Connect with us

Pengalaman

Mas Pandu dan Koleksi Board Gamenya

Published

on

Penulis suka main board game sejak kecil, karena punya papan ular tangga dan halma. Bahkan, ayah Penulis pernah membuatkan papan monopoli raksasa buatan sendiri yang menggunakan kardus bekas kulkas.

Beranjak dewasa, terbesit pikiran untuk mengoleksi board game. Sayangnya, keinginan tersebut urung terjadi karena mahalnya harga board game yang berkisar di angka 300 ribu rupiah.

Untunglah di kantor, ada seorang teman yang ternyata seorang kolektor board game. Namanya Pandu Raka Pangestu, dan koleksinya sedikit banyak mengabulkan keinginan pemain untuk mencoba berbagai jenis board game.

Kenapa Board Game?

Di era serba digital seperti sekarang, kehadiran board game memang bukan menjadi sesuatu yang umum. Padahal, main board game itu asyik karena membutuhkan interaksi secara langsung antar pemainnya.

Ketika kumpul, banyak yang lebih memilih untuk bermain game online di smartphone. Setidaknya, itu yang terlihat ketika melihat para anggota Karang Taruna di tempat Penulis.

Lantas, mengapa mas Pandu memutuskan untuk mengoleksi board game yang notabene tidak terlalu populer?

Karena board game bisa ngilangin bosen, apalagi kalo mati gaya pas lagi bareng-bareng ama temen. Board game itu memfokuskan minat dan kebahagiaan banyak orang dalam satu waktu.” jawab mas Pandu melalui WhatsApp.

Ia mengakui mulai menggeluti hobi ini semenjak kuliah. Untuk kegiatan mengoleksinya, baru dimulai ketika bekerja di tempat yang sama dengan Penulis.

Mungkin, karena baru pada saat itulah ia memiliki budget untuk membeli beraneka ragam board game yang harganya lumayan menguras kantong.

Apa Saja Koleksi Board Game-nya?

Koleksi Board Game

Mas Pandu memiliki belasan board game yang telah menjadi koleksinya. Semuanya ia letakkan di kantor agar bisa dimainkan bersama teman-teman selepas jam kerja. Entah jika ada yang ia simpan di rumah.

Lantas, apa saja board game-nya? Bisa dilihat melalui daftar yang ada di bawah ini:

  • Monopoly
  • Risk
  • Pandemic
  • Codenames Pictures
  • Catan
  • Rebellion
  • Laga Jakarta
  • Santai Aja Lagi
  • Coup
  • Iron Curtain
  • Alkisah
  • Monopoly Deals
  • Saboteur
  • Balap Kuliner
  • Wowo Wiwi
  • Werewolf
  • China
  • dll

Di antara belasan board game tersebut, mana yang menjadi favorit mas Pandu? Menurut pengakuannya, ada tiga game yang paling ia sukai: Catan, China, Saboteur.

Favorit Penulis?

Penulis, sebagai penggemar board game yang enggan mengeluarkan modal, sudah pernah mencoba hampir semua board game yang dimiliki oleh mas Pandu. Artinya, Penulis juga punya board game favoritnya sendiri.

Monopoly

Pertama adalah Monopoly. Penulis menyukai permainan ini sejak kecil, bahkan dulu kerap memainkan gamenya di komputer yang bertemakan Spongebob. Karena permainan ini sangat populer, rasanya Penulis tak perlu menjelaskannya panjang lebar.

Catan

Selanjutnya, sama seperti mas Pandu, adalah Catan yang pada dasarnya merupakan game strategi di mana kita harus bisa mendapatkan sumber daya tertentu agar bisa mengumpulkan poin kemenangan.

Poin bisa didapatkan dengan membangun SettlementCity, membangun jalan terpanjang, ataupun memiliki pasukan terbanyak. Permainan ini juga mengandalkan keberuntungan ketika menggulirkan dadu.

Risk

Lalu ada game Risk yang bertemakan conquer and win. Ceritanya, kita memiliki pasukan yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Tugas kita adalah mengalahkan pasukan pemain lain melalui lemparan dadu.

Sebagai penggemar game strategi perang seperti Age of Empire dan Stronghold Crusader, tema board game ini sangat menarik. Berebut daerah adalah merupakan kekuatan utama dari permainan ini.

Kekurangan dari game yang satu ini adalah set-up-nya yang cukup ribet, sehingga teman-teman kantor malas memainkannya. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli gamenya di Play Store seharga Rp9.000.

Selain itu, Penulis juga lumayan suka main Codename Pictures yang mengasah imajinasi dan Saboteur yang terbilang baru dibandingkan permainan lainnya.

Penutup

Bermain permainan offline seperti board game bermanfaat untuk mengurangi distraksi digital yang dihasilkan oleh produk-produk teknologi.

Melepas gawai sejenak dan fokus pada permainan papan seperti ini mampu mereduksi stres sekaligus meningkatkan chemistry dengan teman-teman, kalau tidak membuat emosi jika kalah dalam permainan.

Oleh karena itu, Penulis merasa bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk mencicipi berbagai macam board game milik mas Pandu.

 

 

Kebayoran Lama, 25 Januari 2020, terinspirasi dari koleksi board game milik mas Pandu

Pengalaman

Kenapa Saya Berhenti Main TikTok

Published

on

By

Jika ditanya apa aplikasi paling populer saat ini di Indonesia, mungkin jawabannya adalah TikTok. Aplikasi yang pernah dijuluki sebagai “aplikasi goblok” ini rasanya hampir terpasang di semua gawai generasi milenial.

Penulis pun sempat mengunduhnya dan memakainya selama beberapa bulan. Ternyata, TikTok bukan sekadar aplikasi buat joget-joget. Ada banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari sini.

Hanya saja, pada akhirnya Penulis memutuskan untuk berhenti main TikTok dan menghapusnya dari ponsel. Apa alasannya?

Algoritma Candu

Dibuat Sebagai Candu (Prototypr)

Penulis pernah membuat artikel berjudul Dilema (Media) Sosial Kita yang terinspirasi dari film dokumenter berjudul The Social Dilemma. Pada film tersebut, kita akan melihat pengakuan orang-orang yang pernah terlibat dengan pembuatan media sosial.

Salah satu hal yang mengerikan adalah bagaimana semua platform tersebut berlomba-lomba untuk membuat kita betah menggunakannya selama berjam-jam. Istilahnya adalah algoritma candu.

Berbeda dengan timeline Instagram dan Twitter yang hanya menampilkan akun yang kita follow, TikTok akan terus menunjukkan video-video yang sesuai dengan preferensi kita tanpa perlu mem-follow akun yang membuat video tersebut.

Apalagi, fitur unlimited scroll-nya benar-benar membuat kita tidak merasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Dengan algoritma candu yang dimiliki, TikTok menjadi aplikasi yang cocok untuk menghabiskan waktu.

Penulis juga salah satunya. Meskipun sudah menggunakan aplikasi yang membatasi waktu penggunaan, tetap saja terkadang Penulis melanggar dan memainkan aplikasi TikTok melebih jatah waktu harian.

Dulu Penulis membela diri dengan berkata kepada diri sendiri kalau ada banyak manfaat dari TikTok. Bahkan, Penulis mencatat beberapa ilmu yang tanpa sengaja Penulis temukan di buku catatannya.

Akan tetapi, sekarang Penulis sadar kalau itu semua hanya alibi semata untuk bisa bermain TikTok lebih lama. Semakin lama kita menggunakan TikTok, semakin mereka mendapatkan keuntungan dari “menjual” preferensi kita ke klien mereka.

Banyak Manfaatnya sih, tapi…

Banyak Baik atau Buruknya? (The Jakarta Post)

Penulis mengakui ada banyak ilmu yang bisa didapatkan di TikTok. Banyak content creator yang lihai membuat konten edukasi dengan format yang menyenangkan atau konten motivasi yang sangat menginspirasi.

Pertanyaannya, apakah kita membutuhkan semua informasi tersebut?

Dari pengalaman Penulis sendiri yang mencatat berbagai ilmu di TikTok, mayoritas apa yang sudah dicatat tidak pernah dibutuhkan sampai sekarang. Semua inspirasi dan motivasi yang lewat pun sekarang sudah terlupa begitu saja.

Jika kita membutuhkan bantuan dalam mengerjakan sesuatu, bukankah ada Google? Misal ada orang yang sharing tentang Digital Marketing, bukankah banyak situs yang menjelaskan tentang hal tersebut bahkan secara lebih terperinci?

Misal ada orang yang sharing tentang penggunaan bahasa Inggris yang benar, bukankah Google juga sudah menyediakan banyak jawaban dari berbagai sumber? Seberapa banyak informasi yang kita lihat selintas di TikTok bertahan di pikiran kita?

TikTok memang memiliki banyak manfaat, terutama kalau kita suka menonton video-video yang memiliki value sehingga kita terus diberikan rekomendasi video serupa.

Pertanyaannya, lebih banyak mana video yang seperti itu dibandingkan video yang kurang bermanfaat?

Entah itu video yang pamer kemolekan tubuhnya, pertunjukkan kecantikan/ketampanan paras wajah, pamer kekayaan ala sultan, drama tidak penting, dan lain sebagainya. Ada saja “racun” yang muncul di linimasa dan bisa memengaruhi pola pikir kita.

Belum lagi kemungkinan tersebarnya berita hoax yang bisa menimbulkan ketakutan. Penulis ingat ketika ada informasi kalau Jawa akan terkena tsunami. Padahal, berita aslinya hanya menyebutkan potensinya, bukan akan benar-benar terjadi dalam waktu dekat.

TikTok dan Cepatnya Hal Menjadi Viral

Kenapa Harus Viral? (TEKNO DILA)

Penulis paling sering mengkhawatirkan besarnya pengaruh aplikasi ini ke penggunanya, terutama generasi milenial. Coba dihitung sudah berapa kali apa yang viral di TikTok menjadi begitu populer bahkan sampai diundang ke berbagai stasiun televisi.

Masalahnya, seringkali hal yang viral adalah hal yang tidak jelas dan kurang berfaedah. Kita juga seolah ikut arus begitu saja tanpa berpikir kenapa hal remeh seperti itu bisa menjadi sedemikian populer.

Hal ini benar-benar menjadi perhatian bagi Penulis. Kenapa jarang sekali ada orang yang kritis terhadap sesuatu yang viral? Kenapa seolah yang viral itu otomatis dianggap wajar dan seolah yang ketinggalan dianggap ketinggalan zaman?

Dulu, Penulis sempat merasa FOMO (Fear Out Missing Out) jika tidak menggunakan TikTok. Takut tidak paham jika diajak bicara sama seseorang tentang apa yang trending saat ini.

Sekarang, Penulis tidak memusingkan hal tersebut sama sekali. Mau tidak paham sekalipun Penulis bisa bodo amat. Biarlah yang viral menjadi viral tanpa perlu Penulis ikut memviralkannya.

Penutup

Awalnya, Penulis mencoba untuk tidak membuka aplikasi TikTok selama beberapa hari. Ternyata, Penulis bisa berhenti total selama 2 bulan dan tidak merasa kehilangan apa-apa. Akhirnya, Penulis memutuskan untuk menghapus aplikasi tersebut.

Penulis tidak mengajak orang-orang untuk berhenti menggunakan aplikasi TikTok. Mungkin Pembaca bisa lebih bijak dalam menggunakan TikTok dibandingkan Penulis. Apalagi, TikTok bisa menjadi media hiburan yang berkualitas dengan kehadiran content creator yang kreatif.

Hanya saja, Penulis merasa TikTok lebih banyak buruknya dibandingkan manfaatnya bagi dirinya sendiri. Aplikasi ini terasa sebagai aplikasi kontra-produktif yang membuat Penulis membuang-buang waktunya.

Tidak hanya TikTok, Penulis hampir mengurangi semua aktivitasnya di media sosial. Penulis menghapus Twitter di ponselnya dan menggunakan Instagram hanya untuk membaca komik dari author favoritnya.

Harapannya, Penulis menjadi lebih produktif dan bisa memanfaatkan waktunya untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat seperti menulis artikel blog ataupun baca buku.

Lawang, 19 April 2021, terinspirasi setelah menghapus aplikasi TikTok

Foto: The Jakarta Post

Continue Reading

Pengalaman

Whathefan adalah Investasi Saya

Published

on

By

Rasanya semenjak pandemi Covid-19 menyeruak, seruan untuk berinvestasi semakin banyak. Munculnya perubahan yang mendadak seolah mengingatkan kalau kita butuh dana darurat di saat-saat darurat seperti pandemi sekarang.

Pilihannya pun beragam, mulai saham hingga reksadana. Penulis termasuk salah satu orang yang mempelajari dan mulai “bermain” investasi di berbagai platform. Penulis sadar investasi menjadi hal yang penting, apalagi nilai uang makin lama makin turun.

Hanya saja, bentuk investasi tidak hanya itu. Membuka bisnis sendiri juga bentuk investasi. Menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi juga bentuk investasi. Beramal dan berbuat baik juga bentuk investasi.

Bagi Penulis, blog Whathefan ini pun merupakan bentuk investasi yang berharga. Selain sebagai portofolio, blog ini juga terbukti telah membantu Penulis untuk mendapatkan pekerjaan hingga dua kali.

Awal Mula Whathefan

Niagahoster (Paulipu)

Penulis telah menceritakan sedikit awal mula nama Whathefan. Secara singkat, keinginan untuk membuat blog berawal ketika Penulis sedang mempersiapkan diri untuk tes IELTS di Kampung Inggris, Pare, Kediri.

Salah seorang teman mengatakan bahwa memiliki blog pribadi akan menjadi salah satu nilai tambah jika ingin mendapatkan beasiswa. Berhubung Penulis juga suka menulis, maka Penulis pun membeli domain dan hosting whathefan.com pada tanggal 2 Januari 2018.

Penulis memilih Niagahoster karena memiliki layanan purnajual yang baik. Ketika memiliki software house bersama teman-teman kuliah, Penulis selalu membeli domain dan hosting di sana dan bisa dibilang tidak pernah mengecewakan.

Waktu itu, Penulis mengambil paket Pelajar yang sedang promo domain gratis. Kalau tidak salah, waktu itu Penulis membelinya dengan harga 600 ribuan. Selain itu, Penulis membeli tema WordPress seharga 700 ribuan yang sudah lama tidak Penulis gunakan.

(Tema yang sedang diterapkan di Whathefan sekarang adalah tema premium dari Envato Market. Penulis mendapatkannya secara gratis berkat bantuan seorang kawan.)

Setelah itu, Penulis harus membayar biaya hosting tahunan sebesar Rp777.600,00 belum termasuk PPN 10%. Biaya tersebut tentu tidak murah, apalagi Penulis tidak bisa mengandalkan AdSense-nya yang hingga artikel ini ditulis baru menyentuh angka 240 ribu setelah berjalan tiga tahun.

Jika tidak menghasilkan, di mana letak investasinya?

Portofolio Daring

Teman-Teman Mainspring Technology

Di tahun pertama Whathefan Penulis berhasil memproduksi 302 tulisan dalam satu tahun. Jumlah tersebut berkurang hampir setengahnya pada tahun 2019 karena Penulis hanya menghasilkan 189 tulisan. Tahun 2020 lebih sedikit lagi, hanya 140 tulisan.

Meskipun dari tahun ke tahun jumlah artikel yang ditulis makin sedikit, setidaknya jumlah sudah cukup untuk menunjukkan kalau Penulis termasuk produktif menulis. Selain itu, dengan banyaknya tulisan yang sudah dibuat artinya keterampilan menulisnya (seharusnya) juga terus meningkat.

Selain karena ridho Tuhan dan doa orang tua, blog ini juga membantu Penulis untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika di Mainspring Indonesia (sekarang Main Games Indonesia), Penulis hampir tidak diloloskan dari tahap wawancara pertama karena dianggap kurang pengalaman oleh orang HRD.

Hanya saja, orang HRD satunya ingin memberikan kesempatan karena blog yang Penulis miliki. Fakta ini Penulis ketahui setelah masuk dan menjadi cukup dekat dengan orang-orang HRD di sana. Tentu hal ini menimbulkan kebanggaan tersendiri.

Di kantor yang baru (UP Station, grup dari UniPin), ternyata salah satu alasan Penulis diterima sebagai Gaming Editor adalah karena Whathefan ini. Ketika sudah bergabung, atasan Penulis bercerita kalau dirinya berusaha meyakinkan Vice President-nya untuk menerima Penulis karena blog ini.

Oleh karena itu, Penulis menganggap kalau Whathefan ini adalah salah satu investasi Penulis yang berhasil. Alhamdulillah.

Penutup

Penulis yang memang passion-nya di dunia penulisan merasa beruntung karena memiliki blog pribadi sebagai wadah untuk berkreasi, mengasah kemampuan, sekaligus portofolio daring. Blog ini telah menjadi investasi yang berhasil, setidaknya bagi Penulis.

Para Pembaca sekalian mungkin juga memiliki bentuk investasi lain yang tidak kalah menarik. Jika ada, bolehlah kita saling sharing agar Penulis mendapatkan wawasan yang lebih luas lagi.

Lawang, 8 April 2021, terinspirasi setelah mendengar kalau salah satu alasan Penulis diterima di kantor baru adalah karena blog ini

Foto: Photo by XPS on Unsplash

Continue Reading

Pengalaman

Tur Kamar Saya (Sisi Timur)

Published

on

By

Setelah tertunda dua bulan, akhirnya Penulis bisa kembali melanjutkan tulisan tentang tur kamar. Kali ini, Penulis akan menjelaskan tentang sisi timur dari kamarnya.

Sebenarnya penundaan ini ada berkahnya juga karena ada perombakan yang lumayan banyak. Penulis mengganti meja dan menambah beberapa aksesoris.

Sisi timur adalah sisi tempat Penulis paling banyak menghabiskan waktunya, baik untuk bekerja maupun bermain game. Sisi utara menyimpan koleksi buku terbanyak.

Semoga artikel ini bisa memberikan inspirasi bagi Pembaca yang hendak melakukan dekorasi kamar atau ruang kerjanya!

Sisi Timur Kamar

Sisi timur adalah sisi kamar yang menghadap ke halaman belakang. Aliran udara pagi bisa masuk melalui kedua jendela secara langsung.

Pada sisi ini, terdapat sebuah meja kerja lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Di sebelah kanannya, terdapat rak buku tiga tingkat yang merangkap sebagai tempat laptop.

Karena bagian ini banyak berisikan barang yang menarik untuk dibeli, Penulis akan cantumkan harganya di bawah.

Keyboard Tray

Penulis akan mulai dari meja terlebih dahulu. Aslinya, meja ini merupakan meja makan yang tidak terpakai. Oleh karena itu, kakinya lumayan tinggi sehingga kurang ergonomis untuk bekerja.

Oleh karena itu, Penulis membelikan keyboard tray berukuran 60 x 30 cm di Tokopedia agar posisi keyboard dan mouse bisa lebih rendah sehingga lebih nyaman untuk digunakan bekerja.

Penulis menggunakan keyboard Logitech K380 dan mouse Logitech M331 Silent. Keduanya sama-sama wireless sehingga bisa menimbulkan kesan minimalis dan rapi.

Permukaan keyboard drawer yang Penulis beli ini memiliki permukaan licin sehingga mouse tidak bisa digunakan. Untuk mengatasi masalah ini, Penulis membeli mousepad berukuran 60×30 dengan harga murah.

Monitor dan Berbagai Akesorisnya

Beralih ke bagian atas meja. Sebagai penunjang kerja, Penulis menggunakan layar Samsung Curved 24″ LED LC24F390. Tidak alasan khusus kenapa Penulis menggunakan layar curved, biar beda saja.

Penulis juga memiliki sebuah webcam NYK Nighthawk A80 yang diletakkan di atas monitor. Alasan Penulis membelinya adalah agar ketika mendapatkan undangan interview kerja, Penulis memiliki kamera yang layak.

Di bagian belakang monitor, ada speaker Dell AY410 yang sudah cukup lama Penulis gunakan. Suaranya terdengar mantap dan jernih, cukup untuk memenuhi standar Penulis.

Di sebelah kanan monitor, ada lampu Miniso yang lebih sering Penulis gunakan ketika bekerja di malam hari. Lampu ini memiliki tiga mode pencahayaan, tapi Penulis lebih sering menggunakan mode warna kuning biar lebih estetik.

Di dekat lampu, ada sebuah gelas Mastercard yang Penulis alih-fungsikan sebagai tempat alat tulis. Ada lumayan banyak, mengingat Penulis gemar membuat catatannya terlihat warna-warni.

Penulis paling menyukai Staedtler Triplus Fineliner karena ujungnya yang kecil dan tidak mudah mblobor. Sayangnya di Malang Penulis tidak menemukan yang warna hitam, sehingga memilih Staedtler Pigment Liner berukuran 0.3 sebagai penggantinya.

Ada juga bulpen Faber Castle yang ketika zaman kuliah menjadi andalan. Sebagai pewarna, Penulis juga memiliki highlighter dari Joyko. Selebihnya adalah alat tulis biasa seperti pensil dan correction pen.

Di sebelah kiri monitor, ada sebuah jam digital dan aroma diffuser yang Penulis beli di Ace Hardware ketika diskon. Di dekatnya, ada dua buku catatan yang Penulis gunakan untuk menulis to-do-list harian.

Selebihnya adalah action figure yang baru Penulis beli. Ada Shuichi Akai dari Detective Conan, ada Midoriya dan Ochaco dari My Hero Academia. Ada juga miniatur mobil Mini Cooper dan sebuah mobil klasik yang tidak Penulis ketahui.

Manajemen Kabel

Mengingat ada banyak sekali barang elektronik di sekitar meja, kabelnya pun bisa dipastikan ada banyak sekali. Jika tidak diatur, maka meja kerja Penulis akan terlihat berantakan.

Oleh karena itu, Penulis membeli sebuah box organizer untuk menyembunyikan stop kontak Xiaomi. Selain itu, Penulis menggunakan semacam perekat untuk menyembunyikan kabel-kabel.

Trik yang Penulis gunakan adalah membuat kabel-kabel tersebut mengelilingi kaki-kaki meja. Dengan demikian, bagian tengah-belakang meja akan bersih dari kabel.

Di bagian kanan, ada sebuah rak Tevalen berwarna putih yang Penulis beli di IKEA. Bagian atas Penulis gunakan untuk menyimpan berbagai macam buku catatan, sedangkan bagian bawah untuk subwoofer dari speaker Dell yang Penulis gunakan.

Rak Buku

Di sisi kanan meja, ada sebuah rak tiga tingkat. Bagian atapnya Penulis gunakan untuk meletakkan laptop beserta berbagai akseorisnya seperti kipas dan USB Hub.

Rak pertama berisikan buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan Steve Jobs dan Apple. Maklum, Penulis lumayan mengagumi sosok beliau sehingga memiliki banyak buku biografinya.

Rak kedua dan ketiga berisikan buku-buku sejarah, baik sejarah Indonesia maupun sejarah luar negeri. Yang paling Penulis suka adalah Seri Buku Tempo dan Seri Buku Perang Eropa karya P. K. Ojong.

Selain itu, rak ini Penulis gunakan untuk menyimpan gamepad-nya. Penulis menggunakan Rexus Gladius GX100, yang sayangnya ketika tulisan ini dibuat sedang rusak.

Bagian-Bagian Lainnya

Untuk tempat duduk, Penulis menggunakan kursi gaming Rexus RGC R50 Sporty. Bukan karena Penulis suka main game, tapi lebih karena kursi ini memiliki sandaran untuk tangan dan kepala.

Tembok di sisi ini sebenarnya digunakan untuk memajang foto-foto. Hanya saja, Penulis memutuskan untuk menggantinya dengan Peta yang sebelumnya ada di tembok bagian barat.

Foto-foto tersebut Penulis pindahkan ke sisi barat dengan presisi sesempurna mungkin. Ketika proses pemasangan, Penulis menggunakan berbagai alat bantu untuk memastikan semuanya lurus.

Untuk bagian jendela, Penulis memasang tirai DIY dengan memanfaatkan kain bekas dengan sebuah tiang serbaguna. Hanya saja, tirainya gampang jatuh jika ditarik terlalu keras.

Di dekat jendela ada sebuah pajangan kucing tiga (mungkin melambangkan Penulis dan dua saudaranya) dan action figure dari My Hero Academia.

Daftar Harga

Setelah menjelaskan apa saja barang yang ada di sisi timur, Penulis ingin berbagai informasi mengenai harga-harganya. Bukan untuk pamer, hanya berbagi informasi karena siapa tahu Pembaca tertarik untuk membeli barang yang sama.

  • Keyboard Tray: Rp150.000
  • Keyboard Logitech L380: Rp355.000
  • Mouse Logitech M331 Silent: Rp177.000
  • Mouse Pad Motif Peta: Rp26.800
  • Samsung Curved 24″ LED LC24F390: Rp1.650.000
  • Webcam NYK Nighthawk A80: Rp350.000
  • Speaker Dell AY410: Rp650.000
  • Lampu Miniso: Rp120.000
  • Jam Kayu Digital: Rp109.000
  • Ultrasmith Aroma Diffuser: Rp199.000
  • Action Figure Shuichi Akai: Rp49.000
  • Action Figure My Hero Academia Set (5pcs): Rp150.000
  • Box Organizer: Rp55.000
  • Rak IKEA Tevalen: Rp120.000
  • Cooling Pad Havit HV-F2050: Rp165.000
  • Gamepad Rexus Gladius GX100: Rp245.000
  • Kursi Gaming Rexus RGC R50 Sporty: Rp1.450.000
  • Peta Dunia + Pigura: Rp88.200 + Rp300.000
  • Tiang Gorden: Rp18.700

Penutup

Kurang lebih seperti itu penjelasan mengenai sisi kamar bagian timur. Sisi ini menjadi bagian yang paling produktif jika dibandingkan sisi kamar lainnya.

Selanjutnya Penulis akan membahas mengenai sisi kamar bagian utara, sisi kamar yang menyimpan segudang koleksi buku Penulis dan berbagai macam jenis pajangan dinding!

Lawang, 11 Maret 2021, terinspirasi setelah menyelesaikan dekorasi ulang sisi timur kamar

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan