<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kecewa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kecewa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kecewa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Apr 2023 13:58:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kecewa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kecewa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2023 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6435</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221; -Ali bin Abi Thalib- Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, berharap kepada sesama manusia menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut. Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221;</p>



<p>-Ali bin Abi Thalib-</p>
</blockquote>



<p>Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, <strong>berharap kepada sesama manusia</strong> menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan kita kepada orang lain. Setidaknya, Penulis merasa seperti itu hingga pada akhirnya tersadar dalam satu titik dan membuat dirinya melakukan refleksi diri tentang apa itu berharap kepada manusia.</p>





<p>Mari kita renungkan. Ketika kita <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">menolong seseorang</a>, apakah kita berharap ia membalas kebaikan kita atau apa yang kita lakukan tanpa pamrih? Apakah kita sebenarnya berharap setidaknya yang ditolong memberikan respons yang baik?</p>



<p>Ketika kita berhasil mengerjakan pekerjaan di tempat kerja dengan baik, apakah kita berharap mendapatkan pujian dan bonus dari atasan? Apakah kita sebenarnya berharap kalau derajat kita di mata kolega kantor menjadi lebih tinggi?</p>



<p>Ketika kita merasa membutuhkan pertolongan dari orang lain, apakah kita benar-benar menggantungkan diri kepada orang tersebut? Apakah kita sebenarnya lupa kalau yang bisa menolong kita hanyalah Tuhan, yang bisa menolong lewat perantara apapun?</p>



<p>Ketika kita berbuat baik di lingkungan, apakah kita berharap akan disanjung oleh para warga yang melihatnya? Apakah kita sebenarnya melakukannya hanya demi terlihat baik di mata orang lain dan melupakan esensi dari perbuatan baik yang dilakukan.</p>



<p>Ketika kita menyayangi seseorang, apakah kita berharap ia akan menyayangi kita juga? Apakah kita ingin diperlakukan oleh dia sebagaimana kita memperlakukan mereka? Apakah kita sebenarnya hanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">menuruti hawa nafsu</a> semata yang berkedok cinta?</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Itu adalah beberapa contoh bentuk &#8220;berharap kepada manusia&#8221; yang setidaknya Penulis sadari pernah (dan mungkin masih) dilakukan. Memang kesannya semua hal tersebut manusiawi dan wajar saja jika terjadi. Namanya juga manusia.</p>



<p>Namun, Penulis menyadari bahwa berharap kepada manusia dalam bentuk apapun kerap kali menimbulkan perasaan kecewa, jika harapan tersebut tidak terwujud. Bahkan, tak jarang jika hal tersebut justru berbalik menjadi hal yang buruk ke kita.</p>



<p>Contohnya, kita berharap kepada kawan kita untuk menolong kita. Ternyata, kita justru dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Orang yang kita percayai sebegitu tingginya, ternyata menusuk kita dari belakang. Ia menghancurkan harapan kita begitu saja.</p>



<p>Kita berharap ke sesama manusia begitu tinggi, sehingga seolah melupakan adanya peran Tuhan dalam kehidupan kita. Memang, pada prakteknya rasanya hampir mustahil kita tidak berharap kepada manusia. </p>



<p>Rasanya sulit untuk tidak berharap mendapatkan bonus jika target di tempat kerja berhasil dicapai sebelum tenggat dan kita selalu bekerja melebihi <em>workload </em>yang diberikan. Rasanya sulit untuk berbuat baik tanpa mendapatkan apresiasi yang cukup.</p>



<p>Hampir mustahil rasanya kita tidak berharap dicintai oleh orang yang kita cintai. Perasaan kompleks yang dimiliki oleh manusia ini sangat &#8220;haus&#8221; akan balasan, sehingga rasanya sulit untuk bisa mencapai level &#8220;menyayangi dengan ikhlas&#8221; dan tidak mengharapkan balasan.</p>



<p>Yang ingin Penulis ingatkan untuk dirinya sendiri di tulisan ini adalah, setidaknya, mampu mengurangi kadar berharap ke manusia. Penulis ingat kalau sebagai sesama manusia, kita ini sama-sama makhluk yang lemah dan penuh dengan kekurangan.</p>



<p>Mengapa tidak berharap ke entitas yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, yakni <strong>Tuhan</strong>? Secara logika, tentu kita seharusnya berharap kepada sesuatu yang lebih kuat dari kita, bukan kepada yang satu level atau bahkan lebih rendah levelnya dari kita.</p>



<p>Ketika kita menolong orang atau berbuat baik, lebih baik kita niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika kita melakukan pekerjaan dengan baik, niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika mencintai seseorang, niatkan untuk mendapatkan rida Tuhan.</p>



<p>Penulis bukan tipe orang yang super religius yang keimanan dan ketakwaannya sudah selangit sehingga sudah tidak pernah berharap ke manusia. Justru, Penulis menulis artikel ini karena merasa dirinya masih sangat sering berharap kepada sesama manusia.</p>



<p>Semoga saja setelah menulis artikel ini, Penulis (dan Pembaca sekalian) bisa mulai mengurangi harapannya kepada sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, tentu kita tetap saling membutuhkan dan melakukan interaksi seperti pada umumnya.</p>



<p>Namun, sebisa mungkin kita tidak menggantungkan harapan apapun kepada sesama manusia. Selain karena lebih banyak membuat kecewanya, ada Tuhan yang lebih layak kita gantungkan harapan kepada-Nya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 April 2023, terinspirasi setelah menyadari (lagi) kalau berharap ke sesama manusia itu mengecewakan</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-female-mobster-pointing-the-gun-on-man-7299584/">cottonbro studio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2021 10:15:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ekspetasi]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5145</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bung Karno pernah membuat quote yang berbunyi, &#8220;bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.&#8221; Sayangnya realita berbicara lain, setidaknya menurut Penulis. Ketika kita memiliki harapan yang tinggi, jatuhnya juga akan tinggi. Kalau jatuhnya tinggi, rasa sakit yang diterima pun akan begitu terasa. Hal ini bisa berlaku di mana pun, entah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/">Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bung Karno pernah membuat <em>quote </em>yang berbunyi, &#8220;<em>bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang</em>.&#8221;</p>



<p>Sayangnya realita berbicara lain, setidaknya menurut Penulis. Ketika kita memiliki harapan yang tinggi, jatuhnya juga akan tinggi. Kalau jatuhnya tinggi, <strong>rasa sakit yang diterima pun akan begitu terasa</strong>.</p>



<p>Hal ini bisa berlaku di mana pun, entah itu masa depan, cita-cita, karir, percintaan, dan lain sebagainya. Semua hal yang bisa membuat kita berharap dapat membuat kita merasa sakit juga.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Bersiap untuk Merasa Kecewa</h2>



<p>Tulisan ini terinspirasi dari salah satu video dari Jerome Polin ketika ia membuat video ulang tahunnya. Pembaca bisa menonton videonya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="(10C3-110Ln(e)+13) TAHUN! AWALNYA MAU NGEPRANK, EH MALAH..." width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/MFAO1o5Dp8g?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ada satu <em>quote </em>darinya yang sangat cocok untuk tema tulisan kali ini, yakni:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Gak ada salahnya berekspetasi, tapi juga harus mempersiapkan hati untuk menerima fakta yang tidak menyenangkan.&#8221;</p><cite>Jerome Polin</cite></blockquote>



<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berharap, toh itu salah satu sifat dasar manusia. Hanya saja, kita juga harus mempersiapkan hati apabila yang diharapkan tidak terjadi.</p>



<p>Contohnya adalah kisah Jerome yang berharap akan diberikan kejutan oleh teman-temannya ketika jam 12 tepat. Ternyata tidak ada yang datang, walau akhirnya jam 1 lewat sedikit ada beberapa orang yang memberi kejutan.</p>



<p>Ketika kita berharap pada sesuatu, maka kita harus mempersiapkan diri apabila <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">harapan tersebut tidak terjadi</a>. Jangan hanya membayangkan senangnya saja, kecewanya pun harus dipersiapkan.</p>



<p>Penulis akan mengambil contoh harapan tentang hubungan kita dengan seseorang. Anggaplah kita menyayangi seseorang dan berharap bisa menjadi pasangannya. Sayangnya, harapan kita tidak terkabul karena cinta kita bertepuk sebelah tangan.</p>



<p>Salah seorang <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">&#8220;adik&#8221; Penulis</a> pernah berkata bahwa ketika ia sudah memutuskan untuk menyayangi seseorang, ia telah sadar perasaan tersebut sudah sepaket dengan perasaan kecewa.</p>



<p>Dalam contoh ini, berharap orang memberikan rasa sayang yang sebesar kita berikan bisa menimbulkan kekecewaan jika tidak terealisasi. Maka dari itu, ketika memutuskan untuk menyayangi seseorang, kita harus bersiap menelan pil terpahitnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Agar Jatuhnya Tidak Sakit</h2>



<p>Secara garis besar, ada dua cara yang bisa kita lakukan agar kita tidak terlalu merasa sakit ketika terjatuh: <strong>ekspetasinya yang diturunkan</strong> atau <strong>kitanya yang harus menguatkan diri</strong>.</p>



<p>Cara pertama, kita harus bisa mengukur seberapa ekspetasi yang dikeluarkan. Jangan sampai ekspetasi tersebut tidak realistis sehingga kemungkinan tidak jatuhnya kecil.</p>



<p>Mengelola harapan jelas bukan perkara mudah. Untuk masalah ini, kita harus menyadari bahwa ada kalanya kita tidak berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan dan percaya akan mendapatkan ganti yang lebih baik.</p>



<p>Cara kedua, ibaratnya seperti lagu <em>Terlatih Patah Hati </em>karya The Rain feat Endank Soekamti. Kita harus menempa diri hingga menjadi sosok yang tangguh dan seringnya hal ini bisa terjadi karena telah terbiasa.</p>



<p>Kalau kitanya bisa bertahan dari rasa sakit dan kecewa apapun, mau jatuh setinggi apapun kita akan tetap merasa kuat dan hanya merasa sedikit terluka. Dengan kepala tegak kita bisa kembali melanjutkan hidup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Mengulang perkataan Jerome, tidak ada yang salah dari berekspetasi. Hanya saja, kita juga harus mempersiapkan diri jika hal yang diinginkan tidak terjadi.</p>



<p>Semakin tinggi harapan, semakin tinggi pula jatuhnya jika tidak kesampaian. Oleh karena itu, kita yang harus pintar-pintar mengelola harapan atau melatih diri menjadi sosok yang bisa menahan sakitnya terjatuh.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 31 Juli 2021, terinspirasi setelah menonton video dari Jerome Polin</p>



<p>Foto: <a href="https://novocom.top/view/2e361f-anime-girl-falling-from-the-sky-base/">Anime Girl Falling From The Sky Base &#8211; Novocom.top</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/">Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dikecewakan Ekspektasi</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2020 16:01:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4004</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ekspektasi bisa dianggap sebagai harapan yang ingin dicapai. Mungkin banyak yang lebih mengenal lagu ini sebagai sebuah lagu dari Kunto Aji. Setiap individu memiliki ekspektasinya masing-masing di dalam hidupnya. Ada yang berekspektasi kaya raya, menikah dengan pengusaha, masuk ke universitas favorit, dan lain sebagainya. Sangat wajar jika manusia memiliki ekspektasi. Hanya saja, tak jarang pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">Dikecewakan Ekspektasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ekspektasi </strong>bisa dianggap sebagai harapan yang ingin dicapai. Mungkin banyak yang lebih mengenal lagu ini sebagai sebuah lagu dari Kunto Aji.</p>
<p>Setiap individu memiliki ekspektasinya masing-masing di dalam hidupnya. Ada yang berekspektasi kaya raya, menikah dengan pengusaha, masuk ke universitas favorit, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sangat wajar jika manusia memiliki ekspektasi. Hanya saja, tak jarang pada akhirnya kita <strong>dikecewakan oleh ekspektasi yang dibuat sendiri</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Apakah Penulis pernah dikecewakan oleh ekpektasinya sendiri? Tentu pernah, sering malah. Apalagi, Penulis termasuk<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/"> orang yang mudah <em>baper</em></a>.</p>
<p>Ekspektasi tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat materiil. Ada banyak <strong>kejadian sepele</strong> dalam kehidupan sehari-hari yang akan <strong>membuat kita berekspektasi</strong>.</p>
<p>Contoh, ketika kita berusaha memberikan kejutan kepada pacar. Kita berekspektasi pacar kita terkejut dan senang mendapatkan kejutan dari kita.</p>
<p>Ketika ternyata sang pacar mukanya flat aja dan memaksakan diri tersenyum hanya untuk menghargai upaya kita, perasaan kecewa akan muncul karena kenyataan berbeda dengan ekspektasi kita.</p>
<p>Contoh lain, ketika kita menawarkan bantuan kepada teman. Bukannya disambut, ia malah marah-marah karena merasa diremehkan. Kita akan kecewa karena kita berkekspektasi mendapatkan terima kasih, bukannya cemoohan.</p>
<p>Ada banyak sekali contoh dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi bukti kalau kita bisa mudah dikecewakan oleh ekspektasikan sendiri.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dalam tulisan <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/"><em>Peduli dengan Ikhlas Itu Berat</em></a>, Penulis menyebutkan kalau berbuat baik tanpa mengharapkan apapun itu berat. Penulis sendiri kadang masih merasa pamrih walau hanya berekspektasi mendapatkan respon yang diinginkan.</p>
<p>Demi menghindari munculnya rasa kecewa, kita harus bisa <strong>menekan ekspektasi</strong> tersebut. Mungkin tidak bisa dihilangkan total, tapi setidaknya kadarnya dikurangi.</p>
<p>Kalau misal ingin membuat kejutan untuk pacar, ya sudah buat aja kejutannya tanpa berharap yang muluk-muluk. Setidaknya, niat untuk membuatnya bahagia telah terlaksana.</p>
<p>Kalau misal ingin menawarkan bantuan untuk teman, ya sudah tawarkan saja tanpa mengharapkan akan mendapatkan respon yang positif. Mungkin dianya memang bukan tipe orang yang suka dibantu.</p>
<p>Secara teori hal ini mudah dilakukan. Secara praktik? Susahnya luar biasa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Bagaimana dengan ekspektasi-ekspektasi lain seperti ingin <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">kuliah di jurusan yang telah didambakan</a>? Pendekatannya berbeda, karena pasti kita akan menanamkan harapan yang besar di sana.</p>
<p>Untuk menghadapi ekspektasi seperti itu, yang bisa kita lakukan (selain tidak berharap berlebihan) adalah meyakini <strong>ada sebuah hikmah di balik semua peristiwa</strong>. Bahasa Inggrisnya, <em>every cloud has a silver lining</em>.</p>
<p>Yang perlu dicatat adalah setiap ekspektasi harus diiringi dengan usaha (dan doa) yang seimbang. Kalau mau kuliah di kampus favorit, ya berarti harus belajar dengan giat.</p>
<p>Jika kenyatannya harus tersingkir karena kalah dengan orang-orang yang punya <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">privilege</a>, </em>ya pasti kecewa. Tapi kita harus yakin kalau kejadian tersebut adalah yang terbaik untuk kita.</p>
<p>Berekspektasi untuk mendapatkan pasangan pengusaha? Ya ngaca dulu dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saling-memantaskan-diri/">pantaskan dirimu</a> terlebih dahulu. Berekspektasi jadi kaya raya? Ya <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">jangan kebanyakan <em>mager</em></a>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Tulisan ini jadi juga karena Penulis baru saja dikecewakan oleh ekspektasinya sendiri. Bahkan, hal ini telah berulang berkali-kali. Penulis saja yang terlalu tolol untuk mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<p>Penulis juga masih mencari-cari cara bagaimana kita bisa menekan ekspektasi diri karena harapan itu sudah menjadi bagian dari hidup manusia.</p>
<p>Tidak ada yang salah dari ekspektasi. Yang salah adalah jika kita <strong>berekspektasi terlalu banyak</strong>. Semakin banyak kita berkekspektasi, semakin besar peluang kita untuk merasa kecewa jika yang diekspektasikan tidak benar-benar terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Juli 2020, terinspirasi setelah dikecewakan oleh ekspektasi sendiri</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@mili_vigerova?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Milada Vigerova</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/cry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">Dikecewakan Ekspektasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengukur Keikhlasan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jan 2018 10:45:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[gen]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Karang]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[swi]]></category>
		<category><![CDATA[tadarusan]]></category>
		<category><![CDATA[tanggungjawab]]></category>
		<category><![CDATA[taruna]]></category>
		<category><![CDATA[x]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya mendapat pelajaran hidup pada hari Sabtu kemarin. Pada hari tersebut, untuk pertama kalinya di Karang Taruna kampung saya mengadakan program kerja (proker) tadarusan di luar bulan Ramadhan. Tujuannya, agar proker-proker yang dimiliki Karang Taruna tidak hanya bersifat duniawi saja. Sejak awal tahun saya sudah membuatkan jadwal kegiatan agar para anggota tahu kapan ada proker. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/">Mengukur Keikhlasan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mendapat pelajaran hidup pada hari Sabtu kemarin. Pada hari tersebut, untuk pertama kalinya di Karang Taruna kampung saya mengadakan program kerja (proker) tadarusan di luar bulan Ramadhan. Tujuannya, agar proker-proker yang dimiliki Karang Taruna tidak hanya bersifat duniawi saja.</p>
<p>Sejak awal tahun saya sudah membuatkan jadwal kegiatan agar para anggota tahu kapan ada proker. Di jadwal tersebut tercantum pula penanggung jawab harian untuk proker-proker tertentu. Untuk tadarusan edisi pertama ini, kebetulan di pegang oleh Daffa, salah satu anggota Katar di divisi Agama dan Lingkungan.</p>
<p>Setelah siangnya rapat dengan teman-teman Kodingdong terkait <em>branding</em> dan perancangan produk baru, saya sholat Maghrib di masjid Al-Ikhlas. Saya sengaja tidak mengingatkan anggota, sekedar ingin tahu sampai mana tanggung jawab mereka.</p>
<p>Dan ternyata, ketika saya sampai di masjid, tidak ada remaja anggota Karang Taruna yang berbaris di shaf sholat. Saya masih berusaha tenang, berusaha untuk berpikir positif, siapa tahu mereka telat datang ke masjid.</p>
<p>Setelah salam, benar saja, ada dua remaja yang ikut sholat berjamaah di masjid. Sayangnya, dari gelagat mereka, sepertinya mereka tidak tahu ada acara tadarusan. Sang kakak nampak terburu-buru pulang, sehingga menyisakan adiknya. Maka saya ajak dia untuk &#8220;duet&#8221; dan bersyukurlah dia bersedia.</p>
<p>Disini saya sudah sedikit gusar dan kecewa, mengapa para remaja penerus ini melupakan tanggungjawabnya. Namun saya sudah bertekad, berapa pun yang datang, <em>the show must go on</em>.</p>
<p>Alhamdulillah ketika menyimak Hisyam, remaja yang bersedia untuk tadarusan berdua, saya tiba-tiba mendapatkan pencerahan. Saya mendapatkan gagasan yang sangat baik.</p>
<p><em>&#8220;Jika kamu merasa kecewa, maka keikhlasanmu patut dipertanyakan.&#8221;</em></p>
<p>Kutipan tersebut membuat amarah dan kegusaran saya yang sudah diubun-ubun mereda. Saya bertanya kembali kepada diri saya.</p>
<p><em>&#8220;Sebenarnya apa tujuanmu melakukan semua ini?&#8221;</em></p>
<p>Sebagai ketua, saya harus bisa membantu mereka menjadi generasi penerus yang menopang nama Karang Taruna. Untuk melakukan itu, saya butuh kesabaran dan keikhlasan. Lalu, buat apa saya kecewa?</p>
<p>Hasilnya, ketika pulang dari masjid selepas Isya&#8217;, emosi saya sudah lenyap walaupun masih ada sisa-sisa kejengkelan. Ketika bertemu dengan beberapa anggota dan mereka menjelaskan alasan mereka (semua kompak, lupa!), saya pun hanya melontarkan kekecewaan yang sedikit dibumbui guyonan. Setelah itu seperti kebiasaan kami ketika malam minggu, main PES 2013.</p>
<p>Mulai sekarang, ketika saya mulai merasa kecewa, saya akan mengingatkan diri saya sendiri bahwa itu tandanya saya tidak ikhlas dalam melakukan sesuatu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Januari 2018, setelah main PES 2013 dan gagal menjadi juara karena tidak menggunakan Manchester United</p>
<p>Sumber Gambar: https://epicpew.com/how-saints-disappointment/</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/">Mengukur Keikhlasan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tersedak Kecewa</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:52:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=110</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pagi ini di meja makan Tersedia buah harapan di atas piring emas Aku tergiur dibuatnya Kuraih ia, kugigit dalam-dalam Kukunyah tak sempurna Kutelan dengan terburu-buru Hingga tersedak Terbatuk Tak bisa bernafas Kupukuli dadaku Kupegang tenggorokanku Lama sekali, hingga akhirnya buah itu keluar dari tubuhku Aku tersedak, tersedak kekecewaan dalam sebuah harapan Akhirnya aku sadar Aku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/">Tersedak Kecewa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Pagi ini di meja makan</div>
<div>Tersedia buah harapan di atas piring emas</div>
<div>Aku tergiur dibuatnya</div>
<div>Kuraih ia, kugigit dalam-dalam</div>
<div>Kukunyah tak sempurna</div>
<div>Kutelan dengan terburu-buru</div>
<div>Hingga tersedak</div>
<div>Terbatuk</div>
<div>Tak bisa bernafas</div>
<div>Kupukuli dadaku</div>
<div>Kupegang tenggorokanku</div>
<div>Lama sekali, hingga akhirnya buah itu keluar dari tubuhku</div>
<div>Aku tersedak, tersedak kekecewaan dalam sebuah harapan</div>
<div>Akhirnya aku sadar</div>
<div>Aku harus perlahan memakan buah harapan ini</div>
<div>Dikunyah hingga ia lebur sempurna bersama saliva</div>
<div>Ditelan masuk ke tubuh tanpa menyiksa diri</div>
<div>Itulah hikayat dari harapan</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/fkt2S6iI3Z8">https://unsplash.com/photos/fkt2S6iI3Z8</a></div>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/">Tersedak Kecewa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sajak/tersedak-kecewa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
