Bagian 22 Dalang Semua Kejadian

Bu Imah langsung pingsan ketika mendengar kabar tentang Kia dari para warga. Pak Kusno tak bisa membendung air matanya. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak percaya dengan kabar tersebut karena tahu Kia tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu. Namun, warga menunjukkan bangkai bayi yang mereka temukan di dekat gubuk di mana pak Kusno berjumpa dengan Kia untuk pertama kali. Ia menjadi kacau, semangat hidupnya yang berhasil ia temukan luntur seketika. Setelah para warga keluar dari rumah, pak Kusno memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.

“Astaga, ini cuma mimpi kan?” gumam pak Kusno sambil melihat ke arah istrinya yang tengah pingsan. Anaknya juga sedang terbaring lemah di atas kasur. Hari ini sungguh hari yang buruk. Awalnya, ketika akan pulang dari pabrik, ia dihadang oleh sejumlah preman yang entah datang dari mana. Karena kalah jumlah, ia memberikan apapun yang ada di sakunya. Toh, jumlahnya memang tak pernah banyak. Setelah itu, ia menemukan fakta bahwa Kia telah dijemput oleh orangtuanya setelah diusir oleh warga.

“Tidak, tidak mungkin Kia berbuat hal buruk seperti itu, dia anak baik.”

Tapi, seberapa tahu ia tentang Kia? Asal-usulnya yang tidak jelas membuat ia mau tidak mau mempercayai fakta yang dijabarkan oleh warga, walaupun ia berusaha terus menyangkalnya. Benarkah Kia yang selama ini ia kenal benar-benar memiliki masa lalu sesuram itu? Rasanya mustahil. Tapi sekali lagi, fakta yang terpampang dengan jelas membuatnya meragukan kepercayaannya sendiri.

“Pak?” panggil bu Imah lirih. Ia telah sadar dari pingsannya.

“Iya bu?”

“Kia mana pak?”

Pak Kusno memegangi tangan bu Imah dengan penuh kasih sayang. Kondisi ekonomi yang berat tak membuat cinta mereka luntur. Justru, mereka akan saling menguatkan ketika masalah datang menerpa seperti sekarang. Raut wajah sedih jelas terpancar dari wajah bu Imah. Bagaimana tidak, Kia yang sudah ia sayang seperti anak sendiri harus direnggut secara tiba-tiba seperti ini.

“Ibu enggak percaya Kia berbuat seperti itu pak, enggak mungkin.”

“Tapi warga menemukan bangkai bayinya.”

“Bisa aja, itu bangkai palsu, bukan milik Kia.”

“Iya sih ,tapi . . .”

“Coba bapak ingat-ingat lagi, apa mungkin Kia yang kenal akan berbuat hal sejahat itu? Bapak tahu sendiri gimana sayangnya Kia ke Qila, mana mungkin ia mengubur seorang bayi yang tak berdosa.”

“Bisa jadi karena panik bu.”

“Enggak mungkin pak, sampai mati pun ibu enggak bakal percaya. Ibu sumpahin mampus tuh orang yang memfitnah Kia secara keji.”

Pak Kusno tak bisa berbuat banyak demi menenangkan istrinya. Ia yang tadi sudah percaya apa kata warga, mau tidak mau jadi mempertimbangkan pendapat istrinya. Benarkah Kia difitnah sedemikian rupa? Jika iya, apa yang sudah Kia perbuat hingga gadis itu harus mendapatkan fitnah seperti itu? Seingat pak Kusno, Kia tak pernah berbuat macam-macam di kampungnya. Ia hanya membuat kegiatan mengajar yang bermanfaat untuk warga sini. Berpikir sekeras apapun, pak Kusno tidak bisa menemukan jawabannya.

***

“Diusir?” tanya Yoga sepulang kuliah kepada mamanya, ketika ia mendapatkan kabar tentang pengusiran Kia lantas dijemput oleh orangtuanya.

“Iya, tadi ada yang menemukan bangkai bayi di dekat gubuk tempat ia ditemukan. Enggak nyangka ya, di balik wajah polosnya ternyata ia wanita penuh dosa.” jawab mamanya alias bu Dewo.

“Enggak mungkin ma, Kia itu anak baik.”

“Ya bisa aja, apa sih yang enggak mungkin di dunia ini?”

“Gimana kalau bangkai itu bukan punya Kia? Gimana kalau ada orang lain yang melakukan itu?”

“Ya mana mama tahu, kamu tanya aja sama orang-orang sana.”

“Terus sekarang Kia di mana?”

“Tadi sih Kia dijemput sama ibunya.”

“Ibunya?”

“Iya, tadi sewaktu Kia diusir di depan gerbang, tiba-tiba ada mobil berhenti. Eh, ternyata ibunya Kia datang. Terus dia cerita tentang Kia yang memang lagi hamil terus kabur dari rumah. Terbukti deh semua tuduhan warga.”

“Kalau gitu, aku ke rumah pak Kusno dulu sekarang.”

Setelah meletakkan tasnya di ruang tamu, Yoga pun memacu motornya ke rumah pak Kusno. Sebenarnya sudah terlalu malam untuk berkunjung, akan tetapi karena ada kasus luar biasa seperti ini membuat Yoga mengabaikan hal tersebut. Bagaimana bisa kejadian-kejadian ini terjadi dalam beberapa jam ketika dirinya tidak ada? Seolah-olah ada skenario rapi di baliknya. Sejujurnya, Yoga mencurigai mamanya sendiri. Akan tetapi untuk saat ini ia belum punya bukti sama sekali.

Di sisi lain, bu Dewo memandang anaknya keluar rumah dengan perasaan sedikit was-was. Di antara semua orang yang ada di kampung ini, hanya anaknya lah yang cukup cerdas untuk menemukan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Ia harus berhati-hati terhadap anaknya sendiri, dan untuk itu ia butuh bantuan seseorang. Maka diambillah telepon genggamnya dan menekan nomor seseorang.

“La, tolong awasi Yoga ya, kalau dia curiga sekecil apapun, kabari ibu. Kalau perlu, kamu juga bantu mengaburkan fakta yang ada.”

Yang ditelepon hanya menjawab iya dengan pelan. Setelah semua ini, dirinya masih direpoti oleh bu Dewo. Tapi tak masalah, yang penting sekarang misinya untuk menyingkirkan Kia dari kampungnya telah tuntas. Tak ada lagi wanita sok polos yang bisa merebut perasaan Yoga darinya. Memang ia belum bisa membuat Yoga tertarik pada dirinya, akan tetapi bu Dewo sudah berjanji akan membantunya.

Lala memandang bayangannya yang sedang tersenyum puas di cermin kamarnya. Semua skenario ini adalah buah idenya. Meskipun ia terlihat dimanfaatkan oleh bu Dewo, justru sebenarnya dialah yang memanfaatkan bu Dewo. Lala adalah dalang dari semua kejadian ini. Dari awal, ia tak pernah suka dengan Kia. Yoga jelas menaruh perhatian yang berlebihan terhadap anak baru itu. Lala sadar bahwa ia harus berbuat sesuatu sebelum tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya.

Pertama, ia bercerita kepada bu Dewo tentang kegiatan mengajar Kia dan potensinya untuk membuat warga di sini bisa baca tulis. Lala tahu karakter bu Dewo, sehingga ia sudah memperkirakan bahwa orang tersebut akan merasa terancam dengan kehadiran Kia. Lantas, ia memberikan nama-nama anggota Karang Taruna yang kurang menyukai Kia kepada bu Dewo, atau lebih tepatnya anggota-anggota yang sudah dirancang Lala untuk membenci Kia dengan berbagai cara. Bu Dewo pun mengundang mereka dan menyuruh mereka untuk membuat Kia tidak betah di sini.

Setelah itu, ia cukup menghasut anggota yang tersisa untuk tidak mengikuti kegiatan mengajar ketika Yoga tidak ada. Itu mudah saja, karena sebenarnya mereka bukan tipe orang yang suka belajar. Lala tahu jadwal kuliah Yoga karena pernah menanyakannya, sehingga ia lah yang memberitahu anggota Karang Taruna lainnya kapan Yoga tidak hadir. Ketika Yoga tiba-tiba datang dan marah-marah, justru itu semakin mempermulus rencananya. Terbukti, Kia langsung mengundurkan diri dari kegiatan mengajar itu.

Di tengah-tengah kejadian itu, ia dan bu Dewo bekerja sama untuk membuat skenario agar Kia pergi dari kampung mereka. Lala mengusulkan Kia difitnah hamil di luar nikah. Untuk memperkuat fitnah tersebut, dibutuhkan tulang belulang bayi. Karena susah mencarinya, akhirnya bu Dewo memutuskan untuk menggantinya dengan tulang kera yang ia dapatkan dari kenalannya yang memiliki bisnis jual beli hewan, legal dan ilegal. Toh, orang-orang sini tidak akan tahu perbedaannya. Setelah itu, mereka akan mencari orang yang akan mengaku sebagai ibu dari Kia dan membawanya pergi dari sini untuk selama-lamanya. Kebetulan, lagi-lagi bu Dewo memiliki kenalan yang bisa membantunya.

Puncaknya adalah ketika ia berkunjung ke rumah Kia kemarin sore. Sebenarnya, ia datang untuk memastikan apakah ada pak Kusno dan bu Imah ada di rumah sewaktu pengusiran akan dilakukan. Tentu akan merepotkan jika ada mereka berdua. Pengusiran juga harus dilakukan ketika Yoga sedang berada di kampusnya. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa yang bisa menolong Kia, Lala menyuruh Rei dan Kaka untuk memberitahukan ke warga kalau mereka baru saja menemukan bangkai bayi. Ditambah celoteh bu Dewo yang memanaskan situasi dan melancarkan tuduhan bahwa itu milik Kia, para warga kampung yang jarang berpikir panjang langsung saja panas dan mengusir Kia, bersamaan dengan kedatangan ibu palsu Kia yang jelas disengaja agar timing-nya pas.

“Tak kusangka rencanaku bisa berjalan semulus ini, sekarang tinggal fokus bagaimana membuat Yoga tertarik padaku.” gumam Lala kepada dirinya sendiri dengan puas.

***

Yoga dapat merasakan duka yang begitu mendalam yang dialami oleh pak Kusno dan bu Imah. Mereka berdua seolah-olah baru saja disedot rohnya oleh kekuatan ghaib. Yoga memaklumi hal tersebut, karena dirinya pun mengalami kehilangan yang lumayan berarti. Apalagi, ia belum sempat meminta maaf kepada Kia. Penyesalan memang selalu datang terakhir.

“Saya ikut sedih mendengar apa yang terjadi sama Kia. Saya yakin bahwa yang dituduhkan warga tidak benar. Meskipun belum lama kenal, saya tahu Kia bukan tipe anak yang seperti itu.” ujar Yoga mengawali percakapan.

“Iya, tapi mau bagaimana lagi, sekarang dia sudah balik sama ibunya tanpa sempat berpamitan dengan kita. Seharusnya kita senang kalau ia bertemu dengan keluarganya, tapi kalau caranya seperti ini…” pak Kusno tidak melanjutkan kalimatnya.

“Tapi siapa yang dendam terhadap Kia? Setahu ibu dia enggak pernah berbuat onar di sini.” tanya bu Imah.

“Saya juga enggak tahu bu.”

“Beberapa hari yang lalu, Kia pulang sambil menangis. Sejak hari itu, ia tak pernah lagi keluar rumah. Ada apa sebenarnya?”

Maka Yoga menceritakan apa yang terjadi pada hari itu. Pak Kusno dan bu Imah menyimaknya dengan penuh perhatian. Setelah Yoga selesai bercerita, mereka masih belum menemukan alasan mengapa Kia diperlakukan seperti itu.

“Tapi, orang yang mengaku sebagai ibunya Kia, apa tidak meninggalkan apa-apa untuk kalian? Seharusnya ia memberi sesuatu sebagai tanda terima kasih karena bapak dan ibu sudah merawat Kia selama ini, kan?” tanya Yoga.

“Tidak ada apapun. Ketika kami sampai rumah, warga sudah banyak yang berkumpul di depan rumah untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi. Tapi, tidak ada yang mengatakan tentang itu.” jawab pak Kusno.

“Lalu, kenapa ibunya Kia bisa datang tepat ketika ia diusir oleh warga? Seolah ini semua telah direncanakan.”

“Entahlah, otak kami enggak nyampai buat berpikir sejauh itu. Yang jelas, sekarang kami harus belajar ikhlas dan membiasakan hidup tanpa Kia. Pasti berat, tapi ya mau gimana lagi.”

Yoga menatap kedua orang yang luar biasa baik ini. Ia merutuk diri sendiri, kenapa ia tak bisa berbuat apa-apa. Di dalam hati, ia berjanji akan berusaha memecahkan misteri ini. Walaupun Kia mungkin tak akan pernah kembali, setidaknya nama baiknya bisa pulih di mata warga. Ketika suasana hening, tiba-tiba Qila muncul sambil menangis dan menerjang Yoga.

“Maaf mas, tadi Qila sudah berusaha nahan kak Kia, tapi Qila kalah kuat sama orang-orang.” kata Qila sambil terisak.

“Enggak apa-apa Qila, ini bukan salahmu kok. Terima kasih ya sudah mau menolong Kia.”

“Tapi Qila ingin terus sama kak Kia, Qila sayang sama kak Kia.”

“Iya, kita semua yang ada di ruangan ini juga sayang sama Kia kok. Kamu yang sabar ya, kalau memang ditakdirkan buat bertemu kembali, kita akan ketemu sama Kia lagi kok.”

Yoga membelai lembut rambut Qila. Qila adalah saksi mata diusirnya warga, sehingga ia ingin mendengarkan ceritanya. Akan tetapi, untuk saat ini rasanya belum pas untuk meminta Qila bercerita, sehingga ia memutuskan untuk diam dan terus berusaha menenangkan Qila dari perasaan bersalahnya.

***

Kia sedang duduk di bandara bersama wanita yang mengaku sebagai ibunya. Semenjak pengusiran, atau lebih tepatnya penculikan, Kia tak pernah lepas dari wanita itu. Ia dikurung di sebuah tempat sempit selama satu hari, sebelum diberitahu bahwa mereka akan terbang ke Batavia. Kia belum tahu apa alasannya ia dibawa ke Batavia, atau Jakarta di dunianya berasal. Ia diancam untuk tidak berbuat macam-macam selama perjalanan. Kia menurut saja, ia sudah pasrah. Mau diambil nyawanya pun ia tak ambil pusing. Kebahagiaan yang baru saja ia rasakan tiba-tiba direnggut secara paksa dan menyakitkan. Masih terbayang di pikirannya bagaimana ekspresi para warga ketika mengusir dirinya secara hina. Jika bisa, ia ingin menerjunkan dirinya dari atas pesawat untuk mengakhiri nyawanya sendiri karena merasa sudah tidak memiliki harga diri.