Bagian 26 Panti Asuhan

Tangan Kia tak henti-hentinya menyeka air matanya yang terus tumpah ketika sedang melihat pusara ibunya. Tadi pagi setelah sadar, ia menanyakan di mana mamanya disemayamkan dan alamat rumah sakit jiwa yang menampung papanya. Pak Thomas berkata bahwa biar dirinya saja yang mengantar Kia karena hari ini kebetulan ia sedang kosong. Kia pun langsung menyambut tawaran tersebut dan di sinilah sekarang ia berada.

Makam mamanya bisa dibilang cukup sederhana, tidak berbeda dengan makam-makam yang ada di sekitarnya. Tidak ada keramik ataupun ornamen lainnya yang menunjukkan bahwa yang terkubur di dalamnya merupakan istri dari seorang konglomerat kaya. Hal ini sesuai dengan kepribadian mamanya yang sederhana meskipun harta melimpah. Kia pernah mencuri dengar ketika mamanya sedang berkumpul dengan istri-istri pengusaha lain ketika berkumpul di rumahnya. Mereka terus menyindir kebiasaan hidup bu Labdajaya yang jarang berbelanja barang-barang mewah. Mamanya yang terkenal sabar pun hanya bisa tersenyum mendengarkan kata-kata tajam tersebut.

Ditinggal oleh mamanya membuat Kia memikirkan masa lalunya, ketika ia masih sering berinteraksi dengan bu Labdajaya. Kia ingat, sewaktu kecil mamanya sering mendandani dirinya di depan cermin. Dengan telaten mamanya menyisir rambutnya yang lurus dan panjang, lantas memilihkan baju yang terbaik untuknya. Setelah itu, biasanya mamanya akan mengajak Kia berbicara berbagai topik.

“Kia udah kepikiran belum kalau besar mau apa?” tanya mamanya, mungkin ketika Kia baru berusia 5 tahun,

“Kia mau jadi kayak mama aja.” jawab Kia kecil dengan polosnya.

“Eh, harus jelas dong. Masa Kia enggak mau kerja gitu?”

“Emmm, belum tahu sih ma, Kia maunya jadi pelempuan yang baik dan cantik kayak mama.” waktu itu, Kia bahkan belum bisa melafalkan huruf R dengan baik.

“Hahaha, bisa aja kamu anak manis. Ya udah, yuk habis ini kita makan bareng, papa udah mau pulang.”

Sayang, momen-momen berharga seperti itu lama-kelamaan makin berkurang. Perusahaan yang dikelola oleh papanya makin membesar, sehingga mamanya pun mau tidak mau turun tangan untuk membantu. Belum lagi anak perusahaan yang baru didirikan. Papanya benar-benar gila kerja, dan mamanya pun mau tidak mau harus mengikuti ritme kerja suaminya.

Seingat Kia, semenjak dirinya duduk di bangku sekolah dasar, mamanya sudah jarang di rumah. Kadang ia mendampingi suaminya, kadang juga berpergian untuk keperluan bisnisnya sendiri. Tak jarang bu Labdajaya hanya mampir beberapa jam ke rumah setelah berhari-hari tak berjumpa dengan diri Kia jika kebetulan sedang memiliki urusan di Jakarta. Kurangnya perhatian orangtua, terutama dari mamanya, yang membuat Kia menjadi anak yang pendiam dan pemurung.

“Maafin Kia ya, ma.” akhirnya Kia bisa mengeluarkan sepatah kalimat, meskipun setelah itu ia kembali menangis.

Sejengkel-jengkelnya Kia ke orangtuanya, tentu ia tak pernah berharap akan membuatnya mamanya meninggal secepat ini. Dulu, ketika memutuskan untuk meninggalkan dunia ini, ia didorong oleh perlakuan buruk teman-temannya. Dulu, ia mengira bahwa papa dan mamanya tidak akan secemas ini. Ia menyadari kesalahannya dan menyesali keputusan yang diambilnya waktu itu, meskipun hal tersebut membuatnya merasakan apa makna keluarga bersama pak Kusno, bu Imah, dan Qila.

Kia merendahkan posisi tubuhnya agar bisa memegang batu nisan yang bertuliskan nama mamanya, lengkap dengan tanggal lahir dan kematiannya. Diusapnya nisan tersebut dengan penuh kasih sayang seolah-olah itu adalah tangan lembut ibunya. Tak ada lagi kata yang terucap dari mulutnya. Kia memutuskan untuk pergi dari sana dan melanjutkan perjalanan.

“Kamu enggak apa-apa? Apa mau besok aja ke papa?” tanya pak Thomas yang dari tadi menunggu dari kejauhan.

“Enggak apa-apa pak, Kia cuma sedih aja lihat makam mama. Kita lanjut ke tempat papa, ya.”

Sebenarnya pak Thomas tak tega melihat Kia yang hancur seperti ini. Ia tak yakin gadis yang dari dulu terlihat rapuh ini bisa kuat menyaksikan papanya di rumah sakit jiwa. Hanya saja, ketegasan dari nada bicara Kia membuatnya mau tidak mau menuruti permintaannya.

***

Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu lama, hanya sekitar 15 menit. Dari luar, rumah sakit jiwa ini terlihat sama seperti rumah sakit pada umumnya. Jika tidak ada tanda pengenal yang terpasang di tembok bagian depan, orang tidak akan mengira bahwa tempat ini menampung orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.

Setelah menghampiri bagian resepsionis, mereka berdua di antar ke tempat di mana pak Labdajaya dirawat. Pak Thomas sama sekali tidak membocorkan identitas asli Kia. Sebelum sampai ke mari, Kia meminta hal tersebut agar tidak terjadi kehebohan. Ia hanya ingin melihat papanya, melihat bagaimana orang yang dulu begitu keras terhadap dirinya bisa kehilangan kewarasan karena kehilangan dirinya.

“Demi keamanan, bapak dan mbaknya cuma bisa lihat dari balik jeruji ya. Kebijakan kami melarang adanya interaksi langsung antara pihak keluarga dan pasien. Apalagi, pak Labdajaya sering menyerang para perawat sehingga risikonya terlalu tinggi.” kata salah satu staf rumah sakit jiwa tersebut.

Kia segera menutup kedua mulutnya agar tangisnya tidak tumpah. Ia belum melihat papanya, tapi membayangkannya saja membuat ia sedih bukan kepalang.

“Silakan.”

Dari balik jeruji, Kia bisa melihat papanya sedang memain-mainkan jarinya dengan posisi jongkok di atas kursi. Badannya yang dulu cukup tambun habis seolah tak bersisa. Ia terlihat bagaikan mumi yang bisa bergerak, apalagi rambutnya dicukur habis. Kia sampai menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia hanya takut akan jatuh pingsan sehingga merepotkan banyak orang. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk segera balik badan karena tak tahan melihat ini semua.

***

Pak Thomas mengajak Kia mampir ke sebuah warung bakso langganannya. Sebelum keluar rumah, Kia menolak untuk sarapan terlebih dahulu, sehingga pak Thomas memutuskan untuk mengajaknya ke sini. Kia sendiri terlihat hanya memain-mainkan mie yang ada di mangkoknya tanpa terlihat berselera untuk menyantapnya. Pikirannya sedang mengembara entah ke mana. Tatapannya kosong, sehingga siapapun yang melihatnya pasti berpikir Kia sedang kerasukan sesuatu.

“Kia, kamu dari pagi belum makan, loh. Ayo, dimakan pelan-pelan, jangan sampai kamu sakit.” kata pak Thomas yang gara-gara melihat Kia juga kehilangan selera makan.

Yang diajak bicara hanya mengangguk perlahan. Pak Thomas sampai berpikir bahwa mau bagaimana pun Kia terlahir sebagai anak orang kaya. Mungkin, keputusannya untuk membawa ke warung sederhana di pinggir jalan ini membuat Kia tidak selera makan. Akan tetapi, ia pun tidak memiliki cukup uang untuk membawa Kia ke tempat yang lebih layak.

Menyadari keresahan yang dialami oleh pak Thomas, Kia pun memaksa dirinya mau menyantap hidangan yang ada di hadapannya. Ia mengambil sebuah garpu dan menusukkannya ke sebutir bakso dari mangkok, lantas memasukkannya ke dalam mulut. Kia mengunyahnya dengan sangat perlahan seolah sedang berada di mode ­slow motion. Pak Thomas tidak berkomentar lagi, setidaknya Kia sudah mulai makan.

Lamunan Kia terpecah ketika mendengar suara anak kecil dari belakang punggungnya. Anak kecil tersebut sedang menyanyikan sebuah lagu yang tak pernah Kia dengar sebelumnya. Penasaran, ia menoleh ke belakang dan terkejut bukan main.

“QILA?” teriak Kia secara tiba-tiba yang membuat pengunjung warung bakso lainnya menghentikan sejenak aktivitas makannya.

Yang ditanya malah jadi bengong dan sedikit terkejut. Bagaimana tidak, seorang asing yang tidak dikenalnya bisa mengetahui namanya. Merasa takut, anak yang dipanggil Qila itu pun langsung lari dan meninggalkan warung.

“Qila, tunggu Qila!” Kia langsung bangkit dari meja makannya dan segera mengejar anak tersebut. Tidak salah lagi, dari bentuk fisiknya anak tersebut terlihat seperti Qila. Bagaimana mungkin ia ada di dunia ini? Apakah sang kakek yang mengirimkannya demi menemani dirinya? Semua pertanyaan tersebut akan terjawab setelah ia menangkap anak tersebut.

Anak gadis kecil tersebut tidak mampu berlari terlalu cepat, sehingga ia memasuki sebuah bangunan yang mirip dengan sekolah. Kia yang ada di belakangnya pun segera menyusul masuk ke dalamnya. Anak yang mirip dengan Qila itu segera dihentikan oleh seorang perempuan berjilbab berwarna cokelat. Kacamata yang menggantung di pangkal hidungnya, hampir terjatuh ketika melakukannya. Kia melihat hal ini sebagai kesempatan untuk bertanya secara baik dan benar.

“Kamu Qila, kan?” tanya Kia sambil terengah-engah, sama sekali tak mempedulikan dengan keadaannya.

“Maaf, mbak siapa, ya? Kok bisa kenal dengan Aqila?” wanita berjilbab itu justru bertanya balik.

“Saya, saya kakaknya. Itu Qila anaknya pak Kusno dan bu Imah, kan?”

“Bukan, Aqila anak yatim piatu mbak, makanya ia tinggal di sini. Mungkin mbaknya salah orang.”

Kia, yang sepanjang bicara bertumpu pada lututnya, langsung merasa lemas dan menjatuhkan dirinya di tanah begitu saja. Tangisnya kembali pecah dan ia sama sekali tak bisa menahannya. Pak Thomas, yang setelah membayar makanan langsung menyusul, menemukan Kia di panti asuhan tersebut. Semua orang yang ada di area bangunan tersebut merasa penasaran dengan keributan yang terjadi. Sang wanita berjilbab pun memutuskan untuk membawa Kia ke ruangannya untuk menganalisa, apa yang sebenarnya telah terjadi.

***

“Jadi, Kia ini kerabat saya bu. Orang tuanya baru saja meninggal, jadi untuk sementara waktu tinggal bersama saya. Mungkin karena tekanan itu, ia sampai mengira kalau anak ini adalah adiknya.” kata pak Thomas berusaha menjelaskan duduk perkaranya.

“Baik saya paham. Saya turut berduka cita ya, nak.” kata ibu tersebut, yang tadi memperkenalkan dirinya dengan nama Lidia.

Kia sendiri sudah berhenti menangis, hanya sedang berusaha untuk menguasai dirinya sendiri sebelum berbicara. Untunglah pak Thomas mampu mengatasi keadaan tanpa menimbulkan kecurigaan.

“Maaf bu, selain orang tua, saya juga kehilangan adik saya, namanya Qila. Waktu melihat adik ini, saya terkejut luar biasa karena memang mirip sekali, sehingga saya mengejarnya sedemikian rupa. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk menakut-nakutinya.” Kia akhirnya angkat bicara.

“Iya tidak apa-apa, ibu mengerti. Katanya, kita semua punya punya kembaran hingga 7 orang di dunia ini, sehingga Aqila ini mungkin menjadi salah satu kembaran adikmu itu.”

“Iya bu, terima kasih atas pengertiannya.”

Kia kembali melirik ke anak yang bernama Aqila itu. Dilihat dari sudut mana pun, anak tersebut benar-benar terlihat mirip dengan Qila yang ia temui di dunia cermin tersebut. Yang dilihat masih merasa sedikit takut dengan Kia, sehingga ia tak berani menatap mata Kia secara langsung. Tiba-tiba, terbesit sebuah gagasan di pikiran Kia.

“Bu, bolehkah saya tinggal di sini? Posisi saya sekarang juga yatim piatu. Saya bisa bantu mengajar anak-anak di sini, karena dulu saya termasuk pintar di kelas. Saya juga punya pengalaman mengajar walau hanya sebentar.”

Pak Thomas terkejut, namun tak bersuara apa-apa. Sebaliknya, bu Lidia terlihat tenang dan menyunggingkan senyum.

“Bisa saja, panti asuhan ini terbuka untuk siapapun. Akan tetapi, ada jumlah persyaratan administrasi yang harus diselesaikan. Bapak walinya, kan?” tanya bu Lidia kepada pak Thomas.

“Eh, iya, saya bisa jadi walinya.”

“Baiklah tunggu sebentar di sini, saya ambilkan dulu berkas-berkasnya.”

Bu Lidia pun meninggalkan mereka berdua, disusul Aqila yang membuntuti di belakangnya. Kesempatan itu digunakan oleh pak Thomas untuk bertanya kepada Kia.

“Kia, kamu yakin tinggal di sini? Setidaknya kamu bisa tinggal di tempat bapak untuk sementara waktu.”

“Kia belum belum pernah seyakin ini pak. Pertemuan dengan anak itu seolah jadi petunjuk untuk Kia harus pergi ke mana. Di sini, Kia akan punya rumah dan lingkungan baru. Kia juga bisa mengajar anak-anak di sini dengan ilmu yang Kia miliki, sehingga Kia enggak cuma membebani tempat ini.”

Pak Thomas memahami apa yang ada di pikiran Kia. Maka, ia minta izin keluar ruangan untuk memberitahu istrinya lewat telepon. Kia tinggal sendirian di ruangan itu, namun kesedihannya sudah berkurang. Ia sudah mengalami berbagai hal, juga menerima konsekuensi untuk pilihan yang ia ambil. Kia merasa hidupnya sekarang tinggal berbuat sesuatu untuk menebus kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat. Di sini, di panti asuhan yang bahkan ia belum tahu namanya ini, ia merasa bisa menjadi orang yang bermanfaat. Mungkin akan sedikit merepotkan banyak pihak, namun ia yakin bekal kehidupan yang ia dapatkan dari dunia cermin itu akan banyak membantunya. Selain itu, ia ingin mendekati anak yang bernama Aqila itu. Setidaknya, ia akan mendapatkan kepingan yang hilang dari dunia cermin itu.