<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ilmu Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ilmu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ilmu/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:33:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>ilmu Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ilmu/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Untuk Apa Belajar Sejarah?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2020 11:23:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4057</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari tweet milik Budiman Sujatmiko, Penulis mengetahui rencana pemerintah untuk membuat mata pelajaran Sejarah tidak wajib untuk anak sekolah. Wacana ini muncul sebagai bentuk penyederhanaan kurikulum untuk siswa. Hal ini tentu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi, isu ini muncul menjelang peringatan 30 September sehingga banyak yang mengkaitkannya dengan peristiwa naas tersebut. Nadiem Makarim selaku Mendikbud [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari <em>tweet </em>milik Budiman Sujatmiko, Penulis mengetahui rencana pemerintah untuk membuat <strong>mata pelajaran Sejarah tidak wajib</strong> untuk anak sekolah. Wacana ini muncul sebagai bentuk penyederhanaan kurikulum untuk siswa.</p>
<p>Hal ini tentu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi, isu ini muncul menjelang peringatan 30 September sehingga banyak yang mengkaitkannya dengan peristiwa naas tersebut.</p>
<p>Nadiem Makarim selaku Mendikbud sudah memberikan klarifikasi dengan menyatakan rencana ini sebenarnya merupakan materi yang hanya dibahas di dalam internal dan tanpa sengaja bocor ke publik.</p>
<p>Terlepas dari mana yang benar, Penulis secara pribadi tidak setuju jika mata pelajaran ini dihapuskan. Selain karena menyukainya, ada banyak alasan mengapa kita butuh belajar sejarah.</p>
<h3>Mengetahui Peristiwa-Peristiwa di Masa Lampau</h3>
<p>Apa jadinya jika kita tidak mengetahui kapan Indonesia merdeka? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu siapa <em>founding father </em>kita? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu berapa lama kita dijajah oleh bangsa asing secara kejam?</p>
<div id="attachment_4061" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4061" class="size-large wp-image-4061" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4061" class="wp-caption-text">Pengetahuan Dasar (<a href="https://proklamator.id/dua-bung-dwitunggal-abadi-sukarno-hatta/"><span class="pM4Snf">Proklamator</span></a>)</p></div>
<p>Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi jika kita tidak pernah mempelajari sejarah. Ada banyak peristiwa penting yang akan terlupakan begitu saja.</p>
<p>Dengan mempelajari sejarah, kita bisa <strong>mengetahui peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau</strong>. Ini alasan yang paling dasar, menambah pengetahuan kita.</p>
<p>Percayalah, akan ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari sejarah.</p>
<h3>Sebagai Refleksi</h3>
<p>Dari pengalaman Penulis, pelajaran sejarah memang kerap dianggap sebagai pelajaran yang membosankan karena harus menghafalkan banyak sekali materi. Apalagi yang berkaitan dengan angka seperti tanggal, minta ampun rasanya.</p>
<div id="attachment_4062" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4062" class="size-large wp-image-4062" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4062" class="wp-caption-text">Berkaca Pada Masa Lalu (<a href="https://tirto.id/dosa-dan-jasa-soeharto-untuk-indonesia-chKe">Tirto</a>)</p></div>
<p>Seharusnya, sejarah tidak dijadikan hanya sebagai hafalan semata. Kita harus bisa menjadikan berbagai peristiwa di masa lampau <strong>sebagai refleksi untuk masa sekarang</strong>.</p>
<p>Penulis pernah membaca kalau kejadian hari ini hanyalah sejarah yang berulang. Ada pola-pola yang kerap berulang di dalam kehidupan ini.</p>
<p>Dari <em>Zenius</em>, Penulis mengetahui kalau ada tiga pola yang kerap berulang di dalam sejarah:</p>
<ol>
<li>Penguasa terkuat selalu yang paling toleran</li>
<li>Tidak ada harga yang naik selamanya</li>
<li>Pemerintahan dengan kontrol ekstrim, berujung pada pelanggaran HAM</li>
</ol>
<p>Kalau kita mengalami salah satu dari tiga kondisi yang terpapar di atas, seharusnya kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan dengan mempelajari sejarah.</p>
<h3>Menumbuhkan Empati</h3>
<p>Memang pahit, tapi kebanyakan peristiwa sejarah yang kita pelajari merupakan peristiwa yang kelam, bahkan menakutkan. Perang, pembantaian, krisis, dan lain sebagainya.</p>
<div id="attachment_4063" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4063" class="size-large wp-image-4063" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4063" class="wp-caption-text">Menambah Rasa Syukur (<a href="https://eaworldview.com/2019/03/yemen-forgotten-war-will-britain-ever-care/">EA Worldview</a>)</p></div>
<p>Namun, mempelajari itu semua dapat <strong>menumbuhkan empati </strong>dari dalam diri. Tumbuh rasa syukur karena kita tidak perlu mengalami kejadian seperti yang dialami oleh korban di dalam sejarah.</p>
<p>Ada banyak sekali nilai moral yang bisa kita petik dari peristiwa-peristiwa sejarah dan ini tidak bisa kita dapatkan dengan mudah di era yang egosentris seperti sekarang.</p>
<p>Ketika melihat kenyataan bahwa kebanyakan generasi milenial sekarang cenderung apatis dan acuh terhadap sekitarnya, bisa jadi karena rendahnya minat mereka untuk mempelajari sejarah.</p>
<h3>Memunculkan Inspirasi Sekaligus Motivasi</h3>
<p>Karena Penulis lebih sering membaca daripada menonton, Penulis terbiasa untuk berimajinasi ketika membayangkan peristiwa-peristiwa sejarah yang sedang dibaca. Dari imajinasi tersebut, terkadang <strong>berubah menjadi inspirasi</strong>.</p>
<div id="attachment_4064" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4064" class="size-large wp-image-4064" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4064" class="wp-caption-text">Sejarah yang Menginspirasi (<a href="https://www.newsweek.com/garage-band-68117">Newsweek</a>)</p></div>
<p>Contoh ketika Penulis membaca sejarah berdirinya Apple, Penulis jadi bercita-cita untuk bisa punya perusahaan sendiri karena tahu Steve Jobs memulai perusahaannya dari garasi rumahnya.</p>
<p>Sejarah juga <strong>bisa menjadi motivasi</strong> yang baik. Jika mengalami kegagalan, biasanya Penulis teringat Thomas Alva Edison yang gagal ribuan kali sebelum berhasil menemukan lampu pijar. Gagal masuk perguruan tinggi? Albert Einstein pernah tidak lulus sekolah.</p>
<p>Mereka yang jenius saja bisa mengalami gagal, apalagi kita yang biasa-biasa ini. Kita memang harus terjatuh agar bisa belajar untuk bangkit.</p>
<h3>Meningkatkan Kemampuan Analisa dan Berpikir Kritis</h3>
<p>Menurut Budiman Sujatmiko, mempelajari sejarah juga mampu <strong>meningkatkan kemampuan analisa dan mengasah logika</strong>. Bagaimana caranya? Dengan membayangkan jika sebuah peristiwa terjadi secara berbeda dari kenyataannya.</p>
<div id="attachment_4065" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4065" class="size-large wp-image-4065" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4065" class="wp-caption-text">Mengasah Pikiran (<a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Dunkirk">Wikipedia</a>)</p></div>
<p>Misalkan ketika peristiwa <em>Dunkirk</em> yang terkenal hingga diangkat menjadi sebuah film. Bagaimana seandainya Hitler memutuskan untuk menghabisi Pasukan Inggris dan Prancis yang sudah terjepit?</p>
<p>Apakah Jerman akan menjadi pemenang mutlak dan fasisme akan menguasai tanah Eropa? Apakah Amerika Serikat akan jadi ragu untuk mengirimkan bala bantuan? Apakah umat Yahudi akan benar-benar habis di kamp konsentrasi?</p>
<p>Mempelajari sejarah juga akan mengajak kita untuk <strong>berpikir kritis</strong> sehingga tidak mudah terbawa arus. Belajar sejarah membuat kita terbiasa untuk mengolah informasi.</p>
<p>Orang yang mempelajari sejarah seharusnya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">tidak akan mudah terpengaruh hoaks</a> karena pola pikirnya sudah terlatih untuk melihat peristiwa dari berbagai sudut.</p>
<p>Selain itu, kemampuan-kemampuan ini akan sangat bermanfaat jika kita sudah terjun ke dunia kerja dan berada di tengah-tengah masyarakat.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Itulah beberapa alasan yang Penulis rasakan sendiri selama mempelajari sejarah. Jika sedang berbincang dengan orang lain (terutama anak-anak <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a>), Penulis berusaha menyisipkan ilmu-ilmu sejarah yang Penulis ketahui kepada mereka.</p>
<p>Dari koleksi buku Penulis, ada berbagai macam topik sejarah yang bisa ditemukan seperti sejarah Perang Eropa, era Napoleon, biografi tokoh-tokoh Indonesia, sejarah Islam, dan lain sebagainya. Ada banyak sekali hal yang Penulis pelajari dari sana. Banyak sekali.</p>
<p>Belajar sejarah itu penting. <em>Quote</em> dari George Santayana di bawah ini menjadi penutup yang pas untuk tulisan ini:</p>
<blockquote><p>Those who do not remember the past are condemned to repeat it.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 22 September 2020, terinspirasi setelah membaca <em>tweet </em>dari Budiman Sujatmiko</p>
<p>Foto: <a href="https://id.pinterest.com/pin/316377942555858957/">Pinterest</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://twitter.com/budimandjatmiko/status/1306961192355639297">Twitter</a>, <a href="https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/20/173036965/klarifikasi-mendikbud-nadiem-soal-isu-penghapusan-pelajaran-sejarah?page=all">Kompas</a>, <a href="https://www.zenius.net/blog/14435/untuk-apa-belajar-sejarah">Zenius</a>, <a href="https://www.simulasikredit.com/alasan-mengapa-penting-belajar-sejarah/#:~:text=Terlepas%20suka%20atau%20tidak%2C%20belajar,sebab%20segala%20sesuatu%20memiliki%20sejarah.">SimulasiKredit</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 04:24:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[hebat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada tulisan-tulisan sebelumnya, penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata. Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">tulisan-tulisan sebelumnya,</a> penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini.</p>
<p>Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata.</p>
<p>Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. Tapi, benarkah seperti itu?</p>
<h3>Menjalankan Perintah, Menjauhi Larangan</h3>
<p>Jika memang benar penulis tidak pernah merasa lebih hebat dari Tuhan, seharusnya penulis bisa menjalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan baik sesuai yang tertuang di kitab suci ataupun sumber-sumber lain.</p>
<p>Kenyataannya, penulis masih sering melalaikan perintah-Nya dan melakukan apa yang telah dilarang-Nya. Padahal setiap perbuatan tersebut pasti ada ganjarannya, entah di dunia ataupun di akhirat nanti.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Ketika melakukan interopeksi, mungkin karena penulis kurang mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagai muslim, penulis termasuk jarang mendengarkan pengajian, baik secara langsung ataupun melalui YouTube.</p>
<p>Ibadah yang wajib pun terkadang masih ada yang tidak dilaksanakan. Dosa dan maksiat yang jelas-jelas dilarang pun masih sering dilakukan. Jika penulis benar-benar menjadi hamba-Nya yang taat, seharusnya hal tersebut tidak terjadi.</p>
<h3>Belajar Kepada yang Lebih Berilmu</h3>
<p>Jika mau sedikit lunak, sebenarnya apa yang penulis lakukan tersebut sangat manusiawi. Toh, manusia tidak bisa luput dari dosa. Yang bisa kita lakukan adalah belajar kepada yang lebih berilmu agar kita bisa semakin taat kepada-Nya.</p>
<p>Untuk urusan agama, yang lebih berilmu tentu saja ulama atau ustaz. Banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari ceramah-ceramah mereka. Apalagi, dengan adanya YouTube dan media sosial membuat kita bisa mengaksesnya lebih mudah.</p>
<p>Ketika menyampaikan suatu hukum dan lain sebagainya, mereka tentu merujuk kepada Alquran, Hadis, hingga pendapat-pendapat imam yang telah disepakati.</p>
<p>Karena Islam ada berbagai mazhab, perbedaan pandangan itu adalah hal yang lumrah. Kita bisa memilih mana yang paling membuat kita merasa yakin.</p>
<p>Nah, yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang membantah perkataan ulama hanya dengan menggunakan logika ataupun dalil kemanusiaan. Bagi penulis, ini salah besar.</p>
<p>Mungkin ada ustaz-ustaz yang kurang cocok dengan kita. Akan tetapi, jangan sampai kita membuat hukum sendiri karena keterbatasan ilmu kita. Jika kurang merasa sreg, coba cari perbandingan dengan ustaz lain.</p>
<p>Kalau penulis amati akhir-akhir ini, banyak orang yang langsung menghujat ustaz karena ceramahnya dianggap kontroversi. Mereka terlihat benci kepada ustaz yang apa-apa diharamkan.</p>
<p>Padahal, beliau mengutip dari sumber yang jelas. Kita pun kemungkinan jarang mendengarkan ceramah-ceramahnya yang lain. Lantas, mengapa kita bisa menjadi sangat <em>judgemental</em>?</p>
<p>Jika sudah demikian, bukankah kita seperti menentang ayat Tuhan? Kita ini siapa kok berani-beraninya meragukan ayat Tuhan.</p>
<h3>Agama Sebagai Bahan Bercanda</h3>
<p>Satu hal lain yang sering membuat penulis mengelus dada adalah ketika agama dijadikan sebagai bahan bercanda. Fenomena ini sering penulis temukan di Twitter.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak pernah tertawa ketika mendengar atau membaca sebuah candaan yang berkaitan dengan agama. Dalilnya di Alquran jelas.</p>
<blockquote><p><em>“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa </em>yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66]</p></blockquote>
<p>Tidak hanya agama yang penulis yakini, penulis juga sama sekali tidak senang ketika ada agama lain dijadikan bahan olok-olokan meskipun yang punya agama pun tertawa karenanya.</p>
<p>Penulis sendiri tidak habis pikir, mengapa fenomena ini seolah dianggap biasa saja. Apakah penulis yang terlalu kaku? Atau kita benar-benar telah merasa lebih hebat dari Tuhan?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Teman penulis pernah memberi teguran bahwa iman lebih diutamakan dibandingkan akal. Kita tidak bisa melihat atau mendengar Tuhan secara langsung, sehingga dibutuhkan keimanan untuk memercayai keberadaan-Nya.</p>
<p>Penulis bukannya mau sok suci atau merasa yang paling benar. Justru, penulis menulis ini sebagai pengingat diri agar tidak merasa lebih hebat dari Tuhan yang diyakini ada sejak kecil.</p>
<p>Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, terutama untuk diri penulis sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi oleh banyak hal yang membuat penulis banyak merenung</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@mindaugasbravo">Mindaugas Vitkus</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar: Proses Tiada Akhir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2018 02:50:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1874</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas. Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas.</p>
<p>Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang lebar pada tulisan <a href="http://whathefan.com/karakter/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a>.</p>
<h3>Definisi Belajar</h3>
<p>Sebenarnya, definisi belajar tidak sesempit itu. Ia memiliki makna yang lebih luas dari sekadar mengerjakan tugas. Bahkan di dalam KBBI, kata belajar setidaknya memiliki 3 definisi yang berbeda.</p>
<blockquote><p><b>1</b> berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu</p>
<p><b>2 </b>berlatih</p>
<p><b>3</b> berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman</p></blockquote>
<p>Proses belajar tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah maupun tempat les. <strong>Proses belajar bisa terjadi di mana saja</strong>. Penulis ambil contoh kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna</a> (Katar) di tempat tinggal penulis.</p>
<p>Program kerja yang dijalani Katar memberikan pelajaran hidup kepada anggota-anggotanya. Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">barang bekas</a> melatih anggota untuk memanfaatkan barang bekas yang telah tak terpakai.</p>
<p>Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> melatih anggota untuk bekerja dalam tim dalam memenangkan suatu kompetisi secara sehat. Bahkan kegiatan bermain <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">Werewolf</a> pun melatih kemampuan analisa anggota.</p>
<h3>Proses Tiada Akhir</h3>
<p>Bagaimana ketika kita berada di dunia kerja? Lebih banyak lagi pelajarannya, mungkin lebih banyak ketika kita berada di bangku kuliah. Yang jelas terlihat adalah kita belajar untuk mengerjakan tugas kita dengan baik.</p>
<p>Selanjutnya kita belajar beradaptasi di lingkungan yang baru, apalagi jika merantau ke kota orang seperti penulis. Dengan bekerja bersama orang-orang, kita juga belajar bagaimana berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang yang beragam.</p>
<p>Selain itu, kita juga harus aktif dalam mencari ilmu guna <strong>meningkatkan kemampuan yang dimiliki</strong>. Kita bisa bertanya kepada orang yang lebih ahli atau mencari materi di internet.</p>
<p>Jangan pernah bilang bahwa kita tidak tahu apa yang harus dipelajari. Jika muncul pemikiran seperti itu, kemungkinan kita merasa sudah cukup belajar sehingga tidak perlu menambah ilmu baru. Dan itu, menurut penulis, salah.</p>
<div id="attachment_1875" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1875" class="wp-image-1875 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644.jpg 1050w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1875" class="wp-caption-text">Proses Tiada Akhir (Foto oleh Priscilla Du Preez)</p></div>
<p>Belajar adalah <strong>proses tiada akhir</strong>. Setiap aktivitas dan interaksi yang kita lakukan adalah proses belajar, terlepas sadar maupun tidak. Manusia tidak boleh berhenti belajar dan merasa sudah paling pandai.</p>
<p>Tanya saja pak Habibie, yang penulis yakin masih belajar di usianya yang sudah <em>sepuh</em>. Tanya siapa saja orang-orang sukses yang kalian kenal, setidaknya mereka akan mengisi waktu mereka dengan membaca buku yang bermanfaat atau mengikuti seminar.</p>
<p>Memiliki rasa haus ilmu seperti <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/kekepoan-yang-hakiki-ala-thomas-alva-edison/">Edison</a> bisa menjadi modal yang bagus. Ilmu apapun (selama bermanfaat) tidak ada ruginya untuk dipelajari, entah ilmu negosiasi, komunikasi, marketing, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Dengan terus menerus tidak puas</strong> dengan pengetahuan yang dimiliki, kita tidak akan merasa bosan untuk belajar. Kita akan selalu merasa kurang dan hal tersebut menjadi motivasi agar kita tidak malas belajar.</p>
<p>Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kita harus memiliki nilai tambah agar bisa bersaing dengan orang lain. Nilai tambah itu bisa kita dapatkan dengan belajar, apapun bentuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Desember 2018, terinspirasi setelah sering mendapatkan &#8220;kelas tambahan&#8221; di kantor</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@craftedbygc">Green Chameleon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SWI Mengajar</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jan 2018 18:42:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Day]]></category>
		<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[gen]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Karang]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[swi]]></category>
		<category><![CDATA[taruna]]></category>
		<category><![CDATA[x]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=260</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika dibandingkan dengan Indonesia Mengajar, jelas sangat berbeda, baik lingkup maupun tujuan. Akan tetapi, dengan harapan bisa tertular semangat para pengajar muda yang berada dalam lembaga tersebut, SWI Mengajar kami gagas ketika pembentukan Karang Taruna. Alasan lainnya, kami yakin pendidikan adalah faktor penting dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa. SWI sendiri sebenarnya adalah nama lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika dibandingkan dengan Indonesia Mengajar, jelas sangat berbeda, baik lingkup maupun tujuan. Akan tetapi, dengan harapan bisa tertular semangat para pengajar muda yang berada dalam lembaga tersebut, SWI Mengajar kami gagas ketika pembentukan Karang Taruna. Alasan lainnya, kami yakin pendidikan adalah faktor penting dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa.</p>
<p>SWI sendiri sebenarnya adalah nama lingkungan dimana kami tinggal, yang merupakan akronim dari Sumber Wuni Indah. Maka banyak program kerja di Karang Taruna yang diawali dengan SWI untuk menegaskan bahwa program-program ini dilaksanakan di Sumber Wuni Indah. Jika mau lebih lengkap, harusnya ditulis PSWI (Perumahan Sumber Wuni Indah). Namun mungkin karena menghindari anggapan bahwa lingkungan kami ingin dianggap elit, maka kata Perumahan jarang dicantumkan.</p>
<p>Inti dari SWI Mengajar di sini adalah bagaimana anggota Karang Taruna saling membagi ilmunya kepada satu sama lain. Pada awal mulanya, anggota yang sudah duduk di bangku kuliah mengemban tanggung jawab tertinggi untuk mengajar adik-adiknya yang masih sekolah. Hanya saja, setelah banyak yang lulus dan kerja di luar kota, mau tidak mau anggota yang sudah SMA menjadi tumpuan untuk melanjutkan program ini.</p>
<p>Untuk saat ini, proses belajar masih antara anggota Karang Taruna. Ke depannya, kami berharap bahwa program ini juga dapat diikuti oleh adik-adik yang masih di tingkat sekolah dasar. Ini penting, karena adik-adik tersebut suatu saat juga akan menjadi anggota Karang Taruna, sehingga sejak dini kami perlu mengakrabkan diri dengan mereka agar mereka merasa nyaman ketika berkumpul dengan kami.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Selama satu tahun setengah berjalan, tentu banyak kendala yang terjadi dalam melaksanakan SWI Mengajar. Yang paling kentara adalah keaktifan anggota. Sempat beberapa kali program ini vakum di tengah jalan dengan kendala tersebut. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah &#8220;lebih senang belajar sendiri&#8221;. Kami akui, ketika proses belajar sedang berlangsung, terselip gurauan-gurauan yang bisa memecah konsentrasi. Oleh karena itu, SWI Mengajar lebih sesuai jika digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bukan belajar untuk ulangan.</p>
<p>Permasalahan lainnya adalah bagaimana jika anggota yang datang tidak mempunyai PR ataupun pertanyaan yang ingin diajukan. Solusinya, untuk saat ini adalah diadakannya SWI English Day, program kerja lainnya yang dulu pernah mati suri. Dulu, program dengan tujuan melancarkan anggota berbicara dalam bahasa Inggris ini dilaksanakan setiap hari Kamis. Kami harus berbicara bahasa Inggris terhadap sesama anggota, baik ketika bertemu langsung maupun di grup WA. Program ini terhenti karena dirasa memberatkan anggota.</p>
<p>SWI English Day yang diterapkan di SWI Mengajar dibuat lebih sederhana. Kami hanya melatih <em>daily conversation </em>sederhana, sesuatu yang menurut beberapa anggota tidak diajarkan secara rutin di sekolah. Padahal, banyak guru bahasa Inggris saya yang berpendapat bahwa <em>conversation </em>lebih penting daripada <em>grammar</em>. Setelah dua kali uji coba, dapat disimpulkan bahwa anggota hanya kurang percaya diri saja ketika berbicara bahasa Inggris. Untuk masalah <em>vocabulary </em>dan tata letak kalimat, bisa menyusul.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Karena termasuk anggota tua di Karang Taruna, saya sering menempatkan diri sebagai pengajar. Akan tetapi, justru saya yang mendapatkan banyak pelajaran dari program ini.</p>
<p style="text-align: left;">Pertama, program ini menyadarkan salah satu <em>passion </em>saya, yakni membagi ilmu yang saya miliki. Saya menemukan kepuasan apabila penjelasan saya dapat dipahami oleh yang meminta penjelasan.</p>
<p style="text-align: left;">Kedua, saya menjadi terpacu untuk menjadi dosen. Selain mendapatkan amalan yang tak putus, saya bisa mengajak mahasiswa saya untuk berperan aktif di lingkungannya melalui Karang Taruna.</p>
<p>Yang terakhir, saya menyadari kemampuan komunikasi saya dalam menyampaikan informasi masih payah, terutama jika sesuatu yang akan disampaikan tidak dipersiapkan terlebih dahulu alias spontan. Dengan adanya SWI Mengajar, secara perlahan saya bisa melatih dan mengembangkan kemampuan ini agar apa yang saya sampaikan dapat diterima oleh yang mendengar.</p>
<p>Bukankah itu inti dari komunikasi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Januari 2018, setelah bermain FIFA 18 bersama Ekky dan Abil</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jan 2018 16:07:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[angkasa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[hawking]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jenius]]></category>
		<category><![CDATA[laniakea]]></category>
		<category><![CDATA[luar]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[sains. astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=237</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar mempelajari alam semesta.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, saya bertemu dengan Stephen Hawking, seorang jenius yang menjadi profesor di Cambridge, melalui karya-karyanya. Ia terkenal karena menuliskan alam semesta dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang awam. Buku pertama yang saya beli adalah <em>My Brief History</em>, sebuah autobiografi dari seorang Hawking. Meskipun judulnya autobiografi, tetap saja di dalamnya berisi banyak rumus-rumus astronomi yang susah dipahami.</p>
<p>Meskipun di buku pertama mengalami kesulitan dalam memahami isinya, saya tidak kapok untuk kembali membeli buku Hawking yang lainnya. Buku kedua yang saya miliki adalah <em>George&#8217;s Secret Key to the Universe</em>, sebuah novel anak yang beliau tulis bersama anaknya, Lucy. Karena buku anak, tentu sangat mudah untuk memahami isi novel ini.</p>
<p>Karyanya yang paling fenomenal, <em>A Brief History of Time, </em>menjadi buku ketiga yang saya miliki. Buku ini pun juga membuat saya mengerutkan dahi karena bahasanya yang tinggi. Meskipun demikian, tetap saja saya tidak kapok membeli buku Hawking. Maka <em>The Grand Design </em>yang ditulis dengan bahasa filsafat pun telah berada di rak buku sebagai bagian dari koleksi.</p>
<div id="attachment_240" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-240" class="wp-image-240 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg" alt="" width="1024" height="494" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-300x145.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-768x370.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-356x172.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1.jpg 1263w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-240" class="wp-caption-text">Buku-Buku Hawking (via https://pics-about-space.com/stephen-hawking-black-holes-book?p=4)</p></div>
<p>Selain dari buku, saya pun melihat acara televisinya di <em>National Geographic</em> yang berjudul <em>Genius</em>. Penjelasan berbagai fenomena alam dengan menggunakan analogi yang mudah dipahami membuat saya terpukau dengan berbagai keajaiban alam.</p>
<p>Sebagai contoh, dalam membuktikan bahwa Bumi itu bulat, relawan dalam acara tersebut (satu episode diikuti oleh tiga orang relawan) menggunakan sinar laser dari pinggir pantai -sinar laser dipilih karena arah cahayanya yang lurus. Dalam jarak tertentu, mereka membandingkan tinggi sinar laser tersebut, hingga pada jarak terjauh mereka harus menggunakan helikopter. Selain bisa membuktikan bahwa teori bumi datar itu salah, dengan menggunakan hasil percobaan tersebut kita bisa membuat persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung keliling Bumi.</p>
<p>Akan tetapi, episode yang paling berkesan bagi saya adalah ketika episode yang menerangkan ukuran alam semesta. Di akhir acara, ditampilkan sebuah animasi yang berawal dari Bumi, lalu Bumi mengecil hingga tampak <em>solar system </em>kita, lalu mengecil lagi hingga nampak galaksi kita, <em>milky way, </em>mengecil lagi hingga ke <em>supercluster </em>kita, <em>Laniakea</em>. Animasi ini semakin menjauh dan mengecil hingga ke tingkat yang sangat susah dipercaya oleh nalar.</p>
<p>Alam semesta seringkali menjadi bahan perenungan saya. Saat menyadari bagaimana posisi Bumi di alam semesta, saya merasa kecil, merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta, apalagi dengan Tuhan yang dengan segala kuasa-Nya dapat membuat alam semesta ini begitu teratur. Dengan mengetahui keteraturan alam semesta ini, niscaya semakin tebal pula keimanan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, saya akan tetap mendalami alam semesta kita, walaupun buku-buku yang menjelaskan tentangnya susah untuk dicerna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Januari 2018, setelah bermain game Age of Empires III</p>
<p>Sumber Foto:  <a href="http://www.howitworksdaily.com)">www.howitworksdaily.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jan 2018 15:01:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[barat]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=146</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Sejarah adalah milik para pemenang&#8221; Saya lupa kutipan diatas bersumber dari siapa, tapi secara garis besar memiliki makna bahwa pemenang (dalam hal ini, perang) dapat membuat sejarah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Dewasa ini, mayoritas sejarah dibuat oleh peradaban Barat sebagai pemenang dalam menyebarkan hegemoni mereka. Oleh karena itu, jangan heran apabila hampir semua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/">Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Sejarah adalah milik para pemenang</em>&#8221;</p>
<p>Saya lupa kutipan diatas bersumber dari siapa, tapi secara garis besar memiliki makna bahwa pemenang (dalam hal ini, perang) dapat membuat sejarah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Dewasa ini, mayoritas sejarah dibuat oleh peradaban Barat sebagai pemenang dalam menyebarkan hegemoni mereka.</p>
<p>Oleh karena itu, jangan heran apabila hampir semua penemuan yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan barat seperti Galileo Galilei dan Isaac Newton. Padahal, banyak literatur yang menyebutkan bahwa mereka mendapatkan berbagai sumber pengetahuan dari ilmuwan Islam, ketika barat masih berada pada masa kegelapan.</p>
<p>Berawal dari sebuah diskusi, saya menamatkan sebuah buku dalam 2 hari (tepatnya 5 jam) berjudul Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb. Di dalam buku tersebut dijelaskan informasi mengenai betapa Islam menjadi pemimpin dalam segala bidang ilmu pengetahuan sebelum barat keluar dari era kegelapannya. Berbagai buku ditulis dan dijadikan acuan oleh cendekiawan barat, yang sayangnya banyak dihancurkan terutama oleh bangsa Mongol.</p>
<p>Masa keemasan Islam memang telah lewat beberapa abad yang lalu, namun jejaknya masih nampak hingga kini meskipun berusaha disamarkan oleh beberapa pihak. Sebagai umat Islam, mengetahui bahwa Islam pernah berdiri di puncak tertinggi ilmu pemgetahuan harus bisa menjadi motivasi agar tidak pernah lelah dalam mencari ilmu.</p>
<p>Umat Islam, terutama generasi muda, harus mengenal para ilmuwan Muslim selain ilmuwan barat yang ada di buku teks sekolah, sehingga pola pikir mereka tidak menganggap bahwa orang hebat hanya orang Barat. Banyak ilmuwan Islam yang sejatinya tidak kalah dari tokoh-tokoh yang digembar-gemborkan oleh pemenang perang tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 5 Januari 2018, setelah membaca buku Lost Islamic History kayprya Firas Alkhateeb</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.infobiografi.com/biografi-dan-profil-lengkap-al-khawarizmi-tokoh-penemu-aljabar/">http://www.infobiografi.com/biografi-dan-profil-lengkap-al-khawarizmi-tokoh-penemu-aljabar/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/">Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
