<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kreatif Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kreatif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kreatif/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:33:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kreatif Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kreatif/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-sila-ke-6-kreatif-sampai-mati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-sila-ke-6-kreatif-sampai-mati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 May 2021 05:00:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu Aditya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4949</guid>

					<description><![CDATA[<p>Buku ini sebenarnya bukan buku baru. Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati pertama kali terbit pada tahun 2013. Penulis masih ingat ketika kuliah pernah melihat buku ini yang memiliki sampul berwarna hitam. Hanya saja, waktu itu Penulis belum tertarik untuk membeli buku ini. Ketika kuliah, Penulis lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli novel. Sangat jarang Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-sila-ke-6-kreatif-sampai-mati/">Setelah Membaca Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Buku ini sebenarnya bukan buku baru.<em><strong> Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati</strong> </em>pertama kali terbit pada tahun 2013. Penulis masih ingat ketika kuliah pernah melihat buku ini yang memiliki sampul berwarna hitam.</p>



<p>Hanya saja, waktu itu Penulis belum tertarik untuk membeli buku ini. Ketika kuliah, Penulis lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli novel. Sangat jarang Penulis membeli buku non-fiksi.</p>



<p>Nah, baru-baru ini, buku karya <strong>Wahyu Aditya</strong> ini baru dicetak ulang dengan beberapa penambahan poin. Istilah dari penerbit, Edisi Pemutakhiran. Penulis pun membelinya karena ingin menggali lebih dalam lagi tentang kreativitas yang sangat dibutuhkan di era sekarang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Buku ini diawali dengan beberapa <em>quote </em>seputar apa itu kreatif dan testimoni dari beberapa tokoh terkenal. Jumlah testimoninya lumayan banyak, ada 5 halaman. Mungkin sebagai penegas kalau buku ini layak untuk dicetak ulang.</p>



<p>Ada 20 <s>bab</s> butir di dalam buku ini yang tidak memiliki keterkaitan sama sekali. Pembaca bisa memilih butir mana yang ingin dibaca terlebih dulu tanpa perlu melakukannya secara berurutan. </p>



<p>Di bagian akhir, ada bab <em>Adendum Pemutahiran </em>yang menjadi tambahan dari versi aslinya. Tidak banyak, hanya 4 halaman, itu pun karena ada banyak gambar dan ilustrasinya. Jika hanya berisi teks, mungkin tambahannya hanya sekitar 1 halaman saja.</p>



<p>Sesuai dengan <em>tagline </em>yang ada di bagian sampul (<em>Buku Petunjuk Pengamalan Kreativitas Bagi Seluruh Rakyat Indonesia</em>), ada beberapa trik kreatif yang disampaikan di dalam buku ini beserta contoh yang sudah dilakukan oleh penulis buku ini.</p>



<p>Selain itu, kita akan menemukan banyak sekali gambar, foto, hingga ilustrasi yang lumayan memanjakan mata. Apa yang diceritakan di buku jadi bisa kita bayangkan dengan mudah, tidak perlu susah-susah membayangkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku <em>Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati</em></h2>



<p>Waktu membeli buku ini, Penulis membayangkan akan mendapatkan beberapa tips yang rinci bagaimana bisa tetap kreatif. Kenyataannya, buku ini lebih mirip sebagai portofolio dari Wahyu Aditya.</p>



<p>Di setiap butir yang ada, akan selalu ada contoh dari apa yang sudah Wahyu lakukan dalam hidupnya untuk <em>stay creative</em>. Itu tidak salah, malah bagus karena pengalaman yang <em>real </em>bisa menjadi contoh terbaik.</p>



<p>Hanya saja, pemaparan tiap butirnya terasa kurang dalam. Rasanya pembaca hanya diberi garis besar apa yang harus dilakukan, sisanya harus kita pelajari dari pengalaman sang penulis buku ini.</p>



<p>Yang menarik dari buku ini bagi Penulis adalah banyak contoh &#8220;desain yang kurang menarik&#8221; yang lantas diperbaiki oleh Wahyu. </p>



<p>Seperti yang sudah kita ketahui, kebanyakan desain yang dikeluarkan oleh pihak pemerintah memang sangat membosankan dan tidak <em>eye catching</em>. Benar-benar seolah asal jadi tanpa ada unsur estetiknya sama sekali.</p>



<p>Dengan berbagai pengalaman yang diceritakan, buku ini terasa dekat dengan pembacanya. Wahyu bercerita tentang jatuh bangun dan kegagalan yang pernah ia alami sendiri, khas buku-buku motivasi yang sering kita baca.</p>



<p>Bisa dibilang kala buku ini menarik, lucu, tidak membosankan, dan <em>enjoyable</em>. Meskipun Wahyu merupakan seorang profesional di industri kreatif, tidak ada kesan menggurui sama sekali di buku ini.</p>



<p>Target pasar dari buku ini mungkin orang-orang yang mencari buku <em>self improvement </em>dengan gaya bahasa yang ringan dan memiliki banyak ilustrasi menarik. Ada banyak nilai yang akan kita dapatkan dari buku ini.</p>



<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 2 Mei 2021, terinspirasi setelah membaca buku <em>Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-sila-ke-6-kreatif-sampai-mati/">Setelah Membaca Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-sila-ke-6-kreatif-sampai-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>100 Aktivitas untuk #dirumahaja (Bagian 2)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/100-aktivitas-untuk-dirumahaja-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2020 04:21:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[bosan]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[dirumahaja]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3679</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan 100 Aktivitas untuk #dirumahaja (Bagian 1). Penulis memutuskan untuk membaginya menjadi dua bagian agar jatah menulis berkurang tidak terlalu panjang. Setelah 50 aktivitas di tulisan sebelumnya, apa saja 50 aktivitas lainnya? Melakukan Ibadah, karena tempat ibadah pada ditutup. Kalau muslim mungkin bisa membaca Alquran ataupun menonton ceramah agama di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/100-aktivitas-untuk-dirumahaja-bagian-2/">100 Aktivitas untuk #dirumahaja (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini merupakan lanjutan dari <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/100-aktivitas-untuk-dirumahaja-bagian-1/">tulisan 100 Aktivitas untuk #dirumahaja (Bagian 1)</a>. Penulis memutuskan untuk membaginya menjadi dua bagian agar <del>jatah menulis berkurang</del> tidak terlalu panjang.</p>
<p>Setelah 50 aktivitas di tulisan sebelumnya, apa saja 50 aktivitas lainnya?</p>
<ol>
<li><strong>Melakukan Ibadah</strong>, karena tempat ibadah pada ditutup. Kalau muslim mungkin bisa membaca Alquran ataupun menonton ceramah agama di Youtube, begitupun penganut agama lain.</li>
<li><strong>Makan dan <em>nyamil</em></strong>, jangan sampai lupa mengisi perut.</li>
<li><strong>Menulis Buku Harian atau Jurnal</strong>, catat aja apa yang dilakukan hari ini. Siapa tahu suatu saat bisa diterbitkan.</li>
<li><strong>Membuat <em>Time Capsule</em></strong>, isi dengan barang-barang yang paling membuat sentimentil. Membuat pesan untuk diri di masa depan juga boleh. Jangan dibuka hingga puluhan tahun ke depan.</li>
<li><strong>Melihat Album Keluarga</strong>, melihat betapa lucu dan polosnya kita dulu.</li>
<li><strong>Membuat Pohon Keluarga</strong>, jangan-jangan ada teman kita yang ternyata masih memiliki hubungan saudara.</li>
<li><strong><em>Scan </em>Foto-Foto Lama</strong>, supaya kita punya file digitalnya.</li>
<li><strong>Main Game</strong>, main apapun tergantung perangkat yang dimiliki. Kalau punya laptop ya main game Steam, kalau punya HP ya main game HP.</li>
<li><strong>Main Media Sosial</strong>, walaupun Penulis yakin banyak yang sudah bosan melakukannya.</li>
<li><strong>Jadi Youtuber</strong>, bikin aja <em>daily vlog </em>atau konten lainnya tanpa peduli jumlah penontonnya.</li>
<li><strong>Membuat Video Dokumenter</strong>, misal merekam ibu yang sedang memasak atau kucing yang sedang bermain dengan bola.</li>
<li><strong>Membuat Film</strong>, minimal membuat <em>script </em>dan alur ceritanya. Kalau bisa, ajak orang rumah untuk melakukan akting di depan kamera.</li>
<li><strong>Karaoke</strong>, pakai aplikasi Smule dan sejenisnya. Bisa juga dilakukan di kamar mandi.</li>
<li><strong>Menghafal Lirik Lagu</strong>, jadi kalau nonton konser artis favorit bisa ikutan nyanyi.</li>
<li><strong>Menerjemahkan Lirik Lagu Asing Favorit</strong>, supaya paham makna lagunya sekaligus menambah <em>vocabulary</em>.</li>
<li><strong>Cover Dance K-Pop</strong>, misal cover dance-nya <a href="https://whathefan.com/musikfilm/forever-young-blackpink/">Blackpink</a>. Joget-joget enggak jelas juga boleh.</li>
<li><strong>Jadi Artis TikTok</strong>, biar nge-<em>hits</em> dan melatih kreativitas.</li>
<li><strong>Bermain Teater</strong>, bisa membuat sendiri atau mengambil kisah klasik seperti karya-karya Shakespeare.</li>
<li><strong>Latihan Membaca Puisi</strong>, siapa tahu waktu 17-an dilombakan.</li>
<li><strong>Main Werewolf via Telegram</strong>, dijamin seru karena ada interaksi dengan orang lain.</li>
<li><strong>Main Board Game dengan Keluarga</strong>, apalagi kalau <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mas-pandu-dan-koleksi-board-gamenya/">koleksi seperti Mas Pandu</a>.</li>
<li><strong>Buat Board Game Baru</strong>, sekarang Penulis sedang membuat <em>board game </em>ketiganya yang terinspirasi dari <em>Exploding Kittens. </em>Bahannya dari kartu Yugioh dan kertas label.</li>
<li><strong>Main Kuis Ala <em>Tonight Show</em></strong>, mulai Tebak Gambar, Tebak Satu Kata, Tebak Bibir, dan lain sebagainya.</li>
<li><strong>Mencoba Fitur HP yang Belum Pernah Digunakan</strong>, seperti aplikasi <em>Stocks</em> di iPhone.</li>
<li><strong>Kustomisasi Tampilan HP</strong>, ganti tema biar enggak gitu-gitu aja tampilannya.</li>
<li><strong>Menghapus Aplikasi HP yang Sudah Lama Tidak Terpakai</strong>, lumayan untuk mengurangi beban HP.</li>
<li><strong>Menghapus Gambar Enggak Jelas di Galeri HP</strong>, daripada nunggu memori penuh. Yang kapasitas memori internalnya besar rasanya tidak akan memusingkan hal ini.</li>
<li><strong>Memeriksa Email</strong>, pasti ada ratusan email enggak jelas yang masuk ke Inbox. Tapi, siapa tahu ada email penting yang terselip.</li>
<li><strong>Mencari Nada Dering Telepon</strong>, biasanya kita akan memainkannya satu per satu hingga menemukan yang cocok.</li>
<li><strong>Nonton Televisi, </strong>kalau masih ada stasiun televisi yang bener.</li>
<li><strong>Nonton Film</strong>, tonton film baru ataupun film-film yang sudah lama tidak ditonton. Coba deh tonton ulang semua film Marvel.</li>
<li><strong>Nonton Serial atau Anime</strong>, kalau perlu marathon sampai tamat. Bisa di Netflix, YouTube, dan lain sebagainya. Tapi awas, kalau kelamaan bisa pusing sendiri.</li>
<li><strong>Nonton Ulang Pertandingan Olahraga</strong>, karena hampir semua jenis olahraga berhenti sementara hingga waktu yang tidak ditentukan. Kasihan Liverpool.</li>
<li><strong>Mendengarkan Musik Favorit</strong>, kalau perlu sambil menghayati liriknya.</li>
<li><strong>Membuat <em>Playlist </em>Spotify Baru</strong>, kalau yang <em>follow </em>banyak lumayan bisa jadi duit (katanya).</li>
<li><strong>Bermain Alat Musik</strong>, kalau punya instrumennya dan bisa memainkannya. Kalau enggak bisa, coba mulai belajar.</li>
<li><strong>Membuat Lagu</strong>, teruntuk yang pandai memainkan intrumen musik dan menulis lirik.</li>
<li><strong>Mendengarkan Podcast</strong>, lumayan dapat wawasan baru. Melatih kemampuan <em>listening </em>Bahasa Inggris juga.</li>
<li><strong>Mencoba Aplikasi <em>Dating</em></strong>, siapa tahu akhirnya menemukan jodoh yang telah lama diidam-idamkan.</li>
<li><strong>Liburan Virtual</strong>, buka YouTube dan tentukan destinasi ingin liburan ke mana. Disarankan menggunakan VR.</li>
<li><strong>Perang Bantal</strong>, asal jangan sampai perang beneran.</li>
<li><strong>Baca Komik</strong>, apalagi kalau punya koleksi yang sudah tidak dibaca. Baca komik online semacam Webtoon juga disarankan.</li>
<li><strong>Belanja Online</strong>, dengan syarat langsung cuci tangan setelah menerima paketnya.</li>
<li><strong>Merakit Gundam</strong>, dijamin waktu akan bergulir hingga tak terasa waktu berlalu.</li>
<li><strong>Refleksi Diri</strong>, agar diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.</li>
<li><strong>Merenungi Kehidupan</strong>, seperti yang sering Penulis lakukan ketika insomnia.</li>
<li><a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/"><strong>Mencari Tujuan Hidup</strong></a>, supaya diri tidak terombang-ambiing tanpa arah yang jelas. Kalau Pembaca tipe orang yang mengalir begitu saja ya tidak apa-apa.</li>
<li><strong>Memikirkan Masalah Bangsa</strong>, walau sepertinya kita tidak akan menemukan solusinya.</li>
<li><strong>Mencatat Kegiatan Apa Saja yang Dilakukan Setelah Isolasi Berakhir</strong>, biar enggak bingung nantinya.</li>
<li><strong>Mencatat 100 Aktivitas yang Bisa Dilakukan Ketika #dirumahaja Seperti yang Penulis Lakukan Sekarang.</strong></li>
</ol>
<p>Itulah 100 aktivitas yang bisa kita lakukan selama di rumah. Beberapa bisa dilakukan dengan mudah, beberapa lagi membutuhkan peralatan yang belum tentu semua punya.</p>
<p>Selain itu, Penulis juga tidak memasukkan aktivitas yang sifatnya 17+. Kalau ikut dimasukkan, daftarnya bisa bertambah menjadi 200.</p>
<p>Semoga saja tulisan ini dapat membantu Pembaca sekalian yang merasa bingung harus melakukan apa di rumah. <em>Stay health everyone!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Beberapa aktivitas diambil dari berbagai sumber, baik lokal maupun internasional</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Maret 2020, terinspirasi setelah membaca banyaknya keluhan bosan di masa-masa sulit ini.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@joshrh19">Joshua Rawson-Harris</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/100-aktivitas-untuk-dirumahaja-bagian-2/">100 Aktivitas untuk #dirumahaja (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>100 Aktivitas untuk #dirumahaja (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/100-aktivitas-untuk-dirumahaja-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2020 02:47:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[bosan]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[dirumahaja]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3675</guid>

					<description><![CDATA[<p>Merasa bosan karena enggak bisa ke mana-mana? Jika iya, maka kita patut bersyukur karena masih bisa merasa bosan. Banyak orang yang masih harus keluar rumah demi sesuap nasi. Jika merasa bosan, coba ingat para korban kegananas virus Corona yang harus diisolasi di rumah sakit. Ingatlah para tim medis yang harus berjuang menyembuhkan para korban dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/100-aktivitas-untuk-dirumahaja-bagian-1/">100 Aktivitas untuk #dirumahaja (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Merasa bosan karena enggak bisa ke mana-mana? Jika iya, maka kita patut bersyukur karena masih bisa merasa bosan. Banyak orang yang masih harus keluar rumah demi sesuap nasi.</p>
<p>Jika merasa bosan, coba ingat para korban kegananas virus Corona yang harus diisolasi di rumah sakit. Ingatlah para tim medis yang harus berjuang menyembuhkan para korban dengan mempertaruhkan nyawa mereka.</p>
<p>Walaupun begitu, merasa bosan bahkan stres di saat seperti ini adlaah hal yang manusiawi. Penulis sendiri terkadang masih merasakan seperti itu, apalagi tempat tinggal Penulis berada di daerah yang memiliki <em>suspect </em>Corona.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk memberikan tips seputar <strong>100 aktivitas yang bisa dilakukan ketika #dirumahaja!</strong></p>
<ol>
<li><strong>Membaca Buku</strong>, aktivitas yang bagi sebagian orang mungkin terasa membosankan. Mumpung #dirumahaja, coba mulai baca buku-buku yang ringan terlebih dahulu. <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">Membaca memiliki banyak manfaat</a>, kok.</li>
<li><strong>Menulis Blog</strong>, karena aktivitas menulis telah terbukti banyak membantu kinerja otak kita. Menulis juga bisa dijadikan sebagai pelampiasan emosi yang tak tersalurkan. Blog hanya menjadi salah satu media yang bisa digunakan.</li>
<li><strong>Mengarang Cerita</strong>, seperti yang sudah sering Penulis lakukan melalui novel dan cerpennya. Membiarkan imajinasi berlari liar merupakan kegiatan yang cukup menyenangkan.</li>
<li><strong>Menulis Puisi</strong>, penikmat musik <em>indie </em>biasanya jago, nih. Yang sedang galau juga bisa disalurkan melalui puisi.</li>
<li><strong>Belajar Skill Baru</strong>, misal Penulis yang tertarik dengan dunia <em>digital marketing </em>dan <em>social media </em>akan memanfaatkan waktunya untuk mendalami bidang tersebut. Pembaca bisa menyesuaikan <em>skill </em>apa yang diinginkan.</li>
<li><strong>Belajar Bahasa Baru</strong>, karena mempelajari bahasa baru memiliki banyak keuntungan. Kalau ingin mendalami Bahasa Inggris ataupun Jepang, ada banyak sekali kursus online yang bisa diakses secara gratis.</li>
<li><strong><em>Quality Time </em>Bersama Keluarga</strong>, yang bisa kumpul sama keluarga coba dimanfaatkan waktunya untuk punya waktu berkualitas.</li>
<li><strong>Bermesraan dengan Pasangan</strong>, tidak berlaku untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-saya-jomblo/">kaum jomblo</a> dan pasangan LDR.</li>
<li><strong>Diskusi dengan Orang Rumah</strong>, pasti ada saja topik diskusi yang bisa dicomot. Hindari pertanyaan &#8220;kapan nikah&#8221; sebisa mungkin.</li>
<li><strong>Berbakti Kepada Orangtua</strong>, misal dengan memijat kakinya tanpa berharap imbalan uang saku.</li>
<li><strong><em>Chatting </em>Bersama Pacar, Sahabat, atau siapapun</strong>, mau telepon atau <em>video call </em>juga boleh.</li>
<li><strong>Mengerjakan Tugas</strong>, berlaku untuk pelajar ataupun mahasiswa yang sekolah/kampusnya sedang mode online.</li>
<li><strong>Menyelesaikan Pekerjaan Kantor</strong>, khusus yang mendapatkan kesempatan <em>work from home</em>.</li>
<li><strong>Membuat atau Memperbaiki CV</strong>, buat yang sedang mencari pekerjaan baru.</li>
<li><strong>Mencari Pekerjaan <em>Freelance</em></strong><em>, </em>dengan syarat memiliki pengalaman dan <em>skill </em>yang mumpuni.</li>
<li><strong>Belajar Fotografi</strong>, dengan memanfaatkan obyek-obyek yang ada di rumah.</li>
<li><strong>Belajar Bikin Kopi</strong>, siapa tahu bisa jadi bisnis.</li>
<li><strong>Merajut Syal atau Sweater</strong>, seperti yang sering dilakukan oleh nenek kita.</li>
<li><strong>Menemukan Bakat atau <em>Passion</em></strong>, coba aja semua hal yang membuat kita penasaran. Kalau sudah tahu coba diasah lebih dalam.</li>
<li><strong>Mempelajari Virus Corona Secara Mendalam</strong>, siapa tahu kita bisa membuat obat penangkalnya.</li>
<li><strong>Melakukan Eksperimen Sains</strong>, seperti Penulis yang pernah membuat roket air bersama teman-temannya.</li>
<li><strong>Mencari Negara-Negara yang Belum Pernah Didengar</strong>, seperti St. Kitts &amp; Nevis, South Sudan, Nauru, São Tomé and Príncipe, dan lain sebagainya.</li>
<li><strong>Menghafal <em>Army Alphabeth</em></strong>, mulai <em>Alpha, Bravo, Charlie, Delta, Echo,</em> hingga <em>Zulu</em>.</li>
<li><strong>Menggambar atau Mewarnai</strong>, terlepas kita punya bakat atau tidak. Kalau bisa melukis ya <em>monggo</em>.</li>
<li><strong>Belajar Membuat Tulisan Indah</strong>, siapa tahu kegiatan mencatat materi pelajaran menjadi lebih menyenangkan.</li>
<li><strong>Membuat Origami</strong>, lumayan bisa jadi hiasan kamar.</li>
<li><strong>Olahraga</strong>, bisa dilakukan di kamar ataupun teras rumah. Siapa tahu setelah situasi kembali normal, perut kita berubah menjadi <em>six-pack</em>.</li>
<li><strong>Meditasi dan Yoga</strong>, supaya hidup lebih tenang dan tidak gampang merasa <em>insecure</em>.</li>
<li><strong>Melakukan Perawatan Diri</strong>, biar punya kulit yang <em>glowing </em>atau kuku cantik yang indah dipandang.</li>
<li><strong>Eksperimen <em>Make-Up</em></strong>, jadi kalau gagal enggak bakal malu karena enggak bakal keluar rumah.</li>
<li><strong>Mencoba Masak Resep Baru</strong>, kalau punya dapur serta berbagai bahan masakan.</li>
<li><strong>Membuat Kue</strong>, lumayan buat camilan di kamar.</li>
<li><strong>Piknik <em>Indoor</em></strong>, gelar tikar dan hidangkan makanan di atasnya.</li>
<li><strong>Mendirikan Tenda di Dalam Rumah</strong>, tapi jangan bikin api unggun.</li>
<li><strong>Bermain Bersama Hewan Peliharaan</strong>, kalau punya.</li>
<li><strong>Melatih Hewan Peliharaan</strong>, siapa tahu bisa jadi anggota sirkus. Jangan <em>ding</em>, banyak sisi kelamnya.</li>
<li><strong>Berkebun</strong>, kalau punya halaman.</li>
<li><strong>Merawat Tanaman</strong>, biar enggak susah coba tanam kaktus di pot.</li>
<li><strong>Melakukan Aktivitas Rumah Tangga</strong>, mulai mengepel, menyapu, cuci baju, setrika, dan lain-lain. Lumayan sebagai pengganti olahraga.</li>
<li><strong>Beres-Beres Kamar</strong>, mumpung punya waktu cukup panjang untuk melakukannya.</li>
<li><strong>Dekorasi Kamar</strong>, buat ganti suasana hati. Kalau mau dekorasi ruangan lain juga boleh.</li>
<li><strong>Merapikan Isi Lemari</strong>, kalau ada pakaian yang sudah dipakai bisa disumbangkan.</li>
<li><strong><em>Mix and Match</em> Pakaian</strong>, siapa tahu dapat inspirasi gaya <em>fashion </em>yang baru dan anti <em>mainstream</em>.</li>
<li><strong><em>Cosplay Low-Budget</em></strong>, manfaatkan barang-barang yang ada di sekitar.</li>
<li><strong>Beres-Beres Gudang</strong>, siapa tahu nemu harta karun yang telah terpendam selama bertahun-tahun.</li>
<li><strong>Membuang Barang-Barang yang Sudah Tidak Diinginkan</strong>, seperti kata <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/merapikan-kamar-merapikan-diri/">Marie Kondo</a>, hanya sisakan barang-barang yang membawa kebahagiaan.</li>
<li><strong>Buat Kerajinan dari Barang Bekas</strong>, demi perut penyu yang terbebas dari sampah plastik!</li>
<li><strong>Rebahan</strong>, karena kapan lagi kita bisa memiliki waktu rebahan sepuasnya?</li>
<li><strong>Tidur</strong>, kalau ngantuk. Jangan terlalu lama.</li>
<li><strong>Baca WHATHEFAN! </strong>biar <em>adsense </em>dan <em>traffic-</em>nya nambah</li>
</ol>
<p><em>Bersambung ke Bagian 2&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Beberapa aktivitas diambil dari berbagai sumber, baik lokal maupun internasional</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Maret 2020, terinspirasi setelah membaca banyaknya keluhan bosan di masa-masa sulit ini.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@minan1398">Min An</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/100-aktivitas-untuk-dirumahaja-bagian-1/">100 Aktivitas untuk #dirumahaja (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apresiasi Salah Tempat</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2018 13:35:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain di lingkungan penulis, mungkin aplikasi tiktok dan para penggunanya tengah hangat menjadi bahan pembicaraan. Ya, walaupun kebanyakan bernada negatif sih. Sebagai seorang pemerhati perkembangan remaja di Indonesia, penulis merasa butuh untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dan apakah memang seburuk seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Apa Itu Tiktok? Dimulai dari aplikasinya sendiri, penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/">Apresiasi Salah Tempat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain di lingkungan penulis, mungkin aplikasi tiktok dan para penggunanya tengah hangat menjadi bahan pembicaraan. Ya, walaupun kebanyakan bernada negatif sih.</p>
<p>Sebagai seorang pemerhati perkembangan remaja di Indonesia, penulis merasa butuh untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dan apakah memang seburuk seperti yang dikatakan oleh orang-orang.</p>
<p><strong>Apa Itu Tiktok?</strong></p>
<p>Dimulai dari aplikasinya sendiri, penulis secara kasar beranggapan bahwa aplikasi ini merupakan aplikasi <em>lypsinc </em>yang oleh penggunanya dimodifikasi sedemikian rupa, termasuk memberikan efek transisi yang berputar-putar, agar lebih terlihat menarik. Mirip dengan Musical.ly mungkin.</p>
<p>Agar adil, penulis berusaha mencari informasi dari sudut pandang yang berbeda. Untunglah, bang David dari channel Youtube <em>Gadgetin </em>dengan baik hati mau memberikan <em>review </em>tentang aplikasi yang bisa dicari di Play Store dengan kata kunci &#8220;aplikasi goblok&#8221;, sehingga penulis tidak perlu mengunduh aplikasi ini di gawai penulis.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/_kpANyCcHdw" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Dari bang David, penulis baru memahami bahwa sebenearnya aplikasi ini secara fungsi sama dengan Instagram maupun Youtube, yakni sebagai media hiburan. Kita bisa melihat berbagai macam video yang diposting oleh pengguna Tiktok lainnya.</p>
<p>Yang jadi masalah ternyata bukan aplikasinya, melainkan penggunanya. Banyak konten-konten yang tidak pantas untuk disebar di dunia maya membuat aplikasi ini tampak murahan.</p>
<p><strong>Terkenal Berkat Aplikasi</strong></p>
<p>Di antara banyak pengguna tersebut, muncullah orang-orang yang tiba-tiba terkenal dan memiliki basis penggemar yang lumayan fanatik. Penulis tidak akan menyebutkan namanya, toh pasti pembaca sudah mengetahui siapa-siapa yang dimaksud.</p>
<p>Yang lebih bikin geleng kepala lagi, para <em>tiktoker </em>ini bisa mengadakan <em>meet and greet </em>berbayar dan diikuti oleh banyak orang. Bahkan dari beberapa yang penulis baca, artis tiktok ini sampai meninggalkan fansnya karena dianggap ricuh.</p>
<p>Tentu banyak orang-orang yang merasa bahwa ini tidak benar. Ia tidak punya karya yang orisinil, ia berkarya tanpa mengeluarkan modal. Penggemarnya membela, berkata bahwa apa yang pujaan mereka lakukan merupakan bentuk kreativitas. Harusnya sebagai sesama anak bangsa kita bisa mengapresiasi hal tersebut.</p>
<p>Nah, di situlah penulis merasa sedih.</p>
<p><strong>Apresiasi Salah Tempat</strong></p>
<p>Sebenarnya lucu ketika ada pendapat seperti itu. Memang benar bahwa kita harus menghargai kerja keras orang lain. Toh pengguna tiktok dan aplikasi sejenis juga pasti melakukan berbagai latihan agar bisa menghasilkan karya seperti itu.</p>
<p>Masalahnya, kenapa apresiasi tersebut tidak pernah kita berikan kepada orang-orang yang karyanya lebih butuh mendapatkan perhatian karena mereka mencurahkan segara daya dan ciptanya dalam menghasilkan karya?</p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk komikus? Seberapa tahu kita siapa saja komikus di Indonesia? Padahal harga komik mereka lebih murah dari harga tiket <em>meet and greet </em>yang hanya mendapatkan salaman dan <em>selfie </em>bersama (mungkin).</p>
<p><div id="attachment_943" style="width: 543px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-943" class="size-full wp-image-943" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1.jpg" alt="" width="533" height="800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1.jpg 533w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1-200x300.jpg 200w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1-170x255.jpg 170w" sizes="(max-width: 533px) 100vw, 533px" /><p id="caption-attachment-943" class="wp-caption-text">Komikus Indonesia (https://deasyelsara.wordpress.com/category/portfolio/page/2/)</p></div></p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk musikus? <em>Playlist </em>penuh dengan lagu-lagu Barat yang kekinian, merasa lagu lokal kampungan dan tidak keren. Penulis belum pernah menemukan ada pengguna Tiktok menggunakan lagu Indonesia, walaupun ada orang India yang luar biasa kreatif dalam menciptakan video tiktok dengan menggunakan lagu India (catatan: orang India tersebut sama sekali tidak berusaha sok tampan!).</p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk perfilman Indonesia? Jika ada film luar negeri yang jauh lebih mentereng, pasti kita lebih memilih film tersebut. Film lokal jarang sekali mendapat tempat sebesar film Barat.</p>
<p>Kita sama sekali tidak pernah memberi apresiasi kepada mereka, sekarang sok mau mengatakan bahwa kita harus mengapresiasi pengguna Titktok? Mikir!!!</p>
<p>Tulisan ini tidak untuk menyerang pihak-pihak tertentu, tulisan ini digunakan untuk dijadikan bahan renungan kita. Penulis sendiri pun menyadari bahwa terkadang pun penulis masih kurang dalam memberikan apresiasi kepada insan-insan kreatif di Indonesia.</p>
<p>Semoga dengan tulisan ini, kita dapat berbenah dalam memberikan penghargaan kepada industri kreatif di Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 3 Juni 2018, terinspirasi setelah diberi tahu ada artis Tiktok yang bernama permen</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://gadgetren.com/2018/03/16/apa-itu-tik-tok-video-media-sosial/">https://gadgetren.com/2018/03/16/apa-itu-tik-tok-video-media-sosial/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/">Apresiasi Salah Tempat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SWI Barang Bekas</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/swi-barang-bekas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/swi-barang-bekas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2018 14:07:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[barang bekas]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[program kerja]]></category>
		<category><![CDATA[proker]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Wuni Indah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=504</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan sesuatu hal yang baru, karena sudah banyak komunitas atau kelompok yang memiliki ide untuk menghasilkan uang dari barang bekas. Akan tetapi, tetap saja ada poin-poin yang bisa dipetik dari penyelenggaraan program kerja (proker) SWI Barang Bekas ini. Latar belakang dari proker ini adalah uang. Bukan matre, namun Karang Taruna membutuhkan pemasukan sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan sesuatu hal yang baru, karena sudah banyak komunitas atau kelompok yang memiliki ide untuk menghasilkan uang dari barang bekas. Akan tetapi, tetap saja ada poin-poin yang bisa dipetik dari penyelenggaraan program kerja (proker) SWI Barang Bekas ini.</p>
<p>Latar belakang dari proker ini adalah uang. Bukan matre, namun Karang Taruna membutuhkan pemasukan sebagai biaya operasional. Kita tidak bisa hanya mengandalkan uang kas bulanan karena anggota, terkadang, lupa membayar kewajibannya tersebut. Sehingga dibutuhkan sesuatu yang kreatif untuk menghasilkan uang.</p>
<p><strong>Pelaksanaan SWI Barang Bekas</strong></p>
<p>SWI Barang Bekas dilakukan setiap hari Minggu pagi, karena kalau hari lain banyak anggota yang bersekolah dan warganya pun harus bekerja. Acara dimulai jam tujuh pagi hingga jam sembilan pagi di balai RW. Warga bisa mengumpulan sendiri barang bekasnya, atau menghubungi pihak Karang Taruna agar barangnya diambil.</p>
<p>Bermodalkan kereta dorong untuk mengangkut barang, kami juga berkeliling perumahan untuk lebih banyak lagi menjaring barang bekas. Untunglah, kami memiliki toa alami yang suaranya tidak kalah dengan toa sungguhan.</p>
<p>Uang yang dihasilkan bervariasi, rata-rata sekitar 50 ribu setiap bulannya. Jika ada rejeki nomplok, misal ada yang menyumbang besi berkilo-kilo, uang yang masuk bisa mencapai angka 150 ribu.</p>
<p><strong>Permasalahan SWI Barang Bekas</strong></p>
<p>Saya tidak menganggap kurangnya barang bekas yang berhasil dikumpulkan sebagai sebuah permaslahan, karena sedikitnya barang dapat diatasi dengan menyimpannya terlebih dahulu untuk digabungkan dengan barang bekas yang akan didapat di bulan berikutnya.</p>
<p>Permasalahan terbesarnya adalah, anggota yang bangun siang. Proker ini memang dimulai pagi hari, selain karena tukang rombengnya biasa lewat di waktu ini, juga agar anggota tidak bisa menikmati<strong> bangun siang di hari libur</strong>.</p>
<p>Sebagai generasi penerus bangsa, seharusnya kita membiasakan diri bangun pagi, kapanpun.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Banyak sektor yang masih harus dibenahi agar proker ini dapat menjadi lumbung uang untuk Karang Taruna. Yang paling penting adalah penyampaian informasi kepada warganya harus dibuat lebih efektif daripada membuat edaran yang dibagi seminggu sebelum pelaksanaan.</p>
<p>Selain itu, anggota Karang Taruna sendiri pun kurang aktif dalam mengumpulkan barang-barang bekas. Seharusnya, anggota juga mempunyai wadah sendiri di rumah masing-masing untuk mengumpulkan, katakanlah, botol bekas.</p>
<p>Ke depannya, kami akan melakukan studi banding ke Karang Taruna lain yang memiliki proker serupa. Kami akan menilai, mana-mana saja yang dapat diterapkan di Perumahan Sumber Wuni Indah agar proker ini dapat berjalan lebih baik lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perpustakaan Nasional Lantai 24, 14 Maret 2018, setelah menulis artikel Merapikan Kamar, Merapikan Diri</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/swi-barang-bekas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
