Pengalaman Melamar Kerja di NET TV (Tahap Pertama)

Tidak lama setelah diwisuda pada bulan Maret 2017, penulis berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes di NET TV, salah satu stasiun televisi swasta yang pada waktu itu penulis anggap berbeda dengan stasiun televisi lainnya. Bekerja di media menjadi salah satu keinginan penulis selain menjadi seorang dosen.

Tes Tahap Pertama

Lokasi tempat tes sebenarnya bukan di Jakarta, melainkan di Sentul, Bogor. Penulis hanya semalam menginap di rumah tante sebelum meluncur ke selatan menggunakan KRL. Dijemput oleh adik yang kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), penulis menuju tempat menginap di Rumah Verde yang berlokasi tidak jauh dari terminal Baranangsiang.

Penulis hanya bertemu dengan adik sekitar satu jam, karena ia memiliki tugas yang harus diselesaikan. Malam itu penulis manfaatkan untuk baca-baca tentang pengetahuan umum, karena dari beberapa tulisan yang telah dibaca di internet, terdapat soal seputar hal tersebut. Selain itu, penulis juga menenangkan diri dengan membaca Donal Bebek yang penulis beli di toko buku bekas dekat Rumah Verde.

Keesokan harinya, dengan menggunakan Go-Jek (atau Grab?) penulis menuju tempat tes di Sentul International Convention Center (SICC). Waktu datang ke sana, wow, begitu banyak manusia yang memiliki keinginan sama dengan penulis untuk bekerja di NET TV. Dari berita penulis mengetahui bahwa jumlah peserta tes yang datang kali ini lebih dari 50.000 orang.

Antri Masuk

Setelah antri masuk berjam-jam, akhirnya penulis masuk ke tempat tes, tempat yang sama dengan penyelenggaraan Indonesia Choice Awards sebagai perayaan ulang tahun NET TV. Karena belum pernah menonton sepakbola di stadion, mungkin baru kali ini penulis melihat begitu banyak orang berkumpul pada satu tempat.

Sebelum tes, ada banyak sesi semacam seminar yang diisi oleh banyak tokoh, seperti Triawan Munaf (kepala Badan Ekonomi Kreatif/Bekraf) dan Wisnutama (CEO NET TV). Selain itu, datang pula para cast dari serial komedi The East. Lumayan, bisa melihat banyak artis cantik seperti Gista Putri dan Laura Theux meskipun dari jauh.

Melihat Langsung Artis Cantik

Pada tahap pertama ini, ada dua tes yang penulis jalani. Yang pertama adalah psikotest untuk mengetahui kepribadian kita. Karena tentang diri kita sendiri, maka tidak ada kesulitan untuk mengerjakannya. Yang kedua adalah Pauli Test atau yang sering disebut sebagai tes koran karena lembarnya yang lebar. Berhubung suka menghitung, penulis dapat menghabiskan dua halaman penuh tes pauli ini hingga meminta kertas tambahan.

Drama Sepulang Tes

Setelah menjalani tes, peserta pun dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Di sinilah penulis menghadapi masalah. Pertama, penulis hanya membawa sedikit uang tunai. Mencari ATM pun susahnya bukan main. Sebagai tambahan, penulis belum makan sama sekali mulai dari tiba di lokasi. Yang kedua, tidak ada sinyal di lokasi. Mungkin karena banyaknya manusia yang berada di sana, mengganggu jalur sinyal.

Karena bingung mencari cara pulang (balik ke Jakarta, bukan ke Rumah Verde), penulis jalan begitu saja mengikuti arus dengan harapan menemukan inspirasi di jalan. Banyak sebenarnya tukang ojek yang menawarkan jasanya, namun mereka mematok harga yang ugal-ugalan. Mencari kesempatan di dalam kesempitan.

Mengikuti feeling, penulis tidak ingin menggunakan jasa ojek tersebut. Penulis terus jalan saja tanpa mengetahui mau ke mana kaki ini melangkah.

Hingga, pada akhirnya, terdapat dua orang, satu laki-laki dan satu wanita, yang berteriak “YANG KE JAKARTA YANG KE JAKARTA!”

Tanpa berpikir dua kali, penulis pun langsung menyaut “SAYA!!!”

Akhirnya, dengan menggunakan Go-Car (atau Grab?), kami menuju stasiun Bogor untuk naik KRL menuju Jakarta. Untunglah, masih ada KRL yang berangkat. Penulis tinggal menunggu pengumuman tes.

 

Bersambung…

 

 

Lawang, 23 April 2018, setelah mencuci dua mobil di pagi hari

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.