<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>distopia bagi kia Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/distopia-bagi-kia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/distopia-bagi-kia/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Oct 2019 17:15:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>distopia bagi kia Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/distopia-bagi-kia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Epilog: Sebuah Novel Untuknya</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/epilog-sebuah-novel-untuknya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Oct 2019 17:15:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[epilog]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2831</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Selamat ya, akhirnya novel perdanamu selesai.” kata Voni, salah seorang kenalan Rika di penerbit. “Iya, terima kasih banyak ya buat bantuannya.” jawab Rika sambil tersenyum puas seolah sedang melihat anak pertamanya. Rika menerima salah satu sampel novel yang sudah ditulisnya selama bertahun-tahun tersebut. Novel tersebut sudah ia tulis sejak ia duduk di kelas akselerasi dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/epilog-sebuah-novel-untuknya/">Epilog: Sebuah Novel Untuknya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Selamat ya, akhirnya novel perdanamu selesai.” kata Voni, salah seorang kenalan Rika di penerbit.</p>
<p>“Iya, terima kasih banyak ya buat bantuannya.” jawab Rika sambil tersenyum puas seolah sedang melihat anak pertamanya.</p>
<p>Rika menerima salah satu sampel novel yang sudah ditulisnya selama bertahun-tahun tersebut. Novel tersebut sudah ia tulis sejak ia duduk di kelas akselerasi dan mulai tinggal bersama Sarah. Karena berbagai hal, barulah novel ini jadi sekarang. Ia masih tak percaya bahwa akhirnya ia bisa mewujudkan impiannya sejak kecil, menulis sebuah novel dan menerbitkannya. Dulu ia sering diejek karena sering mencampuradukkan fantasi dan dunia nyata, namun lihatlah sekarang. Ia memberi judul novelnya <em>Distopia Bagi Kia</em>.</p>
<p>“Omong-omong, kenapa judulnya seperti itu? Jarang loh ada orang yang tahu apa arti distopia.” tanya Voni dengan penasaran.</p>
<p>“Hehehe, panjang deh ceritanya Von.”</p>
<p>Novel ini memang terinspirasi dari kisahnya sendiri yang memiliki masa lalu suram. Ia harus tinggal bersama orang yang sangat sering menyiksanya. Hal itu membuatnya merasa berada di sebuah distopia, di neraka dunia. Untunglah, ia bertemu dengan teman-teman yang baik, yang mau membantunya keluar dari permasalahan tersebut. Novel ini ia dedikasikan untuk teman-temannya.</p>
<p>Rika jadi teringat dengan Sarah. Awalnya, ia berniat untuk menggunakan kehidupannya sendiri sebagai latar belakang cerita. Akan tetapi setelah ditimbang-timbang, novelnya akan menjadi sangat suram. Ia pun mendapatkan ilham ketika mendengarkan cerita Sarah mengenai perasaan kesepiannya karena kesibukan orangtuanya. Maka, ia meminta izin ke saudara angkatnya tersebut untuk mengangkat kisahnya tersebut ke dalam novelnya. Sarah mengiyakannya tanpa perlu berpikir panjang. Setelah itu, imajinasi Rika lah yang menciptakan karakter-karakter lain, termasuk dunia cermin yang sangat berbau fantasi.</p>
<p>“Jadi, novel terbitan pertama ini mau kamu simpan sendiri atau mau kamu kasih ke seseorang spesial nih?” lagi-lagi Voni melontarkan pertanyaan.</p>
<p>“Aku udah janji ke seseorang buat ngasih buku perdanaku ke seseorang, jadi rasanya bakal aku kasih ke dia.”</p>
<p>“Cie, pacarmu ya?”</p>
<p>Rika hanya bisa tersenyum canggung. Tidak, ia tak pernah pacaran seumur hidupnya. Setidaknya, ia tak pernah peduli dengan hal tersebut. Baginya, ada orang yang mencintainya dengan sepenuh hati saja sudah lebih dari cukup. Kalau memang berjodoh, toh nantinya mereka akan berakhir di pelaminan. Rika sudah sering membayangkan hal tersebut, mengingat usianya sudah menginjak kepala dua. Akan tetapi, ia tak ingin terburu-buru. Biarlah ia menunggu sampai laki-laki tersebut melamarnya setelah menyelesaikan segala urusannya.</p>
<p>“Ya udah, aku balik dulu ya Von, sekali lagi terima kasih.” Rika memeluk temannya tersebut, lantas berbalik dan melangkah ke luar gedung.</p>
<p>Di luar sedikit gerimis, namun Rika membawa sebuah payung. Maka dengan perasaan riang gembira, ia melangkahkan kaki dengan ringan. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Selalu tampak ceria memang sudah menjadi sifatnya. Bedanya, ia tak pernah berpura-pura ceria untuk menutupi lukanya sekarang. Keceriaan yang ia tampakkan sekarang adalah keceriaan yang jujur.</p>
<p>“Leon, terima kasih untuk semuanya ya, novel pertamaku ini buat kamu.” gumam Rika kepada dirinya sendiri, sambil menatap langit yang kelabu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><strong>TAMAT</strong></p>
<hr />
<h3>Catatan dari Penulis</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis tersenyum lega setelah berhasil menyelesaikan novel <em>Distopia Bagi Kia </em>yang satu ini. Dibandingkan dengan novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> yang butuh bertahun-tahun, novel ini termasuk cepat proses penulisannya. Penulis memulai menggarap novel ini pada bulan Oktober tahun 2018, sehingga pengerjaan novel ini membutuhkan waktu satu tahun. Seperti yang sudah penulis sebutkan dulu sekali, novel ini terinspirasi dari imajinasi Ayu. Novel ini tidak akan lahir tanpa fantasinya yang luar biasa. Jadi, novel ini penulis dedikasikan untuknya.</p>
<p>Awalnya, penulis ingin rutin menulis setiap minggu satu bagian Distopia Bagi Kia dan satu bagian <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-2/">Leon dan Kenji (Buku 2)</a>. Setelah dijalani, ternyata berat sekali. Akhirnya, blog pun terpengaruh dan sering absen menulis. Akhirnya, penulis memutuskan untuk menunda dulu novel Leon dan Kenji dan berfokus untuk menamatkan novel ini terlebih dahulu.</p>
<p>Yang menyenangkan dari menulis novel ini adalah penggunaan sudut pandang ketiga yang membebaskan penulis. Alur cerita tidak terpatok hanya dari tokoh utama, kita juga bisa tahu bagaimana cerita berjalan dari karakter-karakter lain. Berbagai ide cerita juga muncul begitu saja ketika sedang mengetik di depan laptop.</p>
<p>Penulis juga belajar membangun karakter-karakter baru. Yang paling penulis dalami tentu saja karakter sang tokoh utama, Kia, yang sering menganggap dirinya merasa tidak berharga. Bisa jadi, ini merupakan jeritan hati penulis yang terkadang juga merasa seperti itu, hahaha.</p>
<p>Di dalam perjalanannya, penulis menonton beberapa anime yang karakternya seperti Kia. Sebut saja <strong>Sawako </strong>dari anime <em>Kimi Ni Todoke </em>atau <strong>Chiziru </strong>dari anime <em>ReLife</em>. Bayangan penulis tentang karakter Kia benar-benar tergambarkan oleh mereka. Bahkan, fisiknya yang berambut hitam panjang juga mirip. Padahal, penulis membuat karakter Kia jauh sebelum menonton anime-anime tersebut.</p>
<p>Karena bukan anak orang super kaya, penulis hanya bermodalkan ingatan kepada rumah-rumah orang kaya yang pernah muncul di televisi ataupun <em>reality show</em>. Bahkan, penulis menonton ulasan YouTube tentang mobil Mercedes yang ditumpangi oleh Kia untuk bisa benar-benar merasakan seperti apa berada di dalam mobil tersebut.</p>
<p>Ketika masuk ke dalam dunia cermin, penulis membayangkan lingkungan tempat Pak Kusno tinggal adalah desa tempat <em>rewang </em>penulis tinggal. Tentu, ada penambahan-penambahan tertentu seperti balai RW yang bisa menampung banyak orang dan kamar mandi umum yang digunakan bersama.</p>
<p>Pengalaman di Karang Taruna juga sedikit penulis sisipkan di sini. Alasannya, organisasi pemuda tersebut menjadi jalan termudah untuk Kia agar bisa merasakan yang namanya memiliki teman. Ketika berada di dunia tersebut, sangat sulit untuk membuat Kia bersekolah karena kondisi ekonomi Pak Kusno. Oleh karena itu, dibutuhkan wadah lain agar Kia bisa berinteraksi dengan orang lain. Apalagi, di sana ia menemukan bakatnya: mengajar.</p>
<p>Klimaks dari novel ini adalah ketika ada pihak-pihak yang ingin menyingkirkan Kia. Berbagai motif tersedia untuk mengusir Kia dari kampung dan mereka berhasil. Kia harus mengalami pengalaman pahit ketika harga dirinya hendak dijual, sebelum mengetahui bahwa itu semua merupakan rencana sang kakek untuk menyelamatkannya. Awalnya, penulis ingin mengakhiri novel ini di sini, namun penulis rasa apa yang Kia alami belum banyak membuatnya berubah.</p>
<p>Alhasil, ketika Kia kembali ke dunianya, ia menyadari bahwa hilangnya dirinya membawa dampak yang buruk. Mamanya meninggal dunia dan papanya kehilangan kewarasan. Ia yang tak tahu arah pun harus berakhir di panti asuhan. Di sana, ia baru menemukan betapa berharganya memiliki orangtua yang lengkap. Kia merenungi segala hal yang terjadi padanya dan berharap diberikan kesempatan kedua. Penulis mengabulkan keinginannya tersebut.</p>
<p>Dua bagian terakhir novel ini merupakan bagian yang membuat penulis sangat bersemangat. Kia memiliki kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah ia buat. Ia telah banyak berubah dan menjadi pribadi yang lebih hangat, berani mengungkapkan perasaan, dan menyadari apa yang ada di pikirannya selama ini tidak benar. Banyak orang yang menyayanginya.</p>
<p>Lantas, <em>timejump </em>pun terjadi dan Kia telah menjadi wanita dewasa. Melihat karakter yang dibuat sendiri telah berkembang sedemikian rupa bisa menimbulkan efek haru kepada penulis. Lucu memang, penulis akui hal tersebut.</p>
<p>Penulis membuat novel ini seolah-olah merupakan novel buatan Rika, salah satu karakter dari novel Leon dan Kenji. Alasannya, penulis ingin membuat semacam <em>universe</em> sendiri. Salah satu cara yang bisa penulis lakukan untuk menghubungkan novel ini dengan novel Leon dan Kenji adalah menjadikannya sebagai novel ciptaan Rika yang memang gemar menulis novel.</p>
<p>Setelah nanti novel Leon dan Kenji tamat, penulis sudah merencanakan untuk menulis dua atau tiga novel yang juga masih berkaitan dengan novel-novel yang sudah penulis tulis. Yang sudah ada konsep idenya adalah sebuah novel dengan Rika sebagai karakter utamanya. Sebelum itu, penulis harus segera menyelesaikan novel Leon dan Kenji (Buku 2). Jika tidak ada halangan dan tetap berisikan 50 <em>chapter </em>sesuai rencana, maka kemungkinan novel ini akan tamat pada lebaran tahun depan. Masih panjang memang, tapi penulis yakin bisa menyelesaikannya.</p>
<p>Terakhir, penulis ucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang sudah menyempatkan diri untuk membaca novel buatan penulis yang satu ini. Tak peduli seberapa sedikitpun yang membaca, hal tersebut sudah cukup untuk penulis jadikan energi dalam menulis novel ini.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/epilog-sebuah-novel-untuknya/">Epilog: Sebuah Novel Untuknya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagian 30 10 Tahun Kemudian</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-30-10-tahun-kemudian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Sep 2019 16:48:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[bagian 30]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2791</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Aqila, tolong bantu ambilkan handphone kakak di kasur, dong.” ujar Kia yang sedang sibuk merias diri di depan cermin. Posisinya yang sedang menggambar alis membuatnya tak bisa beranjak dari tempat duduknya. Untunglah, adik angkatnya Aqila sedang berada di kamarnya. “Ini kak, mau ke mana sih?” tanya Aqila sambil menyerakan ponsel kakaknya. Ia jarang melihat kakaknya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-30-10-tahun-kemudian/">Bagian 30 10 Tahun Kemudian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Aqila, tolong bantu ambilkan handphone kakak di kasur, dong.” ujar Kia yang sedang sibuk merias diri di depan cermin. Posisinya yang sedang menggambar alis membuatnya tak bisa beranjak dari tempat duduknya. Untunglah, adik angkatnya Aqila sedang berada di kamarnya.</p>
<p>“Ini kak, mau ke mana sih?” tanya Aqila sambil menyerakan ponsel kakaknya. Ia jarang melihat kakaknya merias diri di depan cermin. Artinya, kakaknya ini akan menghadiri sebuah acara penting bagi hidupnya.</p>
<p>“Mau meresmikan impian kakak semenjak sekolah. Mumpung sudah lulus kuliah, kakak punya sedikit waktu senggang sebelum masuk ke perusahaan papa. Kamu sih diajakin enggak mau.”</p>
<p>“Ih, Aqila kan ada les main biola. Bulan depan papa mau ada acara keluarga di sini, dan kakak tahu sendiri gimana papa. Selalu ingin membanggakan anak-anaknya.”</p>
<p>“Hehehe, gantian, dulu kakak juga sering banget les piano sampai jari-jarinya kakak keriting. Untung kamu punya bakat main biola, kalau enggak mungkin kamu disuruh mainin gendang!”</p>
<p>“Ih, kakak nakal!” kata Aqila sambil mencubit-cubit lengan Kia.</p>
<p>Kia tertawa ketika melihat ekspresi kesal yang ada di wajah Aqila. Adiknya ini telah menjadi gadis remaja cantik berusia 15 tahun. Dirinya sendiri telah berusia 27 tahun, telah menyandang gelar PHD bidang manajemen bisnis di salah satu kampus terbaik dunia untuk bidang tersebut. Dengan kemampuan otaknya yang cerdas, Kia bisa menembus ketatnya persaingan di sana, melawan mahasiswa-mahasiswa dari seluruh dunia yang juga mengincar gelar serupa.</p>
<p>Setelah lulus dengan waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan teman-teman kuliahnya, ia memutuskan untuk pulang agar bisa membantu papanya yang sudah menunjukkan isyarat akan segera pensiun. Dulu, tak pernah terbayang ia akan masuk ke dalam perusahaan papanya. Di dalam benaknya, hal tersebut merupakan neraka tambahan baginya. Namun sekarang pikirang tersebut sudah bisa ia enyahkan. Dengan senang hati ia akan meneruskan pekerjaan papanya, dimulai dari tingkat bawah dan mempelajari semua yang bisa dipelajari.</p>
<p>Meskipun begitu, Kia memiliki impian yang sudah lama ingin ia realisasikan. Baru sekarang lah ia memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian tersebut. Ia begitu bahagia dengan semua yang ia alami ini.</p>
<p>Kia mengecek ponselnya dan memeriksa pesan yang masuk. Lima belas menit lagi ia akan datang menjemput dan mengantarnya pergi ke acara penting tersebut.</p>
<p>***</p>
<p>Selesai berdandan, ia segera mencari mamanya yang biasanya sibuk di dapur. Semenjak pensiun dari dunia kerja, Bu Labdajaya sering melakukan eksperimen makanan dan banyak berhasil. Malah, Bu Labdajaya membuka sebuah restoran baru dan laris manis hingga membuka cabang di luar negeri. Bu Labdajaya hanya berperan sebagai pemilik, sehingga tidak terlalu sering meninggalkan rumah. Memang kalau otaknya sudah otak bisnis, apapun bisa menjadi lahan pemasukan.</p>
<p>“Ma, Kia berangkat dulu, ya.” kata Kia ketika menemukan mamanya sedang memegang senampan kue yang baru dikeluarkan dari oven.</p>
<p>“Sarapan dulu, nanti asam lambungmu naik lagi, loh.”</p>
<p>“Udah kok tadi, tenang aja aku bawa obat <em>maag</em>.”</p>
<p>“Dasar kamu, ya. Tapi kamu keliatan cantik banget hari ini.”</p>
<p>“Kan Kia mau ada acara penting.”</p>
<p>“Ada acara penting apa karena mau dijemput sama calon suami?”</p>
<p>Mendengar ucapan mamanya tersebut, Kia langsung tersipu malu. Dirinya belum pernah membicarakan masalah tersebut dengan laki-laki itu, walaupun beberapa kali sudah membayangkan. Di usianya yang sekarang ini, menikah adalah hal yang lumrah. Apalagi, mereka berdua berasal dari keluarga yang mapan sehingga tidak alasan untuk menunda pernikahan.</p>
<p>“Ih mama selalu gitu, Kia kan jadi malu.”</p>
<p>“Ya udah kamu hati-hati. Bilang sama Yoga, jangan mentang-mentang mobilnya canggih terus jadi seenaknya sendiri.”</p>
<p>“Tenang ma, Yoga kalau nyetir pelaaaaaan banget. Kalau ada semut lewat aja dia pasti berhenti dulu, nunggu semutnya lewat.”</p>
<p>“Kamu sayang ya sama Yoga?”</p>
<p>Sekali lagi pertanyaan mendadak dari mamanya membuat Kia merasa serba salah. Meskipun dirinya telah bisa bergaul dengan orang secara lebih baik, ia merasa tetap malu jika ditanya masalah cinta. Ia tak terlalu mengerti hal tersebut dan tak terlalu pandai mengekspresikannya. Wajar jika mamanya sering menggoda Kia.</p>
<p>“Ih mama, Kia enggak suka digoda kayak gitu.”</p>
<p>“Aduh, mama udah ingin gendong cucu nih, Aqila masih 15 tahun lagi, gimana ya caranya biar bisa dapat cucu.” Bu Labdajaya justru semakin menjadi-jadi dalam menggoda Kia.</p>
<p>Tidak ingin digoda lebih lanjut, Kia segera menyalami tangan mamanya yang masih menggunakan sarung tangan masak. Meskipun teknologi dapur sudah semakin canggih, Bu Labdajaya masih lebih suka menggunakan cara-cara tradisional. Katanya, kue dan masakan lebih enak jika prosesnya seperti ini.</p>
<p>Ketika Kia sudah berada di beranda rumah, terlihat Yoga dengan mobil elektriknya telah tiba, nyaris tanpa suara. Yoga memang seseorang yang sangat peduli dengan lingkungan. Ia sering melakukan aksi-aksi sosial untuk mengurangi polusi dan penggunakan bahan bakar fosil. Bahkan, ia sudah memiliki perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.</p>
<p>“Pagi Kia, cantik banget hari ini.” sapa Yoga ketika ia keluar dari mobilnya. Semenjak hubungan mereka makin dekat, Yoga tak pernah lagi menggunakan lo gue ketika berbicara dengan Kia.</p>
<p>“Pagi-pagi udah gombal kamu, ya. Ayo deh kita langsung berangkat.”</p>
<p>“Cie cie, pagi-pagi udah pacaran aja.” teriak Aqila dari jendela lantai atas. Seruannya tersebut membuat beberapa orang yang kebetulan sedang berada di dekat sana tertawa kecil.</p>
<p>“Aqilaaa!!!!” Kia berteriak untuk membuat adiknya bungkam, yang justru semakin membuat Aqila tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>“Adikmu yang satu itu memang sangat jahil, ya.” celoteh Yoga, sedikit tersipu mendengar teriakan tadi.</p>
<p>“Ya begitulah, padahal waktu pertama kali kenal dulu pendiam.”</p>
<p>“Iya, aku kan kenal lebih dulu dari kamu, pasti tahulah. Syukurlah, nampaknya ia bahagia semenjak tinggal di sini.”</p>
<p>“Iya. Omong-omong, bagaimana kabar Lia?” Kia menanyakan tentang mantan teman sekamarnya di panti asuhan tersebut, meskipun Lia tak ingat pernah tinggal sekamar dengan dirinya.</p>
<p>“Baik kok, dia sudah jadi pengajar di panti, walaupun cara ngajarnya agak nyeleneh.”</p>
<p>“Yah, dari dulu ia memang begitu kok. Tapi Lia baik dan cerdas kok.”</p>
<p>“Kalau enggak gitu ya mana mungkin ia diangkat jadi pengajar. Ya udah, berangkat yuk, takut keburu macet.”</p>
<p>Maka mereka berdua pun melintasi jalanan Jakarta yang sebenarnya sudah tidak terlalu ramai. Selain karena ibu kota telah dipindah, jenis transportasi umum yang tersedia pun makin beragam. Kesadaran masyarakat juga semakin tinggi. Kota ini, kota yang dulu tidak disukai oleh Kia, telah bertransformasi menjadi kota yang begitu ramah lingkungan.</p>
<p>“Pulangnya, mampir ke Kota Tua ya.” kata Kia tiba-tiba.</p>
<p>“Ada apa emangnya?”</p>
<p>“Enggak apa-apa, pengen aja. Emang enggak boleh?”</p>
<p>“Boleh kok, iya nanti kita ke sana.”</p>
<p>Setelah 30 menit perjalanan, Kia dan Yoga telah sampai di tempat tujuan. Sebuah gedung berlantai tiga terlihat baru saja diselesaikan pembangunannya. Kia akan memberikan nama tempat ini <strong>Ruang Belajar</strong>, sama seperti nama kegiatan mengajarnya ketika berada di dunia cermin tersebut. Bangunan ini akan menyediakan fasilitas gratis bagi siapapun yang ingin belajar, selama menunjukkan keinginan yang kuat. Harta keluarganya lebih dari cukup untuk membuat tempat ini, dan hari inilah peresmiannya.</p>
<p>Kia menjalani beberapa prosesi acara dengan baik, hingga puncak acaranya pemotongan pita. Beberapa orang sejak pagi telah mengantri untuk melakukan pendaftaran. Kia melihat orang-orang yang melakukan pendaftaran tidak sebatas anak-anak usia sekolah. Banyak orang dewasa yang juga ikut mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan ini.</p>
<p>Kia yang sedang mengamati para calon peserta tiba-tiba terdiam ketika melihat sepasang suami istri sedang ikut berbaris. Kia segera menghampiri mereka untuk memastikan ia tidak salah melihat.</p>
<p>“Pak Kusno dan Bu Imah?” tanya Kia dengan suara yang sedikit bergetar.</p>
<p>“Iya, mbak kok tahu nama kami?” jawab Pak Kusno dengan perasaan sedikit takut karena takut dirinya sudah melakukan hal yang salah.</p>
<p>Kia tak bisa membendung air matanya ketika melihat mereka berdua, meskipun ia tahu Pak Kusno dan Bu Imah tak pernah melihat dirinya. Ia tiba-tiba memeluk mereka berdua dan membuatnya menjadi tontonan orang-orang. Yang dipeluk bingung harus berbuat apa.</p>
<p>“Maaf maaf, bapak dan ibu mirip dengan kenalan saya, kebetulan namanya sama. Bapak dan ibu mau mendaftar di sini, kan? Silakan, semoga kami bisa membantu bapak dan ibu.”</p>
<p>Setelah berkata seperti itu, Kia meninggalkan mereka berdua yang nampak kebingungan. Yoga melihat hal ini dan bertanya kepada Kia apa yang terjadi.</p>
<p>“Enggak apa-apa kok, aku cuma kaget aja waktu lihat mereka. Aku harus pastikan mereka berdua mendapatkan apa yang dibutuhkan selama belajar di sini.” jawab Kia dengan mata yang masih berkaca-kaca.</p>
<p>***</p>
<p>Yoga menepati janjinya dengan mengantar Kia pergi ke Kota Tua seusai acara. Kia sendiri tidak tahu mengapa dirinya ingin pergi ke sana. Perasaannya yang menuntun dirinya pergi ke tempat yang sudah memberikannya banyak hal ketika ia masih gadis berusia 17 tahun. Mungkin, ia ingin berterima kasih kepada tempat tersebut, terutama cermin yang ada di museum tersebut.</p>
<p>Setelah menemukan tempat parkir, Yoga dan Kia berjalan bersama untuk masuk ke dalam Museum Sejarah Jakarta. Ketika berada di lantai dua, Kia segera mencari cermin raksasa yang membuat dirinya bisa masuk ke dunia lain. Anehnya, ia tidak berhasil menemukan cermin tersebut, bahkan setelah mengitari tempat tersebut berkali-kali.</p>
<p>“Yoga, kamu pernah tahu ada cermin antik yang ukurannya besar di museum ini, enggak?” tanya Kia kepada Yoga yang sudah memasang wajah kebingungan.</p>
<p>“Cermin? Seingatku enggak ada deh. Emang kapan kamu terakhir lihat?”</p>
<p>“Sepuluh tahun lalu, sewaktu kita masih SMA. Dulu ada cermin besar gitu, yang bikin…” Kia tak melanjutkan kalimatnya. Hingga hari ini, belum ada yang tahu kisahnya di dunia cermin. Mamanya pernah mendengar cerita tersebut, namun Kia mengatakannya sebagai mimpi.</p>
<p>“Mungkin sudah dipindah? Coba aku tanyain ke petugas museum.”</p>
<p>Yoga pun segera menghampiri salah satu petugas museum yang ada di dekat mereka. Sang petugas segera menjawab pertanyaan tersebut.</p>
<p>“Selama dua puluh tahun kerja di sini, enggak pernah ada cermin neng di sini. Yang ada paling ya lemari, meja, kursi, tapi enggak ada cermin.”</p>
<p>“Tuh Kia, enggak pernah ada cermin di sini.” ujar Yoga menambahkan.</p>
<p>Kia merasa bingung dengan kejadian ini, tapi memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih lanjut. Mungkin, sang kakek tua itulah yang telah membawa cermin itu ke mari, dan sang kakek pula yang membawa cermin itu keluar. Kia pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebelum beranjak pergi, ia berkata lirih yang ditujukan kepada museum.</p>
<p>“Terima kasih, karena telah mengeluarkanku dari distopia.”</p>
<p>***</p>
<p>Di belahan dunia lain yang tak seorang pun tahu di mana berada, seorang kakek tua sedang memegang tongkat pancingnya dengan sabar. Tak ada tanda-tanda ikan mau menggigit umpannya. Di sebelahnya, terdapat sebuah cermin ajaib yang mampu berubah wujud dan mengabulkan keinginan pemiliknya. Hanya aja, cermin tersebut hanya bisa digunakan oleh orang-orang yang berhati tulus dan tidak memiliki niatan jahat sama sekali. Tugas sang kakek adalah mencari orang yang membutuhkan bantuannya.</p>
<p>Untuk kasus Kia, perjalanan yang ia lalui memang harus panjang. Keinginannya sederhana, namun Kia tidak menyadari bahwa semuanya bergantung pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia harus mengalami berbagai peristiwa agar dirinya sadar dan permintaannya untuk hidup dengan penuh kasih sayang terkabulkan.</p>
<p>Tali pancing sang kakek tiba-tiba bergetar. Itu merupakan tanda bahwa ada seseorang yang sedang membutuhkannya.</p>
<p>“Ah, kali ini siapa yang akan membutuhkan bantuan cermin ini?”</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-30-10-tahun-kemudian/">Bagian 30 10 Tahun Kemudian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagian 29 Awal yang Baru</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-29-awal-yang-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Sep 2019 17:09:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[bagian 29]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2739</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kia terbangun pada pagi hari itu dengan kepala yang sedikit sakit. Tidurnya terasa sama sekali tidak nyenyak. Ia tidak begitu ingat mimpi apa ia semalam, kecuali dirinya seolah sedang tersedot lubang hitam dan menyeretnya dengan kecepatan cahaya. Anehnya, tubuhnya tidak hancur meskipun mendapatkan tekanan yang secara logika akan dengan mudah meluluhlantakkan tubuhnya. Ketika kesadarannya mulai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-29-awal-yang-baru/">Bagian 29 Awal yang Baru</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kia terbangun pada pagi hari itu dengan kepala yang sedikit sakit. Tidurnya terasa sama sekali tidak nyenyak. Ia tidak begitu ingat mimpi apa ia semalam, kecuali dirinya seolah sedang tersedot lubang hitam dan menyeretnya dengan kecepatan cahaya. Anehnya, tubuhnya tidak hancur meskipun mendapatkan tekanan yang secara logika akan dengan mudah meluluhlantakkan tubuhnya.</p>
<p>Ketika kesadarannya mulai pulih dan matanya mulai menangkap cahaya yang masuk, Kia baru menyadari keanehan yang terjadi. Ia tidak sedang berada di dalam kamar panti bersama Lia, melainkan di sebuah kamar mewah dengan perabotan yang lengkap. Sepiring makanan lengkap dengan segelas air putih telah tersaji di samping tempat tidurnya.</p>
<p>“I…ini di mana?” tanya Kia kebingungan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.</p>
<p>Beberapa detik kemudian, barulah Kia sadar bahwa dirinya tengah berada di kamarnya sendiri, di rumah keluarga Labdajaya. Kia terkena serangan panik ringan sehingga berusaha mencari pegangan untuk menjaga agar tubuhnya tetap tenang. Tak ada kalimat yang meluncur dari mulutnya. Ia benar-benar bingung dengan apa yang tengah terjadi pada dirinya.</p>
<p>“Apa aku sudah mati?” tanya Kia dalam hati.</p>
<p>Setahu Kia ketika seseorang mati, ia akan mengalami masa penghakiman terlebih dahulu sebelum Tuhan menentukan dirinya masuk neraka atau surga. Akan tetapi, semua ini terasa begitu nyata. Apakah ini mimpi dalam bentuk lain? Apakah sebenarnya masih belum terbangun dari tidurnya?</p>
<p>Kia mencoba untuk mencubit pipinya keras-keras, dan ia sedikit mengaduh karena kesakitan. Ternyata ini bukan mimpi, ini semua kenyataan. Tapi, bagaimana bisa? Jelas-jelas semalam setelah berbicara dengan Aqila, dirinya beranjak ke tempat tidur dan merenungkan banyak hal. Ia bahkan berharap bahwa dirinya diberikan kesempatan ulang untuk memulai semuanya dari awal.</p>
<p>Ataukah harapannya tersebut benar-benar terkabul?</p>
<p>Hal pertama yang melintas di pikiran Kia adalah mencari orang-orang rumah, para pelayan rumah yang selama ini telah setia mengabdi untuk keluarga Labdajaya. Setelah menenggak air putih yang ada di sebelahnya, ia segera keluar dari kamar tersebut dan mencari orang yang bisa ditanya.</p>
<p>“Halo, apakah ada orang di sini? Halooo!” jerit Kia ke sana ke mari, mencari siapapun yang mendengar suaranya. Tak lama kemudian, muncullah pak Budi, kepala rumah tangga keluarga Labdajaya.</p>
<p>“Non Kia? Ada apa pagi-pagi teriak-teriak? Nona sakit?” tanya Pak Budi dengan khawatir. Bagaimana tidak, jika sampai Kia sakit, ia yang harus bertanggung jawab.</p>
<p>“Pak Budi, sekarang tanggal berapa?” tanya Kia kepada Pak Budi dengan tergesa-gesa. Sejak dulu, Kia tidak pernah dekat dengan Pak Budi sehingga pertemuannya ini terasa biasa saja.</p>
<p>Pak Budi pun menyebutkan sebuah tanggal yang ternyata persis hari ulang tahun Kia satu tahun yang lalu, sebelum Kia memutuskan untuk pergi ke dunia cermin. Kia terkejut mendengar hal ini hingga ia terjatuh dalam posisi duduk.</p>
<p>“Non Kia! Pusing, ya? Saya antar ke kamar, ya. Setelah ini, saya panggilkan dokter Andreas langganan kita.” kata Pak Budi sembari berusaha membantu Kia berdiri kembali.</p>
<p>“Enggak apa-apa pak, saya enggak apa-apa. Saya cuma kaget.”</p>
<p>Kia menyadari bahwa dirinya telah kembali ke masa lalu, ke masa ketika semua masih baik-baik saja, ke masa ketika dirinya belum bertemu dengan kakek tua dan masuk ke dalam dunia cermin. Apakah ia bisa kembali ke sini karena bantuan sang kakek? Di mana ia bisa bertemu dengan kakek tersebut sekarang untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi? Sebelum menemukan jawaban tersebut, Kia tahu harus berbuat apa sekarang.</p>
<p>“Maaf Pak Budi, saya kembali ke kamar dulu, ya. Terima kasih.”</p>
<p>Dengan sedikit berlari, Kia segera masuk ke kamar dan mencari ponselnya. Setelah itu, ia mencari nomor mamanya dan segera menghubunginya. Mamanya bisa aja sedang berada di luar negeri atau sedang rapat penting, sehingga ia tidak berharap telepon darinya langsung diangkat.</p>
<p>Namun Kia keliru. Mamanya menjawab telepon tersebut.</p>
<p>“Halo sayang, ada apa? Tumben telepon jam segini? Di sana masih pagi, kan?”</p>
<p>Mendengar suara mamanya, Kia langsung menangis keras-keras. Mamanya pun terdengar kebingungan karena tidak bisa melihat wajah Kia secara langsung.</p>
<p>“Kia sayang, kamu kenapa? Mama <em>video call, </em>ya.”</p>
<p>Jantung Kia berdebar dengan begitu kencangnya. Ia belum siap bertatap muka dengan mamanya. Akan tetapi, ia tidak bisa mengabaikan panggilan <em>video call </em>yang sedang berdering. Ketika ia mengangkat panggilan tersebut, terlihat wajah mamanya yang terlihat khawatir.</p>
<p>“Kenapa sayang, kamu ada masalah? Mama masih di California nemenin papamu, tapi besok lusa mampir Jakarta, kok.”</p>
<p>Kia belum bisa berhenti menangis. Bu Labdajaya juga nampak sabar menunggu Kia bisa bicara dengan baik. Beberapa orang rumah sedang berdiri di ambang kamar pintu, mengamati Kia dari kejauhan. Mereka tidak pernah melihat Kia seemosional ini. Selama ini, kapan pun dalam peristiwa apapun, Kia selalu terlihat memasang wajah datar tanpa ekspresi.</p>
<p>“Ki…Kia kangen sama mama, Kia ingin ketemu sama mama.” ujar Kia setelah bisa menghentikan tangisnya untuk sesaat.</p>
<p>“Iya, mama juga kangen, besok lusa kita ketemu, ya.”</p>
<p>“Kia mau tinggal sama mama, Kia enggak mau ditinggal lagi sama mama.”</p>
<p>Bu Labdajaya tercenung mendengar perkataan Kia ini. Selama ini, Kia tidak pernah protes walaupun harus selalu ditinggal oleh kedua orangtuanya sehingga tidak pernah menyadari perasaan Kia yang seperti ini. Melihat anak semata wayangnya berada dalam kondisi merana, ia pun meneteskan air mata karena merasa bersalah.</p>
<p>“Maaf ya Kia, maafin mama udah terlalu sibuk buat kamu. Nanti mama bicarakan sama papa dulu, ya. Enggak mungkin mama tiba-tiba pensiun dari dunia kerja. Kamu yang sabar, ya. Mama usahakan untuk pulang duluan.”</p>
<p>Kia menganggukkan kepala, lantas mematikan <em>video call </em>tersebut. Setelah itu, ia naik ke atas tempat tidurnya dan kembali menangis. Dari percakapan barusan, Kia bisa melihat apa yang selama ini tidak terlihat: kasih sayang mamanya. Selama ini ia dibutakan oleh pikirannya sendiri sehingga tidak bisa melihat hal tersebut. Jika keajaiban ini tidak pernah terjadi, mungkin untuk selamanya Kia tidak akan mengerti.</p>
<p>***</p>
<p>Keesokan harinya, Kia memutuskan untuk tidak masuk sekolah terlebih dahulu. Ia masih berada dalam kondisi yang belum stabil. Selain itu, ia juga belum tahu harus berbuat apa ketika bertemu dengan teman-teman kelasnya nanti. Ia harus bertemu dengan orangtuanya terlebih dahulu agar bisa merasa lebih tenang. Mamanya kemarin malam sempat menelepon bahwa ia telah membeli tiket pulang ke Jakarta, sedangkan papa masih harus tinggal sebentar di Amerika. Sesuai jadwal, harusnya sore ini Bu Labdajaya sudah tiba di Jakarta.</p>
<p>Kia gelisah seharian menanti kedatangan orangtuanya. Apa yang ada di dalam hati Kia sekarang adalah perpaduan antara rasa rindu dan bersalah. Ia tidak tahu harus berbuat apa ketika bertemu dengan mereka. Bagi dirinya, ia telah satu tahun lebih tidak bertemu dengan orangtuanya. Walaupun begitu, seharusnya dirinya di masa ini tidak pernah menghilang, sehingga orangtuanya juga tidak pernah merasa kehilangan dirinya.</p>
<p>Detik demi detik rasanya sangat lama bagi Kia. Tidak pernah rasanya ia menantikan sesuatu seperti sekarang. Sejak pagi, ia sudah berada di beranda rumah dengan cemas. Pak Tejo, supir Kia, melihat anak majikannya tersebut dan berinisiatif untuk mendekatinya.</p>
<p>“Non enggak sabar buat ketemu mama, ya?” tanya pak Tejo dengan nada yang hangat.</p>
<p>“Iya pak, rasanya kayak udah enggak ketemu setahun.”</p>
<p>Kemarin, Kia sempat bertemu dengan Pak Tejo dan kembali menangis. Ia teringat kesalahannya dulu yang membuat pak Tejo dipecat oleh papanya. Kia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dirinya tidak akan pernah berbuat hal-hal yang aneh dan membuat Pak Tejo diberhentikan dari pekerjaannya.</p>
<p>“Non mulai kemarin agak beda dari biasanya. Ada apa?” tanya Pak Tejo mencoba membuka pembicaraan.</p>
<p>“Enggak ada apa-apa kok, pak. Kia cuma baru menyadari betapa besar cinta orangtua Kia selama ini, meskipun mereka enggak punya waktu untuk Kia.”</p>
<p>“Begitu, ya sudah non sabar ya, sebentar lagi mama datang kok.” kata Pak Tejo sembari meninggalkankan Kia duduk sendirian.</p>
<p>Kia tersenyum manis ke Pak Tejo. Seharusnya, ia dari dulu harus lebih banyak bersyukur karena telah dikelilingi oleh orang-orang yang peduli kepadanya.</p>
<p>***</p>
<p>Apa yang dinanti oleh Kia akhirnya datang juga. Sebuah mobil Mercedez-Benz masuk ke dalam pekarangan. Kia tahu, ada mamanya di dalam. Begitu berhenti di depan rumah, keluarlah Bu Labdajaya dengan anggunnya. Kia yang melihat mamanya langsung berlari dan memeluknya dengan erat sambil menangis. Bu Labdajaya hampir saja terhuyung jatuh jika tidak berhasil menjaga keseimbangan.</p>
<p>“Sudah sudah, yuk kita masuk dulu, kita ngobrol di dalam.” kata Bu Labdajaya sembari mengelus rambut Kia yang terurai panjang.</p>
<p>Mereka pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga. Bu Labdajaya dengan sabar berusaha menenangkan Kia yang terus memegangi mamanya sambil menangis. Butuh waktu yang cukup lama hingga Kia mampu bersuara dengan normal.</p>
<p>“Sebenarnya kamu kenapa, nak? Baru kali ini mama lihat kamu seperti ini.” tanya Bu Labdajaya sambil menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Kia.</p>
<p>“Kia kangen sama mama, Kia mau minta maaf sama mama karena udah jadi anak yang buruk.” tangis Kia kembali tumpah.</p>
<p>“Kata siapa kamu anak yang buruk? Mama sama papa itu bangga sama kamu. Mungkin papa kalau di depan kamu terlihat tegas dan galak, padahal kalau sedang ngobrol sama teman-temannya, pasti yang dibicarakan itu kamu. Papa kayak gitu itu karena enggak bisa berekspresi aja, apalagi orangnya agak jaim.”</p>
<p>“Kia kemarin malam mimpi buruk, ma. Itu yang bikin Kia kangen sama mama.”</p>
<p>“Memang mimpi apa?”</p>
<p>Maka Kia pun menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir, mulai dari masuk ke dunia cermin hingga kembali lagi ke dunia ini dan menemukan mamanya telah meninggal. Ketika bercerita bagian ini, Kia kembali menangis lagi.</p>
<p>“Mimpimu panjang juga ya, sayang. Pantas kamu sampai khawatir gini.”</p>
<p>“Mama jangan tinggalin Kia lagi, Kia ingin mama ada di rumah.”</p>
<p>“Omong-omong soal itu, sebenarnya mama juga udah lama kepikiran buat pensiun dini. Kemarin juga udah ngobrol sama papa, dan papa setuju. Hanya saja, mungkin mama baru bisa berhenti total dua bulan lagi. Kia mau kan menunggu mama sampai saat itu?”</p>
<p>Kia menganggukkan kepala. Asalkan ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan orangtuanya, itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak akan merasa kesepian lagi. Tiba-tiba, Kia teringat sesuatu.</p>
<p>“Ma, Kia boleh adopsi adik dari panti asuhan?”</p>
<p>Bu Labdajaya terkejut mendengar perkataan Kia. Ia sama sekali tak menyangka pertanyaan tersebut akan keluar dari anaknya.</p>
<p>“Boleh saja, tapi harus izin papa dulu ya. Selain itu, harus dari panti asuhan yang mama kelola, ya.”</p>
<p>“Mama punya panti asuhan?”</p>
<p>“Bukan punya, cuma mama sering bantu ngurus. Nama panti asuhannya…”</p>
<p>“Harapan Bunda.” potong Kia secara mendadak.</p>
<p>“Kok kamu tahu? Padahal selama ini mama merahasiakannya, loh.”</p>
<p>“Aku tahu aja ma, lupa dari mana.”</p>
<p>“Mama juga punya teman yang sama-sama jadi pengelola. Dia juga punya anak yang satu sekolah sama kamu, nama anaknya siapa ya, laki-laki gitu.”</p>
<p>“Yoga.”</p>
<p>“Iya, kalau enggak salah, kamu kenal?”</p>
<p>“Belum.”</p>
<p>“Belum?”</p>
<p>“Kia belum kenal sama dia, tapi Kia satu kelas kok sama dia.” kata Kia sambil tersenyum manis kepada mamanya. Berkat percakapan ini, ia ingin segera masuk sekolah keesokan harinya.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah diantar oleh Pak Tejo seperti biasa, Kia merasa bersemangat ketika melihat pintu depan sekolahnya. Ia tak pernah merasa sesemangat ini ketika datang ke sekolah. Kiia bertekad, untuk memulai kehidupan baru di sekolahnya dan mencari lebih banyak teman, sesulit apapun. Ia bisa memulainya dengan Yoga.</p>
<p>Sebelum memasuki kelas, Kia menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan keberanian untuk bisa tampil lebih hangat dan bersemangat. Pengalamannya di dunia cermin menumbuhkan keberanian di dalam dirinya.</p>
<p>“Selamat pagi semua!” kata Kia dengan berusaha seceria mungkin ketika masuk ke dalam kelas. Teman-teman kelasnya pada terkejut ketika melihat Kia yang selama ini selalu murung bisa menyapa mereka dengan penuh energi.</p>
<p>“Pagi, Yoga.” sapa Kia kepada teman sebangkunya itu.</p>
<p>“Eh, pagi Kia. Tumben banget lo sesemangat ini? Baru kali ini lo nyapa gue. Gara-gara sakit kemarin, ya?” tanya Yoga dengan tatapan penuh selidik.</p>
<p>“Enggak kok, lagi seneng aja. Maaf ya, setelah ini aku bakal lebih baik lagi dalam berteman kok!”</p>
<p>Ketika guru telah datang memanggil nama murid satu per satu, Kia berusaha menghafal nama mereka semua. Setidaknya, Kia harus bisa menjalin hubungan baik dengan teman-temannya yang ada di kelas ini. Mungkin, kecuali dengan Melissa dan gerombolannya.</p>
<p>“Yoga, besok ada tugas kelompok sejarah, aku satu kelompok dengan kamu, ya.” kata Kia ketika jam istirahat telah masuk.</p>
<p>“Kok lo tahu besok bakalan ada tugas sejarah?”</p>
<p>“Emmm, <em>feeling </em>aja mungkin? Boleh, ya?”</p>
<p>“Boleh aja sih, tapi biasanya lo sama golongannya Melissa, ya?”</p>
<p>“Iya sih, tapi mereka enggak pernah mau kerja tugas. Aku doang yang kerja.”</p>
<p>“Lagi ngomongin gue, nih?” tiba-tiba Melissa datang ke bangku Kia dan Yoga. Ternyata, dari tadi ia menguping pembicaraan mereka berdua. Anehnya, Kia sama sekali tidak merasa gentar.</p>
<p>“Iya.” kata Kia dengan tersenyum.</p>
<p>“Maksud lo ngomong gitu apaan? Lo merasa kepinteran gitu?”</p>
<p>“Aku enggak mau lagi jadi budak kalian, yang cuma nunggu tugas selesai tanpa pernah mau membantu.”</p>
<p>“Sok banget sih lo, mau gue gampar?”</p>
<p>“Eh Mel, sekali lo berani ngapain-ngapain Kia, gue yang ngadepin lo.” kata Yoga dengan nada tinggi, membuat teman-teman kelas lain ikut menoleh.</p>
<p>Melissa yang terkejut melihat hal ini memutuskan untuk mundur dan pergi keluar kelas. Kia merasa senang karena Yoga membelanya dengan begitu gagah.</p>
<p>“Makasi Yoga.”</p>
<p>“Sama-sama. Gue paling gak suka sama cewek kayak gitu.”</p>
<p>“Tapi Kia tadi berani banget, gue sampai kaget.” Tessa, teman Kia yang duduk di depannya, memberikan apresiasi tinggi kepada Kia.</p>
<p>“Makasi Tessa, aku cuma berusaha membela diri.”</p>
<p>“Tapi enggak nyangka ya Kia yang selama ini terkenal pendiam bisa kayak gitu. Gue salut sama lo.” kali ini Ryan, teman sekelas yang duduk di depan Yoga, yang berbicara.</p>
<p>“Tenang Kia, kita semua pada enggak suka kok sama Melissa karena kesombongannya. Kalau sampai lo kenapa-napa, pasti kita belain.” ujar Tessa lagi.</p>
<p>Kia, yang melihat teman-temannya berbicara dengan dirinya, merasa begitu senang hingga dirinya menitikan air mata. Ternyata, semua masalah yang terjadi selama ini adalah karena dirinya sendiri yang tertutup. Teman-teman kelasnya ternyata baik-baik dan terbuka. Hanya satu perubahan kecil saja, ia telah berhasil mengobrol dengan mereka secara alami. Kia benar-benar bersyukur telah diberikan kesempatan untuk memulai lagi semuanya dari awal.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-29-awal-yang-baru/">Bagian 29 Awal yang Baru</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagian 28 Seandainya Saja</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-28-seandainya-saja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Sep 2019 15:27:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[bagian 28]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2704</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berkat Yoga, Kia bisa menjadi sedikit lebih dekat dengan Aqila. Gadis kecil tersebut tidak lagi menghindari Kia. Kalaupun dipanggil, ia akan menghampiri Kia tanpa merasa takut seperti yang dulu ia tunjukkan. Kia merasa senang dengan perkembangan ini, walaupun ikatan yang ada sekarang belum sekuat dengan ikatannya dengan Qila dulu. Kia maklum, bagaimanapun ia belum lama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-28-seandainya-saja/">Bagian 28 Seandainya Saja</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berkat Yoga, Kia bisa menjadi sedikit lebih dekat dengan Aqila. Gadis kecil tersebut tidak lagi menghindari Kia. Kalaupun dipanggil, ia akan menghampiri Kia tanpa merasa takut seperti yang dulu ia tunjukkan. Kia merasa senang dengan perkembangan ini, walaupun ikatan yang ada sekarang belum sekuat dengan ikatannya dengan Qila dulu. Kia maklum, bagaimanapun ia belum lama kenal dengan Aqila.</p>
<p>Di suatu sore yang cerah, seperti biasa Kia sedang menyibukkan diri di taman. Beberapa hari yang lalu, Kia mengusulkan agar panti asuhan memiliki lahan khusus untuk tanaman toga. Dengan demikian, panti bisa memiliki banyak stok bahan herbal untuk mengobati anak-anak yang sakit. Usulan tersebut langsung disetujui oleh semua pengurus panti dan sekarang Kia sedang menanam bibit-bibitnya, dibantu beberapa staf dan anak-anak panti yang juga ikut bersemangat.</p>
<p>Kia sedang menanam bibit sambiloto ketika Aqila secara tiba-tiba muncul di sebelah kanannya.</p>
<p>“Itu tanaman apa kak?”</p>
<p>Kia terkejut mendengar suara Aqila karena sedang berada dalam kondisi fokus. Diawali dengan terkikih ringan, Kia pun mulai menjelaskan tanaman yang barusan ia tanam.</p>
<p>“Ini namanya sambiloto Aqila. Tanaman ini punya banyak manfaat buat kamu, loh.” jawab Kia dengan nada ceria.</p>
<p>“Oh iya? Apa contohnya?”</p>
<p>“Misalnya badanmu lagi demam, dengan tanaman ini bisa bantu nurunin panasmu. Selain itu, tanaman ini bisa juga jadi obat sakit perut seperti kembung.”</p>
<p>“Hooo begitu. Aqila boleh bantu?”</p>
<p>“Boleh dong, sini sini.”</p>
<p>Maka Kia menuntun Aqila dengan telaten untuk melakukan apa yang harus dilakukan setelah bibit tertanam. Aqila pun menuruti setiap perkataan Kia dengan baik untuk ukuran anak seusianya. Sore itu, mereka berdua menghabiskan waktu berkualitas bersama yang membuat Kia terus tersenyum.</p>
<p>***</p>
<p>Malamnya, Kia kebagian jadwal patroli untuk mengecek apakah anak-anak di dalam panti sudah berada di tempat tidurnya masing-masing. Ini merupakan salah satu aktivitas favorit Kia karena membuatnya bisa melihat wajah-wajah polos yang sedang terlelap. Entah sejak kapan, Kia jadi suka dengan anak kecil. Jelas, pengalaman hidup satu tahun di dunia cermin tersebut memberikan andil yang besar untuk perubahan ini.</p>
<p>Saat masuk ke dalam ruangan Aqila, Kia kaget karena tidak menemukan anak tersebut di tempat tidurnya. Padahal, teman-teman sekamar Aqila sudah berpetualang ke alam mimpi. Tidak ingin membuat keributan, Kia segera mencari Aqila di sekitar panti.</p>
<p>Yang dicari ternyata sedang duduk sendirian di salah satu bagian bangunan panti yang menghadap taman. Aqila nampak termenung sembari menatap tanaman toga yang baru saja ia tanam tadi sore bersama Kia. Melihat itu, Kia menghampiri Aqila dengan tenang. Ia tahu, ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Aqila.</p>
<p>“Kok belum bobok?” tanya Kia setelah duduk di sebelah Aqila.</p>
<p>“Enggak bisa tidur kak.” jawab Aqila lirih.</p>
<p>“Kenapa? Sedang kepikiran sesuatu? Coba sini cerita sama kakak.”</p>
<p>Aqila memain-mainkan kakinya, menunjukkan kebimbangan yang ada di dalam pikirannya. Kia dengan sabar menanti hingga anak tersebut berkenan untuk buka suara.</p>
<p>“Aqila tiba-tiba ingin tahu kak, kenapa Aqila bisa ada di sini. Kalau sedang pergi keluar buat beli jajan, Aqila lihat ada anak-anak yang seumuran sedang makan sama papa dan mamanya. Awalnya Aqila enggak mikirin itu, tapi makin lama Aqila jadi kepikiran.”</p>
<p>Kalimat tersebut membuat Kia terdiam seribu bahasa. Ia tak menyangka anak seusai Aqila sudah memikirkan hal tersebut. Kia pernah mendengar tentang kisah bagaimana Aqila bisa berakhir di panti asuhan ini dari bu Lidia. Mama dari Aqila hamil di luar nikah, dan ia tidak tega untuk membuang anaknya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menitipkan anak itu di panti ini karena merasa tak mampu menafkahi Aqila. Hingga hari ini, Aqila belum pernah tahu cerita ini. Kia pun merasa kebingungan bagaimana harus merespon Aqila.</p>
<p>“Tapi kan di sini Aqila punya kakak, punya temen-temen yang lain.” jawab Kia pada akhirnya.</p>
<p>“Iya sih kak, apalagi kak Kia juga baik banget ke Aqila. Tapi Aqila juga ingin merasakan kasih sayang orangtua. Padahal, Aqila enggak masalah punya orangtua yang sibuk ataupun pemarah, itu lebih baik daripada enggak tahu siapa orangtua Aqila.”</p>
<p>Kalimat tersebut diucapkan secara perlahan, namun sangat menusuk perasaan Kia. Ia selama ini selalu mengeluhkan orangtuanya yang sibuk dan tak punya waktu untuk dirinya. Ia selalu merasa tersiksa akibat ayahnya yang suka memaksakan kehendaknya. Ia tak pernah memikirkan bagaimana seandainya ia tak punya orangtua seperti sekarang, seperti yang Aqila alami selama ini. Ia benar-benar anak yang tak pandai bersyukur. Merenungi hal tersebut, air mata Kia justru tumpah dan membuat Aqila terkejut.</p>
<p>“Kak, kenapa nangis?”</p>
<p>Butuh beberapa waktu yang tidak sebentar bagi Kia untuk bisa menenangkan dirinya. Ia menghapus air matanya dengan pergelangan tangannya. Setelah beberapa tarikan napas, Kia mulai bercerita ke Aqila.</p>
<p>“Kakak dulu punya orangtua yang sangat sibuk. Kami bertemu mungkin hanya satu bulan sekali. Mama sebenarnya sangat sayang sama kakak, hanya saja kewajiban bekerja membuat ia tak punya banyak waktu untuk kakak. Papa kakak sangat keras. Kakak harus menuruti semua keinginannya walaupun bertentangan dengan keinginan kakak sendiri. Sekarang kakak sadar, sebenarnya papa seperti itu hanya karena menginginkan yang terbaik untuk kakak.</p>
<p>“Akhirnya karena sudah tidak tahan, kakak memutuskan untuk pergi dari rumah selama satu tahun. Setelah itu, kakak pulang dan mendapati mama telah meninggal. Papa masih hidup, tapi kehilangan kewarasan dan masuk ke rumah sakit jiwa. Karena itu sekarang kakak tinggal di panti asuhan ini. Kakak benar-benar menyesali perbuatan kakak dulu.</p>
<p>“Di sini, kakak jadi merasa telah menjadi anak yang buruk. Kakak selalu mengeluhkan masalah orangtua ketika anak-anak di sini justru tak pernah tahu rasanya punya orangtua. Hidup kakak sekarang penuh dengan penyesalan. Maka dari itu, kakak memutuskan harus bisa jadi orang yang bermanfaat di sini. Kakak harus menebus kesalahan kakak ke orangtua kakak.”</p>
<p>Mendengar cerita Kia membuat Aqila ikut menangis. Kia yang melihat Aqila menangis pun jadi ikut kembali menangis. Di dekat mereka, bu Lidia sedang mengamati mereka berdua. Tanpa disadari, sejak tadi bu Lidia menyimak percakapan mereka berdua. Mendengar mereka berdua mulai menangis bersamaan, ia memutuskan untuk menghampiri mereka berdua.</p>
<p>“Loh, Kia dan Aqila kok belum tidur?” tanya bu Lidia secara tiba-tiba dan membuat mereka berdua terkejut.</p>
<p>“Eh, ibu.” Kia kebingungan untuk segera menguasai diri dan mengusap air matanya secara tergesa-gesa. Aqila masih belum bisa berhenti menangis.</p>
<p>“Ayo, segera masuk ke kamar masing-masing, sudah malam. Besok bangunnya kesiangan loh.”</p>
<p>“Baik bu.”</p>
<p>“Tolong antar Aqila ke kamarnya ya.”</p>
<p>Maka, Kia pun menggandeng Aqila dan membawanya ke kamar. Bu Lidia mengamati mereka berdua dari belakang dengan penuh kasih sayang. Kehidupan di panti memang tidak mudah. Mau tidak mau, anak-anak di sini akan berpikir kenapa mereka tidak pernah melihat orangtua mereka seperti anak lain, walaupun harus diakui Aqila tergolong sangat cepat menyadari hal tersebut. Ia, yang juga merupakan anak yatim piatu sejak kecil, sudah lama bertekad untuk bisa menyediakan rumah yang layak bagi anak-anak yang bernasib sama dengan dirinya. Karena itulah panti asuhan Harapan Bunda ini ia bangun dengan banyak bantuan orang lain, termasuk keluarga Labdajaya.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah mengantar Aqila ke kamarnya, Kia menuju kamarnya sendiri. Teman satu kamarnya sudah terlelap dengan posisi tidur yang aneh luar biasa. Jika dilihat-lihat, posisinya mirip dengan simbol-simbol yang ada di piramida. Selimutnya sendiri sudah terjatuh ke lantai, bersama dengan guling dan bantal. Kia memungut barang-barang tersebut dan menyelimutinya. Setelah itu, ia naik ke atas tempat tidurnya sendiri.</p>
<p>Kia tidak langsung tidur. Ia mengambil posisi duduk dan memeluk lututnya sendiri. Percakapan dengan Aqila malam ini mau tidak mau membuat dirinya merenungi segala hal yang sudah ia alami selama ini. Ia berbicara sendiri di dalam hatinya.</p>
<p>“Seharusnya, aku lebih banyak bersyukur karena masih punya orangtua yang masih lengkap walaupun jarang berkumpul dengan mereka. Aku sama sekali tidak pernah berpikir bagaimana seandainya aku tidak pernah punya orangtua, apalagi orangtua yang kaya dan mampu memberikan segala kebutuhanku dengan mudah.</p>
<p>“Padahal, aku tinggal di rumah yang begitu nyaman, sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak orang. Setelah mendengar cerita Lia yang rumahnya digusur, aku jadi semakin malu dengan diriku sendiri. Mau hidup selama apapun, rumah besar milik keluarga Labdajaya tersebut tidak akan digusur secara tiba-tiba. Entah berapa keluarga yang bisa ditampung oleh rumahku itu.</p>
<p>“Aku selalu merasa sendirian di rumah tersebut, padahal aku dikelilingi oleh orang-orang yang dengan sigap membantu diriku. Ada pak Teguh yang dengan setia selalu mau mengantarku ke mana pun selama mendapatkan izin dari papa. Ada pak Budi yang selalu sigap menyiapkan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga. Ada pak Thomas yang dengan telaten mengajarkan piano. Masih banyak orang-orang lain yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Hanya saja, aku tak pernah memperhatikan hal tersebut, sebelum kehilangan semuanya.</p>
<p>“Aku sekolah di salah satu tempat terbaik untuk belajar. Aku bisa belajar dengan baik, tapi aku sama sekali tidak punya teman. Padahal, harusnya aku bisa menjalin hubungan pertemanan sebanyak-banyaknya untuk menutupi kesepianku ditinggal orangtua bekerja. Dengan menghabiskan waktu bersama-sama dengan teman, aku tidak akan merasa sendirian. Tapi yang kulakukan justru menutup diri dari orang lain. Aku sering mengucilkan diriku sendiri. Pada akhirnya, aku jadi dimanfaatkan oleh teman-teman yang kurang baik.”</p>
<p>Akan tetapi, jika Kia tidak pernah mengambil keputusan untuk kabur dari rumah dan masuk ke dunia cermin tersebut, ia tidak akan pernah menyadari hal ini. Bisa jadi, untuk selamanya ia akan menjadi orang yang selalu mengeluh dan tidak pernah mensyukuri yang ia miliki. Selain itu, ia mendapatkan banyak pelajaran selama berada di dalam dunia cermin.</p>
<p>“Setelah masuk ke dunia itu, aku bertemu dengan banyak orang baik seperti pak Kusno, bu Imah, dan Qila. Di sebuah kampung yang sederhana itu, aku bisa merasakan kehangatan keluarga. Walaupun secara ekonomi kurang, mereka selalu terlihat bahagia dan penuh syukur. Selama aku berada di sana, sangat jarang aku mendengar pak Kusno dan bu Imah berkeluh kesah di tengah himpitan ekonomi yang bertambah sejak kedatangaku. Secara logika, mereka tidak akan pernah mau menerimaku karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja susahnya bukan main. Akan tetapi, dengan ikhlas mereka sekeluarga menerima aku dengan tangan terbuka.</p>
<p>“Selain itu, aku juga bertemu dengan Yoga dan anak-anak Karang Taruna. Di organisasi itulah, untuk pertama kali aku merasakan bagaimana rasanya memiliki teman. Aku yang anti sosial sejak kecil ternyata bisa nyaman berkumpul dengan orang-orang yang belum terlalu dekat. Tidak ada yang benar-benar dekat, akan tetapi aku merasa puas dengan itu. Setidaknya, mereka mau menerima aku yang notabene anak baru di sana. Yoga juga sangat baik denganku, membantu apapun yang aku butuhkan.</p>
<p>“Aku juga menemukan bakat mengajarku di sana. Sebagai orang yang jarang berinteraksi dengan orang lain, hal tersebut sangat mengejutkanku. Melihat orang yang diajar memahami apa yang kita sampaikan benar-benar menimbulkan kebahagiaan tersendiri untukku. Terkadang memang ada orang-orang yang terlihat ogah-ogahan belajar, tapi hal tersebut justru semakin membuatku bersemangat untuk meningkatkan keinginan belajar mereka.</p>
<p>“Di dunia tersebut, untuk pertama kalinya aku juga mengalami sebuah konflik yang sangat berat. Bagaimana tidak, aku difitnah sedemikian rupa sehingga diusir dari kampung itu. Hingga saat ini, aku tidak tahu siapa dalang di balik pengusiran tersebut. Mungkin ada orang-orang yang merasa bahaya dengan kehadiranku, tapi apa? Hingga saat ini, aku tidak tahu alasan mengapa ada orang yang ingin menyingkirkanku.</p>
<p>“Lantas, aku hampir menjadi wanita hina ketika dibawa ke hotel tersebut. Aku waktu itu hampir putus asa hingga terbesit pikiran untuk bunuh diri. Untunglah, perang dan kedatangan kakek menyelamatkanku. Aku diberi kesempatan untuk pulang ke duniaku sendiri melalui medium yang sama, cermin. Akan tetapi, apa yang menantiku di sana benar-benar berbeda. Mamaku meninggal karena kehilangan aku, papa juga jadi gila. Untung ada pak Thomas yang mau menolongku dan akhirnya aku berada di panti asuhan ini.”</p>
<p>Air mata Kia kembali tumpah. Ia memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidurnya dengan harapan mampu meredakan tangisnya. Ia tak ingin membangunkan Lia yang sudah sangat pulas tidurnya.</p>
<p>“Seandainya saja, aku memiliki kesempatan untuk memulai ulang semuanya, aku berjanji untuk mengubah kesalahan-kesalahan yang sudah aku perbuat. Seandainya saja ada peluang untuk memperbaiki apa yang telah terjadi, aku bersedia melakukannya apapun harganya. Seandainya saja…”</p>
<p>Kia terus berandai-andai hingga dirinya terlelap karena beban mental yang membebani pikirannya. Keinginannya tersebut benar-benar diucapkan dengan sepenuh hati, begitu kuat hingga akhirnya membuat keajaiban keesokan harinya.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-28-seandainya-saja/">Bagian 28 Seandainya Saja</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagian 27 Kia Bercerita</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-27-kia-bercerita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Aug 2019 15:08:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[bagian 27]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2663</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tak terasa sudah dua minggu Kia berada di panti asuhan yang bernama Harapan Bunda itu. Ia telah mampu beradaptasi dengan baik, dengan staf maupun anak-anak yang tinggal di sana. Di panti asuhan tersebut, Kia mendapatkan kamar yang berisi dua orang. Ia satu kamar dengan Lia, seorang gadis yang berusia dua tahun di bawahnya, namun memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-27-kia-bercerita/">Bagian 27 Kia Bercerita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tak terasa sudah dua minggu Kia berada di panti asuhan yang bernama Harapan Bunda itu. Ia telah mampu beradaptasi dengan baik, dengan staf maupun anak-anak yang tinggal di sana. Di panti asuhan tersebut, Kia mendapatkan kamar yang berisi dua orang. Ia satu kamar dengan Lia, seorang gadis yang berusia dua tahun di bawahnya, namun memiliki cita-cita tinggi untuk berkuliah di luar negeri. Hingga usianya yang sekarang ini, belum pernah ada orangtua yang menunjukkan minat untuk mengadopsi dirinya. Mungkin, karena dia masuk ke panti asuhan ketika sudah remaja. Para orangtua tersebut lebih menyukai anak yang berusia muda.</p>
<p>“Dulu aku tinggal di pinggir kali kak, sebelum digusur karena rumah kami dianggap mengganggu pemandangan. Lantas, aku dan kedua orangtua pindah ke rumah susun. Eh, rumah susunnya kebakaran, bapak ibu kejebak di dalam, meninggal. Aku selamat waktu itu karena lagi sekolah. Karena udah enggak punya keluarga, akhirnya aku masuk panti ini berkat bantuan orang-orang.” cerita Lia pada hari pertama Kia tinggal di panti asuhan tersebut.</p>
<p>Kia sendiri tidak banyak bercerita tentang dirinya ke gadis tersebut. Ia lebih banyak mendengarkan Lia yang banyak bicara dan ceria tersebut. Terkadang ia merasa heran, bagaimana Lia bisa tetap terlihat bahagia walaupun mengalami berbagai peristiwa yang menyedihkan. Beberapa waktu terakhir ini, Kia mengalami banyak sekali penderitaan, dan ia tidak pernah memasang wajah ceria seperti itu.</p>
<p>Tidak hanya tinggal, Kia juga diangkat jadi staf mengajar di sana. Mata pelajaran yang ia ajarkan adalah matematika, IPA, dan bahasa Inggris. Selain mendapatkan tempat tinggal dan makan, Kia juga mendapatkan gaji yang jumlah tidak seberapa. Awalnya, Kia menolak uang tersebut karena merasa diizinkan tinggal di sana saja sudah bersyukur. Akan tetapi, bu Lidia dengan tegas memaksa Kia menerima upah tersebut karena yakin Kia juga butuh uang untuk membeli kebutuhannya sehari-hari.</p>
<p>Usahanya untuk mendekati Aqila sedikit mengalami kebuntuan. Mungkin karena kesan pertama yang kurang menyenangkan, anak tersebut jadi menjaga jarak dengan dirinya. Beberapa kali Kia berusaha untuk mengajaknya berbicara selalu berakhir dengan penolakan. Kia sedikit merasa sedih dengan perlakukan anak itu, namun memutuskan untuk terus berusaha mendekatinya, baik ketika ada kelas maupun tidak.</p>
<p>Sudah dua kali pak Thomas dan istrinya datang berkunjung dan memberikan serantang makanan untuk Kia. Meskipun tidak memiliki hubungan darah, ia merasa pasangan suami istri tersebut cukup perhatian dengan dirinya. Hal ini tidak bisa ia saksikan dulu karena tertutup oleh pikirannya sendiri bahwa tidak ada orang yang menyayangi dirinya. Lihatlah sekarang, ada banyak orang yang begitu peduli dengannya. Bahkan, kedua orangtuanya yang ia benci ternyata juga begitu menyayanginya. Sayang, ia baru menyadarinya setelah mamanya meninggalnya dan papanya kehilangan kewarasan.</p>
<p>Jika sedang merenungi hal ini, Kia sering menangis dalam diam di atas ranjangnya, berusaha agar suaranya tidak terdengar oleh Lia.</p>
<p>***</p>
<p>Kia sedang menyirami taman ketika terdengar suara motor masuk ke dalam kompleks panti asuhan. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Ketika helm itu terbuka, alat penyiram tanaman yang ada di tangannya terlepas ke tanah begitu saja.</p>
<p>“Ka…kamu Yoga, kan?” tanya Kia sambil tergagap.</p>
<p>Yang dimaksud Kia bukanlah Yoga yang ada di dunia cermin tersebut. Yoga yang ada di hadapannya adalah teman sekelas yang duduk di bangku sebelahnya, yang pernah meminjam alat tulis kepadanya. Kia tak pernah mengingat namanya, namun kemiripan wajah yang mereka miliki membuat Kia secara spontan menyebut nama tersebut.</p>
<p>“Ki…Kia? Zaskia Putri Anjani anaknya pak Labdajaya?” laki-laki tersebut balik bertanya sambil mengangkat telunjuknya dengan gemetar.</p>
<p>Entah apa yang dirasakan Kia saat itu. Yang jelas, ia langsung menghampiri laki-laki tersebut dan memeluknya. Ia menangis di dalam dekapannya. Yang dipeluk sedikit merasa canggung karena belum pernah dipeluk wanita sebelumnya. Paling hanya ibunya seorang. Kejadian tersebut membuat beberapa staf dan anak-anak tertarik, sehingga laki-laki tersebut memutuskan untuk mengajak Kia duduk di bangku taman.</p>
<p>“Satu tahun lebih lo hilang, dan tiba-tiba muncul di panti asuhan ini. Kaget gue, sumpah. Dan baru kali ini gue denger lo manggil nama gue dengan bener.” kata Yoga.</p>
<p>“Maafin aku, banyak hal yang udah terjadi selama satu tahun ini.” jawab Kia setelah tangisnya mereda.</p>
<p>“Emang lo ke mana aja?”</p>
<p>“Itu…” Kia bingung harus menjawab pertanyaan itu.</p>
<p>“Kalau masih berat buat cerita, tenang aja. Enggak harus sekarang kok. Lagian, gue juga sering mampir ke panti ini.”</p>
<p>“Kamu kenapa sering ke sini?”</p>
<p>“Ya, anggap aja berbagi rezeki. Kalau ada waktu, gue selalu nyempetin diri ke mari. Kadang bawa makanan, kadang duit doang. Bersyukur gue punya harta yang lebih cukup, jadi sayang kalau enggak dipakai buat kebaikan. Gue juga udah kenal sama hampir semua orang di sini.”</p>
<p>Ketika mendengar kalimat tersebut, Kia langsung memerhatikan sekitarnya. Beberapa kepala masih melihat ke arah mereka dengan raut muka penasaran. Ia pun jadi merasa malu karena menjadi pusat perhatian. Apalagi, ia tadi memeluk Yoga secara tiba-tiba, sehingga pasti dirinya sedikit banyak menjadi bahan pembicaraan.</p>
<p>“Ya udah, lo tunggu sini ya, gue masih mau tanya-tanya. Gue mau nyari bu Lidia, ada yang mau diomongin.”</p>
<p>Kia pun duduk sendirian di bangku tersebut. Ia masih berusaha menenangkan diri setelah pertemuan yang tidak diduga ini. Banyak hal yang ingin Kia tanyakan kepada Yoga. Ia ingin mengetahui perkembangan dunia ini setelah kepergian dirinya. Apakah ada yang mencari dirinya di sekolah? Bagaimana reaksi Melissa dan kawan-kawannya, yang dulu sudah memperlakukan dirinya dengan semena-mena?</p>
<p>Setelah 10 menit berlalu, Yoga keluar dari ruangan bu Lidia dan kembali menghampiri Kia. Wajah laki-laki tersebut nampak sedikit bingung. Dengan meletakkan tangan kanannya di belakang, ia bertanya kepada Kia.</p>
<p>“Kia, lo enggak bilang kalau lo anaknya pak Labdajaya, ya?”</p>
<p>Jantung Kia berhenti berdetak untuk sekian milidetik. Ia lupa, bahwa ia sedang merahasiakan identitasnya di sini. Membuat orang lain mengetahui latar belakang keluarganya akan membuat dirinya kesusahan di sini. Dengan sedikit gemetar, Kia menggelengkan kepalanya.</p>
<p>“Tadi gue tanya ke bu Lidia, kok bisa anaknya pak Labdajaya ada di sini. Terus beliau kaget dan enggak percaya. Makanya gue mau ngajak lo ke dalem untuk ngelurusin hal ini.”</p>
<p>Kia pun bangkit dari kursinya dan masuk ke dalam ruangan. Sesampainya di dalam, ia melihat ekspresi serius dari bu Lidia yang selama ini terlihat ramah. Bu Lidia memberikan kode kepada Yoga agar menutup pintu. Setelah itu, mereka berdua dipersilahkan untuk duduk.</p>
<p>“Kia, apa benar kamu anaknya pak Labdajaya yang terkenal itu?”</p>
<p>Kia tahu tidak ada gunanya lagi untuk menutupi identitas dirinya. Maka dari itu, ia menganggukkan kepalanya secara perlahan.</p>
<p>“Astaga, ibu benar-benar tidak menduga hal ini. Satu tahun kamu menghilang dan tiba-tiba muncul di sini. Sebenarnya, kamu pergi ke mana nak?”</p>
<p>Di detik itu juga, Kia memutuskan untuk bercerita apa adanya ke bu Lidia dan Yoga. Ia percaya, kedua orang tersebut bisa dipercaya untuk tidak membocorkan rahasianya. Maka, ia pun mulai bercerita bagaimana ia pergi ke museum kota tua setelah merasa frustasi dengan hidupnya. Ia bercerita bagaimana ia bertemu dengan seorang kakek tua yang membuatnya masuk ke dalam dunia cermin. Di dunia cermin tersebut, ia bertemu dengan banyak orang seperti pak Kusno, bu Imah, Qila, Yoga, dan lain sebagainya. Ia bercerita bagaimana dirinya hidup bahagia di sana meskipun dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan. Ia bercerita bagaimana dirinya menjadi pengajar di Karang Taruna. Ia juga bercerita bagaimana ia membuat kekacauan hingga puncaknya diusir dari desa tersebut. Lantas, dirinya hampir saja dijual jika kakek tua yang membawanya ke dunia tersebut tidak datang dan menyelamatkannya.</p>
<p>“Karena itulah Kia bisa kembali ke dunia ini. Mungkin terdengar seperti cerita fantasi, namun itulah yang sebenarnya terjadi. Kia belum menceritakan hal ini ke siapa-siapa, jadi Kia harap ibu dan Yoga mau menutup rapat-rapat cerita ini. Jangan sampai ada orang lain yang tahu.”</p>
<p>“Sebenarnya ibu mau enggak percaya, tapi dari runtutnya cerita serta tatapan matamu membuat ibu mau tidak mau harus percaya hal tersebut.” kata bu Lidia yang sepanjang pembicaraan tidak mengedipkan matanya sama sekali.</p>
<p>“Wow, masuk ke dunia lain lewat cermin, seperti di film aja.” timpal Yoga.</p>
<p>“Jujur, Kia sangat terpukul ketika mengetahui kondisi orangtua saya. Jika tahu hal seperti ini akan terjadi, Kia enggak akan kabur ke dunia lain.”</p>
<p>Mengingat kedua orangtuanya, Kia kembali menangis. Rasa bersalahnya semakin mendalam setelah bercerita apa adanya ke kedua orang ini. Bu Lidia bangkit dari kursinya dan berdiri di sisi kanan Kia untuk menenangkannya. Yoga hanya bisa diam dan memandangi Kia karena tak tahu harus berbuat apa. Setelah beberapa isakan tangis, Kia sudah bisa menguasai dirinya kembali.</p>
<p>“Maaf untuk bu Lidia, Kia tidak memberitahukan hal ini sejak awal Kia di sini. Kia tidak ingin ada kehebohan di sini, Kia hanya ingin tempat tinggal karena Kia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kia juga tidak punya teman dekat sejak kecil, sehingga ketika melihat Aqila yang sangat mirip dengan Qila, Kia memutuskan untuk tinggal di sini.”</p>
<p>“Iya enggak apa-apa, ibu paham. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu inginkan. Ibu juga butuh tenaga kamu untuk mengajar. Untunglah panti asuhan kita ini punya banyak donatur, salah satunya ya dari mas Yoga ini. Walaupun kaya raya, ia tak pernah segan turun sendiri ke panti untuk melihat apa yang bisa ia bantu.”</p>
<p>“Ah, bantuan dari saya kan enggak seberapa bu.” jawab Yoga sambil malu-malu.</p>
<p>“Nanti titip salam buat mamamu ya. Sejak kenal di sekolah, mamamu itu udah keliatan bakal jadi orang baik. Eh, kebaikannya nurun di kamu ternyata.”</p>
<p>“Iya bu, terima kasih.”</p>
<p>“Udah Kia, kamu tenang aja. Semua yang ada di sini menerima kamu apa adanya kok. Kalau kamu memang minta cerita tadi dirahasiakan, ibu berjanji akan menjaganya.”</p>
<p>“Gue juga janji Kia, enggak bakal cerita ke siapa-siapa termasuk temen sekolah.”</p>
<p>Kia melemparkan senyum manis kepada mereka sebagai tanda terima kasih. Ia hanya bisa melakukan itu untuk saat ini agar bu Lidia dan Yoga tidak khawatir lagi tentang keadaan dirinya.</p>
<p>***</p>
<p>Beberapa saat kemudian, Yoga dan Kia keluar dari ruangan bu Lidia. Kia pun menanyakan apa yang tadi ia ingin tanyakan ke Yoga, mengenai sekolah dan teman-teman satu kelasnya.</p>
<p>“Wah, satu sekolah gempar banget. <em>Sorry to say</em>, tapi kan lo enggak terlalu menonjol di sekolah, jadi enggak ada yang bener-bener berusaha nyari lo. Yang ada mereka ngomongin berbagai teori konspirasi tentang hilangnya lo, termasuk diculik sama makhluk gaib.” jawab Yoga.</p>
<p>“Termasuk Melissa dan teman-temannya?” Kia sedikit berharap mereka merasa takut dengan hilangnya dirinya.</p>
<p>“Enggak tahu kenapa ya, semejak lo hilang, mereka jadi pendiem banget enggak kayak dulu. Emangnya lo pernah diapain sama mereka?”</p>
<p>“Enggak kok, enggak apa-apa. Aku kan sering satu kelompok sama mereka, jadi penasaran aja.” jawab Kia dengan ekspresi datar, namun sedikit tersenyum dalam hati.</p>
<p>“Eh, Aqila, sini!” sahut Yoga tiba-tiba yang membuat Kia mengangkat kepalanya. Yang dipanggil tersenyum melihat Yoga, namun tampak ragu untuk menghampiri karena ada Kia di sebelahnya.</p>
<p>“Kok enggak mau ke sini? Biasanya tuh bocah langsung minta gendong kalau ketemu gue.” gumam Yoga kebingungan.</p>
<p>“Eh, mungkin karena ada aku.” jawab Kia malu-malu.</p>
<p>Secara singkat, Kia pun menceritakan awal pertemuannya dengan Aqila. Yoga berusaha menahan tawanya untuk menjaga perasaan Kia. Setelah itu, ia pun berinisiatif untuk mengajak Kia menghampiri Aqila.</p>
<p>“Aqila, tenang aja, kak Kia ini temennya abang. Kamu enggak usah takut, dia baik kok orangnya.” kata Yoga sewaktu mereka bertiga telah berkumpul di salah satu sudut panti.</p>
<p>“Oh iya? Bang Yoga kenal dari mana?” tanya Aqila, tidak mau percaya begitu saja.</p>
<p>“Ada deh, pokoknya abang kenal. Kamu yang akur ya sama kakak yang satu ini, jangan bandel.” jawab Yoga sambil mengacak-acak rambut Aqila.</p>
<p>Kia belum berani bersuara, namun matanya dengan fokus memandang Aqila dengan penuh kasih sayang. Ia sedang meyakinkan diri bahwa suatu hari, dirinya akan bisa dekat dengannya. Mungkin, kalau waktunya sudah tiba, ia akan berbagi cerita kehidupannya ke Aqila, tentang bagaimana seorang Zaskia Putri Anjani Labdajaya melakukan kesalahan yang membuatnya menyesal seumur hidup.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-27-kia-bercerita/">Bagian 27 Kia Bercerita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagian 26 Panti Asuhan</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-26-panti-asuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Aug 2019 09:57:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[bagian 26]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tangan Kia tak henti-hentinya menyeka air matanya yang terus tumpah ketika sedang melihat pusara ibunya. Tadi pagi setelah sadar, ia menanyakan di mana mamanya disemayamkan dan alamat rumah sakit jiwa yang menampung papanya. Pak Thomas berkata bahwa biar dirinya saja yang mengantar Kia karena hari ini kebetulan ia sedang kosong. Kia pun langsung menyambut tawaran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-26-panti-asuhan/">Bagian 26 Panti Asuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tangan Kia tak henti-hentinya menyeka air matanya yang terus tumpah ketika sedang melihat pusara ibunya. Tadi pagi setelah sadar, ia menanyakan di mana mamanya disemayamkan dan alamat rumah sakit jiwa yang menampung papanya. Pak Thomas berkata bahwa biar dirinya saja yang mengantar Kia karena hari ini kebetulan ia sedang kosong. Kia pun langsung menyambut tawaran tersebut dan di sinilah sekarang ia berada.</p>
<p>Makam mamanya bisa dibilang cukup sederhana, tidak berbeda dengan makam-makam yang ada di sekitarnya. Tidak ada keramik ataupun ornamen lainnya yang menunjukkan bahwa yang terkubur di dalamnya merupakan istri dari seorang konglomerat kaya. Hal ini sesuai dengan kepribadian mamanya yang sederhana meskipun harta melimpah. Kia pernah mencuri dengar ketika mamanya sedang berkumpul dengan istri-istri pengusaha lain ketika berkumpul di rumahnya. Mereka terus menyindir kebiasaan hidup bu Labdajaya yang jarang berbelanja barang-barang mewah. Mamanya yang terkenal sabar pun hanya bisa tersenyum mendengarkan kata-kata tajam tersebut.</p>
<p>Ditinggal oleh mamanya membuat Kia memikirkan masa lalunya, ketika ia masih sering berinteraksi dengan bu Labdajaya. Kia ingat, sewaktu kecil mamanya sering mendandani dirinya di depan cermin. Dengan telaten mamanya menyisir rambutnya yang lurus dan panjang, lantas memilihkan baju yang terbaik untuknya. Setelah itu, biasanya mamanya akan mengajak Kia berbicara berbagai topik.</p>
<p>“Kia udah kepikiran belum kalau besar mau apa?” tanya mamanya, mungkin ketika Kia baru berusia 5 tahun,</p>
<p>“Kia mau jadi kayak mama aja.” jawab Kia kecil dengan polosnya.</p>
<p>“Eh, harus jelas dong. Masa Kia enggak mau kerja gitu?”</p>
<p>“Emmm, belum tahu sih ma, Kia maunya jadi pelempuan yang baik dan cantik kayak mama.” waktu itu, Kia bahkan belum bisa melafalkan huruf R dengan baik.</p>
<p>“Hahaha, bisa aja kamu anak manis. Ya udah, yuk habis ini kita makan bareng, papa udah mau pulang.”</p>
<p>Sayang, momen-momen berharga seperti itu lama-kelamaan makin berkurang. Perusahaan yang dikelola oleh papanya makin membesar, sehingga mamanya pun mau tidak mau turun tangan untuk membantu. Belum lagi anak perusahaan yang baru didirikan. Papanya benar-benar gila kerja, dan mamanya pun mau tidak mau harus mengikuti ritme kerja suaminya.</p>
<p>Seingat Kia, semenjak dirinya duduk di bangku sekolah dasar, mamanya sudah jarang di rumah. Kadang ia mendampingi suaminya, kadang juga berpergian untuk keperluan bisnisnya sendiri. Tak jarang bu Labdajaya hanya mampir beberapa jam ke rumah setelah berhari-hari tak berjumpa dengan diri Kia jika kebetulan sedang memiliki urusan di Jakarta. Kurangnya perhatian orangtua, terutama dari mamanya, yang membuat Kia menjadi anak yang pendiam dan pemurung.</p>
<p>“Maafin Kia ya, ma.” akhirnya Kia bisa mengeluarkan sepatah kalimat, meskipun setelah itu ia kembali menangis.</p>
<p>Sejengkel-jengkelnya Kia ke orangtuanya, tentu ia tak pernah berharap akan membuatnya mamanya meninggal secepat ini. Dulu, ketika memutuskan untuk meninggalkan dunia ini, ia didorong oleh perlakuan buruk teman-temannya. Dulu, ia mengira bahwa papa dan mamanya tidak akan secemas ini. Ia menyadari kesalahannya dan menyesali keputusan yang diambilnya waktu itu, meskipun hal tersebut membuatnya merasakan apa makna keluarga bersama pak Kusno, bu Imah, dan Qila.</p>
<p>Kia merendahkan posisi tubuhnya agar bisa memegang batu nisan yang bertuliskan nama mamanya, lengkap dengan tanggal lahir dan kematiannya. Diusapnya nisan tersebut dengan penuh kasih sayang seolah-olah itu adalah tangan lembut ibunya. Tak ada lagi kata yang terucap dari mulutnya. Kia memutuskan untuk pergi dari sana dan melanjutkan perjalanan.</p>
<p>“Kamu enggak apa-apa? Apa mau besok aja ke papa?” tanya pak Thomas yang dari tadi menunggu dari kejauhan.</p>
<p>“Enggak apa-apa pak, Kia cuma sedih aja lihat makam mama. Kita lanjut ke tempat papa, ya.”</p>
<p>Sebenarnya pak Thomas tak tega melihat Kia yang hancur seperti ini. Ia tak yakin gadis yang dari dulu terlihat rapuh ini bisa kuat menyaksikan papanya di rumah sakit jiwa. Hanya saja, ketegasan dari nada bicara Kia membuatnya mau tidak mau menuruti permintaannya.</p>
<p>***</p>
<p>Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu lama, hanya sekitar 15 menit. Dari luar, rumah sakit jiwa ini terlihat sama seperti rumah sakit pada umumnya. Jika tidak ada tanda pengenal yang terpasang di tembok bagian depan, orang tidak akan mengira bahwa tempat ini menampung orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.</p>
<p>Setelah menghampiri bagian resepsionis, mereka berdua di antar ke tempat di mana pak Labdajaya dirawat. Pak Thomas sama sekali tidak membocorkan identitas asli Kia. Sebelum sampai ke mari, Kia meminta hal tersebut agar tidak terjadi kehebohan. Ia hanya ingin melihat papanya, melihat bagaimana orang yang dulu begitu keras terhadap dirinya bisa kehilangan kewarasan karena kehilangan dirinya.</p>
<p>“Demi keamanan, bapak dan mbaknya cuma bisa lihat dari balik jeruji ya. Kebijakan kami melarang adanya interaksi langsung antara pihak keluarga dan pasien. Apalagi, pak Labdajaya sering menyerang para perawat sehingga risikonya terlalu tinggi.” kata salah satu staf rumah sakit jiwa tersebut.</p>
<p>Kia segera menutup kedua mulutnya agar tangisnya tidak tumpah. Ia belum melihat papanya, tapi membayangkannya saja membuat ia sedih bukan kepalang.</p>
<p>“Silakan.”</p>
<p>Dari balik jeruji, Kia bisa melihat papanya sedang memain-mainkan jarinya dengan posisi jongkok di atas kursi. Badannya yang dulu cukup tambun habis seolah tak bersisa. Ia terlihat bagaikan mumi yang bisa bergerak, apalagi rambutnya dicukur habis. Kia sampai menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia hanya takut akan jatuh pingsan sehingga merepotkan banyak orang. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk segera balik badan karena tak tahan melihat ini semua.</p>
<p>***</p>
<p>Pak Thomas mengajak Kia mampir ke sebuah warung bakso langganannya. Sebelum keluar rumah, Kia menolak untuk sarapan terlebih dahulu, sehingga pak Thomas memutuskan untuk mengajaknya ke sini. Kia sendiri terlihat hanya memain-mainkan mie yang ada di mangkoknya tanpa terlihat berselera untuk menyantapnya. Pikirannya sedang mengembara entah ke mana. Tatapannya kosong, sehingga siapapun yang melihatnya pasti berpikir Kia sedang kerasukan sesuatu.</p>
<p>“Kia, kamu dari pagi belum makan, loh. Ayo, dimakan pelan-pelan, jangan sampai kamu sakit.” kata pak Thomas yang gara-gara melihat Kia juga kehilangan selera makan.</p>
<p>Yang diajak bicara hanya mengangguk perlahan. Pak Thomas sampai berpikir bahwa mau bagaimana pun Kia terlahir sebagai anak orang kaya. Mungkin, keputusannya untuk membawa ke warung sederhana di pinggir jalan ini membuat Kia tidak selera makan. Akan tetapi, ia pun tidak memiliki cukup uang untuk membawa Kia ke tempat yang lebih layak.</p>
<p>Menyadari keresahan yang dialami oleh pak Thomas, Kia pun memaksa dirinya mau menyantap hidangan yang ada di hadapannya. Ia mengambil sebuah garpu dan menusukkannya ke sebutir bakso dari mangkok, lantas memasukkannya ke dalam mulut. Kia mengunyahnya dengan sangat perlahan seolah sedang berada di mode ­<em>slow motion</em>. Pak Thomas tidak berkomentar lagi, setidaknya Kia sudah mulai makan.</p>
<p>Lamunan Kia terpecah ketika mendengar suara anak kecil dari belakang punggungnya. Anak kecil tersebut sedang menyanyikan sebuah lagu yang tak pernah Kia dengar sebelumnya. Penasaran, ia menoleh ke belakang dan terkejut bukan main.</p>
<p>“QILA?” teriak Kia secara tiba-tiba yang membuat pengunjung warung bakso lainnya menghentikan sejenak aktivitas makannya.</p>
<p>Yang ditanya malah jadi bengong dan sedikit terkejut. Bagaimana tidak, seorang asing yang tidak dikenalnya bisa mengetahui namanya. Merasa takut, anak yang dipanggil Qila itu pun langsung lari dan meninggalkan warung.</p>
<p>“Qila, tunggu Qila!” Kia langsung bangkit dari meja makannya dan segera mengejar anak tersebut. Tidak salah lagi, dari bentuk fisiknya anak tersebut terlihat seperti Qila. Bagaimana mungkin ia ada di dunia ini? Apakah sang kakek yang mengirimkannya demi menemani dirinya? Semua pertanyaan tersebut akan terjawab setelah ia menangkap anak tersebut.</p>
<p>Anak gadis kecil tersebut tidak mampu berlari terlalu cepat, sehingga ia memasuki sebuah bangunan yang mirip dengan sekolah. Kia yang ada di belakangnya pun segera menyusul masuk ke dalamnya. Anak yang mirip dengan Qila itu segera dihentikan oleh seorang perempuan berjilbab berwarna cokelat. Kacamata yang menggantung di pangkal hidungnya, hampir terjatuh ketika melakukannya. Kia melihat hal ini sebagai kesempatan untuk bertanya secara baik dan benar.</p>
<p>“Kamu Qila, kan?” tanya Kia sambil terengah-engah, sama sekali tak mempedulikan dengan keadaannya.</p>
<p>“Maaf, mbak siapa, ya? Kok bisa kenal dengan Aqila?” wanita berjilbab itu justru bertanya balik.</p>
<p>“Saya, saya kakaknya. Itu Qila anaknya pak Kusno dan bu Imah, kan?”</p>
<p>“Bukan, Aqila anak yatim piatu mbak, makanya ia tinggal di sini. Mungkin mbaknya salah orang.”</p>
<p>Kia, yang sepanjang bicara bertumpu pada lututnya, langsung merasa lemas dan menjatuhkan dirinya di tanah begitu saja. Tangisnya kembali pecah dan ia sama sekali tak bisa menahannya. Pak Thomas, yang setelah membayar makanan langsung menyusul, menemukan Kia di panti asuhan tersebut. Semua orang yang ada di area bangunan tersebut merasa penasaran dengan keributan yang terjadi. Sang wanita berjilbab pun memutuskan untuk membawa Kia ke ruangannya untuk menganalisa, apa yang sebenarnya telah terjadi.</p>
<p>***</p>
<p>“Jadi, Kia ini kerabat saya bu. Orang tuanya baru saja meninggal, jadi untuk sementara waktu tinggal bersama saya. Mungkin karena tekanan itu, ia sampai mengira kalau anak ini adalah adiknya.” kata pak Thomas berusaha menjelaskan duduk perkaranya.</p>
<p>“Baik saya paham. Saya turut berduka cita ya, nak.” kata ibu tersebut, yang tadi memperkenalkan dirinya dengan nama Lidia.</p>
<p>Kia sendiri sudah berhenti menangis, hanya sedang berusaha untuk menguasai dirinya sendiri sebelum berbicara. Untunglah pak Thomas mampu mengatasi keadaan tanpa menimbulkan kecurigaan.</p>
<p>“Maaf bu, selain orang tua, saya juga kehilangan adik saya, namanya Qila. Waktu melihat adik ini, saya terkejut luar biasa karena memang mirip sekali, sehingga saya mengejarnya sedemikian rupa. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk menakut-nakutinya.” Kia akhirnya angkat bicara.</p>
<p>“Iya tidak apa-apa, ibu mengerti. Katanya, kita semua punya punya kembaran hingga 7 orang di dunia ini, sehingga Aqila ini mungkin menjadi salah satu kembaran adikmu itu.”</p>
<p>“Iya bu, terima kasih atas pengertiannya.”</p>
<p>Kia kembali melirik ke anak yang bernama Aqila itu. Dilihat dari sudut mana pun, anak tersebut benar-benar terlihat mirip dengan Qila yang ia temui di dunia cermin tersebut. Yang dilihat masih merasa sedikit takut dengan Kia, sehingga ia tak berani menatap mata Kia secara langsung. Tiba-tiba, terbesit sebuah gagasan di pikiran Kia.</p>
<p>“Bu, bolehkah saya tinggal di sini? Posisi saya sekarang juga yatim piatu. Saya bisa bantu mengajar anak-anak di sini, karena dulu saya termasuk pintar di kelas. Saya juga punya pengalaman mengajar walau hanya sebentar.”</p>
<p>Pak Thomas terkejut, namun tak bersuara apa-apa. Sebaliknya, bu Lidia terlihat tenang dan menyunggingkan senyum.</p>
<p>“Bisa saja, panti asuhan ini terbuka untuk siapapun. Akan tetapi, ada jumlah persyaratan administrasi yang harus diselesaikan. Bapak walinya, kan?” tanya bu Lidia kepada pak Thomas.</p>
<p>“Eh, iya, saya bisa jadi walinya.”</p>
<p>“Baiklah tunggu sebentar di sini, saya ambilkan dulu berkas-berkasnya.”</p>
<p>Bu Lidia pun meninggalkan mereka berdua, disusul Aqila yang membuntuti di belakangnya. Kesempatan itu digunakan oleh pak Thomas untuk bertanya kepada Kia.</p>
<p>“Kia, kamu yakin tinggal di sini? Setidaknya kamu bisa tinggal di tempat bapak untuk sementara waktu.”</p>
<p>“Kia belum belum pernah seyakin ini pak. Pertemuan dengan anak itu seolah jadi petunjuk untuk Kia harus pergi ke mana. Di sini, Kia akan punya rumah dan lingkungan baru. Kia juga bisa mengajar anak-anak di sini dengan ilmu yang Kia miliki, sehingga Kia enggak cuma membebani tempat ini.”</p>
<p>Pak Thomas memahami apa yang ada di pikiran Kia. Maka, ia minta izin keluar ruangan untuk memberitahu istrinya lewat telepon. Kia tinggal sendirian di ruangan itu, namun kesedihannya sudah berkurang. Ia sudah mengalami berbagai hal, juga menerima konsekuensi untuk pilihan yang ia ambil. Kia merasa hidupnya sekarang tinggal berbuat sesuatu untuk menebus kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat. Di sini, di panti asuhan yang bahkan ia belum tahu namanya ini, ia merasa bisa menjadi orang yang bermanfaat. Mungkin akan sedikit merepotkan banyak pihak, namun ia yakin bekal kehidupan yang ia dapatkan dari dunia cermin itu akan banyak membantunya. Selain itu, ia ingin mendekati anak yang bernama Aqila itu. Setidaknya, ia akan mendapatkan kepingan yang hilang dari dunia cermin itu.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-26-panti-asuhan/">Bagian 26 Panti Asuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagian 25 Anak yang Hilang</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-25-anak-yang-hilang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jul 2019 15:16:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[bagian 25]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2593</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Dek, kamu enggak apa-apa?” Samar-samar Kia mendengar suara tersebut. Dengan memegangi bagian samping kanan kepalanya, ia mencoba untuk membuka mata. Ternyata ia sedang berada di posisi seperti setelah jatuh tersungkur. Ia melihat ada seorang petugas museum di sebelah kirinya, seorang bapak-bapak berusia 40 tahunan. Hal tersebut terlihat dari pakaian yang ia kenakan, dengan sebuah tagname [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-25-anak-yang-hilang/">Bagian 25 Anak yang Hilang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Dek, kamu enggak apa-apa?”</p>
<p>Samar-samar Kia mendengar suara tersebut. Dengan memegangi bagian samping kanan kepalanya, ia mencoba untuk membuka mata. Ternyata ia sedang berada di posisi seperti setelah jatuh tersungkur. Ia melihat ada seorang petugas museum di sebelah kirinya, seorang bapak-bapak berusia 40 tahunan. Hal tersebut terlihat dari pakaian yang ia kenakan, dengan sebuah <em>tagname </em>di saku sebelah kiri. Di sana tertulis <em>Museum Sejarah Jakarta. </em>Ia telah pulang ke dunianya.</p>
<p>“Maaf pak, saya kayaknya, eh, pingsan.” jawab Kia sambil berusaha bangkit dari posisinya. Ia melihat pakaian yang sedang ia kenakan. Seragam sekolah, sama seperti yang ia pakai ketika meninggalkan dunia ini. Waktu ia masuk ke dalam dunia cermin tersebut, tahu-tahu pakaiannya telah berubah sendiri. Hal yang sama terjadi lagi sekarang.</p>
<p>“Museum udah mau tutup, bapak lagi patroli. Tahu-tahu ngelihat kamu jatuh pingsan di tempat ini. Kamu bisa jalan sendiri?”</p>
<p>“Bisa pak, terima kasih.” kata Kia, ia bertumpu dengan kaki kanannya untuk bisa segera berdiri. Ia kibas-kibaskan tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel di seragamnya. Ia masih berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan yang ia alami sekarang.</p>
<p>“Kalau boleh tahu, sekarang tanggal berapa pak? Saya agak lupa.”</p>
<p>Maka bapak tersebut menyebutkan suatu tanggal, yang ternyata tepat satu tahun setelah ia masuk ke dalam cermin antik yang ada di belakangnya. Setelah mendengar jawaban sang bapak, Kia menoleh ke belakang, memperhatikan pantulan bayangan dirinya di cermin. Ia terlihat sama sekali tidak berubah dibandingkan waktu itu. Sewaktu berada di dunia tersebut, ia sempat memotong pendek rambutnya agar lebih praktis. Sekarang, rambutnya telah terurai panjang seperti dulu lagi. Seolah-olah semua ini tidak pernah terjadi.</p>
<p>Setelah berterima kasih, Kia memutuskan untuk keluar dari museum dan berjalan di alun-alun Kota Tua. Tempat ini selalu ramai, ada yang datang bersama keluarga, bersama teman, bersama pacar, atau sendirian sama seperti dirinya. Ia mencari bangku yang bisa ia duduki untuk menenangkan diri sejenak sebelum pulang ke rumahnya. Langit mulai berwarna jingga, tak lama lagi gelap akan menghampiri Kia. Ia tak bisa mendeskripsikan perasaan yang ada di dalam hatinya sekarang. Senang dan sedih seolah tak berbatas sekarang. Ia merasa keputusan yang ia ambil ini hanya karena ia melihat ada kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, berbekal kenangan selama kurang lebih satu tahun bersama keluarga pak Kusno.</p>
<p>Kia memeriksa tas ransel yang masih tertempel di pundaknya ketika dirinya kembali ke dunia ini. Ia sedang mencari dompetnya untuk ongkos pulang. Ada, ia menemukan dompetnya yang berwarna merah muda dengan sedikit motif emas di bagian sudut-sudutnya. Setelah dihitung, ia merasa uangnya cukup untuk perjalanan ke rumahnya. Jantungnya kini mulai berdebar dengan kencang. Ia belum menemukan penjelasan tentang hilangnya dirinya selama satu tahun ini. Mungkin ketika pulang, ia tidak akan bertemu dengan orang tuanya yang selalu sibuk. Setidaknya, hal tersebut meringankan dirinya.</p>
<p>Kia telah berulang kali meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja. Dengan mengepalkan tangannya, ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke pangkalan taksi untuk mengantarnya pulang.</p>
<p>***</p>
<p>Kia memandang tak percaya ke arah rumahnya. Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 30 menit, ia terkejut bukan main ketika melihat keadaan rumahnya yang terbengkalai. Benalu menjalar di dinding pagar rumahnya yang berwarna kusam. Padahal, papanya adalah tipikal orang yang selalu berusaha agar rumahnya terlihat indah. Rumah ini seolah sudah tidak dihuni selama bertahun-tahun. Hari sudah mulai gelap, tapi tak ada tanda bahwa rumah ini akan segera menyalakan saklar lampunya.</p>
<p>Kia mencoba untuk memanggil siapapun yang ada di dalam rumah. Ia menggedor-gedor pagar yang sebenarnya sangat berat, sehingga suara yang dihasilkan Kia terlalu pelan. Air matanya sudah mulai menggenang, pikirannya sudah mengembara ke mana-mana. Ia yakin ia tidak salah alamat, ini memang rumahnya. Tempat ia dibesarkan sejak kecil hingga sekarang. Pertama kali dalam hidupnya, ia melihat rumahnya dalam kondisi mengenaskan seperti ini.</p>
<p>“Siapapun, tolong bukakan pagarnya…” kata Kia putus asa sembari memegangi pagar yang tak bergeming sedikit pun.</p>
<p>Kia terduduk di depan rumahnya sendiri, tidak tahu harus berbuat apa. Banyak pertanyaan muncul di benaknya. Apakah orangtuanya memutuskan untuk pindah? Bagaimana dengan nasib orang-orang yang telah ikut dengan keluarganya selama ini? Apa yang sebenarnya terjadi selama ia hilang?</p>
<p>“Kamu lagi cari siapa?”</p>
<p>Kia menoleh ke arah suara. Dilihatnya seorang laki-laki berkumis tebal dengan kacamata menggantung di depan matanya. Ia sedang berada di atas sepeda motornya yang tampaknya baru saja dibeli. Setelah beberapa waktu, akhirnya ia menyadari bahwa orang yang mengajaknya bicara adalah pak Thomas, guru pianonya.</p>
<p>“Pak Thomas?”</p>
<p>“Jangan-jangan, kamu Kia anaknya pak Labdajaya?”</p>
<p>Bertemu dengan seseorang yang dikenalnya membuat Kia mengeluarkan tangis yang cukup deras. Ia belum tahu apa yang terjadi, tapi dari ekspresi yang ditunjukkan oleh pak Thomas membuatnya yakin bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk terhadap keluarganya.</p>
<p>Pak Thomas sendiri nampak kebingungan melihat Kia seperti itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengajak Kia ke rumahnya. Setidaknya, di sana akan menjadi tempat yang lebih baik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan muridnya yang satu ini. Kia menuruti ajakan tersebut karena ia tidak tahu lagi harus pergi ke mana.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah meminum teh hangat yang dibuatkan oleh bu Thomas, Kia merasa lebih tenang. Ia tahu pak Thomas ingin segera bertanya kepada dirinya tentang ke mana ia selama ini. Hanya saja, pak Thomas tahu bahwa lebih baik menunggu dirinya bisa menguasai diri terlebih dahulu sebelum mulai melontarkan pertanyaan. Dengan hembusan napas panjang, Kia memutuskan bahwa dirinya lah yang akan memulai bertanya.</p>
<p>“Apa yang terjadi dengan rumah Kia, pak?”</p>
<p>Pak Thomas memandangi istrinya, merasa kebingungan menjawab pertanyaan ini. Istrinya pun terlihat tak kalah bingung dari suaminya. Lantas, mungkin karena mereka telah lama hidup satu atap, pak Thomas mengerti bahwa istrinya meminta dirinya saja yang menjelaskan semuanya kepada Kia.</p>
<p>“Sebelumnya bapak mau tanya ke kamu Kia. Kamu ke mana selama satu tahun ini? Tiba-tiba hilang begitu saja kayak ditelan Bumi.”</p>
<p>Kia tahu, mau tidak mau pertanyaan ini akan diajukan oleh siapapun yang ia kenal. Sejak tadi ia terus berpikir nanti, nanti, dan nanti untuk menyiapkan jawabannya. Hingga detik pertanyaan ini diajukan ke dirinya pun, ia belum menemukan alasan apa yang akan ia gunakan.</p>
<p>“Kia, Kia enggak ingat pak. Ketika udah sadar, tiba-tiba Kia udah ada di Kota Tua.”</p>
<p>Pak Thomas memutuskan untuk tidak mendesak Kia lebih jauh. Mungkin ia baru saja mengalami penculikan hingga membuatnya trauma. Banyak teori yang berkembang sejak Kia menghilang, mulai kasus jual beli anak, jual beli organ manusia, hingga penculikan oleh makhluk gaib. Pak Thomas jadi sedikit merinding, sehingga memutuskan untuk mengintip bagian kaki Kia. Syukurlah, kakinya masih menapak tanah.</p>
<p>“Jadi, sewaktu kamu hilang tiba-tiba, kondisi rumah langsung kacau balau Kia. Pak Labdajaya mendamprat semua orang yang bisa ia marahi. Ia melabrak pihak sekolah, ia mencari taksi mana yang katanya membawa dirimu pergi, hingga bertanya kepada teman-teman sekolahmu. Kata salah satu sopir taksi yang membawa dirimu, katanya kamu minta diantar ke kawasan Kota Tua. Di sana dilakukan investigasi kepada hampir semua orang yang bisa dimintai keterangan.</p>
<p>“Tentu saja pihak kepolisian juga dikerahkan untuk melakukan penyelidikan. Pak Labdajaya juga merekrut detektif internasional yang sudah punya reputasi mentereng. Bahkan, isunya pak Labdajaya sampai menggunakan bantuan dukun untuk menemukan dirimu. Yang jelas, segala upaya ia lakukan untuk menemukanmu Kia sampai bisnisnya terbengkalai. Berbagai acara dan janji yang sudah terjadwal selama ini dibatalkan semua.</p>
<p>“Hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang dalam yang mengincar harta pak Labdajaya. Bapak sendiri kurang tahu gimana caranya, yang jelas papamu ditipu habis-habisan hingga semua asetnya berpindah tangan. Orang-orang yang ia percayai selama ini ternyata merupakan pengkhianat yang tak kenal rasa iba. Puncaknya…” pak Thomas memberikan jeda pada kalimatnya yang terakhir.</p>
<p>“Puncaknya, pak Labdajaya akhirnya menjadi kurang waras dan masuk ke rumah sakit jiwa.”</p>
<p>Ketika mendengar kabar tersebut, Kia seperti terkena serangan jantung. Ia tak percaya bahwa papanya akan melakukan hal-hal seperti itu demi dirinya. Ia tak pernah menyadari hal tersebut karena interaksi yang mereka jalani selama ini lebih mirip hubungan bos dan anak buahnya. Kia harus mengerjakan apa yang diperintahkan oleh papanya. Di balik kekerasan sikapnya, ternyata papanya mempedulikan dirinya sedemikian rupa. Sekali lagi, air mata keluar dari matanya.</p>
<p>Bu Thomas memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berusaha menenangkan Kia dengan mengelus pundaknya. Hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang. Siapa yang tidak akan menangis mendengar cerita seperti itu? Ia tak terlalu mengenal keluarga Labdajaya, tapi ia tahu bahwa Kia adalah anak baik-baik.</p>
<p>“Kalau mama gimana pak?” tanya Kia dengan suara yang masih terbata-bata. Dari tadi, pak Thomas hanya bercerita tentang papanya. Ia belum mendengar satu kabar pun tentang mamanya.</p>
<p>“Bu Labdajaya sendiri tentu sedih bukan main ketika kamu menghilang. Hanya beberapa minggu setelah kamu hilang, eh…” pak Thomas tak kuasa melanjutkan kalimatnya.</p>
<p>“Bu Labdajaya meninggal dunia Kia,” bu Thomas melanjutkan kalimat suaminya, ”ia terus menyalahkan dirinya hingga hal tersebut menganggu kesehatannya. Ia berpikir bahwa kamu hilang karena ia tak melakukan tugasnya sebagai seorang ibu kurang baik. Ibu juga kurang tahu pasti apa penyebab meninggalnya.”</p>
<p>Tak ada air mata yang keluar dari mata Kia. Ia telah kehilangan kesadaran ketika mendengar kalimat bu Thomas barusan. Semuanya mendadak gelap, dan hati kecilnya berharap bahwa matanya tak akan terbuka lagi untuk selamanya.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah membawa Kia yang pingsan ke kamar anak sulungnya, pak Thomas menemui istrinya yang sedang membersihkan ruang tamu. Jelas kejadian ini mengejutkan mereka berdua. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh kedua anaknya tidak dijawab dengan jelas. Ia sendiri butuh waktu untuk mencerna apa saja yang baru terjadi. Masalah lain menggantung di pikirannya, ke mana Kia akan pergi setelah ini? Jelas ia tidak akan mampu menampung Kia di sini karena ia merasa tak akan mampu menafkahi jika bertambah satu anggota keluarga. Mungkin, menghubungi pihak keluarga Labdajaya yang masih hidup? Sepertinya hal tersebut juga sulit untuk dilakukan. Ia tak pernah tahu siapa saja keluaga Labdajaya yang masih hidup. Bahkan dari yang ia dengar, bapak dan ibu Labdajaya sama-sama anak tunggal.</p>
<p>“Apa aku menghubungi Budi saja, ya?” gumamnya teringat kepala asisten rumah tangga keluarga Labdajaya. Semenjak insiden hilangnya Kia, orang-orang yang selama ini ada di sana harus pergi tanpa kejelasan. Ada yang mencari pekerjaan di tempat lain, ada yang memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Ia sendiri tak ingat kapan terakhir kali menghubungi Budi. Selama ini, hubungan mereka hanya sebatas kolega kerja saja. Walaupun begitu, ia ingat masih menyimpan nomornya.</p>
<p>Kebimbangan yang dirasakan pak Thomas bisa dirasakan oleh istrinya. Oleh karena itu, ia menghampiri suaminya tersebut untuk menenangkannya.</p>
<p>“Udah pak, jangan terlalu dipikirin. Masalah Kia kita diskusikan besok aja. Sekarang yang penting anak itu pulih dulu dari kondisinya yang sekarang.”</p>
<p>“Iya, aku kepikiran gimana ke depannya. Kamu tahu kan enggak mungkin ia akan di sini terus, kondisi ekonomi kita pas-pasan.”</p>
<p>“Udah, kamu istirahat dulu aja sana. Besok kita pikirin bareng-bareng. Besok enggak ada jadwal ngajar, toh? Mungkin Kia akan minta diantar ke papa dan mamanya.”</p>
<p>“Iya, pasti Kia juga akan minta itu. Semoga besok kita menemukan jalan keluarnya, ya.”</p>
<p>Bu Thomas menganggukkan kepalanya. Mereka berdua telah kenal sejak SMA, sehingga tahu persis tentang satu sama lain. Suaminya adalah orang yang biasa-biasa saja, bukan tipikal orang yang menonjol. Sejak dulu, kegemarannya adalah bermain piano dan pernah meraih beberapa prestasi. Sayang, bakatnya tersebut tidak mampu membuatnya menjadi maestro terkenal. Ia hanya mampu menjadi guru honorer sebagai guru kesenian.</p>
<p>Ketika pak Labdajaya menawarinya menjadi guru privat anaknya, suaminya senang bukan kepalang. Darah seninya seolah kembali mengalir dengan deras melalui nadi-nadinya. Ia tak ingat apa alasan memilih suaminya untuk menjadi guru privat, yang jelas semenjak itu perekonomian keluarga mereka meningkat.  Bahkan, suaminya sempat membeli mobil agar bisa mengajak anak-anaknya rekreasi. Sayang, setelah keluarga Labdajaya jatuh, perekonomian mereka pun ikut runtuh. Mobil yang masih dicicil tersebut akhirnya di over kreditkan ke orang lain. Mereka sedang mengalami masa-masa sulit akibat kejadian ini.</p>
<p>Kini, masalah baru muncul. Anak yang dikabarkan telah hilang selama ini ternyata muncul kembali. Kabar ini pasti akan segera tersebar dengan cepat. Para wartawan akan segera memburunya untuk mengulik informasi. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang, selain berdoa agar semua baik-baik saja.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-25-anak-yang-hilang/">Bagian 25 Anak yang Hilang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagian 24 Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-24-pulang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Jul 2019 05:11:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[bagian 24]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2553</guid>

					<description><![CDATA[<p>Alice mengantar Kia ke kamar di mana ia akan bertemu dengan tamunya. Kia tak berhenti menangis hingga Alice bingung harus melakukan apa. Apalagi, Rosi sudah pergi entah ke mana. Sebelum pergi, Rosi mengatakan bahwa Kia dan tamunya akan bertemu di kamar 1245. “Kia, udahan dong nangisnya, aku jadi bingung nih.” kata Alice berusaha menghibur Kia. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-24-pulang/">Bagian 24 Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Alice mengantar Kia ke kamar di mana ia akan bertemu dengan tamunya. Kia tak berhenti menangis hingga Alice bingung harus melakukan apa. Apalagi, Rosi sudah pergi entah ke mana. Sebelum pergi, Rosi mengatakan bahwa Kia dan tamunya akan bertemu di kamar 1245.</p>
<p>“Kia, udahan dong nangisnya, aku jadi bingung nih.” kata Alice berusaha menghibur Kia.</p>
<p>Kalimat yang keluar dari mulut Alice sama sekali tidak membuat Kia merasa tenang. Bayangannya tentang apa yang akan terjadi pada dirinya sesaat lagi membuatnya sedih. Alice yang sebenarnya baik hati memutuskan untuk mengambilkan sekotak tisu yang terdapat di atas meja kamar. Kia mengambil dua lembar untuk menyeka kedua matanya yang pasti sudah terlihat sembab tak karuan.</p>
<p>“Udah, kamu nunggu di sini aja sambil nonton TV. Kamu bisa ya aku tinggal? Nanti kalau tamunya datang, bukakan pintunya. Lakukan apa yang udah aku ajarin tadi dan jangan lupa untuk selalu tersenyum, walaupun kayaknya kamu sama sekali enggak memperhatikan aku tadi.”</p>
<p>Kia tidak mengangguk ataupun menggelengkan kepala. Ia tak merasa pernah menyetujui pekerjaan kotor ini. Ia dipaksa, bahkan dijual bagaikan benda mati. Setelah mengalami semua hal ini, bagaimana ia bisa memberikan senyum kepada orang asing?</p>
<p>“Sebenarnya memang agak aneh sih, biasanya tamu itu datang malam hari. Eh, ini ada orang datangnya siang. Udah gitu, mintanya ketemu sama gadis baru. Kok ya kebetulan pas kamu datang. Semoga orangnya normal ya Kia. Aku tinggal dulu, ini TV-nya aku nyalakan, <em>bye</em>.”</p>
<p>Terdengar suara bising televisi yang sama sekali tidak dihiraukan Kia. Matanya telah berhenti mengeluarkan air mata, diganti dengan tatapan kosong karena semangat hidupnya telah diangkat. Ketika mengangkat kepalanya, ia melihat bayangan dirinya di sebuah cermin yang menjadi satu dengan pintu lemari. Cermin. Benda itulah yang telah membawanya kemari, ke dunia ini. Melalui cermin yang ada di museum itulah dirinya bisa bertemu dengan pak Kusno, bu Imah, Qila, bahkan Yoga.</p>
<p>“Mereka sedang apa ya?” gumam Kia lirih sembari memeluk lututnya.</p>
<p>Kurang lebih setengah jam Kia melamun. Tamu tersebut sepertinya terlambat. Bisa jadi, ia membatalkan niat atau lupa. Kia berharap itu benar-benar terjadi, meskipun ia tahu akan ada tamu-tamu lain yang akan datang. Di luar terdengar suara keramaian dan letusan kembang api. Mungkin sedang ada festival di dekat sini. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mengintipnya, lebih memilih untuk melanjutkan lamunannya yang diiringi oleh suara bising televisi.</p>
<p>Perhatian Kia terusik ketika mendengar kata perang yang berasal dari televisi. Kia mendongakkan kepala untuk melihat apa yang terjadi. Di bagian bawah siaran <em>breaking news </em>tersebut, tertulis KERAJAAN ANDALAS MELAKUKAN INVASI KE BATAVIA. Kia mengambil <em>remote </em>TV dan memperbesar suaranya.</p>
<p>“Bisa di lihat dari kejauhan bahwa pasukan dari kerajaan Andalas baru saja membombardir pelabuhan melalui laut. Tidak banyak pasukan yang bersiaga di pelabuhan karena memang sejak beberapa bulan yang lalu, raja memutuskan untuk mengonsentrasikan pasukannya di selat Sunda karena perebutan wilayah minyak. Serangan mendadak yang baru terjadi sepuluh menit yang lalu ini sangat mengejutkan warga yang tinggal di daerah pelabuhan, sehingga banyak yang berusaha melarikan diri dan bersembunyi ke tempat terdekat seperti Hotel Alexa…”</p>
<p>Kia tidak lagi mendengarkan suara televisi. Ia beranjak dari atas kasur dan melihat ke arah jendela. Ternyata hotel ini sangat dekat dengan laut, mungkin hanya berjarak sekitar dua atau tiga kilometer. Suara-suara yang ia dengar tadi ternyata bukan festival, melainkan teriakan orang-orang yang panik dan suara tembakan kapal perang di mana-mana. Dari tempatnya berdiri sekarang, ia bisa melihat kebakaran di mana-mana. Di laut sana, berjejer kapal-kapal tempur tak henti-hentinya mengeluarkan tembakan ke segala penjuru.</p>
<p>“Baik saudara, kini saya di studio sudah terhubung dengan menteri keamanan pertahanan, bapak Suryadiningrat di Yogyakarta. Selamat pagi bapak.” Kia mendengarkan televisi kembali. Nampak terlihat seseorang dengan wajah garang yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi kemarahannya. Mereka sedang melakukan <em>teleconference.</em></p>
<p>“Serangan mendadak yang dilakukan oleh pihak musuh adalah perbuatan biadab yang tidak berperikemanusiaan. Menyerang sipil yang tak berdosa adalah tindakan yang hanya dilakukan oleh binatang.” kata bapak Suryadiningrat.</p>
<p>“Bagaimana bisa militer lengah terhadap serangan ini? Kenapa seolah-olah Batavia dengan mudahnya digempur tanpa pengamanan?” tanya pembawa acara dengan nada yang tajam.</p>
<p>“Pertama, karena kami sedang memfokuskan pertahanan di Selat Sunda. Kedua, Batavia sudah disepakati bersama dengan negara-negara lain sebagai wilayah netral karena wilayah ini adalah pusat perdagangan tidak hanya untuk Jawa, tapi untuk seluruh kerajaan di kawasan Nusantara! Kami memang melihat adanya gerak-gerik mencurigakan dari armada mereka, namun kami sama sekali tak menyangka mereka akan melakukan serangan di tengah hari seperti ini. Kami sudah lengah, kami mengakui kesalahan ini.”</p>
<p>“Apa yang sudah bapak lakukan untuk menahan gempuran dari pihak musuh?”</p>
<p>“Saya sudah kerahkan semua pasukan, baik darat, udara, maupun laut untuk melancarkan serangan balik. Selain itu, kami juga mengevakuasi semua warga yang tinggal di sana. Saat ini, beberapa pasukan sudah bersiaga di sana. Batavia utara secara resmi telah dinyatakan sebagai daerah perang oleh Yang Mulia Raja.”</p>
<p>“Beberapa masyarakat bersembunyi di gedung-gedung terdekat seperti Hotel Alexa, apakah tindakan ini aman?”</p>
<p>“Tidak, karena hotel tersebut masuk ke dalam radius serangan kapal tempur milik lawan. Hanya tinggal menunggu waktu saja misil akan meluncur untuk menghancurkan bangunan tersebut.”</p>
<p>Di saat Kia sedang fokus mendengarkan televisi, terdengar suara pintu terbuka. Alice terlihat sangat pucat dan ketakutan. Sebaliknya, Kia yang tadi begitu tegang justru terlihat tenang sekarang.</p>
<p>“Kia, ayo kita pergi dari sini. Truk tentara sudah datang untuk menjemput. Kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum hancur.” kata Alice tergesa-gesa.</p>
<p>“Maaf Alice, aku di sini aja. Terima kasih ya, walaupun kita baru sebentar, aku tahu kamu orang baik.” jawab Kia.</p>
<p>Alice memandang tak percaya ke arah Kia. Gadis yang ada di hadapannya terlihat begitu berbeda dengan gadis yang ia temui tadi pagi. Dengan sedikit terpaksa, Alice segera keluar kamar dan menutup pintu. Setelah Alice pergi, Kia kembali menatap ke arah jendela. Ia bisa melihat beberapa pasukan darat telah datang untuk memberikan serangan balasan sekaligus mempertahankan daerah pantai yang kata bu Imah adalah pusat perdagangan kerajaan Jawa. Mungkin, karena itulah kerajaan Andalas mengincar pelabuhan ini demi melumpuhkan sektor ekonomi kerajaan Jawa. Kia banyak membaca buku sejarah tentang kerajaan, sehingga ia mengetahui beberapa taktik perang yang pernah digunakan. Pasti akan terasa asyik untuk mendiskusikannya dengan Yoga, seandainya laki-laki tersebut ada di sini.</p>
<p>Mengapa ia bisa setenang ini ketika maut begitu dekat dengannya? Jawabannya adalah karena ia sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi. Ia telah membuang dunianya, lalu ia dibuang dari keluarga barunya yang amat ia sayangi. Daripada harus menjalani hidup yang hina seperti sekarang, mati adalah opsi yang lebih baik. Apalagi, ia akan mati di medan perang. Bukankah kematian seperti ini adalah kematian yang heroik, seperti yang ia baca dari buku-buku sejarah kegemarannya?</p>
<p>Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Kia yang sedang berada di jendela pun terkejut. Pasti bukan Alice yang sudah pergi dari sini. Lalu siapa? Apakah tamu yang harus ia layani? Tapi tidak mungkin, karena dalam kondisi darurat seperti ini tidak mungkin ada orang yang berpikiran seperti itu. Lantas, siapa? Jantung Kia kembali berdebar cepat. Dengan langkah perlahan, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Di sana, berdirilah sang kakek tua yang membuatnya berada di dunia ini.</p>
<p>“Ka…kakek…” ujar Kia lirih tak percaya. Air matanya kembali keluar, entah karena terkejut atau terlalu bahagia bertemu dengan seseorang yang dikenalnya.</p>
<p>“Ah Kia, apa kabar? Sudah lama kita tidak berjumpa. Hampir satu tahun sejak kejadian di museum itu ya? Boleh kakek masuk?”</p>
<p>“Kakek, kenapa hidup Kia jadi seperti ini?” tanya Kia setelah mereka berdua duduk di dalam kamar, seolah tak mempedulikan berbagai suara bising yang ada di luar.</p>
<p>“Kamu menginginkan hidup yang ideal, dengan keluarga yang menyayangimu. Kamu sudah mendapatkan itu kan?”</p>
<p>“Iya kek, tapi kenapa sekarang Kia bisa ada di sini? Kia dipaksa menjual diri untuk melayani seseorang di ruangan ini.”</p>
<p>“Hahaha, kakek lah yang memesan ruangan ini agar bisa bertemu dengan kamu. Tenang, kakek sama sekali tidak akan berbuat jahat ke kamu. Ada yang ingin kakek sampaikan ke kamu. Petualanganmu akan segera berakhir Kia.”</p>
<p>“Apa kek? Apa maksudnya petualangan akan berakhir?”</p>
<p>“Satu-satu ya. Coba, kamu cerita bagaimana hidupmu di dunia ini.”</p>
<p>Maka dengan bersemangat Kia menceritakan semuanya mulai awal, bagaimana ia tiba-tiba berada di tengah sawah, lantas bertemu dengan pak Kusno dan tinggal bersama mereka. Ia bertemu dengan Yoga dan memulai kegiatan mengajar yang diberi nama Ruang Belajar. Lalu timbullah konflik antara dirinya dan beberapa anggota Karang Taruna hingga puncaknya ia harus diusir secara keji karena fitnah yang diarahkan kepadanya.</p>
<p>“Kamu sudah mengalami banyak kejadian yang tidak akan pernah terjadi di dunia aslimu, kan?”</p>
<p>“Iya kek.”</p>
<p>“Lantas, mana yang lebih kamu pilih, dunia aslimu atau dunia ini?”</p>
<p>Kia bingung menjawab pertanyaan tersebut. Jika disuruh memilih, tentu ia akan memilih hidup bersama keluarga pak Kusno tanpa adanya konflik yang menimpa dirinya seperti ini. Akan tetapi, Kia tahu jawaban seperti itu tidak akan diterima oleh sang kakek.</p>
<p>“Kia enggak tahu kek. Kia hanya ingin hidup tenang dan disayang oleh orang-orang yang berada di sekitar Kia.”</p>
<p>“Ah, begitu ya. Lalu, kira-kira pelajaran apa yang kamu dapatkan dari ceritamu tadi?”</p>
<p>“Banyak kek. Kia jadi paham bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ketika masih berada di dunia tempat Kia berasal, Kia mungkin berlimpah harta tapi miskin kasih sayang. Sebaliknya, ketika berada di sini, Kia berlimpah kasih sayang meskipun tidak punya uang. Kia benar-benar merasakan perbedaan itu.”</p>
<p>“Ada lagi?”</p>
<p>“Kia jadi sadar kalau Kia berbakat untuk mengajar. Kia ternyata suka berinteraksi dengan orang dengan berbagi ilmu yang dimiliki. Kia tak menyangka hal ini karena sebelumnya Kia sangat jarang berinteraksi dengan orang lain, termasuk teman sekelas. Di sini, Kia bertemu dengan banyak orang, ada yang baik tapi ada juga yang enggak suka sama Kia. Kia jadi belajar tentang watak orang yang bermacam-macam.”</p>
<p>“Ada lagi?”</p>
<p>“Rasanya masih banyak kek, tapi yang paling penting adalah dua hal itu. Jika masih berada di dunia asal Kia, pasti Kia tidak akan menyadari kedua hal tersebut.”</p>
<p>“Begitu ya, kalau begitu, sekarang kakek akan kasih kamu dua pilihan.”</p>
<p>“Apa kek?”</p>
<p>“Pilih salah satu, kamu ingin pulang ke dunia asalmu, atau tetap di tempat ini.”</p>
<p>Kia begitu terkejut mendengar ucapan kakek. Ketenangan menghadapi kematian yang sudah ia kumpulkan tadi tiba-tiba sirna. Ia melihat ada kesempatan untuk bertahan hidup.</p>
<p>“Aku bisa pulang ke duniaku?” tanya Kia.</p>
<p>“Bisa, semua tergantung keinginanmu Kia. Hidup ini adalah pilihan, dan terkadang kita harus memilih pilihan yang diberikan oleh orang lain. Waktumu untuk memilih tidak banyak nak, kakek akan segera pergi dari kamar ini. Jika kamu ingin tetap di dunia ini, maka berbaringlah di atas kasur dan tunggu gedung ini hancur tidak lama lagi. Jika kamu ingin tetap hidup dan kembali ke dunia asalmu, masuklah ke dalam cermin di lemari itu, sama seperti yang kamu lakukan dulu.” kata kakek sambil menunjuk cermin yang tadi sempat dilihat oleh Kia. Setelah mengucapkan hal tersebut, sang kakek berdiri dan memegang kepala Kia dengan lembut.</p>
<p>“Kakek meralat ucapan tadi, petualanganmu belum berakhir.”</p>
<p>Setelah itu, kakek tersebut melangkah keluar kamar. Kia yang sempat terpaku dalam duduknya segera mengejar sang kakek. Ketika Kia berada di luar kamar, sang kakek telah lenyap. Tidak ada satu manusia pun berada di lorong hotel tersebut. Ia kini sendirian, dihadapkan oleh dua pilihan yang harus ia tentukan segera. Kakek tersebut nampaknya tidak main-main dengan ucapannya, karena suara ledakan semakin keras terdengar. Gedung tersebut juga mulai berguncang karena terkena serangan.</p>
<p>“Astaga, mana yang harus aku pilih.”</p>
<p>Kia hilir mudik di kamar sambil menimbang-nimbang pilihan. Apakah kembali ke dunia aslinya adalah pilihan yang lebih baik daripada mati di sini? Apakah ia siap melupakan segala kenangan tentang keluarga pak Kusno dan kembali ke keluarga Labdajaya yang tidak menyayanginya? Apakah ia siap melupakan Karang Taruna dan kembali bertemu dengan teman-teman sekolahnya yang jahat?</p>
<p>Api mulai menjalar ke mana-mana. Hotel Alexa telah terbakar dan tak butuh waktu lama lagi untuk rubuh. Setelah melakukan berbagai pertimbangan di dalam pikirannya, Kia akhirnya memutuskan untuk kembali ke dunianya. Setidaknya, ia akan hidup dengan membawa berbagai kenangan indah di dunia ini. Itu sudah cukup sebagai modal hidupnya. Selama ada kenangan tersebut, Kia yakin ia akan bisa hidup seperti biasa dengan lebih bahagia.</p>
<p>Tapi, apa yang harus ia katakan kepada orangtuanya? Ia telah menghilang hampir satu tahun. Betapapun tidak pedulinya mereka kepada anaknya sendiri, hilang dalam waktu selama itu tentu akan membuat mereka khawatir. Tapi sudahlah, itu bisa ia pikirkan nanti. Yang harus ia lakukan sekarang adalah masuk ke dalam cermin tersebut.         Ia berusaha mengingat apa yang terjadi di museum waktu itu. Ia coba mengulangi peristiwa tersebut dengan mengganti apa yang ia inginkan sekarang.</p>
<p>“Aku ingin pulang, aku ingin pulang.”</p>
<p>Kia menutup mata, berusaha menembus cermin kamar hotel tersebut. Sama seperti sebelumnya, ia tak pernah menyentuh cermin tersebut. Ia telah pulang ke dunia asalnya, tanpa tahu apa yang sedang menunggunya di sana.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-24-pulang/">Bagian 24 Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagian 23 Hotel Alexa</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-23-hotel-alexa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jul 2019 04:26:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[bagian 23]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2499</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di atas langit pulau Jawa, Kia memandang ke luar jendela pesawat yang membawanya ke Batavia, menatap awan senja yang terbentang di bawahnya. Dulu dari jendela kamar di dunia aslinya, ia sering menatap awan. Ia merasa bahwa awan dan dirinya memiliki kesamaan, yakni tidak bisa bergerak atas keinginannya sendiri. Jika awan hanya bisa bergerak sesuai kehendak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-23-hotel-alexa/">Bagian 23 Hotel Alexa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di atas langit pulau Jawa, Kia memandang ke luar jendela pesawat yang membawanya ke Batavia, menatap awan senja yang terbentang di bawahnya. Dulu dari jendela kamar di dunia aslinya, ia sering menatap awan. Ia merasa bahwa awan dan dirinya memiliki kesamaan, yakni tidak bisa bergerak atas keinginannya sendiri. Jika awan hanya bisa bergerak sesuai kehendak angin, maka ia hanya bergerak sesuai kehendak orangtuanya. Akan tetapi, ternyata kebebasan yang ia idam-idamkan tidak seenak yang dibayangkan. Buktinya, ia mengalami berbagai hal menakutkan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Termasuk penculikan yang terjadi pada dirinya sekarang.</p>
<p>Ia melirik kepada wanita yang duduk di sebelahnya. Wanita itu sedang tidur terlelap, sedangkan pria yang dipanggil Toni sedang membaca sebuah buku. Kia yang duduk di dekat jendela tidak berani untuk sekadar bangkit dari kursinya untuk kencing di kamar mandi. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang selain mematuhi semua perintah yang diberikan kepadanya. Seandainya ada pisau di dekatnya, mungkin ia sudah mengiris nadinya sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Sesampainya di bandara Batavia, mereka bertiga langsung masuk ke dalam mobil yang telah menjemput mereka. Bandara di dunia ini sangat mirip dengan bandara yang ada di dunianya Kia, sehingga ia seketika berharap bisa bertemu dengan papa mamanya. Harapan kosong itu segera ia lenyapkan dari benaknya. Ia tahu, ia telah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan keluarganya dan masuk ke dunia lain, sehingga apapun yang terjadi pada dirinya adalah tanggung jawab dirinya sendiri. Terbit seberkas rindu kepada orangtua yang sering dibencinya itu.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, Kia mendengar ungkapan-ungkapan seperti “barang bagus” dan “lumayan menjual”. Kia sama sekali tidak memahami hal tersebut. Apakah mereka sedang membicarakan dirinya? Jika iya, mengapa dirinya dianggap seolah-olah sebuah barang? Apakah memang dirinya akan dijual? Dijual sebagai apa? Kia memikirkan berbagai kemungkinan, hingga ia menemukan satu jawaban yang cukup membuatnya menangis.</p>
<p>“Hei, ngapain kamu nangis? Diam, berisik tahu!” ujar wanita tersebut ke arah Kia dengan nada jijik.</p>
<p>“Ma…maaf.” jawab Kia lirih, hampir tak terdengar.</p>
<p>“Percaya sama saya, selama kamu menuruti semua perintah kami, semua akan baik-baik saja. Bahkan, kamu bisa dapat uang banyak dan kehidupan yang layak, tidak seperti hidupmu di kampung itu.”</p>
<p><em>Tidak, aku tidak butuh uang banyak, aku hanya butuh kehidupan bahagia seperti di kampung itu</em>, jawab Kia di dalam hati. Wanita ini jelas tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Ia hanya ingin hidup dengan kasih sayang di sekitarnya, dan hal tersebut telah direnggut dari dirinya secara paksa. Padahal, ketika memasuki cermin di Kota Tua itu, ia membayangkan kehidupan normal yang datar-datar saja, bukan kehidupan yang menegangkan seperti ini.</p>
<p>Ia jadi teringat dengan kakek tua itu. Di mana kakek tersebut berada sekarang? Apakah sang kakek bisa membantunya keluar dari ini semua? Kia sampai berharap, kakek tersebut bisa membantunya kembali ke dunia aslinya.</p>
<p>***</p>
<p>Perjalanan yang dilalui Kia tidak lama, hanya sekitar 30 menit lewat jalan tol. Kia berhenti di sebuah gedung berwarna hitam dengan tulisan “ALEXA” terpampang di bagian atasnya. Nampaknya ini merupakan sebuah hotel, namun entah mengapa terlihat sangat mencurigakan. Kia ditarik oleh laki-laki bernama Toni itu untuk memasuki hotel. Setelah berbicara sebentar dengan resepsionis, mereka melangkah ke dalam lift dan menuju ke lantai 10.</p>
<p>Ketika berada di lobi, Kia mencium aroma-aroma tidak sedap yang memabukkan. Kia tak pernah minum alkohol, tapi ia bisa yakin bahwa aroma yang mengambang tersebut adalah alkohol. Mungkin ada bar di dekat sana. Ketika Kia berusaha mencari sumber bau tersebut, ia tak menemukan ada ruangan yang terlihat sebagai bar. Kondisi yang tidak mengenakkan ini membuat Kia semakin merasa tertekan.</p>
<p>Pintu lift terbuka. Mereka berjalan menuju kamar nomor 1010. Setelah tiga ketukan yang terdengar sebagai sebuah kode, terbukalah pintu tersebut dan terlihat seorang wanita berusia 50-an dengan rambut pendek dan berbagai aksesoris emas di gelangnya. Ia bersiul ketika melihat Kia yang diiringi dengan senyum mengerikan. Wanita itu lantas menyuruh mereka masuk ke kamarnya.</p>
<p>“Biasanya kalian menawarkan barang yang kurang bagus, tapi kali ini nampaknya kalian berhasil menemukan berlian murni.” kata wanita tua itu sambil menghisap pipanya.</p>
<p>“Kami menemukannya di sebuah kampung kumuh, tempat orang-orang miskin tinggal. Dari informasi yang kami dapatkan, anak ini tiba-tiba berada di kampung itu dengan kondisi hilang ingatan.” jawab wanita yang membawa Kia ke tempat ini.</p>
<p>“Benarkah? Menarik sekali. Nama saya Rosi anak muda, pemilik hotel dan bisnis ini. Tak perlu menggunakan bu, langsung panggil nama saja. Namamu siapa anak cantik?”</p>
<p>“Kia.” jawab Kia tanpa menyembunyikan ekspresi takutnya.</p>
<p>“Nama yang bagus, pasti disukai oleh para pelanggan. Sepertinya kamu masih berusia 17 tahun ya?”</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>“Kamu takut ya?”</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>“Boleh tinggalkan kami berdua? Saya sangat tertarik dengan gadis ini.”</p>
<p>“Tapi uangnya?” tanya Toni.</p>
<p>“Bisa kita diskusikan setelah aku berbicara dengan anak ini. Kamu dan Dewi tolong keluar sebentar, tunggulah di bar. Masalah uang jangan khawatir, saya tidak pernah ingkar janji, kan?”</p>
<p>Mereka berdua pun menuruti apa kata Rosi dan beranjak pergi dari kamar itu. Anehnya, Kia justru merasa lebih tenang ketika bersama wanita tua ini. Setidaknya, nadanya sama sekali tidak mengintimidasi dirinya dan terdengar lebih bersahabat.</p>
<p>“Nah, anak manis, saya kira kamu tidak tahu pekerjaan apa yang akan saya tawarkan kepadamu.” kata Rosi memulai pembicaraan.</p>
<p>“Tidak.” meskipun di dalam hati ia bisa menebak apa jawabannya.</p>
<p>“Saya memulai bisnis ini semenjak usia muda, awalnya di pinggir kali. Akan tetapi, ternyata saya bisa sukses karena dari sananya saya memang berbakat dalam bisnis. Bahkan, saya akhirnya bisa membangun hotel ini dan bisnis lain yang tersebar di mana-mana. Kamu sudah bisa menebak apa pekerjaan saya?”</p>
<p>Kia menggelengkan kepala, memilih mendengar sendiri jawabannya dari Rosi.</p>
<p>“Entah kamu pura-pura bodoh atau memang polos. Baiklah, akan saya beritahu. Saya adalah seorang mucikari yang memiliki ratusan wanita yang siap menjual dirinya. Kamu, akan bergabung bersama ratusan wanita itu.”</p>
<p>Kia sudah menduga jawaban ini, tapi tetap saja ia merasa terkejut setelah mendengarnya secara langsung. Ia tahu, bahwa dirinya akan dijual untuk hal ini. Ia tidak mau melakukan perbuatan dosa ini, tapi ia tidak tahu bagaimana harus menghindarinya.</p>
<p>“Nanti akan saya jelaskan prosedurnya, saya juga akan mengajari bagaimana cara kerjanya. Selama kamu menurut, kamu akan mendapatkan kehidupan yang lebih layak daripada di kampung itu.”</p>
<p>“Tolong bu, saya tidak mau, saya ingin pulang.” pinta Kia, berusaha melarikan diri dari kenyataan ini.</p>
<p>“Awalnya semua juga ngomong seperti itu, tapi pada akhirnya mereka justru menikmati pekerjaan ini. Tenang aja, kamu juga akan berpikiran seperti itu pada akhirnya.”</p>
<p>“Jangan bu, saya mohon dengan sangat bu. Jadikan saya pelayan atau apapun, tapi jangan suruh saya menjual diri.”</p>
<p>“Kamu punya aset tubuh yang indah anakku, sayang jika tidak dimanfaatkan. Sudah, percaya sama saya, semua akan baik-baik saja.”</p>
<p>Faktor tegang dan stres membuat Kia tiba-tiba tak sadarkan diri. Sejenak sebelum ia pingsan, Kia berharap dirinya tak akan pernah bangun lagi.</p>
<p>***</p>
<p>Kia baru siuman ketika matahari sudah terbit beberapa derajat. Ia segera memeriksa tubuhnya. Nampaknya tidak terjadi apa-apa selama ia jatuh pingsan. Di mana ia berada sekarang? Apakah di kamar Rosi? Melihat betapa mewahnya kamar ini membuat ia merasa percaya hal tersebut. Di perhatikan sekelilingnya, tidak ada siapapun. Beranikah ia untuk kabur?</p>
<p>Lalu Kia melihat sebuah jendela hotel. Ia bangkit dari kasur dan melangkah menuju jendela tersebut. Jendela tersebut bisa dibuka. Ia menengok ke bawah dan langsung merasa ngeri karena ketinggiannya. Ia berada di lantai 10, dan loncat dari sini akan langsung membuatnya tewas dalam sekejap. Tapi, rasanya kematian masih lebih baik daripada menjalani kehidupan yang seperti ini. Kia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberaniannya.</p>
<p>“Oh, sudah bangun kamu?” tanya Rosi dari arah belakang, membuat Kia terkejut bukan main. Dengan upaya yang tergesa-gesa, ia berusaha terlihat tenang.</p>
<p>“Kenapa kamu terlihat sangat tegang? Dan kenapa kamu membuka jendela?” tanya Rosi lagi, mulai curiga.</p>
<p>“Eh, maaf, saya cuma ingin merasakan udara pagi hari supaya lebih tenang.” jawab Kia susah payah.</p>
<p>“Oh begitu.” kata Rosi meskipun ia sama sekali tidak mempercayai jawaban Kia.</p>
<p>“Maaf, akan segera saya tutup.”</p>
<p>“Ini sarapanmu, dihabiskan ya.”</p>
<p>“Baik, terima kasih bu.”</p>
<p>“Setelah ini, kamu akan melayani tamu pertamamu. Kamu enggak perlu ngapain-ngapain, nurut saja sama orang itu. Dia sudah tua sih, kayaknya lebih pantas jadi kakekmu. Yang namanya laki emang enggak pernah ada puasnya. Udah mau mati juga tetap aja maksiat.”</p>
<p>Kia tersedak mendengar kalimat dari Rosi barusan. Benarkah ia harus menjalani kehidupan seperti ini? Benarkah ia harus menjual tubuhnya ke orang lain? Bisakah ia menolak semua ini?</p>
<p>“Ingat, saya sudah bayar 120 juta ke Toni dan Dewi, jadi tolong jangan kecewakan saya. Jangan pernah berpikir untuk kabur karena keamanan di sini sangat ketat. Sekali saja kamu berani untuk kabur, kamu akan mengalami pengalaman terburuk dalam hidupmu hingga kamu lebih memilih untuk mati. Paham?”</p>
<p>Kia tidak menjawab, hanya air matanya saja yang tumpah. Rosi tak mempedulikan hal tersebut. Ia mengambil sebuah rantai dan gembok yang tersimpan di dalam lacinya, lalu berjalan menuju jendela kamarnya. Ia tidak akan membiarkan gadis ini berbuat nekat. Hampir saja ia rugi ratusan juta jika saja ia terlambat memasuki kamar. Setelah itu, ia memutuskan untuk keluar kamar.</p>
<p>“Ingat Kia, tamumu menunggu jam 10 pagi, nanti akan saya beritahu kalau waktunya sudah tiba. Sekarang kamu siap-siap. Jangan berbuat yang aneh-aneh. Meskipun saya enggak ada di sini, akan ada satu asisten saya yang menjagamu.”</p>
<p>Seusai mengatakan hal tersebut, Rosi meninggalkan Kia yang masih menangis. Kia benar-benar merasa hancur dan tak berdaya menghadapi semua ini.</p>
<p>“Kamu ya yang namanya Kia?”</p>
<p>Kia mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang berbicara. Tampak seorang gadis berambut panjang yang usianya mungkin hanya beberapa tahun di atasnya. Ia tidak terlalu cantik, namun mampu membuat dirinya terlihat menarik.</p>
<p>“Rosi nyuruh aku untuk mengawasi kamu. Wanita itu takut kamu akan bunuh diri.”</p>
<p>Kia tidak merespon sama sekali wanita baru ini. Pikirannya sudah terlalu penuh untuk sekadar merespon orang lain.</p>
<p>“Perkenalkan, namaku Alice, salah satu asisten Rosi.” kata Alice sambil menyodorkan tangannya. Kia tidak menghiraukan uluran tangan tersebut.</p>
<p>“Eh, tidak mau ya? Baiklah, mungkin karena kamu masih merasa takut. Tapi kamu enggak perlu takut kok sama aku.”</p>
<p>Alice mengambil posisi duduk di sebelah Kia. Naluri sebagai seorang wanitanya mengatakan bahwa Kia butuh bantuan dirinya.</p>
<p>“Ini pertama kali buat kamu ya?” tanya Alice kepada Kia yang masih menolak berinteraksi dengannya.</p>
<p>“Semua juga begitu kok waktu pertama kali, aku juga. Tapi, Rosi itu baik kok orangnya. Dia selalu membagi uangnya dengan adil. Selama kamu menuruti semua keinginannya, kamu bakal nyaman hidup di sini.”</p>
<p>“Aku tidak mau menjual diriku, lebih baik aku mati.” akhirnya Kia angkat bicara.</p>
<p>“Tidak seburuk yang kamu bayangkan kok. Aku tahu rasanya memang berat, tapi percaya sama aku, semua akan baik-baik saja.”</p>
<p>Kia tidak memahami apa makna “semua akan baik-baik saja” bagi Alice, karena baginya semua <em>tidak baik-baik saja </em>semenjak ia diusir dan diculik hingga harus berakhir di Hotel Alexa ini. Ia berharap bisa menemukan solusi untuk kabur dari sini. Namun, hingga jam menunjukan jam sepuluh kurang lima belas menit, ia tidak menemukan satupun cara.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-23-hotel-alexa/">Bagian 23 Hotel Alexa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagian 22 Dalang Semua Kejadian</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-22-dalang-semua-kejadian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jun 2019 14:40:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[bagian 22]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2468</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bu Imah langsung pingsan ketika mendengar kabar tentang Kia dari para warga. Pak Kusno tak bisa membendung air matanya. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak percaya dengan kabar tersebut karena tahu Kia tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu. Namun, warga menunjukkan bangkai bayi yang mereka temukan di dekat gubuk di mana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-22-dalang-semua-kejadian/">Bagian 22 Dalang Semua Kejadian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bu Imah langsung pingsan ketika mendengar kabar tentang Kia dari para warga. Pak Kusno tak bisa membendung air matanya. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak percaya dengan kabar tersebut karena tahu Kia tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu. Namun, warga menunjukkan bangkai bayi yang mereka temukan di dekat gubuk di mana pak Kusno berjumpa dengan Kia untuk pertama kali. Ia menjadi kacau, semangat hidupnya yang berhasil ia temukan luntur seketika. Setelah para warga keluar dari rumah, pak Kusno memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.</p>
<p>“Astaga, ini cuma mimpi kan?” gumam pak Kusno sambil melihat ke arah istrinya yang tengah pingsan. Anaknya juga sedang terbaring lemah di atas kasur. Hari ini sungguh hari yang buruk. Awalnya, ketika akan pulang dari pabrik, ia dihadang oleh sejumlah preman yang entah datang dari mana. Karena kalah jumlah, ia memberikan apapun yang ada di sakunya. Toh, jumlahnya memang tak pernah banyak. Setelah itu, ia menemukan fakta bahwa Kia telah dijemput oleh orangtuanya setelah diusir oleh warga.</p>
<p>“Tidak, tidak mungkin Kia berbuat hal buruk seperti itu, dia anak baik.”</p>
<p>Tapi, seberapa tahu ia tentang Kia? Asal-usulnya yang tidak jelas membuat ia mau tidak mau mempercayai fakta yang dijabarkan oleh warga, walaupun ia berusaha terus menyangkalnya. Benarkah Kia yang selama ini ia kenal benar-benar memiliki masa lalu sesuram itu? Rasanya mustahil. Tapi sekali lagi, fakta yang terpampang dengan jelas membuatnya meragukan kepercayaannya sendiri.</p>
<p>“Pak?” panggil bu Imah lirih. Ia telah sadar dari pingsannya.</p>
<p>“Iya bu?”</p>
<p>“Kia mana pak?”</p>
<p>Pak Kusno memegangi tangan bu Imah dengan penuh kasih sayang. Kondisi ekonomi yang berat tak membuat cinta mereka luntur. Justru, mereka akan saling menguatkan ketika masalah datang menerpa seperti sekarang. Raut wajah sedih jelas terpancar dari wajah bu Imah. Bagaimana tidak, Kia yang sudah ia sayang seperti anak sendiri harus direnggut secara tiba-tiba seperti ini.</p>
<p>“Ibu enggak percaya Kia berbuat seperti itu pak, enggak mungkin.”</p>
<p>“Tapi warga menemukan bangkai bayinya.”</p>
<p>“Bisa aja, itu bangkai palsu, bukan milik Kia.”</p>
<p>“Iya sih ,tapi . . .”</p>
<p>“Coba bapak ingat-ingat lagi, apa mungkin Kia yang kenal akan berbuat hal sejahat itu? Bapak tahu sendiri gimana sayangnya Kia ke Qila, mana mungkin ia mengubur seorang bayi yang tak berdosa.”</p>
<p>“Bisa jadi karena panik bu.”</p>
<p>“Enggak mungkin pak, sampai mati pun ibu enggak bakal percaya. Ibu sumpahin mampus tuh orang yang memfitnah Kia secara keji.”</p>
<p>Pak Kusno tak bisa berbuat banyak demi menenangkan istrinya. Ia yang tadi sudah percaya apa kata warga, mau tidak mau jadi mempertimbangkan pendapat istrinya. Benarkah Kia difitnah sedemikian rupa? Jika iya, apa yang sudah Kia perbuat hingga gadis itu harus mendapatkan fitnah seperti itu? Seingat pak Kusno, Kia tak pernah berbuat macam-macam di kampungnya. Ia hanya membuat kegiatan mengajar yang bermanfaat untuk warga sini. Berpikir sekeras apapun, pak Kusno tidak bisa menemukan jawabannya.</p>
<p>***</p>
<p>“Diusir?” tanya Yoga sepulang kuliah kepada mamanya, ketika ia mendapatkan kabar tentang pengusiran Kia lantas dijemput oleh orangtuanya.</p>
<p>“Iya, tadi ada yang menemukan bangkai bayi di dekat gubuk tempat ia ditemukan. Enggak nyangka ya, di balik wajah polosnya ternyata ia wanita penuh dosa.” jawab mamanya alias bu Dewo.</p>
<p>“Enggak mungkin ma, Kia itu anak baik.”</p>
<p>“Ya bisa aja, apa sih yang enggak mungkin di dunia ini?”</p>
<p>“Gimana kalau bangkai itu bukan punya Kia? Gimana kalau ada orang lain yang melakukan itu?”</p>
<p>“Ya mana mama tahu, kamu tanya aja sama orang-orang sana.”</p>
<p>“Terus sekarang Kia di mana?”</p>
<p>“Tadi sih Kia dijemput sama ibunya.”</p>
<p>“Ibunya?”</p>
<p>“Iya, tadi sewaktu Kia diusir di depan gerbang, tiba-tiba ada mobil berhenti. Eh, ternyata ibunya Kia datang. Terus dia cerita tentang Kia yang memang lagi hamil terus kabur dari rumah. Terbukti deh semua tuduhan warga.”</p>
<p>“Kalau gitu, aku ke rumah pak Kusno dulu sekarang.”</p>
<p>Setelah meletakkan tasnya di ruang tamu, Yoga pun memacu motornya ke rumah pak Kusno. Sebenarnya sudah terlalu malam untuk berkunjung, akan tetapi karena ada kasus luar biasa seperti ini membuat Yoga mengabaikan hal tersebut. Bagaimana bisa kejadian-kejadian ini terjadi dalam beberapa jam ketika dirinya tidak ada? Seolah-olah ada skenario rapi di baliknya. Sejujurnya, Yoga mencurigai mamanya sendiri. Akan tetapi untuk saat ini ia belum punya bukti sama sekali.</p>
<p>Di sisi lain, bu Dewo memandang anaknya keluar rumah dengan perasaan sedikit was-was. Di antara semua orang yang ada di kampung ini, hanya anaknya lah yang cukup cerdas untuk menemukan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Ia harus berhati-hati terhadap anaknya sendiri, dan untuk itu ia butuh bantuan seseorang. Maka diambillah telepon genggamnya dan menekan nomor seseorang.</p>
<p>“La, tolong awasi Yoga ya, kalau dia curiga sekecil apapun, kabari ibu. Kalau perlu, kamu juga bantu mengaburkan fakta yang ada.”</p>
<p>Yang ditelepon hanya menjawab iya dengan pelan. Setelah semua ini, dirinya masih direpoti oleh bu Dewo. Tapi tak masalah, yang penting sekarang misinya untuk menyingkirkan Kia dari kampungnya telah tuntas. Tak ada lagi wanita sok polos yang bisa merebut perasaan Yoga darinya. Memang ia belum bisa membuat Yoga tertarik pada dirinya, akan tetapi bu Dewo sudah berjanji akan membantunya.</p>
<p>Lala memandang bayangannya yang sedang tersenyum puas di cermin kamarnya. Semua skenario ini adalah buah idenya. Meskipun ia terlihat dimanfaatkan oleh bu Dewo, justru sebenarnya <em>dialah </em>yang memanfaatkan bu Dewo. Lala adalah dalang dari semua kejadian ini. Dari awal, ia tak pernah suka dengan Kia. Yoga jelas menaruh perhatian yang berlebihan terhadap anak baru itu. Lala sadar bahwa ia harus berbuat sesuatu sebelum tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya.</p>
<p>Pertama, ia bercerita kepada bu Dewo tentang kegiatan mengajar Kia dan potensinya untuk membuat warga di sini bisa baca tulis. Lala tahu karakter bu Dewo, sehingga ia sudah memperkirakan bahwa orang tersebut akan merasa terancam dengan kehadiran Kia. Lantas, ia memberikan nama-nama anggota Karang Taruna yang kurang menyukai Kia kepada bu Dewo, atau lebih tepatnya anggota-anggota yang sudah dirancang Lala untuk membenci Kia dengan berbagai cara. Bu Dewo pun mengundang mereka dan menyuruh mereka untuk membuat Kia tidak betah di sini.</p>
<p>Setelah itu, ia cukup menghasut anggota yang tersisa untuk tidak mengikuti kegiatan mengajar ketika Yoga tidak ada. Itu mudah saja, karena sebenarnya mereka bukan tipe orang yang suka belajar. Lala tahu jadwal kuliah Yoga karena pernah menanyakannya, sehingga ia lah yang memberitahu anggota Karang Taruna lainnya kapan Yoga tidak hadir. Ketika Yoga tiba-tiba datang dan marah-marah, justru itu semakin mempermulus rencananya. Terbukti, Kia langsung mengundurkan diri dari kegiatan mengajar itu.</p>
<p>Di tengah-tengah kejadian itu, ia dan bu Dewo bekerja sama untuk membuat skenario agar Kia pergi dari kampung mereka. Lala mengusulkan Kia difitnah hamil di luar nikah. Untuk memperkuat fitnah tersebut, dibutuhkan tulang belulang bayi. Karena susah mencarinya, akhirnya bu Dewo memutuskan untuk menggantinya dengan tulang kera yang ia dapatkan dari kenalannya yang memiliki bisnis jual beli hewan, legal dan ilegal. Toh, orang-orang sini tidak akan tahu perbedaannya. Setelah itu, mereka akan mencari orang yang akan mengaku sebagai ibu dari Kia dan membawanya pergi dari sini untuk selama-lamanya. Kebetulan, lagi-lagi bu Dewo memiliki kenalan yang bisa membantunya.</p>
<p>Puncaknya adalah ketika ia berkunjung ke rumah Kia kemarin sore. Sebenarnya, ia datang untuk memastikan apakah ada pak Kusno dan bu Imah ada di rumah sewaktu pengusiran akan dilakukan. Tentu akan merepotkan jika ada mereka berdua. Pengusiran juga harus dilakukan ketika Yoga sedang berada di kampusnya. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa yang bisa menolong Kia, Lala menyuruh Rei dan Kaka untuk memberitahukan ke warga kalau mereka baru saja menemukan bangkai bayi. Ditambah celoteh bu Dewo yang memanaskan situasi dan melancarkan tuduhan bahwa itu milik Kia, para warga kampung yang jarang berpikir panjang langsung saja panas dan mengusir Kia, bersamaan dengan kedatangan ibu palsu Kia yang jelas disengaja agar <em>timing-</em>nya pas.</p>
<p>“Tak kusangka rencanaku bisa berjalan semulus ini, sekarang tinggal fokus bagaimana membuat Yoga tertarik padaku.” gumam Lala kepada dirinya sendiri dengan puas.</p>
<p>***</p>
<p>Yoga dapat merasakan duka yang begitu mendalam yang dialami oleh pak Kusno dan bu Imah. Mereka berdua seolah-olah baru saja disedot rohnya oleh kekuatan ghaib. Yoga memaklumi hal tersebut, karena dirinya pun mengalami kehilangan yang lumayan berarti. Apalagi, ia belum sempat meminta maaf kepada Kia. Penyesalan memang selalu datang terakhir.</p>
<p>“Saya ikut sedih mendengar apa yang terjadi sama Kia. Saya yakin bahwa yang dituduhkan warga tidak benar. Meskipun belum lama kenal, saya tahu Kia bukan tipe anak yang seperti itu.” ujar Yoga mengawali percakapan.</p>
<p>“Iya, tapi mau bagaimana lagi, sekarang dia sudah balik sama ibunya tanpa sempat berpamitan dengan kita. Seharusnya kita senang kalau ia bertemu dengan keluarganya, tapi kalau caranya seperti ini…” pak Kusno tidak melanjutkan kalimatnya.</p>
<p>“Tapi siapa yang dendam terhadap Kia? Setahu ibu dia enggak pernah berbuat onar di sini.” tanya bu Imah.</p>
<p>“Saya juga enggak tahu bu.”</p>
<p>“Beberapa hari yang lalu, Kia pulang sambil menangis. Sejak hari itu, ia tak pernah lagi keluar rumah. Ada apa sebenarnya?”</p>
<p>Maka Yoga menceritakan apa yang terjadi pada hari itu. Pak Kusno dan bu Imah menyimaknya dengan penuh perhatian. Setelah Yoga selesai bercerita, mereka masih belum menemukan alasan mengapa Kia diperlakukan seperti itu.</p>
<p>“Tapi, orang yang mengaku sebagai ibunya Kia, apa tidak meninggalkan apa-apa untuk kalian? Seharusnya ia memberi sesuatu sebagai tanda terima kasih karena bapak dan ibu sudah merawat Kia selama ini, kan?” tanya Yoga.</p>
<p>“Tidak ada apapun. Ketika kami sampai rumah, warga sudah banyak yang berkumpul di depan rumah untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi. Tapi, tidak ada yang mengatakan tentang itu.” jawab pak Kusno.</p>
<p>“Lalu, kenapa ibunya Kia bisa datang tepat ketika ia diusir oleh warga? Seolah ini semua telah direncanakan.”</p>
<p>“Entahlah, otak kami enggak nyampai buat berpikir sejauh itu. Yang jelas, sekarang kami harus belajar ikhlas dan membiasakan hidup tanpa Kia. Pasti berat, tapi ya mau gimana lagi.”</p>
<p>Yoga menatap kedua orang yang luar biasa baik ini. Ia merutuk diri sendiri, kenapa ia tak bisa berbuat apa-apa. Di dalam hati, ia berjanji akan berusaha memecahkan misteri ini. Walaupun Kia mungkin tak akan pernah kembali, setidaknya nama baiknya bisa pulih di mata warga. Ketika suasana hening, tiba-tiba Qila muncul sambil menangis dan menerjang Yoga.</p>
<p>“Maaf mas, tadi Qila sudah berusaha nahan kak Kia, tapi Qila kalah kuat sama orang-orang.” kata Qila sambil terisak.</p>
<p>“Enggak apa-apa Qila, ini bukan salahmu kok. Terima kasih ya sudah mau menolong Kia.”</p>
<p>“Tapi Qila ingin terus sama kak Kia, Qila sayang sama kak Kia.”</p>
<p>“Iya, kita semua yang ada di ruangan ini juga sayang sama Kia kok. Kamu yang sabar ya, kalau memang ditakdirkan buat bertemu kembali, kita akan ketemu sama Kia lagi kok.”</p>
<p>Yoga membelai lembut rambut Qila. Qila adalah saksi mata diusirnya warga, sehingga ia ingin mendengarkan ceritanya. Akan tetapi, untuk saat ini rasanya belum pas untuk meminta Qila bercerita, sehingga ia memutuskan untuk diam dan terus berusaha menenangkan Qila dari perasaan bersalahnya.</p>
<p>***</p>
<p>Kia sedang duduk di bandara bersama wanita yang mengaku sebagai ibunya. Semenjak pengusiran, atau lebih tepatnya penculikan, Kia tak pernah lepas dari wanita itu. Ia dikurung di sebuah tempat sempit selama satu hari, sebelum diberitahu bahwa mereka akan terbang ke Batavia. Kia belum tahu apa alasannya ia dibawa ke Batavia, atau Jakarta di dunianya berasal. Ia diancam untuk tidak berbuat macam-macam selama perjalanan. Kia menurut saja, ia sudah pasrah. Mau diambil nyawanya pun ia tak ambil pusing. Kebahagiaan yang baru saja ia rasakan tiba-tiba direnggut secara paksa dan menyakitkan. Masih terbayang di pikirannya bagaimana ekspresi para warga ketika mengusir dirinya secara hina. Jika bisa, ia ingin menerjunkan dirinya dari atas pesawat untuk mengakhiri nyawanya sendiri karena merasa sudah tidak memiliki harga diri.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-22-dalang-semua-kejadian/">Bagian 22 Dalang Semua Kejadian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
