<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Elon Musk Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/elon-musk/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/elon-musk/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Jul 2023 16:43:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Elon Musk Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/elon-musk/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Threads: The Right Thing at the Right Time</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jul 2023 16:43:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Elon Musk]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Zuckerberg]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Meta]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Threads]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6670</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari Kamis (6/23) kemarin menjadi hari rilisnya Threads, sebuah media sosial baru dari Meta (induk perusahaan dari Facebook, Instagram, WhatsApp) yang text-oriented. Dalam sekejap aplikasi ini langsung mendapatkan atensi dan berhasil mendapatkan puluhan juga user. Banyak yang menyebut kalau aplikasi ini pada dasarnya sama dengan Twitter, yang kini dimiliki oleh Elon Musk. Tak heran jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads: The Right Thing at the Right Time</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari Kamis (6/23) kemarin menjadi hari rilisnya <strong>Threads</strong>, sebuah media sosial baru dari Meta (induk perusahaan dari Facebook, Instagram, WhatsApp) yang <em>text-oriented</em>. Dalam sekejap aplikasi ini langsung mendapatkan atensi dan berhasil mendapatkan puluhan juga <em>user</em>.</p>



<p>Banyak yang menyebut kalau aplikasi ini pada dasarnya sama dengan Twitter, yang kini dimiliki oleh Elon Musk. Tak heran jika Musk sampai menuliskan surat untuk Mark Zuckerberg (bos Meta) dan mengancam akan menuntut Threads.</p>



<p>Jika dilihat secara sekilas, memang Threads sangat mirip dengan Twitter, bahkan banyak yang menganggap aplikasi ini mirip dengan Twitter di masa-masa awal. Apalagi, Threads memiliki tampilan yang minimalis dan belum akan ada iklan untuk sementara waktu.</p>





<p>Terlepas dari segala permasalahan yang ada, Penulis ingin membahas mengenai bagaimana Threads muncul sebagai hal yang tepat di waktu yang tepat, tentang bagaimana sebuah aplikasi muncul di saat aplikasi sejenis sedang mengalami berbagai problematika.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Threads Hadir di Kala Twitter Bermasalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="763" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-1024x763.jpg" alt="" class="wp-image-6673" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-1024x763.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-300x224.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014-768x572.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/gettyimages-1258928014.jpg 1240w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mark Zuckerberg (Kiri) dan Elon Musk (<a href="https://www.cbsnews.com/news/threads-zuckerberg-millions-of-signups-within-hours/">CBS News</a>)</figcaption></figure>



<p>Seperti yang kita ketahui bersama, Twitter jadi banyak masalah (dan drama) semenjak <strong>Elon Musk</strong> mengakuisisi perusahaan pada bulan Oktober 2022. Contoh yang paling mudah adalah banyaknya karyawan yang ia pecat dengan berbagai alasan.</p>



<p>Kebijakan yang ia buat untuk Twitter pun kerap menjadi polemik, seperti centang biru berbayar hingga adanya pembatasan pos yang bisa dilihat oleh <em>user </em>yang tidak membayar paket <em>subscription </em>tertentu.</p>



<p>Di tengah kekacauan yang membuat sebagian pengguna Twitter merasa jengah, <strong>Meta tiba-tiba muncul dengan Threads</strong>. Mereka menyediakan sebuah aplikasi alternatif untuk mereka yang merasa makin malas menggunakan Twitter.</p>



<p>Penulis sendiri akhir-akhir ini semakin malas membuka <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter karena isinya berantem mulu</a>. Meskipun tidak mengikuti akun-akun yang berpotensi menimbulkan kericuhan, ada teman-teman di Twitter yang melakukan <em>repost </em>atau muncul sebagai iklan.</p>



<p>Nah, kemunculan Threads menjadi alternatif yang tepat karena sebagai aplikasi baru, mayoritas isi <em>timeline </em>Penulis merupakan tulisan dari teman-temannya yang juga baru mencoba. Namun, bukan tidak mungkin ke depannya Threads akan ikut rusuh.</p>



<p>Selain itu, mungkin orang juga bisa menjadikan Threads sebagai <strong>jeda dari konten yang bersifat visual</strong> seperti <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, Reels, hingga Shorts. Walau konsep <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">infinity short videos</a> </em>menyenangkan bagi sebagian orang, lama-lama pasti juga akan merasa jenuh.</p>



<p>Berdasarkan pengalaman menggunakan aplikasi ini selama dua hari, Penulis memang merasa kalau Threads digunakan oleh orang-orang untuk berceloteh apapun yang ada di pikiran mereka, mirip dengan konsep Twitter dulu yang seolah telah hilang saat ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Threads akan Menjadi Twitter Killer?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="640" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-1024x640.jpeg" alt="" class="wp-image-6674" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-1024x640.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-300x188.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8-768x480.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/TELEMMGLPICT000341617460_16886354877960_trans_NvBQzQNjv4BqNJjoeBT78QIaYdkJdEY4CnGTJFJS74MYhNY6w3GNbO8.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tampilan Aplikasi Threads (<a href="https://www.telegraph.co.uk/business/2023/07/06/threads-instagram-app-twitter-sign-up-download-celebrities/">The Telegraph</a>)</figcaption></figure>



<p>Begitu Threads muncul, Musk langsung <strong>mengancam akan menuntut Meta</strong>. Alasannya, aplikasi tersebut dianggap sebagai tiruan dari Twitter, terlebih banyak mantan karyawan Twitter direkrut oleh Meta, sehingga &#8220;kebocoran informasi internal&#8221; sangat mungkin terjadi.</p>



<p>Melalui <em>tweet</em>-nya (tentu saja di Twitter, bukan di Threads), Musk mengatakan bahwa sebuah kompetisi untuk Twitter sah-saja saja. Namun, ia tidak bisa menolerir kecurangan. Nah, apa yang Meta lakukan dengan Threads ia anggap sebagai kecurangan.</p>



<p>Apakah Musk takut dengan kemunculan Threads? Bisa saja, mengingat konsep dari kedua platform memang benar-benar sama. Hingga saat ini, Penulis belum bisa menemukan perbedaan antara keduanya.</p>



<p>Threads memiliki keunggulan karena ia terintegrasi dengan Instagram. Begitu mendaftar, kita bisa <em>login </em>dengan akun Instagram kita untuk mendapatkan profil dan daftar teman atau akun yang ikuti di Instagram, bahkan jika mereka belum <em>join </em>ke Threads.</p>



<p>Dengan meledaknya jumlah pengguna hanya dalam waktu dua hari, wajar jika Musk ketar-ketir kalau pengguna Twitter akan berpindah haluan ke Threads. Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya <strong>kemunculan Threads bisa jadi karena ulahnya sendiri</strong>.</p>



<p>Sebagaimana yang telah diulas di atas, Musk banyak memecat karyawan Twitter, sehingga mereka bergabung dengan kompetitor. Selain itu, ia juga kerap membuat kebijakan yang membuat <em>user </em>tidak nyaman dengan Twitter, sehingga wajar mereka pindah ke Threads.</p>



<p>Jika Musk tidak berbenah dengan Twitter-nya (terlepas ia telah mengatakan telah menunjuk CEO pengganti dirinya), bukan tidak mungkin kalau Threads benar-benar akan menjadi <em>Twitter-killer</em> di masa depan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Monopoli Meta di Dunia Media Sosial?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-6675" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/07/GettyImages-1501994091.jpg 1440w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Berusaha Memonopoli Dunia Media Sosial? (<a href="https://www.foxbusiness.com/technology/zuckerberg-says-threads-instagrams-new-twitter-like-app-launched-5-million-users-elon-musk-responds">Fox Business</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari sisi Meta, kita pun harus waspada karena mereka terlihat sedang ingin <strong>memonopoli <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">dunia media sosial</a></strong>. Ketika dunia ramai oleh TikTok, mereka membuat fitur Reels untuk Instagram. Kini, mereka seolah ingin mengambil alih pasar yang dimiliki oleh Twitter.</p>



<p>Sama seperti Microsoft yang sedang dikejar oleh Free Trade Commission (FTC) karena berusaha mengakuisisi Activision Blizzard, bisa jadi Meta juga akan diincar karena dianggap melanggar undang-undang antimonopoli.</p>



<p>Apalagi, sebelumnya sudah banyak media sosial lain yang tumbang karena tidak mampu bersaing dengan mereka. Sebut saja Google+, Path, Vine, hingga MySpace. Jika Twitter sampai bernasib seperti aplikasi-aplikasi tersebut, tentu itu akan mempertegas monopoli Meta.</p>



<p>Threads pun mendapatkan tantangan untuk membuktikan kalau mereka berbeda dari Twitter. Jika ternyata ini hanya fenomena sesaat dari orang-orang yang rindu akan Twitter lama, maka Threads pun berpotensi untuk kehilangan pengguna yang merasa bosan.</p>



<p>Saat ini, masih banyak fitur yang belum dimiliki oleh Threads, seperti <em>hashtag</em>, mengirim pesan ke pengguna lain, <em>trending topic</em>, dan sebagainya. Masalahnya, semua fitur tersebut sudah ada di Twitter, sehingga jika ada pun akan membuat Threads semakin mirip Twitter.</p>



<p>Kalau kasus Twitter vs Threads benar-benar dibawa ke persidangan dan terbukti kalau Threads hanya <em>copycat </em>dan sebuah upaya untuk memonopoli dunia media sosial, maka bisa jadi Threads tidak akan berumur panjang. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sejauh ini, Penulis menikmati penggunaan Threads yang terasa segar berkat banyaknya teman-teman Penulis yang menggunakannya untuk berbagi berbagai macam hal dan tampilannya yang minimalis. </p>



<p>Mungkin yang pusing adalah mereka yang kerjanya di bidang media sosial, karena pekerjaan mereka otomatis akan bertambah (yang kemungkinan tidak diiringi dengan bertambahnya gaji). Semangat untuk mereka semua!</p>



<p>Memang ada perasaan pesimis kalau Threads akan menjadi fenomena sesaat saja, terutama jika kalah sidang melawan Twitter. Belajar dari tutupnya Helo yang dimiliki Bytedance, bukan tidak mungkin hal yang sama bisa terjadi terhadap Threads.</p>



<p>Namun, Meta sebagai perusahaan induk pasti telah menyiapkan berbagai strategi untuk membuat Threads bisa <em>survive</em>. Yang jelas, mereka sangat cerdik karena bisa memberikan hal yang tepat di waktu yang tepat, ketika Twitter dilanda banyak permasalahan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Juli 2023, terinspirasi dari kemunculan aplikasi Threads</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.telegraph.co.uk/business/2023/07/06/threads-instagram-app-twitter-sign-up-download-celebrities/">The Telegraph</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.cbsnews.com/news/threads-zuckerberg-millions-of-signups-within-hours/">Zuckerberg claims tens of millions of Threads signups within hours of launch</a> &#8211; <a href="https://www.cbsnews.com/news/threads-zuckerberg-millions-of-signups-within-hours/">CBS News</a></li>



<li><a href="https://www.telegraph.co.uk/business/2023/07/06/threads-instagram-app-twitter-sign-up-download-celebrities/">What is Threads – and can it beat Twitter? &#8211; The Telegraph</a></li>



<li><a href="https://www.foxbusiness.com/technology/zuckerberg-says-threads-instagrams-new-twitter-like-app-launched-5-million-users-elon-musk-responds">Zuckerberg says Threads, Instagram&#8217;s new Twitter-like app, has 30 million users; Elon Musk responds</a> &#8211; <a href="https://www.foxbusiness.com/technology/zuckerberg-says-threads-instagrams-new-twitter-like-app-launched-5-million-users-elon-musk-responds">Fox Business</a></li>



<li><a href="https://variety.com/2023/digital/news/elon-musk-twitter-legal-threat-meta-instagram-threads-1235663115/">Elon Musk’s Twitter Threatens to Sue Meta Over Threads, Alleging Meta Hired ‘Dozens’ of Twitter Employees to Launch Copycat App; Meta Disputes Claim</a> &#8211; <a href="https://variety.com/2023/digital/news/elon-musk-twitter-legal-threat-meta-instagram-threads-1235663115/">Variety</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads: The Right Thing at the Right Time</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Zero to One</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2021 10:34:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Elon Musk]]></category>
		<category><![CDATA[Peter Thiel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[startup]]></category>
		<category><![CDATA[Zero to One]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4343</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di dalam hidupnya, Penulis beberapa kali beririsan dengan yang namanya startup, baik diajak orang ataupun membuat sendiri bersama teman-teman. Sedikit banyak Penulis mengetahui susahnya membangun sebuah bisnis dari nol. Dari pengalaman Penulis, banyak sekali startup tersebut tumbang di tengah jalan. Walaupun begitu, Penulis masih ingin tetap belajar tentang startup. Setidaknya, Penulis punya ilmunya untuk bekal di masa depan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/">Setelah Membaca Zero to One</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam hidupnya, Penulis beberapa kali beririsan dengan yang namanya <strong><em>startup</em></strong>, baik diajak orang ataupun membuat sendiri bersama teman-teman.</p>
<p>Sedikit banyak Penulis mengetahui susahnya membangun sebuah bisnis dari nol. Dari pengalaman Penulis, banyak sekali <em>startup </em>tersebut tumbang di tengah jalan.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis masih ingin tetap belajar tentang <em>startup</em>. Setidaknya, Penulis punya ilmunya untuk bekal di masa depan.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku <em><strong>Zero to One</strong> </em>karya <strong>Peter Thiel</strong> yang satu ini. Seperti apa isinya?</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Dari judulnya, buku ini berusaha meyakinkan pembacanya kalau dalam membangun <em>startup </em>harus memberikan sesuatu yang awalnya tidak ada menjadi ada.</p>
<p>Bill Gates membuat sistem operasi yang mendominasi dunia, Larry Page dan Sergey Brin membuat mesin pencari paling sering digunakan, Mark Zuckerberg menciptakan jejaring sosial paling populer.</p>
<p>Kalau kita ingin membangun <em>startup </em>kita sendiri, <strong>jangan membuat sesuatu yang sudah ada</strong>, kecuali kita bisa menawarkan sesuatu yang jauh lebih baik.</p>
<p>Buku ini berisikan<strong> 14 bab</strong> seputar dunia <em>startup</em>, mulai dari membangun, menjaganya, menawarkan sesuatu yang lebih baik, dan lain sebagainya.</p>
<p>Beberapa poin penting dari buku ini adalah <strong>pentingnya monopoli dalam dunia bisnis</strong>, <strong>budaya <em>startup</em></strong>, <strong>dasar-dasar marketing</strong>, hingga <strong>menguasai pasar</strong>.</p>
<p>Ada juga tujuh pertanyaan penting yang harus bisa dijawab oleh pemilik atau pendiri <em>startup. </em>Kalau ingin bisnis sukses, ketujuh pertanyaan ini harus bisa dijawab dengan meyakinkan:</p>
<ol>
<li>Pertanyaan tentang Teknis</li>
<li>Pertanyaan tentang Pemilihan Waktu</li>
<li>Pertanyaan tentang Monopoli</li>
<li>Pertanyaan tentang Orang</li>
<li>Pertanyaan tentang Distribusi</li>
<li>Pertanyaan tentang Keberlangsungan</li>
<li>Pertanyaan tentang Rahasia</li>
</ol>
<p>Untuk detailnya bisa dibaca di bukunya langsung, halaman 189. Di buku ini, contoh perusahaan yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik adalah <strong>Tesla</strong>.</p>
<p>Hanya saja, Penulis merasa buku ini <strong>terlalu korporat</strong> untuk buku yang menggunakan kata <em>startup </em>di bagian sampul depannya.</p>
<p>Selain itu, <em>startup </em>di sini sangat menekankan kepada <strong>teknologi</strong>. Hampir tidak ada ruang tersisa di buku ini untuk <em>startup </em>yang di luar hal tersebut.</p>
<p>Penulis pribadi paling tertarik dengan <strong>bab 13</strong> yang menjelaskan mengenai kenapa perusahaan yang kesannya peduli terhadap lingkungan kerap gagal.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Zero to One</em></h3>
<p>Penulis dari buku ini, <strong>Peter Thiel</strong>, merupakan salah satu pendiri <em>PayPal</em> dan kerap menyisipkan kisahnya sendiri di dalam bab-babnya.</p>
<p>Sebagai seorang <em>businesman </em>top di Silicon Valley, wajar jika di belakang bukunya terdapat testimoni dari Elon Musk dan Mark Zuckerberg.</p>
<p>Sayangnya, hal tersebut membuat buku ini terasa jauh. Buku ini oke-oke saja sebagai referensi dan menambah wawasan kita seputar dunia <em>startup</em>, tapi tidak lebih dari itu.</p>
<p>Penulis lebih menikmati kisah-kisah para orang sukses yang ada di dalamnya seperti kisah Elon Musk dengan Teslanya dibandingkan <strong>tips-tips bisnisnya yang rasanya susah untuk dipraktikkan secara langsung</strong>.</p>
<p>Di era yang sekarang serba ada dan mudah, rasanya susah sekali untuk menemukan sesuatu dari nol, apalagi di negara berkembang seperti Indonesia.</p>
<p>Paling banter, kita hanya bisa menawarkan sesuatu yang berbeda dari para kompetitor. Produk-produk kopi misalnya, pasti ada faktor pembeda dari kedai satu dengan lainnya.</p>
<p>Sebagai buku bisnis, buku ini mudah dicerna dan penerjemahannya pun masih bisa dipahami. Adanya contoh kasus dari tokoh-tokoh terkenal juga menjadi nilai utama dari buku ini.</p>
<p>Buku ini tidak terlalu Penulis rekomendasikan, tapi kalau hanya ingin sekadar menambah wawasan dunia <em>startup </em>masih layak untuk dibaca.</p>
<p>Nilainya: <strong>3.9/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 2 Februari 2021, terinspirasi setelah membaca buku <em>Zero to One </em>karya Peter Thiel</p>
<p>Foto: <a href="https://www.gramedia.com/api/amp/product/zero-to-one/">Gramedia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/">Setelah Membaca Zero to One</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
