Connect with us

Sosial Budaya

Dunia Gelap di 2023, Kita Harus Apa?

Published

on

Pada akhir bulan September kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat pernyataan yang cukup membuat masyarakat merasa was-was. Bagaimana tidak, di saat situasi tahun ini belum kunjung membaik, beliau mengatakan kalau tahun depan prospek perekonomian secara global akan semakin gelap.

“Dunia sekarang ini dalam posisi yang tidak gampang, posisinya betul-betul pada posisi yang semua negara sulit. Lembaga internasional sampaikan tahun ini, tahun 2022 sangat sulit. Tahun depan (2023) mereka menyampaikan akan lebih gelap,” kata Jokowi dalam acara BUMN Startup Day minggu lalu (27/9/22).

Kata “gelap” yang digunakan Jokowi tersebut digunakan untuk merujuk ke kondisi perekonomian yang berada dalam posisi yang tidak baik-baik saja, bahkan diramalkan akan memburuk. Banyak lembaga internasional yang sudah menyampaikan “dalam posisi yang tidak baik”.

Jokowi menambahkan kalau krisis perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung reda juga menyebabkan krisis pangan dunia benar-benar terjadi. Menurutnya, ada ratusan juta orang yang mengalami masalah kelaparan di seluruh dunia.

“330 juta orang kelaparan dan mungkin 6 bulan lagi bisa 800 juta orang akan kelaparan dan kekurangan makan akut karena tidak ada yang dimakan,” kata Jokowi.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva juga memberikan pernyataan yang senada dengan Jokowi. Ia menyebutkan kalau 2023 akan “gelap gulita” karena adanya risiko resesi dan ketidakstabilan pasar keuangan. Penyebabnya tentu saja karena pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, serta bencana iklim di semua benua.

Bahkan, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, China, serta negara di Eropa juga mengalami perlambatan ekonomi. Rusia yang mengalami embargo (larangan lalu lintas barang antarnegara) dari berbagai negara membuat banyak negara, terutama di Eropa, mengalami krisis energi di penghujung tahun.

Di Inggris, harga gas dan listrik melonjak gila-gilaan. Krisis yang terjadi di sana diprediksi bisa separah krisis ekonomi di tahun 2008. Regulator energi di Jerman mendesak konsumennya untuk segera menghemat lebih banyak gas menjelang musim dingin ini.

Sebenarnya, apa yang saja yang menyebabkan dunia berada di posisi sulit seperti sekarang?

Mengapa 2023 Dunia akan Semakin Gelap?

Grafik yang Menunjukkan Tingkat Pencetakan Uang di Amerika Serikat (GN Life Assurance)

Ned Davis Research dari Amerika Serikat menyatakan bahwa Model Probablitas Resesi saat ini berada di angka 98.1%. Ini angka yang sangat tinggi semenjak masa-masa awal pandemi Covid-10 dan Great Financial Crisis 2008-2009.

Sejak awal pandemi, kata “resesi” memang sangat sering terdengar. Tersendatnya roda perekonomian di awal masa pandemi Covid-19 jelas memengaruhi banyak sektor, bahkan hingga sekarang.

Bahkan, Amerika Serikat mencetak uang sangat banyak untuk rakyatnya demi membuat roda perekonomiannya tetap berputar. Bayangkan, mereka mencetak sekitar 3,3 triliun dolar! Dengan banyaknya uang yang beredar, inflasi pun menjadi ancaman nyata untuk Amerika Serikat.

Akibatnya, pemerintah Amerika Serikat pun memutuskan untuk menaikkan suku bunga untuk menarik orang menyimpan uangnya di bank. Masalahnya, hal ini menyebabkan banyak investor yang lebih memilih uangnya untuk disimpan di bank saja karena lebih aman dan bunganya tinggi.

Nah, startup yang termasuk investasi dengan risiko tinggi pun seolah kehilangan daya tariknya dan ditinggal oleh para investor. Alhasil, banyak startup yang melakukan PHK. Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa yang terkena imbasnya seperti Shopee Indonesia dan Zenius.

Hal ini diperparah dengan perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan krisis energi dan pangan. Bukti mudahnya seperti yang sudah terlihat di Inggris, bagaimana biaya hidup dan sewa rumah di sana melonjak tinggi sehingga banyak orang yang menjadi homeless.

Housing Bubble akan Pecah di 2023?

Evergrande di China Menjadi Contoh Housing Bubble (Insider)

Salah satu hal yang paling ditakutkan di tahun 2023 adalah pecahnya housing bubble atau real estate bubble yang dampaknya tidak main-main. Penulis akan coba jelaskan secara sederhana mengenai fenomena tersebut.

Istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan fenomena ketika harga rumah/properti melonjak karena tingginya permintaan dari masyarakat. Permintaan banyak, pasokan pun menjadi berkurang. Maka developer properti pun akan segera menambah pasokannya.

Masalahnya, pada titik tertentu permintaan pasar akan menurun yang akan berakibat pada anjloknya harga properti. Gelembungnya pecah, industri properti pun babak belur. Contoh yang bisa kita lihat terjadi pada perusahaan properti Evergrande di China, yang meninggalkan banyak bangunan hantu di sana karena kena imbas dari hal ini.

Saat pemerintah AS memberikan uang untuk rakyatnya di masa pandemi, banyak yang menginvestasikannya ke properti. Ini membuat harga properti di sana menjadi naik karena tingginya permintaan.

Nah, rumah itu kan nyicilnya lama, bisa puluhan tahun. Jika resesi semakin parah, kemungkinan akan banyak orang kehilangan pekerjaan, yang membuatnya kehilangan pendapatan. Artinya, mereka tidak akan mampu melunasi kredit rumahnya. Ini bisa membuat harga properti terjun bebas.

Sampai saat ini, belum ada kasus housing bubble di Amerika Serikat yang separah kasus Evergrande di China. Di Indonesia pun belum terdengar banyak beritanya. Namun, kita perlu tetap merasa waspada dan melakukan antisipasi agar tidak terkena dampaknya terlalu berat.

Dunia Makin Gelap, Kita Harus Apa?

Harus Mulai Lebih Rajin Menabung (CNET)

Mungkin banyak masyarakat yang beranggapan kalau pernyataan Presiden Jokowi dan pemberitaan di media massa hanya untuk menakut-nakuti. Padahal, jika mau lapang dada dan menerima informasi ini dengan kepala dingin, kita bisa melakukan antisipasi dan bersiap diri jika sampai hal-hal buruk sampai terjadi.

Banyak yang menyebutkan kalau dalam masa-masa sulit seperti ini, cash is king. Bukan dalam artian kita harus punya uang tunai sebanyak mungkin, tapi kita menaruh uang di aset-aset investasi yang relatif aman dan mudah dicairkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Dengan adanya peringatan dini ini, kita jadi bisa lebih bijak dalam mengeluarkan uang. Pengeluaran yang bersifat sekunder bahkan tersier bisa ditunda dulu, kita alihkan untuk menabung terlebih dahulu. Jadi jika dalam kondisi sulit, kita masih punya pegangan hidup.

Mungkin Pembaca pernah tahu kalau dalam kondisi krisis, orang kaya justru makin kaya. Kenapa? Karena mereka bisa membeli aset-aset investasi yang harganya sedang jatuh seperti saham. Istilahnya, mereka akan “menyerok” di kala orang lain melepas saham mereka karena butuh cash.

Cash is King di 2023? (Amartha Blog)

Nah, nanti uang cash yang kita simpan bisa digunakan beberapa untuk membeli aset-aset investasi yang harganya sedang turun. Ini tentu butuh banyak belajar secara mendalam, bukan hanya sekadar ikut kata orang. Jadi, kita harus berhati-hati jika ingin melakukan hal ini.

Selain itu, sebisa mungkin hindari hutang baik ke bank maupun pinjaman online (pinjol). Kalau tidak benar-benar mendesak, benar-benar tahan diri. Ini sebagai antisipasi jika bunga hutang juga ikut naik mengikuti kenaikan suku bunga.

Jika penghasilan bulanan kita dirasa kurang dan ada waktu luang, tidak ada salahnya untuk memiliki tambahan pendapatan dengan mencari kerja sampingan. Untuk itu, selalu belajar hal dan skill baru mutlak dibutuhkan untuk menghadapi era yang serba tidak pasti seperti sekarang ini.

Penulis paham tidak semua orang memiliki privilege untuk melakukan semua hal di atas. Boro-boro untuk nabung, untuk makan besok aja belum tentu ada. Untuk itu, Penulis berdoa agar kita selalu dilindungi oleh Tuhan diberi kecukupan untuk bisa menghadapi masalah-masalah yang ada di depan mata ini.

Penutup

Dari lubuk hati yang paling dalam, tentu Penulis berharap bahwa tahun 2023 dunia tidak akan benar-benar gelap dan kita bisa melewatinya dengan baik. Semoga saja prediksi-prediksi di atas salah dan tidak terjadi.

Namun, tidak ada salahnya juga untuk prepare for the worst untuk berjaga-jaga. Toh, seandainya yang dikhawatirkan tidak terjadi, dana yang sudah kita siapkan pun nantinya bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Setidaknya, kita bisa menjadi lebih hemat dalam beberapa bulan ke depan.

Mungkin dampaknya ke Indonesia hingga saat ini belum terlalu terasa. Harga BBM dan beberapa hal lain memang naik, tapi setidaknya krisis yang kita alami tidak seperti negara-negara lain yang terlihat lebih gila lagi.

Sekali lagi, semoga saja dengan adanya peringatan ini, kita bisa jadi lebih siap jika hal-hal buruk benar-benar terjadi.


Lawang, 8 Oktober 2022, terinspirasi setelah membaca dan menonton beberapa informasi mengenai prediksi 2023 yang tampaknya akan gelap

Foto: Pinterest

Sumber Artikel:

Sosial Budaya

Fenomena Joki “Unik”: Ketika Dahaga akan Validasi Jadi Ladang Cuan untuk Orang Lain

Published

on

By

Penulis suka berdiskusi dengan teman-temannya, baik secara langsung maupun via WhatsApp. Topik yang didiskusikan pun bisa bermacam-macam, mulai yang serius hingga yang relatif santai. Senang saja jika ada teman untuk bertukar pikiran.

Nah, belum lama ini, Penulis berdiskusi dengan salah satu kawannya yang bernama Jojo. Topiknya pun menarik, di mana dia kerap membagikan berbagai fenomena joki yang “unik”. Penulis yang semakin jarang bermain media sosial ini pun sampai terkejut ketika diberi tahu.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membagikan apa saja yang kami diskusikan terkait fenomena ini, termasuk apa penyebab dari menjamurnya joki-joki aneh ini hingga bagaimana dahaga akan validasi bisa menjadi ladang cuan untuk orang lain.

Fenomena Joki Bukanlah Hal Baru, tapi…

Joki 3-in-1 (Antara News)

Sebenarnya, pekerjaan sebagai joki bukanlah hal baru. Waktu kecil, Penulis ingat ketika ada aturan 3-in-1 diberlakukan di jalan-jalan tertentu di Jakarta, ada joki-joki yang bisa disewa agar mobil kita bisa melintasi jalan tersebut.

Ada juga joki yang bisa menggantikan kita untuk mengerjakan soal ujian atau tes, walaupun rasanya sekarang akan terasa lebih sulit. Kalau contoh yang lebih modern, joki game tertentu juga cukup ramai. Belakangan juga ada jasa nemenin ngopi dan jalan-jalan.

Namun, alasan untuk menggunakan jasa joki-joki di atas masih terasa masuk akal. Joki 3-in-1 agar kita bisa melewati jalan yang memang harus dilewati, joki ujian biar bisa lulus ujian (tentu ini tidak dibenarkan), joki game pun karena pemainnya ingin melewati grinding yang melelahkan atau mencapai level tertentu.

Beberapa tahun lalu, mungkin Pembaca masih ingat dengan fenomena joki Strava, di mana orang akan memamerkan hasil larinya, tapi yang lari justru orang lain. Nah, joki-joki unik yang diberitahukan Jojo kepada Penulis bisa dibilang cukup membuat geleng-geleng kepala.

Penulis akan sebutkan beberapa joki tersebut: joki baca buku, joki minum kopi, hingga joki nonton konser. Penulis bahkan menemukan ada yang membuka jasa joki nonton Manchester United, tapi Penulis meyakini kalau ini hanya troll post.

Awal diskusi ini pun bermula dari Jojo yang merekomendasikan Penulis untuk menjadi joki baca buku, karena dia tahu betapa kutu bukunya Penulis. Nantinya, Penulis harus memberi banyak catatan atau menempel sticky notes agar pembayar jasa bisa terlihat pintar.

Dari tiga contoh di atas, ada kesamaan dengan joki Strava, yakni menggunakan orang lain untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipamerkan ke orang lain, tanpa perlu melakukannya sendiri.

Mengapa Banyak Bermunculan Joki Aneh?

Contoh Joki Baca Buku (X)

Penulis dan Jojo menemukan beberapa jawaban mengapa fenomena joki “unik” ini makin menjamur. Salah satunya adalah haus akan validasi dari orang lain. Di era media sosial yang makin memudahkan kita untuk melihat kehidupan orang lain, hal ini akan makin lumrah terjadi.

Kita mungkin bisa berlogika kalau memang ingin pamer buku yang sedang dibaca, ya baca bukunya. Kalau mau pamer lagi nonton konser, ya datang ke konsernya. Hanya saja, ternyata tidak semua bisa berpikiran seperti itu. Analoginya, ingin terlihat keren tanpa benar-benar berusaha untuk keren.

Alasan lainnya adalah fear out missing out alias FOMO. Mungkin karena melihat story orang membagikan buku yang dibaca, kopi yang diminum di kafe viral, atau konser yang seru, mereka jadi ingin ikut-ikutan agar dianggap keren atau cultured juga. Kalau kata Jojo, mereka ini “kebelet aesthetic.”

Selain itu, bisa juga orang-orang sampai harus “berbohong” sampai menggunakan jasa joki adalah demi mendapatkan engagement. Seperti yang kita tahu, ketika postingan kita mendapatkan banyak likes maupun komentar, hal tersebut akan memberikan suntikan dopamin. Itulah yang dikejar oleh mereka.

Fenomena ini makin diperparah dengan adanya jasa-jasa persewaan barang seperti iPhone, tas branded, lanyard, bahkan pacar. Bedanya, seringnya barang-barang tersebut didapat demi mendapatkan validasi secara luring, sedangkan jasa joki kebanyakan untuk mendapatkan validasi secara daring.

Kalau melihat ini dari sudut pandang lain, kebutuhan validasi orang lain justru menjadi ladang uang bagi orang lain. Bagi yang jeli melihat pasar dan apa yang sedang dibutuhkan, mereka akan menyediakan jasa joki tersebut. Terbukti, ada (kalau bukan banyak) yang menggunakan jasa tersebut.

Ketika Identitas Menjadi Penuh Kepalsuan

Penulis dan Jojo sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya dari fenomena joki ini, yakni bagaimana identitas manusia menjadi penuh kepalsuan. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, kita jadi rela untuk menipu orang lain dan diri kita sendiri.

Sampai menulis artikel ini pun Penulis masih susah untuk menerima adanya fenomena ini, bagaimana kita rela mengeluarkan uang demi mendapatkan validasi dari orang lain. Padahal, sejatinya validasi terpenting itu harus datang dari diri sendiri.

Seandainya alasan mereka sampai berbuat seperti itu adalah karena tuntutan lingkungannya, ya mungkin yang salah memang lingkungannya. Lingkungan yang tepat tidak akan menuntut kita untuk berubah menjadi orang lain dan membuat kita memaksakan diri.

Kalau memang tidak suka lari pagi, tidak suka baca buku, lambungnya tidak kuat minum kopi, atau belum punya uang untuk nonton konser, ya tidak perlu upload story. Percayalah, hidup yang tenang (dan mungkin membosankan) itu juga bisa dinikmati, kok.

Mungkin Penulis juga bisa membuka jasa “joki” sebagai tambahan pemasukan in this economy. Penulis terpikir untuk menjadi joki “pemberi validasi yang soft-spoken“. Kira-kira, apakah ada pasarnya?


Lawang, 24 Oktober 2026, terinspirasi setelah ngobrol dengan Jojo terkait fenomena joki yang semakin hari semakin aneh ini

Continue Reading

Sosial Budaya

Bahkan Hobi Baca Buku pun Tak Luput dari Nyinyiran Orang

Published

on

By

Penulis selalu mem-branding dirinya sebagai orang yang gemar membaca buku. Bukan demi pencitraan, tapi memang benar-benar hobi membaca sejak kecil. Oleh karena itu, banyak artikel review buku di blog ini. Penulis juga suka membagikan buku yang sedang dibacanya di media sosial.

Seringnya, Penulis membaca di rumah tentu saja, terutama di kamar. Akan tetapi, waktu masih tinggal di Jakarta, Penulis sering membaca buku di transportasi umum seperti Trans Jakarta dan KRL. Daripada doomscrolling mulu, lebih baik baca sesuatu yang lebih bermanfaat.

Namun, belakangan ini Penulis kerap menemukan sebuah fenomena yang terkesan nyinyir terhadap orang-orang yang suka membaca buku di ruang publik. Menurut mereka, para pembaca ini hanya ingin terlihat sok keren di mata orang lain. Benarkah demikian?

Menengok Tingkat Literasi Kita

Harusnya Jadi Budaya Kita (Ludovic Delot)

Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup rendah. Berdasarkan data terbaru dari skor literasi membaca PISA pada tahun 2025, kita hanya mendapatkan skor 365. Walaupun naik 6 poin, tapi kita tetap berada di peringkat 74 dari 90 negara yang berpartisipasi.

Jika menengok Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada bulan Maret 2026, skor kita hanya 40,6 dan tergolong rendah. Perpustakaan Nasional mengumumkan pada tahun 2025 kalau Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional hanya berada di angka 54,80 atau tergolong rendah juga.

Jangan lupakan juga data dari World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang dilakukan pada Maret 2016 silam. Kita berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada di atas negara Botswana.

Data-data di atas menjelaskan bahwa kegiatan membaca memang bukan menjadi budaya kita. Bahkan di antara keluarga maupun teman Penulis, sangat sedikit orang yang menunjukkan kegemaran membaca mereka.

Hal ini makin diperparah dengan makin mahalnya harga buku. Ketika ke toko buku, Penulis kerap merasa kaget ketika melihat label harga di belakang buku. Seringnya, Penulis sampai harus menunggu ada momen diskon dari toko buku agar bisa mendapatkan bukunya dengan harga yang lebih terjangkau.

Memang, ketika ke acara pameran buku seperti Big Bad Wolf dan Semesta Buku, jumlah pengunjungnya cukup padat. Ketika Penulis ke Gramedia, pasti ada saja orang yang sedang mempertimbangkan buku mana yang akan dibeli.

Penulis mencoba untuk memperluas circle pertemanan bukunya. Belum sampai tahapan ikut sebuah komunitas, tapi sudah sering mutualan di Threads dengan orang-orang yang juga antusias membaca buku. Penulis sering meninggalkan komentar di pos-pos seputar buku.

Dari uraian di atas, kita bisa memahami kalau orang yang hobi membaca itu sudah termasuk langka. Sayangnya, justru jumlah yang sedikit tersebut masih harus kena nyinyir dari netizen yang menganggap mereka hanyalah performative reader.

Apakah Orang yang Membaca di Ruang Publik Selalu Performative Reader?

Membaca di Tempat Umum (Ahmet Kurt)

Istilah performative reader ditujukan untuk orang-orang yang kelihatannya membaca, tapi untuk tujuan agar terlihat intelektual, cultured, estetik, atau bahkan edgy. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang dibaca, yang penting apa yang terlihat di mata orang lain.

Ada beberapa ciri dari performative reader ini, mulai hobi membawa buku tebal atau klasik ke tempat umum seperti kafe dan kereta, sering foto bukunya entah itu selfie maupun memamerkan bukunya yang jadi “warna-warni”, hingga membagikan kutipan yang dianggap keren atau related.

Fenomena ini semakin parah dengan adanya joki baca buku yang juga tak kalah ramai dibicarakan. Orang yang mau terlihat keren, tapi malas untuk menyelesaikan sebuah buku, bisa memanfaatkan jasa ini. Mereka juga akan mendapatkan berbagai foto estetik yang bisa dipamerkan ke media sosialnya.

Ada teman Penulis yang menyarankan Penulis menjajal opportunity ini, tapi Penulis menolak dengan alasan tak tega kalau harus mencoret-coret buku ataupun menempelinya dengan sticky notes. Catatan kecil Penulis tetap menjadi andalan untuk menulis semua poin penting yang Penulis temukan di buku.

Buku pun seolah hanya menjadi alat validasi bagi para performative reader ini. Mereka ingin dipandang sebagai sosok yang ini itu berdasarkan bacaan keren yang sedang mereka tunjukkan di ruang publik tanpa benar-benar memahami isi buku yang sedang dipegangnya.

Hanya saja, tidak semua orang yang membaca di tempat umum adalah performative reader. Itu adalah generalisasi yang cukup menghakimi. Bisa jadi orang tersebut memang benar-benar suka membaca. Mereka membaca di kafe karena ingin ganti suasana, mereka membaca di kereta agar waktunya bisa digunakan lebih produktif.

Hobi membaca itu sudah cukup langka, jadi jangan membuat hal tersebut semakin langka lagi. Alasan yang sama juga berlaku bagi orang-orang yang kerap menjadi “polisi” bacaan dan merendahkan bacaan orang lain, terutama buku-buku populer yang mainstream. Sudah mau membaca buku saja bagus, jangan malah dihakimi.

Penulis akan berusaha sesuai kapasitasnya untuk mendukung aktivitas membaca buku menjadi kebiasaan yang natural bagi masyarakat Indonesia. Siapa pun yang ingin meminjam buku milik Penulis, silakan, syaratnya hanya tolong kembalikan dalam kondisi yang tidak rusak!


Lawang, 20 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca di media sosial mengenai nyinyiran yang ditujukan kepada orang yang suka membaca buku di tempat umum

Continue Reading

Sosial Budaya

Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)

Published

on

By

Setelah bermain biliard pada malam minggu kemarin, Penulis duduk santai bersama teman-temannya karena sedang menunggu pesanan makanan. Sambil iseng, Penulis cek Instagram.

Nah, di Instagram kan sering ada rekomendasi postingan Threads agar kita “main” ke sana. Pada waktu itu, yang muncul di laman Penulis adalah membahas masalah Jiwoo, leader dari girlband Hearts2Hearts (H2H) tempat Carmen bernaung.

Tentu Penulis kaget, ada apa ini, perasaan selama ini baik-baik saja tidak ada masalah. Apakah ada skandal besar yang menerpanya? Ternyata setelah Penulis baca detail, bisa dibilang masalahnya (bagi Penulis) cukup sepele.

Inti Masalah yang Menerpa Jiwoo

Hearts2Hearts (X)

Untuk yang awam dengan dunia K-Pop, Hearts2Hearts adalah girlband di bawah agensi SM Entertainment yang baru debut tahun lalu, tepatnya tanggal 24 Februari 2025. Artinya, usia mereka baru satu tahun lebih sedikit.

Anggotanya pun muda-muda, dengan yang tertua (yakni Carmen dan Jiwoo) lahir tahun 2006 atau berusia 20 tahun (21 tahun umur Korea), sedangkan yang paling muda lahir di tahun 2010.

Lantas, apa masalah yang menerpa Jiwoo sebagai leader? Inti yang Penulis tangkap adalah ia dianggap oversharing tentang teman perempuannya, yang disebut dengan kode “Deep Green”.

Si Deep Green ini sebelumnya juga merupakan trainee bersama Jiwoo, bahkan disebut akan debut bersama. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan perubahan manajerial di SM membuat rencana tersebut batal.

Alih-alih mendebutkan Deep Green, SM justru mendebutkan Carmen, Stella, dan Ye-On. Mereka bertiga bahkan dijuluki sebagai “pendobrak line-up” karena masa trainee mereka yang tergolong singkat.

Singkat cerita, H2H akhirnya debut. Seperti kebanyakan girlband lain, mereka pun punya channel YouTube sendiri yang juga berisi semacam variety show di luar kesibukan mereka sebagai idol. Gampangnya, banyak konten vlog di sana.

Dalam beberapa kesempatan (kalau tidak salah sekitar tiga kali secara total), Jiwoo ini sering bercerita tentang si Deep Green ini, termasuk menunjukkan wallpaper HP-nya yang menampilkan foto mereka berdua.

Nah, dari sinilah masalahnya dimulai.

Netizen yang Lompat ke Kesimpulan

Wallpaper Jiwoo (TikTok)

Mungkin Pembaca yang tidak familier dengan dunia K-Pop akan merasa heran dengan cerita di atas karena tidak menemukan adanya masalah. Penulis pun merasa demikian.

Ternyata, netizen (yang tentunya penggemar K-Pop) mempermasalahkan sikap Jiwoo yang oversharing si Deep Green tersebut. Ada yang mengecap Jiwoo “gagal move on“ dari temannya tersebut hingga mengabaikan member-nya,

Mereka menggunakan sebuah potongan ucapan salah satu member H2H, A-na, yang mengatakan di salah satu vlog kurang lebih seperti ini: “lebih perhatikan lagi member-mu.” Ada juga katanya A-na pernah bilang, “oh, si Green itu lagi.”

Lebih parahnya lagi, ada yang langsung menuduh Jiwoo menjalin hubungan romantis dengan si Deep Green. Istilah yang sering digunakan adalah WLW atau woman love woman. Dengan kata lain, Jiwoo dianggap sebagai seorang lesbian.

Banyak yang berkata kalau kedekatan Jiwoo dan Deep Green “tidak normal”. Narasi yang sering digunakan adalah “gue juga punya temen deket, tapi enggak segitunya.”

Selain itu, hebohnya kasus ini juga membuat trio pendobrak line-up jadi sasaran hate karena dianggap menggagalkan debut Deep Green (dan beberapa orang lainnya). Padahal, kan, keputusannya dari manajemen, ya?

Tentu banyak hal lain yang akhirnya disasar ke Jiwoo, mulai dianggap kurang pantas jadi leader, enggak bisa menerima fakta, dicap sering blunder, kurang care ke anggotanya, dan lain sebagainya.

Dari penjelasan di atas, bisa dilihat betapa mudahnya kita sebagai manusia langsung lompat ke kesimpulan dan merasa kesimpulan tersebut pasti benar.

Padahal ya Belum Tentu Benar

Jiwoo dan Carmen (Instagram)

Penggemar K-Pop memang sering “dikeroyok” oleh netizen lain karena hubungan parasosial mereka yang cukup parah. Bagi mereka, idol adalah milik mereka. Tingkah laku idol harus sesuai dengan kemauan dan standar mereka.

Penulis masih ingat betul kasus yang menerpa Karina aespa. Ada dua kasus besar di mana hidupnya seolah “diatur” oleh penggemar. Pertama, masalah ia pacaran yang ujungnya membuat ia harus putus. Kedua, masalah foto yang dianggap bentuk dukungan kepada salah satu calon presiden Korea Selatan.

Nah, kasus Jiwoo ini adalah contoh lain dari permasalahan ini. Apalagi, kesimpulan-kesimpulan netizen, menurut keyakinan Penulis, berasal dari asumsi-asumsi yang dasarnya kurang kuat, mong kebanyakan dari potongan video.

Pertama, Jiwoo memang leader H2H, sehingga punya tanggung jawab yang besar atas para member-nya. Hanya karena ia sering sharing Deep Green, bukan berarti ia menelantarkan anggota-anggotanya, apalagi sampai dicap kurang care.

Ucapan A-na pun belum tentu terkait hal tersebut, apalagi mereka berdua (Jiwoo dan A-na) dikenal sebagai Tom & Jerry-nya H2H karena sering berantem (dalam konteks bercanda, yang justru menunjukkan kedekatan mereka).

Kedua, kalau memang Jiwoo lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan member-nya sendiri, ya biarin aja. Kan orang bebas memilih mau berteman dengan siapa. Toh, kita juga tidak selalu berteman dengan orang sekantor, kan?

Ketiga, tuduhan yang menurut Penulis paling parah adalah tentang WLW. Penulis benar-benar tidak habis pikir, kenapa ujungnya justru menuduh Jiwoo sampai segitunya?

Banyak yang mengatakan bahwa mereka juga punya teman dekat, tapi enggak sampai seperti Jiwoo dan Deep Green. Lah, cara orang mengekspresikan diri kan beda-beda, masa harus sama kayak kita semua?

Padahal, kita tidak tahu apa saja yang terjadi di balik layar. Kita hanya menyimpulkan berdasarkan apa yang ditampilkan di layar. Lantas, siapa kita bisa menghakimi orang lain sedemikian rupa dan merasa asumsi kita pasti benar?

Kalau kata teman Penulis, “They wanna believe what they want to believe.” Bagi fans (dan mungkin juga hater), mereka merasa yang paling tahu tentang idol-nya, seolah tidak ada batas di antara mereka.

***

Artikel ini bukan pembelaan ke Jiwoo, mong fans pun bukan. Artikel ini Penulis tulis sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia terkadang suka langsung melompat ke kesimpulan tanpa ada dasar yang kuat.

Kalau hanya berdasarkan asumsi, potongan-potongan video, dan bukti-bukti lemah lainnya, ya jangan langsung membuat kesimpulan. Toh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di belakang layar.

Lagipula, daripada menghabiskan energi dan waktu untuk orang lain (yang bahkan tidak tahu kita hidup di dunia ini), lebih baik digunakan untuk upgrade diri sendiri. Toh, kita enggak bisa mengontrol Jiwoo mau berteman dengan siapa atau mau bersikap seperti apa.


Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat “drama” yang melibatkan Jiwoo

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018