Dosa Terbesar Seorang Penjahat

Jika ditanya apa dosa terbesar seorang penjahat, apa jawaban kita? Tentu kita akan menjawab kesalahan terbesar mereka adalah melakukan kejahatan tersebut.

Apabila mereka dipenjara karena korupsi, maka kesalahan terbesar mereka adalah karena telah mencuri uang rakyat yang bukan haknya, padahal mereka sendiri telah dilimpahi harta melimpah.

Apabila mereka dipenjara karena memperkosa, maka kesalahan terbesar mereka adalah melecehkan wanita hingga pada taraf yang paling hina.

Apabila mereka dipenjara karena mengonsumsi obat-obatan terlarang, maka kesalahan terbesar mereka adalah tidak bisa menjaga diri dari pengaruh buruk lingkungan.

Kurang lebih, seperti itulah yang akan muncul di dalam benak kita. Akan tetapi bagaimana jika semua jawaban itu salah? Bagaimana jika kesalahan terbesar mereka adalah membuat kita merasa paling suci?

Ketika Melihat Orang Lain Salah…

Seorang Koruptor DItangkap (Media Indonesia)

Ini bukan murni hasil pemikiran penulis. Penulis mendapatkan gagasan ini dari Sujiwo Tejo pada salah satu cuitannya di Twitter. Ketika merenungkannya, penulis merasa apa yang dikatakan oleh dalang edan tersebut ada benarnya.

Ketika melihat koruptor, bisa jadi kita merasa lebih baik dari mereka karena tidak melakukan hal yang sama. Benarkah itu? Benarkah kita tidak pernah melakukan korupsi?

Padahal, bisa saja kita korupsi dalam bentuk yang lain. Korupsi waktu, korupsi nilai sekolah dengan menyontek, korupsi uang kecil-kecilan dengan tidak mengembalikan sisa uang belanja dari ibu, dan lain sebagainya.

Lantas, mengapa kita harus merasa lebih baik dari koruptor? Apakah hak kita untuk menganggap diri ini lebih baik hanya karena beberapa parameter yang punya peluang besar untuk salah?

Ada contoh yang lebih dekat. Masih ingat ketika ada dua orang wanita yang mengomel di media sosial karena tidak mendapatkan tiket Avengers: Endgame dan menuduh ada “orang dalam”?

Kebanyakan netizen langsung menghujani mereka dengan cacian dan tidak sedikit makian. Bahkan kenal pun tidak, kenapa jari-jari kita ini tidak bisa menahan untuk berbuat yang tidak perlu seperti itu?

Mereka salah, iya. Tuduhan mereka tidak berdasar, padahal itu karena mereka yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Tapi, apa hak kita menilai mereka hanya dengan cuplikan video selama beberapa detik itu?

Penulis merasa pendapat Sujiwo Tejo ada benarnya, meskipun tidak tahu bagaimana dasar hukumnya dalam agama. Merasa lebih baik itu termasuk ujub dan sombong. Kedua sifat tersebut merupakan dosa.

Bayangkan saja ada seorang penjahat melakukan kejahatan, lantas membuat satu juta orang yang melihatnya merasa lebih baik dari sang penjahat...

Daripada Menghakimi Seperti Itu…

Hakim di Media Sosial (The DI Wire)

Netizen kini seolah telah merangkap peran sebagai seorang hakim sosial dari setiap permasalahan. Mereka menjustifikasi sesuatu berdasarkan apa yang mereka yakini benar.

Memang tidak ada salahnya mengutarakan pendapat, karena itu merupakan hak kita. Akan tetapi, yang penulis sedihkan adalah cara penyampaiannya yang terkadang sama sekali tidak santun.

Daripada menghakimi orang lain seperti itu, kenapa kita tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai bahan interopeksi diri?

Setiap melihat kesalahan orang lain, jadikanlah kesalahannya tersebut sebagai pelajaran agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jangan sampai kita hanya ikut berkomentar tanpa mendapatkan manfaatnya.

Oleh karena itu, yuk berhenti merasa lebih baik dari penjahat yang tertangkap, berhenti menghakimi orang lain hanya dari media sosial.

Lebih baik kita fokus membangun diri yang lebih baik lagi dan belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.

 

 

Kebayoran Lama, 22 Juni 2019, terinspirasi dari banyaknya netizen yang suka main hakim sendiri di media sosial

Foto: Video Blocks