt="" class="wp-image-2006" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/banner-nsb-vision-mission.jpg 720w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/banner-nsb-vision-mission-300x145.jpg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption>Visi Misi (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.nsb.lk/about-us/vision-mission/">National Savings Bank</a>) </figcaption></figure>



<p>Menurut pandangan penulis, hal ini justru merugikan kubu 01. Terlepas apapun alasannya, tentu beberapa masyarakat menganggap capres-cawapres 01 tidak berani menjelaskan visi misinya dan hal tersebut bisa mempengaruhi elektabilitas mereka.</p>



<p>Bahkan di tingkat <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/tim-transisi-gen-x-swi/">pemilihan ketua Karang Taruna</a>, penulis mewajibkan masing-masing calon untuk menjelaskan visi misi mereka sendiri apabila nanti terpilih. Bukan karena tidak ada tim sukses, melainkan untuk mengetahui seberapa paham mereka akan tugas yang akan diemban selama tiga tahun ke depan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pertanyaan Debat Capres-Cawapres</h3>



<p>Selanjutnya yang tak kalah ramai adalah kontroversi soal pertanyaan debat yang akan diberikan beberapa hari sebelumnya. Sepengetahuan penulis, belum pernah sebelumnya ada pemberian soal pertanyaan sebelum debat. Kalau kisi-kisinya, mungkin iya, sama seperti Ujian Nasional.</p>



<p>Dari pengamatan penulis di media sosial terutama Twitter, kubu 02 sangat gencar mengeritik keputusan ini dan membuat berbagai analogi yang menarik. Kubu 01 terkesan tutup telinga seolah tidak mengetahui persoalan ini.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="670" height="335" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/prabowo-dinilai-tidak-fokus-dan-emosional-saat-debat-capres.jpg" alt="" class="wp-image-2005" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/prabowo-dinilai-tidak-fokus-dan-emosional-saat-debat-capres.jpg 670w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/prabowo-dinilai-tidak-fokus-dan-emosional-saat-debat-capres-300x150.jpg 300w" sizes="(max-width: 670px) 100vw, 670px" /><figcaption>Debat Tahun 2014 (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.merdeka.com/politik/prabowo-dinilai-tidak-fokus-dan-emosional-saat-debat-capres.html">Merdeka.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin saja maksud KPU baik, agar kedua pasangan calon bisa mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Toh ketika acara debat nanti masih ada pertanyaan-pertanyaan dari lawan, sehingga publik masih menilai kapasitas calon ketika mendapatkan pertanyaan mendadak.</p>



<p>Hanya saja, publik sudah jatuh skeptis terhadap kinerja KPU. Bahkan tokoh seperti <strong>Rizal Ramli</strong> menyatakan bahwa hal tersebut adalah kemunduran demokrasi.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Ada Apa dengan KPU?</h3>



<p>Sebelum dua hal tersebut mencuat, kita dihebohkan dengan penggunaan kotak suara yang terbuat dari kardus (atau bahan material lainnya?) dengan menghemat anggaran menjadi salah satu latar belakangnya.</p>



<p>Tentu berbagai sorotan tersebut membuat publik bertanya-tanya, ada apa dengan KPU? Perasaan kemarin-kemarin belum pernah ada kasus semacam ini.</p>



<p>Muncul berbagai prasangka buruk terhadap KPU, termasuk kenetralan yang dimiliki oleh mereka. KPU dianggap sebagai tidak tegas dan memihak salah satu calon tertentu. Sebagai wasit, seharusnya KPU bisa lebih berani dalam membuat keputusan.</p>



<p>Jangan sampai kejadian-kejadian seperti ini membuat masyarakat menjadi semakin <a href="http://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">apatis</a>. Seolah mereka tidak akan percaya apapun hasil pemilu yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 nanti.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Kebayoran Lama, 6 Desember 2018, terinspirasi dari gaduhnya media sosial terkait keputusan yang diambil oleh KPU</p>



<p>Foto:  <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.aktual.com/polri-siagakan-petugas-di-kantor-kpu-untuk-antisipasi-kisruh/">Aktual.Com</a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/ada-apa-dengan-kpu/">Ada Apa dengan KPU?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/ada-apa-dengan-kpu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Bibit Unggul</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2018 08:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bibit unggul]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1345</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya netizen yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari thread Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan. Apa Itu Bibit Unggul? Untuk yang belum tahu, thread tentang bibit unggul sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika negara api menyerang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya <em>netizen </em>yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari <em>thread </em>Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan.</p>
<p><strong>Apa Itu Bibit Unggul?</strong></p>
<p>Untuk yang belum tahu, <em>thread </em>tentang <strong>bibit unggul </strong>sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika <s>negara api menyerang</s> seorang pengguna Twitter (mari kita sebut dengan <strong>A</strong>) memberikan sebuah komentar terhadap <em>tweet</em> seorang animator (mari kita sebut dengan <strong>B</strong>).</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1347 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg" alt="" width="727" height="302" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg 727w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-300x125.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-356x148.jpg 356w" sizes="(max-width: 727px) 100vw, 727px" /></p>
<p>Mungkin komentar tersebut bernada candaan, yang dibuktikan dengan adanya <em>emoticon &#8220;</em>:p&#8221; di sana. Lantas berkembanglah debat seputar <em>attitude </em><strong>A</strong> yang dianggap <strong>B </strong>kurang sopan, hingga mengatakan bahwa ia sudah sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong> (mungkin untuk menunjukkan bahwa <strong>B </strong>lebih senior dari <strong>A</strong>?).</p>
<p>Nah, inilah yang memicu munculnya <em>tweet </em>kontroversial tersebut.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1349 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg" alt="" width="717" height="243" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg 717w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-300x102.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-356x121.jpg 356w" sizes="(max-width: 717px) 100vw, 717px" /></p>
<p><em>Sombong banget sih!</em></p>
<p>Sabar sabar, kita urai satu persatu meskipun penulis bukan orang komunikasi. Penulis hanya mengamati dari kacamata awam tanpa bermaksud sok pandai menganalisa kalimat. Harapannya, tentu dengan tulisan ini kita mendapatkan pelajaran-pelajaran demi menjadi insan yang lebih baik lagi.</p>
<p><strong>Ikut Campur Netizen</strong></p>
<p>Kalimat tersebut muncul, mungkin sebagai bentuk pembelaan diri dari <strong>A</strong> yang seolah tak terima ditegur oleh <strong>B</strong>. Sedangkan <strong>B </strong>mungkin merasa jengkel karena <em>tweet</em> seriusnya ditanggapi dengan kurang baik, sesuatu yang kita sendiri pun sering dibuat gusar olehnya.</p>
<p>Karena sama-sama merasa benar inilah (walaupun <strong>A</strong> yang lebih dominan sikap merasa benarnya) perdebatan ini melebar ke mana-mana, apalagi setelah <em>netizen </em>mulai ikut campur dengan ikut berkomentar. Bahkan situasi tetap memanas meskipun mereka telah mengonfirmasi untuk saling memaafkan.</p>
<p>Ikut campur <em>netizen </em>pun bermacam-macam. Ada yang mengutuk tindakan sombong <strong>A<em>, </em></strong>ada yang kagum dengan ketangguhan <strong>A </strong>dalam menghadapi <em>nyinyiran, </em>ada yang sempat-sempatnya membuat meme, hingga ada yang membuat <em>tweet </em>agar orang-orang seperti <strong>A</strong> tidak diterima dalam perusahaan (hingga papanya tidak terima dan akan membawanya ke ranah hukum).</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Yang patut diapresiasi, tidak ada di antara mereka berdua yang menghapus <em>tweet-tweet</em> yang membuat bumi gonjang-ganjing tersebut.</p>
</blockquote>
<p><strong>B </strong>mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan sebagai pelajaran untuk dirinya dan istrinya (yang sempat ikut <em>nimbrung</em> dalam perdebatan). Bagaimana dengan <strong>A</strong>?</p>
<p>Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, <strong>A </strong>terkesan bebal dengan mengutarakan kalimat-kalimat yang defensif (dan terkadang ditambah <em>counter attack </em>yang menyakitkan) ketika mendapatkan serangan-serangan dari <em>netizen</em>. Hal itulah yang semakin memancing emosi <em>netizen </em>untuk ikut berkomentar, walaupun banyak yang hanya membaca satu <em>tweet</em>, bukan secara keseluruhan.</p>
<p>Beberapa <em>netizen </em>juga mengatakan bahwa si <strong>A </strong>memang sedikit &#8220;berbeda&#8221; , tidak memiliki banyak teman, dan lain sebagainya. Tentu saja hal tersebut semakin membuat <strong>A </strong>tersudut dan mungkin karena itulah ia semakin bulat untuk mempertahankan diri.</p>
<p><strong>A</strong> tidak sendirian. Banyak yang mendukungnya untuk melawan <em>selebtweet</em> yang mereka anggap sok berkuasa di Twitter. Hal ini bisa dimaklumi karena memang banyak <em>selebtweet </em>yang ikut berkomentar tentang permasalahan ini, dan mayoritas dari mereka mencela perbuatan dan sikap <strong>A</strong>.</p>
<p>Bahkan jika dilihat jumlah <em>follower </em>Twitternya yang meningkat secara drastis (terakhir hampir mencapai 5.000 dari jumlah awal yang ratusan), jelas <strong>A</strong> mendapatkan banyak simpati dari orang. Bisa jadi, mendapatkan simpati ini membuat <strong>A </strong>semakin yakin untuk bersikukuh dengan sikapnya.</p>
<p>Apakah <strong>A</strong> mempertahankan <em>tweet</em>-nya sebagai bahan pelajaran untuk dirinya atau sekedar menjaga harga dirinya? Penulis serahkan ke pembaca.</p>
<p><strong>Memetik Pelajaran dari Bibit Unggul</strong></p>
<p>Manusia berbuat salah itu wajar, karena kita memang tempatnya salah. Tapi lebih salah lagi jika kita merasa tidak berbuat salah ketika berbuat salah. Lebih salah lagi jika kesalahan kita dianggap sebagai sesuatu yang benar.</p>
<p>Bingung?</p>
<p>Dilihat dari bahasa-bahasa yang ia gunakan pada Twitternya, <strong>A </strong>memang orang yang pandai. Hanya saja, seperti kata <em>netizen</em>, kepandaian tanpa sikap yang baik akan menjadi hal yang percuma.</p>
<p>Kita semua tentu sepakat bahwa kesombongan merupakan salah satu sifat yang tidak baik, meskipun konteksnya untuk membela diri. Ingat ketika kita masih kecil, jika ada teman yang memamerkan sesuatu, maka kita akan memamerkan apa yang kita punya. Semua demi menjaga harga diri, walaupun kita belum mengenal itu sewaktu kecil.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Harga diri jelas butuh kita jaga. Akan tetapi, terlalu menjaga harga diri sehingga berat untuk mengucapkan maaf tentu juga kurang elok. Terlalu menjaga harga diri sehingga kita berlaku sombong lebih tidak baik lagi.</p>
</blockquote>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>B </strong>mengatakan ia sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong>, lalu <strong>A </strong>meresponnya tanpa perlu menyebutkan prestasinya, mungkin kericuhan ini tidak perlu terjadi.</p>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>A </strong>berkomentar seperti itu disikapi dengan santai oleh <strong>B<em>, </em></strong>mungkin drama ini tidak pernah terjadi.</p>
<p>Seandainya <em>netizen </em>yang maha benar tidak terlalu ikut campur dengan berkomentar yang tidak perlu, nah ini yang agak susah diandaikan (kabuuuuuur).</p>
<p>Berlaku sombong itu salah, maka ada baiknya ketika ada yang mengingatkan kita berterimakasih. Kita patut bersyukur masih ada orang-orang yang peduli dengan kita. Rasanya lebih menyakitkan bukan jika tidak ada orang yang peduli dengan kita?</p>
<p><em>Ngeyel </em>terus sambil menutup telinga itu salah, maka ada baiknya jika kita sedikit menurunkan ego agar tidak <em>ngeyel </em>terus.</p>
<p>Merasa diri selalu benar itu salah, karena kita tempatnya salah. Jaya Suprana mengatakan bahwa manusia bisa berkembang karena terus mempelajari kekeliruan demi mencari kebenaran, yang disebutnya dengan Kelirumologi.</p>
<p>Semoga dengan adanya peristiwa ini, kita bisa memetik pelajarannya agar bisa menjadi manusia yang selalu lebih baik dari hari kemarin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 17 September 2018, terinspirasi setelah berjam-jam mempelajari <em>thread </em>bibit unggul di Twitter</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/">https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mendebatkan Hal yang Kurang Penting</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/mendebatkan-hal-yang-kurang-penting/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/mendebatkan-hal-yang-kurang-penting/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 09:20:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Games]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[fokus]]></category>
		<category><![CDATA[gempa Lombok]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Mice Cartoon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1174</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di Twitter (dan media sosial lainnya), sedang hangat perdebatan mengenai aksi presiden Jokowi dalam pembukaan Asian Games (18/08) kemarin. Bagaimana tidak, presiden mengendarai motor gede (moge) menuju lokasi upacara pembukaan even olahraga terbesar di Asia tersebut. Yang membuat ricuh adalah kenyataan bahwa presiden menggunakan stuntman dalam aksinya. Yang kontra Jokowi mengatakan bahwa beliau telah melakukan penipuan, sedangkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mendebatkan-hal-yang-kurang-penting/">Mendebatkan Hal yang Kurang Penting</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di Twitter (dan media sosial lainnya), sedang hangat perdebatan mengenai aksi presiden Jokowi dalam pembukaan Asian Games (18/08) kemarin. Bagaimana tidak, presiden mengendarai motor gede (moge) menuju lokasi upacara pembukaan even olahraga terbesar di Asia tersebut.</p>
<p>Yang membuat ricuh adalah kenyataan bahwa presiden menggunakan <em>stuntman </em>dalam aksinya. Yang kontra Jokowi mengatakan bahwa beliau telah melakukan penipuan, sedangkan pendukungnya membela dengan berkata mana mungkin lah seorang presiden melakukan atraksi berbahaya seperti itu.</p>
<p><div id="attachment_1176" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1176" class="size-full wp-image-1176" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/jokowi-moge_20180819_073323.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/jokowi-moge_20180819_073323.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/jokowi-moge_20180819_073323-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/jokowi-moge_20180819_073323-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-1176" class="wp-caption-text">Aksi Presiden (http://www.tribunnews.com/seleb/2018/08/19/aksi-presiden-pakai-moge-ke-asian-games-pukau-bule-australia-jokowi-disebut-seperti-tom-cruise)</p></div></p>
<p>Memang secara logika, jelas tidak mungkin seorang presiden benar-benar melakukan aksi yang dapat mengancam nyawanya. Bahkan jika Valentino Rossi seorang presiden, jelas tidak mungkin ia akan melakukan hal tersebut. Ini bukan kata saya, tapi penulis lupa siapa yang bilang seperti itu.</p>
<p>Tujuan penampilan yang dilengkapi dengan <em>teaser </em>tersebut mungkin bertujuan untuk memukau para penonton dan tamu-tamu penting yang duduk di bangku VIP. Jarang bukan seorang pemimpin negara melakukan pertunjukan yang anti <em>mainstream </em>seperti itu.</p>
<p>Masalahnya, mengapa hal tersebut harus didebatkan?</p>
<p>Salah satu komikus favorit penulis, Mice, mendeskripsikan permasalahan ini dengan sangat indah melalui komiknya yang ia unggak ke akun Instagramnya (<a href="https://www.instagram.com/p/BmsfSfKHXbD/?taken-by=micecartoon.co.id">https://www.instagram.com/p/BmsfSfKHXbD/?taken-by=micecartoon.co.id</a>).</p>
<p><div id="attachment_1175" style="width: 761px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1175" class="size-full wp-image-1175" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/2018-08-21_160418.jpg" alt="" width="751" height="541" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/2018-08-21_160418.jpg 751w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/2018-08-21_160418-300x216.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/2018-08-21_160418-354x255.jpg 354w" sizes="(max-width: 751px) 100vw, 751px" /><p id="caption-attachment-1175" class="wp-caption-text">Kritik Tajam (https://www.instagram.com/p/BmsfSfKHXbD/?taken-by=micecartoon.co.id)</p></div></p>
<p>Mice merasa prihatin dengan kondisi bangsa ini, mengapa kita mendebatkan hal-hal yang kurang penting dan justru mengabaikan saudara kita yang sedang terkena bencana di Lombok?</p>
<p>Yang senang dengan adegan presiden kemarin, janganlah terlalu melebih-lebihkan. Kita tidak memilih presiden karena dia bisa naik moge bukan?</p>
<p>Yang kurang senang, jangan terlalu nyinyir kepada pemimpin negara kita tersebut. Mungkin saja reaksi negatif tersebut terpicu dengan pernyataan pemerintah yang menyebutkan bahwa penetapan bencana nasional di Lombok akan berpotensi mengganggu sektor pariwisata.</p>
<p>Lebih baik, kita curahkan waktu dan tenaga kita untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti mendoakan saudara-saudara kita di Lombok.</p>
<p><em>Halah, emang lu udah ngapain buat bantu masyarakat Lombok? Sok bijak lu!</em></p>
<p>Justru dengan menulis tulisan ini, penulis berharap dapat memotivasi diri sendiri agar dapat memberikan konstribusi kepada para korban. Minimal, mendoakan dan mengajak para pembaca sekalian untuk berbuat hal yang sama, bahkan berbuat lebih.</p>
<p>Kurangilah debat-debat yang kurang penting, jangan berfokus kepada hal yang kurang tepat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mal, Bekasi, 21 Agustus 2018, terinspirasi dari komik Mice</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://time.com/money/4509419/presidential-debate-television-ads-commercials/">http://time.com/money/4509419/presidential-debate-television-ads-commercials/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mendebatkan-hal-yang-kurang-penting/">Mendebatkan Hal yang Kurang Penting</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/mendebatkan-hal-yang-kurang-penting/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kedunguan dalam Berdebat</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2018 02:26:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[argumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[dungu]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kedunguan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=627</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kata dungu akhir-akhir ini menjadi populer sekaligus kontroversi karena sering digunakan oleh Rocky Gerung dalam tweet-tweetnya. Orang-orang yang merasa tudingan dungu ditujukan kepada dirinya tentu merasa marah, meskipun dungu di sini dimaksud dalam kemampuan bernalar, bukan dungu secara personal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dungu memiliki makna: sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/">Kedunguan dalam Berdebat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kata dungu akhir-akhir ini menjadi populer sekaligus kontroversi karena sering digunakan oleh Rocky Gerung dalam <em>tweet-tweet</em>nya. Orang-orang yang merasa tudingan dungu ditujukan kepada dirinya tentu merasa marah, meskipun dungu di sini dimaksud dalam kemampuan bernalar, bukan dungu secara personal.</p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dungu memiliki makna:</p>
<p style="text-align: center;"><em>sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh;</em></p>
<p>Sedangkan kedunguan sama dengan kebodohan atau kebebalan. Kebodohan memiliki arti sifat-sifat bodoh atau ketidaktahuan. Jadi, judul di atas ingin menyampaikan tentang sifat-sifat bodoh yang dilakukan orang ketika berdebat.</p>
<p>Banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai kedunguan dalam berdebat, sebut saja menyebut data hoax. Namun pada tulisan kali ini, penulis hanya ingin menekankan satu perbuatan yang menurut penulis paling dungu di antara kedunguan lainnya.</p>
<p>Menyerang personal ketika kalah berdebat.</p>
<p>Hal ini kerap terjadi kepada orang-orang yang sudah tidak memiliki argumentasi dalam konteks perdebatan. Semua perkataannya telah dipatahkan oleh lawan debatnya, sehingga ia memutuskan untuk menyerang secara pribadi, baik fisik maupun psikis.</p>
<p>Biasanya, orang-orang seperti ini adalah tipikal orang yang tidak mau kalah meskipun salah.</p>
<p>Sebagai contoh, karena tidak memahami ucapan lawan bicaranya, ia mengalihkan pembicaraan:</p>
<p><em>&#8220;Masa wajah jelek kayak gitu bisa mimpin.&#8221;</em></p>
<p>Atau</p>
<p><em>&#8220;Pasti dia anak haram, makanya kelakuannya seperti itu.</em>&#8221;</p>
<p>Mungkin jenis-jenis kalimat seperti di atas jarang keluar di televisi. Akan tetapi, coba cek di media sosial. Astaga, benar-benar menyedihkan. Sedemikian dangkal pola pemikiran kita sehingga yang bisa kita lakukan hanya menyerang tanpa bisa mendebat konteks perbincangan.</p>
<p>Idealnya, kita menghargai lawan debat kita dan mengakui apabila argumen kita kalah dengan miliknya. Sayang, kedewasaan berdebat masih menjadi barang yang langka di negara ini. Atau, bahkan di dunia sekalipun?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 13 April 2018, terinspirasi setelah membaca linimasa twitter milik Rocky Gerung</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://vancouverdebate.ca/">https://vancouverdebate.ca/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/">Kedunguan dalam Berdebat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
