<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>privilege Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/privilege/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/privilege/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 09:52:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>privilege Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/privilege/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sukses Tanpa Privilege Ala Maito Gai</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2021 12:50:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Maito Gai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Naruto]]></category>
		<category><![CDATA[ninja]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[privilege]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4267</guid>

					<description><![CDATA[<p>Anime shounen (anime yang ditujukan untuk penonton remaja laki-laki) kerap mengangkat tema from zero to hero. Contoh yang paling gampang adalah Naruto. Karakter utamanya, Naruto Uzumaki, digambarkan ketika kecil hidup sebatang kara dan tidak bisa apa-apa. Ia juga berkali-kali gagal dalam ujian kelulusan akademi. Walaupun begitu, Naruto tidak menyerah. Singkat cerita, ia terus berlatih untuk mendapatkan kekuatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/">Sukses Tanpa Privilege Ala Maito Gai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Anime <em>shounen </em>(anime yang ditujukan untuk penonton remaja laki-laki) kerap mengangkat tema <em><strong>from zero to hero</strong>. </em>Contoh yang paling gampang adalah <strong>Naruto</strong>.</p>
<p>Karakter utamanya, <strong>Naruto Uzumaki</strong>, digambarkan ketika kecil hidup sebatang kara dan tidak bisa apa-apa. Ia juga berkali-kali gagal dalam ujian kelulusan akademi.</p>
<p>Walaupun begitu, Naruto tidak menyerah. Singkat cerita, ia terus berlatih untuk mendapatkan kekuatan demi bisa meraih impian terbesarnya: <strong>menjadi seorang Hokage</strong>.</p>
<p>Apakah ia berhasil? Iya, Naruto berhasil menjadi seorang Hokage berkat kerja kerasnya.</p>
<p><strong><em>Atau, apakah benar demikian?</em></strong></p>
<h3>Daftar <em>Privilege</em> Naruto Uzumaki</h3>
<div id="attachment_4269" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4269" class="size-large wp-image-4269" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4269" class="wp-caption-text">Punya Banyak Privilege (<a href="https://medium.com/cinemania/how-naruto-uzumaki-raised-a-generation-of-believers-6431ad7929e7">Medium</a>)</p></div>
<p>Jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya Naruto tidak 100% <em>from zero to hero</em>. Ia <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">punya banyak sekali <em>privilege</em></a> untuk membuatnya bisa sehebat sekarang.</p>
<p>Tidak percaya? Coba saja lihat daftar keistimewaan yang dimiliki Naruto:</p>
<ul>
<li>Anak dari <strong>Namikaze Minato</strong>, Hokage Keempat</li>
<li>Keturunan klan <strong>Uzumaki</strong> dari ibunya, klan yang terkenal karena memiliki cakra yang melimpah</li>
<li>Memiliki <em><strong>Kyuubi</strong> </em>di dalam tubuhnya, meskipun butuh waktu untuk bisa menguasai kekuatannya</li>
<li>Diajar oleh guru dan murid ayahnya, <strong>Jiraiya</strong> dan <strong>Hatake Kakashi</strong>, yang merupakan ninja top markotop</li>
<li>Mendapatkan kekuatan dari <strong>Rikudou Sennin</strong></li>
</ul>
<p>Jika benar-benar mencari karakter di anime Naruto yang benar-benar <em>from zero to hero</em>, Penulis lebih memilih <strong>Maito Gai</strong> yang sangat menginspirasi.</p>
<h3>Sukses Tanpa <em>Privilege</em></h3>
<div id="attachment_4270" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4270" class="size-large wp-image-4270" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4270" class="wp-caption-text">Kuat Tanpa Usaha Keras Tanpa Privilege (<a href="https://naruto.fandom.com/pt-br/wiki/Might_Guy">Naruto Fandom</a>)</p></div>
<p>Awalnya Maito Gai (atau Might Guy) merupakan salah satu karakter yang kerap diremehkan karena tingkah norak dan konyolnya. Apalagi, model rambutnya mirip anggota band<em> The Changcuters.</em></p>
<p>Bisa dibilang, sejak lahir <strong>Gai tidak punya bakat menjadi seorang ninja</strong>. Bagaimana tidak, ia sama sekali tidak bisa menguasai <em>ninjutsu</em> maupun <em>genjutsu</em>.</p>
<p>Sama seperti Naruto, sewaktu kecil ia sering diremehkan dan beberapa kali ditolak masuk ke dalam akademi. Di-<em>bully</em>? Sering sekali.</p>
<p>Walaupun begitu, Gai tidak pernah menyerah. Ia ingin membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi ninja meskipun tidak bisa menguasai <em>ninjutsu </em>dan <em>genjutsu</em>.</p>
<p>Berkat dorongan ayahnya yang juga kerap dicap sebagai ninja gagal, ia terus berusaha dan berlatih mati-matian demi menguasai <strong><em>taijutsu</em></strong>.</p>
<p>Waktu itu, ayah Kakashi yang bernama Hatake Sakumo berkata jangan pernah meremehkan Gai. Dengan ketekunan yang dimiliki, ia bisa saja menjadi ninja terhebat mengalahkan Kakashi.</p>
<p>[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=GU_RiAHR9aY[/embedyt]</p>
<p>Hhal tersebut terbukti dalam pertarungannya melawan <strong>Madara Uchiha</strong>. Bahkan, Madara yang kerap dijuluki dewa shinobi mengakui kehebatan Gai dengan melabelinya sebagai ninja pengguna <em>taijutsu</em> terkuat.</p>
<p>Penulis selalu merinding ketika menonton ulang pertarungan Gai melawan Madara tersebut. Walaupun lawannya setengah dewa, Gai berhasil membuat Madara kewalahan dan hampir saja memenangkan pertarungan.</p>
<p>Menurut Penulis, Gai Maito adalah contoh sempurna bagaimana <strong>kerja keras seseorang bisa membuat kita sukses meskipun minim <em>privilege</em>.</strong></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memang, <a href="https://whathefan.com/animekomik/dinasti-politik-ala-naruto/">Naruto pun juga memiliki jalan yang panjang dan latihan yang keras</a>. Namun jika dibandingkan dengan Gai, Penulis jelas memilih perjuangan Gai yang benar-benar <em>from zero to hero</em>.</p>
<p>Karakter lain yang juga seperti Gai adalah muridnya sendiri, <strong><em>Rock Lee</em></strong>. Lee juga tidak bisa menguasai ninjutsu maupun genjutsu, hanya bisa berlatih mati-matian untuk menguasai <em>taijutsu</em>.</p>
<p>Dalam kehidupan nyata, <strong>sukses tanpa <em>privilege </em>memang susah</strong>, lebih susah dari orang yang sejak lahir telah memiliki <em>privilege</em>.</p>
<p>Hanya saja, jangan sampai hal tersebut menjadi alasan agar kita tidak berusaha mati-matian. Apapun hasilnya nanti, yang penting kita sudah berusaha keras untuk mencapainya.</p>
<p>Kita tidak bisa mengendalikan orang lain yang memiliki <em>privilege, </em>tapi kita bisa mengendalikan diri untuk bekerja keras seperti Maito Gai untuk meraih kesuksesan.</p>
<p>Lalu mana yang akan kita pilih, <strong><em>menyerah dengan keadaan atau berusaha sekeras mungkin?</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Mungkin karena kuatnya Gai inilah ia diceritakan sedang keluar desa ketika Pain menyerang desa Konoha</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 14 Desember 2020, terinspirasi setelah menonton banyak video pertarungan Gai melawan Madara di YouTube</p>
<p>Foto: <a href="https://twitter.com/twtnarutomy/status/947497900652687361">Twitter</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/">Sukses Tanpa Privilege Ala Maito Gai</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/sukses-tanpa-privilege-ala-maito-gai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yang Salah dari Privilege</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 13:27:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[nasib]]></category>
		<category><![CDATA[privilege]]></category>
		<category><![CDATA[Putri Tanjung]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3176</guid>

					<description><![CDATA[<p>Permasalahan mengenai privilege yang sedang ramai beberapa waktu lalu benar-benar mengusik rasa ingin tahu penulis. Saking besarnya rasa penasaran tersebut, penulis sampai ingin menuliskan sekuel dari tulisan Apa yang Salah dari Privilege? Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengulas beberapa hal yang belum sempat diulas pada tulisan sebelumnya. Penulis ingin menekankan apa yang salah dengan privilege yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">Yang Salah dari Privilege</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Permasalahan mengenai <em>privilege</em> yang sedang ramai beberapa waktu lalu benar-benar mengusik rasa ingin tahu penulis. Saking besarnya rasa penasaran tersebut, penulis sampai ingin menuliskan sekuel dari tulisan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/"><em>Apa yang Salah dari Privilege?</em></a></p>
<p>Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengulas beberapa hal yang belum sempat diulas pada tulisan sebelumnya. Penulis ingin menekankan apa yang salah dengan <em>privilege </em>yang dimiliki oleh seseorang dan mengapa <em>privilege </em>bukan satu-satunya faktor penentu.</p>
<h3>Yang Salah dengan <em>Privilege</em></h3>
<div id="attachment_3179" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3179" class="size-large wp-image-3179" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3179" class="wp-caption-text">Putri Tanjung dan Ayahnya (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://asianet.id/digaet-jadi-staf-khusus-presiden-yuk-intip-profil-putri-tanjung/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwidgd7TkKbmAhV66nMBHXjND2gQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Asianet.id</span></a>)</p></div>
<p>Semua orang memiliki taraf <em>privilege </em>yang berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memandang kehidupan mereka sendiri. Yang sering disorot adalah <em>privilege </em>kekayaan dan jabatan.</p>
<p>Contoh yang cukup menghebohkan adalah ketika <strong>Putri Tanjung</strong> diangkat sebagai Staf Khusus Presiden. Banyak yang menuding bahwa ia bisa meraih jabatan tersebut karena ayahnya merupakan pebisnis terkenal, Chairil Tanjung.</p>
<p>Banyak yang mengkritik perempuan tersebut karena <strong>ia terlihat seolah mengingkari </strong><em><strong>privilege</strong> </em>yang dimiliki. Mengingkari <em>privilege </em>yang dimiliki adalah hal yang salah menurut penulis.</p>
<p>Jika mau terlihat sarkas, sikap tersebut seolah ingin menertawakan usaha orang-orang yang tidak memiliki <em>privilege</em>. Coba bayangkan mereka berkata seperti ini di media sosial:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kalau aku bisa, kamu pasti bisa.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalau kata-kata seperti itu keluar, dijamin <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">SJW di Twitter</a> akan langsung muncul dan memberi hujatan kepadanya. Tak jarang ada yang akan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan sang pemilik <em>privilege</em>.</p>
<p>Menurut teman kantor penulis, orang-orang yang memiliki <em>privilege </em>lebih seharusnya lebih memikirkan kesejahteraan bersama. Contohnya adalah Cinta Laura yang memanfaatkan kekayaan yang dimiliki dengan membangun sekolah,</p>
<p>Penulis sangat sepakat di sini. Sudah sewajarnya orang-orang dengan <em>privilege </em>membantu orang-orang yang tidak seberuntung mereka.</p>
<p>Lanjutnya<em>, </em>peran pemerintah dibutuhkan di sini untuk memangkas jarak antara yang memiliki <em>privilege </em>dengan yang tidak. Masalah sehari-hari seperti akses sekolah saja sudah sangat membantu.</p>
<p>Akan tetapi, mungkin kita melupakan sesuatu di sini.</p>
<h3>Orang dengan <em>Privilege </em>Juga Butuh Kerja Keras</h3>
<div id="attachment_3180" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3180" class="size-large wp-image-3180" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3180" class="wp-caption-text">Kenapa Angela Bisa Jadi Wamen? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.finroll.com/mengenal-sosok-angela-tanoesoedibjo-sang-calon-wamen-jokowi-termuda/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi8lsvIkabmAhWQXSsKHZf2CY8QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Finroll.com</span></a>)</p></div>
<p>Penulis sepakat bahwa <em>privilege </em>memberikan keuntungan yang sangat besar. Sebuah jurnal berjudul <strong><em>Effect of Growing up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence from Indonesia </em></strong>menunjukkan hal tersebut.</p>
<p>Singkat kata, penelitian tersebut telah melakukan penelitian  kepada <strong>22 ribu orang</strong> yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia (83% populasi).</p>
<p>Hasilnya, mereka yang berasal dari keluarga miskin <strong>memiliki pendapatan 87% lebih rendah</strong> dibandingkan dengan mereka yang lahir dari keluarga berkecukupan.</p>
<p>Walaupun begitu, penulis percaya<strong> orang-orang dengan <em>privilege </em>juga berusaha keras</strong> demi bisa mencapai sesuatu. Lebih mudah, sudah pasti. Tapi tetap ada usaha yang mereka keluarkan dan ini yang seringkali diabaikan.</p>
<p>Putri Tanjung mungkin bisa bikin usaha yang membuatnya dilirik presiden karena minta modal dan bantuan koneksi ke bapaknya. Tapi kalau ia tidak mampu mengaturnya dengan baik, hasilnya pasti jelek.</p>
<p>Maudy Ayunda sudah menempuh pendidikan di sekolah internasional sejak kecil. Tapi kalau ia tidak rajin belajar, pasti tidak akan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">dilema memilih universitas dunia</a>.</p>
<p>Kalau anaknya Hary Tanoe yang jadi wakil menteri, penulis juga kurang tahu dia ngapain sampai bisa masuk ke dalam kabinet. Kalau ada yang tahu, mungkin bisa kasih tahu penulis.</p>
<p>Kita hanya melihat sisi yang terlihat dari mereka. Padahal, penulis yakin banyak sekali sisi-sisi yang tidak terlihat dan luput dari pengamatan kita.</p>
<p>Anak-anak pengusaha sukses misalnya. Mereka pasti menanggung beban nama besar orangtuanya. Sedikit-sedikit pasti dibandingkan, seolah tidak bisa lepas dan menjadi individu yang mandiri.</p>
<p>Banyak contoh anak-anak orang kaya dan terkenal, gagal memaksimalkan <em>privilege </em>yang dimiliki. Mereka hanya sekadar memanfaatkan <em>privilege </em>yang dimiliki untuk kepentingannya sendiri dan berfoya-foya. Inilah yang salah.</p>
<p>Yang penulis khawatirkan, orang-orang akan menjadi rendah diri dan merasa dirinya tidak akan sukses karena merasa tidak miliki <em>privilege</em>.</p>
<h3>Bisakah Sukses Tanpa <em>Privilege</em>?</h3>
<div id="attachment_3182" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3182" class="size-large wp-image-3182" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-3-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3182" class="wp-caption-text">Raeni, Sekolah Sampai S3 di Inggris (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/raeni-dari-bangku-becak-ke-kursi-s3-di-inggris" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiFnKOGk6bmAhXBfH0KHUWoCMQQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Beritagar</span></a>)</p></div>
<p>Masalahnya, manusia cenderung menyukai <em>bad news </em>dibandingkan dengan <em>good news.</em> Sukses karena <em>privilege </em>termasuk <em>bad news</em>, sedangkan sukses tanpa <em>privilege </em>termasuk <em>good news</em>.</p>
<p>Banyak kisah sukses orang-orang tanpa <em>privilege </em>(walaupun kebanyakan dari kita punya <em>privilege </em>dalam bentuk yang berbeda) yang hanya muncul sebentar, lantas dilupakan oleh orang.</p>
<p>Penulis mencoba mencari berita tentang <strong>Raeni</strong>, anak tukang becak yang berhasil mendapatkan gelar sarjana. Ternyata, ia sedang melanjutkan studi di Inggris. Sedihnya, berita ini kurang terekspos ke publik.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu, ibu penulis mengirimkan sebuah video melalui Instagram. Video tersebut benar-benar menampar penulis.</p>
<p>Bagaimana tidak, ada seorang pemain biola yang tidak memiliki tangan. Walaupun begitu, ia masih bisa mengalunkan musik dengan indahnya.</p>
<p>Lihat, memiliki anggota tubuh yang lengkap pun bisa menjadi sebuah <em>privilege </em>bagi kita. Oleh karena itu, <strong>jangan sampai menggunakan <em>privilege </em>orang lain sebagai kambing hitam atas ketidaksuksesan kita</strong>.</p>
<p>Kalau mau jujur, kita pun sekarang bekerja keras agar keturunan kita bisa mendapatkan <em>privilege </em>yang lebih baik dari kita. Kecuali, kalau kita tidak memiliki keinginan untuk menikah dan memiliki anak.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p><em>Privilege </em>penulis akui memberikan keuntungan yang sangat besar. Ibarat lomba lari, ia sudah berada 1 kilometer di depan orang yang tidak memiliki <em>privilege</em>. Tapi penulis percaya ada variabel-variabel lain yang akan memengaruhi hasil pertandingan.</p>
<p>Bisa saja, yang mendapatkan <em>privilege </em>mendapatkan cedera sehingga bisa disalip. Atau mungkin yang punya <em>privilege </em>terlalu sombong hingga memutuskan untuk tidur dulu, sehingga ia pada akhirnya kalah.</p>
<p>Kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan <em>privilege </em>atau tidak ketika lahir. Akan tetapi, kita bisa memilih untuk menggunakan <em>privilege </em>tersebut secara bijak.</p>
<p>Bagaimana dengan yang tidak memiliki <em>privilege</em>? Karena &#8220;jaraknya&#8221; dengan yang punya <em>privilege </em>cukup jauh, usaha yang dikerahkan pun harus lebih besar.</p>
<p>Berarti tidak adil? Kalau melihat dengan kacamata manusia mungkin iya. Tapi penulis yakin Tuhan punya takaran keadilan-Nya sendiri yang kadang tidak bisa dipahami manusia.</p>
<p>Toh, semua yang terjadi di dunia ini karena kehendak-Nya. Memang terdengar klise, tapi penulis benar-benar meyakini hal tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi dengan segala topik terkait <em>privilege</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjxkNj7jqbmAhUQA3IKHRf0AksQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fmommiesdaily.com%2F2019%2F07%2F22%2Fputri-tanjung-jadi-pengusaha-harus-menghargai-proses-menikmati-masa-masa-jatuh-bangun%2F&amp;psig=AOvVaw3sXTDM5KuOKq9aUmwZuMNT&amp;ust=1575896737667929">Mommies Daily</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/24/160000065/putri-tanjung-dan-sukses-usia-muda-karena-privilege-benarkah-terjadi-?page=all">Kompas</a>, <a href="https://dnk.id/artikel/shellya-anindhita/privilege-punya-atau-enggak-di-mata-netizen-semua-salah">DNK</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">Yang Salah dari Privilege</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Salah dengan Privilege?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Nov 2019 03:37:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[kesuksesan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[privilege]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3069</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika melihat kesuksesan orang lain, akan muncul komentar beragam. Ada yang menjadi terinspirasi, ada yang mengagumi perjuangannya, tak sedikit yang mencibirnya. Akan tetapi ketika ternyata kesuksesan tersebut dikarenakan karena yang bersangkutan memiliki privilege atau keistimewaan, kebanyakan komentar bernada sama: oalah pantes aja sukses, la dia gini gini gini. Salahkah memiliki privilege? Manusia dan Privilege yang Dimiliki Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Apa yang Salah dengan Privilege?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika melihat kesuksesan orang lain, akan muncul komentar beragam. Ada yang menjadi terinspirasi, ada yang mengagumi perjuangannya, tak sedikit yang mencibirnya.</p>
<p>Akan tetapi ketika ternyata kesuksesan tersebut dikarenakan karena yang bersangkutan memiliki <em>privilege </em>atau keistimewaan, kebanyakan komentar bernada sama: <em>oalah pantes aja sukses, la dia gini gini gini</em>.</p>
<p>Salahkah memiliki <em>privilege</em>?</p>
<h3>Manusia dan <em>Privilege</em> yang Dimiliki</h3>
<div id="attachment_3072" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3072" class="size-large wp-image-3072" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-1024x607.jpeg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-1024x607.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-300x178.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1-768x455.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apa-yang-salah-dengan-privilage-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3072" class="wp-caption-text">Maudy Ayunda (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://indonesiainside.id/lifestyle1/2019/03/06/maudy-ayunda-inspirator-kaum-milenial" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiQlNDU4-3lAhUW3o8KHb-eCxEQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Indonesia Inside</span></a>)</p></div>
<p>Penulis menyadari bahwa tidak semua orang memiliki <em>privilege </em>seperti yang didapatkan oleh orang lain. Namun, hal tersebut tidak bisa menjadi dasar kita <em>julid </em>ke orang yang memiliki <em>privilege</em>.</p>
<p>Tidak usah mengambil contoh rektor termuda di kampus di mana ayahnya menjadi pemegang saham terbesar, penulis akan mengambil contoh Maudy Ayunda.</p>
<p>Ketika ia mengalami <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">dilema kelas tinggi</a>, ada saja yang berpendapat ia bisa seperti itu karena berbagai <em>privilege </em>yang dimiliki. Ia lahir dari keluarga kaya, punya orangtua yang mendukungnya, hingga punya jenjang karir di dunia hiburan yang terbilang mulus.</p>
<p>Maudy memang memiliki banyak <em>privilege</em>. Lantas, salahnya di mana? Karena ia memamerkan kesuksesannya sehingga menimbulkan kecemburuan bagi yang tidak memiliki <em>privilege</em>? Penulis rasa tidak.</p>
<h3>Apa yang Salah dengan <em>Privilege</em>?</h3>
<p>Kesuksesan para pemegang <em>privilege </em>ini menurut penulis menjadi bukti bahwa mereka bisa memanfaatkan keistimewaan yang mereka dapatkan.</p>
<p>Banyak yang memiliki <em>privilege</em>, namun justru terjerumus ke jalan yang salah dan terlena dengan kefanaan yang dimiliki. Ada banyak contohnya, penulis tidak perlu menyebutkannya secara detail.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan <em>privilege</em>. Mencemburuinya pun tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan kita, apalagi kalau kita sampai mencaci-maki orang-orang yang memiliki <em>privilege</em>.</p>
<p>Yang penulis khawatirkan, orang-orang sering menggunakan <em>privilege </em>orang lain sebagai pembenaran dirinya. Mereka merasa tidak akan bisa sesukses mereka yang memiliki <em>privilege </em>dan menyalahkan keadaan.</p>
<p>Padahal ada banyak contoh kesuksesan yang bisa diraih tanpa <em>privilege </em>sekalipun. Lantas, mengapa hanya mengambil contoh dari mereka yang punya <em>privilege</em>?</p>
<p>Dari yang penulis amati, kalau ada kesuksesan yang diraih oleh orang tanpa banyak <em>privilege</em>, komentar tidak akan terlalu ramai. Tapi jika ada yang sukses karena bantuan <em>privilege</em>, <strong><em>everybody loses their mind!</em></strong></p>
<p>Lagipula, kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain yang hanya kita kenal melalui media. Lantas, mengapa kita jadi <em>sotil</em> dan memberikan justifikasi seenak <em>udel</em>?</p>
<p>Pasti ada pertolongan dari sana sini, tapi semuanya tergantung kepada diri kita sendiri. Banyak faktor eksternal yang akan mempengaruhi kehidupan kita, tapi semuanya akan kembali ke diri kita sendiri.</p>
<p>Kalau memang memiliki <em>privilege</em>, ya disyukuri. Buktikan kalau kita tidak sekadar menumpang <em>privilege </em>tersebut, tapi memang bisa memanfaatkan <em>privilege </em>tersebut sebaik mungkin.</p>
<p>Yang salah itu jika kita sudah memanfaatkan <em>privilege</em>, lantas mengklaim kesuksesan karena kerja keras kita semata. Kalau seperti itu tentu saja membuat orang yang melihatnya jengkel.</p>
<p>Apalagi, kalau mereka berusaha menjadi motivator dan menutupi <em>privilege </em>yang selama ini mereka dapatkan. Bertambahlah kejengkelan tersebut. Sutradara &#8220;yang tembus Hollywood&#8221; menjadi buktinya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis merasa dirinya sebagai orang yang diberi banyak <em>privilege</em>. Penulis lahir dengan fisik yang sempurna, dibesarkan oleh keluarga yang luar biasa, memiliki lingkungan pergaulan yang baik, sampai bisa mengambil ilmu di sekolah negeri hingga jenjang universitas.</p>
<p>Penulis juga lahir dalam kondisi ekonomi yang cukup, meskipun ketika SMP hanya mendapatkan uang saku bulanan Rp60 ribu dan naik menjadi Rp165 ribu ketika SMA. Itu sudah termasuk uang bensin dan pulsa.</p>
<p>Penulis berkempatan untuk belajar di Kampung Inggris, berkesempatan untuk menjadi <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/"><em>volunteer </em>Asian Games</a>, memiliki keluarga yang bersedia menampung di Jakarta hingga mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan.</p>
<p>Hal tersebut membuat penulis merasa bertanggung jawab atas segala <em>privilege </em>yang telah diberikan tersebut. Penulis merasa berkewajiban untuk bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain.</p>
<p><em>Pantas aja nulis gini, mong dirinya sendiri dapat privilege!</em></p>
<p>Mungkin ada pembaca yang berpendapat seperti itu, tidak apa-apa. Toh, ketika lahir kita tidak bisa memilih akan dilahirkan sebagai anak orang kaya, memiliki orangtua yang lengkap, lahir dengan agama apa, dan lain sebagainya.</p>
<p>Daripada mencari-cari <em>privilege </em>kesuksesan orang sehingga kita bisa beralasan tidak bisa seperti mereka, kenapa tidak kita ambil saja yang bisa kita pelajari? Kalau misalnya tidak ada, ya sudah abaikan saja.</p>
<p>Seandainya bisa, kita akan memilih untuk memiliki <em>privilege </em>bukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 November 2019, terinspirasi dari banyaknya orang yang mencibir <em>privilege </em>yang dimiliki oleh orang lain</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Apa yang Salah dengan Privilege?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
