Connect with us

Sosial Budaya

Threads: The Right Thing at the Right Time

Published

on

Hari Kamis (6/23) kemarin menjadi hari rilisnya Threads, sebuah media sosial baru dari Meta (induk perusahaan dari Facebook, Instagram, WhatsApp) yang text-oriented. Dalam sekejap aplikasi ini langsung mendapatkan atensi dan berhasil mendapatkan puluhan juga user.

Banyak yang menyebut kalau aplikasi ini pada dasarnya sama dengan Twitter, yang kini dimiliki oleh Elon Musk. Tak heran jika Musk sampai menuliskan surat untuk Mark Zuckerberg (bos Meta) dan mengancam akan menuntut Threads.

Jika dilihat secara sekilas, memang Threads sangat mirip dengan Twitter, bahkan banyak yang menganggap aplikasi ini mirip dengan Twitter di masa-masa awal. Apalagi, Threads memiliki tampilan yang minimalis dan belum akan ada iklan untuk sementara waktu.

Terlepas dari segala permasalahan yang ada, Penulis ingin membahas mengenai bagaimana Threads muncul sebagai hal yang tepat di waktu yang tepat, tentang bagaimana sebuah aplikasi muncul di saat aplikasi sejenis sedang mengalami berbagai problematika.

Threads Hadir di Kala Twitter Bermasalah

Mark Zuckerberg (Kiri) dan Elon Musk (CBS News)

Seperti yang kita ketahui bersama, Twitter jadi banyak masalah (dan drama) semenjak Elon Musk mengakuisisi perusahaan pada bulan Oktober 2022. Contoh yang paling mudah adalah banyaknya karyawan yang ia pecat dengan berbagai alasan.

Kebijakan yang ia buat untuk Twitter pun kerap menjadi polemik, seperti centang biru berbayar hingga adanya pembatasan pos yang bisa dilihat oleh user yang tidak membayar paket subscription tertentu.

Di tengah kekacauan yang membuat sebagian pengguna Twitter merasa jengah, Meta tiba-tiba muncul dengan Threads. Mereka menyediakan sebuah aplikasi alternatif untuk mereka yang merasa makin malas menggunakan Twitter.

Penulis sendiri akhir-akhir ini semakin malas membuka Twitter karena isinya berantem mulu. Meskipun tidak mengikuti akun-akun yang berpotensi menimbulkan kericuhan, ada teman-teman di Twitter yang melakukan repost atau muncul sebagai iklan.

Nah, kemunculan Threads menjadi alternatif yang tepat karena sebagai aplikasi baru, mayoritas isi timeline Penulis merupakan tulisan dari teman-temannya yang juga baru mencoba. Namun, bukan tidak mungkin ke depannya Threads akan ikut rusuh.

Selain itu, mungkin orang juga bisa menjadikan Threads sebagai jeda dari konten yang bersifat visual seperti TikTok, Reels, hingga Shorts. Walau konsep infinity short videos menyenangkan bagi sebagian orang, lama-lama pasti juga akan merasa jenuh.

Berdasarkan pengalaman menggunakan aplikasi ini selama dua hari, Penulis memang merasa kalau Threads digunakan oleh orang-orang untuk berceloteh apapun yang ada di pikiran mereka, mirip dengan konsep Twitter dulu yang seolah telah hilang saat ini.

Apakah Threads akan Menjadi Twitter Killer?

Tampilan Aplikasi Threads (The Telegraph)

Begitu Threads muncul, Musk langsung mengancam akan menuntut Meta. Alasannya, aplikasi tersebut dianggap sebagai tiruan dari Twitter, terlebih banyak mantan karyawan Twitter direkrut oleh Meta, sehingga “kebocoran informasi internal” sangat mungkin terjadi.

Melalui tweet-nya (tentu saja di Twitter, bukan di Threads), Musk mengatakan bahwa sebuah kompetisi untuk Twitter sah-saja saja. Namun, ia tidak bisa menolerir kecurangan. Nah, apa yang Meta lakukan dengan Threads ia anggap sebagai kecurangan.

Apakah Musk takut dengan kemunculan Threads? Bisa saja, mengingat konsep dari kedua platform memang benar-benar sama. Hingga saat ini, Penulis belum bisa menemukan perbedaan antara keduanya.

Threads memiliki keunggulan karena ia terintegrasi dengan Instagram. Begitu mendaftar, kita bisa login dengan akun Instagram kita untuk mendapatkan profil dan daftar teman atau akun yang ikuti di Instagram, bahkan jika mereka belum join ke Threads.

Dengan meledaknya jumlah pengguna hanya dalam waktu dua hari, wajar jika Musk ketar-ketir kalau pengguna Twitter akan berpindah haluan ke Threads. Namun, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya kemunculan Threads bisa jadi karena ulahnya sendiri.

Sebagaimana yang telah diulas di atas, Musk banyak memecat karyawan Twitter, sehingga mereka bergabung dengan kompetitor. Selain itu, ia juga kerap membuat kebijakan yang membuat user tidak nyaman dengan Twitter, sehingga wajar mereka pindah ke Threads.

Jika Musk tidak berbenah dengan Twitter-nya (terlepas ia telah mengatakan telah menunjuk CEO pengganti dirinya), bukan tidak mungkin kalau Threads benar-benar akan menjadi Twitter-killer di masa depan.

Monopoli Meta di Dunia Media Sosial?

Berusaha Memonopoli Dunia Media Sosial? (Fox Business)

Dari sisi Meta, kita pun harus waspada karena mereka terlihat sedang ingin memonopoli dunia media sosial. Ketika dunia ramai oleh TikTok, mereka membuat fitur Reels untuk Instagram. Kini, mereka seolah ingin mengambil alih pasar yang dimiliki oleh Twitter.

Sama seperti Microsoft yang sedang dikejar oleh Free Trade Commission (FTC) karena berusaha mengakuisisi Activision Blizzard, bisa jadi Meta juga akan diincar karena dianggap melanggar undang-undang antimonopoli.

Apalagi, sebelumnya sudah banyak media sosial lain yang tumbang karena tidak mampu bersaing dengan mereka. Sebut saja Google+, Path, Vine, hingga MySpace. Jika Twitter sampai bernasib seperti aplikasi-aplikasi tersebut, tentu itu akan mempertegas monopoli Meta.

Threads pun mendapatkan tantangan untuk membuktikan kalau mereka berbeda dari Twitter. Jika ternyata ini hanya fenomena sesaat dari orang-orang yang rindu akan Twitter lama, maka Threads pun berpotensi untuk kehilangan pengguna yang merasa bosan.

Saat ini, masih banyak fitur yang belum dimiliki oleh Threads, seperti hashtag, mengirim pesan ke pengguna lain, trending topic, dan sebagainya. Masalahnya, semua fitur tersebut sudah ada di Twitter, sehingga jika ada pun akan membuat Threads semakin mirip Twitter.

Kalau kasus Twitter vs Threads benar-benar dibawa ke persidangan dan terbukti kalau Threads hanya copycat dan sebuah upaya untuk memonopoli dunia media sosial, maka bisa jadi Threads tidak akan berumur panjang.

Penutup

Sejauh ini, Penulis menikmati penggunaan Threads yang terasa segar berkat banyaknya teman-teman Penulis yang menggunakannya untuk berbagi berbagai macam hal dan tampilannya yang minimalis.

Mungkin yang pusing adalah mereka yang kerjanya di bidang media sosial, karena pekerjaan mereka otomatis akan bertambah (yang kemungkinan tidak diiringi dengan bertambahnya gaji). Semangat untuk mereka semua!

Memang ada perasaan pesimis kalau Threads akan menjadi fenomena sesaat saja, terutama jika kalah sidang melawan Twitter. Belajar dari tutupnya Helo yang dimiliki Bytedance, bukan tidak mungkin hal yang sama bisa terjadi terhadap Threads.

Namun, Meta sebagai perusahaan induk pasti telah menyiapkan berbagai strategi untuk membuat Threads bisa survive. Yang jelas, mereka sangat cerdik karena bisa memberikan hal yang tepat di waktu yang tepat, ketika Twitter dilanda banyak permasalahan.


Lawang, 7 Juli 2023, terinspirasi dari kemunculan aplikasi Threads

Foto Featured Image: The Telegraph

Sumber Artikel:

Sosial Budaya

Dear Gen Z, Saingan Kerja Kalian Nanti Bukan Manusia, tapi AI

Published

on

By

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) begitu masif hingga ke tahap yang menakutkan. Banyak orang menyuarakan ketakutan bagaimana AI bisa menggantikan peran manusia di berbagai bidang pekerjaan.

Salah satu contohnya adalah bagaimana Writers Guild of America (WGA) dan The Screen Actors Guild-American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) melakukan aksi mogok karena, salah satu alasannya, menentang adanya AI ini di tempat kerja mereka.

Jika menengok ke situs https://www.insidr.ai/, ada begitu banyak tools AI yang bisa digunakan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan, sehingga kebutuhan manpower di sebuah perusahaan bisa dikurangi untuk memangkas biaya.

Pertanyaannya, sebagai generasi yang akan langsung berhadapan dengan AI, apakah para Gen Z sudah siap untuk bersaing?

Baru Mau Kerja, Langsung Lawan AI

Gen Z Sedang Berpacu Melawan AI (Pearson Accelerated Pathways)

Jika mengacu pada pendapat Jean Twenge, Gen Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1995 hingga 2012. Sedangkan menurut Pew Research Center, range tahun lahir Gen Z adalah antara tahun 1997 hingga 2012.

Berdasarkan tahun lahir tersebut, tentu Gen Z yang lahir di tahun 90-an kemungkinan besar sudah merasakan bagaimana persaingan di dunia kerja. Untuk yang lahir di tahun 2000 ke atas, mayoritas baru kerja atau baru lulus dari bangku kuliah.

Nah, apesnya, mereka masuk ke dunia kerja di saat AI sedang booming. Pekerjaan yang dulunya terlihat aman dan tak akan tergantikan oleh mesin nyatanya bisa saja digantikan. Dari bidang Penulis saja, pekerjaan menulis dan mendesain sudah bisa dikerjakan oleh AI.

Artinya, para Gen Z terutama yang lahir di tahun 2000 ke atas harus menghadapi kenyataan kalau saingan mereka di dunia kerja bukan hanya manusia, tapi juga harus melawan AI. Persaingan kerja yang aslinya sudah ketat menjadi jauh lebih ketat lagi.

Para bos perusahaan tentu mempertimbangkan untuk menggunakan AI jika memang terbukti lebih cepat dan murah. Bayangkan jika manusia membutuhkan 1 jam untuk menulis satu artikel pendek, mungkin AI hanya butuh sekian menit atau bahkan detik saja.

Untuk urusan akting saja sudah ada wacana untuk menggunakan AI, sehingga SAG-AFTRA melakukan aksi mogok yang dampaknya begitu luar biasa. Menurut World Economic Forum, tahun 2025 diprediksi akan ada 85 juta pekerjaan yang akan berpotensi diganti oleh AI.

Bahkan sebelum AI ini ramai seperti sekarang, banyak bidang pekerjaan yang telah digantikan oleh mesin. Contoh yang paling mudah adalah pegawai gerbang tol yang diganti Gardu Tol Otomatis (GTO) dan mesin order otomatis di restoran cepat saji.

Penulis belum mendalami secara menyeluruh bidang apa saja yang sangat berpotensi untuk digantikan AI. Namun, contoh yang Penulis sebutkan membuktikan kalau tidak ada bidang yang benar-benar aman untuk digantikan.

Lawan AI, Kita Harus Apa?

Bagaimana Cara Melawan AI? (CU Management)

Pada tulisan Mario Savio dan Pidatonya akan Bahaya Mesin (AI), Penulis sudah menuliskan bahwa salah satu cara untuk bisa survive dari persaingan kerja melawan AI ini adalah dengan terus mengasah skill kita, terutama yang sekiranya tidak tergantikan oleh AI.

Bisa dibilang, hingga saat ini manusia masih unggul untuk masalah kreativitas dan imajinasi. AI masih terasa terbatas untuk kedua hal tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan beberapa tahun lagi mereka bisa menyusul kemampuan kita.

Perlu dicatat kalau AI yang ada sekarang baru permulaan saja. Di masa depan, akan terus hadir AI-AI yang lebih canggih. Bahkan, sudah ada istilah Artificial General Intellegence (AGI) yang berusaha meniru konsep berpikir manusia serealistis mungkin. Terdengar seram, bukan?

Kabar baiknya, kemunculan AI kemungkinan besar juga akan melahirkan ladang pekerjaan baru. Masih menurut World Economic Forum, diproyeksikan akan ada 93 juta lapangan pekerjaan baru yang tercipta karena kemunculan AI.

Lho, bukannya tadi katanya kita harus bersaing dengan AI? Iya, itu benar, untuk pekerjaan-pekerjaan yang bisa diotomatisasi dengan AI. Namun, jangan lupa kalau AI masih membutuhkan orang untuk mengoperasikannya.

Iya, AI Masih Butuh Manusia untuk Dioperasikan.

Ilustrasi Pekerjaan Seorang AI Prompter (Generative AI)

Secanggih-canggihnya tools AI, mereka belum bisa mengoperasikan dirinya sendiri. Bahkan, autoblogging.ai yang mampu menghasilkan artikel berkualitas saja masih butuh manusia untuk memasukkan prompt atau perintah agar bisa generate tulisan.

Secanggih-canggihnya tools untuk membuat gambar tertentu, mereka belum bisa membuat gambar berdasarkan imajinasinya sendiri. Mereka membutuhkan imajinasi manusia untuk bisa menghasilkan gambar yang telah diperintahkan.

Oleh karena itu, selain terus melakukan upgrade diri dengan mempelajari skill-skill tertentu, kita juga harus bisa beradaptasi dengan cara belajar untuk menguasai tools-tools AI tersebut. Istilah kerennya adalah AI Prompter.

Secara sederhananya, AI Prompter bertanggung jawab untuk menuliskan sebuah perintah AI agar bisa memberikan hasil terbaik secara spesifik. Untuk bisa menguasainya, dibutuhkan beberapa basic skill seperti kemampuan menulis dan analitikal.

Selain AI Prompter tentu masih banyak ladang pekerjaan di seputar AI. Hanya saja, Penulis belum benar-benar memahaminya, sehingga tidak memasukkannya di tulisan ini. Yang jelas, AI bisa menjadi ancaman sekaligus peluang untuk kita.

Penutup

Bisa menguasai AI, termasuk menjadi seorang AI Prompter, adalah bentuk adaptasi kita sebagai manusia atas perubahan zaman. Kita harus bisa menerima kenyataan untuk hidup berdampingan dengan AI.

Menolak kehadiran AI sama dengan bagaimana pedagang di Tanah Abang menolak TikTok Shop dan ojek pangkalan menolak kemunculan ojek online. Kemunculan AI adalah disrupsi di berbagai bidang industri yang tak terhindarkan.

Maka dari itu, pilihan yang kita miliki sekarang adalah menyerah dengan keberadaan AI atau justru membalikkan keadaan dengan berusaha menguasai AI. Kita harus bisa memanfaatkan AI agar tidak terlindas zaman begitu saja.


Foto Featured Image: LinkedIn

Sumber Artikel:

Continue Reading

Sosial Budaya

Pro dan Kontra Boikot Produk (Pendukung) Israel

Published

on

By

Semenjak serangan Hamas yang terjadi pada tanggal 7 Oktober 2023 silam, tensi dunia terhadap konflik yang berkepanjangan antara Palestina dan Israel pun meninggi. Banyaknya korban yang berjatuhan membuat aksi protes terjadi di mana-mana.

Salah satu gerakan yang paling masif dilakukan adalah BDS Movement, yang merupakan singkatan dari Boycott, Divestment, Sanction. Ini sudah terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia sendiri yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak.

Namun, boikot yang dilakukan terhadap produk-produk pendukung Israel menuai pro dan kontra. Ada yang menganggap ini sebagai bentuk keberpihakan, ada yang menganggap ini tidak berpengaruh dan hanya menyusahkan tenaga kerja kita sendiri

Dalam tulisan kali ini, Penulis akan memberikan berbagai perspektif yang sudah dirinya pelajari dalam beberapa waktu terakhir ini. Disclaimer, tulisan ini tidak bertujuan untuk menggiring opini para Pembaca sekalian.

Selain itu, Penulis juga tidak akan membahas mengenai penyebab konflik Palestina dan Israel karena sudah pernah menuliskannya di tulisan lain. Untuk Pembaca yang belum sempat membacanya, tautannya Penulis letakkan di bawah ini:

Apa Itu Boikot dan Mengapa Dilakukan?

Aksi Seruan Boikot (The Intercept)

Secara sederhana, boikot adalah sebuah aksi yang dilancarkan oleh sejumlah massa untuk tidak membeli sebuah produk buatan atau yang berafiliasi dengan pihak yang diboikot. Dalam kasus ini, boikot ditargetkan kepada produk-produk buatan Israel dan yang mendukung Israel.

Boikot bisa dikatakan sebagai langkah untuk menekan Israel dari segi ekonomi atas tindakannya yang semakin menekan Gaza setelah serangan Hamas, dengan dalih ingin memberantas pasukan Hamas sampai ke akarnya.

Alhasil, sejumlah produk yang secara terang-terangan mendukung Israel pun mulai terkena dampaknya. Beberapa gerai makanan cepat saji di negara mayoritas muslim seperti Timur Tengah terlihat sepi, bahkan nyaris kosong.

Di Indonesia sendiri, dari yang sejauh Penulis amati baik di sekelilingnya maupun di media sosial, ajakan gerakan boikot ini juga terjadi cukup masif. Apalagi, telah beredar nama-nama produk yang masuk ke dalam daftar boikot.

Apakah Boikot Efektif?

Apakah Boikot Efektif? (Middle East Monitor)

Lantas, apakah boikot benar-benar efektif? Penulis, hingga artikel ini ditulis, belum menemukan data yang menjelaskan berapa kerugian yang diderita oleh Israel semenjak adanya boikot ini.

Namun, sebagian orang berpendapat kalau boikot ini memang sejak awal tidak menargetkan untuk melemahkan ekonomi Israel yang sejatinya cukup kuat dan mendapatkan backing-an dari negara-negara Barat. Boikot ini adalah tentang keberpihakan.

Penulis membuat analogi seperti ini. Misal Penulis memiliki dua orang tetangga, yang satu sahabat Penulis dan yang satu lagi pemilik toko kelontong. Penulis sering membeli di toko tersebut. Akan tetapi, suatu ketika si pemilik toko berkonflik dan menyerang sahabat Penulis.

Merasa tidak terima, Penulis pun memutuskan untuk tidak membeli lagi di toko tersebut. Penulis melakukan boikot karena solidaritas kepada sahabat Penulis yang disakiti. Toko tersebut kehilangan satu konsumennya atas konsekuensi yang dilakukan pemiliknya.

Lantas, apakah toko tersebut akan menjadi bangkrut begitu saja? Tentu tidak, karena masih ada banyak pembeli lainnya yang tetap membeli di sana karena berbagai alasan seperti harganya yang terjangkau. Penulis tidak lagi membeli di sana karena berpihak ke sahabatnya.

Itu pula yang terjadi saat ini di antara konflik Palestina dan Israel. Kaum Pro-Palestina melakukan boikot terhadap produk-produk yang menyatakan dukungan kepada Israel secara terang-terangan dan memberikan bantuan dalam peperangan.

Apa yang dilakukan oleh mereka adalah bentuk solidaritas kepada Palestina. “Karena kamu mendukung Israel yang merupakan musuh Palestina, maka kami tidak akan membeli lagi produk-produkmu,” kurang lebih seperti itu premisnya.

Kalaupun ada yang berniat ingin melumpuhkan ekonomi Israel, ya tidak apa-apa. Ketika Nabi Ibrahim dibakar, sekelompok semut berusaha memadamkannya dengan tenaganya yang kecil, menyiprat-nyipratkan air ke api tersebut.

Usaha mereka pun ditertawakan oleh burung gagak karena dianggap tidak akan memberikan pengaruh apa-apa. Namun, semut berkata, “Walaupun upayaku ini tidak terlalu berdampak, setidaknya Allah tahu di mana kami berpihak.”

Boikot kok Pilih-Pilih?

Beberapa Produk yang Kerap Diserukan untuk Diboikot (YouTube)

Bagi mereka yang kontra terhadap boikot, sering muncul pertanyaan, “Kalau begitu, boikot semuanya dong, jangan pilih-pilih!” Sebenarnya ekspresi ini wajar saja, di mana pihak pro-boikot dituntut untuk menunjukkan konsistensinya.

Seperti yang kita tahu, produk-produk teknologi dan digital seperti Google, Microsoft, Meta (Facebook) juga menjadi salah satu pendukung Israel yang paling vokal. Namun, produk-produk mereka masih digunakan untuk mereka yang mengklaim dirinya pro-boikot.

Mengutip dari berbagai ustaz yang Penulis lihat di media sosial (yang merupakan buatan Meta dan Google), pada dasarnya boikot yang dilakukan ini adalah meminimalisir penggunaan produk yang menjadi pendukung Israel.

Harus diakui kalau ada banyak sektor yang di mana kita sangat tergantung padanya. Contoh gampangnya adalah Instagram dan YouTube yang sudah menjadi keseharian kita. Apakah ada media lain yang sebanding dan bisa menggantikannya? Sampai saat ini belum ada.

Contoh lainnya adalah Windows buatan Microsoft atau Android buatan Google. Apakah ada sistem operasi alternatif yang bisa jadi penggantinya? Belum ada. Lantas, apakah kita bisa hidup tanpa produk tersebut? Bagi sebagian orang termasuk Penulis, jawabannya tidak.

Mengutip perkataan kawan Penulis, kita bisa menggunakan produk-produk tersebut untuk menyerukan kebaikan. Kita buat hal yang bermanfaat atau bahkan menyerukan kemerdekaan Palestina menggunakan media-media tersebut.

Nah, kalau sudah ada produk yang sebanding, maka para pro-boikot menganjurkan untuk menggantinya. Lebih baik lagi kalau menggantinya dengan produk-produk lokal, hitung-hitung mendukung produk buatan negeri sendiri.

Lantas, Bagaimana dengan Nasib Pekerja?

Pekerja di Salah Satu Perusahaan yang Sedang Diboikot (Fortune)

Salah satu dilema yang dihadapi oleh pro-boikot adalah dampak yang diterima oleh para pekerjanya, yang notabene menggantungkan hidup melalui produk-produk yang diboikot. Padahal, mereka semua belum tentu menjadi pendukung Israel.

Jika boikot berlangsung masif, bukan tidak mungkin omset perusahaan akan menurun yang akan memicu layoff besar-besaran. McDonald’s di Mesir mengatakan penjualan turun hingga 70%, sedangkan di Malaysia turun di kisaran 20%.

Harus diakui kalau boikot akan memengaruhi kehidupan banyak orang. Penulis pernah menemukan sebuah curhatan dari abang Grab yang mengatakan pendapatannya menurut drastis karena aksi boikot ini, apalagi Grab juga jadi salah satu sasaran boikot.

Namun, ini opini pribadinya, Penulis meyakini kalau rezeki itu diatur Tuhan, bukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Penulis meyakini kalau Tuhan tidak akan diam saja jika boikot ini sampai membuat banyak saudara kita kehilangan pekerjaan.

Ketika kita melakukan boikot terhadap sebuah produk, otomatis kita akan beralih ke produk lain. Jadi, secara hitung-hitungan matematis sebenarnya kebutuhan masyarakat tidak berkurang, hanya berpindah saja.

Idealnya, ketika kita beralih ke produk lain (termasuk produk lokal), maka omset mereka naik. Karena demand naik, maka mereka akan membuka lowongan-lowongan pekerjaan baru. Ini memang too good to be true dan utopis, tapi Penulis meyakini kalau hal ini bisa terjadi.

Mungkin ada yang beranggapakan kalau Penulis bisa ngomong seenteng itu karena tidak bekerja di sana, dan itu ada benarnya. Jika Penulis bekerja di sana dan terancam terkena layoff karena boikot, mungkin Penulis tidak akan berpikir setenang itu.

Namun, sejauh yang Penulis temukan lewat media sosial, justru mereka yang bekerja di sana terlihat lebih legawa. Abang Grab yang Penulis sebutkan tadi justru berkata dirinya ikhlas karena itu bagian dari perjuangannya mendukung Palestina.

Dalam kasus lain, beberapa toko kelontong dan swalayan memutuskan untuk tidak menjual (bahkan membuang) produk-produk yang masuk ke dalam daftar boikot sebagai bentuk dukungan nyata mereka ke Palestina (walau ada yang tidak setuju karena jadi mubazir).

Pasti akan ada yang mengeluh mengapa di saat pekerjaan susah didapatkan seperti sekarang, kita justru membuat mereka kehilangan pekerjaan. Tak sedikit yang menuntut kepada pendukung boikot untuk “bertanggung jawab” atas hilangnya pekerjaan mereka.

Penutup

Jika sudah membaca sampai sini, mungkin para Pembaca akan menyimpulkan Penulis pro-boikot, dan itu memang benar. Jadi Penulis minta maaf jika Pembaca merasa opininya digiring, meskipun di atas sudah ada disclaimer kalau tidak ada niatan ke sana.

Yang perlu Pembaca ketahui, awalnya Penulis pun tidak pro-boikot. Sudah dampaknya tidak seberapa, yang kena getahnya justru masyarakat kita sendiri karena mereka berpotensi kehilangan pekerjaannya.

Hanya saja, semakin Penulis mendalami masalah perboikotan ini, hati nurani Penulis semakin terdorong untuk mendukung boikot yang sebenarnya bisa dianggap sebagai aksi paling damai dibandingkan mengangkat senjata yang belum tentu kita mampu.

Memang masih banyak aksi lain yang bisa kita lakukan untuk mendukung Palestina, seperti bersuara di media sosial dan memberikan sumbangan semampunya. Namun, tidak ada salahnya juga untuk menunjukkan keberpihakan kita dengan mendukung boikot.

Penulis juga berusaha mendengar bagaimana pendapat para ahli agama yang jelas iman dan ilmunya lebih tinggi dari Penulis. Karena mayoritas mendukung boikot, maka Penulis pun semakin mantap untuk pro-boikot.

Lantas, apakah yang kontra dengan boikot itu salah? Jelas tidak sama sekali. Mereka juga punya pertimbangan masing-masing yang Penulis yakini juga didasari atas kebaikan dan kemanusiaan.

Oleh karena itu, silakan mau pro ataupun kontra terhadap gerakan boikot produk-produk Israel dan pendukungnya. Mari kita saling menghargai pilihan masing-masing tanpa menghakimi dan merasa dirinya yang paling benar.


Foto Banner: Middle East Monitor

Sumber Artikel:

Continue Reading

Sosial Budaya

Streamer Game Terseret Pusaran Judi Online

Published

on

By

Penulis merasa prihatin ketika membaca berita mengenai adanya beberapa streamer game terkenal yang ternyata ikut mempromosikan judi online. Parahnya lagi, beberapa dari “oknum” tersebut justru merasa bangga dan tidak merasa berdosa.

Pada tulisan kali ini, Penulis tidak akan menjelaskan secara detail mengenai kasus ini atau siapa saja streamer yang terlibat. Kalau penasaran, Pembaca bisa membaca kronologi kejadiannya melalui tautan berikut ini.

Alih-alih, Penulis akan membahas mengenai opininya terkait kejadian ini sekaligus mengutarakan keprihatinannya. Mungkin tulisan ini akan sedikit terasa keras, karena Penulis benar-benar merasa geram akan kejadian ini.

Rangkuman Singkat Kasus Streamer Game yang Terseret Judi Online

Singkat cerita, ada seorang pro player yang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menerima donasi atau saweran ketika live streaming dari situs judi online. Tak lama kemudian, hal tersebut pun ramai dibahas oleh para streamer yang merasa tersindir.

Ada yang justru mengolok-olok si pro player, ada yang bilang kalau donasi tersebut tidak bisa dikontrol, ada yang menyetujui pendapat tersebut tapi tetap menggunakan uang saweran dari situs judi online, dan lain sebagainya.

Lantas, ada seorang content creator yang diundang ke sebuah podcast ternama. Ia pun membongkar bagaimana situs judi online menggunakan teknik marketing yang unik, di mana mereka melakukan saweran kepada para streamer game terkenal.

Setelah melakukan saweran dengan jumlah yang tidak sedikit, nantinya para streamer tersebut akan berteriak kegirangan sembari menyebutkan nama web judi online tersebut, termasuk slogan-slogan yang sudah dititipkan.

Sontak netizen pun langsung heboh. Meskipun ada penggemar sang streamer yang masih berusaha membela, mayoritas netizen bersuara agar para streamer yang mempromosikan judi online bisa ditindak oleh pihak kepolisian karena meresahkan.

Para streamer yang terlibat pun terlihat panik dan buru-buru meminta maaf sembali melakukan klarifikasi. Lucunya, streamer yang dulu mengolok-olok si pro player anti judi pun terlihat kicep, berbeda 180 derajat sebelum kasus ini di-blow up.

Hilangnya Moralitas

Indonesia sendiri sedang darurat kasus judi online, di mana jumlah uang yang berputar mencapai 200 triliun. Semua kalangan bisa saja terjebak, mulai dari kelas buruh hingga anggota dewan yang (katanya) terhormat.

Mirisnya lagi, banyak public figure termasuk artis dan para streamer game yang ikut mempromosikan judi online dengan berbagai cara, tanpa peduli bagaimana konsekuensinya terhadap penonton mereka.

Apa yang membuat Penulis paling prihatin adalah kebanyakan penonton dari para streamer game tersebut adalah bocah-bocah yang belum terlalu bisa membedakan mana yang baik mana yang salah.

Sebelumnya, Penulis sendiri sudah merasa kurang simpati kepada para streamer ini karena sebagian dari mereka kerap menunjukkan perilaku yang toxic dan ditiru oleh penontonnya. Sekarang makin ditambah dengan kasus judi online ini.

Melalui platform X (Twitter), Penulis menemukan sebuah cerita kalau ada pengguna X yang memergoki bocah SMP sedang bermain judi slot. Ketika ditanya tahu dari mana permainan tersebut, sang bocah menjawab kalau ia tahu dari para streamer game yang ia tonton.

Tentu hal ini sangat memprihatinkan, karena efek yang terjadi bukanlah hal sepele. Mereka secara sadar memperkenalkan judi online kepada banyak kalangan, termasuk bocah-bocah penonton mereka yang masih duduk di bangku sekolah.

Di mana moralitas mereka? Tidak mungkin mereka tidak tahu kalau mayoritas penonton mereka masih bocah. Penulis tidak habis pikir, bagaimana bisa sejumlah uang bisa membuat mereka buta dan tidak berpikir efek jangka panjangnya.

Kalau saja mereka mendengarkan hati nuraninya, pasti mereka tidak akan melakukan hal tersebut. Beberapa streamer lain ada yang secara tegas menolak donasi dari situs judi. Ada juga yang menerima donasinya, tapi diam dan mempromosikan situs judi yang memberi.

Penutup

Penulis meyakini kalau para streamer tersebut sebenarnya termasuk kalangan yang berkecukupan, sehingga seharusnya bisa lebih bijaksana dalam menyikapi jika ada donasi dari situs judi (walau banyak yang menebak sebenarnya kedua belah pihak telah janjian).

Sekarang, para streamer tersebut sedang berusaha membersihkan nama agar tidak diperkarakan ke pihak kepolisian. Banyak yang sudah meminta maaf, mengaku salah, hingga memberikan klarifikasi.

Semoga saja ke depannya para public figure di tanah air lebih memiliki kesadaran untuk mengutamakan moralitas dibandingkan materi yang tidak seberapa. Ada tanggung jawab moral yang harus mereka emban, karena banyaknya mata yang menonton mereka.


Lawang, 9 Oktober 2023, terinspirasi setelah melihat banyaknya streamer game yang ikut mempromosikan judi online

Foto Featured Image: Poornima University

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan