<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Maudy Ayunda Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/maudy-ayunda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/maudy-ayunda/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Dec 2021 13:05:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Maudy Ayunda Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/maudy-ayunda/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2021 12:58:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jerome Polin]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[menyontek]]></category>
		<category><![CDATA[Nihonggo Mantappu]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Youtube]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara Jerome Polin dan Maudy Ayunda. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia dan kalian pernah nyontek nggak. Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Maudy Ayunda</a>. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai <strong>apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia</strong> dan <strong>kalian pernah nyontek nggak</strong>.</p>



<p>Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk disimak. Melihat dua orang pintar dan berprestasi (<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">terlepas bantuan <em>privilege </em>yang mereka miliki</a>) berdiskusi sangat menginspirasi dan memotivasi.</p>



<p>Begitu menariknya video tersebut membuat Penulis menuliskan artikel tentang jawaban dari dua pertanyaan tersebut. Untuk Pembaca yang belum menonton video lengkapnya, bisa nonton di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="PACAR HARUS PINTER!? FIRST IMPRESSION? - Q&amp;A SPESIAL JEROME &amp; MAUDY AYUNDA" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/4vIZVHzOCYE?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Kira-Kira Harus Dikoreksi dari Pendidikan di Indonesia?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Ada beberapa poin yang menjadi <em>concern </em>mereka, seperti <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">membentuk kebiasaan baik</a></strong>. Jerome memberikan contoh kalau siswa di Jepang begitu disiplin tentang masalah sampah. Kita mengetahui teori &#8220;buang sampah pada tempatnya&#8221;, tapi pada praktiknya masih kurang.</p>



<p>Maudy menambahkan kalau hal-hal baik seperti itu akan lebih berhasil jika ada <em>collective action</em>, di mana jika yang benar hanya kita sendiri sedangkan orang lain tidak, maka akan susah untuk dilakukan. Namun, tidak ada salahnya untuk berani memulai dari diri kita sendiri.</p>



<p>Setelah itu, Maudy menyayangkan bahwa kita kurang memiliki <strong>budaya cinta belajar</strong>. Kebanyakan siswa di negara maju, mereka memiliki &#8220;rasa lapar&#8221; untuk mendapatkan pengetahuan. </p>



<p>Mencari tahu informasi dan bertanya seolah sudah menjadi budaya mereka yang tentunya akan bagus jika dimiliki juga oleh kita. Menumbuhkan rasa suka belajar jelas tidak mudah karena harus dibentuk sejak dini dan didukung oleh lingkungan yang mendukung.</p>



<p><strong>Dari tidak tahu menjadi tahu itu menimbulkan kepuasan</strong>, kata Jerome yang diamini oleh Maudy. Penulis menyetujui pendapat ini karena telah merasakan kepuasaan itu sendiri dan menimbulkan &#8220;ketagihan&#8221; secara positif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalian Pernah Nyontek Nggak?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5481" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Pertanyaan ini tentu menarik, mengingat Jerome dan Maudy dikenal sebagai orang yang pintar. Apakah orang pintar pernah menyontek? Ternyata jawaban mereka sama,<strong> kalau menyontek tidak pernah, tapi memberi contekan atau jawaban pernah</strong>.</p>



<p>Hal ini jelas berbeda dengan di Jepang. Jerome bercerita kalau di sana tidak ada siswa yang akan sekadar memanggil temannya ketika ujian berlangsung. Memang tidak bisa digeneralisir semua murid Jepang, hanya saja rasanya yang seperti itu menjadi mayoritas di sana.</p>



<p>Kalau di sini, <strong>menolak memberikan jawaban hampir pasti akan menjadi korban <em>bully</em></strong><em> </em>atau dipanggil pelit, pahit, dan sebagainya. Padahal, meminta jawaban ketika ujian saja sudah salah, tapi yang berpegang teguh dengan prinsipnya justru dimusuhin.</p>



<p>Sebenarnya integritas yang dimiliki murid Jepang juga <strong>didukung dengan guru dan orang tua yang disiplin</strong>. Kalau ada yang ketahuan menyontek, murid tersebut akan mendapatkan hukuman.</p>



<p>Nah, poin menarik disampaikan oleh Maudy. Ia menyebutkan kalau<strong> ilmu dan nilai itu adalah kepemilikan kita</strong>. Ujian adalah salah satu cara untuk mendapatkan evaluasi yang tepat mengenai pemahaman kita mengenai ilmu tersebut. </p>



<p>Jika kita dapat nilai bagus dengan menyontek, <em>what&#8217;s the point</em>? Di sekolah mungkin kita belum merasakan dampaknya. Akan tetapi, di kehidupan nyata nanti ilmu yang kita miliki barulah terasa manfaatnya.</p>



<p>(Mungkin akan ada yang menyanggah selama punya &#8220;bantuan orang dalam&#8221; atau &#8220;<em>privilege </em>dari orang tua&#8221; tidak akan ada masalah. Akan tetapi, mau sampai kapan kita akan terus mendapatkan bantuan dari orang lain dan tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri?)</p>



<p><strong>Lebih mementingkan nilai dibandingkan esensi ilmunya</strong> memang menjadi masalah utama di negara kita. Banyaknya persyaratan yang membutuhkan nilai ditambah tuntutan untuk mendapatkan nilai bagus dari lingkungan menjadi pemicu utama.</p>



<p>Menurut Maudy, salah satu solusi dari permasalahan ini adalah <strong>mengubah kurikulum</strong>, terutama dalam penilaian. Jangan hanya memberikan ujian dalam bentuk opsional yang mudah dicontek, tapi berikan juga ujian berupa presentasi atau esai yang tidak bisa dicontek.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Setelah menonton video tersebut, Penulis teringat satu hal yang sering dirisaukan tentang sistem pendidikan kita: <strong>Budaya menyontek yang masih dianggap wajar</strong>. </p>



<p>Memang, Penulis tidak bisa dibilang benar-benar bersih dari budaya ini, tapi menyadari kalau ini adalah budaya yang sangat buruk dan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini. Selain itu, sistem yang ada sekarang pun sangat &#8220;mendukung&#8221; budaya tersebut untuk tumbuh subur.</p>



<p>Di tulisan berikutnya, Penulis akan membahas mengenai fenomena sosial ini sekaligus opini pribadinya. <em>Stay tuned</em>!</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Desember 2021, terinspirasi setelah menonton video Nihonggo Mantappu di atas</p>



<p>Foto: <a href="https://www.instagram.com/p/CW43RJupMtf/">Instagram</a></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yang Salah dari Privilege</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 13:27:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[nasib]]></category>
		<category><![CDATA[privilege]]></category>
		<category><![CDATA[Putri Tanjung]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3176</guid>

					<description><![CDATA[<p>Permasalahan mengenai privilege yang sedang ramai beberapa waktu lalu benar-benar mengusik rasa ingin tahu penulis. Saking besarnya rasa penasaran tersebut, penulis sampai ingin menuliskan sekuel dari tulisan Apa yang Salah dari Privilege? Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengulas beberapa hal yang belum sempat diulas pada tulisan sebelumnya. Penulis ingin menekankan apa yang salah dengan privilege yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">Yang Salah dari Privilege</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Permasalahan mengenai <em>privilege</em> yang sedang ramai beberapa waktu lalu benar-benar mengusik rasa ingin tahu penulis. Saking besarnya rasa penasaran tersebut, penulis sampai ingin menuliskan sekuel dari tulisan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/"><em>Apa yang Salah dari Privilege?</em></a></p>
<p>Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengulas beberapa hal yang belum sempat diulas pada tulisan sebelumnya. Penulis ingin menekankan apa yang salah dengan <em>privilege </em>yang dimiliki oleh seseorang dan mengapa <em>privilege </em>bukan satu-satunya faktor penentu.</p>
<h3>Yang Salah dengan <em>Privilege</em></h3>
<p><div id="attachment_3179" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3179" class="size-large wp-image-3179" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3179" class="wp-caption-text">Putri Tanjung dan Ayahnya (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://asianet.id/digaet-jadi-staf-khusus-presiden-yuk-intip-profil-putri-tanjung/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwidgd7TkKbmAhV66nMBHXjND2gQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Asianet.id</span></a>)</p></div></p>
<p>Semua orang memiliki taraf <em>privilege </em>yang berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memandang kehidupan mereka sendiri. Yang sering disorot adalah <em>privilege </em>kekayaan dan jabatan.</p>
<p>Contoh yang cukup menghebohkan adalah ketika <strong>Putri Tanjung</strong> diangkat sebagai Staf Khusus Presiden. Banyak yang menuding bahwa ia bisa meraih jabatan tersebut karena ayahnya merupakan pebisnis terkenal, Chairil Tanjung.</p>
<p>Banyak yang mengkritik perempuan tersebut karena <strong>ia terlihat seolah mengingkari </strong><em><strong>privilege</strong> </em>yang dimiliki. Mengingkari <em>privilege </em>yang dimiliki adalah hal yang salah menurut penulis.</p>
<p>Jika mau terlihat sarkas, sikap tersebut seolah ingin menertawakan usaha orang-orang yang tidak memiliki <em>privilege</em>. Coba bayangkan mereka berkata seperti ini di media sosial:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kalau aku bisa, kamu pasti bisa.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalau kata-kata seperti itu keluar, dijamin <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">SJW di Twitter</a> akan langsung muncul dan memberi hujatan kepadanya. Tak jarang ada yang akan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan sang pemilik <em>privilege</em>.</p>
<p>Menurut teman kantor penulis, orang-orang yang memiliki <em>privilege </em>lebih seharusnya lebih memikirkan kesejahteraan bersama. Contohnya adalah Cinta Laura yang memanfaatkan kekayaan yang dimiliki dengan membangun sekolah,</p>
<p>Penulis sangat sepakat di sini. Sudah sewajarnya orang-orang dengan <em>privilege </em>membantu orang-orang yang tidak seberuntung mereka.</p>
<p>Lanjutnya<em>, </em>peran pemerintah dibutuhkan di sini untuk memangkas jarak antara yang memiliki <em>privilege </em>dengan yang tidak. Masalah sehari-hari seperti akses sekolah saja sudah sangat membantu.</p>
<p>Akan tetapi, mungkin kita melupakan sesuatu di sini.</p>
<h3>Orang dengan <em>Privilege </em>Juga Butuh Kerja Keras</h3>
<p><div id="attachment_3180" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3180" class="size-large wp-image-3180" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3180" class="wp-caption-text">Kenapa Angela Bisa Jadi Wamen? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.finroll.com/mengenal-sosok-angela-tanoesoedibjo-sang-calon-wamen-jokowi-termuda/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi8lsvIkabmAhWQXSsKHZf2CY8QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Finroll.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis sepakat bahwa <em>privilege </em>memberikan keuntungan yang sangat besar. Sebuah jurnal berjudul <strong><em>Effect of Growing up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence from Indonesia </em></strong>menunjukkan hal tersebut.</p>
<p>Singkat kata, penelitian tersebut telah melakukan penelitian  kepada <strong>22 ribu orang</strong> yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia (83% populasi).</p>
<p>Hasilnya, mereka yang berasal dari keluarga miskin <strong>memiliki pendapatan 87% lebih rendah</strong> dibandingkan dengan mereka yang lahir dari keluarga berkecukupan.</p>
<p>Walaupun begitu, penulis percaya<strong> orang-orang dengan <em>privilege </em>juga berusaha keras</strong> demi bisa mencapai sesuatu. Lebih mudah, sudah pasti. Tapi tetap ada usaha yang mereka keluarkan dan ini yang seringkali diabaikan.</p>
<p>Putri Tanjung mungkin bisa bikin usaha yang membuatnya dilirik presiden karena minta modal dan bantuan koneksi ke bapaknya. Tapi kalau ia tidak mampu mengaturnya dengan baik, hasilnya pasti jelek.</p>
<p>Maudy Ayunda sudah menempuh pendidikan di sekolah internasional sejak kecil. Tapi kalau ia tidak rajin belajar, pasti tidak akan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">dilema memilih universitas dunia</a>.</p>
<p>Kalau anaknya Hary Tanoe yang jadi wakil menteri, penulis juga kurang tahu dia ngapain sampai bisa masuk ke dalam kabinet. Kalau ada yang tahu, mungkin bisa kasih tahu penulis.</p>
<p>Kita hanya melihat sisi yang terlihat dari mereka. Padahal, penulis yakin banyak sekali sisi-sisi yang tidak terlihat dan luput dari pengamatan kita.</p>
<p>Anak-anak pengusaha sukses misalnya. Mereka pasti menanggung beban nama besar orangtuanya. Sedikit-sedikit pasti dibandingkan, seolah tidak bisa lepas dan menjadi individu yang mandiri.</p>
<p>Banyak contoh anak-anak orang kaya dan terkenal, gagal memaksimalkan <em>privilege </em>yang dimiliki. Mereka hanya sekadar memanfaatkan <em>privilege </em>yang dimiliki untuk kepentingannya sendiri dan berfoya-foya. Inilah yang salah.</p>
<p>Yang penulis khawatirkan, orang-orang akan menjadi rendah diri dan merasa dirinya tidak akan sukses karena merasa tidak miliki <em>privilege</em>.</p>
<h3>Bisakah Sukses Tanpa <em>Privilege</em>?</h3>
<p><div id="attachment_3182" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3182" class="size-large wp-image-3182" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3182" class="wp-caption-text">Raeni, Sekolah Sampai S3 di Inggris (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/raeni-dari-bangku-becak-ke-kursi-s3-di-inggris" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiFnKOGk6bmAhXBfH0KHUWoCMQQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Beritagar</span></a>)</p></div></p>
<p>Masalahnya, manusia cenderung menyukai <em>bad news </em>dibandingkan dengan <em>good news.</em> Sukses karena <em>privilege </em>termasuk <em>bad news</em>, sedangkan sukses tanpa <em>privilege </em>termasuk <em>good news</em>.</p>
<p>Banyak kisah sukses orang-orang tanpa <em>privilege </em>(walaupun kebanyakan dari kita punya <em>privilege </em>dalam bentuk yang berbeda) yang hanya muncul sebentar, lantas dilupakan oleh orang.</p>
<p>Penulis mencoba mencari berita tentang <strong>Raeni</strong>, anak tukang becak yang berhasil mendapatkan gelar sarjana. Ternyata, ia sedang melanjutkan studi di Inggris. Sedihnya, berita ini kurang terekspos ke publik.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu, ibu penulis mengirimkan sebuah video melalui Instagram. Video tersebut benar-benar menampar penulis.</p>
<p>Bagaimana tidak, ada seorang pemain biola yang tidak memiliki tangan. Walaupun begitu, ia masih bisa mengalunkan musik dengan indahnya.</p>
<p>Lihat, memiliki anggota tubuh yang lengkap pun bisa menjadi sebuah <em>privilege </em>bagi kita. Oleh karena itu, <strong>jangan sampai menggunakan <em>privilege </em>orang lain sebagai kambing hitam atas ketidaksuksesan kita</strong>.</p>
<p>Kalau mau jujur, kita pun sekarang bekerja keras agar keturunan kita bisa mendapatkan <em>privilege </em>yang lebih baik dari kita. Kecuali, kalau kita tidak memiliki keinginan untuk menikah dan memiliki anak.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p><em>Privilege </em>penulis akui memberikan keuntungan yang sangat besar. Ibarat lomba lari, ia sudah berada 1 kilometer di depan orang yang tidak memiliki <em>privilege</em>. Tapi penulis percaya ada variabel-variabel lain yang akan memengaruhi hasil pertandingan.</p>
<p>Bisa saja, yang mendapatkan <em>privilege </em>mendapatkan cedera sehingga bisa disalip. Atau mungkin yang punya <em>privilege </em>terlalu sombong hingga memutuskan untuk tidur dulu, sehingga ia pada akhirnya kalah.</p>
<p>Kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan <em>privilege </em>atau tidak ketika lahir. Akan tetapi, kita bisa memilih untuk menggunakan <em>privilege </em>tersebut secara bijak.</p>
<p>Bagaimana dengan yang tidak memiliki <em>privilege</em>? Karena &#8220;jaraknya&#8221; dengan yang punya <em>privilege </em>cukup jauh, usaha yang dikerahkan pun harus lebih besar.</p>
<p>Berarti tidak adil? Kalau melihat dengan kacamata manusia mungkin iya. Tapi penulis yakin Tuhan punya takaran keadilan-Nya sendiri yang kadang tidak bisa dipahami manusia.</p>
<p>Toh, semua yang terjadi di dunia ini karena kehendak-Nya. Memang terdengar klise, tapi penulis benar-benar meyakini hal tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi dengan segala topik terkait <em>privilege</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjxkNj7jqbmAhUQA3IKHRf0AksQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fmommiesdaily.com%2F2019%2F07%2F22%2Fputri-tanjung-jadi-pengusaha-harus-menghargai-proses-menikmati-masa-masa-jatuh-bangun%2F&amp;psig=AOvVaw3sXTDM5KuOKq9aUmwZuMNT&amp;ust=1575896737667929">Mommies Daily</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/24/160000065/putri-tanjung-dan-sukses-usia-muda-karena-privilege-benarkah-terjadi-?page=all">Kompas</a>, <a href="https://dnk.id/artikel/shellya-anindhita/privilege-punya-atau-enggak-di-mata-netizen-semua-salah">DNK</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">Yang Salah dari Privilege</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2019 17:26:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[dilema]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sederhana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2221</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, heboh berita tentang seorang artis cantik, Maudy Ayunda. Bukan karena ia membuat skandal, melainkan karena ia sedang dilanda dilema. Hal yang membuatnya dilema pun sangat berkelas: Ia bingung karena disuruh memilih kampus mana yang akan menjadi destinasi studinya, antara Harvard University atau Stanford University. Netizen yang kreatif pun beramai-ramai membuat bahan candaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, heboh berita tentang seorang artis cantik, <strong>Maudy Ayunda</strong>. Bukan karena ia membuat skandal, melainkan karena ia sedang dilanda dilema.</p>
<p>Hal yang membuatnya dilema pun sangat berkelas: Ia bingung karena disuruh memilih kampus mana yang akan menjadi destinasi studinya, antara Harvard University atau Stanford University.</p>
<p>Netizen yang kreatif pun beramai-ramai membuat bahan candaan di media sosial. Mereka membandingkan dilema remeh yang mereka hadapi dengan dilema yang dihadapi oleh Maudy.</p>
<h3>Menyederhanakan Pilihan</h3>
<p><div id="attachment_2232" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2232" class="size-large wp-image-2232" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-1024x635.jpg" alt="" width="800" height="496" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-1024x635.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-300x186.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-768x476.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2232" class="wp-caption-text">Dilema Berkelas (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://sidomi.com/606904/maudy-ayunda-bersiap-kuliah-s2-di-amerika-serikat/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwibssnR2InhAhUPb30KHQ4pCfcQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Sidomi</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis sendiri menikmati <em>jokes </em>tersebut, di mana beberapa dilema yang ada di media sosial tersebut ada yang pernah penulis alami sendiri. Akan tetapi, penulis menjadi terpikirkan sesuatu.</p>
<blockquote><p>Apakah dilema yang dialami Maudy Ayunda hanya akan berakhir sebagai bahan candaan semata?</p></blockquote>
<p>Penulis jadi merenung, kenapa tidak menjadikan kisah hebat Maudy untuk dijadikan motivasi hidup?</p>
<p>Bukan tentang bagaimana ia bisa diterima oleh salah satu kampus terbaik dunia, jelas itu terlalu muluk. Yang perlu kita renungkan adalah <strong>menentukan hal apa aja yang patut kita dilemakan</strong>.</p>
<p>Penulis adalah tipe orang yang sulit membuat keputusan. Penulis merasa terlalu mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan sesuatu. Tentu ini membuat penulis sering terlihat ragu.</p>
<p>Bahkan, hal yang remeh temeh membutuhkan waktu untuk bisa menentukan pilihan. Tentu hal ini tidak baik, sehingga harus ada solusi untuk mengatasinya.</p>
<p><div id="attachment_2231" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2231" class="size-large wp-image-2231" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-1024x682.jpeg" alt="" width="800" height="533" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-1024x682.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2231" class="wp-caption-text">Menyederhanakan Hal yang Patut Didilemakan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.ramsayhealth.co.uk/about/latest-news/imagination-food" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjbrufq14nhAhVTWysKHeXZDy4QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Ramsay Health Care</span></a>)</p></div></p>
<p>Dari beberapa buku yang telah penulis baca, salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan mengurangi hal-hal yang membutuhkan pilihan. Misal, pilihan makan dan pakaian yang akan dikenakan.</p>
<p>Kalau perlu, tentukan ingin makan apa dan ingin menggunakan pakaian mana untuk satu minggu ke depan. Dengan mengurangi hal-hal yang membutuhkan pertimbangan panjang, kita bisa melihat mana yang menjadi prioritas terpenting kita.</p>
<p>Mungkin para pembaca sekalian sudah pernah membaca atau mendengar alasan mengapa pakaian yang dikenakan <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Steve Jobs</a> selalu sama. Jawabannya sama, agar ia tak perlu pusing-pusing memilih pakaian mana yang harus ia kenakan.</p>
<p>Singkatnya, kita harus menyederhanakan hidup kita dari pilihan-pilihan yang kurang penting. Fokuskan diri terhadap hal-hal yang memang layak untuk diberi perhatian lebih.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Apalah kita jika dibandingkan Maudy Ayunda. Tentu hampir terdengar mustahil jika ingin menyamai prestasinya, terutama karena kita telah kalah <em>start </em>yang di mana Maudy, penulis yakini, sudah berbuat banyak hal agar bisa di posisinya sekarang.</p>
<p>Yang bisa kita petik dari seorang Maudy Ayunda adalah prioritas masalah yang layak untuk didilemakan. Kalaupun tidak bisa berkuliah di kampus terbaik dunia, minimal buatlah dilema yang kita alami menjadi lebih berkelas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Maret 2019, terinspirasi dari dilema yang dirasakan oleh Maudy Ayunda</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&amp;id=16100006" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiE-7bUuonhAhWaA3IKHQPdDdwQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wanita Indonesia</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
