<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>lebaran Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/lebaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/lebaran/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 May 2021 10:05:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>lebaran Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/lebaran/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Berpisah dengan Ramadhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 09:57:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4962</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah satu bulan, akhirnya kita harus rela berpisah dengan bulan Ramadhan yang suci. Tidak hanya menahan lapar dan haus, kita juga diwajibkan untuk menahan segala bentuk hawa nafsu dan emosi. Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri atau lebaran kerap dianggap sebagai hari kemenangan. Kita telah berhasil melewati bulan tersebut dengan baik dan menganggap setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/">Setelah Berpisah dengan Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah satu bulan, akhirnya kita harus rela berpisah dengan bulan Ramadhan yang suci. Tidak hanya menahan lapar dan haus, kita juga diwajibkan untuk menahan segala bentuk hawa nafsu dan emosi.</p>



<p>Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri atau lebaran kerap dianggap sebagai hari kemenangan. Kita telah berhasil melewati bulan tersebut dengan baik dan menganggap setelah ini banyak hal akan dimulai lagi dari nol.</p>



<p>Hanya saja, bagi Penulis bentuk ujian yang sebenarnya justru <strong>setelah kita berpisah dengan bulan Ramadhan.</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis sendiri, bulan Ramadhan tahun ini terasa kurang maksimal. Meskipun puasa tahun ini bisa di rumah, dua minggu terakhir Penulis kerap diserang penyakit seperti asam lambung dan demam. Alhasil, bulan puasa tahun ini harus rela bolong dua hari.</p>



<p>Jumlah bolong ini adalah rekor seumur hidup Penulis. Tahun kemarin, Penulis sempat bolong satu kali karena sakit juga. Sebelumnya, seingat Penulis belum pernah bolong sama sekali. Kalau masalah menahan lapar dan haus, Penulis termasuk jago.</p>



<p>Hanya saja, Penulis juga jadi merenung. <strong>Apakah ujian yang sebenarnya justru setelah bulan Ramadhan?</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Selama bulan puasa, kita berusaha menahan diri dari berbagai godaan. Terlepas dari masalah perut, sebenarnya ada banyak hal yang harus kita jaga selama berpuasa.</p>



<p>Kita berusaha untuk menahan marah, tidak membicarakan orang, meningkatkan ibadah kita, pergi ke masjid untuk sholat berjamaah, tadarusan, tidak berbuat hal buruk, dan lain sebagainya. Semenjak Shubuh hingga Maghrib, kita berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<p>Pertanyaannya, dapatkah kita menjadi seperti itu di luar waktu puasa? Bisakah kita mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk seperti ketika puasa?</p>



<p>Penulis merasa bahwa inilah ujian kita yang sebenarnya: <strong>Apakah kita bisa menjadi manusia yang lebih baik di 11 bulan lainnya setelah berpuasa selama satu bulan?</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Menahan diri ketika berpuasa bisa dibilang cukup mudah. Ketika hendak melakukan hal yang buruk, kita akan teringat, &#8220;Oh iya, lagi puasa, enggak boleh begitu.&#8221;</p>



<p>Tapi kalau sedang di luar puasa, apa yang akan menjadi pengingat kita? Di sana lah letak kesulitan untuk mempertahankan kebiasaan baik di luar bulan puasa. Tidak ada yang bisa menjadi pengingat secara langsung.</p>



<p>Ketika Penulis berusaha menghayati bulan puasa yang telah dilewati, Penulis menyadari bahwa ini menjadi salah satu alasan kenapa kita harus berpuasa selama satu bulan: <strong>Agar kita sadar untuk bisa bersikap seperti ketika sedang puasa walaupun tidak sedang puasa.</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Setelah berpisah dengan bulan Ramadhan, Penulis menjadi tergerak hatinya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tidak hanya dari rutinitas harian, tapi juga meningkatkan kualitas ibadahnya.</p>



<p>Yang namanya manusia, pasti semangatnya akan mengalami naik turun. Penulis sudah sering mengalaminya dalam hidup.</p>



<p>Penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk, setidaknya sampai bertemu dengan bulan Ramadhan tahun depan jika diizinkan oleh Tuhan. Aamiin.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah merenungi makna bulan Ramadhan yang telah dijalani</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@sxy_selia">Sangga Rima Roman Selia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/">Setelah Berpisah dengan Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tumpang Tindih Regulasi Mudik</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 May 2021 08:55:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[regulasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4955</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lebaran tinggal menghitung hari lagi. Sama seperti tahun kemarin, pemerintah mengeluarkan regulasi yang intinya melarang mudik. Alasannya sama, untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19. Masyarakat tentu bergejolak dengan adanya aturan ini. Ada yang menerima, ada juga yang tetap bersikeras mudik demi bisa bertemu dengan sanak keluarga yang sudah lama tidak ditemui. Pemerintah tak kalah keras menghadapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/">Tumpang Tindih Regulasi Mudik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lebaran tinggal menghitung hari lagi. Sama seperti tahun kemarin, pemerintah mengeluarkan regulasi yang intinya melarang mudik. Alasannya sama, untuk mengurangi <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">penyebaran virus Covid-19</a>.</p>



<p>Masyarakat tentu bergejolak dengan adanya aturan ini. Ada yang menerima, ada juga yang tetap bersikeras mudik demi bisa bertemu dengan sanak keluarga yang sudah lama tidak ditemui.</p>



<p>Pemerintah tak kalah keras menghadapi perlawanan ini. Dikerahkan banyak petugas di berbagai titik, termasuk jalan tikus yang tidak diketahui banyak orang. Entah sudah berapa orang yang harus rela putar balik karena dicegat oleh petugas.</p>



<p>Masalahnya, di lapangan terjadi tumpang tindih regulasi yang membuat masyarakat bingung dan kesal.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Petugas pun Bingung</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4959" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Arief Wismansyah (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210507132228-20-639928/wali-kota-tangerang-bingung-larangan-mudik-berubah-ubah">CNN Indonesia</a>)</figcaption></figure>



<p>Regulasi mudik ini membingungkan masyarakat. Awalnya, mudik lokal dibolehkan. Tidak lama diumumkan, ternyata dilarang juga. Ada juga istilah mudik di wilayah aglomerasi yang entah apa maksudnya, tarik ulur juga. Diizinkan, terus dilarang.</p>



<p>Kok masyarakat, <em>mong </em>pelaksananya aja juga ikut bingung. Ambil contoh pernyataan dari Wali Kota Tangerang, <strong>Arief Wismansyah</strong>. Ia menyatakan dalam rapat bersama Menteri Dalam Negeri, mudik di wilayah aglomerasi diperbolehkan. Eh, ternyata sekarang dilarang. </p>



<p>Orang-orang yang di lapangan pun menjadi bingung untuk menegakkan aturan. Apalagi, orang-orang di wilayah Jabodetabek sudah biasa berseliweran antara wilayah, entah sekadar cari makan ataupun berangkat kerja.</p>



<p>Tentu petugas di lapangan akan kesulitan mana yang pemudik dan mana yang bukan pemudik. Dari barang bawaan? Bisa jadi, tapi bisa saja ada pemudik yang sengaja tidak membawa barang agar tidak disuruh putar balik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mudik No, Wisata Yes</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4958" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Gibran Rakabuming (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://regional.kompas.com/read/2021/05/06/195936778/gibran-larang-pemudik-masuk-solo-tetapi-izinkan-wisatawan-dari-jakarta?page=all">Kompas Regional</a>)</figcaption></figure>



<p>Yang membuat <em>gregetan</em>, tempat wisata dan belanja dibuka dengan alasan ekonomi. Padahal, tingkat kerumunan yang bisa ditimbulkan lebih besar jika dibandingkan kita yang pulang ke rumah orangtua.</p>



<p>Mungkin orang yang paling kena sorot masyarakat atas keputusan ini adalah walikota Solo, <strong>Gibran Rakabuming</strong>. Ia melarang orang-orang mudik ke Solo, tapi mengizinkan orang yang pergi dengan tujuan berwisata.</p>



<p>Memang ada berbagai persyaratan agar masyarakat bisa berwisata ke Solo. Tempat wisata juga cuma boleh menampung 50% kapasitas bla bla bla. Pembaca bisa membaca keterangan selengkapnya melalui tautan yang ada di bawah.</p>



<p>Lah, kalau begitu kenapa persyaratan yang sama tidak diberlakukan untuk masyarakat yang hendak mudik? Memangnya virus Corona alergi masuk ke tempat wisata sehingga yang pergi ke sana pasti tidak tertular dan menularkan?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Gelombang WNA di Bandara</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4957" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>WNA China (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-011325429/153-warga-china-tiba-di-tanah-air-saat-larangan-wna-masuk-indonesia-masih-berlaku-pihak-imigrasi-buka-suara">Pikiran Rakyat</a>)</figcaption></figure>



<p>Di tengah-tengah kesedihan masyarakat yang tidak bisa mudik, eh muncul berita tentang masuknya warga negara asing (WNA). Awalnya ada <strong>153 WNA India</strong> yang masuk ke Indonesia. Hal ini jelas menggemparkan karena India tengah diterjang gelombang Tsunami Corona yang parah.</p>



<p>Terlepas dari apapun alasan mereka bisa masuk, jelas pemerintah lengah dan kurang antisipatif. Terbukti, ada <strong>49 WNA India yang positif Corona</strong>. Bukan tidak mungkin virus yang mereka bawa merupakan varian virus yang baru.</p>



<p>Masih belum reda berita itu, ada lagi berita kalau <strong>WNA China</strong> masuk ke Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai <strong>157 orang</strong>. Pemerintah pun mengeluarkan klarifikasi kalau mereka semua telah memiliki izin dan kedatangan mereka untuk bekerja dan bla bla bla.</p>



<p>Mau apapun alasannya, kedatangan WNA di tengah-tengah keprihatinan masyarakat yang dilarang mudik jelas terasa tidak adil dan menyakitkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Terlepas dari <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">polarisasi masyarakat</a> yang percaya adanya Covid-19 atau tidak, pemerintah harusnya bisa lebih tegas dalam menangani masalah mudik tahun ini. Jika memang dilarang, terapkan aturan dengan tegas dan jangan <em>mencla-mencle</em>.</p>



<p>Kalau memang ada larangan orang masuk ke wilayah mereka, pukul rata untuk semua orang. Jangan yang mudik dilarang, tapi yang hendak berwisata dipersilakan. Jangan orang asing boleh masuk, tapi orang lokal dilarang.</p>



<p>Akibatnya, tumpang tindih regulasi mudik yang ada menyebabkan kebingungan tidak hanya bagi masyarakat, tapi juga bagi petugas di lapangan. Kalau sudah begini, yang susah kan jadi banyak pihak.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 9 Mei 2021, terinspirasi setelah melihat tumpang tindihnya aturan terkait mudik yang membuat masyarakat merasa bingung sekaligus jengkel</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://indonesia.go.id/kategori/kependudukan/1791/ketentuan-larangan-mudik-dan-pembatasan-transportasi">Portal Informasi Indonesia</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://megapolitan.kompas.com/read/2021/05/08/06593351/larangan-mudik-lokal-jabodetabek-warga-dan-pemerintah-daerah-sama-sama?page=all">Larangan Mudik Lokal Jabodetabek: Warga dan Pemerintah Daerah Sama-sama Bingung Halaman all &#8211; Kompas.com</a></li><li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20210506143553-4-243770/se-wali-kota-gibran-dilarang-mudik-ke-solo-liburan-boleh">SE Wali Kota Gibran: Dilarang Mudik ke Solo, Liburan Boleh (cnbcindonesia.com)</a></li><li><a href="https://metro.tempo.co/read/1455859/heboh-153-wna-india-masuk-indonesia-pangdam-jaya-12-positif-covid-19/full&amp;view=ok">Heboh 153 WNA India Masuk Indonesia, Pangdam Jaya: 12 Positif Covid-19 &#8211; Metro Tempo.co</a></li><li><a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5558671/bertambah-dari-ratusan-wn-india-yang-masuk-ri-49-di-antaranya-positif-corona">Bertambah! Dari Ratusan WN India yang Masuk RI, 49 di Antaranya Positif Corona (detik.com)</a></li><li><a href="https://nasional.kompas.com/read/2021/05/09/12292571/157-wna-china-masuk-indonesia-begini-kata-kemenkumham">157 WNA China Masuk Indonesia, Begini Kata Kemenkumham (kompas.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/">Tumpang Tindih Regulasi Mudik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lebaran Tanpa Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2020 19:03:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[silahturami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3889</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karena pandemi Corona, tahun ini Penulis harus merasakan untuk pertama kalinya lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga. Mau pulang juga tidak bisa karena banyak alasan. Memang menyedihkan dan berat, tapi Penulis merasa harus bisa menghadapinya. Lagipula Penulis tidak sendirian, ada adik Penulis dan seekor kucing yang kerap meminta makan ke kamar Penulis. Kondisi yang Penulis alami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/">Lebaran Tanpa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karena pandemi Corona, tahun ini Penulis harus merasakan untuk <strong>pertama kalinya lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga</strong>. Mau pulang juga tidak bisa karena banyak alasan.</p>
<p>Memang menyedihkan dan berat, tapi Penulis merasa harus bisa menghadapinya. Lagipula Penulis tidak sendirian, ada adik Penulis dan seekor kucing yang kerap meminta makan ke kamar Penulis.</p>
<p>Kondisi yang Penulis alami setidaknya lebih ringan dibandingkan teman-teman Penulis yang lain. Ada yang sendirian di kos, ada yang harus lebaran di negara lain, ada yang sudah sering lebaran tidak pulang, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Penulis berusaha mencari hikmah di balik lebaran yang <em>extraordinary </em>pada tahun ini. Tidak mungkin Tuhan membuat skenario kehidupan tanpa ada hikmah yang bisa dipetik.</p>
<p>Bulan puasa kemarin Penulis akui kalau kualitas ibadahnya sangat kurang karena beberapa alasan. Semoga setelah lebaran ini, Penulis bisa memperbaiki hal tersebut.</p>
<p>Penulis juga merasakan <strong>betapa berharganya waktu ketika berkumpul dengan keluarga</strong>. Memang kita masih bisa saling sapa melalui <em>video call</em>, namun sensasinya tentu sangat berbeda.</p>
<p>Kita juga tetap bisa menjalin silahturami dengan kerabat atau teman-teman menggunakan berbagai media komunikasi seperti WhatsApp dan lainnya. Saling memaafkan dan memulai semuanya dari nol lagi kalau bisa.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis merasa begitu jengkel (dan mungkin iri) terhadap <a href="https://whathefan.com/politik/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/">orang-orang yang bisa pulang hingga memenuhi bandara</a> atau cara-cara lainnya.</p>
<p>Padahal sudah dianjurkan untuk tidak mudik agar tidak menulari keluarga yang ada di kampung. Begini lah jadinya jika memiliki pemimpin yang tidak bisa tegas dalam mengatur rakyatnya.</p>
<p>Daripada terus mengeluh, Penulis memilih untuk berusaha menerimanya dengan ikhlas. Berat? Banget. Tapi pasti bisa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pada tulisan kali ini, Penulis juga ingin mengucapkan <strong><em>minal aidzin wal faizin</em>, mohon maaf lahir dan batin</strong>. Semoga kita semua bisa memetik hikmah di balik lebaran yang luar biasa tahun ini.</p>
<p>Penulis sendiri secara pribadi berharap bisa pulang ketika situasinya memungkinkan. Tidak dalam waktu dekat tidak apa-apa, yang penting bisa pulang.</p>
<p>Selain itu, dengan selesainya bulan puasa Ramadhan, Penulis berharap bisa mengatur ulang pola hidup dan tidurnya yang sangat berantakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Mei 2020, terinspirasi karena dirinya tidak bisa pulang lebaran untuk pertama kalinya</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/">Lebaran Tanpa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
