<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Reformasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/reformasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/reformasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:21:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Reformasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/reformasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Autobiografi Curi-Curi Pada Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/autobiografi-curi-curi-pada-hari-hari-terakhir-bersama-gus-dur/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/autobiografi-curi-curi-pada-hari-hari-terakhir-bersama-gus-dur/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 10:28:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bondan Gunawan]]></category>
		<category><![CDATA[Gusdur]]></category>
		<category><![CDATA[Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1189</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika menemukan buku ini, penulis berekspetasi tinggi. Bagaimana tidak, buku ini terbitan Kompas yang buku-buku sejarahnya sering penulis beli. Penulis berharap bahwa buku ini akan sebagus buku Menyibak Tabir Orde Baru karya Jusuf Wanandi. Ini merupakan buku kedua tentang Gus Dur yang penulis miliki. Buku pertama merupakan biografi karangan Greg Barton. Buku tersebut hanya menuliskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/autobiografi-curi-curi-pada-hari-hari-terakhir-bersama-gus-dur/">Autobiografi Curi-Curi Pada Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika menemukan buku ini, penulis berekspetasi tinggi. Bagaimana tidak, buku ini terbitan Kompas yang buku-buku sejarahnya sering penulis beli. Penulis berharap bahwa buku ini akan sebagus buku <strong>Menyibak Tabir Orde Baru</strong> karya Jusuf Wanandi.</p>
<p>Ini merupakan buku kedua tentang Gus Dur yang penulis miliki. Buku pertama merupakan biografi karangan Greg Barton. Buku tersebut hanya menuliskan kehidupan Gus Dur hingga lengsernya beliau sebagai presiden, sehingga penulis berharap bisa menemukan kepingan yang hilang tersebut pada buku ini.</p>
<p>Berjudul <strong>Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur</strong>, buku ini ditulis oleh Bondan Gunawan, Mantan Menteri Sekretaris Negara era Gus Dur. Dari kisah yang ia tuliskan, ia memang memiliki hubungan yang erat dengan presiden keempat Republik Indonesia tersebut.</p>
<p>Sayangnya, harapan penulis tidak terkabul karena pada biografi ini, Bondan sering bercerita tentang dirinya sendiri, walaupun di ujung tulisan ditunjukkan mengapa kisah tersebut berkaitan dengan Gus Dur.</p>
<p>Oleh karena itulah penulis membuat judul seperti di atas. Tidak masalah sebenarnya, toh cerita tentang dirinya sendiri tersebut masih memiliki keterkatitan dengan kisah Gus Dur, walau ada juga yang sama sekali tidak berkaitan (seperti apa yang dilakukan Bondan setelah mundur menjadi Sekretaris Negara karena berbagai tekanan yang ia terima).</p>
<p>Akan tetapi sebagai biografi politik, buku ini bisa menjadi referensi yang bagus bagi pembaca yang tertarik dengan sejarah bangsa ini, terutama ketika reformasi bergolak. Setengah halaman terakhir penulis habiskan dalam waktu kurang lebih dua jam karena serunya.</p>
<p>Beberapa kepingan sejarah telah penulis baca dari buku-buku lainnya, namun tetap saja ada informasi baru dari sudut pandang Bondan sebagai penulis, karena ia memang benar-benar sering berinteraksi dengan Gus Dur.</p>
<p>Selain itu, walaupun singkat, terdapat kisah yang menjelaskan kehidupan Gus Dur setelah lengser, termasuk gagalnya beliau untuk menjadi capres pada tahun 2004 karena faktor kesehatan.</p>
<p>Buku ini tetap penulis rekomendasikan bagi yang ingin mengetahui sejarah reformasi, tetapi tidak direkomendasikan bagi yang ingin mengetahui kehidupan pribadi Gus Dur karena memang sisi tersebut kurang ditonjolkan pada buku ini.</p>
<p>Nilainya<strong> 3.7/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mal, Bekasi, 21 Agustus 2018, terinspirasi setelah membaca buku Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur karya Bondan Gunawan</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/autobiografi-curi-curi-pada-hari-hari-terakhir-bersama-gus-dur/">Autobiografi Curi-Curi Pada Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/autobiografi-curi-curi-pada-hari-hari-terakhir-bersama-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 03:56:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[ABRI]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Moertopo]]></category>
		<category><![CDATA[Benny Moerdani]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[ICMI]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=818</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221; Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film The Dark Knight pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon. Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun? Seperti yang telah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221;</em></p>
<p>Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film <em>The Dark Knight </em>pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon.</p>
<p>Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun?</p>
<p>Seperti yang telah kita ketahui bersama, 20 tahun lalu tepatnya tanggal 21 Mei 1998, terjadi demo besar-besaran oleh mahasiswa yang menuntut mundurnya Soeharto. Massa berhasil menduduki gedung DPR, bisa dibilang mereka telah melakukan makar.</p>
<p><strong>Soeharto dan Habibie</strong></p>
<p>Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, akhirnya Soeharto meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada B.J. Habibie selaku wakilnya.</p>
<p>Mungkin tidak banyak yang tahu, ketika berencana mengundurkan diri, Soeharto sejatinya ingin mengajak Habibie untuk ikut mundur bersamanya. Beberapa sumber mengatakan bahwa Soeharto tidak yakin Habibie mampu memimpin negara dan menguasai keadaan.</p>
<p>Namun Habibie menolak. Dengan sedikit emosi beliau berkata kurang lebih seperti:</p>
<p>&#8220;Mengapa saya Anda pilih sebagai wakil jika ternyata Anda meragukan kemampuan saya?&#8221;</p>
<div id="attachment_821" style="width: 680px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-821" class="size-full wp-image-821" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.jpg" alt="" width="670" height="335" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.jpg 670w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur-356x178.jpg 356w" sizes="(max-width: 670px) 100vw, 670px" /><p id="caption-attachment-821" class="wp-caption-text">Seoeharto dan Habibie (https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.html)</p></div>
<p>Semenjak itu, hubungan mereka menjadi renggang. Soeharto menolak bertemu dengan Habibie dalam rentang waktu yang cukup lama. Padahal, selama ini bisa dibilang Habibie merupakan anak emas Soeharto semenjak bergabung dengan kabinet pada tahun 1978 sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia hingga akhirnya menjadi wakil presiden.</p>
<p>Selain itu, Habibie juga menjadi ketua pertama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia alias ICMI, Lahirnya ICMI tidak terlepas dari berkurangnya kepercayaan Soeharo kepada kubu militer.</p>
<p><strong>Soeharto dan Militer</strong></p>
<p>Berlatarbelakang militer tentu membuat Soeharto dekat dengan pasukan militer. Banyak kaki tangannya yang berasal dari militer, sebut saja Ali Moertopo dan Benny Moerdani.</p>
<p>Akan tetapi, kepercayaan tersebut berkurang drastis menjelang tahun 90an. Banyak teori yang berkembang, seperti meninggalnya Ali pada tahun 1984 hingga kritikan Benny terhadap kerajaan bisnis anak-anak Soeharto sewaktu menjadi panglima ABRI.</p>
<p>Keberanian Benny memberikan kritik kepada rezim Soeharto tentu memiliki konsekuensi yang besar. Ia dicopot dari jabatannya lebih cepat dan gagal menjadi wakil presiden, walaupun ia digadang-gadang untuk mengisi posisi tersebut. Pada akhirnya, Sudharmono lah yang menjadi wakil presiden Republik Indonesia yang kelima.</p>
<div id="attachment_820" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-820" class="size-full wp-image-820" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/edsus_benny29.jpg" alt="" width="300" height="189" /><p id="caption-attachment-820" class="wp-caption-text">Soeharto dan Benny Moerdani (https://majalah.tempo.co/read/146482/tak-lagi-di-sisi-soeharto)</p></div>
<p>Selain itu, Soeharto juga tidak lagi mendengarkan nasihat dari <em>Centre for Strategic and International Study </em>(CSIS) yang diawaki tokoh-tokoh seperti Jusuf Wanandi. Bisa dimaklumi karena CSIS dekat dengan militer termasuk Ali Moertopo.</p>
<p>Ini membuat haluan politik Soeharto menjadi condong ke kaum muslim yang menjadi mayoritas di Indonesia. Bisa jadi, inilah titik awal kejatuhan Soeharto.</p>
<p><strong>Ketika Soeharto Ditinggalkan</strong></p>
<p>Detik-detik menjelang kejatuhan Soeharto, beberapa orang yang selama ini sangat loyal kepada beliau tiba-tiba membelot dan meminta Soeharto untuk mundur. Ketua DPR saat itu, Harmoko, menyatakan bahwa rakyat sudah tidak menghendaki Soeharto menjabat sebagai presiden lagi. Padahal, selama ini Harmoko adalah salah satu anak emas Seoharto.</p>
<p>Selain itu, beberapa bulan setelah pelatikannya yang terakhir pada Maret 1998, beberapa menteri menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden Soeharto.</p>
<p>Semua yang selama ini mendukungnya, tiba-tiba menjauhinya. Orang-orang yang selama ini menjilat dirinya untuk mendapatkan kekuasaan tiba-tiba ikut memusuhinya.</p>
<div id="attachment_819" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-819" class="size-full wp-image-819" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-819" class="wp-caption-text">Harmoko (http://bangka.tribunnews.com/2018/01/29/masih-ingat-menteri-penerangan-harmoko-kabar-mengejutkan-datang-dari-tangan-kanan-soeharto-itu)</p></div>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221;</em></p>
<p>Penulis membayangkan, betapa sakitnya perasaan Soeharto ketika itu, dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya. 32 tahun Orde Baru berakhir dengan pahit karena ketamakan akan kekuasaan (dan harta?).</p>
<p>Mungkin Soeharto baru merasakan, betapa ia begitu sendirian ketika cobaan datang. Mungkin ia baru merasakan, ternyata ia tidak memiliki kawan-kawan yang setia, melainkan orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan dari dirinya.</p>
<p>Mungkin karena depresi setelah mengetahui fakta inilah, Soeharto menjadi sakit-sakitan setelah turun jabatan hingga meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 tanpa pernah bisa tersentuh oleh hukum.</p>
<p>Sang Bapak Pembangunan Indonesia harus menderita karena kesendirian setelah <em>lengser keprabon</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi oleh 20 tahun reformasi</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana">https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 15:28:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[elit politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan pers]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[pers]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=557</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis baru saja menghabiskan buku Membincang Pers, Kepala Negara, &#38; Etika Media tulisan Sirikit Syah. Untuk buku obral seharga Rp. 20.000, isi buku tersebut sangat bermutu, apalagi bagi orang yang senang dengan dunia media seperti saya. Terlebih, banyak sejarah yang terselip pada buku tersebut. Di antara beberapa bab yang ada, penulis menggarisbawahi bab yang mengaitkan antara Gus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/">Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis baru saja menghabiskan buku <strong>Membincang Pers, Kepala Negara, &amp; Etika Media </strong>tulisan Sirikit Syah. Untuk buku obral seharga Rp. 20.000, isi buku tersebut sangat bermutu, apalagi bagi orang yang senang dengan dunia media seperti saya. Terlebih, banyak sejarah yang terselip pada buku tersebut.</p>
<p>Di antara beberapa bab yang ada, penulis menggarisbawahi bab yang mengaitkan antara Gus Dur dan pers. Bab ini menarik sekali karena beberapa poin.</p>
<p>Pertama, pers yang sangat aktif sekali dalam memberi kritik kepada presiden keempat Republik Indonesia tersebut. Jika kita menengok ke belakang, hal ini bisa dimaklumi.</p>
<p>Setelah mengalami pembatasan oleh orde baru, media diberi kebebasan ketika Habibie, yang menggantikan Soeharto sebagai presiden, dengan menggunakan UU Kebebasan Pers pada tahun 1999. Bisa membayangkan, bagaimana jika ada sesuatu yang lama di dalam sangkar tiba-tiba dibebaskan?</p>
<p>Begitulah, presiden-presiden di awal reformasi sangat gencar diserang oleh pers, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan ketika Orde Baru. Terutama Gus Dur yang seringkali dianggap kontroversial (seperti mengeluarkan dekrit untuk membubarkan DPR).</p>
<p>Gus Dur pun sering diterpa isu negatif, seperti Bulogate dan Bruneigate yang hingga kini tidak terbukti kebenarannya.</p>
<p>Ketika berganti presiden ke era Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono, awak media masih berada di dalam semangat kebebasan pers, walaupun anginnya tak sekencang seperti ke arah Gus Dur. Perannya sebagai pilar keempat demokrasi bisa dibilang membaik jika dibandingkan ketika jaman Soeharto.</p>
<p>Permasalahannya, mengapa sekarang media terkesan berbalik 180 derajat? Jika penulis melihat media-media baik online maupun televisi, mayoritas memberitakan berita yang baik-baik saja tentang pemerintah (semoga saja penulis salah).</p>
<p>Apakah memang pers sekarang sudah tidak kritis lagi? Apakah memang pers sekarang melindungi kepentingan pemerintah? Ataukah memang pemerintah tidak punya celah untuk dicela oleh pers?</p>
<p>Patutkah kita curiga terhadap pers akan seperti dulu lagi, hanya memberitakan kebaikan pemerintah dan menutup rapat-rapat kekurangannya? Patutkah kita curiga bahwa pers memprioritaskan kepentingan pemilik dibandingkan kebenaran? Patutkan kita curiga media dikuasai elit politik sehingga berita yang tayang adalah berita yang membuat mereka senang?</p>
<p>Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Maret 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Membincang Pers, Kepala Negara, &amp; Etika Media</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://pepnews.com/2018/01/09/benarkah-gus-dur-menyimpan-dari-ajaran-mbah-hasyim-asyarie/">http://pepnews.com/2018/01/09/benarkah-gus-dur-menyimpan-dari-ajaran-mbah-hasyim-asyarie/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/">Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/membandingkan-pers-di-jaman-gus-dur-dan-jokowi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beropini Setelah Reformasi</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2018 08:27:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Media Masa]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Publik]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi. Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dari beberapa literatur sejarah yang telah saya baca, memang benar bahwa ketika Orde Baru berkuasa, mengeluarkan opini tidak bisa sembarangan. Pemerintah sangat represif terhadap orang-orang yang vokal melawan dirinya. Tuduhan sebagai antek PKI ataupun mengganggu kestabilan negara menjadi senjata utama mereka dalam memberangus oposisi.</p>
<p>Media menjadi corong pemerintah untuk menyuarakan keberhasilan mereka, sekaligus menutupi keburukan mereka. Siapa yang tidak mau menjadi corong, harus siap-siap dicabut izin penerbitannya oleh Kementerian Penerangan.</p>
<p>Semenjak reformasi, keran berpendapat mulai terbuka kembali. Media-media yang dulunya dibredel dipersilahkan untuk beroperasi kembali. Undang-undang mengenai kebebasan pers disahkan, kalau tidak salah di jaman presiden Habibie. Media pun bisa membuat berita tanpa harus menunggu petunjuk bapak presiden,</p>
<p>Kita, termasuk media, harus berterima kasih kepada mahasiswa dan para aktivis, yang dengan berbagai upaya, berhasil menggoyahkan kursi presiden Soeharto, hingga mencapai puncaknya pada tanggal 21 Mei 1998 ketika beliau mengumumkan pengunduran dirinya.</p>
<p><strong>Media Sebagai Pengkritik Presiden</strong></p>
<p>Karena kebebasan pers dilakukan, maka banyak hal yang bisa dilakukan oleh media, termasuk mengkritik kebijakan presiden. Mungkin yang paling terasa adalah ketika lengsernya Gus Dur sebagai presiden. Media tidak akan segan mem-<em>blow up</em> berita-berita yang menyudutkan Gus Dur. Ini tidak akan mungkin terjadi ketika Orde Baru masih kuat-kuatnya berkuasa.</p>
<p>Begitu pula presiden-presiden selanjutnya, tidak akan lepas dari pemberitaan negatif dari media. Sebagai pilar demokrasi keempat, memang sudah seharusnya media menjadi penyalur informasi antara pemerintah dengan rakyatnya, baik dan buruknya.</p>
<p>Oleh karena itu, akan menjadi pertanyaan besar apabila media hanya memberitakan kebaikan pemerintah saja, seolah mengulang dosa di masa Orde Baru, tanpa memberitakan kekurangan pemerintah yang sejatinya bisa dijadikan pondasi untuk menjadi lebih baik.</p>
<p><strong>Menjadi Viral Agar Di Dengar</strong></p>
<p>Sudah 20 tahun semenjak reformasi, tentu banyak hal yang berubah, termasuk media sebagai lahan untuk beropini. Di era teknologi seperti sekarang, mengeluarkan pendapat lebih sering dituangkan dalam media sosial ketimbang melalui media cetak. Menulis <em>tweet </em>tentu lebih cepat dan praktis jika dibandingkan mengirimkannya ke media cetak agar termuat di koran.</p>
<p>Menjadi viral di media sosial juga bisa sarana yang efektif untuk beropini agar di dengar oleh pemerintah. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa presiden BEM UI memberikan kartu kuning kepada presiden Jokowi. Agar menjadi perhatian, baik pemerintah maupun rakyat, ia melakukan aksi yang tidak biasa.</p>
<p>Hal itu terbukti efektif. Beberapa <em>headline </em>memberitakan aksi tersebut dan menautkannya dengan berbagai topik yang terkait. Mungkin saja saya yang kurang membaca referensi, namun berita yang saya baca lebih banyak menyinggung sisi negatifnya, seperti ucapannya ketika di acara Mata Najwa tentang siapa yang memanfaatkan jalan tol, ataupun etikanya yang dianggap mencoreng muka Universitas Indonesia.</p>
<p>Hampir tidak saya temukan berita dengan <em>headline </em>seperti &#8220;kebangkitan mahasiswa dalam beropini&#8221; atau sebagainya. Saya sering mendengar opini bahwa mahasiswa jaman sekarang kurang bersuara laiknya mahasiswa di penghujung 90an. Bukankah ini seharusnya bisa dijadikan momentum untuk mengembalikan peran mahasiswa sebagai <em>agent of change</em>?</p>
<p><strong>Kembali ke Masa Orba?</strong></p>
<p>Dengan adanya kebebasan berpendapat, sesuatu yang kita dapatkan setelah banyak darah tumpah demi menuntut rezim turun, tentu membuat ruang untuk diskusi terbuka lebar. Kita tidak perlu takut lagi diculik agar suara kita dibungkam.</p>
<p>Atau itukah yang sedang terjadi sekarang? Beberapa orang secara misterius terluka bahkan tewas di tangan orang-orang yang, bagi sebagian orang, hanya rekayasa kelompok tertentu. Mulai dari Novel Baswedan, ahli IT Hermansyah, hingga ustad yang dipukuli oleh &#8220;orang gila&#8221;.</p>
<p>Benarkah beropini di era sekarang lebih bebas dibandingkan dengan jaman Orde Baru? Atau secara terselubung, kebebasan kita mulai dibatasi kembali? Bahkan dalam penerbitan penelitian saja, berdasarkan kata Rocky Gerung, harus membutuhkan ijin dari Kementerian Dalam Negeri. Menurut saya, ini seperti peran Kementerian Penerangan di jaman Orba yang lama dipegang oleh Harmoko.</p>
<p>Akankah kita kembali ke era Orde Baru? Ataukah itu hanya kekhawatiran yang berlebihan?</p>
<p><strong>Menentukan Sikap Sebagai Seorang Rakyat</strong></p>
<p>Sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, kita sebagai rakyat seharusnya bisa melihat kinerja pemerintah secara obyektif, seperti pada tulisan saya yang berjudul <a href="http://whathefan.com/2018/01/19/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/"><em>Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif</em></a>. Beri apresiasi ketika meraih prestasi, kritik jika masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki.</p>
<p>Hanya karena kita menjadi pendukung tokoh tersebut, bukan berarti kita harus menutup mata atas segala kesalahannya. Memberi kritik yang membangun merupakan bentuk dukungan yang sejati. Apa yang dilakukan oleh kawan-kawan mahasiswa kita, merupakan bentuk penyampaian opini yang <em>extraordinary</em> agar mereka di dengar.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan memberikan kritik, selama diutarakan secara santun dan beretika. Begitu pula yang dikritik, alangkah lebih baik jika kritik tersebut dijadikan bahan sebagai interopeksi diri dan membuka diri untuk perbaikan. Bukannya marah karena merasa dihina.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Secara tidak sengaja, tulisan ini bersamaan dengan Hari Pers Nasional. Jadi, selamat Hari Pers Nasional!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 9 Februari 2018, setelah mendesain ulang website kodingdong.com</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion">https://www.halogensoftware.com/blog/upward-feedback-how-to-give-your-boss-your-honest-opinion</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/">Beropini Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/beropini-setelah-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
