Connect with us

Politik & Negara

Memilih Pemimpin dengan Kedewasaan Berpolitik

Published

on

“Terlepas dari siapapun para calon, ditunggu perang program dan gagasan-gagasannya. Perang hal-hal konkrit. Udah capek sama hal-hal yang superficial dan berbau identitas.

Itu merupakan tweet dari teman penulis yang sedang melanjutkan studi S2nya di Belanda, mengomentari tentang suasana politik Indonesia yang semakin memanas ini. Penulis menyepakati idenya tersebut, dan berkembang menjadi tulisan ini.

Entah apa penyebabnya, tapi beberapa tahun terakhir, suasana politik di Indonesia rasa-rasanya semakin keruh. Demokrasi sehat yang diharapkan oleh para pejuang reformasi seolah tak terjadi.

Keberadaan media sosial (penulis merasa menjadi terlalu sering menyalahkan keberadaan media sosial) bisa jadi menjadi salah satu penyebabnya. Penyebaran informasi yang bisa terjadi begitu cepat tanpa adanya proses validasi menyebabkan black campaign tumbuh dengan subur.

Masyarakat kini cenderung memilih berdasarkan siapanya, bukan berdasarkan apanya (Baca juga: Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif). Kita menjadi pendukung yang fanatik, seolah menutup mata dari kekurangan orang yang kita dukung (Baca juga: Akar Fanantisme Membabi Buta).

Jangan Menutup Mata (Photo by maxime caron on Unsplash)

Sebaliknya, kita juga menutup mata terhadap kebaikan orang yang menjadi lawan politik orang yang kita dukung. Ketika mereka melakukan keburukan sejelek apapun itu, hujatan muncul dari bibir kita.

Jelas bukan demokrasi seperti ini yang kita harapkan dengan penggulingan mantan presiden Soeharto. Kita mengharapkan demokrasi yang obyektif dan menghargai pilihan orang lain.

Mungkin ada beberapa pemilih yang mempercayai aturan yang tertulis di agamanya (termasuk penulis), namun ada juga yang mempercayai tafsir lain. Penulis tidak mempersalahkan hal tersebut selama mereka juga menghargai pilihan penulis.

Setelah pengumuman calon presiden dan wakilnya, penulis menyimak berbagai timeline di media sosial, mulai Twitter, Instagram hingga Line Today. Penulis membaca media yang pro petahana, pro penantang, dan netral (kalau masih ada). Ini penulis lakukan agar dapat melakukan penilaian yang tidak berat sebelah, meskipun suara penulis hanya bernilai satu, sama dengan suara yang dimiliki pemilih lainnya.

Jujur, sekarang penulis belum bisa menentukan pilihan, walaupun ada kecondongan terhadap salah satu pasangan capres-cawapres. Penulis masih menantikan manuver-manuver politik yang akan mereka lakukan. Selain itu, debat-debat antara calon juga menjadi salah satu hal yang penulis nantikan.

Ributnya Para Pendukung

Menyaksikan dinamika politik itu sebenarnya menarik. Banyak hal yang bisa berubah dengan sedemikian cepat, kadang terdapat plot twist yang tak disangka-sangka. Sense-nya sama dengan membaca novel detektif.

Banyak juga hal yang membuat kita gemas, lantas tertawa kecil. Apalagi jika bukan keributan yang dilakukan oleh antar pendukung di media sosial (lagi-lagi media sosial disalahkan).

Sebagai contoh, pendukung kubu penantang menagih janji-janji kubu petahana yang belum terealisasi. Pendukung kubu petahana bertanya balik, emang calon kalian udah ngapain aja? Calon gue udah kerja nyata.

Contoh lain, pendukung kubu petahana protes, ngurus provinsi aja belum becus, mau naik jadi cawapres. Pendukung kubu penantang menyerang balik, lah bukannya pilihan lu juga gitu dulu?

Isu agama pun juga menjadi menarik, karena dari yang penulis amati, pendukung kubu petahana seringkali menyuarakan “ulama jangan ikut berpolitik”. Sekarang, dengan pilihan cawapres petahana, pendukung kubu penantang menggunakannya sebagai senjata.

Ricuh di Dunia Maya (Photo by Hermes Rivera on Unsplash)

Keributan antar pendukung ini juga memiliki andil dalam memperkeruh suasana politik di Indonesia. Mereka pada akhirnya menyerang secara personal, bukan memberi kritik program-program yang ditawarkan oleh masing-masing calon.

Kedewasaan dalam berpolitik memang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bernegara yang menganut sistem demokrasi. Banyak yang menganggap, sebenarnya Indonesia belum siap melaksanakan demokrasi karena mentalnya yang belum siap kalah.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama mengawal pesta demokrasi (siapa yang sejatinya berpesta?) ini dengan baik. Pilihlah calon yang menurut kita paling bisa membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik.

Dan ingatlah kata-kata Aa Gym pada acara Indonesia Lawyer pada Selasa (7/8) kemarin, bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan, semuanya sudah tertulis. Jadi yakinlah bahwa apapun hasilnya, merupakan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini.

 

 

Kayuringin, Bekasi, 11 Agustus 2018, terinspirasi dari tweet Aya, teman penulis yang sedang melanjutkan studi di Belanda.

Photo by Arnaud Jaegers on Unsplash

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Politik & Negara

Jam Malam Corona

Published

on

By

Tahun sudah berganti, namun masalah yang kita hadapi justru semakin banyak. Selain banyaknya bencana di awal tahun, Covid-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi dari muka bumi.

Berbagai aturan dan protokol kesehatan sudah dikeluarkan untuk mengatasi permasalahan ini. Bahkan, presiden dengan bangganya menyatakan Indonesia bisa mengatasi virus ini.

Benarkah demikian? Entahlah, Penulis tidak berani memberikan penilaian.

Di antara semua aturan yang diterapkan demi menekan kenaikan pasien Covid-19, adanya jam malam lah yang paling tidak Penulis pahami.

Nasib Para Penjaja Makanan di Malam Hari

Penjual Nasi Goreng (BisikanBisnis.com)

Jika alasannya untuk menghindari kerumunan, kenapa tidak melakukan pembatasan saja seperti yang diterapkan pada siang hari?

Kalau Penulis sendiri mungkin tidak terlalu mendapatkan efeknya secara langsung. Paling hanya kebingungan jika sedang lapar dan tidak ada makanan di rumah.

Yang Penulis pikirkan adalah bagaimana dengan penjual makanan yang hanya berjualan di malam hari seperti penjual nasi goreng, sate, martabak, dan lain sebagainya.

Makanan-makanan tersebut umumnya hanya ditemukan pada malam hari. Jika mereka dilarang berjualan karena jam malam, lantas darimana penjualnya mendapatkan pemasukan?

Berjualan siang hari? Penulis yakin ada alasan-alasan mengapa mereka tidak bisa melakukan hal tersebut.

Bagaimana dengan anak kos yang tidak memiliki kemampuan memasak? Kalau malam sudah tiba, di mana mereka bisa mendapatkan makanan?

Jangankan tempat berjualan makan, minimarket pun sudah pada tutup semua. Kalau beli makanan dari sore, pasti malamnya sudah dingin.

Penulis pun membayangkan, pelarangan jam malam ini tentu bisa diterima jika ada solusi dari pemerintah. Mungkin dengan membeli dagangan para penjual tersebut untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Implementasinya memang sulit, tapi itu lebih baik daripada hanya melakukan pelarangan tanpa memberi solusi apapun. Rakyat butuh makan dan sudah seharusnya pemerintah hadir.

Atau setidaknya, biarlah usaha makan itu tetap buka karena penjual dan pembelinya sama-sama membutuhkan. Usaha lain yang tidak berkaitan dengan perut mungkin bisa ditutup.

Penutup

Dulu di tempat kerja Penulis, kantor menerapkan jam masuk dimajukan satu jam. Para karyawannya pun heran, apa Covid-19 mulai beraksi di atas jam sembilan pagi.

Hal yang sama pun berlaku untuk aturan jam malam ini. Yang namanya virus tidak mengenal waktu. Ia bisa menyerang siapa saja dan kapan saja.

Ketika mencoba mencari berbagai informasi, Penulis belum menemukan berita yang menyatakan kalau pemberlakukan jam malam berhasil meredam Covid-19.

Penulis hargai kebijakan ini sebagai upaya pemerintah untuk menekan angka pasien Covid-19. Hanya saja, menurut pendapat pribadi Penulis hal ini kurang efektif.

Bagaimana jika masyarakat yang merasa stres karena tidak boleh keluar malam, akhirnya malah berkumpul di siang hari dan menimbulkan kerumunan yang padat? Kan sama saja jadinya.

Kalau mau total kan sebenarnya memang harus lockdown seperti negara lain. Hanya saja, negara kita rasanya belum mampu menghidupi ratusan juta rakyatnya sekaligus.

 

 

Lawang, 27 Januari 2020, terinspirasi dari banyaknya penjual dan pembeli makanan yang merasa dirugikan dengan kebijakan ini

Foto: Liputan 6

Sumber Artikel: Ada Jam Malam, Bisakah Tekan Kasus Virus Corona? (klikdokter.com)

Continue Reading

Politik & Negara

Negara Demokrasi?

Published

on

By

Serius tanya, benarkan negara kita benar-benar menganut bentuk pemerintahan demokrasi? Yakin bukan bentuk pemerintahan yang lain?

Penulis bukan orang yang paham dengan dunia politik. Isme-isme yang ada di dunia pun tidak hafal. Membedakan sosialisme dan komunisme saja tidak bisa.

Walaupun begitu sebagai orang awam, Penulis benar-benar bertanya, apakah benar Indonesia adalah negara yang menganut demokrasi?

***

Kalau dari sumber-sumber yang Penulis baca, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua rakyatnya mendapatkan hak yang sama untuk menentukan hidupnya.

Pasti ada penjelasan yang lebih njelimet lagi, tapi orang awam seperti Penulis menganggap praktik demokrasi yang paling mudah dipahami adalah Pemilu.

Beda sama eranya Pak Harto yang penuh tekanan, sekarang semua rakyat yang memenuhi syarat bisa menentukan siapa wakil mereka di parlemen.

Mau profesor mau pengangguran, suaranya sama. Kita semua bisa memilih wakil yang dianggap terbaik, tapi nama-namanya disodorkan sama partai politik.

Masalahnya, apa benar mereka benar-benar mewakili rakyatnya? Apakah mereka lebih mementingkan kepentingan kelompok alias partainya?

Apa jangan-jangan mereka mendahulukan kepentingan orang-orang yang ada di balik layar, yang diam-diam mengendalikan negara ini seperti Willy Tybur mengendalikan Marley?

Konspirasi oh konspirasi!

***

Harapannya dengan sistem demokrasi, kita bisa dapat pemimpin yang terbaik kan? Yang pilihan rakyat, yang benar-benar memikirkan kebutuhan rakyatnya dibandingkan perutnya sendiri.

Sistem demokrasi seharunya membuat siapapun berkesempatan untuk berbakti kepada negaranya, menjadi pemimpin yang amanah dan dicintai rakyatnya.

Tapi kalau lihat televisi dan berita, kok kayaknya yang mimpin negara ini ya orang-orang yang itu-itu saja ya? Malah ada orang dari orde baru yang masih eksis hingga saat ini.

Kok kayaknya negara ini dikuasai sama kelompok yang itu-itu saja ya? Itu yang keliatan di layar kaca, yang di balik layar pasti ada lebih banyak.

Kalau negara ini dikuasai kelompok yang itu-itu saja, bukankah lebih cocok kalau negara ini disebut sebagai negara oligarki?

***

Buat yang belum tahu, gampangnya oligarki itu bentuk pemerintahan yang negaranya dikuasai oleh kelompok elit tertentu. Bisa dari pihak partai, militer, orang yang berduit, dan sebagainya.

Terdengar familiar, kan?

Sekarang  kalau bapak atau ibunya pejabat, bisa saja anaknya bakal jadi penerus mereka. Enggak percaya? Anak dan mantu presiden yang sekarang berhasil jadi walikota.

Itu yang sering disorot sama media, yang jarang disorot? Lebih banyak lagi! Kayaknya hampir di semua daerah mengalami problematika yang sama.

Mau memunculkan diri sendiri atau orang lain yang dianggap mampu memimpin, hampir enggak mungkin kalau enggak punya duit dan dukungan partai politik!

***

Demokrasi identik dengan kebebasan berpendapat. Apakah di sini seperti itu? Rasanya belum, buktinya banyak yang terjerat UU ITE kalau berseberangan!

Kalau kita ngata-ngatain presiden seperti rakyat Amerika Serikat mengolok-olok Trump, hampir bisa dipastikan kita akan berakhir di balik jeruji.

Jadi coba direnungkan lagi, apa benar negara kita negara demokrasi?

 

 

 

Lawang, 15 Januari 2021, terinspirasi dari para “pemimpin” di televisi yang kayaknya itu-itu saja orangnya

Foto:

Continue Reading

Politik & Negara

Karut-Marut Negeriku…

Published

on

By

Menjelang akhir tahun, entah mengapa kondisi Indonesia seolah makin karut-marut seolah semua masalah dari berbagai aspek tumpah ruah menjadi satu.

Dua orang menteri tertangkap tangan KPK, di mana yang satu secara keji dan tidak bermoral mengkorupsi dana bantuan sosial (bansos) untuk pandemi Covid-19.

Pengumuman pengadaan vaksin yang akan diimpor dari berbagai negara, namun mayoritas masyarakat harus mengeluarkan dana pribadi untuk bisa mendapatkannya.

Berbagai “drama” yang silih berganti terkait Habib Rizieq Shihab, mulai dari kepulangan beliau, acara Maulid Nabi yang dianggap melanggar protokol kesehatan, tes swab, hingga yang terbaru kasus penembakan di Tol Cikampek.

Mencuatnya kembali Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang “kabarnya” ingin memeras Pancasila menjadi Ekasila yang berisi Gotong Royong.

Penulis pun jadi berpikir, sebenarnya ada apa dengan negeri ini?

Apa ada sesuatu yang lebih besar di balik semua kejadian ini?

Kenapa banyak pihak seolah-olah merasa dirinya lah yang paling benar, sedangkan yang kontra pasti salah?

Mau sampai kapan keriuhan-keriuhan seperti ini akan terus terjadi?

Mau sampai kapan?

***

Muncul teori konspirasi di kepala Penulis. Bagaimana jika situasi seperti ini sengaja diciptakan agar generasi mudanya menjadi apatis dan tidak peduli dengan kondisi negaranya?

Hal ini diperparah dengan banyaknya candu yang bisa menjangkiti para generasi muda. Sosial media, game, anime, K-Pop, banyak sekali sarana hiburan yang membuai kita menjadi acuh terhadap kondisi negaranya sendiri.

Kalo generasi muda tidak peduli dengan negaranya sendiri, maka orang-orang yang “berkepentingan” akan terus mengendalikan negara ini. Kalau becus sih tidak masalah, kalau inkompeten?

Iya, Penulis sadar dirinya juga termasuk yang tidak bisa berbuat banyak melihat kondisi negara sekarang. Tapi setidaknya, kita perlu tahu apa saja yang sedang terjadi di negara ini sehingga tidak mudah dikendalikan oleh “tangan-tangan yang tidak terlihat”.

***

Penulis jadi berpikir lagi, apakah keriuhan ini terjadi karena kita sekarang bisa terkoneksi ke internet selama 24 jam? Apakah keriuhan terjadi karena adanya media sosial?

Sewaktu kecil, ketika koneksi internet belum selancar sekarang dan media sosial belum ada, rasanya jarang sekali terjadi keriuhan semacam ini.

Ingin tahu berita ya hanya dari berita di televisi, radio, atau koran. Sekarang, semua bisa menjadi wartawan dan ahli dalam bidang apapun berkat media sosial.

Memang kebebasan pers menjadi hadiah yang berharga dari reformasi. Tapi rasanya kok sekarang jadi kebablasan, belum lagi media-media yang dimiliki oleh orang berkepentingan…

***

Penulis adalah tipe orang yang cenderung realistis. Melihat semua hal yang sedang terjadi di negeri ini, Penulis sadar dirinya tidak bisa berbuat banyak.

Penulis juga menyadari bahwa dirinya hanyalah sekadar penonton yang sedang melihat “panggung sandiwara” yang dilakukan oleh orang-orang.

Entah sampai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung. Hingga tahun 2024 ketika presiden telah berganti? Penulis tidak yakin sama sekali.

Selama masih ada orang-orang yang memprioritaskan kepentingan dirinya sendiri ataupun kelompoknya, negara kita tercinta akan masih menyuguhkan banyak sekali drama yang karut-marut tak karuan.

 

 

 

Lawang, 8 Desember 2020, terinspirasi dari karut-marutnya suasana negara Indonesia kita tercinta akhir-akhir ini

Foto: Mufid Majnun

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan