Penyiksaan Rezim Pada Saman

Sebelumnya penulis mengingatkan bahwa pada tulisan kali ini banyak mengandung unsur konten-konten dewasa, sehingga yang masih di bawah umur sangat tidak dianjurkan untuk membaca tulisan ini. Bukan penulisnya yang ngeres, tapi memang isi dari novel ini tidak pantas untuk dibaca oleh anak-anak.

Novel Saman merupakan salah satu novel klasik (terbit pertama kali tahun 1998) yang masih terus dicetak ulang. Ditulis oleh Ayu Utami, buku ini akhirnya penulis beli ketika diluncurkan edisi 20 tahunnya pada pertengahan tahun ini, tepatnya pada tanggal 6 Juni 2018. Sekuelnya yang berjudul Larung juga penulis beli sekalian.

Sewaktu membeli buku ini, penulis sengaja menunda untuk membacanya karena ingin menjadikan buku ini sebagai “bekal” sewaktu di Jakarta. Tujuannya, agar tidak membeli buku lagi sewaktu merantau di kota orang.

Pertama kali membaca novel ini, penulis merasa sangat berat untuk memahami kata tiap katanya. Jelas novel ini bukan tipe novel yang sehari habis karena diperlukan wawasan yang cukup untuk memahaminya. Penulis akhirnya menyerah pada halaman 19.

Cukup lama penulis meletakkan buku tersebut hingga pada bulan September, penulis mencoba membacanya kembali sewaktu melakukan perjalanan ke Bandung. Dan kali ini penulis bisa mulai menikmati alur cerita yang dipaparkan oleh Ayu Utami.

Menceritakan Apakah Saman?

Novel ini diambil dari sudut pandang ketiga dan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian tak berjudul. Bagian pertama berfokus pada tokoh Laila, yang nampaknya sedang jatuh cinta kepada laki-laki beristri bernama Sihar. Pertemuan mereka terjadi di sebuah rig, yang menurut wikipedia adalah suatu instalasi peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah untuk memperoleh air, minyak, atau gas bumi, atau deposit mineral bawah tanah.

Terdapat kalimat yang sering diulang-ulang, yakni ketika Laila berkata dalam hati bahwa ia masih perawan. Pengulangan ini tentu membuat pembacanya menduga-duga, kapan status keperawanannya akan hilang. Bagian pertama ini ditutup dengan kekhawatiran Laila karena Sihar tidak datang sesuai dengan kesepakatan mereka.

Bagian kedua beralih ke tokoh bernama Wis, seorang pastor yang ditugaskan ke daerah bernama Prabumulih, Sumatera Selatan. Di sana ia bertemu dengan Upi, seorang perempuan yang menderita kelainan mental. Parahnya, kelainan mentalnya mengarah ke hasrat seksual yang tinggi.

Berawal dari keprihatinan Wis kepada Upi yang harus dikurung di dalam sebuah gubuk, ia membangunkan tempat yang lebih layak. Bahkan pada akhirnya ia membantu warga sekitar untuk memajukan daerahnya dengan mengembangkan kebun karet.

Bagian inilah yang paling penulis suka karena cukup menggambarkan kesewenang-wenangan Orde Baru apabila sudah memiliki keinginan. Ringkasnya, pemerintah ingin membeli daerah tersebut untuk membangun perkebunan kelapa sawit.

Penolakan ini menciptakan suasana yang chaos, bahkan pada akhirnya Wis ditangkap dan disiksa dengan demikian kejamnya oleh orang utusan gubernur tersebut. Wis pada akhirnya bisa melarikan diri setelah dibantu oleh warga setempat yang selama ini telah dibantunya. Lalu ia mengubah namanya menjadi Saman.

Lantas di mana relasi antara Laila dan Saman, mengapa seolah-olah mereka tidak berhubungan sama sekali? Jawaban itu bahkan belum terjawab pada bagian ketiga, di mana sudut pandang diambil dari tokoh perempuan bernama Shakuntala, teman sejak kecil dari Laila.

Pada bagian ini, Ayu Utami lebih menjelaskan tentang kisah bagaimana Shakuntala, Laila, Cok, dan Yasmin bisa bersahabat sejak kecil. Ceritanya berjalan secara berurutan dan diakhiri dengan bersambungnya bagian ini dengan bagian pertama, ketika Laila menghampiri Shakuntala ketika Sihar tidak kunjung datang. Di sini juga disinggung sedikit tentang Laila yang pernah menyukai Saman sewaktu kecil.

Bagian keempat tersusun surat-surat yang dituliskan oleh Saman kepada bapaknya. Banyak istilah-istilah gereja yang tertera pada novel ini, membuat penulis sedikit kebingungan.

Akhirnya kita bisa menemukan benang merah antara hubungan Saman dengan empat sahabat tersebut pad bagian terakhir. Mereka membantu melarikan Saman ke Amerika Serikat agar aman. Bagian ini ditulis dengan model saling berbalas email antara Saman dan Yasmin.

Kesimpulan

Begitulah kurang lebih alur cerita dari novel Saman. Bisa dibilang, kita akan merasa berat untuk memulainya, namun apabila kita sudah menemukan keasyikannya, maka kita tidak akan bisa berhenti membalikkan halaman demi halaman.

Ayu Utami kaya dalam pemilihan kata, kurang lebih seperti Dee Lestari. Hanya saja, terdapat satu faktor yang membuat penulis kurang nyaman membaca novel ini. Banyak istilah-istilah seks yang bertebaran di halaman-halamannya. Penulis kira Eka Kurniawan sudah menulis cukup vulgar pada novel Manusia Harimau, ternyata masih ada yang lebih vulgar lagi.

Jika tidak percaya, coba saja baca halaman terakhirnya. Tapi penulis menyarankan untuk membaca secara utuh terlebih dahulu. Selain itu, pada sinopsisnya dituliskan pertanyaan akan memilih siapakah Saman, Yasmin atau Laila? Penulis tidak menemukan adanya kebimbangan Saman memilih siapa, sehingga menurut penulis sinopsis tersebut kurang relevan

Emang loe siapa berani-beraninya ngeritik novelis senior? Hehehe, namanya juga opini.

Penulis merekomendasikan novel ini untuk dibaca pembaca dewasa yang tertarik dengan sejarah reformasi melalui kacamata sastra. Bagaimana rezim Orde Baru menggunakan kekuasaannya untuk melakukan penyiksaan kepada rakyatnya diilustrasikan dengan baik. Kita juga bisa banyak belajar penggunaan kata yang sangat kaya pada novel ini.

Nilainya 3.8/5

 

 

Jelambar, 14 September 2018, terinspirasi setelah menamatkan novel Saman karya Ayu Utami

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.