<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ego Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ego/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ego/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jun 2023 14:39:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>ego Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ego/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tabungan = Kebutuhan &#8211; Ego</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jun 2023 14:38:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[boros]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6608</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis suka menonton konten-konten orang yang mengulas suatu isi buku, walaupun &#8220;efek sampingnya&#8221; adalah Penulis jadi ingin membeli buku tersebut. Beberapa YouTuber yang kerap membuat konten tersebut adalah Fellexandro Ruby dan Maudy Ayunda. Nah, ketika Maudy Ayunda membuat konten yang mengulas isi buku The Psychology of Money dari Morgan Housel, ada satu rumus yang menarik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/">Tabungan = Kebutuhan &#8211; Ego</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis suka menonton konten-konten orang yang mengulas suatu isi buku, walaupun &#8220;efek sampingnya&#8221; adalah Penulis jadi ingin membeli buku tersebut. Beberapa YouTuber yang kerap membuat konten tersebut adalah Fellexandro Ruby dan Maudy Ayunda.</p>



<p>Nah, ketika Maudy Ayunda membuat konten yang mengulas isi buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">The Psychology of Money</a> </em>dari Morgan Housel, ada satu rumus yang menarik perhatian Penulis: <strong>tabungan = kebutuhan &#8211; ego</strong>.</p>



<p>Penulis merasa dirinya belakangan ini kerap kesulitan untuk mengendalikan arus pengeluaran keuangannya, terutama setelah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/">meninggalkan Jakarta</a> dan kembali ke Malang. Menemukan rumus tersebut seolah mengingatkan Penulis untuk kembali &#8220;ke jalan yang benar&#8221;.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Tinggal di Rumah Jadi Lebih Boros?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6614" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Di Rumah Kok Jadi Lebih Boros? (<a href="https://www.pamelavcarmichael.com/5-reasons-high-income-earners-struggle-financially-and-how-you-can-change-that/">Living Success</a>)</figcaption></figure>



<p>Dulu Penulis kerap berkelakar kalau dirinya memiliki cita-cita &#8220;kerja di Malang, tapi gaji Jakarta&#8221;. Penulis tak menyangka kalau hal tersebut benar-benar terjadi karena sampai saat ini Penulis masih <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">bekerja secara WFH</a>, bahkan telah memasuki tahun keduanya.</p>



<p>Teman-teman Penulis pun sering berkata, &#8220;Enak dong, tabungannya jadi lebih banyak karena di rumah.&#8221; Memang secara logika, hal tersebut ada benarnya. Namun, terkadang dalam hidup hal ini tidak sesuai dengan logika yang ada di kepala kita.</p>



<p>Penulis justru merasa kalau selama di Malang, <strong>dirinya menjadi lebih boros</strong> dibandingkan waktu masih merantau di Jakarta. Faktor utamanya, menurut analisis Penulis, adalah karena <strong>adanya &#8220;rasa aman&#8221;</strong> yang membuat Penulis terlena.</p>



<p>Ketika merantau, Penulis harus pintar-pintar mengatur keuangannya. Jangan sampai gaji habis sebelum tanggal gajian, karena nanti mau makan apa kalau tidak ada uang. Adanya rasa was-was ini pun membuat Penulis berhasil hidup hemat, bahkan masih memiliki tabungan.</p>



<p>Nah, saat di rumah, perasaan was-was tersebut menjadi hilang. Minimal, uang makan dan <em>laundry </em>bisa berkurang. Akibatnya, uang yang biasanya digunakan untuk kebutuhan hidup beralih fungsi menjadi keinginan yang didasarkan oleh ego.</p>



<p>Seperti kalimat yang diucapkan oleh Maudy Ayunda di atas, <strong>tabungan Penulis menjadi lebih sedikit karena ego yang dimiliki menjadi semakin tinggi</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memangnya Egonya Seperti Apa?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-6613" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-1024x1024.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-768x768.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2-80x80.jpg 80w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/tabungan-kebutuhan-ego-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Salah Satu Ego Terbesar</figcaption></figure>



<p>Tentu dengan tinggal di rumah, pengeluaran yang Penulis keluarkan tidak untuk dirinya sendiri. Seperti ketika membeli makan, Penulis tidak mungkin hanya beli untuk dirinya sendiri. Ini tentu tidak Penulis permasalahkan dan menganggapnya sebagai kebutuhan.</p>



<p>Sebagaimana pepatah <em>boys always be boys</em>, Penulis pun merasa dirinya seperti itu. Ketika sudah memiliki gaji sendiri, tentu <strong>Penulis ingin membeli barang-barang yang dulunya tidak mampu dibeli karena belum punya uang</strong>, termasuk mainan.</p>



<p>Oleh karena itu sewaktu di Jakarta, Penulis membeli <em>action figure </em>Dragon Ball<em> </em>dan <em>model kit </em>Gundam. Tidak banyak, Penulis hanya memiliki <em>action figure </em>Goku dan Vegeta, serta dua <em>model kit </em>Gundam dengan tingkat HG yang relatif masih sangat terjangkau.</p>



<p>Nah, sewaktu tinggal di Malang, jumlah mainan tersebut bertambah secara signifikan. Sampai artikel ini ditulis (termasuk yang dibeli di Jakarta), Penulis telah memiliki sekitar 15 <em>action figure</em> dengan berbagai ukuran, 3 Funko Pop, dan 3 <em>model kit</em>. Bagi Penulis, ini cukup banyak.</p>



<p>Apalagi sewaktu di Malang, Penulis mulai punya hobi baru berupa <strong>koleksi <em>board game</em></strong>. Diawali dengan membeli <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-1-monopoly/">Monopoly</a>, hingga kini Penulis sudah memiliki 22 <em>board game </em>hanya dalam waktu dua tahun. Jujur saja, hobi ini cukup menguras dompet.</p>



<p>Bagi Penulis, inilah ego tertinggi dari dirinya yang menyebabkan jumlah uang yang ditabung setiap bulannya jadi berkurang. Meskipun memberikan perasaan bahagia dengan memilikinya, tak jarang penyesalan muncul karena merasa telah buang-buang uang.</p>



<p>Terkadang, Penulis berandai-andai seandainya saja uang yang digunakan untuk membeli semua barang tersebut dialihkan untuk berinvestasi saja, mungkin lebih berfaedah. Namun, nasi sudah menjadi bubur, yang lebih penting adalah bagaimana ke depannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengurangi Ego, Menambah Tabungan</h2>



<p>Memang, setiap bulannya Penulis selalu menyisihkan sebagian untuk ditabung atau diinvestasikan. Hanya saja, Penulis merasa masih bisa mengalokasikan gaji bulanannya lebih banyak lagi dari yang sudah-sudah.</p>



<p>Dengan menyadari konsep tabungan = kebutuhan &#8211; ego, tentu apa yang harus Penulis lakukan ke depannya adalah <strong>mengurangi egonya</strong>. Rasanya selama dua tahun terakhir ini, Penulis terlalu memanjakan egonya dengan berbagai dalih seperti <em>self reward</em>.</p>



<p>Apalagi, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tur-kamar-saya-sisi-selatan-dan-barat/">kamar Penulis</a> juga telah penuh dengan berbagai barang tersebut, sehingga hampir tidak tersisa ruang kosong. Perlu diingat, semenjak zaman kuliah Penulis gemar membeli buku, sehingga di kamarnya pun ada ratusan buku yang membutuhkan ruang penyimpanan.</p>



<p>Tentu sesekali membeli barang yang diinginkan (alias menuruti ego) tidak ada salahnya, yang salah adalah ketika dilakukan secara berlebihan, seperti yang telah Penulis lakukan. Semoga saja Penulis bisa mengontrol egonya lebih baik lagi, demi tabungan yang lebih gemuk.f</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Juni 2023, terinspirasi setelah mendengar kalimat tersebut dari Maudy Ayunda</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://unsplash.com/@igalness">Igal Ness via Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/">Tabungan = Kebutuhan &#8211; Ego</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/tabungan-kebutuhan-ego/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Saya Toxic?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2021 11:37:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[toxic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5093</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu terakhir ini, Penulis sering melakukan kompletasi. Tujuannya, untuk melihat ke dalam diri sendiri apa yang perlu dibenahi demi menjadi manusia yang lebih baik lagi. Salah satu yang menjadi concern Penulis adalah mengenai toxic yang cukup populer di kalangan generasi muda. Penulis bertanya ke dirinya sendiri, apakah saya ini termasuk orang yang toxic? Untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu terakhir ini, Penulis sering <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">melakukan kompletasi</a>. Tujuannya, untuk melihat ke dalam diri sendiri apa yang perlu dibenahi demi menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<p>Salah satu yang menjadi <em>concern </em>Penulis adalah mengenai <em>toxic </em>yang cukup populer di kalangan generasi muda. Penulis bertanya ke dirinya sendiri, apakah saya ini termasuk orang yang <em>toxic</em>?</p>



<p>Untuk membantu menjawab pertanyaan ini, Penulis pun menonton beberapa video di YouTube yang membahas mengenai sifat <em>toxic</em>.</p>



<p>Hasil perenungan dan pengamatan tersebut akan coba Penulis rangkum melalui tulisan ini sebagai bahan interopeksi bersama dengan bahasa yang sesederhana mungkin.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5097" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Racun (Photo by <strong><a href="https://www.pexels.com/@davideibiza?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Davide Baraldi</a></strong> from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/glass-bottles-on-shelf-1771809/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong>)</figcaption></figure>



<p>Dari berbagai sumber, kata <em>toxic </em>yang kita kenal sekarang sesuai dengan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia: racun. Racun itu sifatnya berbahaya dan merugikan kita.</p>



<p>Jika konteksnya adalah karakter, <em>toxic </em>artinya kita<strong> memiliki sifat atau karakter yang berbahaya dan merugikan orang lain</strong>, baik disadari maupun tidak.</p>



<p>Sikap <em>toxic </em>bisa dilakukan oleh siapa saja, baik kita, keluarga, teman, pasangan, hingga netizen. Semua bisa menjadi sosok yang <em>toxic</em> bagi sekitarnya maupun diri sendiri.</p>



<p>Memiliki sikap <em>toxic </em>jelas hal yang buruk dan harus kita hilangkan jika memilikinya. Selain merugikan orang lain, sikap <em>toxic </em>juga akan memberikan banyak dampak negatif ke pelakunya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Ciri-Ciri Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5099" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Orang Toxic (Photo by <a href="https://unsplash.com/@enginakyurt?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">engin akyurt</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/angry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau berbicara ciri-ciri, jelas ada banyak sekali yang bisa disebutkan. Kalau bagi Penulis sendiri, sikap apapun yang menyusahkan orang lain secara berlebihan bisa dibilang <em>toxic</em>.</p>



<p>Biasanya, yang menonjol dari orang <em>toxic </em>adalah sifatnya yang <strong>lebih mementingkan diri sendiri</strong> alias egois. Persetan dengan orang lain, yang penting dirinya untung.</p>



<p>Karena tingginya ego yang dimiliki, mereka pun tak segan untuk <strong>menjatuhkan orang lain demi kepentingannya</strong> sendiri. Bagi mereka, tidak ada yang namanya simpati atau empati.</p>



<p>Selain itu, tingginya ego membuat mereka <strong>segan untuk meminta maaf</strong> dan <strong>tidak mau</strong> <strong>mengakui kesalahan yang diperbuat</strong>. Bagi mereka, kesalahan selalu berada di tangan orang lain.</p>



<p>Demi melancarkan kepentingannya tersebut, si <em>toxic </em>kerap melakukan <strong>manipulasi dan mengendalikan orang lain secara berlebihan</strong>. Sialnya, terkadang kita yang menjadi &#8220;korban&#8221; tidak sadar sedang dimanipulasi.</p>



<p>Terkadang orang <em>toxic </em>juga memiliki sifat narsis yang membuat mereka kerap <strong>merasa diri paling paling hebat/benar</strong> dan <strong>merendahkan orang lain</strong>. Hal tersebut juga dilakukan demi menjatuhkan orang-orang yang mengganggu kepentingannya.</p>



<p>Tentu masih banyak ciri-ciri orang <em>toxic </em>lain yang belum disebutkan. Hanya saja, bagi Penulis ciri-ciri di atas sudah cukup menggambarkan bagaimana orang <em>toxic</em>.</p>



<p>Seumur hidup Penulis, untungnya Penulis baru bertemu satu orang yang rasanya benar-benar <em>toxic </em>waktu di tempat kerja. Ia pun menjadi <em>public enemy </em>karenanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Memiliki Sifat <em>Toxic</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5098" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/apakah-saya-toxic-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tanya Kepada Diri Sendiri (Photo by <a href="https://unsplash.com/@dollargill?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Dollar Gill</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/think?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a>)</figcaption></figure>



<p>Melihat ciri-ciri yang sudah disebutkan di atas, apakah Penulis termasuk orang yang <em>toxic</em>? Tentu Penulis tidak bisa menilai dirinya sendiri, tapi Penulis akan coba mengurainya satu per satu.</p>



<p>Terkadang, Penulis merasa dirinya ini <strong>memiliki ego yang tinggi</strong>. Rasanya, semua keinginannya harus dituruti oleh orang lain. Mungkin, kesannya jadi seperti memaksakan kehendaknya.</p>



<p>Hanya saja, rasanya Penulis tidak pernah sampai menjatuhkan orang lain demi keinginannya. Penulis merasa dirinya masih punya simpati dan empati kepada orang lain, apalagi kepada orang-orang yang berharga di kehidupannya.</p>



<p>Penulis juga kadang merasa memiliki sifat <strong>gila kontrol ala Steve Jobs</strong> karena sifat perfeksionis yang dimiliki. Oleh karena itu, Penulis berusaha untuk mengurangi kekurangan ini secara perlahan.</p>



<p>Untuk urusan minta maaf dan mengakui kesalahan, mungkin Penulis justru terlalu sering melakukannya. Apalagi, Penulis ada tipe orang yang lebih suka <em>self-blaming</em>.</p>



<p>Merasa diri paling hebat? Justru Penulis adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/bukan-sombong-tapi-minder/"><strong>tipe orang yang suka minder</strong></a> dan<strong> kurang percaya diri</strong>. Rasanya, orang lain selalu terlihat lebih hebat dari diri sendiri. Ini salah, makanya Penulis berusaha untuk bisa lebih percaya diri lagi.</p>



<p>Mungkin sifat lain yang perlu Penulis benahi adalah <em>overthinking</em>-nya dan emosinya yang kadang mudah tersulut. Bisa saja kedua hal tersebut membuat orang lain menganggap Penulis <em>toxic</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Rasanya tidak ada orang yang ingin berurusan dengan orang <em>toxic</em>. Sebisa mungkin, kita ingin menjalin hubungan dengan orang-orang yang bisa saling mendukung satu sama lain.</p>



<p>Penulis akan terus berusaha agar tidak menjadi orang <em>toxic</em>. Kalaupun ada yang menganggap Penulis seperti itu, anggap saja sebagai peringatan agar kita kembali berbenah diri.</p>



<p>Untuk tulisan selanjutnya, Penulis akan mencoba membahas tentang hubungan yang <em>toxic</em>. <em>Stay tuned</em>!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 25 Juli 2021, terinspirasi setelah seseorang menganggap saya <em>toxic</em></p>



<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/@darklabsindia?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Darklabs India</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/toxic?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/ciri-ciri-toxic-people/">Toxic People, Ciri Orang Negatif yang Harus Anda Jauhi (hellosehat.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dimengerti dengan Mengerti</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2019 02:56:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mengerti]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[simpati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1996</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Kamu tuh enggak pernah ngertiin aku&#8220;. Mungkin para pembaca sekalian sering membaca dialog seperti itu di sinetron-sinetron yang sering digugat oleh para penonton televisi. Meskipun kalimat tersebut identik dengan wanita, bukan berarti hal tersebut tidak dirasakan oleh para lelaki. Penulis yakin ada laki-laki yang merasa begitu walaupun mungkin tak diucapkan secara langsung. Merasa tidak dimengerti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Dimengerti dengan Mengerti</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>&#8220;<em>Kamu tuh enggak pernah ngertiin aku</em>&#8220;. Mungkin para pembaca sekalian sering membaca dialog seperti itu di sinetron-sinetron yang sering digugat oleh para penonton televisi.</p>



<p>Meskipun kalimat tersebut identik dengan wanita, bukan berarti hal tersebut tidak dirasakan oleh para lelaki. Penulis yakin ada laki-laki yang merasa begitu walaupun mungkin tak diucapkan secara langsung.<br></p>



<h3 class="wp-block-heading"> <strong>Merasa tidak dimengerti oleh orang lain</strong> </h3>



<p>Perasaan ini dapat muncul apabila harapan kita mengenai perlakuan orang lain kepada kita tidak sesuai dengan ekspetasi.</p>



<p>Tentu, tidak ada yang senang ketika dicuekin atau dianggap tidak ada oleh orang lain (atau mungkin ada?). Mayoritas dari kita berharap bisa menjadi bagian dalam kelompok masyarakat yang ada, karena kita makhluk sosial bukan?</p>



<p>Tentu kita semua ingin orang bisa memahami apa yang kita rasakan. Kita ingin orang lain bisa merasakan apa yang kita rasakan. Bahkan kalau bisa, orang lain akan paham tanpa menunggu kita bercerita.</p>



<p>Permasalahannya, seringkali kita tidak menyadari bahwa bisa jadi kita tidak dimengerti karena <strong>kita tidak mau mengerti orang lain</strong>.  </p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="720" height="493" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1508834633996-7ca4bc707cf8.jpg" alt="" class="wp-image-1998" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1508834633996-7ca4bc707cf8.jpg 720w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1508834633996-7ca4bc707cf8-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1508834633996-7ca4bc707cf8-130x90.jpg 130w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption>Pahami Orang Lain (<a href="https://unsplash.com/@rawpixel">rawpixel</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin kita sama sekali menutup mata terhadap perasaan orang lain, sehingga orang lain pun melakukan hal yang sama kepada kita. Mungkin kita sama sekali tidak pernah berusaha berempati kepada perasaan orang lain, sehingga orang lain berlaku sama.</p>



<p>Karena tidak menyadari penyebabnya, kita justru menjadi merasa tidak disukai dengan orang lain karena tidak ada yang mau mengerti dengan kita. Kita merasa dibenci karena tidak ada yang peduli dengan hidup kita.</p>



<p><em>Overthinking</em> semacam ini membuat kita akan capek sendiri. Sudah belum tentu benar, kita akan menjadi stres karenanya. Ujung-ujungnya, kita malah mengisolasi diri dari pergaulan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="720" height="469" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1493836512294-502baa1986e2.jpg" alt="" class="wp-image-1999" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1493836512294-502baa1986e2.jpg 720w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1493836512294-502baa1986e2-300x195.jpg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption>Jadi Stres Sendiri (<a href="https://unsplash.com/@tjump">Nik Shuliahin</a>) </figcaption></figure>



<p>Jika kita merasa tidak dimengerti oleh orang lain, coba tengok ke dalam diri sendiri. Mungkin, kita belum mengerti orang lain dengan baik sehingga orang pun tidak bisa mengerti diri kita dengan baik.</p>



<p>Sebelum ingin dimengerti oleh orang lain, mari belajar untuk mengerti orang lain terlebih dahulu.  </p>



<p>Kurangi ego yang dimiliki dan buang jauh-jauh segala prasangka buruk yang meracuni pikiran. Tingkatkan empati dan simpati yang dimiliki untuk orang lain. </p>



<p>Mungkin pembaca bisa menambahkan lagi langkah-langkah yang harus dilakukan.</p>



<p><strong>Lalu bagaimana jika kita sudah berusaha mengerti orang lain tapi tetap saja tidak ada yang mengerti kita? </strong></p>



<p>Mungkin &#8220;kode&#8221; yang kita buat terlalu rumit untuk orang lain. Kenapa tidak bicara saja terus terang apa mau kita? Daripada <em><a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">nyindir</a></em><a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/"> di media sosial</a> dengan harapan orang lain peka, lebih baik kita utarakan saja apa yang kita inginkan.</p>



<p>Dengan memberikan kejelasan apa yang ingin dimengerti dari kita kepada orang lain, tentu kita bisa berekspetasi orang lain akan lebih mudah memahami kita. </p>



<p>Tak perlulah menjadi mesin <strong>Enigma</strong> yang rumit, sehingga orang lain harus menjadi <strong>Alan Turing</strong> agar bisa memecahkan sandi rahasia yang kita buat.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Kebayoran Lama, 6 Januari 2019, terinspirasi suatu kejadian di suatu tempat yang dirahasiakan demi kebaikan bersama</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@benjaminsweet">Ben Sweet</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Dimengerti dengan Mengerti</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Definisi Sukses Nomer 1: Bermanfaat Bagi Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 07:26:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengajar]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1158</guid>

					<description><![CDATA[<p>Definisi sukses berbeda-beda bagi setiap orang. Teman dekat penulis pernah mengatakan bahwa definisi suksesnya adalah ketika ia berhasil meraih financial freedom. John C. Maxwell, salah satu penulis favorit penulis, mengatakan sukses adalah perjalanan itu sendiri. Lantas bagaimana definisi sukses bagi penulis? Sebenarnya banyak definisi yang penulis yakini benar, namun kali ini penulis hanya akan berbagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">Definisi Sukses Nomer 1: Bermanfaat Bagi Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Definisi sukses berbeda-beda bagi setiap orang. Teman dekat penulis pernah mengatakan bahwa definisi suksesnya adalah ketika ia berhasil meraih <em>financial freedom</em>. John C. Maxwell, salah satu penulis favorit penulis, mengatakan sukses adalah perjalanan itu sendiri.</p>
<p>Lantas bagaimana definisi sukses bagi penulis? Sebenarnya banyak definisi yang penulis yakini benar, namun kali ini penulis hanya akan berbagi tentang definisi sukses nomer 1 versi penulis: bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p>Dalam renungan batin yang kerap kali dilakukan, penulis menyadari bahwa di masa lalu, penulis merupakan orang dengan ego yang tinggi. Penulis seolah hanya memikirkan kebutuhannya sendiri tanpa memikirkan orang lain.</p>
<p>Setelah menyadari kesalahan ini, perlahan penulis mengubah sikap ini. Salah satu cara ampuh untuk mengurangi ego adalah dengan berusaha untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p><strong>Contoh Kecil di Karang Taruna</strong></p>
<p>Bagaimana cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain? Sebagai contoh, penulis mengabdi di lingkungan penulis dengan membentuk dan mendirikan fondasi Karang Taruna, yang diharapkan dapat menjadi sebuah wadah bagi para remaja mengeluarkan aspirasinya.</p>
<p>Penulis mencurahkan konsentrasi dengan porsi yang lumayan besar pada organisasi ini, hingga ada yang menganggap bahwa salah satu alasan penulis belum bekerja adalah karena ingin fokus membangun Karang Taruna.</p>
<p>Anggota Karang Taruna di tempat penulis rata-rata masih duduk di bangku sekolah, sehingga membuat penulis sering berinteraksi dengan generasi milenial. Membina dan mengkader mereka merupakan tantangan tersendiri bagi penulis, agar organisasi yang telah dirintis dapat bertahan lama.</p>
<p><div id="attachment_1161" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1161" class="size-large wp-image-1161" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_3736.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1161" class="wp-caption-text">Kegiatan di Karang Taruna</p></div></p>
<p>Beberapa program kerja seperti <a href="http://whathefan.com/2018/01/27/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a>, di mana penulis seringkali berposisi sebagai pengajar, semakin menegaskan bahwa aktif di organisasi ini membuat penulis dapat bermanfaat bagi orang lain. Belum lagi ketika penulis dapat secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan warga.</p>
<p>Mungkin inilah salah satu alasan penulis mengalokasikan waktu yang cukup banyak untuk Karang Taruna, hingga habis masa jabatannya pada bulan Juni kemarin.</p>
<p><strong>Bermanfaat di Masa Depan</strong></p>
<p>Impian terbesar yang sedang dikejar oleh penulis adalah melanjutkan studi ke luar negeri. Impian tersebut berelasi dengan cita-cita penulis: menjadi seorang dosen.</p>
<p>Mengapa dosen? Karena seorang dosen merupakan pengajar yang memberikan (insyaAllah) ilmu yang bermanfaat bagi para mahasiswanya. Bukankah salah satu amal jariyah (amal yang tak terputus meskipun kita sudah meninggal) adalah ilmu yang bermanfaat?</p>
<p><div id="attachment_1160" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1160" class="size-large wp-image-1160" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-1024x629.jpg" alt="" width="1024" height="629" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-1024x629.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-300x184.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-768x471.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash-356x219.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/rawpixel-660721-unsplash.jpg 1124w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1160" class="wp-caption-text">Menjadi Pengajar (Photo by rawpixel on Unsplash)</p></div></p>
<p>Menjadi seorang dosen penulis yakini sebagai salah satu jalan yang membuat kita dapat menjadi bermanfaat bagi orang lain. Tidak hanya dengan ilmu, pun dengan interaksi-interaksi yang kita lakukan kepada murid ataupun rekan kerja.</p>
<p>Lantas mengapa bukan seorang guru? Karena penulis tidak mengambil gelar sarjana di bidang pendidikan. Akan tetapi jika ada tawaran untuk menjadi seorang guru, mungkin akan penulis ambil.</p>
<p><strong>Tidak Hanya Satu Jalan</strong></p>
<p>Meskipun sangat berambisi menjadi seorang dosen, penulis tidak menutup kemungkinan untuk bekerja di bidang lain. Penulis yakin, masih banyak cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p>Sebagai contoh lain, kita dengan sukarela menjadi relawan untuk membantu korbam bemcana di Lombok. Berani mengalokasikan waktu dan tenaga di sana bagi penulis merupakan sebuah kesuksesan.</p>
<p>Jika hal tersebut dianggap terlalu muluk, bekerja di bidang masing-masing pun termasuk bermanfaat bagi orang lain, selama niatnya lurus. Contoh, bekerja di toko online sebagai programmer, niatkan bekerja untuk membantu orang lain dalam menjajakan produknya.</p>
<p>Setiap gerak kita, sejatinya berpotensi untuk menjadi manfaat bagi orang lain. Gunakanlah potensi tersebut dengan meluruskan niat yang kita miliki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mal, Bekasi, 21 Agustus 2018, terinspirasi setelah merasa bersalah karena tidak bisa menjadi translator yang baik</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/0nkFvdcM-X4?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Josh Appel</a> on <a href="https://unsplash.com/?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">Definisi Sukses Nomer 1: Bermanfaat Bagi Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
