<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>khawatir Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/khawatir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/khawatir/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Aug 2022 15:42:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>khawatir Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/khawatir/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kecemasan Itu Respons Alami dari Tubuh, kok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2022 13:20:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[kecemasan]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5845</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba cari posisi membaca yang paling nyaman, karena Penulis ingin mengajak Pembaca sekalian mengingat-ingat masa lalunya. Cari tempat yang tenang dan minim distraksi. Tak perlu terburu-buru, santai saja. Silakan, Penulis akan menunggu dengan sabar. Sudah? Kalau sudah, mari kita sama-sama bersiap diri untuk melakukan perjalanan lintas waktu, ketika masalah rasanya belum sesulit saat ini. Kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/">Kecemasan Itu Respons Alami dari Tubuh, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Coba cari posisi membaca yang paling nyaman, karena Penulis ingin mengajak Pembaca sekalian mengingat-ingat masa lalunya. Cari tempat yang tenang dan minim distraksi. Tak perlu terburu-buru, santai saja. Silakan, Penulis akan menunggu dengan sabar.</p>



<p>Sudah? Kalau sudah, mari kita sama-sama bersiap diri untuk melakukan perjalanan lintas waktu, ketika masalah rasanya belum sesulit saat ini. Kita kembali ke saat-saat di mana kecemasan yang kita rasakan belum seberat saat ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Menengok Kecemasan di Masa Lalu</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5852" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Masih Jarang Merasa Cemas (<a href="https://unsplash.com/@robbie36">Robert Collins</a>)</figcaption></figure>



<p>Coba ingat ketika kita masih duduk di bangku sekolah. Apa  yang sering kita cemaskan sebagai seorang siswa ketika duduk di bangku SD? Mungkin tidak mengerjakan tugas, takut dimarahi guru karena nakal, dan masalah anak-anak lainnya. </p>



<p>Beranjak ke SMP, masalah akan semakin bertambah. Harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, benih-benih cinta mulai muncul, tawuran antar sekolah, adalah beberapa masalah yang bisa saja menjadi sumber kecemasan.</p>



<p>Bagaimana ketika sudah duduk di bangku SMA? Di fase ini, biasanya kita sudah mulai merasa dewasa dan mulai menemukan jati diri. Seringnya, sumber kecemasan paling besar akan menjelang kelulusan.</p>



<p>Alasannya, setelah lulus kita akan langsung dihadapkan banyak pilihan: Mau lanjut kuliah atau kerja? Kalau kuliah, kuliah apa dan di mana? Kalau kerja, mau kerja apa? Keputusan di momen ini seolah akan menjadi penentu masa depan kita untuk sukses atau tidak.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="h3IIOK6ooa"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a></blockquote><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Dulu Kerja di Mana?&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/embed/#?secret=h3IIOK6ooa" data-secret="h3IIOK6ooa" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Di fase-fase usia 20-an, kecemasan yang timbul pun semakin bervariasi. Masalah di kerja, percintaan, bagaimana masyarakat yang cenderung kompetitif, adanya standar masyarakat yang seolah harus dipenuhi, dan masih banyak lagi.</p>



<p>Ketika sudah menikah, kecemasan yang muncul pun akan semakin bertambah. Mencemaskan masa-masa pensiun nanti, gaji yang terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kekhawatiran anaknya akan salah pergaulan, dan seabrek masalah lainnya.</p>



<p>Nah, saat memasuki usia senja, biasanya kita sudah mulai bijak dalam menyikapi kehidupan. Banyaknya pengalaman hidup yang telah dilalui membuat kita bisa menanggapi kecemasan dengan lebih baik lagi. Kecemasan masih ada, tapi kita bisa mengendalikannya lebih baik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Semakin Bertambah Usia, Semakin Bertambah Kecemasan yang Dirasakan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5853" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-2.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tingkat Kecemasan yang Dimiliki Semakin Kompleks (<a href="https://unsplash.com/@elisa_ventur">Elisa Ventur</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari ilustrasi di atas, kita bisa menyimpulkan kalau <strong>semakin bertambah usia, semakin berat masalah yang akan kita hadapi</strong>. Sekarang bukan hanya memikirkan PR yang belum dikerjakan, melainkan bagaimana cara mencari uang untuk membayar tagihan bulanan.</p>



<p>Dulu kita tidak perlu pusing mencari uang untuk membeli cilok karena dikasih uang jajan oleh orang tua. Sekarang, kita sudah tidak bisa bergantung lagi ke orang tua. Tuntutan untuk punya <em>skill </em>dan relasi agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak menjadi sebuah kewajiban.</p>



<p>Kita juga bisa menyimpulkan, kalau<strong> </strong>kecemasan (atau <em>anxiety</em>) adalah hal yang sering kita alami dalam semua fase kehidupan kita. <strong>Semakin bertambah usia, semakin banyak pula kecemasan yang akan datang menghampiri kita</strong>.</p>



<p>Biasanya, hal ini akan dipicu oleh ketidakpastian yang membuat kita merasa tidak tahu apa yang akan terjadi. Penulis akan berusaha untuk memberikan contoh dari pengalaman pribadinya selama ini.</p>



<p>Ketika lulus dari bangku kuliah, Penulis belum ada bayangan akan kerja sebagai apa karena merasa <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">salah jurusan sampai lulus</a>. Butuh satu tahun lebih sampai Penulis mendapatkan pekerjaan formal, setelah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">berkali-kali gagal mendapatkan beasiswa</a> S2 di luar negeri.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="1gtRIY0yxt"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">Pengalaman Mengejar Beasiswa (dan Gagal Empat Kali)</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Mengejar Beasiswa (dan Gagal Empat Kali)&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/embed/#?secret=1gtRIY0yxt" data-secret="1gtRIY0yxt" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Penulis merasa<strong> tidak tahu harus berbuat apa</strong>. Entah berapa lama Penulis terjebak dalam ketidakpastian, takut dengan kenyataan dan masa depan yang harus dihadapi. Penulis merasa gagal dalam hidupnya dan hanya menjadi beban dalam keluarga.</p>



<p>Lantas, Penulis memutuskan harus berbuat sesuatu untuk menghalau kecemasan-kecemasan dan segala pikiran negatif tersebut. Setelah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-net-tv-tahap-pertama/">ditolak NET TV</a>, Penulis memutuskan untuk membantu di tempat kerja ayah. </p>



<p>Dari sana, ternyata ada titik-titik yang terhubung hingga membawa Penulis di titik yang sekarang. Seolah semuanya ternyata <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">memiliki benang merah</a>. Padahal, awalnya hal-hal yang Penulis alami rasanya tidak memiliki keterkaitan sama sekali.</p>



<p>Penulis pun sampai sekarang masih sering merasa cemas. Cemas akan prospek karir di masa depan, cemas karena belum bisa memberikan apa-apa ke orang tua, cemas ditinggal orang-orang yang disayangi, cemas akan hidup sendirian tanpa pasangan, dan lain-lainnya.</p>



<p>Apalagi, Penulis adalah tipe <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">orang yang mudah <em>overthinking</em></a>, terutama menjelang tidur. Ada saja pikiran-pikiran yang lewat dan menghalau kantuk datang. Ada saja hal-hal yang akan membuat Penulis merasa cemas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kecemasan Itu Bentuk Respons Alami dari Tubuh</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5856" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok-3-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Merasa Cemas Itu Wajar Kok (<a href="https://unsplash.com/@armedshutter">Ayo Ogunseinde</a>)</figcaption></figure>



<p>Apakah wajar jika kita merasa cemas? Sangat wajar, karena pada dasarnya <strong>kecemasan adalah bentuk respons alami dari tubuh</strong> <strong>yang berfungsi sebagai pengingat</strong>. Kalau kita tidak pernah merasa cemas, justru bahaya.</p>



<p>Mungkin ketika kita masih SD, kecemasan karena tidak mengerjakan tugas tidak begitu parah. &#8220;<em>Halah, paling nanti dimarahi sama guru.</em>&#8221; Ketika diputuskan oleh pacar, kita bisa mengatasi kecemasan dengan berkata, &#8220;<em>Halah, bisa cari pacar baru lagi</em>.&#8221;</p>



<p>Ketika beranjak dewasa, kecemasan sudah tidak bisa diabaikan begitu saja. Contoh, kita merasa cemas akan masa depan setelah lulus sekolah. Kalau kecemasan seperti ini diabaikan, yang ada kita akan jadi bermalas-malasan dan menganggap enteng semua masalah. </p>



<p>&#8220;<em>Buat apa kuliah/kerja, toh masih bisa hidup enak dari uang pemberian orang tua. Lebih baik hidup bebas dengan melakukan hal yang kita suka, seperti <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">rebahan dan main </a></em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">game</a><em>. Cari duitnya nanti aja.</em>&#8220;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="rDHYlvPyC6"><a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">Menjadi Dewasa Itu&#8230;</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Menjadi Dewasa Itu&#8230;&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/embed/#?secret=rDHYlvPyC6" data-secret="rDHYlvPyC6" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Saat kita beranjak dewasa, kecemasan sudah harus ditindaklanjuti <strong>dengan melakukan sesuatu untuk mengatasi kecemasan tersebut</strong>. Dengan merasa cemas, kita pun memiliki semacam dorongan untuk berbuat sesuatu karena tubuh telah memberi sinyal: </p>



<p>&#8220;<em>Hei, <a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">kamu itu sudah dewasa</a>, harus mulai hidup mandiri dan bisa cari uang sendiri. Makanya cari kerja sana, belajar </em>skill<em> baru, mau sampai kapan jadi beban orang tua!</em>&#8220;</p>



<p>Tanpa adanya kecemasan, mungkin kita tidak akan pernah bisa berkembang dan menjadi lebih baik. Untuk itu, memiliki kecemasan sebenarnya adalah hal yang positif karena ia hadir sebagai pengingat kita untuk berbuat sesuatu.</p>



<p>Kecemasan akan menjadi buruk kalau kita tidak berbuat apa-apa untuk mengatasinya. Merasa cemas, tapi <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a> </em>untuk melakukan sesuatu yang bisa menghilangkan kecemasan tersebut. Kecemasan akan jadi hal buruk jika kita hanya larut terus dalam pemikiran kita sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis saat ini merasa cemas karena dirinya belakangan ini mudah sakit. Kecemasan ini akan sia-sia jika Penulis merasa tidak mengubah gaya hidupnya. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membiasakan diri <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ritual-untuk-bangun-pagi/">bangun pagi</a> dan lebih rutin berolahraga.</p>



<p>Contoh yang lain, Penulis merasa cemas dengan prospek masa depan karirnya. Bagaimana nanti kalau begini-begini saja tanpa ada perkembangan? Rasa cemas tersebut mendorong Penulis untuk belajar <em>skill-skill </em>baru yang akan bermanfaat di dunia kerja.</p>



<p>Terakhir, Penulis cemas tidak akan menikah karena terlalu lama sendiri. Penulis cemas tidak akan ada yang mau dengan Penulis. Cara mengatasinya, ya berusaha memantaskan diri untuk dia yang akan datang di waktu yang tepat.</p>



<p>Dengan adanya kecemasan-kecemasan tersebut, Penulis terdorong untuk melakukan sesuatu yang akan berdampak baik bagi Penulis. Tanpa adanya kecemasan, mungkin hidup Penulis akan begitu-begitu saja tanpa ada perubahan yang signifikan.</p>



<p>Kita sudah semakin dewasa, dengan masalah yang semakin kompleks. Dunia ini memang keras dan tidak adil, sehingga kecemasan dari berbagai penjuru akan selalu datang menghampiri kita. </p>



<p>Pertanyaannya, mau kita apakan rasa cemas tersebut? Berbuat sesuatu untuk menghilangkan kecemasan tersebut, atau memilih untuk diam dan terus dihantui oleh kecemasan tersebut? Kita sendiri yang memutuskan.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 4 Agustus 2022, terinspirasi dari dirinya sendiri yang masih sering merasa cemas akan ketidakpastian</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@keaneyefoto">Hailey Kean</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/">Kecemasan Itu Respons Alami dari Tubuh, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kecemasan-itu-respons-alami-dari-tubuh-kok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ya Udah Sih&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 11:30:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3951</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya sudah lama Penulis menjadi seorang pemikir. Mungkin, dari kecil. Ada saja pikiran yang melintas di kepala, mulai yang realistis hingga yang imajinatif. Mungkin karena inilah Penulis menjadi orang yang overthinking hingga sekarang. Semakin bertambah usia, ada saja yang bisa dijadikan bahan pemikiran. Penulis menyadari bahwa sifat ini tidak baik untuk dirinya sendiri, apalagi jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/">Ya Udah Sih&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya sudah lama Penulis menjadi seorang pemikir. Mungkin, dari kecil. Ada saja pikiran yang melintas di kepala, mulai yang realistis hingga yang imajinatif.</p>
<p>Mungkin karena inilah Penulis menjadi orang yang <em>overthinking</em> hingga sekarang. Semakin bertambah usia, ada saja yang bisa dijadikan bahan pemikiran.</p>
<p>Penulis menyadari bahwa sifat ini tidak baik untuk dirinya sendiri, apalagi jika kerap dilakukan secara berlebihan. Efeknya bermacam-macam, mulai insomnia sampai merasa <em>insecure</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis berusaha mencari berbagai cara untuk mengurangi sifat ini. Salah satunya, dengan sebuah mantra sederhana: <strong><em>Ya udah sih..</em>.</strong></p>
<h3>Hidup untuk Hari Ini</h3>
<blockquote><p><em>Daripada terus dihantui ketakutan akan kehilangan, mengapa tidak kita fokuskan diri untuk bersyukur atas semua kenangan yang telah terjadi?</em></p></blockquote>
<p>Kita ini kadang terlalu memikirkan masa depan dan menyesali masa lalu, hingga lupa kalau kita hidup di masa kini. Perasaan cemas, gelisah, khawatir, takut, seolah mendominasi diri hingga menjadi tak berdaya.</p>
<p>Padahal,<strong> kebanyakan apa yang kita khawatirkan tak pernah benar-benar terjadi</strong>. Seperti yang Penulis pernah tulis, <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% kekhawatiran tidak pernah benar-benar terjadi</a>.</p>
<p>Itu semua adalah apa yang sering Penulis pikirkan secara berlebihan. Ada saja yang dicemaskan atau disesali, terutama ketika hendak beranjak tidur.</p>
<p>Hal ini membuat Penulis terkadang lupa kalau dirinya hidup untuk saat ini, bukan di masa lalu. Kita memang perlu memikirkan masa depan, tapi jangan sampai kita terbelenggu karenanya.</p>
<p>Oleh karena itu, terutama beberapa hari terakhir, Penulis berusaha memberikan sugesti kepada dirinya sendiri dengan berkata: <strong><em>Ya udah sih&#8230; </em></strong>ketika mulai<em> overthinking.</em></p>
<h3>Mengendalikan Kehidupan</h3>
<p>Di dunia ini, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sikap orang ke kita, perasaan orang lain, hanya menjadi beberapa contohnya.</p>
<p>Daripada memusingkan hal tersebut, <em>mengapa tidak kita fokuskan untuk mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan?</em></p>
<p>Apa itu? Diri kita sendiri, perasaan sendiri, emosi sendiri. Dengan demikian, kita bisa menikmati hidup hari ini tanpa perlu merasa takut akan masa depan ataupun menyesali masa lalu.</p>
<p>Penulis mempelajari hal ini dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a>. Istilahnya adalah <em>dikotomi kendali</em>. <strong>Dunia terbagi menjadi apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak</strong>.</p>
<p>Mantra <strong><em>Ya udah sih&#8230; </em></strong>biasa Penulis lontarkan di dalam hati untuk menyadarkan dirinya kalau tidak semua bisa kita kendalikan.</p>
<p>Pekerjaan kantor bisa kita kendalikan, namun sikap atasan ke kita tidak bisa dikendalikan. Sikap orang yang tiba-tiba berubah tidak bisa kita kendalikan, namun bagaimana kita menyikapi hal tersebut dapat dikendalikan.</p>
<p>Seharusnya jika Penulis bisa secara bertahap menerapkan hal ini dalam kehidupannya, niscaya sifat mudah <em>overthinking </em>yang dimiliki bisa dikurangi.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Selain berusaha mendisiplinkan diri menggunakan mantra tersebut, Penulis juga sedang belajar meditasi agar bisa hidup yang lebih <em>santuy. </em>Percayalah, capek jadi orang yang apa-apa dipikir!</p>
<p>Penulis memang seorang pemikir, bahkan kadang merasa bangga karenanya. Namun apapun yang berlebihan tidak pernah baik.</p>
<p>Semoga saja dengan mantra sederhana ini, Penulis bisa mengurangi sifat <em>overthinking</em>-nya yang kerap membuat orang lain risih ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Juni 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang memang kerap <em>overthinking</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@katlovessteve">Kat Jayne on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/">Ya Udah Sih&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Sep 2019 18:43:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berlebihan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2764</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah merasa khawatir akan sesuatu yang bisa terjadi hingga tidak bisa tidur? Sama, penulis juga pernah. Sering malah. Beberapa kali malah sangat berlebihan hingga membuat penulis stres sendiri. Masalahnya, hal yang dikhawatirkan tersebut sering kali tidak terbukti. Meskipun sudah mengalami hal ini berkali-kali, penulis masih saja sering melakukannya. 85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi Menurut Don [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah merasa khawatir akan sesuatu yang bisa terjadi hingga tidak bisa tidur? Sama, penulis juga pernah. Sering malah. Beberapa kali malah sangat berlebihan hingga membuat penulis stres sendiri.</p>
<p>Masalahnya, hal yang dikhawatirkan tersebut sering kali tidak terbukti. Meskipun sudah mengalami hal ini berkali-kali, penulis masih saja sering melakukannya.</p>
<h3 style="text-align: left;">85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi</h3>
<p><div id="attachment_2768" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2768" class="size-large wp-image-2768" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2768" class="wp-caption-text">Merasa Khawatir (<a href="https://www.netdoctor.co.uk/healthy-living/mental-health/a27974/how-to-stop-worrying/">Netdoctor</a>)</p></div></p>
<p>Menurut Don Joseph Goewey, penulis buku <em>The End of Stress </em>(penulis belum pernah membaca buku ini), <strong>85% kekhawatiran tidak pernah menjadi kenyataan</strong>.</p>
<p>Fakta menarik lainnya, dari 15% kekhawatiran yang terjadi, sebanyak <strong>72% bisa diatasi melebihi ekspetasi </strong>dan membuat kita mendapatkan pelajaran yang berharga.</p>
<p>Ketika membaca fakta ini, penulis pun merasa tercenung karena merasa ada benarnya. Sepanjang pengalaman penulis, mayoritas kekhawatiran yang penulis pikirkan tak pernah menjadi realita.</p>
<p>Sebagai orang yang mudah <em>overthinking</em>, penulis kerap membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk jika telah terjadi sesuatu.</p>
<p>Karena terpikirkan kemungkinan buruk ini, penulis menjadi khawatir. Bisa jadi, penulis akan memikirkannya berhari-hari, memikirkan sesuatu yang sebenarnya hanya ada di kepala kita.</p>
<p>Padahal, banyak hal merugikan yang dipicu dari khawatir berlebihan, mulai dari kehilangan konsentrasi, insomnia, <em>bad mood</em>, asam lambung naik, merasa <em>insecure</em>, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Bagaimana Cara Menghilangkan Khawatir Berlebih?</h3>
<p><div id="attachment_2769" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2769" class="size-large wp-image-2769" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2769" class="wp-caption-text">Melatih Pola Pikir (<a href="https://www.mindful.org/style-meditation-best/">Mindful</a>)</p></div></p>
<p>Karena menyadari kekurangan diri ini, penulis tentu berusaha untuk menemukan penyelesaian agar tidak mengulangnya di masa depan.</p>
<p>Biasanya, penulis akan mencari teman cerita jika sedang merasa khawatir. Kenapa? Karena terkadang ketika bercerita kepada orang lain, kita akan sadar bahwa penyebab kekhawatiran tersebut ternyata sepele.</p>
<p>Jika bukan kita yang sadar, mungkin teman cerita kita yang akan memberitahukannya kepada kita. Kalau ia benar-benar dekat dengan kita, ia akan secara terus terang memberi tahu seberapa sederhana sebenarnya yang kita khawatirkan.</p>
<p>Kita juga harus menyibukkan diri dengan melakukan kegiatan-kegiatan lain yang bisa mengalihkan pikiran kita. Kekhawatiran sering muncul ketika kita tidak memiliki aktivitas alias sedang <em>nganggur</em>.</p>
<p>Penulis paling sering merasa khawatir ketika menjelang tidur. Mungkin, itu menjadi salah satu alasan kenapa penulis sering mengalami insomnia.</p>
<p>Hal lain yang biasanya penulis lakukan adalah memberikan sugesti diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kita harus bisa meyakinkan diri, semua kekhawatiran yang ada di dalam benak tidak akan pernah terjadi.</p>
<p><strong><em>Tapi kan ada 15% kemungkinan kekhwatiran akan terjadi?</em></strong></p>
<p>Benar, penulis pun terkadang mengalaminya. Namun, terus memikirkannya pun tidak akan mengubah apapun. Ada kekhawatiran yang bisa diselesaikan, ada yang tidak.</p>
<p>Jika bisa diselesaikan, kita harus segera mencari penyelesaiannya. Kalau perlu, tulis daftar semua kemungkinan solusi yang bisa kita lakukan.</p>
<p>Jika tidak bisa diselesaikan, belajarlah untuk menerimanya. Memikirkannya secara terus menerus tidak akan mengubah apapun.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Rasa khawatir sebenarnya memiliki beberapa manfaat, seperti menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan terburuk. Khawatir itu sangat manusiawi dan normal.</p>
<p><em>Akan tetapi jika dilakukan secara berlebihan, rasa khawatir akan merugikan kita.</em></p>
<p>Seharusnya, kita harus <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">berfokus dengan apa yang bisa kita lakukan</a>. Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang berada di luar kendali kita.</p>
<p>Sering merasa terlalu khawatir juga tidak baik untuk kesehatan mental kita. Bagi penulis, mudah khawatir juga berpengaruh ke kesehatan karena merusak siklus tidur.</p>
<p>Semoga dengan menulis tulisan ini, penulis bisa mengurangi sifat mudah khawatirnya di masa depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Modernland, Tangerang, 29 September 2019, terinspirasi dari diri sendiri yang sangat sering khawatir berlebihan.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.netdoctor.co.uk/healthy-living/mental-health/a27974/how-to-stop-worrying/">NetDoctor</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% Kekhawatiran Tidak Pernah Terjadi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berhenti Khawatir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Dec 2018 16:06:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>
		<category><![CDATA[maju]]></category>
		<category><![CDATA[memulai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[ragu]]></category>
		<category><![CDATA[risiko]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1846</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah merasa bahwa apa yang akan kita lakukan tidak akan berhasil? Pernahkah merasa berat memulai sesuatu hanya karena kekhawatiran yang belum tentu terbukti benar? Tenang, penulis juga mengalaminya, sering malah. Hal tersebut sangat wajar. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh membiarkan kekhawatiran menghambat langkah kita. Justru, kita harus bisa melawan balik dan mematahkan segala kekhawatiran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/">Berhenti Khawatir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah merasa bahwa apa yang akan kita lakukan tidak akan berhasil? Pernahkah merasa berat memulai sesuatu hanya karena kekhawatiran yang belum tentu terbukti benar?</p>
<p>Tenang, penulis juga mengalaminya, sering malah. Hal tersebut sangat wajar. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh membiarkan kekhawatiran menghambat langkah kita. Justru, kita harus bisa melawan balik dan mematahkan segala kekhawatiran tersebut.</p>
<p>Mungkin pembaca sekalian juga pernah membuktikannya sendiri. Sewaktu berusaha menangkis kekhawatiran tersebut dan melakukan apa yang ingin dilakukan, ternyata kekhawatiran tersebut tidak pernah terjadi.</p>
<p>Contoh kecilnya, ya ketika penulis membuat blog ini. Sewaktu akan membuat blog ini, penulis khawatir bagaimana jika nantinya blog ini tidak terurus, bagaimana jika nanti tidak ada yang baca, dan &#8220;bagaimana jika&#8221; lainnya.</p>
<p>Sewaktu dijalani yang diawali dengan membeli domain dan hosting serta template websitenya, kekhawatiran tersebut tidak pernah terjadi. Sampai saat ini, penulis masih rutin menulis blog walaupun semenjak kerja agak tersendat.</p>
<p><strong>Khawatir</strong>, menurut definisi di KBBI, merupakan <em>takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang <span style="text-decoration: underline;">belum diketahui dengan pasti</span></em>. Kalau belum pasti, lantas mengapa perlu ditakuti hingga membuat kita urung melangkah?</p>
<p>Terkadang rasa khawatir juga muncul akibat risiko yang bisa timbul akibat pilihan kita. Akan tetapi, bukankah setiap tindakan yang kita ambil selalu memiliki konsekuensinya sendiri? Lantas mengapa merasa takut?</p>
<p>Rasa khawatir hanya akan membuat kita ragu dan takut, meskipun di sisi lain membuat kita <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/">waspada</a>. Oleh karena itu, kita harus bisa memanfaatkan kekhawatiran tersebut menjadi sesuatu yang positif, ya salah satunya meningkatkan kewaspadaan tersebut.</p>
<p>Bolehlah ketika akan memulai hal baru atau hendak memutuskan sesuatu kekhawatiran tersebut muncul. Hanya saja, jangan sampai kekhawatiran tersebut menghambat langkah kita untuk maju. Kita harus bisa menghentikan kekhawatiran tersebut secepatnya. Percayalah, banyak kekhawatiran tersebut tidak akan pernah terjadi,</p>
<p>Cara terbaik melawan kekhawatiran adalah dengan melakukan sesegera mungkin apa yang hendak dihambat oleh kekhawatiran tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Desember 2018, terinspirasi dari diri penulis sendiri yang mudah khawatir</p>
<p>Photo by <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@hamann">Niklas Hamann</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/">Berhenti Khawatir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
