<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>empati Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/empati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/empati/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Dec 2025 17:19:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>empati Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/empati/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bahkan Sekadar Empati pun Pejabat Kita Tidak Punya</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2025 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kontroversi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8453</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelum memulai tulisan ini, Penulis ingin mengungkapkan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada korban bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera. Hingga tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 800 korban jiwa dan jutaan orang terdampak. Jelas, skala bencana menjelang pergantian tahun ini sangat masif. Anehnya (atau justru sudah menjadi &#8220;normalnya&#8221;?), sampai saat ini pemerintah belum juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/">Bahkan Sekadar Empati pun Pejabat Kita Tidak Punya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebelum memulai tulisan ini, Penulis ingin mengungkapkan duka cita yang sedalam-dalamnya  kepada korban bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera. Hingga tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 800 korban jiwa dan jutaan orang terdampak.</p>



<p>Jelas, skala bencana menjelang pergantian tahun ini sangat masif. Anehnya (atau justru sudah menjadi &#8220;normalnya&#8221;?), sampai saat ini pemerintah belum juga menetapkan hal tersebut sebagai darurat bencana nasional dengan berbagai argumen.</p>



<p>Lebih parahnya lagi, banyak sekali tindakan maupun ucapan dari pejabat publik, terutama presiden, yang justru menyakiti banyak perasaan masyarakat, seolah mereka tidak memiliki empati untuk para korban. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/11/swi-mengajar-2.0-banner.jpg 1280w " alt="SWI Mengajar 2.0" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar-2-0/">SWI Mengajar 2.0</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Daftar Ucapan Kontroversial Pejabat Terkait Bencana di Sumatera</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8457" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-a.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Presiden Prabowo Ketika Pidato Karunia Kelapa Sawit (via <a href="https://www.tribunnews.com/nasional/7763814/prabowo-sebut-kelapa-sawit-karunia-tuhan-usai-banjir-sumatra-jatam-demi-selamatkan-bisnisnya">Tribun</a>)</figcaption></figure>



<p><strong>&#8220;Memang kemarin kelihatannya mencekam, ya, karena berseliweran di media sosial.&#8221; <br></strong>Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, ketika banyak <em>footage </em>yang menggambarkan betapa mencekamnya situasi di lapangan.</p>



<p><strong>&#8220;Gelondongan kayu yang ikut tersapu banjir adalah kayu lapuk.&#8221;</strong><br>Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto, seolah ingin menutupi aktivitas penebangan hutan yang menjadi salah satu alasan bencana bisa terjadi.</p>



<p><strong>&#8220;Kalau bisa Pak Prabowo [Subianto] jadi presiden seumur hidup.&#8221;</strong><br>Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, yang seolah justru menjadikan bencana ini sebagai ajang untuk menjilat.</p>



<p><strong>“Daripada dibawa lagi ke pangkalan udara, lebih baik di-<em>drop</em> dan dapat dimanfaatkan masyarakat.”</strong><br>Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, ketika muncul kritik mengenai proses pembagian bantuan kepada korban bencana yang dilempar dari atas helikopter dan membuat banyak makanan jadi terbuang secara sia-sia</p>



<p><strong>&#8220;Kami juga mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya, tapi kami yakin kami masih bisa mengatasinya.”</strong><br>Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, yang bersikukuh menolak bantuan dari luar negeri.</p>



<p><strong>&#8220;Saya kira situasi membaik. Saya kira kondisi yang sekarang (darurat provinsi) sudah cukup.”</strong><br>Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, setelah mengunjungi salah satu daerah yang terdampak bencana.</p>



<p><strong>&#8220;Tapi kita diberi karunia oleh Yang Maha kuasa kita punya kelapa sawit.&#8221;</strong><br>Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto (lagi), dalam sebuah acara yang justru menglorifikasi kelapa sawit ketika itu menjadi salah satu sumber bencana di Sumatera.</p>



<p>Belum lagi berbagai aktivitas &#8220;pencitraan&#8221; yang dilakukan oleh banyak pihak, mulai pelepasan bantuan oleh anggota DPR lengkap dengan spanduk, Zulkifli Hasan yang membawa karung beras, hingga Verrel Bramasta yang menggunakan <em>vest </em>ala <em>PUBG</em>.</p>



<p>Namun, Penulis justru teringat ucapan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menatap-masa-depan-ikn-di-bawah-kepemimpinan-prabowo/">Presiden Prabowo</a> akhir tahun 2024 lalu, ketika ia mengatakan kalau pohon kelapa sawit juga &#8220;pohon&#8221;, sebuah ucapan yang membuat Penulis sangat geram ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya.</p>



<p><strong>&#8220;Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit. Enggak usah takut. Apa itu katanya membahayakan, <em>deforestation</em>. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan? Benar enggak, kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida, dari mana kok kita dituduh yang boten-boten saja itu orang-orang itu.&#8221;</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Sesulit Itu untuk Berempati?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8458" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Bahkan-Sekadar-Empati-pun-Pejabat-Kita-Tidak-Punya-b.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Contoh Korban Bencana Banjir Sumatera (via <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/12/01/20322621/data-bnpb-korban-jiwa-bencana-banjir-sumatera-bertambah-jadi-604-orang">Kompas</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak bencana ini terjadi pada akhir bulan November, sebenarnya Penulis sudah menahan diri untuk tidak berkomentar terlalu banyak atas ke-<em>asbun</em>-an para pejabat. Toh, memang kualitas pejabat kita ya memang cuma sebatas itu.</p>



<p>Namun, makin ke sini, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pemerintah-selalu-benar-yang-salah-selalu-rakyat/">Penulis merasa kok nirempatinya makin ke sini makin parah</a>. Jumlah korban seolah cuma menjadi statistik semata, karena mereka nyatanya lebih memedulikan kepentingannya masing-masing.</p>



<p>Salah satu hal yang paling kontroversial dan banyak dituntut oleh masyarakat adalah penetapan status darurat bencana nasional, yang hingga kini masih belum dilakukan Presiden Prabowo selaku yang berwenang berdasarkan UU 24/2007 Pasal 51. </p>



<p>Karena hal tersebut juga tawaran bantuan dari negara lain juga ditolak, seperti yang sudah dijelaskan oleh Kemenlu. Padahal, banyak yang melaporkan kalau masih ada daerah yang terisolasi dan belum mendapatkan bantuan, hingga ada korban kelaparan.</p>



<p>Tentu jadi wajar jika masyarakat menjadi curiga, apakah jangan-jangan tidak ditetapkannya status darurat bencana nasional dikarenakan <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menyorot-kebijakan-prabowo-gibran-dari-makan-siang-gratis-hingga-300-fakultas-kedokteran/">Presiden Prabowo</a> punya bisnis kelapa sawit di Sumatera, yang menjadi salah satu penyebab bencana?</p>



<p>Hal ini menjadi masuk akal karena Presiden Prabowo juga berkali-kali membahas kelapa sawit dalam berbagai kesempatan, bahkan melakukan glorifikasi yang menurut Penulis sudah berlebihan, tanpa mempertimbangkan dampak lingkungannya.</p>



<p>Para pejabat, kalau belum bisa kerja dengan benar, minimal belajar empati dulu, deh. Belajar gimana membuat pernyataan yang tidak menimbulkan amarah publik. Belajar gimana cara agar apa yang keluar dari mulut tidak menyakiti banyak pihak. Itu udah rendah banget <em>bare minimum</em>-nya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bencana alam yang terjadi di Sumatera, bagi Penulis, merupakan akibat dari keserakahan manusia yang terus menghabisi hutan demi kepentingan bisnis kelompok tertentu. Hutan yang salah satu fungsinya adalah menahan air justru dibabat habis-habisan.</p>



<p>Para korban tidak sedikipun kecipratan keuntungan dari bisnis-bisnis yang memakan hutan Sumatera, tapi merekalah yang justru menjadi pihak yang membayar. Para konglomerat yang kaya dari bisnis-bisnis tersebut masih bisa makan malam enak di rumah mewah mereka.</p>



<p>Semoga para korban keserakahan di Sumatera diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi bencana ini. Semoga orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi penyebab bencana ini akan mendapatkan balasan yang setimpal, baik di dunia maupun akhirat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 7 Desember 2025, terinspirasi setelah emosi membaca berbagai komentar pejabat publik yang nirempati</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/12/05/17460191/update-bnpb-korban-tewas-banjir-sumatera-capai-867-orang">Kompas</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/cy9500835y1o">Lima pernyataan dan tindakan para pejabat yang dinilai &#8216;tidak empati&#8217; kepada korban banjir Sumatra – &#8216;Perlu empati yang lebih baik&#8217; &#8211; BBC</a></li>



<li><a href="https://magdalene.co/story/kontroversi-pernyataan-pejabat-banjir-sumatera/">6 Pernyataan Asbun dari Pejabat Publik Saat Banjir &#8211; Magdalene</a></li>



<li><a href="https://jambi.tribunnews.com/news/1183429/kontroversi-pernyataan-lama-prabowo-soal-kelapa-sawit-dan-pohon-korban-bencana-di-aceh-dan-sumatera">Kontroversi Pernyataan Lama Prabowo Soal Kelapa Sawit dan Pohon-Korban Bencana di Aceh dan Sumatera &#8211; Tribun</a></li>



<li><a href="https://www.hukumonline.com/berita/a/ini-ketentuan-status-bencana-nasional--otoritas-penetapan-dan-indikatornya-lt692fa9e6a59b6/?page=2">Ini Ketentuan Status Bencana Nasional, Otoritas Penetapan dan Indikatornya</a></li>



<li><a href="https://www.kompas.id/artikel/situasi-pascabencana-dinilai-membaik-presiden-belum-tingkatkan-status-bencana-di-sumatera">Situasi Pascabencana Dinilai Membaik, Presiden Belum Tingkatkan Status Bencana di Sumatera &#8211; Kompas</a></li>



<li><a href="https://www.tribunnews.com/nasional/7763814/prabowo-sebut-kelapa-sawit-karunia-tuhan-usai-banjir-sumatra-jatam-demi-selamatkan-bisnisnya">Prabowo Sebut Kelapa Sawit Karunia Tuhan usai Banjir Sumatra, JATAM: Demi Selamatkan Bisnisnya &#8211; Tribun</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/">Bahkan Sekadar Empati pun Pejabat Kita Tidak Punya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/bahkan-sekadar-empati-pun-pejabat-kita-tidak-punya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Azab Apa yang Cocok untuk Tukang Spoiler?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2022 12:54:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[azab]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[spoiler]]></category>
		<category><![CDATA[spoiler film]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6049</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biasanya, menjelang sebuah film box office populer akan rilis, ada semacam ketakutan bagi para penontonnya: Spoiler. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, spoiler sangat mudah tersebar dari satu perangkat ke perangkat lain. Orang yang merespons spoiler pun bisa dibagi menjadi dua, antara yang bodo amat dengan spoiler dan ada yang benar-benar menghindari spoiler. Sebenarnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler/">Azab Apa yang Cocok untuk Tukang Spoiler?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Biasanya, menjelang sebuah film <em>box office </em>populer akan rilis, ada semacam ketakutan bagi para penontonnya: <em><strong>Spoiler</strong></em>. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, <em>spoiler </em>sangat mudah tersebar dari satu perangkat ke perangkat lain.</p>



<p>Orang yang merespons <em>spoiler </em>pun bisa dibagi menjadi dua, antara yang <strong>bodo amat dengan <em>spoiler</em></strong><em> </em>dan ada yang <strong>benar-benar menghindari <em>spoiler</em></strong>. Sebenarnya ada juga yang tengah-tengah atau bahkan malah mencari <em>spoiler</em>. </p>



<p>Kalau yang bodo amat, ya udah, mereka tetap bisa menikmati filmnya. Nah, untuk yang menghindari <em>spoiler</em>, <em>mood </em>nonton mereka bisa langsung buyar, merasa kecewa dan marah, bahkan menyumpahi si pemberi <em>spoiler</em> agar terkena azab yang mengenaskan.</p>





<p>Penulis bisa dibilang termasuk yang menghindari <em>spoiler</em>, terutama untuk film yang disukainya. Bahkan, Penulis rela pergi ke bioskop jam 4 pagi demi bisa menonton <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-1-adegan-favorit/">Avengers: Endgame</a> </em>di hari penayangan perdananya. Padahal, itu ditayangkan di hari kerja.</p>



<p>Berhubung ada satu peristiwa lucu yang baru saja terjadi, Penulis jadi tergelitik untuk menulis artikel tentang masalah tukang <em>spoiler </em>alias ini. Salah satunya adalah, apakah ada azab yang cocok untuk diterima para tukang <em>spoiler</em>?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Motivasi Tukang Spoiler?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler-banner_copy_1080x720-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6057" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler-banner_copy_1080x720-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler-banner_copy_1080x720-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler-banner_copy_1080x720-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler-banner_copy_1080x720.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Ilustrasi Tukang Spoiler sedang Menyiapkan Amunisinya (<a href="https://www.reviewgeek.com/39485/the-best-ways-to-stream-movies-and-videos-with-your-friends-online/">Review Geek</a>)</figcaption></figure>



<p>Mengapa orang menyebarkan <em>spoiler </em>film? Penulis memiliki beberapa asumsi. Salah satunya adalah karena <strong>iseng </strong>saja. Mereka ingin menggoda orang lain, biasanya orang dekat, agar merasa kesal.</p>



<p>Selain itu, bisa juga digunakan sebagai <strong>&#8220;panjat sosial&#8221;</strong> alias pansos. Kok bisa? Karena dengan menyebarkan <em>spoiler</em>, terutama di media sosial, posting mereka tentang <em>spoiler </em>tersebut akan jadi ramai, termasuk ramai akan hujatan dan makian.</p>



<p>Tukang <em>spoiler </em>bisa jadi <strong>merasa hebat</strong> dengan memberikan <em>spoiler </em>tersebut. Alasannya, mereka telah menonton film tersebut duluan dibandingkan orang lain. Aneh memang, kok butuh bikin orang lain kesal hanya demi merasa hebat.</p>



<p>Mungkin masih ada faktor-faktor lain yang membuat orang memutuskan untuk menjadi tukang <em>spoiler</em>. Hanya saja, menurut Penulis tiga alasan di atas lah yang menjadi alasan utama mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Di Mana Tukang Spoiler Beraksi?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-3-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-6056" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-3-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-3-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-3-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-3.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Hindari untuk Sementara Waktu (Photo by <a href="https://unsplash.com/@obergeron">Olivier Bergeron</a>)</figcaption></figure>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, <strong>media sosial menjadi &#8220;lahan basah&#8221; untuk para tukang <em>spoiler</em></strong><em> </em>menjalankan aksinya. Apalagi, media sosial dengan format <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/">infinity scroll</a> </em>tengah digandrungi oleh masyarakat ini.</p>



<p>Media sosial dengan format tersebut akan selalu memberikan &#8220;kejutan&#8221; kepada penggunanya, sehingga pengguna tidak akan tahu kalau video berikutnya adalah sebuah <em>spoiler</em>. Salah satu kawan Penulis sering bercerita betapa seringnya ia mendapatkan <em>spoiler </em>anime dari TikTok.</p>



<p>Kadang, ada juga yang langsung memberikan <strong><em>spoiler </em>melalui aplikasi pesan</strong> seperti WhatsApp. Biasanya, disebarkan ke grup, lalu akan ada &#8220;korban-korban&#8221; yang tanpa sengaja melihat <em>spoiler </em>tersebut.</p>



<p>Kalau sedang apes, tukang <em>spoiler </em>bahkan dengan <strong>berani melancarkan aksinya secara langsung </strong>ketika bertemu dengan &#8220;korban&#8221;. Bukan tidak mungkin kalau berawal dari hal ini akan terjadi baku hantam.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Cara Menghindari Tukang Spoiler?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6058" width="726" height="484" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 726px) 100vw, 726px" /><figcaption> Begitu Tayang, Langsung Tonton! (<a href="https://www.hollywoodreporter.com/movies/movie-news/avengers-endgame-premiere-disney-dolby-build-high-tech-la-theater-1203843/">The Hollywood Reporter</a>)</figcaption></figure>



<p>Kita tidak bisa mengendalikan orang lain untuk tidak melakukan <em>spoiler</em>. Semakin kita berusaha untuk mengingatkan, yang ada mereka malah makin semangat untuk memberi <em>spoiler.</em> Untuk itu, lebih baik kita yang mengalah dan berusaha untuk menghindari mereka.</p>



<p>Cara paling mudah sebenarnya adalah <strong>berusaha untuk menontonnya secepat mungkin</strong>, kalau bisa di hari perdana penayangannya. Seperti yang sudah Penulis sebutkan di atas, Penulis rela berangkat jam 4 pagi demi menghindari <em>spoiler</em> film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-2-plot-holes/">Avengers: Endgame</a></em>.</p>



<p>Kalau tidak memungkinkan bagaimana? Setidaknya <strong>jangan gunakan media sosial</strong> sampai menonton filmnya juga menjadi cara yang ampuh. Apalagi, <em>spoiler </em>bisa dengan mudah berseliweran lewat Reels, Shorts, atau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a> yang seringnya muncul begitu saja tanpa ada peringatan.</p>



<p>Bagaimana dengan kawan &#8220;jahil&#8221; yang tiba-tiba mengirim sesuatu ke kita atau grup? Kalau Penulis, <strong>jangan buka apapun yang ia kirimkan</strong>. Kalau perlu, untuk sementara blokir saja nomornya. Kalau sudah nonton filmnya, barulah kita buka kembali blokiran tersebut.</p>



<p>Untuk orang yang suka memberikan <em>spoiler </em>secara langsung, apakah ada cara untuk menghindarinya? Ya, <strong>jangan dekat-dekat dengan mereka</strong> terlebih dahulu. Kalau perlu, ikat dan lakban saja mulutnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Azab yang Cocok untuk Tukang Spoiler?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-4-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-6059" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-4-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-4-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-4-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/azab-tukang-spoiler-4.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mari Kita Doakan agar Tukang Spoiler Segera Bertaubat (Photo by <a href="https://unsplash.com/@masjidmpd">Masjid Pogung Dalangan</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejujurnya pertanyaan ini Penulis gunakan sebagai <em>click bait </em>saja agar judul artikel ini lebih menarik. Tentu kata &#8220;azab&#8221; terdengar berlebihan untuk sebuah perbuatan yang bisa dianggap remeh seperti memberikan <em>spoiler</em>, walau memberi <em>spoiler </em>memang merugikan orang lain.</p>



<p>Setahu Penulis (silakan koreksi jika salah) <strong>membuat orang lain merasa kecewa atau marah termasuk dosa</strong>, walau Penulis tidak tahu dosanya seberat apa. Mungkin yang memberi <em>spoiler </em>akan memiliki kepuasan diri, tapi yang terkena <em>spoiler </em>akan merasa sebaliknya.</p>



<p>Mungkin para tukang <em>spoiler </em>ini <strong>perlu belajar berempati</strong> untuk mengetahui perasaan orang-orang yang tidak ingin terkena <em>spoiler</em>. Coba posisikan diri sebagai mereka, bagaimana kecewa, marah, dan menurunnya antusiame dalam menonton film tersebut ketika mereka diberi <em>spoiler</em>.</p>



<p>Lagipula, memberikan <em>spoiler </em>kepada orang lain sama sekali tidak ada manfaatnya, kecuali memang orang tersebut sedang mencari <em>spoiler.</em> Bukankah kita dituntut oleh agama agar bisa bermanfaat untuk orang lain, dan bukan justru merugikannya?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Karena kerja di bidang media yang sering membahas <em>pop culture</em>, bisa dibilang Penulis sering sudah tahu sebuah <em>spoiler </em><strong>bahkan sebelum filmnya rilis</strong>. Ada banyak <em>leaker </em>yang memberikan informasi ini dan banyak orang yang ingin mengetahuinya.</p>



<p>Penulis bukan mau sok suci, karena kadang pun masih memberikan <em>spoiler</em> dengan maksud jahil atau bercanda. Tentu saja, &#8220;korban yang menjadi target&#8221; pun sudah Penulis pilih yang sekiranya tidak akan marah jika kena <em>spoiler</em> (kalau kesal masih mungkin).</p>



<p>Namun, Penulis menyadari ada orang-orang yang sangat tidak menolerir <em>spoiler </em>karena tidak ingin kehilangan momen. Perasaan terkejut, senang, sedih, dan lainnya ketika menonton film untuk pertama kalinya akan pudar begitu saja jika kita sudah diberi <em>spoiler</em>.</p>



<p>Untuk itu, ada baiknya jika kita bisa <strong>menahan diri untuk tidak memberikan <em>spoiler </em></strong>ke orang lain karena, menurut Penulis, banyak mudaratnya daripada positifnya (atau malah tidak ada?). Biarkan orang-orang bisa merasakan sensasi menonton film seperti seharusnya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 21 Oktober 2022, terinspirasi setelah ada seorang kawan yang dengan jahilnya memberikan <em>spoiler </em>film <em>Black Adam</em></p>



<p>Foto: <a href="https://www.bostonglobe.com/ideas/2018/10/27/why-little-evil-good-and-lot-empathy-bad/lsJyWqUrkHWrYLcTtnTQyI/story.html">The Boston Globe</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler/">Azab Apa yang Cocok untuk Tukang Spoiler?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/azab-apa-yang-cocok-untuk-tukang-spoiler/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berempati ke Villain ala Demon Slayer</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/berempati-ke-villain-ala-demon-slayer/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/berempati-ke-villain-ala-demon-slayer/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2022 14:32:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Demon Slayer]]></category>
		<category><![CDATA[Dragon Ball]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[manga]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[villain]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5904</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun sudah populer mulai tahun 2019-an, baru akhir-akhir ini Penulis menonton anime dan membaca manga Demon Slayer atau Kimetsu no Yaiba. Alasannya pun sederhana, karena tersedia di Disney+, sehingga Penulis tertarik untuk menontonnya. Salah satu alasan mengapa Penulis tidak dari dulu menontonnya adalah karena dirinya bukan tipe penonton yang suka dengan anime serius. Penulis lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/berempati-ke-villain-ala-demon-slayer/">Berempati ke Villain ala Demon Slayer</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Meskipun sudah populer mulai tahun 2019-an, baru akhir-akhir ini Penulis menonton anime dan membaca manga <em><strong>Demon Slayer</strong> </em>atau <em><strong>Kimetsu no Yaiba</strong></em>. Alasannya pun sederhana, karena tersedia di Disney+, sehingga Penulis tertarik untuk menontonnya.</p>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis tidak dari dulu menontonnya adalah karena dirinya bukan tipe penonton yang suka dengan anime serius. Penulis lebih suka anime yang santai dan <em>slice of life</em>. Itu juga yang menjadi alasan mengapa dulu Penulis tidak menonton <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/setelah-attack-on-titan-tamat/">Attack on Titan</a></em>.</p>



<p>Namun, setelah menontonnya, Penulis malah merasa ketagihan. Hanya dalam waktu singkat, Penulis berhasil melibas semua episode anime dan <em>chapter </em>manganya. Melihat animasi pertarungan dan jalan ceritanya benar-benar menimbulkan kepuasan tersendiri.</p>



<p>Setelah menamatkannya, ada satu hal menarik dari anime ini yang ingin Penulis bahas pada tulisan ini: Bagaimana setiap <em>villain </em>memiliki latar belakang cerita yang seolah bertujuan untuk menimbulkan empati pada penontonnya. <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em></p>





<h2 class="wp-block-heading">Menengok Anime Shounen Zaman Dulu</h2>



<p>Setahu Penulis, <em>Demon Slayer </em>termasuk anime/manga bergenre <em>shounen </em>yang ditujukan untuk penonton/pembaca laki-laki. Oleh karena itu, Penulis ingin membandingkan anime ini dengan &#8220;sesepuhnya&#8221; anime <em>shounen</em>, <em><strong><a href="https://whathefan.com/animekomik/tulisan-kurang-penting-tentang-karakter-anime-favorit/">Dragon Ball</a></strong></em>, terutama dari segi <em>villain </em>yang dimiliki.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5907" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Villain </em>yang Benar-Benar Jahat (<a href="https://pagelagi.com/dragon-ball-z-all-of-friezas-fights-from-worst-to-best-ranked/">PageLagi</a>)</figcaption></figure>



<p>Coba urutkan <em>villain </em>Goku mulai kecil hingga dewasa. Seingat Penulis, ada Emperor Pilaf, King Piccolo, bangsa Saiyan (Raditz, Nappa, Vegeta), Frieza, Cell, hingga Buu.<em> </em>Dari nama-nama tersebut, mayoritas pada akhirnya akan mampu dikalahkan oleh Goku dan kawan-kawan.</p>



<p>Pertanyaannya, apakah kita pernah berempati kepada <em>villain-villain </em>tersebut? Apakah kita pernah, misalnya, berempati kepada <strong>Cell</strong> karena ia punya masa lalu yang memilukan sebagai makhluk labotarium? Jawabannya hampir bisa dipastikan tidak ada.</p>



<p>Semua nama tersebut digambarkan sebagai sosok yang ingin menguasai dunia atau memang hanya ingin membuat kehancuran saja. Karakter hitam yang benar-benar hitam. Mereka benar-benar murni jahat sehingga harus dikalahkan oleh jagoan-jagoan kita.</p>



<p>Para <em>villain </em>tersebut juga hampir tidak pernah memiliki adegan <em>flashback</em> yang menceritakan masa lalunya. Kita tidak pernah melihat bagaimana masa kecil <strong>Frieza</strong> hingga ia menjadi pemimpin pasukan antariksa yang begitu ditakuti.</p>



<p>Bahkan, <strong>Raditz</strong> yang notebene kakak kandung Goku juga tidak memilikinya, walau seharusnya bisa disisipkan seperti teringat orang tuanya. Alur ceritanya benar-benar lurus dan karakter <em>villain</em>-nya dibuat sejahat dan sebengis mungkin, seolah mereka tak punya hati.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5908" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Masa Lalu Madara (<a href="https://fishtank-sandbox-n.fandom.com/wiki/Madara_Uchiha">Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal yang berbeda Penulis temui di anime-anime <em>shounen</em> baru. Di <em><strong><a href="https://whathefan.com/animekomik/memaknai-kesepian-ala-naruto-dan-sasuke/">Naruto</a></strong> </em>misalnya, di mana adegan <em>flashback-</em>nya memiliki adegan <em>flashback</em>, <em>villain </em>seperti <strong>Madara Uchiha</strong> pun memiliki <em>backstory </em>yang menjadi alasan mengapa ia menjadi <em>villain</em>.</p>



<p>Ketika ada karakter <em>villain </em>yang akan tewas seperti <strong>Kisame</strong> atau <strong>Konan</strong>, kita akan diperlihatkan bagaimana masa lalu mereka. Ada beberapa <em>villain </em>yang tidak diperlihatkan bagaimana kisah masa lalunya, tapi kebanyakan memilikinya.</p>



<p>Dari anime <em><strong><a href="https://whathefan.com/animekomik/sekolah-superhero-ala-my-hero-academia/">My Hero Academia</a></strong></em>, kita pernah melihat bagaimana masa lalu yang pilu dari para <em>villain</em>-nya, mulai dari <strong>Tomura Shigaraki</strong>, <strong>Himiko Toga</strong>, hingga <strong>Dabi</strong>. Nah, di anime <em>Demon Slayer </em>malah Penulis merasa hal tersebut jauh lebih parah lagi. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Asal Mula Iblis Tercipta di Demon Slayer</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5909" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Nenek Moyang Bangsa Ibis (<a href="https://www.imdb.com/title/tt9913030/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p><em>Demon Slayer </em>adalah anime yang mengangkat tema manusia melawan iblis. Para manusia harus bisa bertahan dari bangsa iblis pimpinan <strong>Muzan Kibutsuji</strong> yang memakan manusia. Untuk itu, dibuatlah korps bernama Hashira untuk memusnahkan bangsa iblis tersebut.</p>



<p>Iblis di anime ini bukanlah makhluk yang berasal dari neraka. Muzan adalah iblis pertama yang ada di dunia, hasil dari memakan Spider Blue Lily ketika ia sakit parah. Semenjak itu, ia jadi memakan manusia dan akan hangus jika terpapar matahari.</p>



<p>Muzan juga memiliki kemampuan mengubah manusia menjadi iblis melalui darahnya. Jadi, seluruh iblis yang ada di anime ini berasal darinya, termasuk Nezuko Kamado yang merupakan adik dari protagonis utama, Tanjiro Kamado.</p>



<p>Kemampuan mengubah manusia menjadi iblis ia manfaatkan demi menemukan cara untuk bisa bertahan hidup di bawah matahari atau menemukan lagi bunga Spider Blue Lily . Untuk itu, ia memiliki pasukan elit yang terdiri dari iblis-iblis terkuat. </p>



<p>Mereka disebut sebagai <em><strong>Jūnikizuki</strong></em> atau <em><strong>Twelve Demon Moons</strong></em>, yang terbagi menjadi peringkat atas dan peringkat bawah sesuai dengan tingkat kekuatannya. Menariknya, mayoritas dari mereka selalu memiliki masa lalu yang akan menimbulkan empati.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memahami Mengapa Mereka Menjadi Jahat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5910" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Daki, Salah Satu Iblis Peringkat Atas (<a href="https://www.cbr.com/demon-slayer-daki-name-origins-meaning/">CBR</a>)</figcaption></figure>



<p>Saat Tanjiro kita mulai berhadapan dengan iblis-iblis tingkat atas seperti <strong>Kyogai</strong> (mantan peringkat bawah enam) dan <strong>Rui</strong> (peringkat bawah lima), di situlah kita mulai diperlihatkan masa lalu para <em>villain </em>yang cukup panjang.</p>



<p>Setelah keduanya kalah, Muzan membunuh semua iblis peringkat bawah kecuali satu iblis, yaitu <strong>Enmu</strong> yang menjadi <em>villain </em>utama dalam <em>arc </em>Mugen Train. Kita tidak akan diperlihatkan masa lalu para iblis peringkat bawah yang dibunuh Muzan tersebut.</p>



<p>Nah, sejak itulah satu per satu kita akan melihat semua masa lalu para <em>villain </em>tersebut sesuai dengan urutan kematiannya. Setelah Enmu, ada <strong>Daki</strong> (dan <strong>Gyutaro</strong>) yang merupakan iblis peringkat atas enam dan menjadi <em>villain </em>utama di <em>arc </em>Entertainment District.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-5-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5911" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-5-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-5-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-5-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-5.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Berhasil Menimbulkan Empati (<a href="https://www.technadu.com/demon-slayer-season-2-ending-and-post-credit-explained/329561/">TechNadu</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai contoh adegan yang bisa menimbulkan empati, kita bisa melihat masa lalu Daki yang mengenaskan, di mana kakaknya yang buruk rupa sering mendapatkan perlakukan buruk, sedangkan dirinya sendiri sempat dibakar hidup-hidup yang membuatnya trauma dengan api.</p>



<p>Saat berada di <em>limbo</em>, Daki menunjukkan sisi manusianya yang begitu menyayangi kakaknya. Ia bahkan rela untuk masuk ke dalam neraka, asalkan dirinya tetap bisa bersama kakaknya tersebut.</p>



<p>Pada akhirnya, semua iblis kuat yang tersisa (termasuk Muzan sendiri) akan selalu mengulangi pola tersebut -kita akan diperlihatkan masa lalunya ketika mereka masih belum menjadi iblis sebelum kematiannya. </p>



<p>Ini seolah menyiratkan kalau mereka menjadi jahat karena sesuatu, bukan murni jahat seperti <em>villain </em>di <em>Dragon Ball.</em> Ada sesuatu yang tragis, yang mengubah para iblis yang dulunya manusia tersebut, memilih jalan kegelapan. Empati pun muncul dari penonton.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Boleh Berempati ke Villain?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-6-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-5913" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-6-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-6-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-6-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/empati-ke-villain-ala-demon-slayer-6.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Villain yang Menumbuhkan Empati (<a href="https://wechoiceblogger.com/how-old-wenwu-is-in-shangchi/">Wechoiceblogger</a>)</figcaption></figure>



<p><em>Villain </em>yang memiliki latar belakang kompleks jelas memiliki daya tarik tersendiri bagi penonton, karena apa yang ditonton tidak sekadar hitam putih yang sangat jelas. Tidak hanya di anime, di film pun sering menggunakan &#8220;teknik&#8221; ini.</p>



<p>Contoh di Marvel, di mana ada sebagian penonton yang berempati kepada <a href="https://whathefan.com/animekomik/antara-eren-thanos-dan-hitler/"><strong>Thanos</strong></a> yang hanya ingin menyelamatkan alam semesta atau <strong>Wenwu</strong> yang hanya ingin bertemu istrinya. Motivasi atau latar belakang perbuatan mereka didasari oleh sesuatu yang jelas.</p>



<p>Bandingkan dengan <strong>Steppenwolf</strong> dari film <em>Justice League</em>. Motivasinya yang &#8220;ingin mengusai dunia&#8221; terasa membosankan, sehingga ia pun mudah terlupakan. Hal yang sama juga terjadi pada <em>villain-villain </em>Marvel yang memiliki motif serupa.</p>



<p>Untuk itu, Penulis menganggap apa yang dilakukan oleh <em>Demon Slayer </em>kepada para <em>villain </em>adalah upaya untuk meningkatkan daya tarik sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam kepada penontonnya, walau kadang Penulis merasa porsinya agak berlebihan.</p>



<p>Meskipun perbuatan kejam yang para <em>villain </em>lakukan tidak bisa dibenarkan, setidaknya kita bisa melihat sisi lain dari mereka yang membuat kita tidak mudah menghakimi mereka sebagai karakter yang mutlak jahat.</p>



<p>Tampaknya, hal ini akan semakin dikembangkan lagi, terutama untuk anime yang bergenre <em>shounen</em>, demi menambah bumbu cerita yang mengena di hati penonton. Empati kepada para <em>villain </em>seolah mengingatkan kita, kalau tidak ada orang yang benar-benar jahat. Ataukah ada?</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 25 Agustus 2022, terinspirasi setelah menyadari betapa banyaknya adegan masa lalu para <em>villain </em>di anime <em>Demon Slayer</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/berempati-ke-villain-ala-demon-slayer/">Berempati ke Villain ala Demon Slayer</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/berempati-ke-villain-ala-demon-slayer/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dimengerti dengan Mengerti</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2019 02:56:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mengerti]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[simpati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1996</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Kamu tuh enggak pernah ngertiin aku&#8220;. Mungkin para pembaca sekalian sering membaca dialog seperti itu di sinetron-sinetron yang sering digugat oleh para penonton televisi. Meskipun kalimat tersebut identik dengan wanita, bukan berarti hal tersebut tidak dirasakan oleh para lelaki. Penulis yakin ada laki-laki yang merasa begitu walaupun mungkin tak diucapkan secara langsung. Merasa tidak dimengerti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Dimengerti dengan Mengerti</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>&#8220;<em>Kamu tuh enggak pernah ngertiin aku</em>&#8220;. Mungkin para pembaca sekalian sering membaca dialog seperti itu di sinetron-sinetron yang sering digugat oleh para penonton televisi.</p>



<p>Meskipun kalimat tersebut identik dengan wanita, bukan berarti hal tersebut tidak dirasakan oleh para lelaki. Penulis yakin ada laki-laki yang merasa begitu walaupun mungkin tak diucapkan secara langsung.<br></p>



<h3 class="wp-block-heading"> <strong>Merasa tidak dimengerti oleh orang lain</strong> </h3>



<p>Perasaan ini dapat muncul apabila harapan kita mengenai perlakuan orang lain kepada kita tidak sesuai dengan ekspetasi.</p>



<p>Tentu, tidak ada yang senang ketika dicuekin atau dianggap tidak ada oleh orang lain (atau mungkin ada?). Mayoritas dari kita berharap bisa menjadi bagian dalam kelompok masyarakat yang ada, karena kita makhluk sosial bukan?</p>



<p>Tentu kita semua ingin orang bisa memahami apa yang kita rasakan. Kita ingin orang lain bisa merasakan apa yang kita rasakan. Bahkan kalau bisa, orang lain akan paham tanpa menunggu kita bercerita.</p>



<p>Permasalahannya, seringkali kita tidak menyadari bahwa bisa jadi kita tidak dimengerti karena <strong>kita tidak mau mengerti orang lain</strong>.  </p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="720" height="493" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1508834633996-7ca4bc707cf8.jpg" alt="" class="wp-image-1998" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1508834633996-7ca4bc707cf8.jpg 720w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1508834633996-7ca4bc707cf8-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1508834633996-7ca4bc707cf8-130x90.jpg 130w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption>Pahami Orang Lain (<a href="https://unsplash.com/@rawpixel">rawpixel</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin kita sama sekali menutup mata terhadap perasaan orang lain, sehingga orang lain pun melakukan hal yang sama kepada kita. Mungkin kita sama sekali tidak pernah berusaha berempati kepada perasaan orang lain, sehingga orang lain berlaku sama.</p>



<p>Karena tidak menyadari penyebabnya, kita justru menjadi merasa tidak disukai dengan orang lain karena tidak ada yang mau mengerti dengan kita. Kita merasa dibenci karena tidak ada yang peduli dengan hidup kita.</p>



<p><em>Overthinking</em> semacam ini membuat kita akan capek sendiri. Sudah belum tentu benar, kita akan menjadi stres karenanya. Ujung-ujungnya, kita malah mengisolasi diri dari pergaulan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="720" height="469" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1493836512294-502baa1986e2.jpg" alt="" class="wp-image-1999" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1493836512294-502baa1986e2.jpg 720w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1493836512294-502baa1986e2-300x195.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption>Jadi Stres Sendiri (<a href="https://unsplash.com/@tjump">Nik Shuliahin</a>) </figcaption></figure>



<p>Jika kita merasa tidak dimengerti oleh orang lain, coba tengok ke dalam diri sendiri. Mungkin, kita belum mengerti orang lain dengan baik sehingga orang pun tidak bisa mengerti diri kita dengan baik.</p>



<p>Sebelum ingin dimengerti oleh orang lain, mari belajar untuk mengerti orang lain terlebih dahulu.  </p>



<p>Kurangi ego yang dimiliki dan buang jauh-jauh segala prasangka buruk yang meracuni pikiran. Tingkatkan empati dan simpati yang dimiliki untuk orang lain. </p>



<p>Mungkin pembaca bisa menambahkan lagi langkah-langkah yang harus dilakukan.</p>



<p><strong>Lalu bagaimana jika kita sudah berusaha mengerti orang lain tapi tetap saja tidak ada yang mengerti kita? </strong></p>



<p>Mungkin &#8220;kode&#8221; yang kita buat terlalu rumit untuk orang lain. Kenapa tidak bicara saja terus terang apa mau kita? Daripada <em><a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">nyindir</a></em><a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/"> di media sosial</a> dengan harapan orang lain peka, lebih baik kita utarakan saja apa yang kita inginkan.</p>



<p>Dengan memberikan kejelasan apa yang ingin dimengerti dari kita kepada orang lain, tentu kita bisa berekspetasi orang lain akan lebih mudah memahami kita. </p>



<p>Tak perlulah menjadi mesin <strong>Enigma</strong> yang rumit, sehingga orang lain harus menjadi <strong>Alan Turing</strong> agar bisa memecahkan sandi rahasia yang kita buat.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Kebayoran Lama, 6 Januari 2019, terinspirasi suatu kejadian di suatu tempat yang dirahasiakan demi kebaikan bersama</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@benjaminsweet">Ben Sweet</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Dimengerti dengan Mengerti</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Hari untuk Pikiran Negatif</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Sep 2018 08:00:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir positif]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[keluhan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1355</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selalu usahakan untuk berpikir positif, apapun yang terjadi karena semua peristiwa memilih hikmah di baliknya. Tak peduli badai setinggi apa, tak peduli masalah seberat apa, kita harus tetap maju dengan optimisme tinggi. Ya, kurang lebih seperti itulah yang sering dikatakan para motivator, pun yang tertulis di buku-buku self-improvement yang sering penulis baca. Apakah salah memiliki pola pikir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/">Satu Hari untuk Pikiran Negatif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selalu usahakan untuk berpikir positif, apapun yang terjadi karena semua peristiwa memilih hikmah di baliknya. Tak peduli badai setinggi apa, tak peduli masalah seberat apa, kita harus tetap maju dengan optimisme tinggi.</p>
<p>Ya, kurang lebih seperti itulah yang sering dikatakan para motivator, pun yang tertulis di buku-buku <em>self-improvement </em>yang sering penulis baca. Apakah salah memiliki pola pikir selalu positif seperti itu? Entahlah, penulis sendiri belum bisa berada di posisi seperti itu.</p>
<p>Penulis tentu berusaha untuk mengaplikasikan pola hidup selalu berpikir positif. Malu dong jika buku bacaannya macam Awaken the Giant Within-nya Anthony Robbins tapi suka berpikir negatif tentang dirinya sendiri. Hanya saja, penulis membutuhkan satu hari untuk membuang pikiran-pikiran yang menumpuk di sudut kepala penulis.</p>
<p>Realistis saja, penulis tentu masih sering berpikir negatif, seperti &#8220;duh kok gak dapet-dapet kerja ya&#8221; atau &#8220;kok hidup gini banget ya&#8221;. Nah, dengan menerapkan hidup positif, ketika pikiran tersebut muncul, otak kita akan segera meminggirkannya ke pinggir-pinggir. Persis ketika kita sedang menyapu rumah.</p>
<p>Apa yang akan kita lakukan jika kotoran sudah menumpuk? Tentu membuangnya ke tempat sampah. Lantas, di mana kita bisa membuang pikiran-pikiran negatif yang sudah menumpuk tersebut?</p>
<p>Jika levelnya sudah level ahli ibadah, ia akan &#8220;menumpahkan&#8221; semuanya ke Tuhan. Lewat alunan doa ia curhat kepada Sang Pemilik Hidup. Setelah mencurahkan segala macam yang membebaninya, ia akan merasa lebih segar dan siap untuk menjalani hidup lebih baik.</p>
<p><div id="attachment_1372" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1372" class="size-full wp-image-1372" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash.jpg" alt="" width="1000" height="669" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash-300x201.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash-768x514.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash-356x238.jpg 356w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1372" class="wp-caption-text">Curhat ke Tuhan (Photo by Aliko Sunawang on Unsplash)</p></div></p>
<p>Bagaimana jika belum? Kalau penulis, belum bisa seratus persen seperti contoh di atas. Penulis masih membutuhkan orang-orang yang penulis percayai untuk mendengarkan segala keluh kesah yang penulis rasakan. Penulis masih membutuhkan orang-orang yang bisa mendengarkan dengan penuh empati dan berusaha untuk membangkitkan kembali semangat penulis. Penulis masih membutuhkan orang-orang yang peduli dan berusaha memberi motivasi untuk penulis.</p>
<p>Penulis akan merasa <em>plong </em>setelah membuang segala pikiran negatif yang telah tertumpuk tersebut. Penulis akan merasa lebih baik dan kembali semangat menjalani hidup. Penulis juga merasa, penulis tidak boleh mengecewakan orang-orang yang telah mendukung kita dengan sepenuh hati.</p>
<p>Kapankah satu hari tersebut? Tergantung. Penulis melakukannya kapan saja selama pikirannya sudah terasa penuh hingga penulis bingung mau melakukan apa. Asal jangan terlalu sering juga, misal dua hari sekali. Semakin lama jangka waktunya, penulis rasa semakin bagus.</p>
<p>Jika pembaca termasuk orang yang sudah bisa menerapkan konsep berpikir positif secara menyeluruh, kalian luar biasa. Untuk yang belum, mungkin saja cara penulis bisa ditiru, walaupun cara tersebut belum teruji secara klinis dan tidak pernah melewati serangkaian uji labotarium.</p>
<p>Mengalokasikan satu hari untuk membuang segala pikiran negatif murni berdasarkan pengalaman penulis pribadi, hasil perenungan bukan penelitian. Semoga saja dengan menuliskan hal ini bisa membawa kebaikan untuk pembaca sekalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 22 September 2018, terinspirasi setelah awal bulan ini menggunakan satu hari untuk mengeluarkan segala keluh kesah kepada seorang kawan</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/akT1bnnuMMk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Eric Ward</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/sad?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/">Satu Hari untuk Pikiran Negatif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>(Bukan) Pendengar yang Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2018 17:46:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>
		<category><![CDATA[solusi]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=962</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selama ini penulis sering menganggap dirinya seorang pendengar yang baik. Ketika ada orang yang bercerita kepada penulis, penulis akan berusaha mendengarkannya sepenuh hati dan memberikan masukan-masukan yang penulis anggap cocok. Apalagi setelah membaca buku tulisan John C. Maxwell yang memaparkan beberapa tips agar bisa menjadi pendengar yang baik, penulis semakin besar kepala. Dalam buku yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/">(Bukan) Pendengar yang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selama ini penulis sering menganggap dirinya seorang pendengar yang baik. Ketika ada orang yang bercerita kepada penulis, penulis akan berusaha mendengarkannya sepenuh hati dan memberikan masukan-masukan yang penulis anggap cocok.</p>
<p>Apalagi setelah membaca buku tulisan John C. Maxwell yang memaparkan beberapa tips agar bisa menjadi pendengar yang baik, penulis semakin besar kepala. Dalam buku yang penulis lupa judulnya, ada empat hal yang membantu kita menjadi pendengar yang baik:</p>
<ol>
<li><strong>Berfokus Pada</strong> <strong>Orangnya</strong>, dan tunggu hingga ia selesai bercerita</li>
<li><strong>Jangan Tutupi Telinga Anda</strong></li>
<li><strong>Dengarkan dengan Agresif</strong>, dengarkan dengan penuh perhatian</li>
<li><strong>Simaklah dengan Tujuan untuk Memahami</strong></li>
</ol>
<p>Ternyata itu semua salah besar! Setidaknya, ada yang salah dari cara penulis mendengar. Ini baru penulis sadari ketika membaca buku <em>Men are from Mars, Women are from Venus</em> karangan John Gray,terutama di bab 2.</p>
<p>Ketika ada wanita yang menceritakan permasalahannya, mereka <strong>tidak menginginkan</strong> <strong>solusi</strong><em>.</em> Mereka <strong>hanya ingin didengar</strong> dan mendapatkan<strong> empati yang tulus</strong> dari pendengarnya.</p>
<p><div id="attachment_964" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-964" class="size-full wp-image-964" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_.jpg" alt="" width="900" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_-356x178.jpg 356w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-964" class="wp-caption-text">Beda Perlakuan (via www.huffingtonpost.com)</p></div></p>
<p>Pantas saja sewaktu ada teman perempuan penulis bercerita dan penulis berusaha menghadirkan solusi, ia justru semakin cemberut. Tentu penulis merasa bingung karena merasa tidak ada yang salah dengan solusi penulis.</p>
<p>Lain halnya jika yang bercerita pria. Karena berlandaskan logika, mereka bercerita dengan berharap akan adanya jawaban dari masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka ingin bertukarpikiran untuk membuka cakrawala pikiran mereka. Wanita tidak membutuhkan itu, kecuali jika mereka memang memintanya di awal sebelum bercerita.</p>
<p>Masalahnya, pria memang cenderung berorientasi pada penyelesaian masalah, sehingga setiap cerita yang ia dengar dianggap sedang mencari penyelesaian. Perbedaan inilah yang sering kali mengakibatkan pertikaian antara pria dan wanita.</p>
<p>Setelah mengetahui fakta ini, penulis berusaha menata ulang pola pikir penulis dalam mendengarkan orang lain berdasarkan gendernya. Menghadirkan solusi untuk pria, mendengarkan penuh empati untuk wanita.</p>
<p>Semoga saja tidak ada lagi perasaan sombong dalam diri penulis yang merasa dirinya pendengar yang baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 5 Juni 2018, terinspirasi setelah membaca buku <em>Men are from Mars, Women are from Venus</em></p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.theguardian.com">www.theguardian.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/">(Bukan) Pendengar yang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Statistik Kematian</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 14:50:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[korban]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[statistik]]></category>
		<category><![CDATA[tewas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=553</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;1 kematian adalah tragedi. 1000 kematian adalah statistik.&#8221; Penulis lupa ini quote siapa, yang jelas ada orang yang pernah berkata demikian. Hal ini memperlihatkan betapa mirisnya kehidupan manusia. Saat ada satu orang artis meninggal, semua ikut menyampaikan turut berduka cita. Namun saat ada ribuan orang meninggal karena kelaparan, kita diam. Mengapa bisa demikian? Penulis menilai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/">Statistik Kematian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;1 kematian adalah tragedi. 1000 kematian adalah statistik.&#8221;</em></p>
<p>Penulis lupa ini quote siapa, yang jelas ada orang yang pernah berkata demikian. Hal ini memperlihatkan betapa mirisnya kehidupan manusia. Saat ada satu orang artis meninggal, semua ikut menyampaikan turut berduka cita. Namun saat ada ribuan orang meninggal karena kelaparan, kita diam.</p>
<p><strong>Mengapa bisa demikian?</strong></p>
<p>Penulis menilai ada dua penyebabnya. Yang pertama, tentang siapa orang tersebut. Jika seorang ilmuwan terkenal yang telah menelurkan banyak karya untuk kemajuan umat manusia, tentu kepergiannya membuat kita merasakan kehilangan.</p>
<p>Beda dengan, misalkan, ada beberapa orang yang tewas terkena rudal Israel. Kita tidak tahu siapa mereka dan apa peranan mereka di dunia. Karena kita tidak mengetahui mereka, empati kita tidak sebesar empati kita kepada meninggalnya orang terkenal.</p>
<p>Yang kedua, peran media dalam memberitakan peristiwa kematian itu sendiri. Berita kematian vokalis band ternama akan terpampang menjadi headline, mengalahkan banyaknya pejuang jihad di timur tengah yang berusaha memperoleh keadilan.</p>
<p>Bukankah media mengikuti pasar, sehingga dapat disimpulkan pembaca atau pemirsa lebih tertarik dengan kematian satu orang terkenal daripada 1000 orang tidak dikenal? Atau, media kah yang membentuk pasar seperti itu, untuk menutupi-nutupi kematian 1000 orang tersebut?</p>
<p><strong>Lantas, apakah yang harus kita lakukan?</strong></p>
<p>Bijak dalam menyikapi berita kematian, siapapun itu. Apabila ada orang terkenal meninggal, tidak perlu sampai berlebihan dalam menyiarkan kabar itu, seperti memasang foto orang tersebut di status media sosial kita.</p>
<p>(Ini kritikan untuk penulis sendiri, setelah memasang foto Stephen Hawking pada Instagram whathefan, walaupun dasar dari postingan tersebut dikarenakan penulis penggemar ilmuwan tersebut <strong>#selainmemanfaatkanmomendemirating</strong>)</p>
<p>Lalu untuk kematian banyak orang yang tidak kita kenal, alangkah baiknya jika kita turut mendoakan mereka, semoga segala amalnya diterima dan diampuni dosa-dosanya. Terlebih lagi korban-korban yang meninggal karena kebiadaban bangsa lain.</p>
<p>Kalau media kurang gencar memberitakannya, kita bisa membantu menyiarkan kabar tersebut. Semoga, dengan mengetahui kabar tersebut, empati kita semakin terasah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Maret 2018, setelah latihan mewarnai di Photoshop</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.dalmeny.org/history/history-graveyard">http://www.dalmeny.org/history/history-graveyard</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/">Statistik Kematian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
