Bagian 27 Kia Bercerita

Tak terasa sudah dua minggu Kia berada di panti asuhan yang bernama Harapan Bunda itu. Ia telah mampu beradaptasi dengan baik, dengan staf maupun anak-anak yang tinggal di sana. Di panti asuhan tersebut, Kia mendapatkan kamar yang berisi dua orang. Ia satu kamar dengan Lia, seorang gadis yang berusia dua tahun di bawahnya, namun memiliki cita-cita tinggi untuk berkuliah di luar negeri. Hingga usianya yang sekarang ini, belum pernah ada orangtua yang menunjukkan minat untuk mengadopsi dirinya. Mungkin, karena dia masuk ke panti asuhan ketika sudah remaja. Para orangtua tersebut lebih menyukai anak yang berusia muda.

“Dulu aku tinggal di pinggir kali kak, sebelum digusur karena rumah kami dianggap mengganggu pemandangan. Lantas, aku dan kedua orangtua pindah ke rumah susun. Eh, rumah susunnya kebakaran, bapak ibu kejebak di dalam, meninggal. Aku selamat waktu itu karena lagi sekolah. Karena udah enggak punya keluarga, akhirnya aku masuk panti ini berkat bantuan orang-orang.” cerita Lia pada hari pertama Kia tinggal di panti asuhan tersebut.

Kia sendiri tidak banyak bercerita tentang dirinya ke gadis tersebut. Ia lebih banyak mendengarkan Lia yang banyak bicara dan ceria tersebut. Terkadang ia merasa heran, bagaimana Lia bisa tetap terlihat bahagia walaupun mengalami berbagai peristiwa yang menyedihkan. Beberapa waktu terakhir ini, Kia mengalami banyak sekali penderitaan, dan ia tidak pernah memasang wajah ceria seperti itu.

Tidak hanya tinggal, Kia juga diangkat jadi staf mengajar di sana. Mata pelajaran yang ia ajarkan adalah matematika, IPA, dan bahasa Inggris. Selain mendapatkan tempat tinggal dan makan, Kia juga mendapatkan gaji yang jumlah tidak seberapa. Awalnya, Kia menolak uang tersebut karena merasa diizinkan tinggal di sana saja sudah bersyukur. Akan tetapi, bu Lidia dengan tegas memaksa Kia menerima upah tersebut karena yakin Kia juga butuh uang untuk membeli kebutuhannya sehari-hari.

Usahanya untuk mendekati Aqila sedikit mengalami kebuntuan. Mungkin karena kesan pertama yang kurang menyenangkan, anak tersebut jadi menjaga jarak dengan dirinya. Beberapa kali Kia berusaha untuk mengajaknya berbicara selalu berakhir dengan penolakan. Kia sedikit merasa sedih dengan perlakukan anak itu, namun memutuskan untuk terus berusaha mendekatinya, baik ketika ada kelas maupun tidak.

Sudah dua kali pak Thomas dan istrinya datang berkunjung dan memberikan serantang makanan untuk Kia. Meskipun tidak memiliki hubungan darah, ia merasa pasangan suami istri tersebut cukup perhatian dengan dirinya. Hal ini tidak bisa ia saksikan dulu karena tertutup oleh pikirannya sendiri bahwa tidak ada orang yang menyayangi dirinya. Lihatlah sekarang, ada banyak orang yang begitu peduli dengannya. Bahkan, kedua orangtuanya yang ia benci ternyata juga begitu menyayanginya. Sayang, ia baru menyadarinya setelah mamanya meninggalnya dan papanya kehilangan kewarasan.

Jika sedang merenungi hal ini, Kia sering menangis dalam diam di atas ranjangnya, berusaha agar suaranya tidak terdengar oleh Lia.

***

Kia sedang menyirami taman ketika terdengar suara motor masuk ke dalam kompleks panti asuhan. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Ketika helm itu terbuka, alat penyiram tanaman yang ada di tangannya terlepas ke tanah begitu saja.

“Ka…kamu Yoga, kan?” tanya Kia sambil tergagap.

Yang dimaksud Kia bukanlah Yoga yang ada di dunia cermin tersebut. Yoga yang ada di hadapannya adalah teman sekelas yang duduk di bangku sebelahnya, yang pernah meminjam alat tulis kepadanya. Kia tak pernah mengingat namanya, namun kemiripan wajah yang mereka miliki membuat Kia secara spontan menyebut nama tersebut.

“Ki…Kia? Zaskia Putri Anjani anaknya pak Labdajaya?” laki-laki tersebut balik bertanya sambil mengangkat telunjuknya dengan gemetar.

Entah apa yang dirasakan Kia saat itu. Yang jelas, ia langsung menghampiri laki-laki tersebut dan memeluknya. Ia menangis di dalam dekapannya. Yang dipeluk sedikit merasa canggung karena belum pernah dipeluk wanita sebelumnya. Paling hanya ibunya seorang. Kejadian tersebut membuat beberapa staf dan anak-anak tertarik, sehingga laki-laki tersebut memutuskan untuk mengajak Kia duduk di bangku taman.

“Satu tahun lebih lo hilang, dan tiba-tiba muncul di panti asuhan ini. Kaget gue, sumpah. Dan baru kali ini gue denger lo manggil nama gue dengan bener.” kata Yoga.

“Maafin aku, banyak hal yang udah terjadi selama satu tahun ini.” jawab Kia setelah tangisnya mereda.

“Emang lo ke mana aja?”

“Itu…” Kia bingung harus menjawab pertanyaan itu.

“Kalau masih berat buat cerita, tenang aja. Enggak harus sekarang kok. Lagian, gue juga sering mampir ke panti ini.”

“Kamu kenapa sering ke sini?”

“Ya, anggap aja berbagi rezeki. Kalau ada waktu, gue selalu nyempetin diri ke mari. Kadang bawa makanan, kadang duit doang. Bersyukur gue punya harta yang lebih cukup, jadi sayang kalau enggak dipakai buat kebaikan. Gue juga udah kenal sama hampir semua orang di sini.”

Ketika mendengar kalimat tersebut, Kia langsung memerhatikan sekitarnya. Beberapa kepala masih melihat ke arah mereka dengan raut muka penasaran. Ia pun jadi merasa malu karena menjadi pusat perhatian. Apalagi, ia tadi memeluk Yoga secara tiba-tiba, sehingga pasti dirinya sedikit banyak menjadi bahan pembicaraan.

“Ya udah, lo tunggu sini ya, gue masih mau tanya-tanya. Gue mau nyari bu Lidia, ada yang mau diomongin.”

Kia pun duduk sendirian di bangku tersebut. Ia masih berusaha menenangkan diri setelah pertemuan yang tidak diduga ini. Banyak hal yang ingin Kia tanyakan kepada Yoga. Ia ingin mengetahui perkembangan dunia ini setelah kepergian dirinya. Apakah ada yang mencari dirinya di sekolah? Bagaimana reaksi Melissa dan kawan-kawannya, yang dulu sudah memperlakukan dirinya dengan semena-mena?

Setelah 10 menit berlalu, Yoga keluar dari ruangan bu Lidia dan kembali menghampiri Kia. Wajah laki-laki tersebut nampak sedikit bingung. Dengan meletakkan tangan kanannya di belakang, ia bertanya kepada Kia.

“Kia, lo enggak bilang kalau lo anaknya pak Labdajaya, ya?”

Jantung Kia berhenti berdetak untuk sekian milidetik. Ia lupa, bahwa ia sedang merahasiakan identitasnya di sini. Membuat orang lain mengetahui latar belakang keluarganya akan membuat dirinya kesusahan di sini. Dengan sedikit gemetar, Kia menggelengkan kepalanya.

“Tadi gue tanya ke bu Lidia, kok bisa anaknya pak Labdajaya ada di sini. Terus beliau kaget dan enggak percaya. Makanya gue mau ngajak lo ke dalem untuk ngelurusin hal ini.”

Kia pun bangkit dari kursinya dan masuk ke dalam ruangan. Sesampainya di dalam, ia melihat ekspresi serius dari bu Lidia yang selama ini terlihat ramah. Bu Lidia memberikan kode kepada Yoga agar menutup pintu. Setelah itu, mereka berdua dipersilahkan untuk duduk.

“Kia, apa benar kamu anaknya pak Labdajaya yang terkenal itu?”

Kia tahu tidak ada gunanya lagi untuk menutupi identitas dirinya. Maka dari itu, ia menganggukkan kepalanya secara perlahan.

“Astaga, ibu benar-benar tidak menduga hal ini. Satu tahun kamu menghilang dan tiba-tiba muncul di sini. Sebenarnya, kamu pergi ke mana nak?”

Di detik itu juga, Kia memutuskan untuk bercerita apa adanya ke bu Lidia dan Yoga. Ia percaya, kedua orang tersebut bisa dipercaya untuk tidak membocorkan rahasianya. Maka, ia pun mulai bercerita bagaimana ia pergi ke museum kota tua setelah merasa frustasi dengan hidupnya. Ia bercerita bagaimana ia bertemu dengan seorang kakek tua yang membuatnya masuk ke dalam dunia cermin. Di dunia cermin tersebut, ia bertemu dengan banyak orang seperti pak Kusno, bu Imah, Qila, Yoga, dan lain sebagainya. Ia bercerita bagaimana dirinya hidup bahagia di sana meskipun dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan. Ia bercerita bagaimana dirinya menjadi pengajar di Karang Taruna. Ia juga bercerita bagaimana ia membuat kekacauan hingga puncaknya diusir dari desa tersebut. Lantas, dirinya hampir saja dijual jika kakek tua yang membawanya ke dunia tersebut tidak datang dan menyelamatkannya.

“Karena itulah Kia bisa kembali ke dunia ini. Mungkin terdengar seperti cerita fantasi, namun itulah yang sebenarnya terjadi. Kia belum menceritakan hal ini ke siapa-siapa, jadi Kia harap ibu dan Yoga mau menutup rapat-rapat cerita ini. Jangan sampai ada orang lain yang tahu.”

“Sebenarnya ibu mau enggak percaya, tapi dari runtutnya cerita serta tatapan matamu membuat ibu mau tidak mau harus percaya hal tersebut.” kata bu Lidia yang sepanjang pembicaraan tidak mengedipkan matanya sama sekali.

“Wow, masuk ke dunia lain lewat cermin, seperti di film aja.” timpal Yoga.

“Jujur, Kia sangat terpukul ketika mengetahui kondisi orangtua saya. Jika tahu hal seperti ini akan terjadi, Kia enggak akan kabur ke dunia lain.”

Mengingat kedua orangtuanya, Kia kembali menangis. Rasa bersalahnya semakin mendalam setelah bercerita apa adanya ke kedua orang ini. Bu Lidia bangkit dari kursinya dan berdiri di sisi kanan Kia untuk menenangkannya. Yoga hanya bisa diam dan memandangi Kia karena tak tahu harus berbuat apa. Setelah beberapa isakan tangis, Kia sudah bisa menguasai dirinya kembali.

“Maaf untuk bu Lidia, Kia tidak memberitahukan hal ini sejak awal Kia di sini. Kia tidak ingin ada kehebohan di sini, Kia hanya ingin tempat tinggal karena Kia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kia juga tidak punya teman dekat sejak kecil, sehingga ketika melihat Aqila yang sangat mirip dengan Qila, Kia memutuskan untuk tinggal di sini.”

“Iya enggak apa-apa, ibu paham. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu inginkan. Ibu juga butuh tenaga kamu untuk mengajar. Untunglah panti asuhan kita ini punya banyak donatur, salah satunya ya dari mas Yoga ini. Walaupun kaya raya, ia tak pernah segan turun sendiri ke panti untuk melihat apa yang bisa ia bantu.”

“Ah, bantuan dari saya kan enggak seberapa bu.” jawab Yoga sambil malu-malu.

“Nanti titip salam buat mamamu ya. Sejak kenal di sekolah, mamamu itu udah keliatan bakal jadi orang baik. Eh, kebaikannya nurun di kamu ternyata.”

“Iya bu, terima kasih.”

“Udah Kia, kamu tenang aja. Semua yang ada di sini menerima kamu apa adanya kok. Kalau kamu memang minta cerita tadi dirahasiakan, ibu berjanji akan menjaganya.”

“Gue juga janji Kia, enggak bakal cerita ke siapa-siapa termasuk temen sekolah.”

Kia melemparkan senyum manis kepada mereka sebagai tanda terima kasih. Ia hanya bisa melakukan itu untuk saat ini agar bu Lidia dan Yoga tidak khawatir lagi tentang keadaan dirinya.

***

Beberapa saat kemudian, Yoga dan Kia keluar dari ruangan bu Lidia. Kia pun menanyakan apa yang tadi ia ingin tanyakan ke Yoga, mengenai sekolah dan teman-teman satu kelasnya.

“Wah, satu sekolah gempar banget. Sorry to say, tapi kan lo enggak terlalu menonjol di sekolah, jadi enggak ada yang bener-bener berusaha nyari lo. Yang ada mereka ngomongin berbagai teori konspirasi tentang hilangnya lo, termasuk diculik sama makhluk gaib.” jawab Yoga.

“Termasuk Melissa dan teman-temannya?” Kia sedikit berharap mereka merasa takut dengan hilangnya dirinya.

“Enggak tahu kenapa ya, semejak lo hilang, mereka jadi pendiem banget enggak kayak dulu. Emangnya lo pernah diapain sama mereka?”

“Enggak kok, enggak apa-apa. Aku kan sering satu kelompok sama mereka, jadi penasaran aja.” jawab Kia dengan ekspresi datar, namun sedikit tersenyum dalam hati.

“Eh, Aqila, sini!” sahut Yoga tiba-tiba yang membuat Kia mengangkat kepalanya. Yang dipanggil tersenyum melihat Yoga, namun tampak ragu untuk menghampiri karena ada Kia di sebelahnya.

“Kok enggak mau ke sini? Biasanya tuh bocah langsung minta gendong kalau ketemu gue.” gumam Yoga kebingungan.

“Eh, mungkin karena ada aku.” jawab Kia malu-malu.

Secara singkat, Kia pun menceritakan awal pertemuannya dengan Aqila. Yoga berusaha menahan tawanya untuk menjaga perasaan Kia. Setelah itu, ia pun berinisiatif untuk mengajak Kia menghampiri Aqila.

“Aqila, tenang aja, kak Kia ini temennya abang. Kamu enggak usah takut, dia baik kok orangnya.” kata Yoga sewaktu mereka bertiga telah berkumpul di salah satu sudut panti.

“Oh iya? Bang Yoga kenal dari mana?” tanya Aqila, tidak mau percaya begitu saja.

“Ada deh, pokoknya abang kenal. Kamu yang akur ya sama kakak yang satu ini, jangan bandel.” jawab Yoga sambil mengacak-acak rambut Aqila.

Kia belum berani bersuara, namun matanya dengan fokus memandang Aqila dengan penuh kasih sayang. Ia sedang meyakinkan diri bahwa suatu hari, dirinya akan bisa dekat dengannya. Mungkin, kalau waktunya sudah tiba, ia akan berbagi cerita kehidupannya ke Aqila, tentang bagaimana seorang Zaskia Putri Anjani Labdajaya melakukan kesalahan yang membuatnya menyesal seumur hidup.