<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>klasik Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/klasik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/klasik/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Oct 2022 03:23:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>klasik Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/klasik/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2022 13:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[isyana]]></category>
		<category><![CDATA[Isyana Sarasvati]]></category>
		<category><![CDATA[klasik]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[opera]]></category>
		<category><![CDATA[penyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5613</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis mengakui kalau dirinya tidak begitu sering mendengarkan lagu Indonesia di masa remajanya. Lagu-lagu rock dari barat terdengar lebih menggoda dan cocok dengan selera musik Penulis. Walaupun begitu, Penulis masih memiliki beberapa penyanyi atau band lokal favorit seperti Peterpan (sebelum menjadi Noah). Untuk penyanyi, Penulis sempat mengidolakan Gita Gutawa. Bahkan, ada teman SMA Penulis yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/">Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis mengakui kalau dirinya tidak begitu sering mendengarkan lagu Indonesia di masa remajanya. Lagu-lagu <em>rock </em>dari barat terdengar lebih menggoda dan cocok dengan selera musik Penulis.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis masih memiliki beberapa penyanyi atau <em>band </em>lokal favorit seperti <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">Peterpan</a> (sebelum menjadi Noah). Untuk penyanyi, Penulis sempat mengidolakan Gita Gutawa. Bahkan, ada teman SMA Penulis yang sampai memberikan poster bergambar dirinya.</p>



<p>Bertahun-tahun kemudian, Penulis baru menemukan lagi sesosok penyanyi perempuan yang diidolakan. Ia adalah <strong>Isyana Sarasvati</strong>, orang yang sering dianggap sebagai komedian berkedok penyanyi.</p>



<p>Melalui tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi sedikit mengenai bagaimana Penulis bisa mengidolakan Isyana Sarasvati dan pendapatnya tentang musik-musik yang ia ciptakan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Pertemuan dengan Isyana Sarasvati</h2>



<p><em>Fun fact</em>, Isyana Sarasvati adalah satu-satunya idola yang berhasil Penulis ajak untuk foto bareng. Menariknya, kejadian tersebutlah yang membuat Penulis menjadikannya sebagai sesosok idola. Artikel lengkapnya bisa dibaca di sini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="84RnN8OyH0"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/">Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati</a></blockquote><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-bertemu-isyana-sarasvati/embed/#?secret=84RnN8OyH0" data-secret="84RnN8OyH0" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Kesempatan untuk bisa mendengarkan konsernya secara langsung, berfoto dan bersalaman dengannya (walaupun hanya pucuk tangannya), hingga mendapatkan CD-nya secara gratis membuat Penulis ingin mendalami musikalitas Isyana.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga banyak menonton video-videonya di YouTube, terutama video yang berkaitan dengan &#8220;kekocakan&#8221; yang dimilikinya. Perpaduan antara musik yang ia ciptakan dengan karakter yang dimilikinya jelas meninggalkan kesan tersendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perkenalan Isyana di Industri Musik Indonesia</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5732" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Explore!</em> (<a href="https://www.liputan6.com/showbiz/read/2375951/album-explore-wakili-jiwa-isyana-sarasvati">Liputan6</a>)</figcaption></figure>



<p>Sama seperti kebanyakan pendengar Isyana, Penulis mengenal lagu Isyana dari <em>single-single </em>awalnya seperti <em><strong>Keep Being You</strong> </em>dan <em><strong>Tetap Dalam Jiwa</strong> </em>yang masuk ke dalam album pertamanya, <em><strong>Explore!</strong></em> (2015).</p>



<p>Sebagai album perkenalan Isyana, album ini menurut Penulis masih mengikuti pasar Indonesia dan bisa didengarkan oleh banyak orang karena <em>easy listening</em>. Penulis sendiri bukan penggemar genre tersebut, tetapi masih bisa menikmatinya.</p>



<p>Selain dua lagu yang menjadi <em>single </em>utama dari album tersebut, Penulis juga menyukai lagu <strong><em>Kau Adalah</em> </strong>yang merupakan hasil kolaborasinya dengan personil Ran, Rayi Putra. Hingga kini, Penulis masih mendengarkan lagu-lagu tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5733" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Paradox </em>(<a href="https://youtu.be/BaSCPxAEdN8">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Selang dua tahun (2017), Isyana kembali menelurkan album baru yang berjudul <em><strong>Paradox</strong></em>. Penulis berhasil mendapatkan album aslinya ketika beli makan di KFC. Dibandingkan dengan album sebelumnya, lagu-lagu yang terdapat di album ini terasa lebih berwarna.</p>



<p>Jika membaca dari beberapa sumber, album ini banyak mengangkat kisah pribadi Isyana, berbanding terbalik dengan album sebelumnya yang kerap bercerita tentang kisah temannya atau sepenuhnya fiktif.</p>



<p>Salah satu lagu yang menjadi <em>hits </em>di album ini tentu saja lagu <em><strong>Anganku Anganmu </strong></em>yang ia nyanyikan bersama Raisa. Kedua penyanyi ini sama- sama cantik dan bersuara emas. Apalagi, banyak orang yang kerap membandingkan keduanya.</p>



<p>Di antara semua lagu yang ada di album ini, Penulis paling menyukai lagu <em><strong>Lembaran Buku </strong></em>yang walaupun terkesan <em>gloomy</em>, entah mengapa liriknya terasa begitu dalam. Lagu lain yang Penulis sukai di album ini adalah <em><strong>Nada Cinta </strong></em>yang kesannya ceria dan bahagia. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Jujur kepada Diri Sendiri</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5734" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana dan Album <em>Lexicon </em>(<a href="https://m.fimela.com/entertainment/read/4123653/lexicon-luapan-energi-terpendam-isyana-sarasvati">Fimela</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin isi lagu dari album <em>Paradox </em>memang lebih menggambarkan seorang Isyana. Namun, secara musikalitas sebenarnya Isyana masih &#8220;bermain aman&#8221; dan mengikuti pasar Indonesia. Di album ketiganya, <em><strong>Lexicon</strong></em> (2019), barulah Isyana benar-benar berani <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyaman</a>.</p>



<p>Jika dua albumnya lebih bergenre <em>pop </em>dan <em>R&amp;B</em>, maka di album ini terasa bergenre klasik dan <em>rock </em>progresif. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Isyana memang memiliki <em>background </em>pendidikan di genre-genre tersebut. </p>



<p>Ini tentu cukup menimbulkan kekagetan di antara penggemar dan menimbulkan polarisasi. Ada yang menganggap Isyana telah keluar jalur, ada yang menyebut kalau inilah diri Isyana yang sebenarnya. Tak heran, ada beberapa anggapan yang menyebutkan banyak pendengar Isyana berpaling darinya.</p>



<p>Penulis sendiri sebagai penikmat musik <em>rock </em>sebenarnya terima-terima saja dengan keputusan Isyana dan tidak mempermasalahkannya. Jujur kepada diri sendiri merupakan hal penting, termasuk dalam pemilihan musikalitas sang penyanyi.</p>



<p>Di antara semua lagu yang ada di album ini, Penulis memiliki satu judul favorit, yakni <em><strong>Untuk Hati yang Terluka</strong></em>. Untuk lagu-lagu lainnya, Penulis kurang bisa menikmatinya karena tidak sesuai dengan selera saja. Namun, album ini memang benar-benar berbeda.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa yang Menyangka Isyana akan Merilis Lagu Metal?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5735" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/06/isyana-sarasvati-tetap-dalam-jiwa-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Isyana di Video Klip <em>Il Sogno </em>(<a href="https://www.nme.com/en_asia/news/music/isyana-sarasvati-and-deadsquad-share-music-video-for-il-sogno-3146709">NME</a>)</figcaption></figure>



<p>Sejak perilisan album ketiganya, Penulis tidak terlalu mengikuti lagu-lagu terbaru Isyana. Bahkan, Penulis hampir tidak pernah mendengarkan album mininya yang berkolaborasi dengan Afgan dan Rendy Pandugo.</p>



<p>Namun, Penulis kembali mendengarkan lagu Isyana berkat <em>single</em> <strong><em>Il Sogno </em></strong>(2021) yang juga menjadi <em>soundtrack </em>dari film <em>Teka-Teki Tika</em>. Gila, siapa yang menyangka Isyana akan menciptakan lagu sekeras ini. Perpaduan antara <em>rock</em>, classic, dan suara opera Isyana benar-benar cocok di telinga Penulis.</p>



<p>Bahkan, versi kolaborasinya dengan Deadsquad (rilis 2022) membuat lagu ini semakin enak (dan tentunya makin keras!) saja didengar dan membuat Penulis melakukan <em>headbang </em>ketika sedang mendengarkannya. Lagu ini benar-benar keren!</p>



<p><em>Il Sogno </em>jugalah yang membuat Penulis akhirnya kembali mendengarkan lagu-lagu Isyana dan menemukan beberapa lagu yang ternyata cukup enak. Salah satunya adalah <em><strong>Unlock the Key</strong> </em>(2020)<em> </em>yang juga bergenre <em>rock</em>. Semoga saja Isyana makin sering membuat lagu bergenre <em>rock </em>progresif!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis sebenarnya bukan tipe orang yang menyukai seorang penyanyi karena lebih menyukai <em>band</em>. Penulis bisa menyebutkan banyak nama <em>band </em>favoritnya, tetapi akan kebingungan jika ditanya siapa penyanyi favoritnya.</p>



<p>Kehadiran Isyana di ranah musik Indonesia membuat Penulis tak ragu menjadikannya penyanyi favorit. Mengikuti evolusi musikalitasnya dari debut hingga sekarang benar-benar menarik dan menurut Penulis cukup unik. Tak banyak penyanyi yang berani keluar dari zona nyamannya.</p>



<p>Oleh karena itu, Isyana Sarasvati akan tetap ada di dalam jiwa Penulis sampai kapan pun. Apalagi, Penulis memiliki kenangan indah ketika bisa berjumpa dengannya dan berfoto bareng.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 21 Februari 2022, terinspirasi setelah mendengarkan lagu-lagu Isyana Sarasvati</p>



<p>Foto: <a href="https://www.ussfeed.com/lagu-il-sogno-isyana-sarasvati-cerita-tentang-mimpi/">USS Feed</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/">Tetap Dalam Jiwa: Isyana Sarasvati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/tetap-dalam-jiwa-isyana-sarasvati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Le Petit Prince</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-le-petit-prince/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Oct 2019 08:31:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[klasik]]></category>
		<category><![CDATA[Le Petit Prince]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2933</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis telah mengetahui novel The Little Prince karangan Antoine de Saint-Exupery ini sejak lama sebagai salah satu karya klasik asal Prancis yang terbit pada tahun 1940-an. Ketika menemukan novel ini di Gramedia Pondok Indah Mall, penulis memutuskan untuk membelinya. Apalagi, bukunya tipis sehingga yakin dapat menghabiskannya dalam waktu beberapa jam. Benar saja, penulis hanya membutuhkan waktu kurang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-le-petit-prince/">Setelah Membaca Le Petit Prince</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis telah mengetahui novel <em><strong>The Little Prince </strong></em>karangan <strong>Antoine de Saint-Exupery</strong> ini sejak lama sebagai salah satu karya klasik asal Prancis yang terbit pada tahun 1940-an.</p>
<p>Ketika menemukan novel ini di Gramedia Pondok Indah Mall, penulis memutuskan untuk membelinya. Apalagi, bukunya tipis sehingga yakin dapat menghabiskannya dalam waktu beberapa jam.</p>
<p>Benar saja, penulis hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk mengandaskan novel ini. Dalam waktu yang singkat tersebut, penulis bisa menangkap sesuatu yang luar biasa dari novel ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Novel ini dimulai dari <em>tokoh aku</em> yang menceritakan bagaimana sudut pandang anak kecil di mata orang dewasa. Ketika usia enam tahun, ia membuat seekor ular yang memakan gajah. Namun para orang dewasa selalu melihatnya sebagai sebuah topi.</p>
<p>Dari kejadian tersebut, <em>tokoh aku </em>menyadari bahwa orang dewasa hanya bisa melihat hal realistis daripada hal yang berbau fantasi, sesuatu yang melekat pada anak.</p>
<p>Lantas, <em>tokoh aku</em> pun menjalani kehidupan dan berhasil menjadi seorang pilot. Suatu hari, ia terdampar di sebuah gurun pasir dengan stok air untuk delapan hari.</p>
<p>Secara mengejutkan, muncul seorang anak kecil yang menghampirinya. Ia dipanggil sebagai <em>pangeran kecil</em>. Ketika <em>tokoh aku </em>memperbaiki pesawatnya, sang <em>pangeran kecil </em>menceritakan tentang kehidupannya.</p>
<p><em>Pangeran kecil</em> berasal dari sebuah planet kecil seukuran asteroid yang memiliki tiga gunung berapi dan beberapa tanaman, termasuk setangkai mawar yang cerewet. Sang pangeran menghabiskan waktunya untuk merawat planet kecilnya tersebut.</p>
<p>Suatu ketika, pangeran memutuskan untuk pergi dari planetnya untuk menjelajahi semesta. Ia berkunjung ke planet lain yang masing-masing dihuni oleh orang dewasa yang irasional dan berpikiran sempit.</p>
<p>(<em>Pada bagian inilah sang penulis buku ini memberikan kritikan tajam terhadap berbagai elemen masyarakat</em>)</p>
<p>Sebelum mencapai Bumi, sang pangeran sempat mampir ke enam planet. Di planet pertama, ia bertemu dengan seorang raja yang tak memiliki satu pun rakyat.</p>
<p>Di planet kedua ia bertemu dengan pria narsis yang selalu mendambakan pujian walaupun ia tinggal sendirian. Di planet ketiga ia bertemu dengan seorang pemabuk yang gemar minum demi melupakan perasaan bersalahnya karena telah mabuk (<em>brilliant!</em>).</p>
<p>Di planet keempat ia bertemu dengan seorang pebisnis yang terus bekerja tanpa tahu untuk apa ia bekerja. Bagaimana tidak, ia menghitung jumlah bintang di langit dan mengklaim sebagai miliknya (materialisme!).</p>
<p>Di planet kelima ia bertemu dengan seorang <em>lamplighter </em>yang bertugas untuk mematikan dan menyalakan lampu. Padahal, satu hari di sana hanya berlangsung selama satu menit, sehingga ia terlihat membabi buta mengikuti perintah begitu saja.</p>
<p>Di planet keenam, ia bertemu dengan seorang ahli geografi tua yang sejatinya belum pernah pergi ke mana pun! Orang inilah yang merekomendasikan <em>pangeran kecil </em>untuk berkunjung ke sebuah planet bernama Bumi.</p>
<p>Di Bumi, <em>pangeran kecil </em>mendarat di gurun pasir dan bertemu dengan sejumlah spesies yang hidup di sana. Ia juga melakukan perjalanan ke sana ke mari dan mengalami petualangan yang berarti untuk hidupnya.</p>
<p>Setelah bercerita tentang petualangannya, kita akan kembali ke <em>tokoh aku </em>di hari kedelapan. Untunglah, mereka menemukan sumur sehingga bisa bertahan hidup lebih lama.</p>
<p>Pesawat <em>tokoh aku </em>telah berhasil diperbaiki, namun <em>pangeran kecil </em>ingin kembali ke planetnya. Maka, kedua tokoh ini pun harus berpisah dengan diiringi kesedihan.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>The Little Prince</em></h3>
<p>Jika dilihat sekilas, novel ini memang seolah ditujukan untuk anak-anak. Apalagi, di dalamnya penuh dengan ilustrasi gambar. Padahal jika dicerna dengan baik, novel ini menyasar pembaca dewasa.</p>
<p>Menurut <em>tokoh aku</em>, karakterisitik yang diceritakan oleh <em>pangeran kecil </em>dimiliki oleh hampir semua orang dewasa di dunia ini. Hal tersebut ada benarnya, bahkan masih relevan untuk saat sekarang.</p>
<p>Ada yang berambisi menjadi raja walau tak ada yang mengakui, ada yang narsis luar biasa, ada yang terjebak dalam lingkaran setan, ada yang sangat matre, ada yang hanya menjadi robot dengan mematuhi perintah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Bentuk kritikan implisit yang ada di novel ini patut dijadikan bahan renungan untuk kita yang sudah dewasa. Buku ini seolah menjadi oase ketika kita menghadapi rutinitas yang membosankan.</p>
<p>Karena terjebak oleh realita dan tuntutan hidup di dunia modern, kita banyak melupakan hal penting lainnya. Kita hanya mengejar materi seolah itulah yang paling penting di dunia ini.</p>
<p>Ketika berada di Bumi, <em>pangeran kecil </em>bertemu dengan seekor rubah. Rubah tersebut berkata kepada sang pangeran:</p>
<blockquote><p>Hal-hal penting hanya dapat dilihat dengan hati, bukan mata.</p></blockquote>
<p>Buku ini penulis rekomendasikan untuk semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Gaya bahasanya yang renyah menjadi daya tarik tersendiri.</p>
<p>Kekurangan buku ini mungkin adalah tingkat ketipisan novelnya sehingga kurang memuaskan. Selain itu, akhir dari novel ini juga diserahkan kepada pembaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 27 Oktober 2019, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>The Little Prince </em>karya Antoine de Saint-Exupery</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-le-petit-prince/">Setelah Membaca Le Petit Prince</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyiksaan Rezim Pada Saman</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2018 08:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Ayu Utami]]></category>
		<category><![CDATA[klasik]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Saman]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1335</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelumnya penulis mengingatkan bahwa pada tulisan kali ini banyak mengandung unsur konten-konten dewasa, sehingga yang masih di bawah umur sangat tidak dianjurkan untuk membaca tulisan ini. Bukan penulisnya yang ngeres, tapi memang isi dari novel ini tidak pantas untuk dibaca oleh anak-anak. Novel Saman merupakan salah satu novel klasik (terbit pertama kali tahun 1998) yang masih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/">Penyiksaan Rezim Pada Saman</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya penulis mengingatkan bahwa pada tulisan kali ini banyak mengandung unsur konten-konten dewasa, sehingga yang masih di bawah umur sangat tidak dianjurkan untuk membaca tulisan ini. Bukan penulisnya yang <em>ngeres</em>, tapi memang isi dari novel ini tidak pantas untuk dibaca oleh anak-anak.</p>
<p>Novel Saman merupakan salah satu novel klasik (terbit pertama kali tahun 1998) yang masih terus dicetak ulang. Ditulis oleh Ayu Utami, buku ini akhirnya penulis beli ketika diluncurkan edisi 20 tahunnya pada pertengahan tahun ini, tepatnya pada tanggal 6 Juni 2018. Sekuelnya yang berjudul Larung juga penulis beli sekalian.</p>
<p>Sewaktu membeli buku ini, penulis sengaja menunda untuk membacanya karena ingin menjadikan buku ini sebagai &#8220;bekal&#8221; sewaktu di Jakarta. Tujuannya, agar tidak membeli buku lagi sewaktu merantau di kota orang.</p>
<p>Pertama kali membaca novel ini, penulis merasa sangat berat untuk memahami kata tiap katanya. Jelas novel ini bukan tipe novel yang sehari habis karena diperlukan wawasan yang cukup untuk memahaminya. Penulis akhirnya menyerah pada halaman 19.</p>
<p>Cukup lama penulis meletakkan buku tersebut hingga pada bulan September, penulis mencoba membacanya kembali sewaktu melakukan perjalanan ke Bandung. Dan kali ini penulis bisa mulai menikmati alur cerita yang dipaparkan oleh Ayu Utami.</p>
<p><strong>Menceritakan Apakah Saman?</strong></p>
<p>Novel ini diambil dari sudut pandang ketiga dan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian tak berjudul. Bagian pertama berfokus pada tokoh Laila, yang nampaknya sedang jatuh cinta kepada laki-laki beristri bernama Sihar. Pertemuan mereka terjadi di sebuah rig, yang menurut wikipedia adalah <em>suatu instalasi peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah untuk memperoleh air, minyak, atau gas bumi, atau deposit mineral bawah tanah</em>.</p>
<p>Terdapat kalimat yang sering diulang-ulang, yakni ketika Laila berkata dalam hati bahwa ia masih perawan. Pengulangan ini tentu membuat pembacanya menduga-duga, kapan status keperawanannya akan hilang. Bagian pertama ini ditutup dengan kekhawatiran Laila karena Sihar tidak datang sesuai dengan kesepakatan mereka.</p>
<p>Bagian kedua beralih ke tokoh bernama Wis, seorang pastor yang ditugaskan ke daerah bernama Prabumulih, Sumatera Selatan. Di sana ia bertemu dengan Upi, seorang perempuan yang menderita kelainan mental. Parahnya, kelainan mentalnya mengarah ke hasrat seksual yang tinggi.</p>
<p>Berawal dari keprihatinan Wis kepada Upi yang harus dikurung di dalam sebuah gubuk, ia membangunkan tempat yang lebih layak. Bahkan pada akhirnya ia membantu warga sekitar untuk memajukan daerahnya dengan mengembangkan kebun karet.</p>
<p>Bagian inilah yang paling penulis suka karena cukup menggambarkan kesewenang-wenangan Orde Baru apabila sudah memiliki keinginan. Ringkasnya, pemerintah ingin membeli daerah tersebut untuk membangun perkebunan kelapa sawit.</p>
<p>Penolakan ini menciptakan suasana yang <em>chaos</em>, bahkan pada akhirnya Wis ditangkap dan disiksa dengan demikian kejamnya oleh orang utusan gubernur tersebut. Wis pada akhirnya bisa melarikan diri setelah dibantu oleh warga setempat yang selama ini telah dibantunya. Lalu ia mengubah namanya menjadi Saman.</p>
<p>Lantas di mana relasi antara Laila dan Saman, mengapa seolah-olah mereka tidak berhubungan sama sekali? Jawaban itu bahkan belum terjawab pada bagian ketiga, di mana sudut pandang diambil dari tokoh perempuan bernama Shakuntala, teman sejak kecil dari Laila.</p>
<p>Pada bagian ini, Ayu Utami lebih menjelaskan tentang kisah bagaimana Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin bisa bersahabat sejak kecil. Ceritanya berjalan secara berurutan dan diakhiri dengan bersambungnya bagian ini dengan bagian pertama, ketika Laila menghampiri Shakuntala ketika Sihar tidak kunjung datang. Di sini juga disinggung sedikit tentang Laila yang pernah menyukai Saman sewaktu kecil.</p>
<p>Bagian keempat tersusun surat-surat yang dituliskan oleh Saman kepada bapaknya. Banyak istilah-istilah gereja yang tertera pada novel ini, membuat penulis sedikit kebingungan.</p>
<p>Akhirnya kita bisa menemukan benang merah antara hubungan Saman dengan empat sahabat tersebut pad bagian terakhir. Mereka membantu melarikan Saman ke Amerika Serikat agar aman. Bagian ini ditulis dengan model saling berbalas email antara Saman dan Yasmin.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Begitulah kurang lebih alur cerita dari novel Saman. Bisa dibilang, kita akan merasa berat untuk memulainya, namun apabila kita sudah menemukan keasyikannya, maka kita tidak akan bisa berhenti membalikkan halaman demi halaman.</p>
<p>Ayu Utami kaya dalam pemilihan kata, kurang lebih seperti Dee Lestari. Hanya saja, terdapat satu faktor yang membuat penulis kurang nyaman membaca novel ini. Banyak istilah-istilah seks yang bertebaran di halaman-halamannya. Penulis kira Eka Kurniawan sudah menulis cukup vulgar pada novel Manusia Harimau, ternyata masih ada yang lebih vulgar lagi.</p>
<p>Jika tidak percaya, coba saja baca halaman terakhirnya. Tapi penulis menyarankan untuk membaca secara utuh terlebih dahulu. Selain itu, pada sinopsisnya dituliskan pertanyaan akan memilih siapakah Saman, Yasmin atau Laila? Penulis tidak menemukan adanya kebimbangan Saman memilih siapa, sehingga menurut penulis sinopsis tersebut kurang relevan</p>
<p><em>Emang loe siapa berani-beraninya ngeritik novelis senior? </em>Hehehe, namanya juga opini.</p>
<p>Penulis merekomendasikan novel ini untuk dibaca pembaca <strong>dewasa </strong>yang tertarik dengan sejarah reformasi melalui kacamata sastra. Bagaimana rezim Orde Baru menggunakan kekuasaannya untuk melakukan penyiksaan kepada rakyatnya diilustrasikan dengan baik. Kita juga bisa banyak belajar penggunaan kata yang sangat kaya pada novel ini.</p>
<p>Nilainya <strong>3.8/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 14 September 2018, terinspirasi setelah menamatkan novel Saman karya Ayu Utami</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/">Penyiksaan Rezim Pada Saman</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/penyiksaan-rezim-pada-saman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
