<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>etos kerja Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/etos-kerja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/etos-kerja/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 Feb 2020 11:40:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>etos kerja Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/etos-kerja/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>&#8220;Gapyear Dulu Kayaknya Enak&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gapyear-dulu-kayaknya-enak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Feb 2020 11:36:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etos]]></category>
		<category><![CDATA[etos kerja]]></category>
		<category><![CDATA[gapyear]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[santai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merasa bersyukur karena selepas SMA bisa langsung kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Ada beberapa teman Penulis yang harus mengalami masa gapyear terlebih dahulu karena belum diterima di jurusan dan kampus yang diinginkan. Bagi sebagian orang, gapyear adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindari. Kalau sudah lulus sekolah, ya langsung kuliah atau kerja sekalian. Hanya saja, Penulis melihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gapyear-dulu-kayaknya-enak/">&#8220;Gapyear Dulu Kayaknya Enak&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merasa bersyukur karena selepas SMA bisa langsung kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Ada beberapa teman Penulis yang harus mengalami masa <em>gapyear </em>terlebih dahulu karena belum diterima di jurusan dan kampus yang diinginkan.</p>
<p>Bagi sebagian orang, <em>gapyear </em>adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindari. Kalau sudah lulus sekolah, ya langsung kuliah atau kerja sekalian.</p>
<p>Hanya saja, Penulis melihat adanya fenomena di mana banyak murid yang ingin <em>gapyear </em>bukan karena keadaan, melainkan ingin merasakan bagaimana santainya kehidupan setelah 12 tahun masa sekolah yang berat.</p>
<h3>Mengisi <em>Gapyear </em>dengan Hal Produktif</h3>
<p>Ada beberapa alasan yang mengharuskan seorang murid harus rela &#8220;nganggur&#8221; setelah lulus sekolah. Selain karena belum diterima di tempat yang diinginkan, faktor ekonomi juga bisa jadi penentu.</p>
<p>Jika seperti itu, <em>gapyear </em>memang menjadi tidak terhindarkan. Biasanya, mereka akan menyiapkan diri agar tahun depan bisa kembali mengikuti berbagai tes masuk universitas dengan persiapan yang lebih matang.</p>
<p><em>Gapyear </em>juga dialami mereka yang mengincar masuk ke akademi polisi, militer, dan sejenisnya. Ketatnya persaingan membuat mereka harus tersisih, sehingga mereka kembali menggenjot fisik dan mental untuk tes di tahun berikutnya.</p>
<p>Banyak juga yang memilih untuk langsung bekerja demi mengumpulkan uang, sehingga tahun depan mereka bisa berkuliah dengan uang yang mereka kumpulkan tersebut.</p>
<p>Ada banyak hal produktif lain yang bisa dilakukan, seperti mengikuti berbagai jenis pelatihan atau seminar, banyak belajar hal baru, mendalami hobi atau <em>passion</em>, menjelajahi tempat-tempat baru, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sebuah penelitian menyebutkan kalau <em>gapyear </em>bisa memberikan dampak positif, mulai dari mendewasakan diri hingga memiliki banyak waktu untuk melakukan refleksi dan eksplorasi diri.</p>
<p>Seandainya <em>gapyear </em>diisi dengan hal-hal produktif seperti itu, tentu tidak ada masalah sama sekali. Yang menjadi masalah adalah ketika waktu luang tersebut digunakan untuk hal-hal yang kontraproduktif.</p>
<h3>Menyia-nyiakan Waktu di Masa <em>Gapyear</em></h3>
<p>Persaingan kerja di era sekarang cukup keras. Meningkatnya jumlah pengangguran menjadi salah satu bukti bahwa siapa yang tidak memiliki skill akan tersingkir dengan pahit.</p>
<p>Memutuskan untuk <em>gapyear </em>hanya karena ingin santai adalah salah satu hal yang cukup membuat tekanan darah Penulis naik. Satu tahun jelas bukan waktu yang sebentar.</p>
<p>Menganggur mungkin memang terasa sangat nikmat. Tidak ada kewajiban untuk bangun pagi, <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">bisa santai rebahan</a> dan bermain game sepuasnya, tidak lagi dibebani dengan tugas-tugas yang menjemukan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Percaya, itu hanya kelihatannya saja. Penulis sudah melakukan wawancara kepada orang-orang yang pernah atau sedang mengalami masa-masa <em>gapyear</em>. Mayoritas mengatakan bahwa menjalani <em>gapyear </em>sama sekali tidak enak.</p>
<p>Kenapa seperti itu? Banyak alasannya, mulai dari merasa bosan karena tidak ada sesuatu yang dikerjakan, mendengarkan cibiran dari orang lain, merasa malu jika bertemu dengan teman yang sudah kuliah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dengan memutuskan untuk <em>gapyear </em>tanpa benar-benar melakukan sesuatu yang berarti merupakan sebuah (maaf) kebodohan. Kita akan dilibas oleh orang-orang yang memiliki etos belajar dan kerja yang lebih tinggi.</p>
<p>Seandainya orangtua kita <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">berlimpah dengan <em>privilege</em></a>, mungkin kita bisa sedikit santai karena mau semalas apapun pasti dibantu. Masalahnya, tidak banyak orang yang mendapatkan hal tersebut.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis kembali menekankan kalau tidak ada yang salah dengan <em>gapyear</em>, selama diisi oleh sesuatu yang bermanfaat dan produktif. Jika hanya diisi dengan bermalas-malasan dan hal konsumtif seperti main game, ya salah.</p>
<p>Seharusnya, manusia lambat laun akan berada di posisi &#8220;<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mau-kayak-gini-sampai-kapan/">aku sampai kapan ya gini terus</a>&#8221; ketika sedang menganggur. Maka bahaya jika mereka-mereka yang berkeinginan untuk <em>gapyear </em>karena malas tidak merasakan hal tersebut.</p>
<p>Percayalah kalau <em>gapyear </em>itu lebih banyak tidak enaknya jika diisi dengan hal yang sia-sia. Ketika teman-teman sudah merasakan bangku kuliah dan menjalani lembaran hidup baru, kita malah masih berkutat di lubang yang sama.</p>
<p>Dunia ini makin ke sini makin keras. Kalau kita lembek sama diri sendiri, niscaya dunia akan menggilas kita habis-habisan. Tidak ada tempat untuk orang-orang yang terlalu santai (baca: malas) di dunia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari orang-orang yang berkeinginan untuk <em>gapyear </em>hanya karena ingin santai terlebih dahulu.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@drewcoffman">Drew Coffman</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.zenius.net/blog/19372/gap-year">Zenius</a>,</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gapyear-dulu-kayaknya-enak/">&#8220;Gapyear Dulu Kayaknya Enak&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2018 08:25:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[copas]]></category>
		<category><![CDATA[etos kerja]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lemah]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1117</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menurut pembaca, bagaimana etos kerja yang dimiliki oleh generasi sekarang? Cenderung lebih kuat dari generasi sebelumnya atau justru semakin melemah? Menurut penulis, jika melihat fenomena yang terjadi di sekeliling, penulis cenderung meyakini opsi yang kedua. Definisi Generasi Milenial Bagi Penulis Sebelumya, istilah generasi milenial sendiri memiliki beberapa tafsir pengertian. Ada yang menganggapnya generasi yang lahir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut pembaca, bagaimana etos kerja yang dimiliki oleh generasi sekarang? Cenderung lebih kuat dari generasi sebelumnya atau justru semakin melemah? Menurut penulis, jika melihat fenomena yang terjadi di sekeliling, penulis cenderung meyakini opsi yang kedua.</p>
<p><strong>Definisi Generasi Milenial Bagi Penulis</strong></p>
<p>Sebelumya, istilah generasi milenial sendiri memiliki beberapa tafsir pengertian. Ada yang menganggapnya generasi yang lahir di atas tahun 90an, ada yang mengatakan generasi ini lahir setelah pergantian abad, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis memilih definisi yang kedua, generasi milenial adalah generasi yang lahir di atas 2000an, karena terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara mereka dengan generasi yang sepantaran dengan penulis.</p>
<p>Pada tulisan-tulisan berikutnya, penulis akan tetap menggunakan definisi tersebut.</p>
<p><strong>Tukang Ngeluh</strong></p>
<p>Dalam etos kerja, ada dua hal yang menjadi pertimbangan penulis mengganggap generasi milenial kurang memiliki etos kerja. Yang pertama adalah mudah mengeluh, yang kedua adalah kebiasaan <em>copas </em>dalam menyelesaikan pekerjaan.</p>
<p>Pada tulisan kali ini, penulis hanya mengambil contoh bagaimana generasi milenial menghadapi tugas-tugas mereka di sekolah.</p>
<div id="attachment_1127" style="width: 660px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1127" class="wp-image-1127 size-full" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger.jpg" alt="" width="650" height="473" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger.jpg 650w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger-300x218.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/anger-350x255.jpg 350w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" /><p id="caption-attachment-1127" class="wp-caption-text">Hobi Mengeluh (https://www.mid-day.com/articles/what-makes-teenagers-so-angry-and-aggressive/15600172)</p></div>
<p>Darimana penulis tahu mereka suka mengeluh? Ya dari postingan mereka sendiri. Ada pekerjaan rumah banyak, bikin status, curhat. Besok ulangan, bikin status lagi. Setiap ada pekerjaan yang dirasa berat, mereka akan membagi apa yang mereka rasakan di media sosial.</p>
<p>Padahal yang mereka hadapi baru <em>pekerjaan sekolah</em>, belum <em>ujian hidup</em>. Semoga saja dengan semakin bertambahnya kedewasaan mereka, mereka akan menyadari bahwa tugas-tugas yang mereka kerjakan itu bukanlah sesuatu yang patut untuk dikeluhkan.</p>
<p><strong>Asal Copas</strong></p>
<p>Parameter yang kedua adalah kemudahan mengakses informasi yang disalahgunakan. Ini penulis ketahui dari narasumbernya langsung, yang mengeluh karena temannya dalam kerja kelompok hanya asal <em>copas </em>dalam mengerjakan bagian tugasnya.</p>
<p>Ketika penulis masih sekolah, bertahun-tahun yang lalu, internet sudah ada, meskipun untuk mengaksesnya kita harus ke warnet terdekat. Penulis juga mengumpulkan data-data untuk tugas dari sana.</p>
<p>Bedanya, penulis membaca data tersebut, memahami, lalu membuat ringkasannya. Bukannya mau menyombongkan diri, tapi penulis merasa bahwa itu seharusnya menjadi hal yang biasa dilakukan oleh para pelajar di Indonesia.</p>
<div id="attachment_1126" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1126" class="size-large wp-image-1126" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-1024x727.jpeg" alt="" width="1024" height="727" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-1024x727.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-300x213.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-768x545.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg-356x253.jpeg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/1_sglxoCq-p9gbefsUfGaNlg.jpeg 2000w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1126" class="wp-caption-text">Copas (https://medium.com/digital-identity/copy-paste-inc-d9a99f4a4b6a)</p></div>
<p>Jika hanya asal <em>copas</em>, lantas ilmu apa yang akan kita peroleh? Jangankan memahami, membaca saja tidak. Hanya mencari kata kunci yang pas, dibaca judul dan beberapa paragraf awal, lantas di-<em>copas </em>jika dirasa sesuai dengan pertanyaan.</p>
<p>Itulah yang terjadi jika sistem pendidikan lebih mementingkan nilai daripada ilmu pengetahuan.</p>
<p><strong>Kenapa Bisa Begitu?</strong></p>
<p>Menurut analisa sederhana penulis sebagai pengamat generasi milenial, banyak sekali faktor yang mempengaruhi fenomena ini. Kemajuan teknologi sudah tidak perlu dibahas secara rinci karena sudah terlalu sering dibahas.</p>
<p>Kalau menurut penulis, salah satu yang vital namun jarang disadari adalah, kita terbuai oleh media sosial, apapun bentuknya, mulai YouTube, Instagram, hingga Tik Tok. Kita tanpa sadar diperbudak oleh aplikasi-aplikasi tersebut hingga betah berada di depan layer ponsel berjam-jam.</p>
<div id="attachment_1129" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1129" class="size-full wp-image-1129" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600.png" alt="" width="800" height="429" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600.png 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600-300x161.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600-768x412.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Social-Media-e1518208936600-356x191.png 356w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-1129" class="wp-caption-text">Membuai Kita (https://www.adlibbing.org/2018/02/12/4-lessons-from-top-social-media-publishers/)</p></div>
<p>Di mana korelasinya dengan lemahnya etos kerja? Coba bayangkan, berapa banyak jam dalam satu hari yang kita habiskan untuk berselancar melihat berbagai macam hal yang mungkin kurang penting.</p>
<p>Karena menikmati berbagai fasilitas tersebut, akhirnya kita jadi menunda-nunda dalam mengerjakan tugas. Tugas yang menumpuk inilah yang pada akhirnya membuat kita menjadi mengeluh dan asal <em>copas</em>. Siklus ini terjadi berulang-ulang sehingga secara tidak sadar menjadi sebuah kebiasaan.</p>
<p>Faktor keluarga dan sistem pendidikan juga bisa menjadi faktor yang berpengaruh, namun pada tulisan kali ini penulis tidak akan membahasnya lebih dalam. Ada juga faktor membudayanya <em>mager</em> yang telah penulis bahas pada tulisan lainnya (Baca Juga: <a href="http://whathefan.com/2018/07/06/bahaya-mager-dan-apatis/">Bahaya Mager dan Apatis</a>).</p>
<p><strong>Lantas, Apa Solusinya?</strong></p>
<p>Mau bagaimana pun, semua tidak akan berhasil jika tidak diawali dari diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa kita harus memiliki etos kerja yang tinggi agar dapat <em>survive </em>dari persaingan hidup yang nantinya akan semakin keras ini.</p>
<p>Jika semenjak usia sekolah kita menjadi generasi yang mudah mengeluh dan asal-asalan dalam mengerjakan tugas, bagaimana kita akan selamat dari ketatnya dunia kerja?</p>
<p>Ahmad Rifa’i Rifan pernah menulis buku “Jangan Mau Jadi Orang Rata-Rata”. Penulis belum pernah membaca buku tersebut, akan tetapi dari buku lainnya penulis bisa sedikit banyak memahami pesan apa yang ingin disampaikan.</p>
<p>Intinya, jangan sampai kita menjadi orang-orang pada umumnya, kita harus bisa menjadi orang yang special dengan caranya masing-masing. Jangan sampai keberadaan kita di dunia tidak ada artinya.</p>
<div id="attachment_1130" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1130" class="size-large wp-image-1130" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/carl-heyerdahl-181868-unsplash.jpg 1440w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1130" class="wp-caption-text">Lakukan Lebih (https://unsplash.com/photos/KE0nC8-58MQ)</p></div>
<p>Sebagai contoh, jika etos kerja orang rata-rata, katakanlah, di <em>grade</em> 6, maka minimal kita harus memiliki etos kerja di <em>grade </em>7, lebih bagus kalau bisa lebih tinggi. Jika orang rata-rata hanya mengerjakan apa yang diperintahkan, kita harus bisa berinisiatif melakukan apalagi yang bisa dilakukan.</p>
<p>Mungkin jika dilihat dari sudut material, apa yang kita kerjakan sama dengan apa yang orang rata-rata kerjakan. Tapi percayalah, masih banyak sudut-sudut yang lebih berharga dari itu. Minimal, Tuhan melihat kita berusaha lebih keras dari orang rata-rata.</p>
<p>Penulis percaya tidak semua generasi milenial seperti itu. Bukan hobi penulis untuk melakukan generalisasi. Bagi generasi milenial yang tidak melakukan dua hal yang penulis katakan di atas, kalian luar biasa!</p>
<p>Oleh karena itu, pesan penulis untuk generasi milenial dan generasi-generasi yang lebih tua terutama diri penulis sendiri, tingkatkanlah etos kerja yang kita miliki. Milikilah semangat juang yang tinggi dalam mengarungi lautan kehidupan, jangan pantang menyerah menghadapi badai cobaan yang menghadang. Semoga tulisan ini membawa kebaikan untuk kita semua, dan jangan lupa bahagia hari ini 😊!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Bersambung ke tulisan berikutnya, Pengaruh Karakter dalam Etos Kerja Generasi Milenial)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kayuringin, Bekasi, 11 Agustus 2018, terinspirasi oleh berbagai status dan keluhan generasi milenial.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.teenlife.com/blogs/how-to-encourage-a-lazy-teen">https://www.teenlife.com/blogs/how-to-encourage-a-lazy-teen</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
