<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ekonomi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ekonomi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ekonomi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Sep 2025 11:28:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>ekonomi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ekonomi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Sep 2025 11:24:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Yanis Varoufakis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8379</guid>

					<description><![CDATA[<p>Waktu kelas 10 SMA, Ekonomi adalah salah satu mata pelajaran yang kurang Penulis sukai karena menganggapnya mbulet. Namun, ketika dewasa, Penulis menyadari bahwa memahami ilmu ekonomi (setidaknya dasarnya) ternyata sangat penting. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membaca atau menonton topik-topik ekonomi dan keuangan. Beberapa buku yang sudah Penulis baca adalah Ngomongin Uang, Why the [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/">[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Waktu kelas 10 SMA, Ekonomi adalah salah satu mata pelajaran yang kurang Penulis sukai karena menganggapnya <em>mbulet</em>. Namun, ketika dewasa, Penulis menyadari bahwa memahami ilmu ekonomi (setidaknya dasarnya) ternyata sangat penting.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membaca atau menonton topik-topik ekonomi dan keuangan. Beberapa buku yang sudah Penulis baca adalah <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/"><em>Ngomongin Uang</em></a>, <a href="https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/"><em>Why the Rich are Getting Richer</em></a>, dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">The Pschology of Money</a></em>.</p>



<p>Nah, bisa dibilang judul-judul di atas lebih membicarakan tentang keuangan, bukan tentang ekonomi secara fundamental. Itulah alasan utama Penulis membeli buku <em><strong>Talking to My Daughter about the Economy </strong></em>karya <strong>Yanis Varoufakis</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3/">Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Talking to My Daughter about the Economy</em></li>



<li>Penulis: Yanis Varoufakis</li>



<li>Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)</li>



<li>Cetakan: Ke-2</li>



<li>Tanggal Terbit: Januari 2025</li>



<li>Tebal: 144 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024818111</li>



<li>Harga: Rp80.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p><em>Kenapa ada begitu banyak ketimpangan? Dalam buku ringkas ini, Yanis Varoufakis menjawab pertanyaan anak perempuannya yang begitu sederhana tapi juga begitu menggusarkan itu. Dengan menggunakan analogi dari cerita-cerita klasik maupun populer—dari Oidipus, Frankenstein, hingga The Matrix, ia menjelaskan apa itu ekonomi dan kenapa ekonomi punya daya yang dahsyat dalam membentuk hidup kita. Ia juga mengajak kita untuk merebut kembali ekonomi dari tangan para ekonom yang menurutnya hampir selalu keliru. Sebab, ia yakin, semakin ilmiah model ekonomi kita, semakin lemah relasinya dengan ekonomi nyata.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p>Meskipun judulnya &#8220;<em>about the economy</em>&#8220;, sebenarnya buku ini berfokus pada memaparkan sejarah singkat kapitalisme. Jadi, kita tidak akan menemukan bentuk ideologi ekonomi lainnya, seperti sosialisme misalnya.</p>



<p>Buku ini sendiri memiliki 8 bab utama yang saling terkait, di mana setiap akhir bab biasanya akan memberi <em>tease </em>terkait apa yang akan dibahas di bab selanjutnya (mirip dengan formula di buku <em>The Psychology of Money</em>). Delapan bab yang ada dibuku ini adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Mengapa Begitu Banyak Ketimpangan</li>



<li>Lahirnya Masyarakat Pasar</li>



<li>Perkawinan antara Uang dan Laba</li>



<li>Ilmu Hitam Perbankan</li>



<li>Dua Pasar dengan Kompleks Oidipus</li>



<li>Hantu Mesin</li>



<li>Fantasi Berbahaya Uang Apolitis</li>



<li>Virus Bodoh?</li>
</ol>



<p>Kita akan diberi sejarah singkat bagaimana ekonomi dunia saat ini bisa seperti sekarang yang kita kenal, di mana kapitalisme bisa begitu dominan. Semua dijabarkan secara runtun, bahkan ditarik hingga masa Revolusi Pertanian sekitar 10 ribu tahun lalu.</p>



<p>Siapa yang menyangka kalau Revolusi Pertanian menciptakan sesuatu yang disebut sebagai &#8220;Pasar&#8221; alias konsumen karena menimbulkan surplus pangan. Ini berbeda ketika manusia masih berburu, di mana kita tidak menyimpan stok makanan karena daging cepat membusuk.                                  </p>



<p>Perubahan sistem ekonomi di sejarah peradaban manusia juga terjadi akibat adanya invasi yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Mengapa bangsa Eropa yang menjajah Australia atau wilayah lain, bukan sebaliknya? Hal tersebut juga dibahas di buku ini secara singkat.</p>



<p>Nah, invasi yang dilakukan bangsa Eropa juga terjadi karena mereka ingin menjual produk yang mereka hasilkan, apalagi setelah terjadi Revolusi Industri yang membuat produksi barang meningkat berkali-kali lipat. </p>



<p>Dalam Revolusi Industri, pengusaha tentu butuh modal. Nah, maka muncullah pemodal yang bisa meminjamkan uang, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal sistem perbankan. Setelah produksi, tentu pengusaha membutuhkan pembeli agar bisa balik modal dan bayar hutang ke bank.</p>



<p>Semakin cepat proses produksi gara-gara Revolusi Industri, maka barang yang dihasilkan semakin banyak. Namun, pasar atau konsumen di negara sendiri tentu terbatas. Itulah kenapa bangsa Eropa   berdagang dengan bangsa lain, terkadang dengan memaksa. </p>



<p>Nah, pembahasan sejarah kapitalisme di buku ini pun sampai ke era modern, bagaimana seiring berjalannya waktu sistem perekonomian yang kita miliki semakin rumit. Buku ini bahkan sempat menyinggung Bitcoin juga.</p>



<p>Dengan tebal tidak sampai 150 halaman, buku ini mampu memberikan sudut pandang yang menarik tentang ekonomi dan membuat kita sadar bahwa sistem yang kita gunakan saat ini ternyata berakar dari kemajuan kita sendiri, terkadang secara mengerikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</h2>



<p>Memiliki tema ekonomi yang kerap terasa intimidatif dan mengerikan, buku ini justru memiliki gaya bahasa yang menarik. Pasalnya, penulis buku ini memosisikan diri sedang bercerita atau mengobrol dengan anak perempuannya, sehingga terasa dekat dan ringan.</p>



<p>Ekonomi terkenal karena memiliki banyak sekali istilah yang membingungkan orang awam. Nah, di buku ini, sangat jarang ditemukan istilah-istilah yang membuat kita berpikir keras. Benar-benar penjelasannya dibuat sesederhana mungkin.</p>



<p>Tak hanya itu, hal menarik lainnya tentang gaya penyampaian buku ini adalah bagaimana setiap bab selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau <em>pop culture </em>atau mitologi sebagai analogi, sehingga kita sebagai pembaca bisa lebih membayangkan apa yang sedang dibahas.</p>



<p>Selain itu, dengan pendekatan sejarah, tentu buku ini berhasil menarik minat Penulis yang kebetulan juga penggemar sejarah. Apalagi, banyak analogi di buku ini yang menggunakan peristiwa asli, seperti ketika menceritakan tentang pasar rokok di <em>camp </em>tawanan.</p>



<p>Ada juga kritik yang bisa ditemukan di buku ini, seperti bagaimana kemajuan teknologi justru bisa berujung <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">diperbudaknya manusia oleh ciptaannya sendiri</a>. Dalam konteks ekonomi, kita bisa melihat sendiri bagaimana banyak manusia yang kini diperbudak oleh uang.</p>



<p>Dengan demikian, buku ini bisa dikatakan berhasil &#8220;membumikan&#8221; penjelasan ekonomi sehingga mudah dipahami. Menurut Penulis, buku ini cocok untuk pembaca muda yang ingin memahami mengapa sistem ekonomi berjalan seperti yang kita ketahui.</p>



<p>Namun, kelebihan tersebut juga bisa menjadi faktor kekurangan dari buku ini, alias isi buku ini tidak terlalu dalam. Buat orang yang sudah memahami dunia ekonomi, buku ini mungkin akan terasa seperti &#8220;remah-remah&#8221; saja.</p>



<p>Buku ini memang lebih cocok untuk dijadikan sekadar pengantar ke dunia ekonomi, bukan sebagai referensi ekonomi. Hanya sedikit pembahasan yang menawarkan solusi konkrit untuk sebuah permasalahan, padahal ia pernah menjadi Menteri Keuangan Yunani walau sebentar.</p>



<p></p>



<p>Terlepas dari itu semua, buku ini berhasil menjelaskan ekonomi, setidaknya sejarah kapitalisme, dengan mudah dan menyenangkan. Bahkan, menurut Penulis menjadi bacaan wajib anak-anak SMA agar memahami bagaimana dunia yang mereka huni bekerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 13 September 2025, terinpsirasi setelah membaca buku <em>Talking to My Daughter about the Economy </em>karya Yanis Varoufakis</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/">[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-talking-to-my-daughter-about-the-economy/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dunia Gelap di 2023, Kita Harus Apa?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2022 11:25:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[2023]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[krisis]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5972</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada akhir bulan September kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat pernyataan yang cukup membuat masyarakat merasa was-was. Bagaimana tidak, di saat situasi tahun ini belum kunjung membaik, beliau mengatakan kalau tahun depan prospek perekonomian secara global akan semakin gelap. &#8220;Dunia sekarang ini dalam posisi yang tidak gampang, posisinya betul-betul pada posisi yang semua negara sulit. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa/">Dunia Gelap di 2023, Kita Harus Apa?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada akhir bulan September kemarin, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/jokowi-dan-prabowo-sama-sama-putra-terbaik-bangsa/"><strong>Presiden Joko Widodo (Jokowi)</strong></a> membuat pernyataan yang cukup membuat masyarakat merasa was-was. Bagaimana tidak, di saat situasi tahun ini belum kunjung membaik, beliau mengatakan kalau tahun depan prospek perekonomian secara global akan semakin gelap.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Dunia sekarang ini dalam posisi yang tidak gampang, posisinya betul-betul pada posisi yang semua negara sulit. Lembaga internasional sampaikan tahun ini, tahun 2022 sangat sulit. Tahun depan (2023) mereka menyampaikan akan lebih gelap,&#8221; kata Jokowi dalam acara BUMN Startup Day minggu lalu (27/9/22).</p></blockquote>



<p>Kata &#8220;gelap&#8221; yang digunakan Jokowi tersebut digunakan untuk merujuk ke kondisi perekonomian yang berada dalam posisi yang tidak baik-baik saja, bahkan diramalkan akan memburuk. Banyak lembaga internasional yang sudah menyampaikan &#8220;dalam posisi yang tidak baik&#8221;.</p>



<p>Jokowi menambahkan kalau krisis perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung reda juga menyebabkan krisis pangan dunia benar-benar terjadi. Menurutnya, ada ratusan juta orang yang mengalami masalah kelaparan di seluruh dunia.</p>



<p>&#8220;330 juta orang kelaparan dan mungkin 6 bulan lagi bisa 800 juta orang akan kelaparan dan kekurangan makan akut karena tidak ada yang dimakan,&#8221; kata Jokowi.</p>





<p>Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) <strong>Kristalina Georgieva</strong> juga memberikan pernyataan yang senada dengan Jokowi. Ia menyebutkan kalau 2023 akan &#8220;gelap gulita&#8221; karena adanya risiko resesi dan ketidakstabilan pasar keuangan. Penyebabnya tentu saja karena pandemi Covid-19, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/standar-ganda-ala-barat/">perang Rusia-Ukraina</a>, serta bencana iklim di semua benua.</p>



<p>Bahkan, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, China, serta negara di Eropa juga mengalami perlambatan ekonomi. Rusia yang mengalami embargo (larangan lalu lintas barang antarnegara) dari berbagai negara membuat banyak negara, terutama di Eropa, mengalami krisis energi di penghujung tahun.</p>



<p>Di Inggris, harga gas dan listrik melonjak gila-gilaan. Krisis yang terjadi di sana diprediksi bisa separah krisis ekonomi di tahun 2008. Regulator energi di Jerman mendesak konsumennya untuk segera menghemat lebih banyak gas menjelang musim dingin ini.</p>



<p>Sebenarnya, apa yang saja yang menyebabkan dunia berada di posisi sulit seperti sekarang?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa 2023 Dunia akan Semakin Gelap?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="504" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-1-1024x504.webp" alt="" class="wp-image-5976" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-1-1024x504.webp 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-1-300x148.webp 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-1-768x378.webp 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-1-1536x756.webp 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-1.webp 1610w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Grafik yang Menunjukkan Tingkat Pencetakan Uang di Amerika Serikat (<a href="https://ifreebsd.ru.com/product_tag/70532804_.html">GN Life Assurance</a>)</figcaption></figure>



<p>Ned Davis Research dari Amerika Serikat menyatakan bahwa Model Probablitas Resesi saat ini berada <strong>di angka 98.1%</strong>. Ini angka yang sangat tinggi semenjak <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">masa-masa awal pandemi</a> Covid-10 dan Great Financial Crisis 2008-2009.</p>



<p>Sejak awal pandemi, kata &#8220;resesi&#8221; memang sangat sering terdengar. Tersendatnya roda perekonomian di awal masa pandemi Covid-19 jelas memengaruhi banyak sektor, bahkan hingga sekarang. </p>



<p>Bahkan, Amerika Serikat <strong>mencetak uang sangat banyak</strong> untuk rakyatnya demi membuat roda perekonomiannya tetap berputar. Bayangkan, mereka mencetak sekitar 3,3 triliun dolar! Dengan banyaknya uang yang beredar, inflasi pun menjadi ancaman nyata untuk Amerika Serikat.</p>



<p>Akibatnya, pemerintah Amerika Serikat pun memutuskan untuk <strong>menaikkan suku bunga</strong> untuk menarik orang menyimpan uangnya di bank. Masalahnya, hal ini menyebabkan banyak investor yang lebih memilih uangnya untuk disimpan di bank saja karena lebih aman dan bunganya tinggi.</p>



<p>Nah, <em>startup </em>yang termasuk investasi dengan risiko tinggi pun seolah kehilangan daya tariknya dan ditinggal oleh para investor. Alhasil, banyak <strong><em>startup </em>yang melakukan PHK</strong>. Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa yang terkena imbasnya seperti Shopee Indonesia dan Zenius.</p>



<p>Hal ini diperparah dengan perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan <strong>krisis energi dan pangan</strong>. Bukti mudahnya seperti yang sudah terlihat di Inggris, bagaimana biaya hidup dan sewa rumah di sana melonjak tinggi sehingga banyak orang yang menjadi <em>homeless</em>.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Housing Bubble akan Pecah di 2023?</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-2.1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5982" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-2.1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-2.1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-2.1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-2.1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Evergrande di China Menjadi Contoh Housing Bubble (<a href="https://www.insider.com/evergrandes-impending-collapse-forcing-chinese-millennials-reconsider-life-plans-2021-10">Insider</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu hal yang paling ditakutkan di tahun 2023 adalah pecahnya <em><strong>housing bubble</strong> </em>atau <strong><em>real</em> <em>estate bubble</em> </strong>yang dampaknya tidak main-main. Penulis akan coba jelaskan secara sederhana mengenai fenomena tersebut.</p>



<p>Istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan fenomena ketika <strong>harga rumah/properti melonjak karena tingginya permintaan</strong> dari masyarakat. Permintaan banyak, pasokan pun menjadi berkurang. Maka developer properti pun akan segera menambah pasokannya.</p>



<p>Masalahnya, pada titik tertentu <strong>permintaan pasar akan menurun</strong> yang akan berakibat pada anjloknya harga properti. Gelembungnya pecah,<strong> industri properti pun babak belur</strong>. Contoh yang bisa kita lihat terjadi pada perusahaan properti Evergrande di China, yang meninggalkan banyak bangunan hantu di sana karena kena imbas dari hal ini.</p>



<p>Saat pemerintah AS memberikan uang untuk rakyatnya di masa pandemi, banyak yang menginvestasikannya ke properti. Ini membuat harga properti di sana menjadi naik karena tingginya permintaan.</p>



<p>Nah, rumah itu kan nyicilnya lama, bisa puluhan tahun. Jika resesi semakin parah, kemungkinan akan banyak orang kehilangan pekerjaan, yang membuatnya kehilangan pendapatan. Artinya, mereka tidak akan mampu melunasi kredit rumahnya. Ini bisa membuat harga properti terjun bebas.</p>



<p>Sampai saat ini, belum ada kasus <em>housing bubble</em> di Amerika Serikat yang separah kasus Evergrande di China. Di Indonesia pun belum terdengar banyak beritanya. Namun, kita perlu tetap merasa waspada dan melakukan antisipasi agar tidak terkena dampaknya terlalu berat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dunia Makin Gelap, Kita Harus Apa?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5978" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Harus Mulai Lebih Rajin Menabung (<a href="https://www.cnet.com/home/smart-home/save-money-around-the-house-all-year-long-27-cost-cutting-hacks/">CNET</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin banyak masyarakat yang beranggapan kalau pernyataan Presiden Jokowi dan pemberitaan di media massa hanya untuk menakut-nakuti. Padahal, jika mau lapang dada dan menerima informasi ini dengan kepala dingin, kita bisa <strong>melakukan antisipasi</strong> dan <strong>bersiap diri</strong> jika sampai hal-hal buruk sampai terjadi.</p>



<p>Banyak yang menyebutkan kalau dalam masa-masa sulit seperti ini, <em><strong>cash is king</strong></em>. Bukan dalam artian kita harus punya uang tunai sebanyak mungkin, tapi kita menaruh uang di aset-aset investasi yang relatif aman dan mudah dicairkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.</p>



<p>Dengan adanya peringatan dini ini, kita jadi bisa <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/uang-saya-lari-ke-mana-ya/">lebih bijak dalam mengeluarkan uang</a></strong>. Pengeluaran yang bersifat sekunder bahkan tersier bisa ditunda dulu, kita alihkan untuk menabung terlebih dahulu. Jadi jika dalam kondisi sulit, kita masih punya pegangan hidup.</p>



<p>Mungkin Pembaca pernah tahu kalau dalam kondisi krisis, orang kaya justru makin kaya. Kenapa? Karena mereka bisa <strong>membeli aset-aset investasi yang harganya sedang jatuh</strong> seperti saham. Istilahnya, mereka akan &#8220;menyerok&#8221; di kala orang lain melepas saham mereka karena butuh <em>cash</em>.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5979" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Cash is King</em> di 2023? (<a href="https://blog.amartha.com/cara-kelola-idle-money-di-tengah-pandemi/idle-cash/">Amartha Blog</a>)</figcaption></figure>



<p>Nah, nanti uang <em>cash </em>yang kita simpan bisa digunakan beberapa untuk membeli aset-aset investasi yang harganya sedang turun. Ini tentu butuh banyak belajar secara mendalam, bukan hanya sekadar ikut kata orang. Jadi, kita harus berhati-hati jika ingin melakukan hal ini.</p>



<p>Selain itu, sebisa mungkin <strong>hindari hutang</strong> baik ke bank maupun pinjaman <em>online </em>(pinjol). Kalau tidak benar-benar mendesak, benar-benar tahan diri. Ini sebagai antisipasi jika bunga hutang juga ikut naik mengikuti kenaikan suku bunga.</p>



<p>Jika penghasilan bulanan kita dirasa kurang dan ada waktu luang, tidak ada salahnya untuk <strong>memiliki tambahan pendapatan dengan mencari kerja sampingan. </strong>Untuk itu, selalu belajar hal dan <em>skill </em>baru mutlak dibutuhkan untuk menghadapi era yang serba tidak pasti seperti sekarang ini. </p>



<p>Penulis paham tidak semua orang memiliki <em>privilege </em>untuk melakukan semua hal di atas. Boro-boro untuk nabung, untuk makan besok aja belum tentu ada. Untuk itu, Penulis berdoa agar kita selalu dilindungi oleh Tuhan diberi kecukupan untuk bisa menghadapi masalah-masalah yang ada di depan mata ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dari lubuk hati yang paling dalam, tentu Penulis berharap bahwa tahun 2023 dunia tidak akan benar-benar gelap dan kita bisa melewatinya dengan baik. Semoga saja prediksi-prediksi di atas salah dan tidak terjadi.</p>



<p>Namun, tidak ada salahnya juga untuk <em><strong>prepare for the worst </strong></em>untuk berjaga-jaga. Toh, seandainya yang dikhawatirkan tidak terjadi, dana yang sudah kita siapkan pun nantinya bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Setidaknya, kita bisa menjadi lebih hemat dalam beberapa bulan ke depan.</p>



<p>Mungkin dampaknya ke Indonesia hingga saat ini belum terlalu terasa. Harga BBM dan beberapa hal lain memang naik, tapi setidaknya krisis yang kita alami tidak seperti negara-negara lain yang terlihat lebih gila lagi.</p>



<p>Sekali lagi, semoga saja dengan adanya peringatan ini, kita bisa jadi lebih siap jika hal-hal buruk benar-benar terjadi.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 8 Oktober 2022, terinspirasi setelah membaca dan menonton beberapa informasi mengenai prediksi 2023 yang tampaknya akan gelap</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pinterest.nz/pin/478577897887501132/">Pinterest</a></p>



<p>Sumber Artikel: </p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20220927091628-4-375203/gejalanya-mulai-terihat-jokowi-dunia-gelap-2023-itu-nyata">Gejalanya Mulai Terihat! Jokowi: Dunia Gelap 2023 Itu Nyata! (cnbcindonesia.com)</a></li><li><a href="https://nasional.kontan.co.id/news/jokowi-ingatkan-ekonomi-dunia-semakin-gelap-apa-maksudnya">Jokowi Ingatkan Ekonomi Dunia Semakin Gelap, Apa Maksudnya? (kontan.co.id)</a></li><li><a href="https://ekonomi.bisnis.com/read/20221007/620/1585209/bos-imf-beri-peringatan-ekonomi-global-2023-akan-gelap-gulita">Bos IMF Beri Peringatan: Ekonomi Global 2023 akan Gelap Gulita! (bisnis.com)</a></li><li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20220928062505-4-375473/gelapnya-dunia-orang-kelaparan-kini-ada-di-mana-mana">Gelapnya Dunia, Orang Kelaparan Kini Ada di Mana-mana (cnbcindonesia.com)</a></li><li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20221008130420-4-378194/krisis-inggris-makin-mencekik-ini-skenario-terburuknya">Krisis Inggris Makin &#8216;Mencekik&#8217;, Ini Skenario Terburuknya! (cnbcindonesia.com)</a></li><li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20221005073926-4-377271/alert-seluruh-dunia-sudah-dilanda-krisis-ini-daftarnya">Alert! Seluruh Dunia Sudah Dilanda Krisis, Ini Daftarnya (cnbcindonesia.com)</a></li><li><a href="https://www.beritasatu.com/fokus/evergrande-dan-housing-bubble#:~:text=Housing%20bubble%2C%20atau%20real%20estate,lebih%20lama%20untuk%20menambah%20pasokan.">Evergrande dan Housing Bubble (beritasatu.com)</a></li><li><a href="https://seekingalpha.com/article/4545249-with-7-percent-mortgage-rates-its-game-over-for-the-housing-bubble">With 7% Mortgage Rates, It&#8217;s Game Over For The Housing Bubble (BATS:ITB) | Seeking Alpha</a></li><li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=Nhw6OWZjHVU&amp;feature=youtu.be">2023: Menuju KEHANCURAN DUNIA &#8211; YouTube</a></li><li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/tech/20221007095043-37-377947/makin-banyak-ini-daftar-perusahaan-yang-phk-karyawan-2022">Makin Banyak! Ini Daftar Perusahaan yang PHK Karyawan 2022 (cnbcindonesia.com)</a></li><li><a href="https://finance.detik.com/foto-bisnis/d-6328283/miris-gelandangan-di-inggris-makin-bertebaran-gegara-krisis">Miris! Gelandangan di Inggris Makin Bertebaran Gegara Krisis (detik.com)</a></li><li><a href="https://www.instagram.com/p/CjVUJ1Xh096/">Finfolk | Media Finance on Instagram</a></li><li><a href="https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/09/22/ikuti-the-fed-bi-naikkan-suku-bunga-bi-7-day-pada-september-2022">Ikuti The Fed, BI Naikkan Suku Bunga BI-7 Day pada September 2022 (katadata.co.id)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa/">Dunia Gelap di 2023, Kita Harus Apa?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/dunia-gelap-di-2023-kita-harus-apa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Corona dan Dampak Sosial Ekonominya</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2020 11:34:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[dampak]]></category>
		<category><![CDATA[dirumahaja]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[pandemik]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3665</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir ini jika sedang berselancar di media sosial, kita akan disuguhkan banyak sekali berita seputar pandemik Corona yang mulai mengganas di dalam negeri. Bagaimana tidak, hingga hari Jumat (20/3) rasio kematian akibat virus ini mencapai angka 8%, salah satu yang tertinggi di dunia. Banyak yang meyakini hal ini terjadi karena pemerintah termasuk lambat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">Corona dan Dampak Sosial Ekonominya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir ini jika sedang berselancar di media sosial, kita akan disuguhkan banyak sekali berita seputar pandemik Corona yang mulai mengganas di dalam negeri.</p>
<p>Bagaimana tidak, hingga hari Jumat (20/3) rasio kematian akibat virus ini mencapai angka <strong>8%</strong>, salah satu yang tertinggi di dunia. Banyak yang meyakini hal ini terjadi karena pemerintah termasuk lambat dalam mendeteksi pasien, sehingga angka penderita seharusnya lebih tinggi dari sekarang.</p>
<p>Kepanikan pun menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan (<em>inevitable</em>). Orang-orang dengan uang berlebih mulai membeli stok makanan untuk jaga-jaga jika <em>lockdown </em>benar-benar diberlakukan.</p>
<p>Penulis yang tinggal dan bekerja di Kebayoran Lama (yang notabene telah memiliki <em>suspect</em>) tentu juga merasa was-was. Seandainya bisa, Penulis akan memilih untuk pulang ke Malang.</p>
<p>Setelah berbagai pertimbangan, Penulis memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta hingga wabah ini mengalami penurunan, atau bahkan hingga benar-benar habis kasusnya.</p>
<p>Kita semua sedang merasa takut karena penyebaran Corona yang amat sangat cepat dan mudah. Ketakutan tersebut memengaruhi banyak sekali aspek kehidupan kita sehari-hari.</p>
<h3>Dampak Ekonomi ke Masyarakat Bawah</h3>
<p>Menjelang tidur, Penulis mendapatkan notifikasi WhatsApp dari Ayu. Ia bertanya, apakah Penulis masih ingat dengan penjual es krim yang biasanya keliling di daerah perumahan.</p>
<p>Penulis menjawab masih mengingat sosoknya yang telah <em>sepuh</em>. Ayu pun melanjutkan ceritanya dengan berkata bahwa es yang ia jual masih penuh pada hari itu. Padahal, biasanya ketika sore dagangannya sudah akan habis.</p>
<p><div id="attachment_3668" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3668" class="size-large wp-image-3668" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3668" class="wp-caption-text">Harus Keluar Rumah (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pedagang_kaki_lima" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjzr6W5u6voAhVYeH0KHZMXD7wQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wikipedia</span></a>)</p></div></p>
<p>Bisa jadi, orang-orang merasa takut untuk membeli makanan dari luar, terutama yang tingkat higienisnya patut diragukan. Ayu pun jadi kepikiran, bagaimana kalau sang penjual tidak berhasil mendapatkan beberapa lembar rupiah.</p>
<p>Penulis juga teringat perjalanannya ke kantor menggunakan layanan ojek online. Di dalam perjalanan, Penulis bertanya mengenai dampak Corona terhadap jumlah penumpang.</p>
<p>Sang <em>driver </em>mengatakan jumlah penumpang berkurang sangat drastis. Bahkan layanan antar makanan yang Penulis kira akan meningkat juga mengalami stagnasi.</p>
<p>Ini menjadi salah satu contoh bagaimana Corona sebenarnya sangat memukul ke kalangan menengah ke bawah, yang kalau tidak keluar rumah tidak bisa makan. Mereka lebih takut mati kelaparan daripada mati kena virus.</p>
<p>Seperti yang sudah Penulis singgung sebelumnya, orang-orang berduit tidak akan merasakan penderitaan semacam ini. Mereka memiliki tabungan sehingga bisa membeli persediaan makanan. Ketimpangan sosial yang terjadi ini sangat meresahkan.</p>
<h3><em>Lockdown </em>dan Sumbangan dari Si Kaya</h3>
<p>Dari berita yang Penulis baca, tiket pesawat ke Singapura (yang kasus kematian Coronanya 0%) ludes terjual. Bisa jadi, para orang kaya ini kabur ke sana sebelum pemerintah memutuskan <em>lockdown</em>.</p>
<p><em>Lockdown </em>sendiri merupakan salah satu cara paling ekstrem untuk meredam penyebaran virus Corona (selain tembak mati ala Korea Utara). Masalahnya, siapkah masyarakat kita terisolasi dalam jangka waktu yang belum bisa dipastikan?</p>
<p><div id="attachment_3669" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3669" class="size-large wp-image-3669" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3669" class="wp-caption-text">Lockdown (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.thejakartapost.com/news/2020/03/19/covid-19-does-indonesia-need-a-lockdown-it-depends-on-how-you-define-it.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj38OPEu6voAhUKeisKHbtvDBIQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The Jakarta Post</span></a>)</p></div></p>
<p>Masyarakat menengah ke bawah jelas menolak ide ini. Jangankan untuk membeli stok makanan, untuk makan hari ini saja belum tentu punya. Yang kaya <em>mah </em>enak bisa makan sambil nonton <em>Netflix</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, muncul suara-suara di media sosial yang menuntut orang-orang kaya mengeluarkan sumbangan demi mengatasi Corona ini, terutama mereka yang gemar pamer barang-barang <em>branded </em>mereka.</p>
<p>Mereka meminta korporat dan <em>public figure </em>meniru Korea Selatan yang <em>jor-joran </em>dalam memberikan sumbangan. Beberapa sudah melakukannya, beberapa mungkin diam-diam melakukannya. Berprasangka baik saja.</p>
<h3>#dirumahaja</h3>
<p>Sebelum <em>lockdown </em>diberlakukan secara resmi, pemerintah pusat maupun daerah sama-sama menghimbau untuk #dirumahaja sebagai bentuk antisipasi. Masyarakat diminta membatasi  interaksinya dengan orang lain semaksimal mungkin.</p>
<p>Tapi ya sekali lagi, tidak semua bisa merasakan <em>privilege </em>ini. Ada orang-orang yang tidak bisa bekerja dari rumah. Kemarin ketika naik lift barang, Penulis bertemu dengan beberapa <em>security. </em>Mereka jelas tidak bisa bekerja dari rumah.</p>
<p><div id="attachment_3670" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3670" class="size-large wp-image-3670" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3670" class="wp-caption-text">#dirumahsaja (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.dailymail.co.uk/news/article-8129619/NHS-frontline-staff-battling-coronavirus-tell-Britons-responsible-stay-home.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjm7fHsu6voAhUA7HMBHR9DBM8QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Daily Mail</span></a>)</p></div></p>
<p>Tidak hanya di dunia kerja, himbauan ini juga berlaku untuk mahasiswa dan pelajar. Sekolah dan kampus tidak diliburkan, mereka belajar di rumah secara online.</p>
<p>Masalahnya, banyak yang mengeluh kalau mereka mulai bosan di rumah terus. Padahal, sebelumnya mereka selalu mendambakan rebahan sepuasnya. Kontradiksi ini membuktikan ketidakkonsistenan manusia.</p>
<p>Seharusnya, kita merasa bersyukur masih bisa di rumah saja. Merasa bosan itu manusiawi, tapi setidaknya jangan mengeluarkan keluhan tersebut di ruang publik seperti media sosial. Kasihan mereka yang tidak bisa bekerja dari rumah, lebih-lebih tim medis yang menangani pasien Corona.</p>
<p>Bahkan, para ulama dan petinggi agama lainnya telah menyepakati agar aktivitas ibadah dilakukan di rumah untuk sementara waktu. Ini menunjukkan bahwa virus ini bukan sesuatu yang main-main.</p>
<p>Banyak penduduk negara lain yang meremehkan virus ini dan tetap beraktivitas di luar seperti biasa. Hasilnya? Bisa dilihat sendiri jumlah penderita dan korban jiwa dari negara tersebut.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Isolasi di rumah mungkin berat untuk kaum ekstrovert, namun ringan bagi kaum introvert yang sudah terbiasa. Penulis menemukan kalimat ini di media sosial, sebuah <em>joke </em>di tengah duka yang tengah melanda.</p>
<p>Virus Corona memang tidak hanya menyerang kesehatan, namun juga berdampak pada kondisi sosial ekonomi. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, walaupun itu hanya berdiam diri di rumah.</p>
<p>Beberapa negara yang mulai mencari obat dan vaksinnya. Negara yang telah bangkit dari terjangan Corona juga mulai membantu negara-negara lain yang baru terkena dampaknya.</p>
<p>Semoga tulisan ringan ini bisa menjadi pengingat. Semoga kita semua diberikan perlindungan agar bisa melewati badai ujian ini bersama-sama. <em>Every cloud has a silver lining</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya berita seputar virus Corona</p>
<p>Foto: <a href="https://www.who.int/images/default-source/health-topics/coronavirus/corona-virus-getty.tmb-1200v.jpg?Culture=en&amp;sfvrsn=217a6a68_6">WHO</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">Corona dan Dampak Sosial Ekonominya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Keuangan Pada Why the Rich are Getting Richer</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Oct 2019 18:31:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Robert T. Kiyosaki]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Buku Why the Rich are Getting Richer adalah buku kedua karya Robert T. Kiyosaki yang penulis baca. Yang pertama adalah Rich Dad Poor Dad yang penulis baca waktu awal kuliah. Alasan penulis membeli buku ini adalah karena ingin mengetahui bagaimana cara mengelola uang yang lebih baik. Akan tetapi, ternyata penulis mendapatkan hal lain yang juga penting untuk hidup penulis. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/">Pendidikan Keuangan Pada Why the Rich are Getting Richer</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>adalah buku kedua karya <strong>Robert T. Kiyosaki </strong>yang penulis baca. Yang pertama adalah <em>Rich Dad Poor Dad </em>yang penulis baca waktu awal kuliah.</p>
<p>Alasan penulis membeli buku ini adalah karena ingin mengetahui bagaimana cara mengelola uang yang lebih baik. Akan tetapi, ternyata penulis mendapatkan hal lain yang juga penting untuk hidup penulis.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sewaktu membaca bagian awal dari buku ini, penulis sedikit terkejut karena Kiyosaki ternyata seorang pendukung Donald Trump ketika pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016.</p>
<p>Alasannya, ia menganggap Trump sebagai sosok calon presiden yang akan memberikan kail dan umpan kepada rakyatnya. Sebaliknya, Hillary Clinton dan Barack Obama dianggap sebagai orang yang akan memberikan ikan begitu saja kepada rakyatnya.</p>
<p>Pilihan politiknya ini sempat membuat penulis merasa <em>ilfeel </em>terhadap Kiyosaki. Namun pada akhirnya, penulis memilih untuk mengabaikannya karena semua orang punya hak untuk memilih siapa. Yang penting, penulis bisa mendapatkan ilmu dari bukunya.</p>
<p>Kiyosaki terkenal karena berani mendobrak pandangan umum yang populer di masyarakat. Di buku ini, ia dengan lantang bahwa seorang <strong>penabung adalah pecundang</strong>.</p>
<p>Baginya, kita tidak akan bisa menjadi orang kaya hanya dengan menabung di bank. Harus ada hal lain yang dilakukan agar pundi-pundi uang kita bertambah.</p>
<p>Sebelum memberi tahu caranya, Kiyosaki menunjukkan bahwa ada dua hal yang membuat orang kaya bertambah kaya di bagian satu. Hal tersebut adalah <strong>hutang </strong>dan <strong>pajak</strong>.</p>
<p>Menurutnya, orang kaya mampu mengelola hutang untuk keperluan investasi secara cerdas. Orang kaya tidak menggunakan hutang untuk memenuhui kebutuhan gaya hidupnya.</p>
<p>Yang lebih mengejutkan, orang kaya harus bisa membayar pajak sedikit mungkin dengan cara legal. Penulis, dan mungkin sebagian besar orang, selama ini menganggap orang kaya lah yang harusnya membayar pajak paling besar. <em>Mindblowing</em>!</p>
<p>Masih di bagian ini, Kiyosaki memberi tahu sejarah singkat perbankan Amerika Serikat yang sangat menarik. Penulis jadi tahu bagaimana perekonomian dunia bisa terguncang akibat keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintah sana.</p>
<p>Pada bagian selanjutnya, dijelaskan tentang apa pentingnya pendidikan keuangan untuk kita. Apalagi, kita sama sekali tidak mendapatkannya ketika di bangku sekolah.</p>
<p>Bagian ketiga beriskan bab-bab teknis tentang pendidikan keuangan. Salah satu yang paling sering diulas adalah tentang <strong>kuadran </strong><em><strong>cashflow</strong>, </em>terdiri dari E (<em>Employed</em>), S (<em>Self-Employed</em>), B (<em>Business Owner</em>), dan I (<em>Investor</em>).</p>
<p>Para orang kaya tentu saja berada di kuadran I, yang sudah menerima pendapatan pasif dan pendapatan siluman. Apa perbedaan di antara kedua hal tersebut, bisa ditemukan pada buku ini.</p>
<p>Setelah itu, bagian terakhir Kiyosaki memberikan contoh penerapan semua yang sudah ia jabarkan pada buku ini, ketika ia membeli sebuah mobil <em>Porsche </em>dan berhasil membuatnya bertambah kaya.</p>
<h3>Pendapat Penulis Tentang Buku Ini</h3>
<p>Ekonomi merupakan salah satu pelajaran yang tidak penulis sukai ketika duduk di bangku SMA. Oleh karena itu, banyak sekali istilah ekonomi yang gagal penulis pahami dari buku ini. Padahal, buku ini sudah disuguhkan dengan bahasa yang renyah dan mudah dicerna.</p>
<p>Selain itu teori-teori yang dikemukakan pada buku ini, terutama untuk penulis sendiri, sangat sulit untuk dipraktekkan di dunia nyata. Ketika selesai membaca buku ini, penulis tetap tidak tahu apa yang harus dilakukan agar bertambah kaya,</p>
<p>Meskipun buku ini bukan tipe buku yang bisa dipahami dengan sekali baca, penulis tetap menikmatinya. Penulis mendapatkan banyak pelajaran dan wawasan baru dari dunia keuangan.</p>
<p>Di buku ini Kiyosaki juga menyisipkan pengalaman-pengalaman pribadinya dan banyak mengambil rujukan dari bukunya yang paling fenomenal, <em>Rich Dad Poor Dad.</em></p>
<p>Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang merasa memiliki jiwa bisnis dan <em>enterpreneur </em>yang tinggi. Bagi yang masih awam dengan dunia ekonomi seperti penulis, kurang direkomendasikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>3.8/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 6 Oktober 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>karya Robert T. Kiyosaki</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pendidikan-keuangan-pada-why-the-rich-are-getting-richer/">Pendidikan Keuangan Pada Why the Rich are Getting Richer</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
