<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>prioritas Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/prioritas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/prioritas/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:30:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>prioritas Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/prioritas/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2022 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5899</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika ditanya tentang siapa yang paling diprioritaskan, siapa yang muncul pertama kali muncul di benak Pembaca? Mungkin jawabannya akan bervariasi, mulai orang tua, keluarga, saudara, pacar, sahabat, atasan, bahkan diri sendiri. Setiap orang berhak untuk menentukan siapa yang ingin diprioritaskan dalam hidupnya. Pasti ada yang mendasari mengapa kita memilih orang tersebut untuk diprioritaskan. Mau sesibuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/">Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika ditanya tentang siapa yang paling diprioritaskan, siapa yang muncul pertama kali muncul di benak Pembaca? Mungkin jawabannya akan bervariasi, mulai orang tua, keluarga, saudara, pacar, sahabat, atasan, bahkan diri sendiri.</p>



<p>Setiap orang berhak untuk menentukan siapa yang ingin diprioritaskan dalam hidupnya. Pasti ada yang mendasari mengapa kita memilih orang tersebut untuk diprioritaskan. Mau sesibuk apapun kita, pasti akan menyempatkan waktu untuk mereka.</p>



<p>Masalahnya, bagaimana jika kita <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/">tidak menjadi prioritas</a> bagi orang yang kita prioritaskan? Nah, Penulis menemukan kalau hal ini cukup menyesakkan bagi sebagian orang, termasuk Penulis sendiri. Untuk itu, Penulis ingin sedikit membahasnya di tulisan kali ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Kita Tidak Punya Hak untuk Diprioritaskan Orang Lain</h2>



<p>Terkadang, kita merasa berhak untuk diprioritaskan jika kita memprioritaskan orang tersebut. Jika kita menyempatkan waktu ketika mereka butuh kita, kita merasa kalau mereka juga harus menyempatkan waktu ketika kita butuh.</p>



<p>Penulis sempat (atau sampai sekarang?) memiliki pola pikir seperti ini, sehingga hubungan seolah terasa sebagai sesuatu yang bersifat transaksional. <em>I give you this, so I will ask you for that</em>.</p>



<p>Namun, ketika direnungkan lagi, sejatinya <strong>kita tidak memiliki hak untuk diprioritaskan orang lain</strong>. Kita memiliki hak untuk memilih siapa yang akan kita prioritaskan, begitu juga dengan orang lain.</p>



<p>Patut dicatat, hanya karena kita memprioritaskan mereka, hal tersebut tidak serta merta membuat mereka memiliki semacam kewajiban untuk memprioritaskan kita. Itu bukan berarti mereka tidak tahu balas budi, melainkan benar-benar hanya pilihan mereka.</p>



<p>Berharap atau bahkan menuntut <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">prioritas dari orang lain</a> hanya akan menimbulkan sakit hati, yang sejujurnya pernah (atau sering?) Penulis rasakan. Untuk itu, Penulis merasa harus melawannya dengan satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalau Sudah Tidak Jadi Prioritas, ya Harus Ikhlas</h2>



<p>Penulis yang sudah berusia 28 tahun mulai merasakan bagaimana orang-orang yang dulu dekat dengan dirinya mulai memiliki kesibukan dan dunianya masing-masing. Orang yang dulu <em>chat </em>setiap hari, sekarang muncul kalau butuh saja.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, sempat ada perasaan sakit hati karena Penulis merasa selalu memprioritaskan mereka. Ketika merasa dirinya sudah tidak jadi prioritas mereka, perasaan kecewa pun menyeruak dari dalam tubuh.</p>



<p>Biasanya, ketika mengalami gejolak perasaan seperti ini, Penulis akan memutuskan untuk berhenti sejenak dan merenung. Hasilnya, Penulis pun menyadari kalau <strong>siapa prioritas orang lain bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan</strong>.</p>



<p>Ini membantu Penulis untuk bisa merasa ikhlas jika merasa dirinya sudah tidak jadi prioritas bagi orang lain, termasuk orang-orang yang Penulis anggap dekat dan berharga dalam hidupnya. Tidak apa-apa, Penulis berusaha menghargai pilihan tersebut.</p>



<p>Lantas, apakah kita juga perlu berhenti memprioritaskan orang tersebut? Itu Penulis kembalikan ke masing-masing individu. Kalau mau tetap memprioritaskan, boleh saja asal tidak berharap apa-apa. Kalau mau berhenti juga tidak masalah sama sekali.</p>



<p>Bagaimana kalau sejak awal sebenarnya kita tidak pernah diprioritaskan, dan perasaan merasa diprioritaskan itu hanya dari diri sendiri? Bagaimana jika mereka hanya seolah-olah memprioritaskan kita dan sebenarnya karena mereka lagi butuh saja?</p>



<p>Itulah pentingnya tahu diri dan tidak berekspektasi apa-apa ke orang lain. Penulis sekarang pun menyadari, berharap diprioritaskan orang lain hanya membuat capek saja. Cukup lakukan yang terbaik dalam hidup, tanpa perlu berharap ke manusia.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Ingin diprioritaskan oleh orang lain, terutama orang yang kita anggap spesial, adalah hal yang sangat manusiawi dan lumrah. Siapa yang tidak suka jika menjadi prioritas dan selalu ada setiap kita membutuhkan mereka?</p>



<p>Namun, perlu diingat kalau daftar <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/alasan-dan-prioritas/">prioritas</a> orang lain tidak bisa kita kendalikan. Mengharapkan hal tersebut pada akhirnya hanya akan menimbulkan perasaan sakit hati dan kecewa yang akan memicu perasaan-perasaan negatif lainnya.</p>



<p>Untuk itu, kita harus bisa belajar ikhlas jika memang sudah tidak menjadi prioritas orang lain. Memang terkesan menyedihkan, tetapi harus kita biasakan dalam hidup. Yang penting, tetap berusaha menjadi orang baik, meskipun ke orang yang sudah tidak memprioritaskan kita.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 24 Agustus 2022, terinspirasi setelah seorang teman mengirim sebuah <em>quote </em>di grup yang menjadi topik utama dari tulisan ini</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/es/@noahsilliman?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Noah Silliman</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/alone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/">Kalau Sudah Bukan Prioritas, ya Harus Ikhlas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kalau-sudah-bukan-prioritas-ya-harus-ikhlas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Prioritas Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2021 14:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5511</guid>

					<description><![CDATA[<p>pri.o.ri.tas n&#160;yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain: Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang apa yang kita prioritaskan. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki. Misal, kita memilih untuk seharian rebahan dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan rasa malas kita dibandingkan melakukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">Menghargai Prioritas Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading">pri.o.ri.tas</h2>



<ul class="wp-block-list"><li><em>n&nbsp;</em>yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain:</li></ul>



<p>Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang <strong>apa yang kita prioritaskan</strong>. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki.</p>



<p>Misal, kita memilih untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">seharian rebahan</a> dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">rasa malas</a> kita dibandingkan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita.</p>



<p>Kita memilih untuk menonton film dengan pacar dibandingkan dengan sahabat, artinya kita lebih memprioritaskan pacar daripada sahabat. Mau menggunakan alasan apapun, intinya kita lebih mengutamakan salah satu pihak.</p>



<p>Ketika diberikan pilihan antara menyelesaikan pekerjaan dan bermain gim, kita memilih untuk bermain gim. Kita memprioritaskan aktivitas tersebut (mungkin) dikarenakan kita merasa butuh <em>refreshing</em> dari penatnya pekerjaan.</p>





<p>Semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing, karena hanya kita sendirilah yang tahu mana yang lebih berhak untuk diprioritaskan. Seharusnya, orang lain tidak boleh ikut campur masalah ini.</p>



<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika kita harus menghargai prioritas orang lain. Hanya saja, dalam praktiknya terkadang susah untuk dilakukan karena satu hal: <strong>Kita ingin diprioritaskan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Kita Ingin Diprioritaskan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5514" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Merasa Tidak Diprioritaskan (<a href="https://www.pexels.com/@budgeron-bach">Budgeron Bach</a>)</figcaption></figure>



<p>Masalah seputar prioritas biasanya terjadi dalam sebuah hubungan. Entah apa alasannya, rasanya seolah kita harus menjadi prioritasnya. Contoh gampangnya adalah dalam sebuah hubungan pacaran, izin bermain dengan teman terasa agak susah.</p>



<p>Alasan yang paling umum adalah karena pihak yang melarang ingin menghabiskan waktunya dengan sang kekasih. Dirinya ingin kekasihnya lebih memprioritaskan dirinya dibandingkan teman-temannya, yang mungkin hanya punya kesempatan bertemu satu bulan sekali.</p>



<p>Sekilas, ini menjadi salah satu tanda sebuah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a>. Harusnya,<strong> kita tidak boleh memaksakan diri untuk masuk ke dalam prioritas orang</strong>, walau kepada orang terdekat sekalipun.</p>



<p>Untuk menghindari hal ini, kita harus belajar untuk <strong>menghargai prioritas orang lain</strong>. Kita harus tahu, orang lain juga memiliki dunianya sendiri, memiliki lingkar pertemanannya sendiri, memiliki kesibukannya sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p><em>We&#8217;re not the center of the universe</em>. Jangan merasa kalau perhatian dari orang sekitar hanya boleh ditujukan kepada kita. Jangan merasa kalau hanya kita yang layak untuk diprioritaskan. Ini hanya akan menjadi sebuah racun dalam hubungan, apapun bentuknya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kewajiban yang (Memang) Harus Diprioritaskan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5515" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Wajib Diprioritaskan (<a href="https://unsplash.com/@under_afiq">afiq fatah</a>)</figcaption></figure>



<p>Memang ada kasus-kasus di mana <strong>kita harus memprioritaskan sesuatu karena menjadi sebuah kewajiban</strong>. Misal, sebagai seorang umat muslim, kita harus memprioritaskan sholat dibandingkan aktivitas duniawi.</p>



<p>Contoh lain, sebagai seorang anak, sudah selayaknya kita memprioritaskan orang tua kita di atas segalanya (selain Tuhan, tentunya). Seorang suami memprioritaskan kebutuhan keluarganya dibandingkan membeli mainan favoritnya.</p>



<p>Sebagai seorang karyawan, sudah sewajarnya kita memprioritaskan selesainya pekerjaan dibandingkan menamatkan sebuah <em>game</em>. Seorang pemuda memprioritaskan menyimpan uangnya dibandingkan secangkir Starbucks.</p>



<p>Dalam kasus-kasus seperti ini, kita yang harus memiliki kesadaran untuk menempatkan kewajiban-kewajiban kita sebagai prioritas. Setelah menyadari hal ini, kita pun bisa menyusun daftar prioritas kita dengan baik dan benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Masalah prioritas ini memang sedang sering Penulis renungkan akhir-akhir ini. Ada banyak penyebabnya, salah satunya adalah melihat ke dalam diri sendiri apakah daftar prioritas yang dibuat sudah benar atau belum.</p>



<p>Ketika merasa tidak diprioritaskan oleh orang yang Penulis prioritaskan, Penulis segera menegur diri kalau memang tidak ada kewajiban baginya untuk memprioritaskan Penulis.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><strong>Hanya karena kita memprioritaskan orang lain, bukan berarti ia juga wajib memprioritaskan kita</strong>.</p></blockquote>



<p>Sekali lagi, semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing. Yang bisa kita lakukan dan kita kendalikan adalah menghargai prioritas orang lain tersebut. Berharap agar kita diprioritaskan hanya akan menimbulkan rasa kecewa.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 22 Desember 2021, terinspirasi setelah merenungkan masalah prioritas</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@polina-zimmerman">Polina Zimmerman</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">Menghargai Prioritas Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berburu Pembuat &#8220;Mural&#8221; yang Seharusnya Dilakukan</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2021 14:48:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[Greenpeace]]></category>
		<category><![CDATA[hutan]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan hutan]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5243</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, sempat heboh sebuah berita yang mengabarkan bahwa pihak kepolisian sendang memburu pembuat mural yang menggambarkan sosok Jokowi dengan disertai tulisan 404: Not Found. Sontak hal ini menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat. Kebanyakan menganggap bahwa hal tersebut menunjukkan kalau pemerintah anti kritik dan &#8220;takut&#8221; dengan mural. Sebelumnya, ada juga mural bertulisan &#8220;Tuhan aku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/">Berburu Pembuat &#8220;Mural&#8221; yang Seharusnya Dilakukan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa waktu lalu, sempat heboh sebuah berita yang mengabarkan bahwa pihak kepolisian sendang memburu pembuat mural yang menggambarkan sosok Jokowi dengan disertai tulisan 404: Not Found.</p>



<p>Sontak hal ini menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat. Kebanyakan menganggap bahwa hal tersebut menunjukkan kalau pemerintah anti kritik dan &#8220;takut&#8221; dengan mural.</p>



<p>Sebelumnya, ada juga mural bertulisan &#8220;Tuhan aku lapar&#8221; dan &#8220;Wabah sesungguhnya adalah lapar&#8221; yang akhirnya dihapuskan oleh pihak kepolisian, meskipun alasannya adalah permintaan dari warga.</p>



<p>Begitu cepatnya reaksi kepolisian terhadap mural jalanan yang mengekspresikan pendapat menjadi berbanding terbalik dengan lambatnya reaksi pihak yang berwajib terhadap &#8220;mural&#8221; yang sebenarnya lebih berbahaya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Mural di Alam Indonesia</h2>



<p>Jika biasanya mural menggunakan tembok sebagai media, maka &#8220;mural&#8221; yang satu ini menggunakan bentang alam Indonesia. Jika mural biasanya hanya berukuran meter, &#8220;mural&#8221; yang satu ini butuh berhektar-hektar tanah.</p>



<p>&#8220;Mural&#8221; yang dimaksud adalah hutan-hutan gundul yang dilakukan secara ilegal oleh perusahaan. <em>Illegal logging </em>yang dilakukan meninggalkan semacam &#8220;karya seni&#8221; di mana bekas hutan membentuk semacam pola yang, ironinya, indah.</p>



<p>Penulis mendapatkan ide artikel ini dari sebuah pos milik Greenpeace Indonesia. Pembaca bisa melihatnya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-instagram wp-block-embed-instagram"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CSybOpfhEU8/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="13" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CSybOpfhEU8/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/CSybOpfhEU8/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank">A post shared by Greenpeace Indonesia (@greenpeaceid)</a></p></div></blockquote><script async src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
</div></figure>



<p>Daripada berburu orang yang menyuarakan kritik, mengapa tidak berburu para perusak hutan Indonesia? Dampak negatif yang dihasilkan jauh lebih besar dari sekadar mural di tembok yang mungkin bagi sebagian orang justru memperindah lingkungan.</p>



<p>Para pelakunya seolah tak tersentuh hukum dan bebas beroperasi selama bertahun-tahun. Apakah karena mereka membayarkan semacam &#8220;upeti&#8221; kepada yang berwajib? Rasanya ini sudah menjadi semacam rahasia umum.</p>



<p>Faktanya, data menunjukkan bahwa kerusakan hutan di Indonesia berada di taraf yang cukup mengkhawatirkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Data Kerusakan Hutan di Indonesia</h2>



<p>Dilansir dari data yang dilaporkan oleh <em>WRI Indonesia</em> pada tahun 2020, kerusakan hutan di Indonesia menempati posisi keempat di dunia setelah Brazil, Kongo, dan Bolivia. </p>



<p>Kita berhasil mencatatkan &#8220;prestasi dengan turun satu peringkat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, data menunjukkan bahwa sejak tahun 2017, kerusakan hutan di Indonesia mengalami penurunan yang cukup drastis.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://content.globalforestwatch.org/wp-content/uploads/2021/03/Indonesian_GFW-Tree-Loss-v1_Indonesia-Primary-Forest-Loss.png" alt="Indonesia tropical primary forest loss 2020"/><figcaption>Data Diambil dari WRI Indonesia</figcaption></figure>



<p>Salah satu penyebab penurunan ini adalah kebakaran hutan dan gambut skala besar yang terjadi pada tahun 2015 silam. Semenjak bencana tersebut, ada pemantauan dan pencegahan kebakaran hutan secara ketat dari Pemerintah Indonesia.</p>



<p>Untuk sementara waktu, penerbitan izin baru untuk perkebunan kelapa sawit dihentikan oleh pemerintah. Moratoium izin perkebunan kelapa sawit juga diberlakukan, meskipun akan berakhir pada tahun 2021 ini. Apakah akan diperpanjang atau tidak, belum ada informasinya.</p>



<p>Berdasarkan data WRI di atas, kerusakan hutan di Indonesia selama 4 tahun terakhir berkisar di angka 200 hingga 400 ribu hektar per tahunnya. Sebagai perbandingan, ada beberapa data kerusakan hutan Indonesia alternatif:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>World Bank</strong>: Kerusakah hutan antara 700 ribu hingga 1.2 juta hektar per tahun</li><li><strong>Food and Agriculture Organization (FAO)</strong>: Kerusakan hutan mencapai 1.315.000 hektar yang setara berkurangnya 1% area hutan setiap tahunnya.</li><li><strong>Greenpeace</strong>: 3.8 juta hektar per tahun, di mana mayoritas disebabkan oleh penebangan liar</li></ul>



<p>Mana data yang benar? Entahlah, tidak ada yang tahun secara pasti. Yang jelas., kerusakan hutan di Indonesia benar-benar terjadi dan pelakunya masih melenggang dengan bebas, mungkin dengan tumpukan uang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Salah Prioritas Ala Pemerintah</h2>



<p>Berhubung yang membuat pos adalah Greenpeace, wajar jika yang disorot adalah masalah kerusakan hutan. Viralnya pemburuan pembuat mural mereka jadikan kesempatan untuk menyadarkan masyarakat mengenai tingginya kerusakan hutan di Indonesia.</p>



<p>Di mata Penulis, contoh dari Greenpeace tersebut menjadi salah satu indikator kalau pemerintah kita <strong>kerap salah menentukan prioritas mereka</strong>. Yang sepele diseriusin, yang serius disepelekan.</p>



<p>Pembuat mural bernada kritik yang sepele diburu, tapi pembuat &#8220;mural&#8221; berhektar-hektar dilepas begitu saja. Yang mencuri karena lapar dihukum panjang, yang korupsi demi nafsu duniawi diberi potongan masa tahanan.</p>



<p>Di saat butuh kekuatan untuk memberantas korupsi, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kpk-dan-upaya-untuk-menggembosinya/">KPK malah terkesan dilemahkan</a>. Di saat butuh kesigapan pemerintah dalam menanggulangi pandemi Covid-19, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">pemerintah malah terkesan sibuk dengan istilah yang kerap berubah-ubah</a>.</p>



<p>Semoga saja, ke depannya pemerintah bisa lebih bijak dalam menentukan prioritas mereka. Kami ingin ada perubahan dalam tubuh pemerintah di mana yang jelas-jelas bersalah mendapatkan hukuman yang setimpal.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 23 Agustus 2021, terinspirasi dari pos Instagram Greenpeace Indonesia</p>



<p>Foto: <a href="https://www.greenpeace.org.au/what-we-do/protecting-forests/threats/">Greenpeace Australia Pacific</a></p>



<p>Sumber Artikel: </p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.google.com/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=web&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjk8Yn2rMfyAhUzqksFHeekCFQQFnoECBoQAw&amp;url=https%3A%2F%2Fdlhk.bantenprov.go.id%2Fupload%2Farticle%2FKerusakan_Hutan_dan_dampaknya_bagi_%2520kehidupan.pdf&amp;usg=AOvVaw2ipO27MrAdiIvY_hMm4E6p">DLHK Pemprov Banten</a></li><li><a href="https://wri-indonesia.org/id/blog/kerusakan-hutan-hujan-primer-meningkat-sebesar-12-dari-tahun-2019-hingga-tahun-2020">Kerusakan Hutan Hujan Primer Meningkat Sebesar 12% dari Tahun 2019 hingga Tahun 2020 | WRI Indonesia (wri-indonesia.org)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/">Berburu Pembuat &#8220;Mural&#8221; yang Seharusnya Dilakukan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/berburu-pembuat-mural-yang-seharusnya-dilakukan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sibuk atau Tidak Diprioritaskan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 23:23:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[sibuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3837</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Sorry ya, lagi sibuk jadi gak bisa bales chat!&#8221; Sering mendapatkan pesan semacam ini? Atau malah sering mengirimnya ke orang lain di kala sibuk? Penulis sendiri merasa dirinya pernah mengalami keduanya. Karena kesibukan yang kita jalani, banyak hal yang jadi tidak kita sempatkan. Memberi kabar ke orangtua atau hangout bersama teman adalah beberapa contoh mudahnya. Pertanyaannya, apakah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/">Sibuk atau Tidak Diprioritaskan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Sorry ya, lagi sibuk jadi gak bisa bales chat!&#8221;</em></p>
<p>Sering mendapatkan pesan semacam ini? Atau malah sering mengirimnya ke orang lain di kala sibuk? Penulis sendiri merasa dirinya pernah mengalami keduanya.</p>
<p>Karena kesibukan yang kita jalani, banyak hal yang jadi tidak kita sempatkan. Memberi kabar ke orangtua atau <em>hangout </em>bersama teman adalah beberapa contoh mudahnya.</p>
<p>Pertanyaannya, <em>apakah sibuk atau tidak sempat itu benar-benar ada?</em></p>
<h3>Hidup Ini Pilihan</h3>
<p>Kalau tidak salah, antara dari iklan operator atau rokok, Penulis mendengar istilah <strong>hidup ini pilihan </strong>untuk pertama kalinya. Setiap orang memiliki pilihan yang beragam, tergantung latar belakangnya masing-masing.</p>
<p>Nah, pilihan-pilihan ini memiliki keterkaitan yang erat dengan yang namanya prioritas. Manusia cenderung memilih mana yang lebih ia prioritaskan.</p>
<p>Contoh, ketika seorang perempuan menolak laki-laki dengan alasan &#8220;ingin fokus UN&#8221;, artinya ia memilih untuk memprioritaskan ujiannya dibandingkan merasakan pacaran (atau karena memang tidak ada rasa dengan yang menembak).</p>
<p>Contoh lain ketika ada acara buka puasa bersama, kita izin tidak ikut karena sakit. Artinya, kita lebih memprioritaskan kesehatan kita dibandingkan menikmati momen bersama yang sudah lama dinantikan. Dan ini belum tentu salah.</p>
<p><em>Tapi kan seringkali kita benar-benar tidak sempat untuk melakukan sesuatu, bukan karena tidak memprioritaskan!</em></p>
<p>Iya, memang benar. Terkadang pilihan yang tersedia membuat kita dilema dan berat untuk memilih. Akhirnya, harus ada yang dikorbankan demi itu.</p>
<p>Hanya saja, opini pribadi Penulis, <strong>mayoritas apa kita lakukan adalah berdasarkan prioritas yang dipilih</strong>, mau setipis apapun selisih skala prioritasnya.</p>
<p>Tentu saja tidak semuanya <em>saklek </em>seperti itu. Penulis yakin ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat pendapat Penulis tidak berlaku lagi.</p>
<p>Orangtua yang bekerja seringkali lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Akan tetapi, bukan berarti sang orangtua tidak memprioritaskan anaknya. Justru, banting tulang yang dilakukan tersebut demi keluarga tercinta.</p>
<p>Yang jelas, jangan sampai kita salah menentukan prioritas di dalam hidup.</p>
<h3>Salah Menentukan Prioritas</h3>
<p>Di dalam menentukan pilihan, terkadang  kita bisa salah memilih. Memilih HP A dibandingkan HP B, eh ternyata HP B jauh lebih bagus dan tidak mudah rusak. Muncullah rasa penyesalan.</p>
<p>Artinya, ada pula kemungkinan kalau kita <strong>bisa salah menentukan prioritas dalam hidup</strong>. Misal, kita lebih memilih untuk terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain game dibandingkan belajar.</p>
<p>Kecuali kita atlet eSport atau seorang <em>streamer </em>yang bisa menghasilkan uang dari bermain game, jelas pemilihan prioritas tersebut salah karena tidak menghasilkan apapun.</p>
<p>Contoh lain, kita lebih memprioritaskan pacar kita yang baru kenal beberapa bulan dibandingkan orangtua yang sudah mengasuh kita sejak kecil.</p>
<p>Salah menentukan prioritas bisa dialami siapa saja. Penulis sangat sering melakukannya, bahkan hingga kini. Yang penting, kita bisa belajar dari kesalahan tersebut sehingga bisa menentukan prioritas lebih baik lagi.</p>
<p>Kita sendiri yang paling tahu mana prioritas yang harus diutamakan. Setiap orang bisa memiliki standar yang berbeda-beda. Apa yang Penulis anggap salah di atas belum tentu salah juga di mata orang lain.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ketika kita bilang sibuk, coba dipikir kembali, <em>apakah kita memang benar-benar sibuk atau karena tidak menjadikannya prioritas?</em></p>
<p>Hidup ini pilihan, termasuk memilih mana yang menjadi prioritas kita. Terkadang ada yang sulit untuk dipilih, terkadang ada yang begitu mudah.</p>
<p>Semoga saja kita semua bisa menentukan prioritas mana yang paling penting di dalam hidup kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 Mei 2020, terinspirasi dari diri sendiri yang terkadang salah membuat prioritas</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jontyson?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Jon Tyson</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/choose?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/sibuk-atau-tidak-diprioritaskan/">Sibuk atau Tidak Diprioritaskan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alasan dan Prioritas</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2018 08:00:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[tanggungjawab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1430</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agak berat sebenarnya membuat tulisan ini, penulis seperti mengakui dosa di masa lampau. Akan tetapi, untuk kebaikan kita semua, terlebih diri penulis sendiri, penulis harus menuliskannya agar tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang. Penulis dan Organisasi Penulis aktif di banyak organisasi sejak duduk di bangku SMP, mulai OSIS hingga pers kampus. Di semua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/">Alasan dan Prioritas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Agak berat sebenarnya membuat tulisan ini, penulis seperti mengakui dosa di masa lampau. Akan tetapi, untuk kebaikan kita semua, terlebih diri penulis sendiri, penulis harus menuliskannya agar tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang.</p>
<p><strong>Penulis dan Organisasi</strong></p>
<p>Penulis aktif di banyak organisasi sejak duduk di bangku SMP, mulai OSIS hingga pers kampus. Di semua organisasi tersebut, penulis tidak bisa menonjol di semua organisasi yang penulis ikuti. Hanya menjadi anggota rata-rata yang ketidakhadirannya tidak terlalu berpengaruh. Pernah sih di organisasi kampus menjadi wakil ketua, namun karena ada masalah membuat penulis harus mundur dari organisasi tersebut.</p>
<p>Apa penyebabnya? Dulu, penulis sering menyalahkan faktor eksternal. Contohnya, merasa lingkungan organisasi yang kurang membuat nyaman dan terlalu memprioritaskan studi. Apalagi yang penulis salahkan? Merasa dirinya introvert sehingga susah untuk berbaur dengan lingkungan.</p>
<p>Namun setelah penulis renungi, sebenarnya hanya satu permasalahannya. Penulis kurang aktif dalam berorganisasi. Penulis tidak menempatkan tanggungjawab organisasi sebagai prioritas.</p>
<p><div id="attachment_1432" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1432" class="size-large wp-image-1432" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1432" class="wp-caption-text">Prioritas (fearlessmotivation.com)</p></div></p>
<blockquote><p>Ada istilah yang menyebutkan bahwa tidak ada yang namanya <strong>tidak sempat</strong>. Yang ada <strong>tidak diprioritaskan</strong>.</p></blockquote>
<p>Agar bisa menghindari tugas organisasi, munculah beribu alasan. Alasan  selalu mudah dicari, tidak perlu berbohong. Misal, ada kegiatan OSIS, kita berasalan bahwa kita tidak ingin ketinggalan pelajaran di kelas.</p>
<p>Paragraf ketiga merupakan contoh-contoh alasan lain yang kita kemukakan untuk mengelak dari tanggungjawab. Kita melakukan itu semua, salah satu dasarnya adalah tidak menempatkan apa yang seharusnya menjadi tanggungjawab pada daftar prioritas diri kita.</p>
<p><strong>Menebus Dosa Melalui Karang Taruna</strong></p>
<p>Setelah menyadari kesalahan tersebut, penulis berusaha menebus kesalahannya ketika menjabat sebagai ketua Karang Taruna. Penulis mencurahkan perhatian sepenuh hati dan berkomitmen mengembangkan organisasi ini.</p>
<p>Atau malah sebaliknya, gara-gara penulis menjabat sebagai ketua Karang Taruna, penulis menyadari betapa bernilainya sebuah komitmen. Sesuatu yang tidak penulis lihat karena dari dulu penulis hanya menjadi anggota dalam sebuah organisasi, tidak pernah menjadi pemimpin.</p>
<p>Namanya organisasi, apalagi diisi oleh remaja yang emosinya belum stabil, tentu sering terjadi kasus anggota tidak hadir tanpa alasan yang jelas. Atau yang lebih parah, tidak hadir dengan alasan yang dibuat-buat.</p>
<p>Ketika menghadapi hal tersebut, penulis merasa ditampar oleh masa lalu. Penulis disadarkan, bahwa inilah yang dirasakan oleh teman-teman organisasi ketika penulis berbuat hal yang sama. Betapa menyakitkan ketika orang-orang yang kita harapkan tidak bisa membantu karena kurangnya komitmen mereka.</p>
<p><div id="attachment_1433" style="width: 560px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1433" class="size-full wp-image-1433" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n.png" alt="" width="550" height="295" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n.png 550w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n-300x161.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n-356x191.png 356w" sizes="(max-width: 550px) 100vw, 550px" /><p id="caption-attachment-1433" class="wp-caption-text">Karma (https://www.facebook.com/karmacambodia/</p></div></p>
<p>Penulis percaya hukum karma, apa yang kita beri apa yang kita terima, apa yang kita tanam itu yang kita petik. Penulis merasa <em>dihukum</em> atas kesalahan-kesalahan masa lalu dengan terulangnya apa yang penulis lakukan dulu pada organisasi yang pernah penulis ikuti.</p>
<p>Jika ada teman-teman organisasi yang membaca tulisan ini, penulis minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang pernah penulis buat. Penulis telah menyadari kesalahannya, dan semoga tidak akan terjadi lagi di masa depan.</p>
<p>Dan untuk pembaca, semoga bisa memetik hikmah dari sepercik kisah penulis ini, terutama generasi-generasi yang lebih muda dari penulis. Jangan sampai kesalahan penulis terulang pada kalian.</p>
<p>Ketika kalian masuk ke dalam organisasi tanpa paksaan, itu menandakan kalian harus mengikat komitmen dengannya dan masukkan kepentingan organisasi pada daftar prioritas kalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 4 Oktober 2018, terinspirasi setelah menerungi kesalahan di masa lalu</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/9VPtNW84vGI?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Patryk Sobczak</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/contemplation?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/">Alasan dan Prioritas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Motivasi Anti-Mainstream Pada Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2018 08:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[mainstream]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Manson]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[review. motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1393</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu melihat judul buku ini dan membaca beberapa judul bab di daftar isinya, penulis merasa ragu untuk membelinya. Alasannya, isi buku ini nampaknya bertentangan dengan buku-buku self-improvement yang sudah penulis baca. Dan ternyata, memang benar. Ya, memang bukan bertentangan sepenuhnya sih, hanya beberapa poin saja. Yang jelas, buku ini akan memotivasi kita dengan cara yang sedikit berbeda jika dibandingkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">Motivasi Anti-Mainstream Pada Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sewaktu melihat judul buku ini dan membaca beberapa judul bab di daftar isinya, penulis merasa ragu untuk membelinya. Alasannya, isi buku ini nampaknya bertentangan dengan buku-buku <em>self-improvement</em> yang sudah penulis baca. Dan ternyata, memang benar.</p>
<p>Ya, memang bukan bertentangan sepenuhnya sih, hanya beberapa poin saja. Yang jelas, buku ini akan memotivasi kita dengan cara yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan kata-kata motivator pada umumnya. Kalo kata teman penulis, mengajak kita berpikir positif dengan cara yang berbeda.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Buku ini terdiri dari 9 bab yang berbeda. Perlu diketahui, buku ini merupakan kumpulan tulisan Mark Manson di blognya, sehingga bahasa penulisannya seperti penulisan blog pada umumnya yang terkesan santai. Dan tentu, banyak kalimat-kalimat yang kurang senonoh sebagai bahan candaan atau sarkastik.</p>
<p>Jika dilihat dari judulnya, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (atau <em>The Subtle Art of Not Giving F*ck </em>pada versi aslinya), buku ini pada intinya akan mengajak kita untuk memilih mana yang patut diprioritaskan, mana hal-hal tidak penting yang harus disingkirkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">I don&#8217;t like my mind right now<br />
Stacking up problems that are so unnecessary</p>
<p style="text-align: center;">Linkin Park- Heavy</p>
</blockquote>
<p>Pada salah satu bagian awal di buku ini tertulis hukum keterbalikan, yang kurang lebih menyatakan bahwa:</p>
<blockquote><p>Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif.</p></blockquote>
<p>Bagaimana maksudnya? Yang penulis tangkap, terkadang hal-hal positif harus diraih dengan pengorbanan mengalami pengalaman negatif. Jika ingin meraih badan yang bagus, maka kita harus berkorban dengan makan-makanan sehat dan rutin berolahraga. Kegiatan-kegiatan tersebut jelas membutuhkan <em>effort </em>lebih, inilah yang dimaksud pengalaman negatif di sini.</p>
<p>Bagian yang cukup membuat penulis berpikir keras terdapat pada bab 3 yang berjudul Anda Tidak Istimewa. Bukankah motivator selalu meyakinkan kita bahwa kita harus menjadi orang yang luar biasa dan jangan pernah menjadi orang rata-rata.</p>
<p>Masalahnya, jika semua orang luar biasa, maka <em>tidak </em>ada orang yang luar biasa bukan? Jika semua orang menjadi <em>luar biasa</em>, maka tidak ada lagi orang yang <em>luar biasa </em>karena telah menjadi <em>biasa. </em>Kalimat ini benar-benar membuat penulis butuh beberapa menit untuk menenangkan diri karena penulis selalu tidak ingin menjadi orang rata-rata.</p>
<p>Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk menyederhanakan pola pikir kita. Nikmati hal-hal sederhana seperti kebersamaan keluarga, waktu yang dihabiskan dengan teman-teman, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sayangnya, bab-bab menimbulkan pergolakan batin hanya ada di bagian awal buku ini. Bab-bab selanjutnya kurang lebih sama dengan buku-buku motivasi lainnya, tentu dengan gaya penulisan Manson sebagai seorang blogger.</p>
<p>Mungkin karena lima bab terakhir mengajak kita untuk mengubah penderitaan, kegagalan menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk hidup kita. Terutama pada bab terakhir, buku ini mengajak untuk merenungi kematian dan mengonversinya menjadi sesuatu yang positif.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk penggemar buku <em>self-improvement </em>yang sudah dewasa. Buku ini memotivasi dengan cara yang berbeda dari motivator <em>mainstream</em>. Ketebalan buku ini juga tipis, tidak setebal buku-buku Anthony Robbins maupun Stephen R. Corey, membuatnya nyaman untuk dijadikan teman perjalanan.</p>
<p>Buku ini penting untuk menyeimbangkan pola pikir kita. Menjadi terlalu positif, seperti yang tertulis di buku ini, tidak baik untuk kita. Terkadang, kita memaksakan diri berpikir positif untuk menutup-nutupi kenyataan yang terjadi. Mengapa tidak kita hadapi saja kenyataan tersebut?</p>
<p>Nilainya <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 27 September 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat tulisan Mark Manson</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">Motivasi Anti-Mainstream Pada Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
