<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kedewasaan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kedewasaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kedewasaan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Mar 2022 13:08:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kedewasaan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kedewasaan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menjadi Dewasa Itu&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2022 13:28:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedewasaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5623</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Grow up, act according to your age, you are not a child anymore.&#8221; Anonymous Setelah direnungkan, ternyata menjadi dewasa itu memang berat. Ada banyak hal yang harus kita lakukan seiring bertambahnya usia kita. Ada banyak hal kekanakan yang harus kita tinggalkan. Penulis kerap berpikir mengenai apa makna menjadi seorang dewasa belakangan ini. Hasil pemikiran tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">Menjadi Dewasa Itu&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;<em>Grow up, act according to your age, you are not a child anymore</em>.&#8221;</p><cite>Anonymous</cite></blockquote>



<p>Setelah direnungkan, ternyata menjadi dewasa itu memang berat. Ada banyak hal yang harus kita lakukan seiring bertambahnya usia kita. Ada banyak hal kekanakan yang harus kita tinggalkan. </p>



<p>Penulis kerap berpikir mengenai apa makna menjadi seorang dewasa belakangan ini. Hasil pemikiran tersebut akhirnya Penulis tuangkan dalam tulisan ini. Semoga saja, tulisan ini mampu menginspirasi Pembaca dan Penulis sendiri tentang menjadi seorang dewasa.</p>





<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Menyadari kalau hidup ini ada di tangan kita. Kita punya tanggung jawab yang besar untuk diri sendiri. Jangan menjadi benalu bagi orang lain, bahkan kalau bisa kita yang meringankan beban mereka.</p>



<p><em><strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Menjadi dewasa itu&#8230;</a></strong></em></p>



<p>Tidak boleh <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">terlalu banyak rebahan</a> dan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna. Harus terus mengembangkan diri, bahkan menghasilkan suatu karya sekecil apapun. Jadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitarnya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Menyadari kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">tidak semua hal bisa kita kontrol</a>. Apa yang benar-benar bisa kendalikan adalah diri kita sendiri dan respon kita atas semua peristiwa yang terjadi. Jangan terlalu berharap dari hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti orang lain.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Memiliki kontrol diri yang lebih baik lagi. Tak mudah untuk terpancing emosinya hanya karena masalah-masalah sepele. Mampu meredam amarah dan berpikir jernih meskipun ada peristiwa yang melukai batinnya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">Berhenti menyalahkan diri</a> sendiri atas sesuatu yang di luar kendali kita. Apapun yang terjadi, lebih baik curahkan energi untuk mencari solusi daripada hanya merutuk diri sendiri. Sekali lagi, memahami kalau ada banyak hal yang tidak bisa kita kontrol.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Berani menghadapi masalah secara langsung dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/lebih-mudah-untuk-lari/">tidak lari dari masalah</a>. Apalagi kalau masalah tersebut berasal dari kita, harus berani tanggung jawab. Mau seberat apapun masalah, kabur darinya tidak pernah menjadi pilihan.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Harus bisa menerima kenyataan yang terjadi tanpa merengek-rengek betapa tidak adilnya dunia. Sepahit apapun yang terjadi dalam hidup, harus yakin kalau Tuhan punya skenario yang lebih baik untuk kita.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Harus bisa jadi sosok yang tangguh dan kuat. Tidak boleh dengan mudah menunjukkan sisi lemah ke orang lain. Tidak boleh jadi pribadi yang cengeng dan mudah menyerah. Tidak boleh selalu menyalahkan orang lain tanpa melakukan interopeksi diri</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Berusaha untuk selalu berbenah menjadi lebih baik lagi, sedikit demi sedikit. Tak pernah lelah untuk belajar demi diri sendiri. Mampu mencintai diri lebih hebat lagi dari sebelumnya. Terus berusaha untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Selalu bisa bangkit dari segala kejatuhan yang diderita. Sedih, marah, kecewa, hanya boleh dialami sesaat, tidak boleh berlarut-larut hingga mengganggu keseharian. Harus bisa tetap berdiri dalam keadaan sesulit apapun.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu</strong></em></p>



<p>Punya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">kepedulian terhadap dirinya sendir</a>i tanpa berubah menjadi sosok yang egois. Mampu menolong dan mencintai dirinya sendiri sebagaimana ketika dilakukan untuk orang lain. Memahami betapa pentingnya <em>self-love </em>untuk diri sendiri.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Punya kekuatan untuk menolong orang lain tanpa berharap imbalan apapun. Mampu peduli dan punya empati untuk orang lain tanpa berharap akan mendapatkan hal yang sama dari mereka. <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Memiliki keikhlasan untuk peduli</a> tanpa syarat.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda 180 derajat sekalipun. Berani mengambil risiko dan keluar dari zona nyamannya jika itu dirasa akan membuat dirinya menjadi lebih baik lagi. </p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu menghargai orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mampu <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">menghargai orang yang <em>stay</em></a>, mampu menghargai orang yang memutuskan untuk pergi. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dimengerti-dengan-mengerti/">Berusaha mengerti dan memahami orang lain</a> tanpa menghakimi.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat dan tak mengulanginya di masa depan. Menjadikannya sebagai pembelajaran di masa depan agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">mengolah ekspektasi</a> dengan lebih baik lagi. Harus menyadari kalau semakin tinggi harapannya, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/">semakin sakit jatuhnya</a>. Tidak terlalu berharap pada manusia, hanya menaruhnya kepada Tuhan yang Maha Kuasa.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu memilah prioritasnya dengan baik, tahu mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditinggal untuk sementara. Kita juga <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">harus bisa memahami prioritas orang lain</a> dan tidak boleh berharap akan diprioritaskan oleh orang lain.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu menerima kritikan dan masukan dari orang lain dengan lapang dada. Tidak menganggap masukan sebagai sesuatu yang ofensif. Mengambil hikmah dan berusaha menerima kata orang dari sisi positifnya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Tidak boleh banyak berharap kepada orang lain karena kita harus menjadi sosok yang mandiri dan tangguh. Kita harus belajar untuk mengandalkan diri sendiri. Diri ini harus didorong terus hingga melampaui batasannya.</p>



<p><em><strong>Menjadi dewasa itu&#8230;</strong></em></p>



<p>Mampu memaafkan bahkan untuk sesuatu yang benar-benar menyakitkan. Mampu memberi maaf walau orang yang berbuat salah tidak memintanya. Mampu mengikhlaskan perbuatan buruk orang lain tanpa punya niat untuk membalasnya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><strong>Menjadi dewasa itu berat</strong>. Kita bukan anak kecil lagi yang selalu dilindungi oleh orang tua. Fase transisi yang kita lalui pasti tidak mudah. Namun, kita pasti bisa melewatinya. Pada akhirnya, kita akan tumbuh dan harus bertindak sesuai usia kita.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Maret 2022, terinspirasi dari hasil kontemplasinya mengenai menjadi dewasa</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@nathan_mcb">Nathan McBride</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">Menjadi Dewasa Itu&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2022 14:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedewasaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[umur]]></category>
		<category><![CDATA[usia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5562</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika masih duduk di bangku sekolah, Penulis memiliki kenalan dekat yang usianya beberapa tahun di atas Penulis. Kami sering mengobrolkan banyak hal, tetapi ada satu quote darinya yang Penulis ingat hingga sekarang: &#8220;Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan&#8221; Waktu itu, Penulis belum terlalu memahami apa makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Batin Penulis, itu hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika masih duduk di bangku sekolah, Penulis memiliki kenalan dekat yang usianya beberapa tahun di atas Penulis. Kami sering mengobrolkan banyak hal, tetapi ada satu <em>quote </em>darinya yang Penulis ingat hingga sekarang:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan&#8221;</p></blockquote>



<p>Waktu itu, Penulis belum terlalu memahami apa makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Batin Penulis, itu hanya sebuah kutipan keren yang ia temukan dan mungkin ingin dibagikan ke orang lain.</p>



<p>Setelah Penulis berada di usia yang cukup untuk disebut dewasa, barulah Penulis menyadari kalau <em>quote </em>tersebut memiliki makna yang mendalam.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berbicara tentang Umur</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5564" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Umur Itu Pasti (<a href="https://unsplash.com/@jonathanborba">Jonathan Borba</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika memasuki <a href="https://whathefan.com/renungan/manusia-dalam-tiga-babak/">babak pertama dalam kehidupan</a> (Baca: Lahir), kita mulai dari angka 0. Setelah itu, setiap tahun angka tersebut akan bertambah secara berurutan hingga ajal menjemput.</p>



<p>Umur hanyalah deretan angka-angka tersebut yang bersifat mutlak dan tidak bisa dihindari maupun dimanipulasi. Misal, kita ingin tahun depan usia kita justru berkurang biar awet muda, ya tidak bisa seperti itu. </p>



<p>Umur terikat oleh waktu, sehingga tak akan pernah punya kesempatan untuk diulang. Mau pakai kosmetik atau <em>make up </em>apapun untuk menyamarkan bentuk wajah atau fisik kita, umur kita akan tetap dan tidak akan bisa berubah.</p>



<p>Umur akan selalu melekat pada kita, tak peduli seberapa kita senang maupun takut dengannya. Ada yang tak sabar ingin segera berusia 17 tahun, karena katanya itu merupakan angka transisi dari remaja ke dewasa. Ada yang takut masuk ke usia ke-30, karena merasa dirinya masih ingin senang-senang.</p>



<p>Umur hanyalah sebuah angka, yang mungkin bisa menjadi parameter muda-tua. Akan tetapi, umur tidak bisa menjadi sebuah parameter lain, seperti tingkat kedewasaan seseorang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berbicara tentang Dewasa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5565" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dewasa Itu Pilihan (<a href="https://unsplash.com/@jeshoots">JESHOOTS.COM</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa itu dewasa? Apa ciri-ciri orang bisa dianggap dewasa? Tentu ada banyak pendapat mengenai hal ini. Masing-masing memiliki argumennya sendiri. Bagi Penulis sendiri, dewasa tidak bisa terikat dengan satu makna karena ia sangat luas.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti bisa menempatkan diri di segala situasi dengan baik. Dewasa mungkin bisa mengendalikan diri dan emosinya dengan baik. Dewasa mungkin ketika telah merasa dirinya telah memiliki tanggung jawab, setidaknya untuk dirinya sendiri.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti menjadi bijaksana ketika sedang dirundung masalah. Dewasa mungkin bisa mengetahui mana yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri mana yang bisa dibagi ke orang lain. Dewasa mungkin ketika kita bisa memilah mana yang seharusnya menjadi prioritas.</p>



<p>Dewasa mungkin berarti mengemban amanah baik dari skala kecil seperti keluarga maupun skala yang lebih besar. Dewasa mungkin bisa mengerjakan banyak hal yang anak-anak maupun remaja tidak bisa melakukannya. Dewasa mungkin ketika kita mampu meredam ego pribadi.</p>



<p>Segala definisi di atas tersebut bisa dialami semua, sebagian, atau bahkan tidak sama sekali oleh kita. Nah, beberapa ciri-ciri di atas bisa dialami oleh siapa saja tanpa memandang umurnya, karena kedewasaan sesungguhnya tidak terlalu berkorelasi dengan umur.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Keterkaitan Umur dan Kedewasaan</h2>



<p>Memang, umur kerap dikaitkan dengan dewasa. Patokannya berbeda-beda, tapi banyak yang menyebutkan kalau mulai usia 20-an lah manusia memasuki umur dewasanya. Hanya saja, setiap orang tentu berbeda.</p>



<p>Mungkin ada yang dewasa lebih cepat karena tekanan lingkungannya. Ada yang sudah mencapai kepala tiga, tetapi tidak dewasa sama sekali dan kerap bersikap kekanakan. Semua ini sangat mungkin terjadi.</p>



<p>Orang yang hidupnya selalu enak dan serba terpenuhi mungkin akan lebih tidak dewasa dibandingkan orang yang hidupnya susah dan sangat <em>struggle</em>. Anak yang biasa dimanja orang tua mungkin akan lama dewasanya dibandingkan anak yang memiliki orang tua keras.</p>



<p><strong>Dewasa dan kedewasaan itu berbeda</strong>. Berada di usia dewasa tidak otomatis menjadikan kita memiliki sikap kedewasaan. Sebaliknya, di usia muda pun bukan tidak mungkin memiliki kedewasaan yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang lebih tua.</p>



<p>Semakin bertambahnya umur, semakin pelik pula masalah yang akan dihadapi. Mental kita akan benar-benar diasah dengan setiap konflik yang ditemui. Itulah mengapa orang yang sudah berumur kerap dituntut untuk dewasa karena memang sudah seharusnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Lantas, apakah perlu memiliki kedewasaan? Bagi Penulis, tentu perlu karena itu akan menunjukkan tingkat kematangan kita dalam menjalani hidup. Kalau merasa belum dewasa ketika seharusnya sudah, ya belajar bagaimana caranya menjadi dewasa.</p>



<p>Bagaimana caranya? Penulis sendiri tidak tahu karena merasa dirinya juga tidak dewasa-dewasa amat. Hanya saja, kita bisa memulainya dengan menengok ke dalam diri sendiri dan mencari mana kekurangan diri yang perlu dibenahi. Mulai saja dulu dari sana.</p>



<p>Memang banyak faktor yang menentukan kedewasaan, tapi kita punya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">kontrol penuh</a> untuk memilih menjadi seorang dewasa. Sekarang, coba ambil jeda sejenak dan renungkan dalam diri, apakah kita sudah cukup dewasa untuk umur kita?</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Desember 2022, terinspirasi setelah dirinya diingatkan oleh seseorang untuk bersikap sesuai umurnya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@gzzhouming1">David Zhou</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">Umur Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memilih Pemimpin dengan Kedewasaan Berpolitik</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2018 08:53:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[fanatik]]></category>
		<category><![CDATA[kedewasaan]]></category>
		<category><![CDATA[memilh]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[ricuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1124</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Terlepas dari siapapun para calon, ditunggu perang program dan gagasan-gagasannya. Perang hal-hal konkrit. Udah capek sama hal-hal yang superficial dan berbau identitas.” Itu merupakan tweet dari teman penulis yang sedang melanjutkan studi S2nya di Belanda, mengomentari tentang suasana politik Indonesia yang semakin memanas ini. Penulis menyepakati idenya tersebut, dan berkembang menjadi tulisan ini. Entah apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/">Memilih Pemimpin dengan Kedewasaan Berpolitik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Terlepas dari siapapun para calon, ditunggu perang program dan gagasan-gagasannya. Perang hal-hal konkrit. Udah capek sama hal-hal yang superficial dan berbau identitas.</em>”</p>
<p>Itu merupakan <em>tweet </em>dari teman penulis yang sedang melanjutkan studi S2nya di Belanda, mengomentari tentang suasana politik Indonesia yang semakin memanas ini. Penulis menyepakati idenya tersebut, dan berkembang menjadi tulisan ini.</p>
<p>Entah apa penyebabnya, tapi beberapa tahun terakhir, suasana politik di Indonesia rasa-rasanya semakin keruh. Demokrasi sehat yang diharapkan oleh para pejuang reformasi seolah tak terjadi.</p>
<p>Keberadaan media sosial (penulis merasa menjadi terlalu sering menyalahkan keberadaan media sosial) bisa jadi menjadi salah satu penyebabnya. Penyebaran informasi yang bisa terjadi begitu cepat tanpa adanya proses validasi menyebabkan <em>black campaign </em>tumbuh dengan subur.</p>
<p>Masyarakat kini cenderung memilih berdasarkan siapanya, bukan berdasarkan apanya (Baca juga: <a href="http://whathefan.com/2018/01/19/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/">Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif</a>). Kita menjadi pendukung yang fanatik, seolah menutup mata dari kekurangan orang yang kita dukung (Baca juga: <a href="http://whathefan.com/2018/05/25/akar-fanatisme-membabi-buta/">Akar Fanantisme Membabi Buta</a>).</p>
<p><div id="attachment_1134" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1134" class="size-large wp-image-1134" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/maxime-caron-264222-unsplash-1024x684.jpg" alt="" width="1024" height="684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/maxime-caron-264222-unsplash-1024x684.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/maxime-caron-264222-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/maxime-caron-264222-unsplash-768x513.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/maxime-caron-264222-unsplash-356x238.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/maxime-caron-264222-unsplash.jpg 1504w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1134" class="wp-caption-text">Jangan Menutup Mata (Photo by maxime caron on Unsplash)</p></div></p>
<p>Sebaliknya, kita juga menutup mata terhadap kebaikan orang yang menjadi lawan politik orang yang kita dukung. Ketika mereka melakukan keburukan sejelek apapun itu, hujatan muncul dari bibir kita.</p>
<p>Jelas bukan demokrasi seperti ini yang kita harapkan dengan penggulingan mantan presiden Soeharto. Kita mengharapkan demokrasi yang obyektif dan menghargai pilihan orang lain.</p>
<p>Mungkin ada beberapa pemilih yang mempercayai aturan yang tertulis di agamanya (termasuk penulis), namun ada juga yang mempercayai tafsir lain. Penulis tidak mempersalahkan hal tersebut selama mereka juga menghargai pilihan penulis.</p>
<p>Setelah pengumuman calon presiden dan wakilnya, penulis menyimak berbagai <em>timeline </em>di media sosial, mulai Twitter, Instagram hingga Line Today. Penulis membaca media yang pro petahana, pro penantang, dan netral (kalau masih ada). Ini penulis lakukan agar dapat melakukan penilaian yang tidak berat sebelah, meskipun suara penulis hanya bernilai satu, sama dengan suara yang dimiliki pemilih lainnya.</p>
<p>Jujur, sekarang penulis belum bisa menentukan pilihan, walaupun ada kecondongan terhadap salah satu pasangan capres-cawapres. Penulis masih menantikan manuver-manuver politik yang akan mereka lakukan. Selain itu, debat-debat antara calon juga menjadi salah satu hal yang penulis nantikan.</p>
<p><strong>Ributnya Para Pendukung</strong></p>
<p>Menyaksikan dinamika politik itu sebenarnya menarik. Banyak hal yang bisa berubah dengan sedemikian cepat, kadang terdapat <em>plot twist </em>yang tak disangka-sangka. <em>Sense</em>-nya sama dengan membaca novel detektif.</p>
<p>Banyak juga hal yang membuat kita gemas, lantas tertawa kecil. Apalagi jika bukan keributan yang dilakukan oleh antar pendukung di media sosial (lagi-lagi media sosial disalahkan).</p>
<p>Sebagai contoh, pendukung kubu penantang menagih janji-janji kubu petahana yang belum terealisasi. Pendukung kubu petahana bertanya balik, emang calon kalian udah ngapain aja? Calon gue udah kerja nyata.</p>
<p>Contoh lain, pendukung kubu petahana protes, ngurus provinsi aja belum becus, mau naik jadi cawapres. Pendukung kubu penantang menyerang balik, lah bukannya pilihan lu juga gitu dulu?</p>
<p>Isu agama pun juga menjadi menarik, karena dari yang penulis amati, pendukung kubu petahana seringkali menyuarakan “ulama jangan ikut berpolitik”. Sekarang, dengan pilihan cawapres petahana, pendukung kubu penantang menggunakannya sebagai senjata.</p>
<p><div id="attachment_1133" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1133" class="size-large wp-image-1133" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hermes-rivera-265368-unsplash-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hermes-rivera-265368-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hermes-rivera-265368-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hermes-rivera-265368-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hermes-rivera-265368-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/hermes-rivera-265368-unsplash.jpg 1368w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1133" class="wp-caption-text">Ricuh di Dunia Maya (Photo by Hermes Rivera on Unsplash)</p></div></p>
<p>Keributan antar pendukung ini juga memiliki andil dalam memperkeruh suasana politik di Indonesia. Mereka pada akhirnya menyerang secara personal, bukan memberi kritik program-program yang ditawarkan oleh masing-masing calon.</p>
<p>Kedewasaan dalam berpolitik memang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bernegara yang menganut sistem demokrasi. Banyak yang menganggap, sebenarnya Indonesia belum siap melaksanakan demokrasi karena mentalnya yang belum siap kalah.</p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama mengawal pesta demokrasi (siapa yang sejatinya berpesta?) ini dengan baik. Pilihlah calon yang menurut kita paling bisa membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik.</p>
<p>Dan ingatlah kata-kata Aa Gym pada acara Indonesia Lawyer pada Selasa (7/8) kemarin, bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan, semuanya sudah tertulis. Jadi yakinlah bahwa apapun hasilnya, merupakan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kayuringin, Bekasi, 11 Agustus 2018, terinspirasi dari <em>tweet </em>Aya, teman penulis yang sedang melanjutkan studi di Belanda.</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/IBWJsMObnnU?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Arnaud Jaegers</a> on <a href="https://unsplash.com/?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/">Memilih Pemimpin dengan Kedewasaan Berpolitik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
