Connect with us

Anime & Komik

Sukses Tanpa Privilege Ala Maito Gai

Published

on

Anime shounen (anime yang ditujukan untuk penonton remaja laki-laki) kerap mengangkat tema from zero to hero. Contoh yang paling gampang adalah Naruto.

Karakter utamanya, Naruto Uzumaki, digambarkan ketika kecil hidup sebatang kara dan tidak bisa apa-apa. Ia juga berkali-kali gagal dalam ujian kelulusan akademi.

Walaupun begitu, Naruto tidak menyerah. Singkat cerita, ia terus berlatih untuk mendapatkan kekuatan demi bisa meraih impian terbesarnya: menjadi seorang Hokage.

Apakah ia berhasil? Iya, Naruto berhasil menjadi seorang Hokage berkat kerja kerasnya.

Atau, apakah benar demikian?

Daftar Privilege Naruto Uzumaki

Punya Banyak Privilege (Medium)

Jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya Naruto tidak 100% from zero to hero. Ia punya banyak sekali privilege untuk membuatnya bisa sehebat sekarang.

Tidak percaya? Coba saja lihat daftar keistimewaan yang dimiliki Naruto:

  • Anak dari Namikaze Minato, Hokage Keempat
  • Keturunan klan Uzumaki dari ibunya, klan yang terkenal karena memiliki cakra yang melimpah
  • Memiliki Kyuubi di dalam tubuhnya, meskipun butuh waktu untuk bisa menguasai kekuatannya
  • Diajar oleh guru dan murid ayahnya, Jiraiya dan Hatake Kakashi, yang merupakan ninja top markotop
  • Mendapatkan kekuatan dari Rikudou Sennin

Jika benar-benar mencari karakter di anime Naruto yang benar-benar from zero to hero, Penulis lebih memilih Maito Gai yang sangat menginspirasi.

Sukses Tanpa Privilege

Kuat Tanpa Usaha Keras Tanpa Privilege (Naruto Fandom)

Awalnya Maito Gai (atau Might Guy) merupakan salah satu karakter yang kerap diremehkan karena tingkah norak dan konyolnya. Apalagi, model rambutnya mirip anggota band The Changcuters.

Bisa dibilang, sejak lahir Gai tidak punya bakat menjadi seorang ninja. Bagaimana tidak, ia sama sekali tidak bisa menguasai ninjutsu maupun genjutsu.

Sama seperti Naruto, sewaktu kecil ia sering diremehkan dan beberapa kali ditolak masuk ke dalam akademi. Di-bully? Sering sekali.

Walaupun begitu, Gai tidak pernah menyerah. Ia ingin membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi ninja meskipun tidak bisa menguasai ninjutsu dan genjutsu.

Berkat dorongan ayahnya yang juga kerap dicap sebagai ninja gagal, ia terus berusaha dan berlatih mati-matian demi menguasai taijutsu.

Waktu itu, ayah Kakashi yang bernama Hatake Sakumo berkata jangan pernah meremehkan Gai. Dengan ketekunan yang dimiliki, ia bisa saja menjadi ninja terhebat mengalahkan Kakashi.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=GU_RiAHR9aY[/embedyt]

Hhal tersebut terbukti dalam pertarungannya melawan Madara Uchiha. Bahkan, Madara yang kerap dijuluki dewa shinobi mengakui kehebatan Gai dengan melabelinya sebagai ninja pengguna taijutsu terkuat.

Penulis selalu merinding ketika menonton ulang pertarungan Gai melawan Madara tersebut. Walaupun lawannya setengah dewa, Gai berhasil membuat Madara kewalahan dan hampir saja memenangkan pertarungan.

Menurut Penulis, Gai Maito adalah contoh sempurna bagaimana kerja keras seseorang bisa membuat kita sukses meskipun minim privilege.

Penutup

Memang, Naruto pun juga memiliki jalan yang panjang dan latihan yang keras. Namun jika dibandingkan dengan Gai, Penulis jelas memilih perjuangan Gai yang benar-benar from zero to hero.

Karakter lain yang juga seperti Gai adalah muridnya sendiri, Rock Lee. Lee juga tidak bisa menguasai ninjutsu maupun genjutsu, hanya bisa berlatih mati-matian untuk menguasai taijutsu.

Dalam kehidupan nyata, sukses tanpa privilege memang susah, lebih susah dari orang yang sejak lahir telah memiliki privilege.

Hanya saja, jangan sampai hal tersebut menjadi alasan agar kita tidak berusaha mati-matian. Apapun hasilnya nanti, yang penting kita sudah berusaha keras untuk mencapainya.

Kita tidak bisa mengendalikan orang lain yang memiliki privilege, tapi kita bisa mengendalikan diri untuk bekerja keras seperti Maito Gai untuk meraih kesuksesan.

Lalu mana yang akan kita pilih, menyerah dengan keadaan atau berusaha sekeras mungkin?

 

NB: Mungkin karena kuatnya Gai inilah ia diceritakan sedang keluar desa ketika Pain menyerang desa Konoha

 

 

 

Lawang, 14 Desember 2020, terinspirasi setelah menonton banyak video pertarungan Gai melawan Madara di YouTube

Foto: Twitter

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Anime & Komik

Sekolah Superhero Ala My Hero Academia

Published

on

By

Sebagai anak laki-laki, wajar jika Penulis menyukai manga atau anime shounen yang identik dengan adegan action dan kekuatan-kekuatan super.

Buat yang belum tahu, shounen merupakan istilah untuk menggambarkan genre manga/anime yang ditujukan untuk pasar remaja laki-laki, walau pada kenyataannya orang dewasa pun masih banyak yang mengikutinya.

Dragon Ball menjadi anime shounen pertama yang disukai karena sewaktu kecil suka membaca komiknya dan menonton animenya di Indosiar dan Animax. Setelah itu, Penulis juga menyukai Naruto dan membaca manganya hingga tamat.

Keduanya sudah lama tamat. Lanjutannya (Dragon Ball Super dan Boruto) Penulis anggap tidak terlalu menarik sehingga hanya mengikuti ala kadarnya.

Untungnya, Penulis memiliki pilihan anime shounen yang tidak kalah menarik sekarang: My Hero Academia.

Awal Pertemuan dengan My Hero Academia

Midoriya dan All Might (Pinterest)

Pertemuan pertama Penulis dengan anime My Hero Academia (僕のヒーローアカデミア/Boku no Hero Academia) terjadi setelah saran dari mantan teman kantor di tempat lama.

Pada tahun 2017, Penulis baru memulai untuk menonton serial anime untuk mengisi waktu luang setelah pulang bekerja. Oleh karena itu, Penulis meminta beberapa rekomendasi. Salah satunya ya My Hero Academia (MHA) ini.

Setelah Penulis tonton, ternyata temanya sangat cocok dengan Penulis. Sebagai penggemar film-film superhero, MHA bagi Penulis mampu memberikan angle yang menarik di tengah gempuran Marvel dan DC Comics.

Apalagi sang tokoh utama, Izuku Midoriya, digambarkan sebagai tokoh yang sama sekali tidak memiliki kekuatan (quirk). Padahal, ia selalu memiliki cita-cita menjadi superhero seperti idolanya, All Might.

Untungnya, Midoriya dipilih oleh All Might untuk mewarisi kekuatannya yang bernama One for All. Ia pun berlatih untuk bisa mengendalikan kekuatan tersebut. Tema zero to hero ini Penulis sukai karena bisa memotivasi kita sebagai penonton.

Sekolah Superhero

U.A. High School (My Hero Academia – Fandom)

Goku hanya pernah melakukan latihan bersama guru-gurunya, mulai Master Roshi hingga Whis. Naruto masuk ke akademi ninja, namun tidak diceritakan bagaimana kehidupannya selama menempuh pendidikan di sana.

Baru kali inilah, setidaknya sepengetahuan Penulis, kita akan melihat bagaimana superhero dilatih dan ditempa di sebuah institusi khusus. Konsepnya terlihat mirip dengan X-Men dari Marvel.

Sang tokoh utama kita, Midoriya, bersekolah di U.A. High School. Sekolah ini menjadi salah satu sekolah superhero terbaik di Jepang. All Might juga menjadi pengajar di sini.

Setiap tingkat, ada 11 kelas yang dibagi berdasarkan departemennya menjadi seperti berikut:

  • Kelas A-B: Department of Heroes
  • Kelas C-E: Department of General Education
  • Kelas F-H: Department of Support
  • Kelas I-K: Department of Management

Midoriya berhasil masuk ke kelas A, yang mungkin bisa dianggap sebagai kelas unggulan untuk para calon superhero. Ia pun bertemu dengan teman-teman kelasnya yang juga memiliki kemampuan unik (gambar banner adalah murid-murid kelas A).

Penulis hanya heran karena 1 hal. Ada beberapa murid kelas B yang lebih kuat dari murid kelas A dengan kekuatan yang lebih berguna di pertarungan. Penulis kurang tahu apa standar yang digunakan oleh U.A. dalam pembagian kelas.

Hitam Putih antara Supervillain dan Superhero

Tomura Shigaraki (CBR)

Dengan latar dunia di mana mayoritas manusianya memiliki quirk, wajar jika ada sekolah superhero untuk melatih anak-anak berbakat mengendalikan kemampuannya demi melawan kejahatan.

Tentu saja ada pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuatannya untuk berbuat jahat. Ada yang skala kecil, tapi ada juga tingkat kejahatan yang melampaui batas.

Seperti kebanyakan anime shounen, MHA pun terlihat memiliki klise di mana yang baik dan yang jahat digambarkan dengan begitu hitam putih. Sang tokoh utama pun digambarkan sebagai orang yang sangat bermoral, seperti Goku dan Naruto.

Musuh utama dari para pahlawan kita adalah League of Villains yang dipimpin oleh All for One, yang sekarang nampaknya dipimpin oleh Tomura Shigaraki.

Tentu di perjalanannya ada banyak musuh dari kubu lain, yang menurut Penulis menjadi salah satu kekurangan anime MHA yang terlihat sering mengulur waktu agar ceritanya semakin panjang.

Siapa Karakter Favorit Penulis?

Himiko Toga (Screen Rant)

Sebagai anime yang memiliki buanyak karakter karena tema sekolah superheronya, siapa yang menjadi favorit Penulis? Anehnya, Penulis lebih memilih Himiko Toga yang sepintas mengingatkan kita kepada karakter Harley Quinn dari Suicide Squad.

Tidak ada alasan spesifik, suka saja dengan karakternya. Padahal, ia adalah anggota dari League of Villain walau rasanya ia tidak benar-benar jahat.

Kalau dari sisi superhero-nya, mungkin Penulis akan lebih memilih Ochaco Uraraka. Gemas saja melihat karakternya yang imut dan suka salting ketika berhadapan dengan Midoriya.

Mirio Togata yang mirip Tintin juga karakter yang Penulis sukai. Dulu Penulis sempat memilih Fumikage Tokoyami dan Shoto Todoroki sebelum akhirnya memutuskan untuk berpindah haluan.

Penutup

My Hero Academia layak menjadi anime shounen favorit Penulis yang ketiga setelah Dragon Ball dan Naruto. Alur ceritanya, komedinya, adegan aksinya, semua benar-benar sesuai dengan selera Penulis.

Karena pada dasarnya lebih suka membaca manga, Penulis sudah tahu bagaimana cerita dari MHA ke depannya. Maklum, animenya masih season 5 dan cerita manganya sudah berjalan begitu jauh.

Salah satu kekhawatiran Penulis adalah animenya tidak akan tamat mengikuti serial manga. Bisa saja ending-nya diubah seperti The Promised Neverland sehingga menimbulkan kekecewaan.

Jika jumlah episode setiap season-nya sama seperti sekarang (sekitar 20-an), bisa jadi MHA akan tamat pada season yang jumlahnya puluhan. Sudahlah, nikmati saja anime yang bertema sekolah superhero ini!


Lawang, 30 Juli 2021, terinspirasi karena ingin menulis tentang My Hero Academia

Foto: DevianArt

Sumber Artikel: My Hero Academia Wiki | Fandom

Continue Reading

Anime & Komik

Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom

Published

on

By

Pertama kali Penulis mendengar tentang manga Assassination Classroom adalah ketika ada semacam acara “lomba presentasi” di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya.

Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang guru di kelas bermasalah.

Anehnya, Penulis justru tertarik untuk membaca manganya daripada menonton animenya. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli semua serinya, dari volume 1 sampai 21.

Beberapa hari yang lalu, Penulis tiba-tiba tergerak untuk membaca ulang semua volumenya. Oleh karena itu, Penulis ingin menulis artikel tentang Assassination Classroom.

Karena ini merupakan manga lama (rilis perdana pada tahun 2012), rasanya Penulis tidak perlu menulis panjang lebar tentang alur ceritanya. Penulis ingin berfokus pada sesuatu yang unik tentang manga ini, yakni tentang sistem pendidikannya.

Sistem Sekolah SMP Kunugigaoka

SMP Kunugigaoka (Assassination Classroom Wiki – Fandom)

Hal unik yang ingin Penulis bahas di tulisan ini adalah tentang sistem pendidikan yang diterapkan di SMP Kunugigaoka. Setiap tingkat memiliki lima kelas, di mana kelas E menjadi tempat murid bermasalah dan kurang berprestasi.

Hal ini dilakukan oleh sang kepala sekolah, Gakuho Asano, untuk menciptakan ekosistem pendidikan dengan daya saing yang tinggi. Para murid didoktrin agar jangan sampai mereka masuk ke kelas E yang dianggap singkatan dari End tersebut.

Waktu Penulis SMP, yang ada justru kebalikannya. Kelas A menjadi kelas unggulan yang berisikan murid-murid yang berhasil mendapatkan peringkat teratas ketika ujian masuk. Sebaliknya, kelas paling bawah (kelas G) menjadi kelas yang peringkatnya paling bawah.

Sistem seperti ini Penulis jalani selama 2 tahun, karena ketika kelas 9 semua kelas diacak agar sama rata. Tidak ada lagi kelas unggulan, tidak ada lagi kelas yang dibuat berdasarkan urutan nilai murid.

Bagi Penulis, kelas dengan sistem diskriminasi yang diterapkan oleh Asano di sekolahnya jelas tidak ideal. Impiannya untuk membuat 95% muridnya menjadi lebih superior dibandingkan yang 5% murid di kelas E jelas merusak mental.

Selain itu, bukan tidak mungkin para murid akan saling senggol karena yang ada di pikiran mereka hanyalah menyelamatkan diri sendiri agar tidak sampai masuk ke kelas E.

Jika saja Koro sensei tidak masuk ke kelas tersebut, bisa saja murid-murid kelas E akan merasa tidak berguna sepanjang hidupnya.

Mengembangkan Bakat dan Minat Murid

Setiap Murid Berbeda (Assassination Classroom Wiki – Fandom)

Nah, salah satu nilai jual dari manga ini adalah hubungan unik antara guru dan muridnya. Di dunia ini, tidak ada satupun murid yang diperintahkan untuk menghabisi gurunya. Bahkan tidak ada sekolah yang diajar oleh makhluk berbentuk gurita berwarna kuning.

Anehnya, hubungan unik ini justru berhasil mengeluarkan potensi setiap murid yang ada di sana. Karena memiliki misi menyelamatkan dunia, perasaan tidak berguna perlahan-lahan hilang dari diri mereka.

Kelas ini awalnya memiliki 26 murid, sebelum akhirnya bertambah 2 murid tambahan yang bertujuan untuk membunuh Koro sensei. Mereka semua ternyata memiliki bakat masing-masing dan Koro sensei membantu mereka mengasah bakat tersebut.

Pendekatan yang dilakukan oleh Koro sensei inilah yang kurang dari pendidikan kita. Semua murid diperlakukan sama tanpa mempedulikan apa bakat dan minat mereka.

Jika dianalogikan sebagai hewan, semua murid diperintah untuk terbang, tidak peduli kita ikan, kucing, dan hewan lain yang memang tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Semua menggunakan standar penilaian yang sama.

Ideologi yang dianut oleh Koro sensei jelas berbeda dengan yang dianut oleh kepala sekolah. Hal inilah yang membuat mereka kerap berseberangan dalam menentukan sikap bagaimana membina murid.

Guru yang Serba Bisa

Guru Idaman (WallpaperAccess)

Sebagai seorang guru, Koro sensei memiliki pengetahuan yang begitu luas. Ia menguasai semua mata pelajaran sehingga dapat menyampaikan ilmunya dengan baik ke murid-muridnya.

Tidak hanya itu, ia juga bisa menentukan metode mana yang paling cocok untuk tiap murid sehingga mereka bisa mencerna pelajaran secara efektif. Latar belakangnya sebagai pembunuh nomor satu membuatnya menguasai banyak hal.

Jika menengok ke sistem pendidikan kita, rata-rata guru di SMP dan SMA hanya menguasai satu mata pelajaran. Kalaupun bisa lebih dari satu, biasanya masih berkaitan dengan mata pelajaran utama yang ia kuasai.

Hal ini sebenarnya tidak masalah. Guru-guru kita pun ketika kuliah memang hanya mengambil satu konsentrasi untuk bisa menjadi expert di mata pelajaran tersebut.

Hanya saja, metode yang digunakan terkadang kurang efektif. Memang banyak guru kreatif yang menemukan banyak cara agar mata pelajarannya menarik, tapi kebanyakan menggunakan cara konservatif yang kuno dan membosankan.

Di sisi lain, murid pun rata-rata kurang proaktif sehingga belajar di kelas terasa kurang interaktif dan tidak menyenangkan. Belajar di kelas menjadi rutinitas yang membosankan. Ilmu yang didapatkan pun menjadi tidak efektif.

Tidak hanya itu, guru seolah lepas tangan untuk masalah masa depan murid mereka. Pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan murid setelah lulus seolah dibebankan ke guru BK, itu pun jarang dimaksimalkan oleh murid.

Memang hal ini tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi pada umumnya yang terjadi di lapangan seperti itu.

Seandainya kita memiliki guru sehebat Koro sensei, mungkin kita semua bisa mengenali potensi yang ada di dalam diri. Bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing murid-muridnya.

Penutup

Meskipun secara ide cerita manga ini sangat khayal dan tidak realistis, nyatanya ada nilai-nilai yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan kita, terutama untuk dunia pendidikan. Tiga poin yang Penulis sampaikan di atas adalah contohnya.

Ada banyak celah di dunia pendidikan kita yang butuh ditingkatkan lagi agar murid tidak hanya mendapatkan ilmu, tapi juga mampu mengembangkan dirinya menjadi versi terbaiknya. Mungkin, kita bisa belajar hal tersebut melalui manga ini.


Lawang, 26 Maret 2021, terinspirasi setelah membaca ulang manga Assassination Classroom

Foto: Netflix

Continue Reading

Anime & Komik

Ketika Adaptasi Anime Berbeda dengan Manga

Published

on

By

Kebanyakan anime yang kita tonton merupakan adaptasi dari sebuah manga. Otomatis, cerita di manga akan selalu lebih cepat dari animenya. Maka dari itu, pembaca manga akan lebih tahu dulu daripada penonton animenya.

Contoh yang paling mudah adalah Attack on Titan (AoT). Animenya baru menyelesaikan part pertama dari season keempatnya ketika manganya tamat di chapter 139 pada awal bulan ini. Mungkin butuh waktu satu tahun lagi agar penonton animenya tahu bagaimana cerita AoT berakhir.

Dalam membuat adaptasi, biasanya ada sedikit perubahan seperti pengurangan atau penambahan cerita. Di anime populer seperti Naruto dan Dragon Ball, ada banyak sekali episode filler yang tidak ada di komik dan tidak berhubungan dengan alur utama cerita.

Adaptasi manga juga ada yang memiliki akhir menggantung karena diakhiri di tengah jalan. Biasanya, anime bergenre comedy-romance yang seperti ini. Contohnya adalah Nisekoi yang seolah berakhir begitu saja ketika manganya masih berlangsung.

Nah, ada juga kasus di mana animenya memiliki alur cerita yang benar-benar berbeda dari manganya. Parahnya, perubahan tersebut dianggap merusak cerita hingga membuat fans marah besar. Contohnya adalah anime The Promised Neverland season 2 yang baru saja Penulis tamatkan.

SPOILER ALERT!!!

The Promised Neverland Season 2

Penulis sudah banyak mendengar kalau The Promised Neverland season 2 memiliki alur cerita yang nyelentang dari manganya hingga harus rela mendapatkan rating buruk. Oleh karena itu, Penulis sudah tidak berharap banyak ketika memutuskan untuk menontonnya.

Hasilnya, Penulis tetap kecewa.

Mengubah cerita dari versi aslinya sebenarnya tidak masalah, asal masih bagus. Lha ini rasanya dieksekusi secara asal-asalan hingga membuat Penulis geram setengah mati. Tidak hanya itu, banyak plot cerita dan karakter penting yang dihilangkan begitu saja.

Ada beberapa perubahan fatal yang menurut Penulis susah untuk diterima.

Sonju dan Mujika

Sonju dan Mujika (www.aniradioplus.com)

Sampai episode empat, Penulis masih merasa baik-baik saja. Sama seperti manga, Emma dan kawan-kawan bisa bertahan hidup di hutan belantara karena bertemu dengan Sonju dan Mujika yang merupakan iblis. Bedanya, mereka tidak memakan manusia.

Hanya saja, peran mereka seolah dikerdilkan. Memang Mujika masih memiliki darah yang membuat iblis tidak akan mengalami degenerasi walaupun tidak memakan manusia. Hanya saja, perannya berhenti sampai di sana saja.

Kalau di manganya, Sonju dan Mujika harus berjibaku untuk menyadarkan para iblis kalau mereka bisa mempertahankan bentuk manusianya tanpa perlu memakan manusia. Mereka dikejar waktu karena sedang dikejar pasukan kerajaan yang menganggap mereka melakukan kudeta.

Untuk itu, mereka menghidupkan leluhur mereka yang mati suri untuk membantu mereka. Bahkan, mereka sempat tertangkap dan akan dieksekusi mati sebelum diselamatkan oleh salah seorang keluarga bangsawan yang selamat dan mendukung mereka.

Mujika juga pada akhirnya diangkat menjadi seorang ratu yang baru untuk bangsa iblis, sama seperti versi animenya.

Yugo dan Goldy Pond Arc

Yugo dan Goldy Pond (Pinterest)

Mulai episode 5, cerita animenya sudah berubah total, setelah mereka menemukan shelter yang dibangun oleh William Minerva. Karakter Yugo yang tinggal di sana dihilangkan sama sekali! Padahal di manga, ia memiliki peran penting untuk dan memiliki character development yang menarik.

Tidak adanya Yugo secara otomatis membuat Goldy Pond arc juga hilang sama sekali. Padahal, di arc tersebutlah Emma pertama kali berhadapan dengan bangsawan iblis yang akan menjadi musuh terakhir mereka.

Oke, anggaplah penghilangan tersebut dilakukan agar anime ini tidak terlalu panjang dan bisa ditamatkan di season 2. Akan tetapi, masih banyak hal yang membuat emosi dari anime ini.

Kemunculan Norman

Norman? (Game N Guides)

Yang paling menjengkelkan adalah kemunculan kembali Norman! Di manganya, Emma baru bertemu Norman setelah melakukan berbagai macam petualangan yang berbahaya. Eh, lha kok di sini ketemunya cepat sekali.

Inti ceritanya memang sama, di mana Norman berhasil kabur dari labotarium Lambda bersama beberapa temannya. Namun, ada banyak sekali hal yang dihilangkan, termasuk beberapa teman Norman yang ikut kabur bersamanya.

Selain itu, di manga Norman berhasil membangun semacam tempat perlindungan yang berisi banyak manusia. Di animenya, Norman terlihat hanya memiliki kelompok kecil yang bersembunyi di semacam kuil.

Penyerbuan Grace Field

Isabella Tetap Hidup (Anime News Network)

Penyerbuan ke Grace Field oleh Emma juga terkesan terburu-buru dan memaksakan. Penyerbuan menggunakan balon udara benar-benar non-sense. Darimana mereka bisa mendapatkan balon udara sebanyak itu?

Kalau di manganya, anak-anak yang ada di shelter milik Norman diculik oleh Peter Ratri. Untungnya, sebagian anak-anak tengah berperang melawan bangsawan iblis sehingga bisa menyelinap masuk menggunakan peta peninggalan William Minerva.

Selain itu, penyerbuan dilakukan setelah mengalahkan bangsawan iblis dengan pertarungan yang epik, bukannya menakhlukkan peternakan baru menyerang mereka.

Yang menjengkelkan lagi, Isabella selamat dan ikut pergi ke dunia manusia! Di manganya, Isabella mati karena mengorbankan dirinya demi melindungi anak-anaknya. Ending seperti itu lebih cocok untuknya.

Ending Ala Presentasi Powerpoint

Ending Ala PPT (Comic Book)

Emma membuat perjanjian baru dengan iblis untuk mengirim keluarganya ke dunia manusia. Sebagai bayarannya, ia akan kehilangan semua ingatan tentang mereka dan akan terpisah dari mereka. Butuh 2 tahun untuk Norman, Ray, dan lainnya untuk menemukan Emma yang tidak tahu siapa mereka.

Itu versi manganya. Walau agak terlalu bahagia, ending tersebut masih bisa diterima dan cukup memuaskan. Beda sama versi animenya.

Setelah menerobos Grace Field yang kesannya sangat mudah ditembus, Emma dan kawan-kawan berhasil mencapai gerbang perbatasan antara dunia manusia dan dunia iblis. Saat semua masuk, beberapa di antara mereka memutuskan tinggal untuk “mengubah dunia iblis”.

Penulis sempat mengira kalau ini akan menjadi premis season ketiga. Ternyata, tidak ada yang namanya season ketiga. “Mengubah dunia iblis” hanya ditampilkan melalui potongan-potongan gambar ala presentasi Powerpoint.

Penutup

Di situs MyAnimeList, rating anime The Promised Neverland season 2 hanya 5.7. Bandingkan dengan season pertamanya yang memiliki rating 8.63.

Penulis tidak tahu apa alasan mereka yang membuat anime ini merombak sedemikian rupa ceritanya dan tidak tertarik untuk mencarinya di berita. Yang jelas, Penulis merasa kecewa dengan anime ini.

Sekali lagi, tidak masalah jika adaptasi anime memiliki alur cerita yang berbeda dari manga. Tapi kalau lebih jelek, buat apa?

Lawang, 17 April 2021, terinpirasi setelah menonton anime The Promised Neverland season 2

Foto: CBR

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan