<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mahasiswa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/mahasiswa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/mahasiswa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Jul 2020 19:54:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Mahasiswa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/mahasiswa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Salah Jurusan Sampai Lulus</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2020 05:07:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Filkom]]></category>
		<category><![CDATA[Informatika]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Brawijaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3980</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis kerap kali merasa dirinya salah jurusan sewaktu kuliah, bahkan hingga detik ini. Bahkan pekerjaannya sekarang lumayan melenceng dari studi yang telah ditamatkan selama 4.5 tahun. Kenapa bisa seperti itu? Apa yang membuat Penulis memutuskan untuk mengambil jurusan Informatika? Bagaimana konsekuensinya di kehidupan yang sekarang? Mumpung adik kandung Penulis dan adik-adik Karang Taruna banyak yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">Salah Jurusan Sampai Lulus</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis kerap kali merasa dirinya salah jurusan sewaktu kuliah, bahkan hingga detik ini. Bahkan pekerjaannya sekarang lumayan melenceng dari studi yang telah ditamatkan selama 4.5 tahun.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Apa yang membuat Penulis memutuskan untuk mengambil jurusan Informatika? Bagaimana konsekuensinya di kehidupan yang sekarang?</p>
<p>Mumpung adik kandung Penulis dan adik-adik Karang Taruna banyak yang sedang mengikuti ujian masuk universitas, Penulis ingin berbagi pengalamannya.</p>
<h3>Kenapa Merasa Salah Jurusan?</h3>
<p>Mungkin ada yang penasaran, mengapa Penulis sampai merasa salah jurusan. Jawabannya sederhana, <strong>Penulis tidak bisa menguasai apa yang dipelajarinya selama kuliah</strong>.</p>
<p>Sebagai sarjana yang menyandang gelar <strong>S. Kom</strong>, orang akan berekspetasi kalau Penulis akan mahir dalam pemograman alias <em>ngoding</em>. Kenyatannya, tidak.</p>
<p>Sejujurnya ketika ada yang bertanya &#8220;kok anak TI enggak bisa <em>ngoding</em>?&#8221; atau &#8220;lulusan IT kok enggak jadi <em>programmer</em>?&#8221;, Penulis akan merasa sedikit terbebani dan semakin menegaskan kalau Penulis salah jurusan.</p>
<p>Akan tetapi dengan seiring berjalannya waktu, Penulis menyadari bahwa itu sudah suratan takdir yang telah dilalui. Tidak mungkin semua itu terjadi begitu saja tanpa ada hikmah yang bisa dipetik.</p>
<p>Bagaimana ceritanya sehingga Penulis bisa memilih dan masuk ke jurusan ini?  </p>
<h3>Awal Mula Pemilihan</h3>
<div id="attachment_3989" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3989" class="size-large wp-image-3989" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3989" class="wp-caption-text">Kampus Tercinta (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Ftwitter.com%2Fub_official%2Fstatus%2F1064377115536048134%3Flang%3Del&amp;psig=AOvVaw3-x7crIMVEe2H8R1_n6prS&amp;ust=1594582982214000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCOiH19X6xeoCFQAAAAAdAAAAABAD">Twitter</a>)</p></div>
<p>Sewaktu SMA, Penulis masuk ke kelas IPA. Tidak termasuk anak pintar, biasa-biasa saja. Nilai rata-rata UN-nya hanya 7, walau setidaknya itu murni hasil sendiri.</p>
<p>Bisa dibilang tidak ada pelajaran IPA yang Penulis senangi atau kuasai. Penulis justru lebih tertarik dengan pelajaran IPS seperti sejarah dan geografi.</p>
<p>Oleh karena itu, sama sekali <strong>tidak pernah terbesit untuk kuliah di jurusan IPA</strong>, baik murni maupun terapan. Hal ini membuat Penulis sempat bingung ingin mengambil jurusan apa.</p>
<p>Penulis justru merasa ingin mengambil jurusan <strong>Hubungan Internasional (HI)</strong>. Selain karena tertarik dengan materinya, orangtua Penulis juga sama-sama lulusan HI.</p>
<p>Kalaupun ada jurusan IPA yang membuat Penulis tertarik, mungkin jurusan <strong>Teknik Informatika (TI)</strong>. Alasannya sederhana, Penulis sejak kecil suka mengutak-atik komputer.</p>
<p>Sempat ragu karena <em>passing grade</em>-nya tinggi, Penulis akhirnya memilih jurusan tersebut setelah mendapatkan dorongan dari ayah. Pada akhirnya, Penulis mengikuti jalur IPC (Campuran) dengan memilih 3 jurusan di Universitas Brawijaya:</p>
<ol>
<li>Teknik Informatika</li>
<li>Hubungan Internasional</li>
<li>Pariwisata</li>
</ol>
<p>Harapannya, karena TI <em>passing grade</em>-nya tinggi, Penulis bisa masuk ke jurusan HI yang <em>passing grade</em>-nya lebih rendah. Sayang, takdir berkata lain. Penulis diterima di jurusan TI.</p>

<h3><em>Shock Therapy</em></h3>
<div id="attachment_3988" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3988" class="size-large wp-image-3988" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3988" class="wp-caption-text">Bahasa Java (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fnetbeans.org%2Fwelcome.html&amp;psig=AOvVaw1kxzAqZh7fSOBzxP3pNwq-&amp;ust=1594582227686000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCJCy4Oz3xeoCFQAAAAAdAAAAABAD" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCJCy4Oz3xeoCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit netbeans.org"><span class="pM4Snf">netbeans.org</span></a>)</p></div>

<p>Penulis suka dunia komputer sejak kecil. Komputer Pentium 4-nya dulu kerap dimodifikasi tampilannya dengan berbagai cara. Penulis juga suka melakukan <em>editing </em>gambar ataupun video.</p>
<p>Ekspetasi Penulis seperti itu ketika masuk ke jurusan IT. Kenyataannya, jauh berbeda. Penulis benar-benar <strong>merasa masuk ke dunia yang sama sekali asing</strong>.</p>
<p>Memang Penulis pernah tahu tentang bahasa pemrograman karena teman SMA pernah ada yang mengikuti olimpiade komputer. Penulis tak pernah membayangkan sebelumnya kalau akan bertemu dengannya secara langsung, setiap hari, tanpa ampun.</p>
<p>Kenapa bisa sampai seperti itu? Mungkin karena waktu melakukan pemilihan, Penulis kurang melakukan riset dan tidak punya orang yang bisa ditanyai seputar dunia perkuliahan.</p>
<p>Maka dari itu, Penulis sekarang berusaha semaksimal mungkin untuk membantu adik-adiknya dalam memilih jurusan kuliah. Kalau bisa, jangan sampai apa yang Penulis alami ini terulang pada mereka.</p>
<p>Dasar dari jurusan TI adalah pemograman. Semester 1, mata kuliah <strong>Pemograman Dasar</strong>, Penulis berkenalan dengan Java dan mendapatkan nilai <strong>C</strong>. Padahal, itu mata kuliah dasar yang akan menjadi landasan untuk mata kuliah lainnya.</p>
<p>Pemograman membutuhkan pemahaman yang kuat. Masalahnya, Penulis mengalami kesulitan dalam memahami konsep logika pemograman, termasuk memahami bahasa-bahasanya.</p>
<p>Apalagi di semester-semester berikutnya, Penulis bertemu dengan bahasa pemograman lain yang tak kalah rumit dari Java, seperti PHP dan mySQL.</p>
<p>Alhasil, sempat terbesit di kepala untuk <strong>mengundurkan diri dari jurusan TI</strong> dan mengikuti SBMPTN tahun berikutnya. Untungnya, Penulis mengurungkan niat tetsebut dan melanjutkan kuliah. Mengapa Penulis bisa bertahan hingga lulus?</p>
<h3>Ketua Kelas D dan 11 Pria Tampan</h3>
<div id="attachment_3987" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3987" class="size-large wp-image-3987" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/07/salah-jurusan-sampai-lulus-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3987" class="wp-caption-text">11 Pria Tampan</p></div>
<p>Pada hari pertama kuliah, Penulis dengan percaya dirinya mengajukan diri sebagai <strong>ketua kelas TIF-D</strong>. Alasannya jelas, Penulis ingin membuka lembaran hidup baru.</p>
<p>Bahkan sejak kuliah, Penulis meninggalkan nama panggilannya di rumah dan memilih untuk menggunakan nama Fanandi saja.</p>
<p>Dengan menjadi ketua kelas, Penulis bisa berinteraksi dengan semua teman kelas dan dosen, sesuatu yang mungkin akan sulit terwujud jika Penulis hanya menjadi mahasiswa biasa.</p>
<p><em>(Trivia, zaman dulu kami belum terbiasa menggunakan Google Drive, sehingga jika dosen memberikan materi, teman-teman akan memberikan Flash Disk-nya ke Penulis dan Penulis akan mengopinya satu per satu.)</em></p>
<p>Setelah satu semester bersama kelas D, semester 2 kelas kami dicampur dengan kelas H. Kami pun berkenalan dengan banyak teman baru.</p>
<p>Penulis masih ingat ketika semester 4, secara iseng Penulis membuat grup bernama <strong>11 Pria Tampan</strong> (disingkat 11PT). Siapa yang menyangka kalau grup (atau geng) tersebut masih bertahan hingga sekarang, walau ada anggota yang &#8220;menghilang&#8221;.</p>
<p>Bisa dibilang, <strong>11PT inilah yang membuat Penulis bisa bertahan</strong> di jurusan ini sampai lulus. Selain karena membuat Penulis betah karena rasa persaudaraan yang muncul, mereka juga kerap membantu studi Penulis termasuk ketika menyusun skripsi.</p>
<h3>Menyesal?</h3>
<p>Penulis merasa salah masuk jurusan hingga lulus, iya. Penulis menyesal karena sudah berkuliah di jurusan Informatika, <strong>tidak</strong>. Ada banyak hal yang Penulis dapatkan di luar bidang akademis.</p>
<p>Selain mendapatkan kawan-kawan yang suportif hingga sekarang, Penulis juga mendapatkan banyak pengalaman hidup yang dampaknya terasa hingga sekarang.</p>
<p>Dengan menjadi ketua kelas, Penulis yang cenderung introvert ini jadi bisa menjalin hubungan dengan banyak orang. Sebenarnya Penulis melakukan hal yang sama ketika SMA, namun entah mengapa dampaknya lebih terasa ketika kuliah.</p>
<p>Selama kuliah, Penulis mengikuti dua kegiatan kampus, yakni Pers Mahasiswa dan Kelompok Riset Mahasiswa. Dua-duanya tidak berakhir dengan baik karena kesalahan Penulis. Dari sana, Penulis belajar banyak.</p>
<p>Yang jelas, potongan-potongan peristiwa yang terjadi ketika masa kuliah berkontribusi banyak kepada diri Penulis yang sekarang. Karena itu semua, <strong>tidak sekalipun Penulis pernah merasa menyesal telah berkuliah di jurusan Informatika</strong>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Merasa salah jurusan bukan berarti Penulis tidak mendapatkan ilmu apa-apa dari kampus. Setidaknya, dasar penalaran logikanya sangat membantu Penulis hingga sekarang.</p>
<p>Sebagai contoh, Penulis mampu menganalisa data dari tabel dan membuat kesimpulannya. Materi ini tidak diajarkan di kampus, namus basis pengetahuannya adalah logika.</p>
<p>Penulis berharap adik-adiknya tidak perlu mengalami apa yang sudah dialami oleh Penulis. Semoga mereka berhasil masuk ke jurusan yang sesuai dengan bayangan mereka. Amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 Juli 2020, terinspirasi dari adik-adiknya yang sedang mengikuti ujian SBMPTN</p>
<p>Foto: <a href="https://www.insidehighered.com/news/2018/10/08/changes-college-scorecard-anger-veterans-groups">Inside Higher Ed</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">Salah Jurusan Sampai Lulus</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Undang-undang yang Membuat Rakyat Meradang</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Sep 2019 16:04:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[aspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[demo]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[undang-undang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2741</guid>

					<description><![CDATA[<p>Wahai bapak-ibu penyusun undang-undang Tingkah lakumu membuat rakyat meradang Walau aparat keamanan menghadang Suara aspirasi akan selalu berkumandang *** Penulis, yang beberapa minggu terakhir sedang istirahat dari media sosial, memutuskan untuk mengecek linimasa Twitter selama beberapa jam. Alasannya jelas, negara kita sedang bergejolak akibat berbagai keputusan yang dibuat oleh DPR dan pemerintah belakangan ini. Masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang/">Undang-undang yang Membuat Rakyat Meradang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Wahai bapak-ibu penyusun undang-undang</em></p>
<p><em>Tingkah lakumu membuat rakyat meradang</em></p>
<p><em>Walau aparat keamanan menghadang</em></p>
<p><em>Suara aspirasi akan selalu berkumandang</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis, yang beberapa minggu terakhir sedang i<a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">stirahat dari media sosial</a>, memutuskan untuk mengecek linimasa Twitter selama beberapa jam.</p>
<p>Alasannya jelas, negara kita sedang bergejolak akibat berbagai keputusan yang dibuat oleh DPR dan pemerintah belakangan ini. Masyarakat menilai banyak poin-poin yang merugikan mereka.</p>
<p>Penulis sendiri kurang mendalami undang-undang mana saja yang dipermasalahkan. Penulis tahu, namun hanya kulit luarnya saja. Jika membaca dari berbagai media, memang banyak yang <em>ngaco</em>.</p>
<p>Yang membuat gemas adalah banyaknya hal yang sebenarnya tidak terlalu mendesak. Justru, undang-undang yang lebih <em>urgent </em>dan telah dituntut oleh rakyat agar segera disahkan malah belum selesai-selesai.</p>
<p>Seingat dan sepahaman penulis, yang paling membuat geram adalah revisi UU KPK. Banyak yang menilai ini adalah upaya melemahkan KPK dalam memberantas korupsi.</p>
<p>Selain itu, ada pula revisi Rancangan Undang-Undang Kitab Hukum Pidana yang memuat hal-hal yang dianggap konyol sehingga ditertawakan oleh masyarakat, sekaligus menjadi pemicu mereka untuk bersuara lantang.</p>
<p>Hal ini diperparah dengan waktu pembahasannya yang baru dilakukan ketika masa jabatan mereka hendak berakhir, seolah mereka hanya sedang dikejar sesuatu yang tak tampak. Takut usulan tersebut tidak akan digolkan pada periode mendatang? Bisa jadi.</p>
<h3>Ketika Mahasiswa Turun ke Jalan</h3>
<p><div id="attachment_2744" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2744" class="size-large wp-image-2744" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2744" class="wp-caption-text">Aksi Mahasiswa (<a href="https://breakingnews.co.id/read/mahasiswa-demo-di-dpr-lalu-lintas-ibu-kota-carut-marut">Breaking News</a>)</p></div></p>
<p>Saat penulis masih menjadi mahasiswa, tidak pernah sekalipun penulis ikut aksi demo. Yang pernah justru meliput mahasiswa demo, mengingat ketika kuliah penulis sempat bergabung dengan pers kampus.</p>
<p>Dulu, penulis menganggap kegiatan demo adalah hal yang percuma karena aspirasi kita tidak akan didengar oleh wakil rakyat. Apalagi, jika jumlahnya hanya segelintir orang.</p>
<p>Ketika berbagai masalah perundang-undangan ini menyeruak ke publik, penulis pun memahami bahwa aksi demo ini benar-benar bisa membawa perubahan dengan melihat para adik mahasiswa yang sedang berjuang demi kepentingan rakyat.</p>
<p>Mahasiswa dari seluruh Indonesia bersatu dan menuntut hal yang serupa. Dari yang penulis temukan di media sosial, setidaknya ada 7 hal yang dituntut.</p>
<ol>
<li>Menolah RKUHP, RUU Pertambangan Minerba, RUU Pertanahan, RUU Permasyarakatan, RUU Ketenagakerjaan; Mendesak Pembatalan UU KPK dan UU SDA; Mendesak Disahkannya RUU PKS dan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.</li>
<li>Batalkan Pimpinan KPK Bermasalah Pilihan DPR.</li>
<li>Tolak TNI dan Polri Menempati Jabatan Sipil.</li>
<li>Stop Militerisme di Papu dan Daerah Lain; Bebaskan Tahanan Politik Papua Segera.</li>
<li>Hentikan Kriminalisasi Aktivis.</li>
<li>Hentikan Pembakaran Hutan di Kalimantan dan Sumatera yagn Dilakukan oleh Korporasi, dan Pidanakan Korporasi Pembakar Hutan, Serta Cabut Izinnya.</li>
<li>Tuntaskan Pelanggaran HAM dan Adili Penjahat HAM; Termasuk yang Duduk di Lingkaran Kekuasaan; Pulihkan Hak-Hak Korban Segera.</li>
</ol>
<p>Bagi penulis sendiri, tujuh poin di atas merupakan permasalahan yang sedang mengepung Indonesia saat ini. Kegaduhan yang terjadi selama ini kebanyakan disebabkan oleh poin-poin tersebut.</p>
<p>Beberapa tahun terakhir ini, mahasiswa sering dianggap tertidur ketika ada isu-isu nasional mencuat. Mungkin keresahan yang sudah pada puncaknya ini membuat mereka terbangun.</p>
<p>Penulis salut dengan para <em>agent of change </em>ini, dan rasanya penulis tidak sendirian. Mayoritas masyarakat Indonesia mendukung aksi mereka dan memberikan bantuan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.</p>
<p>Sayangnya, terjadi kejadian yang sangat tidak mengenakan ketika aksi mahasiswa digelar pada dua hari kemarin.</p>
<h3>Bentrok Massa dan Aparat Keamanan</h3>
<p><div id="attachment_2746" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2746" class="size-large wp-image-2746" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2746" class="wp-caption-text">Bentrokan Antara Massa dan Aparat (<a href="https://www.berita24.com/2019/09/2-mahasiswa-uki-diciduk-polisi-dalam.html">Berita24</a>)</p></div></p>
<p>Setahu penulis, batas waktu untuk melakukan demonstrasi adalah pukul 18:00. Jika sampai waktu tersebut massa belum membubarkan diri, aparat keamanan bisa membubarkan paksa.</p>
<p>Hanya saja, banyak yang bertahan di tempat karena mungkin merasa aspirasinya belum didengar. Menurut penulis, inilah pemicu kerusuhan yang terjadi di beberapa lokasi di Jakarta. Belum lagi kehadiran provokator non-mahasiswa.</p>
<p>Apalagi, aparat keamanan bertindak cukup beringas seperti yang terlihat pada video-video yang viral di dunia maya. Sama sekali tidak terlihat peran mereka sebagai pengayom masyarakat.</p>
<p>Para mahasiswa ini tidak bersenjata, tapi mereka dihantam sedemikian rupa seolah mereka adalah binatang. Perlakuan mereka benar-benar keji sehingga siapapun yang masih memiliki hati nurani akan merasa terluka.</p>
<p>Hal ini diperparah dengan anak-anak STM yang <em>katanya </em>ikut menyuarakan aspirasi mereka kemarin. Dari yang penulis amati, mereka hanya berbuat kerusuhan tanpa terlalu tahu apa yang sedang mereka perjuangkan. Sayang sekali.</p>
<h3>Ditunggangi?</h3>
<p><div id="attachment_2747" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2747" class="size-large wp-image-2747" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/09/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2747" class="wp-caption-text">Yasonna Laoly (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=MhRCxljOhw0">YouTube</a>)</p></div></p>
<p>Hal lain yang membuat penulis merasa geram adalah ucapan-ucapan elit mengenai ada pihak yang menunggangi mahasiswa dalam aksi kemarin. Penulis heran, kenapa setiap ada aksi yang melibatkan banyak massa selalu dianggap ditunggangi.</p>
<p>Mereka memang ditunggangi, tapi ditunggangi kepentingan rakyat yang merasa haknya sebagai warga negara terancam. Para mahasiswa ini sadar bahwa merekalah garda terdepan untuk bersuara, sama seperti pada era reformasi 1998.</p>
<p>Bahwa ada yang memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi atau kelompok, memang benar adanya. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka benar-benar sedang berupaya memperjuangkan keadilan untuk semua rakyat Indonesia.</p>
<p>Hasil akhir dari rangkaian peristiwa ini sendiri belum jelas. Kabarnya, DPR dan pemerintah sepakat untuk menunda pengesahan undang-undang yang dituntut oleh masyarakat. Yang diinginkan oleh para mahasiswa (dan kita) adalah penolakan, bukan sekadar ditunda.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mendiskusikan permasalahan tanpa membicarakan solusinya adalah hal yang percuma. Tapi jujur, penulis tidak punya kapabilitas untuk menyediakan solusi untuk semua permasalahan ini.</p>
<p>Yang bisa penulis katakan adalah setidaknya buat hal ini menjadi pelajaran bagi kita agar lebih bijak dalam menggunakan hak suara. Pilih wakil-wakil yang benar-benar bisa mewakili suara kita.</p>
<p>(<em>Penulis tahu ini sangat utopis, sesuatu yang nampaknya tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Walaupun begitu, tidak ada salahnya berharap dan berdoa)</em></p>
<p>Selain itu, kita pun jadi lebih <em>melek </em>hukum dengan peristiwa-peristiwa ini. Penulis, yang kurang tertarik dengan bidang hukum, jadi menaruh sedikit minat agar kelak bisa mengetahui pasal-pasal mana saja yang bermasalah.</p>
<p>Kita juga harus lebih bijak dalam menyampaikan aspirasi kita sesuai dengan kemampuan. Yang bisa turun ke jalan ya bagus, kalau hanya bisa mendukung dari media sosial juga <em>monggo</em>. Penulis sendiri mungkin hanya bisa melalui blognya ini.</p>
<p>Yang jelas, penulis berharap bahwa kita semua bisa mendapatkan pelajaran yang dipetik demi memberikan yang terbaik untuk bangsa ini, bangsa Indonesia kita tercinta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 September 2019, terinspirasi setelah mengamati isu-isu yang tengah memanas akhir-akhir ini.</p>
<p>Foto: <a href="https://beritagar.id/artikel/berita/paripurna-akan-sahkan-6-ruu-rkuhp-tidak-termasuk">Beritagar</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/undang-undang-yang-membuat-rakyat-meradang/">Undang-undang yang Membuat Rakyat Meradang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 03:56:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[ABRI]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Moertopo]]></category>
		<category><![CDATA[Benny Moerdani]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[ICMI]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=818</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221; Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film The Dark Knight pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon. Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun? Seperti yang telah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221;</em></p>
<p>Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film <em>The Dark Knight </em>pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon.</p>
<p>Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun?</p>
<p>Seperti yang telah kita ketahui bersama, 20 tahun lalu tepatnya tanggal 21 Mei 1998, terjadi demo besar-besaran oleh mahasiswa yang menuntut mundurnya Soeharto. Massa berhasil menduduki gedung DPR, bisa dibilang mereka telah melakukan makar.</p>
<p><strong>Soeharto dan Habibie</strong></p>
<p>Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, akhirnya Soeharto meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada B.J. Habibie selaku wakilnya.</p>
<p>Mungkin tidak banyak yang tahu, ketika berencana mengundurkan diri, Soeharto sejatinya ingin mengajak Habibie untuk ikut mundur bersamanya. Beberapa sumber mengatakan bahwa Soeharto tidak yakin Habibie mampu memimpin negara dan menguasai keadaan.</p>
<p>Namun Habibie menolak. Dengan sedikit emosi beliau berkata kurang lebih seperti:</p>
<p>&#8220;Mengapa saya Anda pilih sebagai wakil jika ternyata Anda meragukan kemampuan saya?&#8221;</p>
<p><div id="attachment_821" style="width: 680px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-821" class="size-full wp-image-821" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.jpg" alt="" width="670" height="335" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.jpg 670w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur-356x178.jpg 356w" sizes="(max-width: 670px) 100vw, 670px" /><p id="caption-attachment-821" class="wp-caption-text">Seoeharto dan Habibie (https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.html)</p></div></p>
<p>Semenjak itu, hubungan mereka menjadi renggang. Soeharto menolak bertemu dengan Habibie dalam rentang waktu yang cukup lama. Padahal, selama ini bisa dibilang Habibie merupakan anak emas Soeharto semenjak bergabung dengan kabinet pada tahun 1978 sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia hingga akhirnya menjadi wakil presiden.</p>
<p>Selain itu, Habibie juga menjadi ketua pertama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia alias ICMI, Lahirnya ICMI tidak terlepas dari berkurangnya kepercayaan Soeharo kepada kubu militer.</p>
<p><strong>Soeharto dan Militer</strong></p>
<p>Berlatarbelakang militer tentu membuat Soeharto dekat dengan pasukan militer. Banyak kaki tangannya yang berasal dari militer, sebut saja Ali Moertopo dan Benny Moerdani.</p>
<p>Akan tetapi, kepercayaan tersebut berkurang drastis menjelang tahun 90an. Banyak teori yang berkembang, seperti meninggalnya Ali pada tahun 1984 hingga kritikan Benny terhadap kerajaan bisnis anak-anak Soeharto sewaktu menjadi panglima ABRI.</p>
<p>Keberanian Benny memberikan kritik kepada rezim Soeharto tentu memiliki konsekuensi yang besar. Ia dicopot dari jabatannya lebih cepat dan gagal menjadi wakil presiden, walaupun ia digadang-gadang untuk mengisi posisi tersebut. Pada akhirnya, Sudharmono lah yang menjadi wakil presiden Republik Indonesia yang kelima.</p>
<p><div id="attachment_820" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-820" class="size-full wp-image-820" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/edsus_benny29.jpg" alt="" width="300" height="189" /><p id="caption-attachment-820" class="wp-caption-text">Soeharto dan Benny Moerdani (https://majalah.tempo.co/read/146482/tak-lagi-di-sisi-soeharto)</p></div></p>
<p>Selain itu, Soeharto juga tidak lagi mendengarkan nasihat dari <em>Centre for Strategic and International Study </em>(CSIS) yang diawaki tokoh-tokoh seperti Jusuf Wanandi. Bisa dimaklumi karena CSIS dekat dengan militer termasuk Ali Moertopo.</p>
<p>Ini membuat haluan politik Soeharto menjadi condong ke kaum muslim yang menjadi mayoritas di Indonesia. Bisa jadi, inilah titik awal kejatuhan Soeharto.</p>
<p><strong>Ketika Soeharto Ditinggalkan</strong></p>
<p>Detik-detik menjelang kejatuhan Soeharto, beberapa orang yang selama ini sangat loyal kepada beliau tiba-tiba membelot dan meminta Soeharto untuk mundur. Ketua DPR saat itu, Harmoko, menyatakan bahwa rakyat sudah tidak menghendaki Soeharto menjabat sebagai presiden lagi. Padahal, selama ini Harmoko adalah salah satu anak emas Seoharto.</p>
<p>Selain itu, beberapa bulan setelah pelatikannya yang terakhir pada Maret 1998, beberapa menteri menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden Soeharto.</p>
<p>Semua yang selama ini mendukungnya, tiba-tiba menjauhinya. Orang-orang yang selama ini menjilat dirinya untuk mendapatkan kekuasaan tiba-tiba ikut memusuhinya.</p>
<p><div id="attachment_819" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-819" class="size-full wp-image-819" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-819" class="wp-caption-text">Harmoko (http://bangka.tribunnews.com/2018/01/29/masih-ingat-menteri-penerangan-harmoko-kabar-mengejutkan-datang-dari-tangan-kanan-soeharto-itu)</p></div></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221;</em></p>
<p>Penulis membayangkan, betapa sakitnya perasaan Soeharto ketika itu, dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya. 32 tahun Orde Baru berakhir dengan pahit karena ketamakan akan kekuasaan (dan harta?).</p>
<p>Mungkin Soeharto baru merasakan, betapa ia begitu sendirian ketika cobaan datang. Mungkin ia baru merasakan, ternyata ia tidak memiliki kawan-kawan yang setia, melainkan orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan dari dirinya.</p>
<p>Mungkin karena depresi setelah mengetahui fakta inilah, Soeharto menjadi sakit-sakitan setelah turun jabatan hingga meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 tanpa pernah bisa tersentuh oleh hukum.</p>
<p>Sang Bapak Pembangunan Indonesia harus menderita karena kesendirian setelah <em>lengser keprabon</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi oleh 20 tahun reformasi</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana">https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beropini Setelah Reformasi</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2018 08:27:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Media Masa]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Publik]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi. Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi.</p>
<p>Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan mereka. Siapa yang tidak mau menjadi corong, harus siap-siap dicabut izin penerbitannya oleh Kementerian Penerangan.</p>
<p>Semenjak reformasi, keran berpendapat mulai terbuka kembali. Media-media yang dulunya dibredel dipersilahkan untuk beroperasi kembali. Undang-undang mengenai kebebasan pers disahkan, kalau tidak salah di jaman presiden Habibie. Media pun bisa membuat berita tanpa harus menunggu petunjuk bapak presiden,</p>
<p>Kita, termasuk media, harus berterima kasih kepada mahasiswa dan para aktivis, yang dengan berbagai upaya, berhasil menggoyahkan kursi presiden Soeharto, hingga mencapai puncaknya pada tanggal 21 Mei 1998 ketika beliau mengumumkan pengunduran dirinya.</p>
<p><strong>Media Sebagai Pengkritik Presiden</strong></p>
<p>Karena kebebasan pers dilakukan, maka banyak hal yang bisa dilakukan oleh media, termasuk mengkritik kebijakan presiden. Mungkin yang paling terasa adalah ketika lengsernya Gus Dur sebagai presiden. Media tidak akan segan mem-<em>blow up</em> berita-berita yang menyudutkan Gus Dur. Ini tidak akan mungkin terjadi ketika Orde Baru masih kuat-kuatnya berkuasa.</p>
<p>Begitu pula presiden-presiden selanjutnya, tidak akan lepas dari pemberitaan negatif dari media. Sebagai pilar demokrasi keempat, memang sudah seharusnya media menjadi penyalur informasi antara pemerintah dengan rakyatnya, baik dan buruknya.</p>
<p>Oleh karena itu, akan menjadi pertanyaan besar apabila media hanya memberitakan kebaikan pemerintah saja, seolah mengulang dosa di masa Orde Baru, tanpa memberitakan kekurangan pemerintah yang sejatinya bisa dijadikan pondasi untuk menjadi lebih baik.</p>
<p><strong>Menjadi Viral Agar Di Dengar</strong></p>
<p>Sudah 20 tahun semenjak reformasi, tentu banyak hal yang berubah, termasuk media sebagai lahan untuk beropini. Di era teknologi seperti sekarang, mengeluarkan pendapat lebih sering dituangkan dalam media sosial ketimbang melalui media cetak. Menulis <em>tweet </em>tentu lebih cepat dan praktis jika dibandingkan mengirimkannya ke media cetak agar termuat di koran.</p>
<p>Menjadi viral di media sosial juga bisa sarana yang efektif untuk beropini agar di dengar oleh pemerintah. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa presiden BEM UI memberikan kartu kuning kepada presiden Jokowi. Agar menjadi perhatian, baik pemerintah maupun rakyat, ia melakukan aksi yang tidak biasa.</p>
<p>Hal itu terbukti efektif. Beberapa <em>headline </em>memberitakan aksi tersebut dan menautkannya dengan berbagai topik yang terkait. Mungkin saja saya yang kurang membaca referensi, namun berita yang saya baca lebih banyak menyinggung sisi negatifnya, seperti ucapannya ketika di acara Mata Najwa tentang siapa yang memanfaatkan jalan tol, ataupun etikanya yang dianggap mencoreng muka Universitas Indonesia.</p>
<p>Hampir tidak saya temukan berita dengan <em>headline </em>seperti &#8220;kebangkitan mahasiswa dalam beropini&#8221; atau sebagainya. Saya sering mendengar opini bahwa mahasiswa jaman sekarang kurang bersuara laiknya mahasiswa di penghujung 90an. Bukankah ini seharusnya bisa dijadikan momentum untuk mengembalikan peran mahasiswa sebagai <em>agent of change</em>?</p>
<p><strong>Kembali ke Masa Orba?</strong></p>
<p>Dengan adanya kebebasan berpendapat, sesuatu yang kita dapatkan setelah banyak darah tumpah demi menuntut rezim turun, tentu membuat ruang untuk diskusi terbuka lebar. Kita tidak perlu takut lagi diculik agar suara kita dibungkam.</p>
<p>Atau itukah yang sedang terjadi sekarang? Beberapa orang secara misterius terluka bahkan tewas di tangan orang-orang yang, bagi sebagian orang, hanya rekayasa kelompok tertentu. Mulai dari Novel Baswedan, ahli IT Hermansyah, hingga ustad yang dipukuli oleh &#8220;orang gila&#8221;.</p>
<p>Benarkah beropini di era sekarang lebih bebas dibandingkan dengan jaman Orde Baru? Atau secara terselubung, kebebasan kita mulai dibatasi kembali? Bahkan dalam penerbitan penelitian saja, berdasarkan kata Rocky Gerung, harus membutuhkan ijin dari Kementerian Dalam Negeri. Menurut saya, ini seperti peran Kementerian Penerangan di jaman Orba yang lama dipegang oleh Harmoko.</p>
<p>Akankah kita kembali ke era Orde Baru? Ataukah itu hanya kekhawatiran yang berlebihan?</p>
<p><strong>Menentukan Sikap Sebagai Seorang Rakyat</strong></p>
<p>Sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, kita sebagai rakyat seharusnya bisa melihat kinerja pemerintah secara obyektif, seperti pada tulisan saya yang berjudul <a href="http://whathefan.com/2018/01/19/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/"><em>Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif</em></a>. Beri apresiasi ketika meraih prestasi, kritik jika masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki.</p>
<p>Hanya karena kita menjadi pendukung tokoh tersebut, bukan berarti kita harus menutup mata atas segala kesalahannya. Memberi kritik yang membangun merupakan bentuk dukungan yang sejati. Apa yang dilakukan oleh kawan-kawan mahasiswa kita, merupakan bentuk penyampaian opini yang <em>extraordinary</em> agar mereka di dengar.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan memberikan kritik, selama diutarakan secara santun dan beretika. Begitu pula yang dikritik, alangkah lebih baik jika kritik tersebut dijadikan bahan sebagai interopeksi diri dan membuka diri untuk perbaikan. Bukannya marah karena merasa dihina.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Secara tidak sengaja, tulisan ini bersamaan dengan Hari Pers Nasional. Jadi, selamat Hari Pers Nasional!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 9 Februari 2018, setelah mendesain ulang website kodingdong.com</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion">https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
