<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>emosi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/emosi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/emosi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:53:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>emosi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/emosi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 11:34:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bad mood]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Walau sudah menghapus banyak aplikasi media sosial di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit. Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan. Selain itu, Penulis juga kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Walau sudah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/istirahat-dari-media-sosial/">menghapus banyak aplikasi media sosial</a> di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit.</p>



<p>Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga kerap menemukan ide dari aplikasi ini. Salah satunya adalah kalimat yang Penulis jadikan judul pada tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup <em>moody</em>. Bahkan, <em>mood </em>bisa tiba-tiba berubah tanpa ada penyebabnya. Tiba-tiba rasanya jadi murung dan merasa negatif begitu saja.</p>



<p>Masalahnya, <em>bad mood </em>ini bisa menimbulkan efek yang buruk tidak hanya bagi Penulis, tapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini karena Penulis menjadi orang yang lebih sensitif dari biasanya.</p>



<p>Karena <em>bad mood, </em>mulut Penulis rasanya bisa begitu mudah menyakiti perasaan orang lain dengan ucapan-ucapannya yang menusuk. Tidak hanya secara verbal, di <em>chat </em>pun Penulis akan menunjukkan hal yang sama.</p>



<p>Secara tidak langsung dan mungkin tidak sadar, Penulis telah <strong>menyakiti perasaan orang lain</strong> karena <em>bad mood </em>yang sedang dialami.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Ketika sedang tenang seperti saat menulis artikel ini, Penulis menyadari sepenuhnya kalau hal tersebut salah. Mau seburuk apapun hari atau kejadian yang menimpa kita, seharusnya orang lain tidak boleh kena getahnya, terlebih orang-orang yang peduli dan perhatian dengan kita.</p>



<p>Hanya saja kalau sedang <em>bad mood</em>, Penulis kadang suka gelap mata dan tidak berpikir panjang ketika melakukan sesuatu. Rasanya Penulis ingin melampiaskan buruknya <em>mood </em>ini ke orang lain tanpa memedulikan perasaan orang lain.</p>



<p>Menyadari kekurangan ini, Penulis tentu ingin memperbaikinya. Tentu tidak mudah, tapi harus Penulis lakukan agar orang lain tidak perlu tersakiti akibat perbuatan Penulis.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dari yang pernah Penulis baca, salah satu cara mengatasi <em>bad mood </em>adalah dengan <strong>mengubah suasana hati</strong>. Cara yang paling sering Penulis lakukan adalah berjalan-jalan. Ketika di Jakarta, Penulis sering melakukan hal ini sekalian mengeksplorasi ibukota.</p>



<p>Bagaimana kalau kita <em>mager </em>keluar? Sebenarnya menjadi masalah lain, tapi tidak apa-apa. Jika memang malas keluar, coba cari perubahan suasana dengan <strong>menonton sesuatu yang menyebarkan energi positif</strong>.</p>



<p>Penulis sama sekali tidak merekomendasikan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">media sosial seperti TikTok</a>. Jika kita melarikan diri ke aplikasi adiktif seperti itu, yang ada kita malah merasa &#8220;bersalah&#8221; karena telah membuang-buang waktu.</p>



<p>Selain itu, cobalah untuk <strong>duduk sejenak dan menjernihkan pikiran</strong>. Coba jujur kepada diri sendiri, apa yang membuat <em>mood </em>kita berantakan. Jika memungkinkan, coba selesaikan akar permasalahan agar <em>mood </em>kita membaik.</p>



<p>Jika kesusahan menghadapinya sendiri, mengapa tidak kita coba untuk meminta bantuan kepada orang lain? Inilah salah satu masalah yang Penulis garis bawahi di tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Karena sedang <em>bad mood</em>, kita bisa saja justru menyakiti orang lain yang ingin kita mintai bantuan. Bisa karena solusi atau tanggapan yang diberikan tidak sesuai dengan ekspetasi kita, bisa kitanya saja yang memang kelewat sensitif.</p>



<p>Banyak yang mengatakan <strong>perasaan yang terlalu lama disimpan sendiri bisa menjadi racun untuk mental </strong>kita. Diri kita memiliki batasan, jangan sampai kita membuat diri kita menyimpan semuanya sendiri hingga wadah tersebut tidak lagi mampu menampungnya.</p>



<p>Akan tetapi, kita takut untuk menyakiti orang lain karena <em>mood </em>kita. Kok jadi dilema begini? Lalu mana yang harus dilakukan?</p>



<p>Menurut Penulis, coba saja kita minta bantuan orang lain sembari menahan diri untuk tidak bersikap kelewat batas. Mau seburuk apapun perasaan kita, coba untuk terus mengingat <strong>jangan sampai menyakiti perasaan orang lain</strong>.</p>



<p>Dengan adanya <em>mindset </em>seperti itu, kita pun (harusnya) bisa lebih mengontrol <em>mood </em>kita ketika bercerita ke orang lain. Mau tanggapan orang tersebut tidak sesuai dengan ekspetasi sekalipun, kita tidak akan mudah terpancing untuk melampiaskan <em>bad mood </em>kita ke orang tersebut.</p>



<p>Selain itu, berkumpul dengan keluarga atau teman-teman (selama bukan mereka yang menjadi sumber penyebab <em>bad mood</em>) juga bisa membantu kita mengubah suasana hati. Oleh karena itu, jangan segan untuk meminta bantuan kepada orang lain.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><em>Bad mood </em>memang salah satu sifat yang manusiawi. Rasanya semua orang pernah mengalami hal ini, baik dikarenakan masalah yang pelik maupun sepele.</p>



<p>Hanya saja, kalau <em>bad mood </em>tersebut memengaruhi kehidupan kita dan memberikan efek yang negatif kepada orang lain juga kurang baik. </p>



<p>Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki sikap kita menghadapi <em>bad mood </em>dengan beberapa cara yang sudah disebutkan di atas.</p>



<p>Enggak apa-apa <em>bad mood</em>, tapi jangan sampai menyakiti perasaan orang lain, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Mei 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah <em>post </em>di Pinterest seperti yang tertera di judul</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://deepstash.com/idea/57892/handling-a-bad-mood">Deepstash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Rasa</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2021 10:35:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[kategori]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[whathefan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4308</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe laki-laki yang melankolis. Sebuah kejadian sederhana saja bisa memicu imajinasi yang terkadang liar, termasuk dalam hal percintaan. Penulis bukan tipe laki-laki romantis yang dapat memikat wanita dengan kata manisnya. Walaupun begitu, bukan berarti Penulis tidak mampu mengungkapkan rasa dengan kalimat. Menyadari hal tersebut, Penulis memutuskan untuk membuat kategori baru di blog ini, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/">Tentang Rasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe laki-laki yang melankolis. Sebuah kejadian sederhana saja bisa memicu imajinasi yang terkadang liar, termasuk dalam hal percintaan.</p>
<p>Penulis bukan tipe laki-laki romantis yang dapat memikat wanita dengan kata manisnya. Walaupun begitu, bukan berarti Penulis tidak mampu mengungkapkan rasa dengan kalimat.</p>
<p>Menyadari hal tersebut, Penulis memutuskan untuk membuat kategori baru di blog ini, yakni <a href="https://whathefan.com/category/rasa/"><strong>Tentang Rasa</strong></a>.</p>
<p>Sebelumnya jika ada artikel yang membahas seputar masalah perasaan, Penulis akan memasukkannya ke dalam kategori <a href="https://whathefan.com/category/karakter/">Karakter</a> atau <a href="https://whathefan.com/category/sosial-budaya/">Sosial Budaya</a>.</p>
<p>Jika dipikir-pikir lagi, masalah rasa ini dialami oleh banyak orang sehingga bisa diperdalam lagi. Kalau misal Penulis sedang galau dan gundah gulana, tinggal mencurahkan saja di sini.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis sedang mendalami berbagai ilmu&nbsp;<em>microblogging (</em>yang belum&nbsp;<em>follow,&nbsp;</em>bisa di-<em>follow&nbsp;</em>ya <a href="https://www.instagram.com/whathefan_/">akun resmi Whathefan</a>) di Instagram. Salah satu yang sering Penulis baca adalah <strong><a href="https://www.instagram.com/yudhiver/">@yudhifer</a>.</strong></p>
<p>Akun tersebut kerap membahas topik-topik seputar <em>self-help, </em>yang entah mengapa sering&nbsp;<em>related&nbsp;</em>dengan kehidupan pribadi Penulis.</p>
<p>Merasa banyak mendapatkan manfaat dari akun Instagram tersebut, Penulis mencoba untuk membuat versinya sendiri dengan membuat kategori Tentang Rasa ini.</p>
<p>Inspirasinya bisa datang dari diri sendiri maupun orang-orang yang ada di sekitarnya. Tujuannya sama, membuat orang-orang yang merasa sedang depresi, sedih, hingga patah hati <strong>tidak merasa sendirian</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Rasa yang ada di dalam diri kita itu bukan sekadar perasaan <strong>cinta</strong> atau <strong>benci</strong>. Ada banyak jenis rasa yang kita miliki, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Bentuk rasa (yang sebenarnya Penulis perhalus dari kata emosi) lain yang kita miliki antara lain adalah <strong>marah</strong>, <strong>takut</strong>, <strong>malu</strong>, <strong>dengki</strong>, <strong>cemburu</strong>, <strong>gembira</strong>, <strong>terkejut</strong>, <strong>sedih</strong>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis, yang sejatinya sering mengalami konflik internal di dalam batinnya, berusaha mengeksplorasi dirinya sendiri lebih dalam agar lebih bisa mengenal dan menerima dirinya.</p>
<p>Dengan berbagi apa yang Penulis rasakan, harapannya bisa menjadi motivasi ataupun dorongan untuk para Pembaca yang mungkin kebetulan sedang mengalami apa yang Penulis tuliskan.</p>
<p>Semoga saja kategori terbaru dari Whathefan ini dapat diterima oleh Pembaca dan yang lebih penting, bisa bermanfaat setelah membacanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>NB</strong>: Beberapa artikel lama yang cocok dengan kategori ini Penulis pindahkan ke sini agar tidak terasa kosong.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 26 Januari 2021, terinspirasi karena Penulis menyukai akun <strong><a href="https://www.instagram.com/yudhiver/">@yudhifer</a></strong> dan kerap merasa terbantu dengannya</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@isai21">Isai Ramos</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://dosenpsikologi.com/jenis-emosi">10 Jenis Emosi Pada Manusia dalam Psikologi &#8211; DosenPsikologi.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/">Tentang Rasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berkata Kotor di Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2019 16:54:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Maya]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol]]></category>
		<category><![CDATA[kotor]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada. Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena berbeda pendapat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada.</p>
<p>Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena <a href="http://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">berbeda pendapat</a>.</p>
<p>Tentu hal ini membuat penulis berpikir, <em>mengapa semudah itu untuk berkata kotor</em>? Sejauh pemahaman penulis, sama sekali tidak ada manfaat berkata kotor, apalagi diumbar di wilayah publik.</p>
<p>Penulis paham, terkadang memang susah untuk menahan emosi. Akan tetapi, jelas bukan perbuatan yang bijak untuk mengumbar <a href="http://whathefan.com/karakter/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">kemarahan di media sosial</a> yang bisa dikonsumsi oleh orang lain, terutama keluarga dan teman-teman kita.</p>
<p>Coba kita renungkan bersama, adakah hal positif yang didapat dengan berkata kotor di media sosial? Ada? Penulis sama sekali tidak bisa menemukan sisi positif dari perbuatan tersebut.</p>
<p>Yang penulis herankan, betapa mudahnya orang-orang untuk mengeluarkan kata kotor bahkan hanya karena hal sepele. Hal-hal remeh yang sebenarnya tidak akan membuat kita mendapatkan apa-apa selain debat kusir tanpa makna.</p>
<p>Selain itu, kata-kata kotor juga sering keluar pada status seseorang dengan tujuan menyindir seseorang yang sudah membuat dirinya gusar. Apa tujuannya? Memberitahu orang lain betapa buruknya orang yang sudah membuat kita kecewa? Bisa jadi.</p>
<p>Jika ada masalah dengan orang lain, ada baiknya jika langsung diselesaikan dengan yang bersangkutan tanpa perlu <a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">sindir-menyindir di media sosial</a>. Kalau memang sedang berkonflik dengan orang lain, selesaikan tanpa perlu menyebar aib orang lain.</p>
<p>Media sosial memang menjadi wadah untuk <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a>, akan tetapi bukan berarti kita bisa berbuat seenak hati. Tetap ada norma-norma yang berlaku agar sesama pengguna media sosial bisa merasa nyaman.</p>
<p>Cobalah untuk menahan dan menguasai emosi diri kita. Kebanyakan orang akan menyesal setelah meluapkan emosinya. Setidaknya, mereka akan menyesal ketika hal buruk menimpa setelah emosi keluar, seperti laki-laki yang sedang viral karena merusak motornya tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu, yuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Gunakanlah media sosial sebagai media untuk menyebarkan kebaikan, bukan keburukan termasuk kata-kata kotor yang tak bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Februari 2019, terinspirasi dari banyaknya kata-kata kotor yang berseliweran di media sosial</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@gagewalkerr">Gage Walker</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2018 13:23:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=691</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin hampir semua orang pernah, termasuk penulis, mencurahkan apa yang sedang dirasakan di media sosial. Kalau sedang jatuh cinta, maka statusnya akan penuh dengan emoticon berbentuk hati. Jika sedang sedih, statusnya akan penuh dengan lagu-lagu sendu, dan lain sebagainya. Apakah curhat di medsos salah? Mungkin tidak juga, karena sepengatahuan penulis medsos berfungsi sebagai tepat sharing berbagai momen [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin hampir semua orang pernah, termasuk penulis, mencurahkan apa yang sedang dirasakan di media sosial. Kalau sedang jatuh cinta, maka statusnya akan penuh dengan emoticon berbentuk hati. Jika sedang sedih, statusnya akan penuh dengan lagu-lagu sendu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Apakah curhat di medsos salah? Mungkin tidak juga, karena sepengatahuan penulis medsos berfungsi sebagai tepat <em>sharing </em>berbagai momen dan kejadian, dan mungkin termasuk juga perasaan.</p>
<p>Lantas, mengapa kita curhat di medsos? Karena pernah melakukannya, penulis menjadi tahu jawabannya: <strong>Mencari Perhatian</strong>. Ada yang blak-blakan, ada pula yang melakukannya secara tersirat,</p>
<p>Ketika kita sedang dimabuk asmara, kita ingin agar doi mengetahui apa saja kegiatan kita sehingga ia memiliki &#8220;bahan&#8221; untuk <em>chat</em>. Ada yang tidak ditujukan hanya kepada satu orang, berharap ada yang mau merespon dirinya siapapun dia. Semua tidak masalah selama masih dibatas kewajaran.</p>
<p>Tetapi, ada satu bentuk ekspresi yang dalam pendapat penulis kurang layak untuk dijadikan konsumsi publik. Emosi, kemarahan, yang ujung-ujungnya adalah membicarakan kejelekan orang.</p>
<p>Contohnya seperti ini:</p>
<p><em>&#8220;Dasar orang, wujudnya aja manusia tapi kelakuan kayak setan!&#8221;</em></p>
<p>Sungguh tidak enak dipandang bukan? Lagipula, siapa sih yang tertarik untuk membaca kemarahan orang lain? Rasanya kok tidak ada.</p>
<p>Pembuat status semacam itu tentu berharap statusnya dibaca yang bersangkutan, atau hanya sekedar menumpahkan kekesalan? Jika hanya sebagai tempat pelampiasan, apa tujuannya dilempar kepada khalayak umum? Mungkin berharap akan ada sosok yang menyabarkan dirinya, atau setuju dengan argumennya.</p>
<p>Jika sedang ada masalah dengan seseorang, bukankah lebih bijak jika kita mengatakannya langsung kepadanya? Katakan apa yang membuatmu gusar secara terus terang, bagaimana responnya urusan belakang. Itu lebih berfaedah dibandingkan dengan menulis status penuh dengan caci maki.</p>
<p>Kemampuan untuk menahan emosi ini menjadi salah satu parameter kedewasaan seseorang. Orang-orang yang telah matang pola pikirnya akan memikirkan apa akibat dari status yang akan ditulisnya. Banyak bukan orang yang membuat status dengan menggebu-gebu, kemudian menghapus statusnya setelah kepalanya dingin.</p>
<p>Media sosial itu sama seperti taman, ia merupakan ruang publik yang dinikmati oleh orang banyak. Tentu kita akan sebal bukan jika di taman kita bertemu dengan orang yang marah-marah sendiri?</p>
<p>Oleh karena itu, lebih bijaksanalah dalam menggunakan media sosial. Gunakan ia untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan sekedar tempat pelampiasan emosi agar mendapatkan perhatian dari orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 11 Mei 2018, setelah selesai menyelesaikan training pertama Asian Games</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.chaostrophic.com/15-things-people-need-stop-immediately/">https://www.chaostrophic.com/15-things-people-need-stop-immediately/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">Media Sosial Sebagai Tempat Pelampiasan Emosi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bijak Menggunakan Caps Lock</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/bijak-menggunakan-caps-lock/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/bijak-menggunakan-caps-lock/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Feb 2018 15:29:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[caps lock]]></category>
		<category><![CDATA[chat]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=409</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penggunaan Caps Lock sejatinya digunakan untuk memperbesar huruf ketika mengetik di laptop. Kegunaannya ini sesuai dengan asal katanya, capitals lock. Pada media sosial, terutama di grup, caps lock sering kali diidentikkan dengan emosi. Diskusi secara maya menggunakan media sosial kerap kali mengakibatkan kesalahpahaman. Tidak bisa melihat ekspresi pengetik menjadi penyebab rawannya misuderstanding. Penggunaan caps lock, baik di sengaja maupun tidak, dapat memperkeruh situasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/bijak-menggunakan-caps-lock/">Bijak Menggunakan Caps Lock</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penggunaan <em>Caps Lock </em>sejatinya digunakan untuk memperbesar huruf ketika mengetik di laptop. Kegunaannya ini sesuai dengan asal katanya, <em>capitals lock. </em>Pada media sosial, terutama di grup, <em>caps lock </em>sering kali diidentikkan dengan emosi.</p>
<p>Diskusi secara maya menggunakan media sosial kerap kali mengakibatkan kesalahpahaman. Tidak bisa melihat ekspresi pengetik menjadi penyebab rawannya <em>misuderstanding</em>. Penggunaan <em>caps lock, </em>baik di sengaja maupun tidak, dapat memperkeruh situasi tersebut.</p>
<p><strong>Melihat Situasi Terlebih Dahulu</strong></p>
<p>Meskipun memiliki konotasi negatif, tidak semua kata yang dituliskan dengan huruf besar semua mengandung emosi di dalamnya. Bisa saja ia digunakan untuk menekankan suatu hal.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>PENGUMUMAN</p>
<p>Diberitahukan kepada seluruh anggota KARANG TARUNA untuk mengikuti rapat pada SABTU, 24 FEBRUARI 2018 di BALAI RW.</p>
<p>Karena mata akan menangkap sesuatu yang besar terlebih dahulu, maka pembaca akan mengetahui mana saja yang merupakan informasi inti dari pengumuman tersebut.</p>
<p><strong>Bercanda dengan <em>Caps Lock</em></strong></p>
<p>Terkadang, orang yang menggunakan huruf kapital untuk chatnya diniatkan untuk bercanda. Cirinya, ada emot yang menyertai. Coba bedakan antara:</p>
<p>YANG SABAR DONG</p>
<p>dengan,</p>
<p>YANG SABAR DONG :v</p>
<p>Hanya berbeda dua karakter, namun bagi kaum sumbu pendek tentu langsung tersulut emosinya. Oleh karena itu, jangan mudah terpancing ketika melihat orang lain menggunakan <em>caps lock</em>, karena bisa saja ia hanya bercanda.</p>
<p><strong>Meredam Emosi Tanpa <em>Caps Lock</em></strong></p>
<p>Tidak ada yang salah dengan menggunakan <em>caps lock </em>ketika sedang <em>chatting</em>, baik secara personal maupun kelompok, asal tidak untuk menggambarkan emosi yang sedang kita rasakan. Kita harus bijak dalam menggunakannya.</p>
<p>Apabila terdapat situasi yang cukup panas, usahakan untuk menghindari <em>caps lock </em>yang hanya akan menambah panas keadaan. Walaupun lawan <em>chat </em>kita terus menggunakan <em>caps lock</em>, redamlah emosinya dengan tidak membalasnya dengan <em>caps lock </em>pula.</p>
<p>Bisa dipastikan, jika kita ikut membalas seperti yang ia lakukan, maka keadaan akan semakin memburuk. Lebih bijak jika kalian bertemu langsung agar dapat melihat ekspresi satu sama lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 20 Februari 2018, setelah <em>chat </em>penuh <em>caps lock </em>dengan Ayu (konteksnya bercanda)</p>
<p>Sumber Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/bijak-menggunakan-caps-lock/">Bijak Menggunakan Caps Lock</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/bijak-menggunakan-caps-lock/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2059</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
