Connect with us

Sosial Budaya

Bijak Menggunakan Caps Lock

Published

on

Penggunaan Caps Lock sejatinya digunakan untuk memperbesar huruf ketika mengetik di laptop. Kegunaannya ini sesuai dengan asal katanya, capitals lock. Pada media sosial, terutama di grup, caps lock sering kali diidentikkan dengan emosi.

Diskusi secara maya menggunakan media sosial kerap kali mengakibatkan kesalahpahaman. Tidak bisa melihat ekspresi pengetik menjadi penyebab rawannya misuderstanding. Penggunaan caps lock, baik di sengaja maupun tidak, dapat memperkeruh situasi tersebut.

Melihat Situasi Terlebih Dahulu

Meskipun memiliki konotasi negatif, tidak semua kata yang dituliskan dengan huruf besar semua mengandung emosi di dalamnya. Bisa saja ia digunakan untuk menekankan suatu hal.

Contoh:

PENGUMUMAN

Diberitahukan kepada seluruh anggota KARANG TARUNA untuk mengikuti rapat pada SABTU, 24 FEBRUARI 2018 di BALAI RW.

Karena mata akan menangkap sesuatu yang besar terlebih dahulu, maka pembaca akan mengetahui mana saja yang merupakan informasi inti dari pengumuman tersebut.

Bercanda dengan Caps Lock

Terkadang, orang yang menggunakan huruf kapital untuk chatnya diniatkan untuk bercanda. Cirinya, ada emot yang menyertai. Coba bedakan antara:

YANG SABAR DONG

dengan,

YANG SABAR DONG :v

Hanya berbeda dua karakter, namun bagi kaum sumbu pendek tentu langsung tersulut emosinya. Oleh karena itu, jangan mudah terpancing ketika melihat orang lain menggunakan caps lock, karena bisa saja ia hanya bercanda.

Meredam Emosi Tanpa Caps Lock

Tidak ada yang salah dengan menggunakan caps lock ketika sedang chatting, baik secara personal maupun kelompok, asal tidak untuk menggambarkan emosi yang sedang kita rasakan. Kita harus bijak dalam menggunakannya.

Apabila terdapat situasi yang cukup panas, usahakan untuk menghindari caps lock yang hanya akan menambah panas keadaan. Walaupun lawan chat kita terus menggunakan caps lock, redamlah emosinya dengan tidak membalasnya dengan caps lock pula.

Bisa dipastikan, jika kita ikut membalas seperti yang ia lakukan, maka keadaan akan semakin memburuk. Lebih bijak jika kalian bertemu langsung agar dapat melihat ekspresi satu sama lain.

 

 

Lawang, 20 Februari 2018, setelah chat penuh caps lock dengan Ayu (konteksnya bercanda)

Sumber Foto:

Continue Reading
Advertisement
2.059 Comments

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Sosial Budaya

Berbincang Sedikit tentang Close Friend

Published

on

By

Penulis sudah agak lama tidak membuka Twitter. Entah mengapa rasanya ingin sedikit menjauh dari media sosial yang terkenal karena “drama”-nya itu.

Sesekali Penulis mengecek ala kadarnya, mungkin hanya sekitar 5-10 saja. Twitter juga masih Penulis manfaatkan untuk share artikel blog yang terbaru.

Nah, kok ya pas kemarin cek Twitter muncul berita trending tentang seorang public figure yang ketahuan bertindak kurang pantas untuk kedua kalinya.

Penulis sebenarnya merasa bodo amat karena merasa kejadian tersebut bukan urusannya, walaupun timbul perasaan khawatir kalau perbuatan tersebut ditiru oleh anak-anak muda.

Hanya saja, ada satu hal lain yang menarik perhatian Penulis, yakni fitur Close Friend yang dimiliki oleh Instagram.

Fitur Close Friend dari Instagram

Kalau tidak salah, fitur Close Friend dihadirkan oleh Instagram pada tahun 2018. Tujuannya adalah untuk melabeli orang-orang tertentu sebagai “teman dekat” kita di Instagram.

Ketika membuat story, kita bisa memilih untuk memublikasikannya kepada khalayak umum atau orang-orang yang berada di daftar Close Friend ini.

Semenjak menggunakan Instagram hingga sekarang, Penulis tidak pernah menggunakan fitur Close Friend. Bukan karena tidak punya teman dekat, melainkan karena merasa tidak perlu saja.

Mungkin fitur ini dibutuhkan oleh orang-orang yang followers-nya banyak. Kadang, ada beberapa momen yang hanya ingin dibagikan kepada orang-orang tertentu karena berbagai alasan.

Walaupun begitu, Penulis merasa tersanjung apabila ada temannya yang memasukkan Penulis sebagai Close Friend-nya. Artinya, teman tersebut percaya atau ingin berbagi momennya dengan Penulis.

Close Friend yang Tidak Benar-Benar Close

Satu hal yang membuat heboh kasus si public figure adalah karena Story-nya dibocorkan oleh salah satu (atau mungkin lebih) teman yang ia masukkan ke dalam Close Friend-nya.

Akibatnya, hal yang ia ingin bagi ke circle tertentu harus bocor ke masyarakat umum dan ia harus kembali menerima hujatan dari masyarakat. Ada sih yang memberi dukungan. Maklum, good-looking privilege.

Karena kejadian ini, banyak yang memelintir Close Friend menjadi Cepu Friend, termasuk Jerome Polin melalui akun Twitter pribadinya.

Buat yang belum tahu, cepu adalah istilah untuk menyebut orang yang tidak bisa menjaga rahasia atau informasi yang dipercayakan kepadanya. Cepu Friend berarti teman yang tidak bisa menjaga rahasia.

Kejadian ini pun membuat kita berpikir, apakah fitur Close Friend benar-benar close dan bisa dipercaya? Mungkin kita saja yang harus memilihnya secara lebih cermat.

Memang Tidak Semuanya Harus Dibagi, Termasuk ke Close Friend

Di era keterbukaan seperti sekarang, membagikan momen-momen yang sedang dilalui memang sudah menjadi hal yang wajar. Hanya saja, tetap ada batasan-batasan yang sebaiknya tidak dilanggar.

Apalagi, kita bukan tinggal di negara bebas. Jika dianggap melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti ada penghakiman yang seringnya dalam bentuk nyinyiran.

Bisa berbagi momen bukan berarti semuanya harus dibagi. Tetap ada beberapa hal yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri, apalagi sesuatu yang bisa menghebohkan, meresahkan, atau membuat risih orang lain.

Memang, makin banyak public figure yang mengumbar area privasi mereka demi popularitas. Biarkan saja, tidak usah pedulikan, masih banyak hal yang perlu kita lakukan selain berperan dalam melambungkan nama mereka.

Berbeda dengan cerita di novel The Circle, privasi bukanlah pelanggaran di dunia nyata. Kita semua tetap membutuhkan privasi dari pihak manapun, termasuk dari Close Friend sekalipun.


Lawang, 31 Juli 2021, terinspirasi dari trending-nya seorang public figure karena skandalnya

Foto: The Verge

Continue Reading

Sosial Budaya

Polemik European Super League (ESL)

Published

on

By

Bagi penggemar sepakbola seperti Penulis, beberapa hari terakhir merupakan hari yang gila. Bagaimana tidak, adanya wacana European Super League (ESL) menggegerkan publik dan menimbulkan polemik yang pelik.

ESL resmi ketuk palu setelah 12 klub besar di Eropa menyepakatinya. Mereka adalah:

  • Manchester United
  • Manchester City
  • Liverpool
  • Chelsea
  • Arsenal
  • Tottenham Hotspurs
  • Real Madrid
  • Barcelona
  • Atletico Madrid
  • Inter Milan
  • AC Milan
  • Juventus

Sebenarnya Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan Paris St. Germany juga direncanakan turut serta. Hanya saja, mereka memutuskan untuk tidak ikut bagian dalam ajang pesaing Liga Champion tersebut.

Di sini Penulis tidak akan terlalu menjelaskan apa itu ESL dan bagaimana formatnya. Penulis fokus memberikan opininya sebagai penggemar sepakbola atas polemik yang terjadi.

Berawal dari Permasalahan Ekonomi

Inti Masalahnya: Duit (Thinking Heads)

Bisa dibilang, pandemi Corona adalah penyebab utama dari masalah ini. Meski sudah diprediksi oleh Arsene Wenger 10 tahun yang lalu, kemunculan Corona membuat wacana yang terlihat impossible itu menjadi possible.

Klub-klub besar tersebut rata-rata mengalami kerugian yang cukup signifikan. Tidak hadirnya penonton di lapangan jelas memberikan dampak yang tidak sedikit. Belum lagi dari sektor lain seperti menurunnya penjualan merchandise dan lain-lain.

Neraca keuangan klub besar semakin timpang karena tingginya gaji pemain bintang yang harus dibayarkan. Inflasi harga pemain yang makin tidak masuk akal membuat klub juga kesulitan untuk membeli pemain baru.

Di tengah kekeringan pemasukan seperti itu, muncul sebuah oase bernama ESL. Tidak tanggung-tanggung, kompetisi ini menjanjikan nominal hadiah yang berkali-kali lipat dibandingkan hadiah juara Liga Champion yang jumlahnya tidak bisa digunakan untuk membeli Lord Martin Braithwaite.

Belum lagi pemasukan dari hak siar. Penggemar jelas tergoda dengan konsep pertandingan big match setiap minggu tanpa perlu menunggu babak semifinal seperti di Liga Champion. Manchester United vs Barcelona jelas lebih menarik daripada Manchester United vs Burnley.

Florentino Perez (Football Espana)

Secara komersil, ESL memang sangat menggiurkan. Potensi uang yang masuk sangat besar, jauh melebih apa yang bisa diberikan oleh kompetisi di bawah naungan UEFA.

Klub elit yang tengah melempem seperti Arsenal dan AC Milan bisa bersantai. Tak masalah tidak masuk Liga Champion, mereka akan menjadi peserta tetap setiap tahun sehingga pemasukan pun akan terus mengalir tanpa perlu upaya lebih.

Mereka tidak berpikir, jika klub-klub besar tersebut bisa mendapatkan dana besar, bukankah ketimpangan antar klub akan semakin besar? Mereka bisa belanja sesuka hati, tidak seperti klub kecil yang harus memutar otak ketika membelanjakan uangnya.

Kehadiran ESL jelas mengusik zona nyaman yang dimiliki oleh UEFA. Mereka langsung mengecam dan mengeluarkan berbagai ancaman yang mengerikan, mulai dikeluarkan dari liga hingga pemain tidak memiliki hak untuk membela tim nasional mereka.

Gertakan tersebut hanya ditertawakan oleh Florentino Perez dan kawan-kawan. Mereka punya power bargaining yang kuat. Coba saja adakan liga atau turnamen tanpa mereka, niscaya akan sepi penonton karena tidak adanya pemain bintang yang menjadi idola banyak orang.

Tanggapan Para Fans (dan Penulis)

Para Fans Tersakiti (Football365)

Ketika memantau kolom komentar akun-akun sepakbola di Instagram, mayoritas sangat menentang kehadiran ESL. Mereka merasa kalau pemilik klub sangat tamak dan hanya berusaha mengumpulkan pundi-pundi uang sebanyak mungkin.

Ada beberapa yang mendukung ESL karena membayangkan adanya big match setiap pekan. Selain itu, UEFA dan FIFA sendiri terkenal sebagai organisasi yang korup dan cukup memonopoli pertandingan sepakbola Eropa.

Beberapa pemain sepakbola sudah mulai mengeluarkan suara pertentangannya terhadap ESL, walaupun nampaknya belum ada suara dari pemain yang bermain di dua belas klub penggagas ESL. Mungkin, mereka masih takut dipecat dan kehilangan pemasukan.

Penulis sendiri tidak menyetujui kehadiran ESL karena akan merusak tradisi sepakbola yang sudah terbentuk selama puluhan tahun. Pertandingan seperti Real Madrid vs Juventus menjadi seru karena hanya terjadi beberapa kali dalam setahun, bukan setiap minggu.

Selain itu, Liga Champion menjadi ajang di mana klub kecil bisa berhadapan dengan klub besar. Bisa saja pemain di klub kecil tersebut mengidolakan bintang yang bermain di klub besar. Liga Champion bisa mewujudkan impian bertanding melawan idola mereka.

Kejutan Liga Champion (Twitter)

Dengan format tertutup yang dimiliki ESL, tidak akan ada lagi kejutan seperti FC Porto yang berhasil menjuarai Liga Champion edisi 2004, Ajax Amsterdam yang mengalahkan banyak klub besar sebelum takluk di tangan Tottenham Hotspurs, dan lain sebagainya.

Para pemilik klub besar ini kok kesannya tidak ingin bertemu dengan tim-tim kecil. Hal ini dibuktikan dari ucapan presiden klub Juventus, Andrea Agnelli, yang menyepelekan keikutsertaan Atalanta di Liga Champion.

Seolah yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana meraup keuntungan sebesar-besarnya. Melawan tim besar otomatis akan menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan ketika mereka melawan klub kecil.

Lebih dari itu, korban sebenarnya dari polemik ini adalah para fans.

When the Rich Wage War It’s the Poor Who Die

Football is for the Fans (Express & Star)

Quote yang Penulis jadikan header di atas merupakan penggalan lirik dari lagu Linkin Park yang berjudul Hands Held High, sebelum mengetahui kalau kalimat ini ternyata diucapkan oleh filsuf Jean-Paul Sartre.

Di mana-mana ketika terjadi perang antara orang yang memiliki kekuasaan (dan harta), yang menjadi korban sesungguhnya adalah masyarakat sipil yang tak berdosa. Ternyata, kalimat ini juga berlaku pada polemik ESL.

Para pemilik klub besar dan UEFA sedang adu kekuatan. Mereka sama-sama merasa punya power tanpa peduli kalau para fans sepakbola di dunia sedang cemas tak karuan. Mereka khawatir, sepakbola akan menuju kematiannya.

Padahal jika menilik sejarah, sepakbola dipopulerkan oleh orang-orang miskin yang butuh hiburan. Manchester United misalnya, didirikan oleh para buruh Manchester. Sekarang, seolah-olah sepakbola telah dicuri oleh mereka yang berduit.

Created by the poor, stolen by the rich

ANONIM

Jika para pemilik klub memang peduli terhadap fans, seharusnya mereka mau mendengarkan suara mereka. Sangat bullshit ketika Perez mengatakan ingin menyelamatkan sepakbola, itu hanya kata pemanis.

Mungkin sepakbola memang butuh diselamatkan. Mungkin UEFA dan FIFA memang sama-sama brengseknya. Akan tetapi, bukan dengan cara seperti ini menyelesaikan masalahnya. Jangan jadikan fans sebagai korban dari pertikaian antara pemilik kekuasaan.

Penutup

Seandainya ESL yang dijadwalkan akan dimulai pada bulan Agustus tahun ini benar-benar terlaksana, mungkin Penulis akan benar-benar berhenti menonton sepakbola. Biarlah mereka mengeruk kekayaan sampai mampus, Penulis tidak akan peduli lagi dengan sepakbola.

Penulis yakin banyak fans yang berpikiran sama. Mereka tidak ingin menjadi komoditas bagi para pemilik klub yang ingin menggembungkan rekening klub dan mungkin kantong mereka sendiri.

Ancaman UEFA juga bisa benar-benar terjadi. Kedua belas klub yang menyepakati ESL terancam dicoret dari liga, sehingga kemungkinan kita akan melihat persaingan juara Premier League antara Everton, West Ham, atau Leicester City saja.

Sangat disayangkan olahraga favorit sejuta umat dikuasai oleh segelintir orang yang lebih mengedepankan bisnis dibandingkan keinginan fans. Pembicaraan tentang ESL juga hanya dilakukan antar pemilik klub tanpa melibatkan pemain dan pihak lain.

Walaupun begitu, Penulis masih berharap kalau pada akhirnya penggagas ESL dan UEFA menemukan titik terang dari polemik ini. Entah bagaimana caranya, yang jelas Penulis tidak ingin para pecinta sepakbola menjadi korban dari peperangan ini.

Lawang, 20 April 2021, terinspirasi setelah membaca berbagai berita seputar ESL

Foto: Twitter

Sumber Artikel: The Flanker di Twitter

Continue Reading

Sosial Budaya

Siapa yang Akhirnya Menang?

Published

on

By

Duel “terpanas” tahun ini baru saja tersaji kemarin secara live di kanal YouTube Deddy Corbuzier. Tentu yang Penulis maksud adalah pertandingan catur antara Pak Dadang Subur a.k.a. Dewa Kipas melawan Grandmaster Irene Kharisma (atau Irene Sukandar).

Pertandingan catur ini berawal dari kasus viral yang melibatkan akun Dewa Kipas yang dianggap curang setelah bertanding melawan GothamChess melalui platform Chess.com. Kasus ini berujung dengan diblokirnya akun Dewa Kipas dari platform tersebut.

Gotham Chess (RCTI+)

Hal ini diketahui pertama kali dari postingan Facebook anak Dewa Kipas, yang menganggap suporter GothamChess melakukan report massal sehingga akun ayahnya diblokir. Tanpa disangka, postingan tersebut menjadi viral dan membuat netizen Indonesia bereaksi keras.

Netizen Indonesia memberikan hate comment ke GothamChess dan Chess.com secara membabi buta. Ketika Penulis mengecek Play Store, rating yang dimiliki oleh aplikasi catur tersebut dihujani bintang satu oleh netizen Indonesia.

Beberapa waktu berselang, Chess.com memberikan klarifikasi kalau mereka tidak akan memblokir akun orang hanya karena laporan banyak orang. Mereka mendeteksi adanya kecurangan pada akun tersebut sehingga mereka menindak tegas akun Dewa Kipas.

Pak Dadang dan Anaknya (Galamedia – Pikiran Rakyat)

Nah, Deddy seperti biasa melihat adanya peluang cuan memberikan ruang dan panggung bagi orang-orang yang membutuhkan klarifikasi. Maka diundanglah Pak Dadang Subur beserta anaknya ke podcast-nya yang terkenal.

Podcast ini mendapatkan kritikan dari salah satu grandmaster catur Indonesia, Irene Kharisma. Ia membuat surat terbuka yang salah satunya ditujukan kepada Deddy dan direspon dengan baik. Irene (beserta GothamChess) pun diundang ke podcast Deddy untuk memberikan sudut pandang lain.

Ternyata, ada beberapa kalimat yang keluar dari mulut Irene yang menyakiti perasaan Pak Dadang. Ia pun menantang Irene untuk bertanding catur secara langsung. Sempat ditolak, akhirnya Irene menyanggupi permintaan tersebut dan Deddy akan menjadi tuan rumah pertandingan tersebut.

Cuan lagi.


Pertandingan digelar pada hari Senin jam 3 sore dan dipandu oleh dua pecatur Indonesia, GM Susanto Megaranto dan Chelsie Monica. Untuk nama terakhir, netizen justru salfok dengan kecantikannya. Akun Instagramnya yang semula memiliki empat ribu followers melonjak jadi 70 ribu lebih. Kekuatan netizen.

Pertandingan dilakukan dalam mode 10 menit empat babak. Penulis tidak perlu menjelaskan bagaimana analisa pertandingan tersebut. Yang jelas, hasil akhirnya adalah 3-0 untuk kemenangan Irene dan Pak Dadang menolak untuk melakukan pertandingan keempat.

Di akhir pertandingan, Pak Dadang menjelaskan betapa kokoh pertahanan Irene. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan pemain di Chess.com yang kerap melakukan blunder. Irene sendiri juga mengajak kita untuk menutup kasus ini dan jangan sampai ada pem-bully-an setelah ini.

Baik Irene maupun Pak Dadang sama-sama mendapatkan hadiah uang. Sebagai pemenang, Irene mendapatkan 200 juta rupiah, sedangkan Pak Dadang mendapatkan 100 juta rupiah. Pertandingan panas ini pun berakhir dengan damai dan menenangkan.

Irene Menang 3-0 (Kompasiana.com)

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya menang dalam pertandingan ini? Menurut Penulis, hampir semua menang dan tidak ada yang dirugikan.

Deddy jelas menang banyak, baik melalui adsense (live viewer-nya mencapai satu juta lebih, setelah diupload videonya telah ditonton lebih dari tujuh juta kali) ataupun sponsor (secara kasat mata, setidaknya ada tiga sponsor yang berbeda, di mana yang paling besar Tokopedia).

Kejeliannya melihat peluang membuat ia bisa mendapatkan keuntungan besar dari viralnya kasus Dewa Kipas. Kalau kata teman, ia sudah bisa membuat podcast-nya bekerja untuk dirinya dan mengalirkan uang secara sendirinya.

Pak Dadang dan Irene pun bisa dianggap sama-sama menang. Kekalahan Pak Dadang dapat dimaklumi karena lawannya adalah pecatur profesional yang menyandang gelar grandmaster. Bahkan, permainannya juga dipuji oleh Irene beserta dua caster yang memandu pertandingan tersebut.

Para Caster (VOI.id)

Para caster juga menang, terutama Chelsie. Berkat pertandingan ini, popularitasnya meningkat secara drastis. Bukan tidak mungkin setelah ini ia akan merangkap profesi menjadi selebgram. Untuk GM Susanto, mungkin setelah ini akan makin banyak murid yang mendaftar ke sekolah privatnya.

Dunia catur juga menang. Kasus ini membuat antusiasme masyarakat terhadap catur meningkat pesat. Tokopedia selaku sponsor resmi pasti kebanjiran orderan papan catur. Dari isu yang Penulis dengar, harga papan catur meroket akibat tingginya permintaan masyarakat.

Masyarakat menang karena disuguhkan sebuah drama pertandingan catur yang seru. Ketika memantau kolom komentar, kebanyakan bernada adem meskipun masih menyisakan beberapa hate comment yang memancing emosi. Media juga pastinya mendapatkan banyak views untuk pemberitaan seputar mereka semua.

GothamChess, meskipun tidak mendapatkan uang, setidaknya mendapatkan subsriber baru dari Indonesia walau tidak banyak. Mungkin yang kalah adalah aplikasi Chess.com karena mendapatkan hujan bintang satu di Play Store, sehingga rating mereka lumayan turun. Namun, jumlah unduhan mereka juga jadi naik berkat drama Dewa Kipas ini.


Lantas, apa hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini? Entah, Penulis juga bingung. Mungkin, jangan mudah tersulut emosi jika tidak punya data yang lengkap. Mau apapun masalah yang sedang viral, kita harus kritis dan melakukan recheck. Jangan mudah terpancing berita-berita click-bait.

Pada akhirnya, masalah yang membuat masyarakat sempat terpolarisasi telah mereda. Semoga saja ke depannya kita bisa lebih dewasa dan bijaksana dalam menyikapi apapun, mulai dari yang remeh hingga topik berat.

Lawang, 23 Maret 2021, terinspirasi setelah menonton pertandingan catur antara Dewa Kipas melawan Irene Kharisma

Foto: Buka Baca ID

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan