Connect with us

Pengembangan Diri

Lebih Mudah untuk Lari

Published

on

It’s easier to run
Replacing this pain with something numb
It’s so much easier to go
Than face all this pain here all alone

***

Penggalan lirik di atas berasal dari lagu berjudul Easier to Run. Yang menyanyikan tentu saja band favorit penulis sepanjang masa, Linkin Park. Tepatnya, dari album Meteora yang rilis pada tahun 2003.

Sesuai dengan judul tulisan yang digunakan, penulis merasa lagu ini menggambarkan apa yang ingin kali ini ditulis. Lebih mudah untuk lari dari masalah dibandingkan menghadapinya.

Masalah Akan Selalu Datang

Masalah Selalu Datang (Sebastian Herrmann)

Pada novel Leon dan Kenji buku pertama, karakter Leon pernah mengatakan bahwa masalah adalah teman setianya yang selalu mengikuti dirinya ke manapun ia pergi.

Sejatinya, itulah yang terjadi pada kita. Apakah ada manusia yang tidak pernah menghadapi masalah? Rasanya hampir mustahil. Ujian ataupun cobaan pasti pernah dihadapi oleh manusia.

Tingkat kesulitan yang dihadapi orang pun bermacam-macam. Kalau di dalam game, ada level easymedium, hingga hard. Penulis meyakini bahwa tingkat kesulitan ini oleh Tuhan disesuaikan dengan kemampuan hamba-Nya.

Kalau ingin menyederhanakannya kembali, kita bisa melihat perjalanan hidup kita hingga hari ini. Dulu waktu kecil, masalah yang kita hadapi paling dimarahi orangtua, tidak boleh main, dan lain sebagainya.

Ketika menginjak ke usia sekolah, permasalahan yang muncul mulai beragam. Selain menumpuknya tugas, kita mulai dilanda masalah asmara yang sepele namun membuat galau sebulan.

Setelah itu, kita mulai terjun ke dalam masyarakat secara langsung. Kita akan menghadapi orang yang beraneka rupa sehingga ada saja masalah yang muncul.

Saat mulai masuk ke dalam dunia kerja, tumpukan pekerjaan kantor dan omelan bos membuat kita pusing. Gaya hidup yang meningkat membuat kita dihantui oleh tagihan yang belum terbayarkan.

Belum lagi omongan-omongan orang yang kurang mengenakan, tuntutan kesempurnaan dari masyarakat, dan berbagai masalah kompleks lainnya.

Evolusi masalah dari kita kecil hingga dewasa di atas menunjukkan bahwa masalah akan selalu datang untuk menguji kita. Ketika ia datang, ada dua pilihan yang muncul: menghadapinya atau melarikan diri.

Lari dari Masalah

Seperti apa lari dari masalah itu? Contohnya ada banyak sekali, tapi di sini penulis akan berusaha untuk memberikan yang paling sederhana.

Ketika ada sebuah pekerjaan atau tugas yang menumpuk, kita mungkin akan merasa frustasi karena merasa lelah. Cara lari dari masalah ini adalah dengan tidur dan tidak memedulikan pekerjaan itu lagi.

Hasilnya? Pekerjaan akan semakin menumpuk dan kita bisa dipecat oleh atasan karena dianggap lalai dari tanggung jawabnya. Bisa dilihat, lari dari masalah tidak akan menyelesaikan pekerjaan.

Contoh lain, tentang sekolah. Sewaktu menghadapi ujian, kita mendapatkan nilai yang jelek sehingga harus ikut remidial. Merasa putus asa, kita justru memutuskan untuk tidak belajar karena merasa percuma. Akibatnya, nilai kita pun tetap jelek.

Berbohong juga merupakan salah satu cara untuk lari dari masalah. Ketika kebohongan tersebut menumpuk, tinggal menunggu waktu kebohongan akan terbongkar.

Kalau mau yang lebih ekstrem, kita bisa menggunakan contoh Dara dan Bima dari film Dua Garis Biru. Kalau mau lari, bisa saja Dara memutuskan untuk aborsi atau Bima kabur dari rumah dan menghilang begitu saja.

Akan tetapi, perbuatan tersebut akan menghantui mereka untuk jangka waktu yang lama bahkan selamanya. Meskipun berat, mereka memutuskan untuk bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat.

Penulis yakin, semua masalah yang menghampiri kita datang untuk diselesaikan. Lari dari masalah dengan bersikap masa bodo ataupun menyerah memang lebih mudah, tapi tidak akan menyelesaikan permasalahan.

Ayah penulis pernah bercerita, ketika didatangi oleh debt collector, ia justru mengajaknya ngobrol santai. Alhasil, masalah pun selesai dan debt collector tadi malah menjadi teman. Ini hanya contoh kecil kalau masalah bisa dihadapi dengan berbagai cara.

Penutup

Cakupan masalah memang sangat luas. Mungkin memang ada kalanya kita diharuskan untuk lari dari masalah ketika itu menjadi satu-satunya solusi.

Seandainya Penulis hidup di zaman Orba dan sedang dikejar karena terlalu vokal, mungkin Penulis akan memutuskan untuk lari dengan bungkam dan berhenti melawan pemerintah.

Rasanya Penulis tidak bisa seberani Budiman Sujatmiko dan kawan-kawan yang menerima berbagai siksaan dari rezim. Mungkin untuk sesaat Penulis merasa aman, namun rasa bersalah akan terus menghantui hingga akhir hayat.

Dari yang penulis amati selama ini (baik dari diri sendiri ataupun lingkungan sekitar), lari dari masalah memang menjadi pilihan yang lebih mudah daripada menghadapinya. Namun, konsekuensi yang akan kita terima ke depannya bisa jadi jauh lebih berat.

Penulis hingga kini tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Oleh karena itu jika ada masalah yang muncul, penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapinya.

 

 

Kebayoran Lama, 11 Januari 2020, terinspirasi dari lagu Linkin Park yang berjudul Easier to Run

Foto: lucas Favre

Pengembangan Diri

Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri

Published

on

By

Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun @doraemon_hari_ini yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, “Kan diberi oleh bapak.”

Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. Dalam sudut pandang Nobita, nilai 0-nya adalah karena pemberian orang lain, bukan karena ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal.

Nah, hal ini membuat Penulis bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita juga seperti Nobita yang menyalahkan faktor ekternal (Pak Guru) dan tidak menyadari kesalahan dari faktor internal (ketidakbecusannya mengerjakan soal). Kita menyalahkan kondisi, hingga lupa interopeksi diri.

10 Juta Gen Z Menganggur di Usia Produktif

Banyak Gen Z yang Menganggur (Parenting Teens and Tweens)

Melansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa jumlah Gen Z (generasi kelahiran 1997 – 2012) di Indonesia yang menganggur hampir mencapai 10 juta orang. Jika diperinci berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas pengangguran di Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun.

Padahal, usia tersebut harusnya menjadi usia-usia produktif untuk bekerja dan berkarya. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, menyebutkan bahwa salah satu faktornya adalah ketidaksesuai keterampilan mereka dengan kebutuhan tenaga kerja.

“Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya miss-match,” ungkap Ida sebagaimana dilansir dari CNBC.

Masih dari sumber yang sama, alasan-alasan lain yang menjadi pendukung tingginya pengangguran dari kalangan Gen Z adalah putus asa, disabilitas, kurangnya akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.

Penulis sempat mengira bahwa tingginya jumlah tersebut karena menghitung jumlah Gen Z yang masih menempuh studi. Faktanya, jumlah 10 juta tersebut benar-benar Gen Z yang tidak sedang menjalani studi maupun pelatihan apapun. Benar-benar full menganggur.

Mungkin ini juga ada kaitannya dengan kebanyakan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan memiliki gelar sarjana, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi itu. Alhasil, lulusan SMA/SMK pun jadi kesulitan mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka miliki.

Di sisi lain, Penulis sendiri sering menemukan konten dari pihak perusahaan. Seperti yang kita tahu, banyak juga yang mensyaratkan maksimal umur 30 tahun. Artinya, mereka pun sebenarnya juga mencari pekerja dari kalangan Gen Z, bukan Milenial seperti Penulis.

Tidak hanya itu, pihak perusahaan pun banyak yang “curhat” mengenai susahnya mencari kandidat yang sesuai dengan keinginan mereka. Lowongan ada, calon pekerja ada, tapi tidak ketemu karena banyak hal. Tak heran jika jumlah pengangguran pun menjadi tinggi sekali.

Kondisi Memang Susah, tapi Tidak Boleh Menyalahkan Kondisi Terus

Yuk, Terus Kembangkan Value Diri (PPIC)

Pak Guru yang memberikan soal ujian adalah analogi untuk kondisi yang kita hadapi. Nobita adalah analogi dari diri kita sendiri. Ketika mendapatkan nilai 0, mana yang akan kita salahkan: soal sulit dari Pak Guru atau ketidakmampuan kita dalam mengerjakan soal?

Jika mampu untuk interopeksi diri, tentu kita akan menyadari kalau kesalahan terdapat pada diri kita yang mungkin kurang rajin belajar, tidak memperhatikan guru ketika menerangkan, dan lain sebagainya.

Dalam filsafat stoik, salah satu kunci utamanya adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Soal dan penilaian Pak Guru ada di luar kendali kita. Yang ada di kendali kita adalah usaha kita agar bisa mengerjakan soal dari Pak Guru.

Itu pun berlaku dalam konteks mencari pekerjaan yang sedang Penulis bahas. Saat kesulitan mencari pekerjaan, tentu lebih mudah untuk menyalahkan kondisi, entah karena persyaratan perusahaan yang tak masuk akal, janji pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang tak terealisasi, kalah dengan orang dalam, dan lain sebagainya.

Namun, terkadang kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan, kesulitan yang kita alami itu karena kitanya sendiri yang kurang mengembangkan value diri, baik hard skill maupun soft skill.

Jangan-jangan selama ini kita mendambakan pekerjaan dengan gaji yang layak, tapi dalam keseharian lebih banyak menghabiskan waktunya untuk rebahan dan scrolling media sosial atau push rank game HP. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mengasah kemampuan diri.

Apalagi, saat ini sebenarnya sarana untuk mengembangkan diri banyak tersedia dan bisa diakses secara gratis di media sosial, YouTube, bahkan AI sekalipun. Coba pilih bidang yang diminati agar tidak malas dan merasa bersemangat ketika mempelajarinya.

Sebagai contoh, Penulis yang lulusan IT pun jadi harus mengembangkan dirinya sebagai Editor dan SEO Specialist secara otodidak. Akhir-akhir ini Penulis juga banyak melakukan eksplorasi terhadap dunia AI yang tampaknya akan menjadi masa depan dunia kerja.

Yang tidak kalah penting dari hard skill adalah soft skill. Percuma saja jika memiliki hard skill, tapi attitude-nya minus, tak mampu berbicara di depan orang banyak dengan lancar, tidak disiplin, kesulitan bersosialiasi dengan orang, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, mungkin kita sering lolos hingga sesi wawancara ketika melamar pekerjaan, tapi tak pernah mendapatkan panggilan selanjutnya. Kalau seperti itu, bisa jadi ada yang salah dari performa kita selama wawancara, sehingga harus ada yang perlu diperbaiki.

Mengembangkan relasi juga tak kalah penting. Jangan hanya ngomel karena kalah dari orang dalam, kita juga harus berusaha menjalin relasi dengan banyak orang. Yakinkan kalau kita memiliki skill yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menjadi “orang dalam” untuk kita.

Penutup

Memang ada banyak sekali faktor yang memengaruhi mengapa kita kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, menurut Penulis alangkah baiknya jika kita fokuskan diri kepada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri.

Menyalahkan kondisi terus-menerus tidak akan membantu apa-apa. Yang ada malah membuat hati jengkel dan gelisah terus. Tentu sayang tenaga dan pikiran dibuang untuk melakukan hal tersebut, sampai tak lagi tersisa untuk mengembangkan diri sendiri.

Apalagi di era teknologi seperti ini, sarana untuk mengembangkan skill sangat tersedia di berbagai platform. Mumpung masih muda, coba saja eksplorasi semuanya hingga menemukan mana yang paling membuat kita bersemangat. Asah terus skill untuk meningkatkan value diri sehingga kita punya nilai lebih di dunia kerja.


Lawang, 11 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita sebagai manusia kerap menyalahkan kondisi di luar, tapi lupa untuk melihat ke dalam

Foto Featured Image: Doraemon Hari Ini

Sumber Artikel:

Continue Reading

Produktivitas

Saya Menggunakan Notion untuk Mencatat Progres Artikel Whathefan

Published

on

By

Setiap awal tahun, Penulis pasti memiliki resolusi untuk bisa menulis artikel blog lebih rutin lagi. Selain karena diingatkan tagihan hosting dan domain tahunan yang jumlahnya lumayan, Penulis juga menyadari kalau setiap tahun produktivitasnya berkurang.

Namun, pada akhirnya target tersebut sering meleset. Contohnya pada tahun ini, secara berurutan Penulis hanya menulis dua tulisan di Januari, tiga tulisan di Februari, 13 tulisan di Maret, delapan tulisan di April, dan tujuh tulisan di Mei. Total, 34 tulisan.

Penulis sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu kesulitan dalam mengalokasikan waktu untuk menulis artikel. Jika dibilang tidak ada waktu, rasanya itu hanya alasan saja karena Penulis menghabiskan waktu di depan layar ponsel/tablet sambil rebahan cukup lama.

Setelah melakukan evaluasi diri, Penulis merasa kalau dirinya membutuhkan alat bantu yang bisa berperan sebagai “asisten pribadi.” Setelah mencoba berbagai platform, akhirnya Penulis merasa kalau Notion adalah asisten terbaik sejauh ini.

Membutuhkan Bantuan “Otak” Kedua

Google Keeps Kurang Efektif

Selama ini, Penulis menggunakan berbagai metode untuk mencatat ide dan progres untuk blognya ini. Namun, yang Penulis gunakan beberapa waktu ke belakang adalah Samsung Notes dan Google Keeps.

Untuk ide yang baru judul saja, Penulis sering mencatatnya di Keeps karena simpel dan bisa diakses di banyak perangkat. Kalau ingin melakukan breakdown ide dan menjabarkan apa yang ingin dibahas, baru Penulis mencatatnya di Samsung Notes agar bisa menulis dengan tangan.

Masalahnya, metode tersebut benar-benar tidak efektif. Di Keeps, seringnya ide-ide tersebut tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Akibatnya, Penulis pun sampai lupa sebenarnya ingin membahas apa dari ide tersebut.

Samsung Notes pun begitu. Karena ingin memanfaatkan fitur S-Pen dari tablet yang dimiliki, Penulis berusaha membiasakan untuk mencatat ide yang lebih jauh di Samsung Notes. Ini sempat berjalan selama beberapa bulan, tapi akhirnya berhenti karena mager.

Saat lebaran tahun ini, Penulis mampir ke toko buku dan menemukan sebuah buku berjudul Building a Second Brain karya Tiago Forte. Dari sinopsisnya yang menjelaskan betapa seringnya informasi hilang dari otak kita, Penulis jadi tertarik untuk membacanya.

Perjalanan Menemukan Platform Otak Kedua Terbaik

Buku Building a Second Brain (YouTube)

Meskipun belum selesai membaca buku tersebut, Penulis menangkap esensi utamanya yang memanfaatkan teknologi untuk menjadi otak kedua kita karena keterbatasan otak utama kita dalam menyimpan informasi. Penulis pun terdorong untuk mencari platform otak kedua ini.

Pertama, Penulis coba mengoptimalkan aplikasi yang sudah sering digunakan, yakni Google Keeps. Sayangnya, Keeps terlalu sederhana sehingga tidak bisa membuat folder sesuai kebutuhan, kita hanya bisa memanfaatkan fitur Tags.

Selanjutnya Penulis mencoba Microsoft OneNote, yang sayangnya sekali lagi memiliki keterbatasan dalam membuat folder-folder. Evernote sebenarnya memiliki fitur yang cukup lengkap, tapi sayangnya mayoritas fitur mengharuskan kita berlangganan.

Setelah itu, Penulis mencoba beberapa aplikasi lain seperti Joplin, tapi tetap saja kurang srek. Akhirnya Penulis menemukan Notion, sebuah platform yang sebenarnya lebih banyak digunakan untuk proyek-proyek IT karena banjir fitur.

Penulis sempat merasa kalau Notion akan terasa terlalu overkill untuk sekadar mencatat ide artikel blog. Namun, Penulis merasa perlu untuk mencoba platform ini. Hasilnya, Penulis berhasil menemukan platform terbaik yang bisa Penulis gunakan untuk dijadikan otak kedua.

Mengapa Notion Jadi Platform Terbaik untuk Penulis?

Semua Kebutuhan dalam Satu Layar

Ada banyak alasan mengapa Penulis akhirnya menjatuhkan pilihan pada Notion. Pertama, ada banyak template yang bisa Penulis manfaatkan. Tidak hanya untuk mencatat ide, Notion juga bisa Penulis manfaatkan sebagai tracker seperti yang terlihat pada gambar di atas.

Awalnya, Penulis memisahkan daftar ide beserta breakdown-nya dan progres artikel di catatan yang berbeda. Namun, setelah mencoba beberapa hari, Penulis merasa hal tersebut sama sekali tidak efektif, sehingga memutuskan untuk menjadikannya satu.

Progres dari setiap ide Penulis bagi menjadi enam bagian, yakni:

  • Ideas List: Berisi ide yang masih berupa judul saja
  • Point List: Berisi ide yang sudah di-breakdown akan ada apa saja isinya
  • Planned: Ide di Point List yang sudah dijadwalkan kapan akan tayang (sudah ditentukan deadline-nya)
  • Drafted: Ide di Planned yang sudah dibuatkan draft-nya di WordPress
  • Article Done: Ide di draft yang sudah ditayangkan
  • Social Media Done: Artikel yang sudah tayang telah dibuatkan konten media sosialnya

Karena antarmuka Notion juga menarik dan responsif, Penulis jadi merasa senang ketika menggunakannya. Bayangkan, untuk memindahkan ide dari satu bagian ke bagian lain, Penulis hanya perlu drag and drop saja tanpa ribet.

Notion juga bisa diakses di semua perangkat, yang membuatnya sangat fleksibel. Begitu Penulis menemukan inspirasi, maka Penulis tinggal mengeluarkan ponselnya dan mencatatnya di Notion dengan mudah.

Karena merasa sangat terbantu, Penulis pun mencoba mengeksplorasi fitur lain dari Notion. Beberapa yang sudah Penulis ketahui adalah bagaimana kita bisa melihat tracker di atas dalam bentuk timeline dan table. Contohnya bisa dilihat di bawah ini:

Dari timeline di atas, Penulis jadi bisa melihat seberapa konsisten dirinya dalam menulis artikel blog. Sejak memutuskan untuk menggunakan Notion, Penulis sudah mencatatkan streak sebanyak 10 hari berturut-turut termasuk artikel ini.

Penulis dulu melakukan tracking menggunakan Google Sheets secara manual (dan melelahkan). Dalam catatan tersebut, terakhir kali Penulis mencatat streak sepanjang ini adalah pada bulan Oktober 2022 dengan 13 hari. Sudah selama itu Penulis inkonsisten.

Setidaknya sampai hari ini, Penulis merasa sangat terbantu dengan kehadiran Notion dan telah terbukti berhasil meningkatkan konsistensinya dalam memproduksi tulisan. Semoga saja streak ini bisa terus terjaga selama mungkin, seperti ketika awal-awal Penulis membuat blog ini.

Penutup

Menggunakan Notion untuk mengelola ide-ide blog adalah langkah pertama Penulis dalam membuat otak keduanya. Ke depannya, Penulis ingin memanfaatkan Notion lebih jauh lagi untuk keperluan mencatat.

Satu hal yang ingin Penulis segera masukkan ke dalam Notion adalah catatan-catatannya yang berkaitan dengan dunia kerja seperti SEO dan digital marketing, yang saat ini tersebar di berbagai platform dan tidak terorganisir sama sekali.

Tidak hanya yang sudah dicatat, Penulis juga ingin mencatat berbagai insight dan pengetahuan seputar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan penambahan value diri. AI adalah salah satu topik paling seksi untuk didalami.

Yang jelas, Notion benar-benar telah membantu Penulis dengan menjadi otak keduanya, walaupun saat ini masih terbatas untuk keperluan blog saja. Penulis merekomendasikan Notion untuk Pembaca yang merasa butuh aplikasi catatan dengan fitur yang berlimpah.


Lawang, 4 Juni 2024, terinspirasi setelah dirinya menggunakan Notion untuk blogging

Continue Reading

Pengembangan Diri

People “Come”, People “Go”

Published

on

By

Pembaca pasti merasa familiar dengan frase bahasa Inggris people come and go. Secara sederhana, frase ini bermakna kalau orang-orang dalam kehidupan kita akan datang dan pergi secara bergiliran. Tidak ada yang akan benar-benar stay.

Maka dari itu, menahan orang-orang yang ingin pergi dari kehidupan kita akan terasa percuma, karena pada dasarnya mereka berada di luar kendali kita. Yang bisa kita kendalikan adalah respons kita terhadap kepergian mereka.

Namun, pada suatu saat, Penulis menangkap ada makna lain dari frase people come and go. Untuk membedakan, Penulis akan menuliskannya dengan people come, people go. Datang ketika butuh kita, tetapi pergi ketika kita yang butuh.

Datang Ketika Butuh Kita

Di media sosial akhir-akhir ini sedang viral tentang “pinjam dulu seratus” yang biasanya dibalut dalam bentuk pantun. Ini adalah sebuah kalimat horor ketika ada orang datang ke kita untuk meminjam uang, yang biasanya sulit untuk kembali.

Seringkali, orang-orang yang seperti ini adalah orang yang hanya datang ke kita ketika mereka merasa butuh. Tidak melulu tentang pinjan uang, tapi bisa juga butuh bantuan untuk hal lain. Ketika sedang tidak butuh, mereka seolah-olah tidak kenal dengan kita.

Dalam hidup, rasanya hampir semua manusia pernah bertemu dengan tipe orang yang seperti ini. Lantas, bagaimana menghadapi mereka? Kembali lagi ke diri kita masing-masing, apakah mau dimanfaatkan orang lain begitu saja atau memberi batasan yang jelas.

Jika niat hati ingin menolong dan bermanfaat tanpa peduli pikiran orang lain, bagus. Tidak semua orang punya ketulusan hati seperti ini. Toh seperti kata Tanjiro Kamado dari anime Demon Slayer, kebaikan yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali ke diri sendiri.

Namun, jika belum bisa mencapai level tersebut, menolak untuk dimanfaatkan juga tidak salah. Apalagi, jika tenaga, waktu, bahkan uang kita benar-benar terkuras untuk mereka. Mengetahui batasan diri juga dibutuhkan untuk kebaikan diri kita.

Pergi Ketika Kita yang Butuh

Datang ketika butuh saja sudah cukup problematik, apalagi jika mereka justru pergi ketika kita yang membutuhkan bantuan. Dengan beribu alasan, mereka akan menolak untuk mengulurkan tangan mereka.

Manusia sebagai makhluk sosial jelas harus saling membantu. Mau semandiri apapun, kita pasti tetap membutuhkan bantuan orang lain. Oleh karena itu, sejak kecil kita diajari untuk saling tolong-menolong karena memang seterikat itu kita dengan manusia lain.

Masalahnya, tidak semua orang memiliki kesadaran untuk membantu orang lain. Ada oknum-oknum yang berpikir kalau dirinya adalah pusat semesta, sehingga merasa acuh ketika melihat ada orang yang sedang membutuhkan bantuan dirinya.

Ketika menghadapi tipe orang yang seperti ini, rasanya lebih bijak jika kita menjaga jarak dengan mereka. Berbuat baik sih berbuat baik, tapi kalau hanya kita yang dimanfaatkan ya buat apa? Toh, masih banyak orang lain yang bisa kita tolong daripada parasit seperti mereka.

Datang ketika kita butuh, tetapi pergi ketika kita yang butuh. Semoga saja kita selalu dihindarkan untuk bertemu dengan orang-orang yang seperti ini. Semoga kita selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yang mau saling tolong-menolong.


Lawang, 25 Oktober 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau frase people come and go bisa dimaknai lain

Foto Featured Image: Mike Chai

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan