<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pengetahuan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pengetahuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pengetahuan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:07:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pengetahuan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pengetahuan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Untuk Apa Belajar Sejarah?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2020 11:23:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4057</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari tweet milik Budiman Sujatmiko, Penulis mengetahui rencana pemerintah untuk membuat mata pelajaran Sejarah tidak wajib untuk anak sekolah. Wacana ini muncul sebagai bentuk penyederhanaan kurikulum untuk siswa. Hal ini tentu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi, isu ini muncul menjelang peringatan 30 September sehingga banyak yang mengkaitkannya dengan peristiwa naas tersebut. Nadiem Makarim selaku Mendikbud [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari <em>tweet </em>milik Budiman Sujatmiko, Penulis mengetahui rencana pemerintah untuk membuat <strong>mata pelajaran Sejarah tidak wajib</strong> untuk anak sekolah. Wacana ini muncul sebagai bentuk penyederhanaan kurikulum untuk siswa.</p>
<p>Hal ini tentu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi, isu ini muncul menjelang peringatan 30 September sehingga banyak yang mengkaitkannya dengan peristiwa naas tersebut.</p>
<p>Nadiem Makarim selaku Mendikbud sudah memberikan klarifikasi dengan menyatakan rencana ini sebenarnya merupakan materi yang hanya dibahas di dalam internal dan tanpa sengaja bocor ke publik.</p>
<p>Terlepas dari mana yang benar, Penulis secara pribadi tidak setuju jika mata pelajaran ini dihapuskan. Selain karena menyukainya, ada banyak alasan mengapa kita butuh belajar sejarah.</p>
<h3>Mengetahui Peristiwa-Peristiwa di Masa Lampau</h3>
<p>Apa jadinya jika kita tidak mengetahui kapan Indonesia merdeka? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu siapa <em>founding father </em>kita? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu berapa lama kita dijajah oleh bangsa asing secara kejam?</p>
<div id="attachment_4061" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4061" class="size-large wp-image-4061" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4061" class="wp-caption-text">Pengetahuan Dasar (<a href="https://proklamator.id/dua-bung-dwitunggal-abadi-sukarno-hatta/"><span class="pM4Snf">Proklamator</span></a>)</p></div>
<p>Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi jika kita tidak pernah mempelajari sejarah. Ada banyak peristiwa penting yang akan terlupakan begitu saja.</p>
<p>Dengan mempelajari sejarah, kita bisa <strong>mengetahui peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau</strong>. Ini alasan yang paling dasar, menambah pengetahuan kita.</p>
<p>Percayalah, akan ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari sejarah.</p>
<h3>Sebagai Refleksi</h3>
<p>Dari pengalaman Penulis, pelajaran sejarah memang kerap dianggap sebagai pelajaran yang membosankan karena harus menghafalkan banyak sekali materi. Apalagi yang berkaitan dengan angka seperti tanggal, minta ampun rasanya.</p>
<div id="attachment_4062" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4062" class="size-large wp-image-4062" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4062" class="wp-caption-text">Berkaca Pada Masa Lalu (<a href="https://tirto.id/dosa-dan-jasa-soeharto-untuk-indonesia-chKe">Tirto</a>)</p></div>
<p>Seharusnya, sejarah tidak dijadikan hanya sebagai hafalan semata. Kita harus bisa menjadikan berbagai peristiwa di masa lampau <strong>sebagai refleksi untuk masa sekarang</strong>.</p>
<p>Penulis pernah membaca kalau kejadian hari ini hanyalah sejarah yang berulang. Ada pola-pola yang kerap berulang di dalam kehidupan ini.</p>
<p>Dari <em>Zenius</em>, Penulis mengetahui kalau ada tiga pola yang kerap berulang di dalam sejarah:</p>
<ol>
<li>Penguasa terkuat selalu yang paling toleran</li>
<li>Tidak ada harga yang naik selamanya</li>
<li>Pemerintahan dengan kontrol ekstrim, berujung pada pelanggaran HAM</li>
</ol>
<p>Kalau kita mengalami salah satu dari tiga kondisi yang terpapar di atas, seharusnya kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan dengan mempelajari sejarah.</p>
<h3>Menumbuhkan Empati</h3>
<p>Memang pahit, tapi kebanyakan peristiwa sejarah yang kita pelajari merupakan peristiwa yang kelam, bahkan menakutkan. Perang, pembantaian, krisis, dan lain sebagainya.</p>
<div id="attachment_4063" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4063" class="size-large wp-image-4063" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4063" class="wp-caption-text">Menambah Rasa Syukur (<a href="https://eaworldview.com/2019/03/yemen-forgotten-war-will-britain-ever-care/">EA Worldview</a>)</p></div>
<p>Namun, mempelajari itu semua dapat <strong>menumbuhkan empati </strong>dari dalam diri. Tumbuh rasa syukur karena kita tidak perlu mengalami kejadian seperti yang dialami oleh korban di dalam sejarah.</p>
<p>Ada banyak sekali nilai moral yang bisa kita petik dari peristiwa-peristiwa sejarah dan ini tidak bisa kita dapatkan dengan mudah di era yang egosentris seperti sekarang.</p>
<p>Ketika melihat kenyataan bahwa kebanyakan generasi milenial sekarang cenderung apatis dan acuh terhadap sekitarnya, bisa jadi karena rendahnya minat mereka untuk mempelajari sejarah.</p>
<h3>Memunculkan Inspirasi Sekaligus Motivasi</h3>
<p>Karena Penulis lebih sering membaca daripada menonton, Penulis terbiasa untuk berimajinasi ketika membayangkan peristiwa-peristiwa sejarah yang sedang dibaca. Dari imajinasi tersebut, terkadang <strong>berubah menjadi inspirasi</strong>.</p>
<div id="attachment_4064" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4064" class="size-large wp-image-4064" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4064" class="wp-caption-text">Sejarah yang Menginspirasi (<a href="https://www.newsweek.com/garage-band-68117">Newsweek</a>)</p></div>
<p>Contoh ketika Penulis membaca sejarah berdirinya Apple, Penulis jadi bercita-cita untuk bisa punya perusahaan sendiri karena tahu Steve Jobs memulai perusahaannya dari garasi rumahnya.</p>
<p>Sejarah juga <strong>bisa menjadi motivasi</strong> yang baik. Jika mengalami kegagalan, biasanya Penulis teringat Thomas Alva Edison yang gagal ribuan kali sebelum berhasil menemukan lampu pijar. Gagal masuk perguruan tinggi? Albert Einstein pernah tidak lulus sekolah.</p>
<p>Mereka yang jenius saja bisa mengalami gagal, apalagi kita yang biasa-biasa ini. Kita memang harus terjatuh agar bisa belajar untuk bangkit.</p>
<h3>Meningkatkan Kemampuan Analisa dan Berpikir Kritis</h3>
<p>Menurut Budiman Sujatmiko, mempelajari sejarah juga mampu <strong>meningkatkan kemampuan analisa dan mengasah logika</strong>. Bagaimana caranya? Dengan membayangkan jika sebuah peristiwa terjadi secara berbeda dari kenyataannya.</p>
<div id="attachment_4065" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4065" class="size-large wp-image-4065" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4065" class="wp-caption-text">Mengasah Pikiran (<a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Dunkirk">Wikipedia</a>)</p></div>
<p>Misalkan ketika peristiwa <em>Dunkirk</em> yang terkenal hingga diangkat menjadi sebuah film. Bagaimana seandainya Hitler memutuskan untuk menghabisi Pasukan Inggris dan Prancis yang sudah terjepit?</p>
<p>Apakah Jerman akan menjadi pemenang mutlak dan fasisme akan menguasai tanah Eropa? Apakah Amerika Serikat akan jadi ragu untuk mengirimkan bala bantuan? Apakah umat Yahudi akan benar-benar habis di kamp konsentrasi?</p>
<p>Mempelajari sejarah juga akan mengajak kita untuk <strong>berpikir kritis</strong> sehingga tidak mudah terbawa arus. Belajar sejarah membuat kita terbiasa untuk mengolah informasi.</p>
<p>Orang yang mempelajari sejarah seharusnya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">tidak akan mudah terpengaruh hoaks</a> karena pola pikirnya sudah terlatih untuk melihat peristiwa dari berbagai sudut.</p>
<p>Selain itu, kemampuan-kemampuan ini akan sangat bermanfaat jika kita sudah terjun ke dunia kerja dan berada di tengah-tengah masyarakat.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Itulah beberapa alasan yang Penulis rasakan sendiri selama mempelajari sejarah. Jika sedang berbincang dengan orang lain (terutama anak-anak <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a>), Penulis berusaha menyisipkan ilmu-ilmu sejarah yang Penulis ketahui kepada mereka.</p>
<p>Dari koleksi buku Penulis, ada berbagai macam topik sejarah yang bisa ditemukan seperti sejarah Perang Eropa, era Napoleon, biografi tokoh-tokoh Indonesia, sejarah Islam, dan lain sebagainya. Ada banyak sekali hal yang Penulis pelajari dari sana. Banyak sekali.</p>
<p>Belajar sejarah itu penting. <em>Quote</em> dari George Santayana di bawah ini menjadi penutup yang pas untuk tulisan ini:</p>
<blockquote><p>Those who do not remember the past are condemned to repeat it.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 22 September 2020, terinspirasi setelah membaca <em>tweet </em>dari Budiman Sujatmiko</p>
<p>Foto: <a href="https://id.pinterest.com/pin/316377942555858957/">Pinterest</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://twitter.com/budimandjatmiko/status/1306961192355639297">Twitter</a>, <a href="https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/20/173036965/klarifikasi-mendikbud-nadiem-soal-isu-penghapusan-pelajaran-sejarah?page=all">Kompas</a>, <a href="https://www.zenius.net/blog/14435/untuk-apa-belajar-sejarah">Zenius</a>, <a href="https://www.simulasikredit.com/alasan-mengapa-penting-belajar-sejarah/#:~:text=Terlepas%20suka%20atau%20tidak%2C%20belajar,sebab%20segala%20sesuatu%20memiliki%20sejarah.">SimulasiKredit</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bacaan untuk Anakku Kelak</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/bacaan-untuk-anakku-kelak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2019 14:39:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Big Bad Wolf]]></category>
		<category><![CDATA[ensiklopedia]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2223</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah tahun kemarin absen mengunjungi even Big Bad Wolf, tahun ini penulis berkesempatan untuk datang ke even tersebut yang berlokasi di Indonesia Convention Exhibtion (ICE). Ini adalah kali ketiga penulis datang ke acara yang sering disingkat sebagai BBW tersebut. Bedanya, dulu penulis datang ke BBW yang diadakan di JX International, Surabaya. Untuk yang belum tahu, BBW [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/bacaan-untuk-anakku-kelak/">Bacaan untuk Anakku Kelak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah tahun kemarin absen mengunjungi even <strong>Big Bad Wolf</strong>, tahun ini penulis berkesempatan untuk datang ke even tersebut yang berlokasi di Indonesia Convention Exhibtion (ICE).</p>
<p>Ini adalah kali ketiga penulis datang ke acara yang sering disingkat sebagai BBW tersebut. Bedanya, dulu penulis datang ke BBW yang diadakan di JX International, Surabaya.</p>
<p>Untuk yang belum tahu, BBW adalah semacam pameran buku yang menjual buku-buku impor dengan harga yang sangat miring, dengan diskon sampai 60-80%.</p>
<p>Karena bahasa yang digunakan jelas bahasa Inggris, tentu penulis menghindari buku yang terlalu berat. Takut malah tidak terbaca. Maka dari itu, penulis memutuskan untuk membeli beberapa buku ensiklopedia anak.</p>
<p>Termasuk tahun ini, di mana penulis membeli empat buku ensiklopedia anak, masing-masing membahas tentang binatang, seni, sejarah Bumi, dan <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">luar angkasa</a>.</p>
<p>Ensiklopedia anak tentu disusun dengan bahasa yang mudah dicerna karena pangsa pasarnya adalah anak-anak. Selain itu, ensiklopedia anak juga dilengkapi dengan berbagai gambar menarik.</p>
<p>Mungkin ada yang heran, bagaimana penulis yang secara umur sudah cukup dewasa bisa menikmati bacaan anak. Kenapa tidak? Selalu ada informasi menarik yang menambah pengetahuan penulis.</p>
<p>Sejak kecil, penulis sudah terbiasa membaca buku-buku pengetahuan yang disediakan oleh orang tua penulis. Bermacam-macam jenis buku, mulai tentang alam semesta hingga aneka satwa penulis baca sejak dini.</p>
<p>Mungkin penulis bisa mendapatkan akses tersebut karena orang tua penulis, terutama ayah, adalah orang yang gemar membaca buku juga. Koleksi bukunya waktu itu juga banyak, ada satu lemari penuh.</p>
<p>(<em>Dulu penulis bertanya-tanya, apakah bisa penulis memiliki buku sebanyak itu, dan sekarang nampaknya koleksi buku penulis sudah mengalahkan jumlah buku koleksi ayah</em>)</p>
<p>Bisa jadi karena terinspirasi dari pengalaman pribadi, ketika memegang buku ensiklopedia anak, penulis berimajinasi ke masa depan di mana penulis telah berkeluarga dan memiliki anak.</p>
<p>Penulis membayangkan anak penulis sedang melihat-lihat koleksi buku penulis, lalu ia meminta dibacakan buku-buku yang ia tunjuk. Secara logika, tentu ia akan memilih buku yang banyak gambarnya.</p>
<p>Penulis akan mengambil buku itu, lantas mengajaknya membaca bersama-sama. Penulis akan bercerita dengan diiringi gerakan-gerakan yang dramatis agar anak penulis semakin bersemangat mendengarkan.</p>
<p>Setelah lelah membaca, datanglah istri penulis dengan membawakan sepiring makanan dan segelas minuman, dan kami semua saling tertawa bersama menikmati <em>quality time </em>keluarga.</p>
<p>Penulis sebagai orang yang <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">gemar membaca</a> tentu berharap anaknya kelak juga memiliki kegemaran yang sama. Oleh karena itu, mulai sekarang penulis mulai mengumpulkan bacaan-bacaan berkualitas untuk anak penulis kelak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Maret 2019, terinspirasi setelah khilaf pada even Big Bad Wolf</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/bacaan-untuk-anakku-kelak/">Bacaan untuk Anakku Kelak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jan 2018 16:07:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[angkasa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[hawking]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jenius]]></category>
		<category><![CDATA[laniakea]]></category>
		<category><![CDATA[luar]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[sains. astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=237</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar mempelajari alam semesta.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, saya bertemu dengan Stephen Hawking, seorang jenius yang menjadi profesor di Cambridge, melalui karya-karyanya. Ia terkenal karena menuliskan alam semesta dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang awam. Buku pertama yang saya beli adalah <em>My Brief History</em>, sebuah autobiografi dari seorang Hawking. Meskipun judulnya autobiografi, tetap saja di dalamnya berisi banyak rumus-rumus astronomi yang susah dipahami.</p>
<p>Meskipun di buku pertama mengalami kesulitan dalam memahami isinya, saya tidak kapok untuk kembali membeli buku Hawking yang lainnya. Buku kedua yang saya miliki adalah <em>George&#8217;s Secret Key to the Universe</em>, sebuah novel anak yang beliau tulis bersama anaknya, Lucy. Karena buku anak, tentu sangat mudah untuk memahami isi novel ini.</p>
<p>Karyanya yang paling fenomenal, <em>A Brief History of Time, </em>menjadi buku ketiga yang saya miliki. Buku ini pun juga membuat saya mengerutkan dahi karena bahasanya yang tinggi. Meskipun demikian, tetap saja saya tidak kapok membeli buku Hawking. Maka <em>The Grand Design </em>yang ditulis dengan bahasa filsafat pun telah berada di rak buku sebagai bagian dari koleksi.</p>
<div id="attachment_240" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-240" class="wp-image-240 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg" alt="" width="1024" height="494" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-300x145.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-768x370.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-356x172.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1.jpg 1263w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-240" class="wp-caption-text">Buku-Buku Hawking (via https://pics-about-space.com/stephen-hawking-black-holes-book?p=4)</p></div>
<p>Selain dari buku, saya pun melihat acara televisinya di <em>National Geographic</em> yang berjudul <em>Genius</em>. Penjelasan berbagai fenomena alam dengan menggunakan analogi yang mudah dipahami membuat saya terpukau dengan berbagai keajaiban alam.</p>
<p>Sebagai contoh, dalam membuktikan bahwa Bumi itu bulat, relawan dalam acara tersebut (satu episode diikuti oleh tiga orang relawan) menggunakan sinar laser dari pinggir pantai -sinar laser dipilih karena arah cahayanya yang lurus. Dalam jarak tertentu, mereka membandingkan tinggi sinar laser tersebut, hingga pada jarak terjauh mereka harus menggunakan helikopter. Selain bisa membuktikan bahwa teori bumi datar itu salah, dengan menggunakan hasil percobaan tersebut kita bisa membuat persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung keliling Bumi.</p>
<p>Akan tetapi, episode yang paling berkesan bagi saya adalah ketika episode yang menerangkan ukuran alam semesta. Di akhir acara, ditampilkan sebuah animasi yang berawal dari Bumi, lalu Bumi mengecil hingga tampak <em>solar system </em>kita, lalu mengecil lagi hingga nampak galaksi kita, <em>milky way, </em>mengecil lagi hingga ke <em>supercluster </em>kita, <em>Laniakea</em>. Animasi ini semakin menjauh dan mengecil hingga ke tingkat yang sangat susah dipercaya oleh nalar.</p>
<p>Alam semesta seringkali menjadi bahan perenungan saya. Saat menyadari bagaimana posisi Bumi di alam semesta, saya merasa kecil, merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta, apalagi dengan Tuhan yang dengan segala kuasa-Nya dapat membuat alam semesta ini begitu teratur. Dengan mengetahui keteraturan alam semesta ini, niscaya semakin tebal pula keimanan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, saya akan tetap mendalami alam semesta kita, walaupun buku-buku yang menjelaskan tentangnya susah untuk dicerna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Januari 2018, setelah bermain game Age of Empires III</p>
<p>Sumber Foto:  <a href="http://www.howitworksdaily.com)">www.howitworksdaily.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jan 2018 15:01:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[barat]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=146</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Sejarah adalah milik para pemenang&#8221; Saya lupa kutipan diatas bersumber dari siapa, tapi secara garis besar memiliki makna bahwa pemenang (dalam hal ini, perang) dapat membuat sejarah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Dewasa ini, mayoritas sejarah dibuat oleh peradaban Barat sebagai pemenang dalam menyebarkan hegemoni mereka. Oleh karena itu, jangan heran apabila hampir semua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/">Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Sejarah adalah milik para pemenang</em>&#8221;</p>
<p>Saya lupa kutipan diatas bersumber dari siapa, tapi secara garis besar memiliki makna bahwa pemenang (dalam hal ini, perang) dapat membuat sejarah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Dewasa ini, mayoritas sejarah dibuat oleh peradaban Barat sebagai pemenang dalam menyebarkan hegemoni mereka.</p>
<p>Oleh karena itu, jangan heran apabila hampir semua penemuan yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan barat seperti Galileo Galilei dan Isaac Newton. Padahal, banyak literatur yang menyebutkan bahwa mereka mendapatkan berbagai sumber pengetahuan dari ilmuwan Islam, ketika barat masih berada pada masa kegelapan.</p>
<p>Berawal dari sebuah diskusi, saya menamatkan sebuah buku dalam 2 hari (tepatnya 5 jam) berjudul Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb. Di dalam buku tersebut dijelaskan informasi mengenai betapa Islam menjadi pemimpin dalam segala bidang ilmu pengetahuan sebelum barat keluar dari era kegelapannya. Berbagai buku ditulis dan dijadikan acuan oleh cendekiawan barat, yang sayangnya banyak dihancurkan terutama oleh bangsa Mongol.</p>
<p>Masa keemasan Islam memang telah lewat beberapa abad yang lalu, namun jejaknya masih nampak hingga kini meskipun berusaha disamarkan oleh beberapa pihak. Sebagai umat Islam, mengetahui bahwa Islam pernah berdiri di puncak tertinggi ilmu pemgetahuan harus bisa menjadi motivasi agar tidak pernah lelah dalam mencari ilmu.</p>
<p>Umat Islam, terutama generasi muda, harus mengenal para ilmuwan Muslim selain ilmuwan barat yang ada di buku teks sekolah, sehingga pola pikir mereka tidak menganggap bahwa orang hebat hanya orang Barat. Banyak ilmuwan Islam yang sejatinya tidak kalah dari tokoh-tokoh yang digembar-gemborkan oleh pemenang perang tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 5 Januari 2018, setelah membaca buku Lost Islamic History kayprya Firas Alkhateeb</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.infobiografi.com/biografi-dan-profil-lengkap-al-khawarizmi-tokoh-penemu-aljabar/">http://www.infobiografi.com/biografi-dan-profil-lengkap-al-khawarizmi-tokoh-penemu-aljabar/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/">Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
